HADITS KE 317 : SHALAT AL-AWWABIN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 317 :

وَعَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ; أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَال ) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

Dari Zaid Ibnu Arqom Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholatnya orang-orang yang bertaubat itu ketika anak-anak unta merasa panas.” Riwayat Tirmidzi.

MAKNA HADITS :

Sholat al-Awwabin disunatkan oleh Rasulullah (s.a.w) yang waktunya ialah sesudah tengah hari, yaitu pada waktu itu dimana seluruh pintu langit dibuka dan Allah menurunkan rahmat-Nya kepada segenap makhluk-Nya. Dengan demikian, seseorang yang mengerjakan sholat ketika itu dicucuri rahmat Allah dalam waktu yang dipenuhi dengan keridhaan-Nya. Dia kembali bertaubat kepada Allah dari semua dosa dengan penuh penyesalan diatas segala kesalahan yang telah dilakukannya. Akan tetapi, hadis ini tidak menyebutkan berapa bilangan rakaat sholat al-Awwabin ini, meskipun dalam hadis yang lain disebutkan bahwa bilangan
rakaatnya ada empat.

FIQH HADITS :

Menjelaskan waktu sholat al-Awwabin.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 316 : ANJURAN SHALAT DHUHA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 316 :

وَعَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ: ( كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

وَلَهُ عَنْهَا: ( أَنَّهَا سُئِلَتْ: هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي الضُّحَى؟ قَالَتْ: لَا، إِلَّا أَنْ يَجِيءَ مِنْ مَغِيبِهِ )

وَلَهُ عَنْهَا: ( مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ، وَإِنِّي لَأُسَبِّحُهَا )

Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam biasanya sholat Dhuha empat rakaat dan menambah seperti yang dikehendaki Allah. Riwayat Muslim.

Menurut riwayat Muslim dari ‘Aisyah: Bahwa ‘Aisyah pernah ditanya: Apakah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam biasa menunaikan sholat Dhuha? Ia menjawab: Tidak, kecuali bila beliau pulang dari bepergian.

Menurut riwayat Muslim dari ‘Aisyah: Aku tidak melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dengan tetap melakukan sholat Dhuha, tetapi sungguh aku melakukannya dengan tetap.

MAKNA HADITS :

Antara keistimewaan agama Islam ialah menjadikan setiap waktu memiliki tugas ibadah tersendiri, baik ibadah wajib maupun ibadah sunat supaya jiwa seseorang tidak terlampau jenuh lantaran hanya melakukan satu jenis ibadah ini tertentu. Ini merupakan satu rahmat terhadap hamba Allah.

Waktu sholat dhuha bermula apabila matahari agak tinggi dan semua ternakan dilepaskan di kawasan gembala. Ringkasnya, waktu sholat dhuha apabila matahari nampak kelihatan setinggi satu tombak dari ufuk timur. Syariat telah mensunatkan sholat dhuha dan bilangan rakaatnya sekurang-kurangnya dua rakaat. Ini berlandaskan kepada sabda dan perbuatan Nabi (s.a.w). Apa yang disebut dalam hadis Aisyah (r.a) yang isinya mengingkari syariat sholat dhuha, maka itu dapat disanggah dengan alasan-alasan berikut:

1. Apa yang dikatakan oleh Aisyah bahwa beliau tidak pernah melihat Nabi (s.a.w) melakukan sholat dhuha, maka itu tidak berarti Nabi (s.a.w) sama sekali tidak pernah mengerjakan sholat dhuha.

2. Dalam salah satu hadis, Aisyah (r.a) menafikan (meniadakan) pelaksanaan sholat dhuha, tetapi dalam hadis yang lain beliau menetapkannya. Dalam kaitan ini, hadis yang menetapkan mestilah diutamakan ke atas hadis yang meniadakan.

3. Aisyah (r.a) sendiri pernah mengerjakan sholat dhuha karena berlandaskan kepada hadis yang telah diterimanya bahwa sholat dhuha disyariatkan dan Nabi (s.a.w) telah menganjurkannya. Ini dengan tegas menyanggah perkataannya yang mengatakan bahwa beliau tidak pernah melihat baginda melakukannya.

4. Apa yang dimaksudkan oleh Aisyah (r.a) bahwa beliau tidak pernah melihat Nabi (s.a.w) melakukannya bermaksud baginda tidak mengerjakannya secara terus menerus. Rasulullah (s.a.w) memang pernah mengerjakannya, namun tidak terus menerus. Ini tidak berarti meniadakan bukti yang menyatakan bahwa sholat dhuha disyariatkan.

5. Hadis Aisyah (r.a) yang menetapkan sholat dhuha disyariatkan telahpun diketengahkan oleh al-Syaikhain (al-Bukhari dan Muslim). Jadi, hadis mesti diutamakan dibanding hadis yang menafikannya yang hanya diriwayatkan oleh Muslim seorang diri. Dengan demikian, ketiga-tiga hadis di atas yang seakan bertentangan dapat disatukan.

Hikmah sholat dhuha ialah untuk menyatakan rasa syukur tubuh di atas nikmat sehat yang dianugerahkan oleh Allah (s.w.t). Ini berlandaskan hadis lain yang mengatakan:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ صَدَقَةٌ

Setiap pergelangan tubuh manusia pada waktu pagi harinya dibebani untuk bersedekah.”

Kemudian Nabi (s.a.w) bersabda:

وَيَقُوْمُ مَقَامَ ذٰلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحٰى

Itu dapat diganti dengan mengerjakan dua rakaat yang dilakukan oleh seseorang pada waktu dhuha.”

Antara faedah sholat dhuha adalah menghapuskan dosa kecil sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis lain yang mengatakan:

مَنْ حَافَظَ عَنْ شَفْعَةِ الضُّحَى غُفِرَتْ ذُنُوْبَهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barang siapa yang senantiasa mengerjakan dua rakaat sholat sunat dhuha, maka diampuni dosa-dosanya sekalipun sebanyak buih di lautan.”

Sanad hadis ini memang dha’if, tetapi dapat dijadikan dalil untuk
memperkukuh fadhail al-a’maal (keutamaan beramal). Antara dalil yang menunjukkan keutamaan sholat dhuha ini adalah wasiat Nabi (s.a.w) yang ditujukan kepada Abu Hurairah (r.a). Di dalamnya disebutkan bahwa Abu Hurairah tidak diperbolehkan sama sekali meninggalkan dua rakaat sholat dhuha. Hadis ini disebut di dalam kitab al-Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim).

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan mengerjakan sholat dhuha dan menjelaskan bilangan rakaatnya.

2. Menambahkan sholat dhuha menjadi empat rakaat dan jumlah bilangan rakaatnya tidak terbatas.

3. Disunatkan mengerjakan sholat dhuha apabila baru tiba dari suatu perjalanan.

4. Menjelaskan sejauh mana kasih sayang Rasulullah (s.a.w) kepada umatnya.

5. Menghimpun semua pengertian yang terdapat di dalam hadis Aisyah baik yang menafikan dan yang mengukuhkan sholat dhuha. Rasulullah (s.a.w) seringkali mengerjakan sholat dhuha pada sebagian waktunya karena ia memiliki keutamaan dan adakalanya baginda meninggalkannya karena kawatir itu kelak dianggap fardu oleh umatnya.

6. Aisyah (r.a) rajin mengerjakan sholat dhuha dan ini menunjukkan sholat dhuha memang disunatkan. Apa yang dilakukannya itu tidak lain bersumber dari Nabi (s.a.w) yang intinya menganjurkan supaya sholat dhuha dilaksanakan disamping diperkuatkan lagi dengan amal perbuatan Nabi (s.a.w) sendiri.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

M096. HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN DI KUBURAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Kuburan bukanlah tempat beribadah, mengapa banyak umat Islam mengaji di kuburan?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Membaca al-Quran di kuburan bukanlah sesuatu yang bid’ah atau bahkan sesuatu yang haram. Hal ini berdasarkan hadis di bawah ini:

حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي أُسَامَةَ الْحَلَبِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي ح وَحَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ دُحَيْمٍ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي ح وَحَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْحَاقَ التُّسْتَرِيُّ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ بَحْرٍ قَالُوْا حَدَّثَنَا مُبَشِّرُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْعَلاَءِ بْنِ اللَّجْلاَجِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ قَالَ لِي أَبِي يَا بَنِيَّ إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَلْحِدْنِي فَإِذَا وَضَعْتَنِي فِي لَحْدِي فَقُلْ بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ ثُمَّ سِنَّ عَلَيَّ الثَّرَى سِنًّا ثُمَّ اقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِي بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا فَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ g يَقُوْلُ ذَلِكَ (رواه الطبراني في الكبير رقم 15833)

“Dari Abdurrahman bin ‘Ala’ dari bapaknya, bahwa: Bapakku berkata kepadaku: Jika aku mati, maka buatkan liang lahat untukku. Setelah engkau masukkan aku ke liang lahat, bacalah: Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah. Kemudian ratakanlah tanah kubur perlahan, lalu bacalah di dekat kepalaku permulaan dan penutup surat al-Baqarah. Sebab aku mendengar Rasulullah bersabda demikian” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 15833)

Al-Hafidz al-Haitsami berkata:

وَرِجَالُهُ مُوَثَّقُوْنَ (مجمع الزوائد ومنبع الفوائد للحافظ الهيثمي 3/66)

Perawinya dinilai sebagai orang-orang terpercaya” (Majma’ al-Zawaid III/66)

Begitu pula dengan riwayat hadis berikut ini:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ g يَقُوْلُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ (رواه الطبراني في الكبير رقم 13613 والبيهقي في الشعب رقم 9294 وتاريخ يحي بن معين 4 / 449)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: Jika diantara kalian ada yang meninggal, maka janganlah diakhirkan, segeralah dimakam-kan. Dan hendaklah di dekat kepalanya dibacakan pembuka al-Quran (Surat al-Fatihah) dan dekat kakinya dengan penutup surat al-Baqarah di kuburnya” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 13613, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 9294, dan Tarikh Yahya bin Maid 4/449)

Al-Hafidz Ibnu Hajar memberi penilaian pada hadis tersebut:

فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ أَخْرَجَهُ الطَّبْرَانِي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ (فتح الباري لابن حجر 3 / 184)

“HR al-Thabrani dengan sanad yang hasan” (Fath al-Bari III/184)
Dalam kedua hadis ini Rasulullah Saw tidak menentukan waktu pembacaan al-Quran saat pemakaman saja. Dan kalaulah membaca al-Quran di kuburan dilarang, maka sudah pasti Rasulullah tidak akan memperbolehkannya dan hanya mengkhususkan ketika pemakaman saja. Dan sudah barang tentu hal semacam ini tidak boleh terjadi sebagaimana dalam kaidah fikih:

اِنَّ الْبَيَانَ لاَ يُؤَخَّرُ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ

Penjelasan tentang hukum tidak boleh ditunda di saat penjelasan itu dibutuhkan” (al-Talkhish fi Ushul al-Fiqh, II/208)

Lalu dari mana pihak yang anti tahlil melarang membaca al-Quran di kuburan, padahal Rasulullah sendiri tidak menyatakan yang demikian itu dalam hadis-hadisnya?

Hadis di atas juga diperkuat oleh amaliyah sahabat Abdullah bin Umar bin Khattab yang merupakan salah satu sahabat Rasulullah yang meriwayatkan ribuan hadis setelah Abu Hurairah dan Ibnu Abbas:

أَخْبَرَنَا أَبُوْ عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ حَدَّثَنَا أَبُوْ الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوْبَ حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ سَأَلْتُ يَحْيَى بْنَ مَعِيْنٍ عَنِ الْقِرَاءَةِ عِنْدَ الْقَبْرِ فَقَالَ حَدَّثَنَا مُبَشِّرُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ الْحَلَبِىُّ عَنْ عَبْدِ الرَّحَمْنِ بْنِ الْعَلاَءَ بْنِ اللَّجْلاَجِ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّهُ قَالَ لِبَنِيْهِ إِذَا أَدْخَلْتُمُوْنِى قَبْرِى فَضَعُوْنِى فِى اللَّحْدِ وَقُوْلُوْا بِاسْمِ اللهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ g وَسُنُّوْا عَلَىَّ التُّرَابَ سَنًّا وَاقْرَءُوْا عِنْدَ رَأْسِى أَوَّلَ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتَهَا فَإِنِّى رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَسْتَحِبُّ ذَلِكَ (رواه البيهقي في السنن الكبرى رقم 7319 والدعوات الكبير رقم 638)

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin ‘Ala’ bahwa bapaknya berkata pada anak-anaknya: Jika kalian telah memasukkan aku ke dalam kubur, maka letakkan aku di liang lahat. Dan ucapkanlah: Dengan nama Allah dan atas sunnah Rasulullah Saw. Dan ratakanlah tanah secara perlahan, lalu bacalah di dekat kepalaku permulaan dan penutup surat al-Baqarah. Sebab aku melihat Ibnu Umar menganjurkan demikian” (Riwayat al-Baihaqi dalam al-Kabir No 7319 dan al-Da’awat No 638)

Ibnu Jum’ah berkata:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ k أَنَّهُ اسْتَحَبَّ أَنْ يُقْرَأَ عَلَى الْقَبْرِ بَعْدَ الدَّفْنِ أَوَّلَ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيّ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ (خلاصة الأحكام في مهمات السنن وقواعد الإسلام لابن جمعة الحزامي الشافعي 2 / 1028)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau menganjurkan membaca permulaan dan penutup surat al-Baqarah di atas kuburan setelah dimakamkan. Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang hasan” (Khulashat al-Ahkam II/1028)

Atsar ini juga disahihkan oleh madzhab Hanbali:

وَفِي الْمَبْدَعِ مِنْ كُتُبِ الْحَنَابِلَةِ وَقَدْ صَحَّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ أَوْصَى إِذَا دُفِنَ أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَهُ بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا. اهـ مِنْ هِدَايَةِ الرَّاغِبِ (فتاوى حسنين مخلوف 1 / 444)

Di dalam kitab al-Mabda’ dari kalangan Hanbali disebutkan: Sungguh telah sahih dari Ibnu Umar bahwa beliau berwasiat setelah dimakamkan untuk dibacakan pembukaan surat al-Baqarah dan penutupnya di dekat kuburnya. Dikutip dari kitab Hidayat al-Raghib” (Fatawa Hasanain Makhluf 1/444)

Kendatipun Ibnu Taimiyah dikenal sebagai ulama yang tidak menganjurkan membaca al-Quran di kuburan, tetapi ia tidak menampik dengan argumen riwayat Ibnu Umar diatas sebagai dalil diperbolehkannya membaca al-Quran di kuburan:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ وَصَّى أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ دَفْنِهِ بِفَوَاتِحِ الْبَقَرَةِ وَخَوَاتِمِهَا وَالرُّخْصَةُ إمَّا مُطْلَقًا وَإِمَّا حَالَ الدَّفْنِ خَاصَّةً (جامع المسائل لابن تيمية 3 / 132)

Dari Ibnu Umar bahwa beliau berwasiat setelah dimakamkan untuk dibacakan pembukaan surat al-Baqarah dan penutupnya. Dispensasi ini bisa jadi secara mutlak (boleh baca al-Quran di kuburan kapan saja), dan bisa jadi khusus ketika pemakaman saja”
(Ibnu Taimiyah, Jami’ al-Masail III/132)

Dalil lainnya adalah menggunakan Qiyas Aulawi:

قُلْتُ وَقَدِ اسْتَدَلَّ بَعْضُ عُلَمَائِنَا عَلَى قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ عَلَى الْقَبْرِ بِحَدِيْثِ الْعَسِيْبِ الرُّطَبِ الَّذِي شَقَّهُ النَّبِيُّ g بِاثْنَيْنِ ثُمَّ غَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا ثُمَّ قَالَ لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا خَرَّجَهُ الْبُخَارِي (218) وَمُسْلِمٌ (703) … قَالُوْا وَيُسْتَفَادُ مِنْ هَذَا غَرْسُ اْلأَشْجَارِ وَقِرَاءَةُ اْلقُرْآنِ عَلَى الْقُبُوْرِ وَإِذَا خُفِّفَ عَنْهُمْ بِاْلأَشْجَارِ فَكَيْفَ بِقِرَاءَةِ الرَّجُلِ الْمُؤْمِنِ الْقُرْآنَ؟ (التذكرة للقرطبي 1 / 84 وشرح الصدور للحافظ جلال الدين السيوطي 305)

“Saya (al-Qurthubi) berkata: Sebagian ulama kalangan kita menggali dalil membaca al-Quran di kubur dengan hadis tentang pohon kurma yang masih basah, yang dibelah oleh Rasulullah Saw menjadi dua, kemudian masing-masing ditanam di atas dua kuburan. Rasulullah Saw bersabda: ‘Semoga pohon ini meringankan siksa kedua (mayit), selama belum mengering’ (HR al-Bukhari No 218 dan Muslim No 703). Ulama berkata: Diambil faedah dari hadis ini mengenai menanam tanaman dan membaca al-Quran di kubur. Jika orang yang meninggal saja mendapat keringanan (siksa) dengan tanaman, lalu bagaimana dengan bacaan al-Quran dari orang yang beriman?” (al-Qurthubi dalam al-Tadzkirah I/84 dan Jalaluddin al-Suyuthi dalam Syarh al-Shudur 305)

Imam Nawawi mengutip kesepakatan ulama Syafi’iyah tentang membaca al-Quran di kuburan:

وَيُسْتَحَبُّ (لِلزَّائِرِ) اَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْقُرْآنِ مَا تَيَسَّرَ وَيَدْعُوَ لَهُمْ عَقِبَهَا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ اْلاَصْحَابُ (المجموع شرح المهذب للشيخ النووي 5 / 311)

“Dan dianjurkan bagi peziarah untuk membaca al-Quran sesuai kemampuannya dan mendoakan ahli kubur setelah membaca al-Quran. Hal ini dijelaskan oleh al-Syafi’i dan disepakati oleh ulama Syafi’iyah” (al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab V/311)

Ternyata Ibnu Qoyyim, murid Ibnu Taimiyah, mengklaim bahwa membaca al-Quran di kuburan telah menjadi tradisi bagi para sahabat Anshar di Madinah:

وَذَكَرَ الْخَلاَّلُ عَنِ الشَّعْبِي قَالَ كَانَتِ اْلأَنْصَارُ إِذَا مَاتَ لَهُمُ الْمَيِّتُ اِخْتَلَفُوْا إِلَى قَبْرِهِ يَقْرَءُوْنَ عِنْدَهُ الْقُرْآنَ (الروح لابن القيم – 1 / 11)

“Al-Khallal mengutip dari al-Sya’bi bahwa jika salah seorang dari sahabat Anshar meninggal, maka mereka bergiliran membaca al-Quran di kuburannya” (al-Ruh, Ibnu Qoyyim, I/11)

Ibnu Qoyyim juga mengutip fatwa Imam Ahmad yang awalnya melarang membaca al-Quran di kuburan kemudian Imam Ahmad meralatnya bahkan menganjurkan hal tersebut:

قَالَ الْخَلاَّلُ وَأَخْبَرَنِي الْحَسَنُ بْنُ أَحْمَدَ الْوَرَّاقُ حَدَّثَنِى عَلِىُّ بْنُ مُوْسَى الْحَدَّادُ وَكَانَ صَدُوْقًا قَالَ كُنْتُ مَعَ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلَ وَمُحَمَّدٍ بْنِ قُدَامَةَ الْجَوْهَرِى فِي جَنَازَةٍ فَلَمَّا دُفِنَ الْمَيِّتُ جَلَسَ رَجُلٌ ضَرِيْرٌ يَقْرَأُ عِنْدَ الْقَبْرِ فَقَالَ لَهُ أَحْمَدُ يَا هَذَا إِنَّ اْلقِرَاءَةَ عِنْدَ الْقَبْرِ بِدْعَةٌ فَلَمَّا خَرَجْنَا مِنَ الْمَقَابِرِ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ ِلأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلَ يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ مَا تَقُوْلُ فِي مُبَشِّرٍ الْحَلَبِيّ قَالَ ثِقَةٌ قَالَ كَتَبْتَ عَنْهُ شَيْئًا ؟ قَالَ نَعَمْ فَأَخْبَرَنِي مُبَشِّرٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ اْلعَلاَءِ اللَّجْلاَجِ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّهُ أَوْصَى إِذَا دُفِنَ أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا وَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يُوْصِي بِذَلِكَ فَقَالَ لَهُ أَحْمَدُ فَارْجِعْ وَقُلْ لِلرَّجُلِ يَقْرَأُ (الروح لابن القيم 1 / 10)

Ali bin Musa al-Haddad (orang yang sangat jujur) berkata: Saya bersama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad Ibnu Qudamah al-Jauhari menghadiri pemakaman janazah. Setelah dimakamkan, ada orang laki-laki buta membaca al-Quran di dekat kubur tersebut. Ahmad berkata kepadanya: Wahai saudara! Membaca di dekat kubur adalah bid’ah. Setelah kami keluar dari kuburan, Muhammad ibnu Qudamah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: Wahai Abu Abdillah. Apa penilaianmu tentang Mubasysyir al-Halabi? Ahmad menjawab: Ia orang terpercaya. Ibnu Qudamah bertanya lagi: Apakah engkau meriwayatkan hadis dari Mubasysyir? Ahmad bin Hanbal menjawab: Ya. Saya mendapatkan riwayat dari Mubasysyir bin Abdirrahman dari ayahnya, bahwa ayahnya berpesan agar setelah dimakamkan dibacakan di dekat kepalanya dengan pembukaan al-Baqarah dan ayat akhirnya. Ayahnya berkata bahwa ia mendengar Ibnu Umar berwasiat seperti itu juga. Kemudian Imam Ahmad berkata kepada Ibnu Qudamah: Kembalilah, dan katakan pada lelaki itu agar membacanya(Ar- Ruh,Ibnul Qoyyim,1/11)

Wallahu a’lamu bisshowab..

S064. HUKUM MENGERASKAN SUARA KETIKA BERDZIKIR SETELAH SHALAT

PERTANYAAN :

Assalamu alaikum Ustadz..

Apakah dzikir dengan suara keras bagi imam bersama makmum sesudah sholat itu ada dalilnya?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Dalil mengeraskan dzikir bagi imam bersama makmum setelah salat berdasarkan riwayat Ibnu Abbas berikut ini:

اِنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوْا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ (رواه البخاري)

Sesungguhnya mengeraskan (bacaan) dzikir bagi imam bersama makmum setelah para sahabat selesai melakukan salat wajib sudah ada sejak masa Nabi Muhammad Saw.” Ibnu Abbas berkata: “Saya mengetahui yang demikian setelah mereka melakukan salat wajib dan saya mendengarnya” HR Bukhari No 796, Muslim No 919, Ahmad No 3298, dan Ibnu Khuzaimah No 1613. Riwayat Ibnu Abbas ini juga diperkuat oleh sahabat Abdullah bin Zubair, ia berkata: “Rasulullah Saw mengeraskan (yuhallilu) kalimat-kalimat dzikirnya setiap selesai salat” (Sahih Muslim No 1372, Ahmad No 16150 dan al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra No 3135)

Dari hadis ini Imam Nawawi berkata:

هَذَا دَلِيْلٌ لِمَا قَالَهُ بَعْضُ السَّلَفِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالتَّكْبِيْرِ وَالذِّكْرِ عَقِبَ الْمَكْتُوْبَةِ (شرح النووي على مسلم 2 / 360)

Riwayat ini adalah dalil sebagian ulama salaf mengenai disunahkannya mengeraskan suara bacaan takbir dan dzikir bagi imam bersama makmum setelah salat wajib ” (Syarah Sahih Muslim II/260). Al-Mubarakfuri berkata: “Anjuran mengeraskan suara dengan takbir dan dzikir bagi imam bersama makmum setelah setiap salat wajib adalah pendapat yang unggul (rajih) menurut saya, berdasarkan riwayat Ibnu Abbas diatas” (Syarah Misykat al-Mashabih III/315)

Wallahu a’lamu bisshowab..

M095. HUKUM ZIYARAH KE MAKAM PARA WALI DAN BERTAWASSUL

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Bolehkah berziarah ke makam wali sambil bertawassul dan mencari berkah?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Inilah yang menjadi kesalah pahaman dari sebagian kecil umat Islam yang kemudian menghukumi syirik bagi umat Islam yang berziarah ke makam para ulama dan Auliya’ dengan maksud bertabarruk. Hal yang perlu diluruskan bahwa umat Islam yang berziarah dengan bertawassul dan bertabarruk adalah orang Islam yang beriman, yang mengesakan Allah, tidak berdo’a dan tidak mencari berkah kecuali hanya kepada Allah.

Ziarah yang demikian sudah menjadi amaliyah para ahli hadis, diantaranya:

– Ziarah ke Makam Rasulullah Saw

1. Jawaban dari Imam Ahmad

سَأَلْتُهُ عَنِ الرَّجُلِ يَمُسُّ مِنْبَرَ النَّبِيِّ g وَيَتَبَرَّكُ بِمَسِّهِ وَيُقَبِّلُهُ وَيَفْعَلُ بِالْقَبْرِ مِثْلَ ذَلِكَ أَوْ نَحْوَ هَذَا يُرِيْدُ بِذَلِكَ التَّقَرُّبَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَزَّ فَقَالَ لاَ بَأْسَ بِذَلِكَ (العلل ومعرفة الرجال لاحمد بن حنبل 2 / 492 رقم 3243)

Saya (Abdullah bin Ahmad) bertanya kepada Imam Ahmad tentang seseorang yang memegang mimbar Nabi Saw, mencari berkah dengan memegangnya dan menciumnya. Ia juga melakukannya dengan makam Rasulullah seperti diatas dan sebagainya. Ia lakukan itu untuk mendekatkan dir kepada Allah. Imam Ahmad menjawab: Tidak apa-apa” (Ahmad bin Hanbal al-‘lal wa Ma’rifat al-Rijal 3243)

2. Ahli Hadis ath-Thabrani dan Abu Syaikh (Ibnu Hibban)

قَالَ ابْنُ الْمُقْرِئِ كُنْتُ أَنَا وَالطَّبَرَانِيُّ وَأَبُوْ الشَّيْخِ بِالْمَدِيْنَةِ فَضَاقَ بِنَا الوَقْتُ فَوَاصَلْنَا ذَلِكَ اليَوْمَ فَلَمَّا كَانَ وَقتُ العِشَاءِ حَضَرْتُ الْقَبْرَ وَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ الْجُوْعَ فَقَالَ لِي الطَّبْرَانِيُّ اِجْلِسْ فَإِمَّا أَنْ يَكُوْنَ الرِّزْقُ أَوِ الْمَوْتُ فَقُمْتُ أَنَا وَأَبُوْ الشَّيْخِ فَحَضَرَ اْلبَابَ عَلَوِيٌّ فَفَتَحْنَا لَهُ فَإِذَا مَعَهُ غُلاَمَانِ بِقَفَّتَيْنِ فِيْهِمَا شَيْءٌ كَثِيْرٌ وَقَالَ اَشَكَوْتُمْ إِلَى النَّبِيِّ g؟ رَأَيْتُهُ فِي النَّوْمِ فَأَمَرَنِي بِحَمْلِ شَيْءٍ إِلَيْكُمْ (الحافظ الذهبي في تذكرة الحفاظ 3 / 121 وفي سير أعلام النبلاء 31 / 473 والحافظ ابن الجوزي في الوفا بأحوال المصطفى 818)

“Ibnu al-Muqri berkata: Saya berada di Madinah bersama al-Hafidz al-Thabrani dan al-Hafidz Abu al-Syaikh. Waktu kami sangat sempit hingga kami tidak makan sehari semalam. Setelah waktu Isya’ tiba, saya mendatangi makam Rasulullah, lalu saya berkata: Ya Rasulallah, kami lapar. Al-Thabrani berkata kepada saya: Duduklah, kita tunggu datangnya rezeki atau kematian. Saya dan Abu al-Syaikh berdiri, tiba-tiba datang laki-laki Alawi (keturunan Rasulullah Saw) di depan pintu, lalu kami membukakan pintu. Ternyata ia membawa dua orang budaknya yang membawa dua keranjang penuh dengan makanan. Alawi itu berkata: Apakah kalian mengadu kepada Rasulullah Saw? Saya bermimpi Rasulullah dan menyuruhku membawa makanan untuk kalian” (Diriwayatkan oleh al-Hafidz al-Dzahabi dalam Tadzkirah al-Huffadz III/121 dan Siyar A’lam al-Nubala’ XXXI/473, dan oleh Ibnu al-Jauzi dalam al-Wafa’ bi Ahwal al-Musthafa 818)

– Makam Imam Abu Hanifah

عَنْ عَلِيِّ بْنِ مَيْمُوْنٍ قَالَ سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ يَقُوْلُ اِنِّي َلأَتَبَرَّكُ بِأَبِي حَنِيْفَةَ وَأَجِيْءُ إِلَى قَبْرِهِ فِي كُلِّ يَوْمٍ يَعْنِي زَائِرًا فَإِذَا عُرِضَتْ لِي حَاجَةٌ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَجِئْتُ إِلَى قَبْرِهِ وَسَأَلْتُ اللهَ تَعَالَى الْحَاجَةَ عِنْدَهَ فَمَا تَبْعُدُ عَنِّي حَتَّى تُقْضَى (الحافظ الخطيب البغدادي في تاريخ بغداد 1 / 123 وعبد القادر ابن ابي الوفا في طبقات الحنفية 2 / 519) أخبار أبي حنيفة للقاضي الصيمري – (1 / 94) الطبقات السنية في تراجم الحنفية التقي الغزي – (1 / 46)

“Dari Ali bin Maimun, ia berkata: Saya mendengar Syafi’i berkata bahwa: Saya mencari berkah dengan mendatangi makam Abu Hanifah setiap hari. Jika saya memiliki hajat maka saya salat dua rakaat dan saya mendatangi makam Abu Hanifah. Saya meminta kepada Allah di dekat makam Abu Hanifah. Tidak lama kemudian hajat saya dikabulkan” (al-Hafidz Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad I/123 dan Ibnu Abi Wafa dalam Thabaqat al-Hanafiyah II/519)

– Makam Yahya bin Yahya

قَالَ الْحَاكِمُ سَمِعْتُ أَبَا عَلِيِّ النَّيْسَابُوْرِي يَقُوْلُ كُنْتُ فِي غَمٍّ شَدِيْدٍ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ g فِي الْمَنَامِ كَأَنَّهُ يَقُوْلُ لِي صِرْ إِلَى قَبْرِ يَحْيَى بْنِ يَحْيَى وَاسْتَغْفِرْ وَسَلْ تُقْضَ حَاجَتُكَ فَاَصْبَحْتُ فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَقُضِيَتْ حَاجَتِي (الحافظ ابن حجر في تهذيب التهذيب 11 / 261 والحافظ الذهبي في تاريخ الاسلام 1756)

“Al-Hakim berkata: Saya mendengar Abu Ali al-Naisaburi berkata bahwa saya berada dalam kesulitan yang sangat berat, kemudian saya bermimpi melihat Rasulullah Saw seolah beliau berkata kepada saya: Pergilah ke makam Yahya bin Yahya, mintalah ampunan dan berdolah kepada Allah, maka hajatmu akan dikabulkan. Pagi harinya saya melakukannya dan hajat saya dikabulkan” (al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Tahdzib al-Tahdzib XI/261 dan al-Hafidz al-Dzhabi dalam Tarikh al-Islam 1756)

– Makam Musa bin Ja’far al-Kadhim

عَنْ عَلِيِّ الْخَلاَّلِ يَقُوْلُ مَا هَمَّنِي أَمْرٌ فَقَصَدْتُ قَبْرَ مُوْسَى بْنِ جَعْفَرٍ فَتَوَسَّلْتُ بِهِ اِلاَّ سَهَّلَ اللهُ تَعَالَى لِي مَا أُحِبُّ (تاريخ بغداد للحافظ الخطيب البغدادي 1 / 120)

“Diriwayatkan dari Ali al-Khallal (pemuka Madzhab Hanbali), ia berkata: Saya tidak pernah mengalami masalah lalu saya datang ke makam Musa bin Ja’far dan bertawassul dengannya, kecuali Allah memudahkan kepada saya hal-hal yang saya inginkan” (al-Hafidz Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad I/120)

Wallahu a’lamu bisshowab..

HADITS KE 315 : TERBIT FAJAR ADALAH AKHIR DARI WAKTU SHALAT WITIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 315 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا-, عَن النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ فَقَدْ ذَهَبَ كُلُّ صَلَاةِ اللَّيْلِ وَالْوَتْرُ، فَأَوْتِرُوا قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ ) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jika fajar telah terbit maka habislah seluruh waktu sholat malam dan sholat witir. Maka berwitirlah sebelum terbitnya fajar.” Diriwayatkan oleh Tirmidzi.

MAKNA HADITS :

Pada waktu malam terdapat bebeapa sholat sunat yang disyariatkan, diantaranya yang paling afdhal ialah sholat witir. Waktu sholat witir habis apabila waktu malam berakhir. Barang siapa yang meninggalkannya karena tertidur atau lupa, maka hendaklah dia mengerjakannya apabila bangun dari tidur atau ingat sebagaimana yang telah diuraikan sebelum ini. Dalam satu hadis dinyatakan:

انه صلى الله عليه وسلم إذا لم يصل من الليل صلى من النهار اثنى عشر ركعة

Nabi (s.a.w) apabila tidak mengerjakan sholat pada waktu malam, baginda mengerjakan sholat pada waktu siang hari sebanyak dua belas rakaat.” (Diriwayatkan oleh al-Tirmizi dan berkata: “Hadis ini sahih dan hasan.”)

Ini dilakukan untuk mengqadha’ sholat sunat yang tidak sempat dikerjakan pada waktu malam.

FIQH HADITS :

1. Sholat witir merupakan sholat sunat malam yang paling penting.

2. Waktu sholat witir habis dengan berakhirnya waktu malam dan terbitnya fajar.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 314 : KEUTAMAAN MENGAKHIRKAN SHALAT WITIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 314 :

وَعَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنْ خَافَ أَنْ لَا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ, وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ, فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ, وَذَلِكَ أَفْضَلُ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa khawatir tidak bangun pada bagian akhir malam, hendaknya ia sholat witir pada awal malam dan barang siapa sangat ingin bangun pada akhirnya hendaknya ia sholat witir pada akhir malam karena sholat pada akhir malam itu disaksikan (oleh malaikat), dan hal itu lebih utama.” Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Bagi orang yang mengerjakan sgolat witir ada dua keadaan; keadaan hazm dan keadaan ‘azm. Barang siapa yang tidak yakin dirinya bakal bangun di akhir malam, maka hendaklah dia berpegang dengan keadaan pertama, yaitu mengerjakan sholat witir di permulaan malam supaya waktunya tidak tertinggal. Barang siapa yang yakin dirinya mampu bangun di akhir malam, maka hendaklah dia bertekad untuk meraih pahala yang lebih utama, yaitu mengakhirkan sholat witir di penghujung malam, sebab melakukan sholat di penghujung malam disaksikan oleh para malaikat yang bertugas pada waktu malam dan para malaikat siang hari (malaikat yang
menggantikan malaikat yang bertugas pada waktu malam). Waktu tersebut merupakan waktu turunnya rahmat Allah. Pada waktu inilah Rasulullah (s.a.w) selalunya mengerjakan sholat witir.

Sungguhpun begitu, Nabi (s.a.w) pernah mengerjakannya pada permulaan malam hari dan pada pertengahannya. Apa yang baginda lakukan pada hakikatnya
menjelaskan bahwa itu dibolehkan sekaligus menunjukkan waktu sholat witir itu luas.

FIQH HADITS :

1. Keutamaan mengakhirkan sholat witir hingga sampai akhir malam bagi orang yang yakin dirinya mampu bangun tidur tepat pada waktunya.

2. Keutamaan mendahulukan sholat witir bagi orang yang merasa kawatir tidak dapat bangun di akhir malam.

3. Sholat di akhir malam merupakan amalan yang digalakkan karena ia jatuh pada waktu malam yang paling afdhal di samping disaksikan oleh malaikat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 321-313 : ANJURAN MENGKADHA’ SHALAT WITIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 312 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( أَوْتِرُوا قَبْلَ أَنْ تُصْبِحُوا ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

وَلِابْنِ حِبَّانَ: ( مَنْ أَدْرَكَ الصُّبْحَ وَلَمْ يُوتِرْ فَلَا وِتْرَ لَهُ)

Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholat witir-lah sebelum engkau masuk waktu Shubuh.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Menurut Riwayat Ibnu Hibban: “Barangsiapa telah memasuki waktu Shubuh sedang dia belum sholat witir, maka tiada witir baginya.”

HADITS KE 313 :

وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنْ نَامَ عَن الْوِتْرِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّ إِذَا أَصْبَحَ أَوْ ذَكَرَ ) رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيّ

Darinya bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang luput sholat witir karena tidur atau lupa hendaknya ia sholat waktu Shubuh atau ketika ingat.” Diriwayatkan oleh Imam Lima kecuali Nasa’i.

MAKNA HADITS :

Dalam pembahasan terdahulu telah disebutkan waktu shalat witir, yaitu bermula sesudah mengerjakan shalat Isyak sampai dengan terbitnya fajar. Adapun shalat witir yang terlepas, maka dalam hal ini ada beberapa keadaan. Adakalanya seseorang meninggalkannya dengan sengaja, maka orang ini telah menyia-nyiakan sunat yang mulia dan pahala yang berlimpah yang tidak lagi bakal dapat diraih olehnya. Inilah yang diisyaratkan oleh hadis yang mengatakan: “Barang siapa yang menjumpai waktu subuh, sedangkan dia belum mengerjakan shalat witir, maka tidak ada witir baginya.” Adakalanya seseorang tertidur atau lupa hingga shalat witir tertinggal. Inilah hukum dimana seseorang itu dianjurkan mengerjakannya selagi bangun dari tidur atau ingat bahwa dia belum mengerjakan shalat witir. Dia tetap mendapat pahala yang sama dengan pahala orang yang mengerjakannya pada waktunya. Sudah mencukupi uzur baginya karena tertidur atau lupa. Dia sama dengan orang yang meninggalkan shalat fardu karena tertidur atau lupa. Inilah yang diisyaratkan oleh hadis: “Barang siapa yang meninggalkan shalat witir karena tertidur atau lupa, maka hendaklah dia mengerjakannya pada waktu subuh atau selagi dia ingat.”

FIQH HADITS :

1. Waktu akhir shalat witir ialah sebelum subuh.

2. Orang yang meninggalkan shalat witir dengan sengaja disyariatkan supaya mengqadha’nya.

3. Wajib mengerjakan shalat witir jika berlandaskan kepada makna zahir hadis: ” فليصل “.

4. Orang yang meninggalkan shalat witir karena tertidur atau lupa disyariatkan mengqadha’nya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

T039 : CARA MENSUCIKAN BADAN SETELAH MAKAN DAGING BABI

PERTANYAAN :

Asslamualaikum Ustadz..

Deskripsi maslah:

Dono makan daging babi yang jelas haram di konsumsi oleh stiap manusia karena najis, kemudian hari si Dono ingin bertaubat dan menyesal terhdap apa yang telah di makan.

Pertanyaannya:
Bagaimna si dono cara menghilangkan najis yang ada di dalam tubuhnya sebab makan daging babi tersebut.?

mohon ibarotnya juga.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tetap wajib dicuci untuk bagian tubuh yang bisa terjangkau seperti mulut.

المختاج في شرح المنهاج

لو أكل مغلظا ثم خرج منه لم يجب تسبيع المخرج لأن الجوف محيل مطهر لانا نقول الجوف لايحيل النجس الى الطهارة مطلقا

Jika ada orang makan anjing atau babi kemudian keluar lagi daging anjing tersebut dari dalam orang yang makan tersebut, maka baginya tidak wajib membasuh 7 kali pada tempat keluarnya tersebut (DUBUR) dikarenakan perut memiliki kekuatan untuk merubah dzat suatu benda dan mensucikannya. dikarenakan kita (Syafiiyyah) menyatakan bahwa perut ini tidak bisa merubah dzatiyah benda najis menjadi suci secara mutlak.

Keringatnya orang yang memakan daging babi tetap suci karena bukan benda yang keluar dari dua lobang depan-belakang, juga bukan muntah :

وخرج بقوله من السبيلين الخارج من بقية المنافذ فهو طاهر الا القيئ الخارج من الفم بعد وصوله الى المعدة.الباجوري ١ / ١٠٠

Mulutnya wajib dibasuh 7 kali dan dicampur debu. :

ولو أكل لحم كلب نص الشافعي على أنه يغسل فمه سبعا ويعفره.هامش أسنى المطالب ١/٢٢

Bila orang yang makan daging anjing tersebut memuntahkan daging tersebut dalam keadaan utuh / dagingya tidak hancur menjadi kotoran maka wajib mulutnya di basuh 7 x lagi dan dicampuri debu, dan bila muntah tidak berupa daging / sudah hancur menjadi kotoran maka bila mulutnya sudah dibasuh 7 x dan dicampuri debu maka tidak wajib dibasuh 7 kali lagi / cukup dibasuh 1 x saja.:

ومن القيئ ما عاد حالا ولو من مغلظ فلا يجب تسبيع الفم منه كالدبر نعم اعتمد ع ش عدم وجوب التسبيع من خروج ما من شأنه الإستحالة وإن لم يستحل كاللحم الا إن خرج من الفم كذلك و وجوبه مما شأنه عدمها وإن استحال. بغية المسترشدين ص : ٢٢

.ولو تقايأ لحم نحو كلب غير مستحيل وجب عليه تسبيع فمه منه مع التتريب فإن استحال لم يجب ما ذكر اذا خرج منه بعد غسل فمه وتتريبه من الأكل وإلا وجبا فإن خرج من دبره كفاه الإستسجاء من فضلته ولو بالحجر وإن خرج غير مستحيل لأن شأنه ذلك وخرج باللحم العظم فيجب التسبيع بخروجه من الدبر ولو على غير صورته وكذا من الفم ومثل العظم الشعر لأن شأنه عدم الإستحالة ومثل اللحم العظم الرقيق الذي يؤكل معه عادة لأن شأنه الإستحالة. الشرقاوي ١/١١٨-١١٩

Sedangkan mengenai sesuatu yang dari dubur atau qubulnya orang yang makan najis mugholazhoh maka ditafsil sebagai berikut :

1. Wajib dibasuh 7 x dan dicampur dengan debu bila yang dimakan berupa sesuatu yang tidak mungkin berubah/tidak jadi kotoran seperti tulang dan rambut / bulu walaupun keluarnya sudah tidak berupa tulang dan rambut lagi.

2. Tidak wajib di basuh 7 x dan dicampuri debu bila yang dimakan berupa sesuatu yang berubah menjadi kotoran seperti daging walaupun keluarnya tetap berupa daging. :

.ولو أكل لحم كلب لم يجب تسبيع دبره من خروجه وإن خرج بعينه قبل إستحالته فيما يظهر وأفتى به البلقيني لأن الباطن محيل.نهاية المحتاج ١/٢٥٤

.فإن خرج من دبره كفاه الإستسجاء من فضلته ولو بالحجر وإن خرج غير مستحيل لأن شأنه ذلك وخرج باللحم العظم فيجب التسبيع بخروجه من الدبر ولو على غير صورته وكذا من الفم ومثل العظم الشعر لأن شأنه عدم الإستحالة ومثل اللحم العظم الرقيق الذي يؤكل معه عادة لأن شأنه الإستحالة. الشرقاوي ١/١١٨-١١٩

.اعتمد ع ش عدم وجوب التسبيع من خروج ما من شأنه الإستحالة وإن لم يستحل كاللحم الا إن خرج من الفم كذلك و وجوبه مما شأنه عدمها وإن استحال. بغية المسترشدين ص :

Wallahu a’lamu bisshowab..

رابطة خرجي معهد منبع العلوم بتابتا

%d blogger menyukai ini: