HADITS KE 99 : CARA MERAWAT JENAZAH ORANG MUNAFIK

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 99 :

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: ( لَمَّا تُوُفِّيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ جَاء اِبْنُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم . فَقَالَ: أَعْطِنِي قَمِيصَكَ أُكَفِّنْهُ فِيهِ, فَأَعْطَاه إيَّاهُ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِِ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa ketika Abdullah Ibnu Ubay wafat, puteranya datang kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata: Berikan baju baginda padaku untuk mengkafaninya. Lalu beliau memberikan kepadanya. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) sentiasa bersikap kasih sayang untuk menjinakkan hati orang lain agar mau menerima ajarannya, gemar memberikan imbalan kepada orang yang pernah berbuat kebaikan dan tidak pernah menolak orang yang meminta sesuatu kepadanya.

Ketika Abdullah ibn Ubay, tokoh munafiq terkemuka meninggal dunia, anak laki-lakinya datang menghadap Rasulullah (s.a.w) untuk meminta baju gamisnya. Baju gamis Rasulullah (s.a.w) itu kelak akan dia gunakan untuk mengkafankan ayahnya karena dia meyakini itu dapat meringankan siksa neraka bagi ayahnya dan menolak siksa kuburnya. Lalu Rasulullah (s.a.w) memberikan apa yang dipintanya karena menghormati kedudukan anaknya yang telah berbuat baik di dalam Islam dan untuk melunakkan hati kaumnya sekaligus membalas kebaikan yang pernah dilakukan oleh ayahnya terhadap bapak saudara Nabi (s.a.w) (al-Abbas r.a) ketika ditawan di Badar. Pada saat itu bapak saudara Nabi (s.a.w) tidak memakai baju gamis, kemudian Ibn Ubay memberikan baju gamis kepadanya. Dengan demikian, Nabi (s.a.w) telah membalas jasa kebaikan yang pernah dilakukan Ibn Ubay terhadap bapak saudaranya sebagai bakti seorang anak terhadap bapak saudaranya.

FIQH HADITS :

1. Akhlak Rasulullah (s.a.w) yang mulia dan sifat dermawannya dimana baginda tidak pernah menolak orang yang pernah meminta kepadanya.

2. Orang munafik tetap diperlakukan hukum-hakum Islam ke atas dirinya
karena memandangnya berdasarkan dzahir semata, seperti memandikan,
mengkafankan dan mengkebumikan jenazahnya hendaklah mengikut
hukum Islam.

3. Disyariatkan melawat mayat dan memberitakan kematiannya.

4. Boleh meminta pakaian-pakaian orang sholeh untuk mengambil barokah
darinya, sekalipun si peminta adalah orang yang berkemampuan.

5. Disyariatkan mengafankan mayat dengan baju gamis. Keutamaan Abdullah ibn Abdullah ibn Ubay, karena Rasulullah (s.a.w) telah memperkenankan permintaannya dan memberikan baju gamis kepadanya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 98 : BATASAN MENGKAFANI JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 98 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كُفِّنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ مِنْ كُرْسُفٍ, لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ. ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dikafani dengan tiga kain putih bersih dari kapas, tanpa ada baju dan surban padanya. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Kain kafan disyariatkan untuk menutupi aurat si mayat dan memperindah
penampilannya. Batas minimum ukuran kain kafan adalah yang dapat menutup
aurat. Jika tidak ada kain kafan, kecuali kain yang hanya dapat menutupi aurat,
maka itu pun sudah dianggap memadai. Jika ada kain kafan yang lebih lebar,
maka bagian kepala si mayat harus ditutup, dan bagian kakinya dibubuhi
rerumputan atau yang sejenisnya, seperti yang pernah dilakukan terhadap Mush’ab
bin ‘Umair.

Sedangkan yang paling sempurna adalah seperti kain kafan. yang dipakai
untuk mengkafankan Rasulullah (s.a.w) ketika meninggal dunia, yaitu tiga helai
kain putih yang dipakaikan berlapis-lapis antara satu sama lain.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan mengkafankan jenazah dengan kain putih.

2. Disunatkan bagi jenazah laki-laki dikafankan dengan tiga helai kain yang
menutupi seluruh tubuhnya. Ini merupakan cara yang paling sempurna.

Namun menurut cara yang minimum sekedar menutupi semua auratnya
dan itu sudah mencukupi. Imam al-Syafi’i berkata: “Di dalam kain kafan
disunatkan tidak terdapat gamis dan surban.” Imam Ahmad berkata:

“Disunatkan mengkafankan mayat dengan tiga helai kain, dan makruh melebihi tiga helai kain karena berlandaskan kepada makna dzahir hadis ini. Jika jenazah dikafankan dengan memakai baju gamis yang berlengan dan sehelai kain kafan, maka hukumnya boleh, tanpa makruh.”

Mazhab Maliki mengatakan bahwa disunatkan memakaikan kain, baju gamis, dan dua helai kain serta surban yang panjang ujung kainnya memadai satu asta, lalu dipakaikan pada wajah si mayat. Mazhab Hanafi mengatakan bahwa disunatkan memakaikan kain sarung, baju gamis, dan satu helai kain. Ciri baju gamis itu ialah panjang dari kedua pundak hingga kedua telapak kaki, bagian bawah tidak dilonggarkan dan bagian tepi tidak dijahit, serta tidak berlengan. Sedangkan panjang sehelai kain dan sarung dari atas kepala hingga telapak kaki. Mazhab Hanafi menyanggah hadis Aisyah (r.a) bahwa beliau telah meniadakan baju gamis dan surban, karena beliau tidak melihat pengurusan jenazah sejak awal, sedangkan selain Aisyah (r.a) menetapkan adanya baju gamis, kain sarung serta surban. Ada pula kemungkinan baawa Aisyah (r.a) bermaksud baju gamis dan surban
tersebut selain tiga helai kain kafan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 97 : CARA MEMANDIKAN DAN MENGKAFANI JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 97 :

وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَنَحْنُ نُغَسِّلُ ابْنَتَهُ، فَقَالَ: “اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا, أَوْ خَمْسًا, أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ، إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ, بِمَاءٍ وَسِدْرٍ, وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا, أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ”، فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ, فَأَلْقَى إِلَيْنَا حِقْوَهُ.فَقَالَ: “أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ” ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ: ( ابْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ الْوُضُوءِ مِنْهَا ). وَفِي لَفْظٍ ِللْبُخَارِيِّ: ( فَضَفَّرْنَا شَعْرَهَا ثَلَاثَةَ قُرُونٍ, فَأَلْقَيْنَاهُ خَلْفَهَا )

Ummu Athiyyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam masuk ketika kami sedang memandikan jenazah puterinya, lalu beliau bersabda: “Mandikanlah tiga kali, lima kali, atau lebih dari itu. Jika kamu pandang perlu pakailah air dan bidara, dan pada yang terakhir kali dengan kapur barus :kamfer) atau campuran dari kapur barus.” Ketika kami telah selesai, kami beritahukan beliau, lalu beliau memberikan kainnya pada kami seraya bersabda: “Bungkuslah ia dengan kain ini.” Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat: “Dahulukan bagian-bagian yang kanan dan tempat-tempat wudlu.” Dalam suatu lafadz menurut Bukhari: Lalu kami pintal rambutnya tiga pintalan dan kami letakkan di belakangnya.

MAKNA HADITS :

Para ulama berpedoman dengan hadis Ummu ‘Atiyyah dalam cara memandikan
mayat, karena dalam hadis ini Nabi (s.a.w) menjelaskan kepadanya bagaimana
cara memandikan mayat dan baginda sendiri yang memimpinnya sehingga ini
merupakan satu ketetapan darinya.
Untuk memandikan mayat ada dua cara. Pertama ialah cara minimum yaitu
dengan meratakan basuhan ke seluruh tubuh si mayat. Kedua ialah cara maksimum yaitu memandikannya dengan basuhan (siraman) dalam hitungan witir (ganjil), memberinya wangian, dan mulai membasuh anggota wuduk sebelah kanan, kemudian mengepangkan rambutnya menjadi tiga bagian.

FIQH HADITS :

1. Wajib memandikan mayat. Cara manimum ialah meratakan air pada seluruh tubuh si mayat. Sedangkan cara maksimum ialah memandikannya dalam
hitungan witir apabila dianggap mencukupi untuk menyucikannya dengan
mendahulukan anggota wuduk daripada yang lain untuk memuliakannya dan memelihara ghurrah dan tahjil bagi mayat.

2. Imam dikehendaki memberi nasihat kepada orang yang tidak memahami apa-
apa yang dialaminya serta menyerahkan pelaksanaannya kepada seseorang
apabila dia mampu mengerjakannya sendiri setelah mendapat petunjuk
dari imam atau imam sendiri yang memimpin pelaksanaannya.

3. Disunatkan memandikan jenazah dengan air yang dicampur daun bidara.

4. Disunatkan memakai kapur barus pada siraman kali yang terakhir, karena
bau kapur barus ini sangat wangi, bermanfaat untuk mengusir lalat dan
lain-lain dari jenazah, serta dapat mencegah pembusukan.

5. Disunatkan memulai memandikan mayat dari sebelah kanan.

6. Wanita lebih berhak memandikan mayat perempuan dari suaminya.
Jumhur ulama berpendapat bahwa seorang suami boleh memandikan
jenazah isterinya. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa suami tidak
boleh memandikannya, tetapi ulama telah bersepakat bahwa seorang isteri boleh memandikan jenazah suaminya.

7. Boleh mengkafankan seorang mayat wanita dengan pakaian lelaki.

8. Mengambil berkat dari pakaian-pakaian yang pernah dipakai oleh Rasulullah (s.a.w).

9. Disunatkan menyikat rambut jenazah wanita, lalu mengepangnya menjadi
tiga bagian dan meletakkan semua kepangan ke belakang tubuhnya.
Demikianlah menurut pendapat Imam Ahmad, Imam al-Syafi’i, dan mazhab
Malik. Sedangkan mazhab Hanafi mengatakan bahwa rambut jenazah
wanita tidak boleh disikat, tetapi hanya dikepang menjadi dua bagian, lalu diletakkan pada dadanya di luar baju gamisnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 95 : MENCAMPURKAN AIR DENGAN DAUN BIDARA UNTUK MEMANDIKAN JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 95 :

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ فِي الذِي سَقَطَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَمَاتَ: ( اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ, وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Mengenai orang yang terjatuh dari kendaraannya kemudian meninggal, mandikanlah ia dengan air dan bidara, dan kafankanlah dengan dua lapis kainnya.” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Ibn Abbas (r.a) menceritakan bahwa ketika beliau bersama Nabi (s.a.w) sedang berwukuf di Arafah dan banyak orang yang di sekelilingnya, tiba-tiba ada seorang
lelaki jatuh dari atas kendaraannya, hingga lehernya patah dan meninggal dunia
seketika itu juga. Melihat itu, Rasulullah (s.a.w) menyuruh para sahabatnya
untuk memandikannya dan meletakkan daun bidara di dalam air mandinya serta
mengafaninya dengan kedua pakaian ihramnya. Ketika itu lelaki tersebut sedang berihram dan memakai pakaian ihram, iaitu kain dan selendang.

Nabi (s.a.w) melarang mereka meletakkan hanuth (bahan pengawet) dan menutupi kepalanya. Mereka harus membiarkannya dalam keadaan berpakaian ihram sebagaimana ketika dia mati, karena sesungguhnya kelak pada hari kiamat
dia akan dihimpun dalam keadaan berpakaian ihram sebagaimana keadaannya ketika dia meninggal dunia seraya mengucapkan: “لبيك اللهم لبيك”

FIQH HADITS :

1. Wajib memandikan mayat dan mengkafaninya.

2. Boleh memandikan mayat yang mati dalam keadaan berihram dengan daun bidara dan air karena berlandaskan kepada perintah Rasulullah (s.a.w) dalam hadis ini. Imam al-Syafi’i berkata: “Orang hidup yang sedang berihram dibolehkan mandi dengan air dan daun bidara.” Sedangkan menurut jumhur ulama, itu makruh.

3. Boleh mengkafankan mayat dengan dua pakaian, tetapi yang lebih afdhal ialah dengan tiga helai pakaian, yaitu tiga helai kain.

4. Ihram lelaki berkaitan dengan kepalanya, bukan dengan wajahnya.

5. Disunatkan mengkafankan mayat yang mati selagi berihram dengan pakaian ihramnya.

6. Orang yang sedang mengerjakan amal ibadah lalu dia mati ketika mengerjakannya dan amal ibadahnya itu belum sempat dia selesaikan, maka diharapkan kelak pada hari kiamat dihimpun bersama orang yang
rajin dalam amal ibadah itu.

7. Jika seseorang yang sedang ihram meninggal dunia, maka status ihramnya
masih tetap wujud pada dirinya. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad mengatakan bahwa haram menutup kepala mayat yang mati ketika sedang berihram, bagitu pula memberinya wangian, karena berlandaskan kepada hadis ini. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa menutup kepala dan memberinya wangian boleh dilakukan ke atasnya sama dengan apa yang diperlakukan ke atas orang yang mati dalam keadaan tidak berihram. Ketetapan ini berdasarkan qiyas, karena status ibadah telah terputus dengan hilangnya beban taklif, yaitu hidup. Mereka menyanggah hadis ini bahwa hal tersebut merupakan keistimewaan bagi lelaki yang mati sedang berihram pada zaman Rasulullah (s.a.w) itu saja. Ini kerana pemberitahuan baginda yang menyatakan bahwa lelaki itu kelak akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah (berihram) merupakan kesaksian baginda yang haji lelaki itu telah diterima dan status ini tidak dapat diperlakukan kepada orang lain.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

J044. HUKUM SHALAT JENAZAH GHAIB BAGI MAYIT YANG SUDAH LAMA MENINGGAL

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum Ustadz..

Tanya tentang sholat ghoib, baru-baru ini saya dengar kabar bahwa teman karib saya meninggal dunia dua tahun yang lalu

pertanyaanya :
a. bolehkah saya sholat ghoib baginya?.
b. bolehkah saya sholat ghoib untuk orang-orang yang wafat zaman dahulu seperti Sunan Ampel / Syeh Abdul Qodir ?

JAWABAN :

Wa’alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

Jika saat orang yang meninggal anda termasuk orang yang ahli menjalankan sholat jenazah tersebut maka sah sholat ghoibnya, jika tidak maka tidak sah, misalnya saat teman anda meninggal dua tahun lalu itu anda belum termasuk orang yang ahli melakukan sholat jenazah karena belum baligh maka sholatnya tidak sah, apalagi mensholati orang-orang yang wafat zaman dulu seperti para sunan dan syeh abdul qodir al jaelani maka jelas tidak sah karena saat mereka wafat anda belum lahir.

Referensi:
– kitab nihayatuz zain (1/160) :

وَالأَصَح تَخْصِيص صِحَة الصَّلَاة على الْغَائِب والقبر بِمن كَانَ (من أهل) أَدَاء (فَرضهَا) أَي الصَّلَاة (وَقت مَوته) دون غَيره فَلَا تصح من كَافِر وحائض يَوْم مَوته كمن بلغ أَو أَفَاق بعد الْمَوْت وَقبل الْغسْل

– kitab al iqna’ (1/202) :

وَتَصِح على غَائِب عَن الْبَلَد وَلَو دون مَسَافَة الْقصرقَالُوا وَإِنَّمَا تصح الصَّلَاة على الْقَبْر وَالْغَائِب عَن الْبَلَد مِمَّن كَانَ فِي أهل فَرضهَا وَقت مَوته قَالُوا لِأَن غَيره متنفل وَهَذِه لَا يتَنَفَّل بهَا

– kitab asnal matholib (1/322) :

وإنما تجوز الصلاة على الغائب عن البلد لمن كان من أهل فرض الصلاة عليه يوم موته

BATASAN JARAK DIPERBOLEHKANNYA SHOLAT GHOIB

PERTANYAAN:

Seberapa jauh mayit diperbolehkan untuk di sholati GHOIB? sahkah sholat ghoib pada mayit yang masih satu kampung/komplek perumahan?

JAWABAN:

وَيَجُوزُ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى الغَائِبِ عَنْ بَلَدٍ وَإِنْ قَرُبَتْ مَسَفَاتُهُ بِأَنْ كَانَ دُونَ مَسَافَةِ القَصْرِ وَلاَ يَجُوزُ عَلَى الغَائِبِ فِى البَلَدِ وَإِنِ اتَّسَعَتْ أَرْجَاؤُهُ .

“Dan boleh disholati ghoib, mayit yang tidak ada dalam kota meskipun jarak-nya dekat, yaitu kurang dari jarak yang membolehkan sholat qashar. Dan tidak boleh disholati ghoib mayit yang berada dalam kota meskipun kota itu luas wilayahnya“
(Anwarul Masalik/98)

المتجه أن المعتبر المشقة وعدمها فحيث شق الحضور ولو في البلد لكبرها ونحو صحت وحيث لا ولو خارج السور لم تصح م ر

Dalam batasan jarak tempuh diperkenankannya shalat ghaib yang menjadi pertimbangan adalah masyaqqat (kesulitan) dan tidaknya berkunjung pada tempat janazah, walaupun masih berada dalam satu daerah bila terjadi masyaqqat(kesulitan), boleh menjalankan shalat ghaib dan walaupun diluar daerah bila tidak ada kesulitan mendatanginya maka tidak boleh menunaikan shalat ghaib. (I’aanah at-Thaalibiin II/133)

Wallahu a’lamu Bisshowab..

HADITS KE 94 : TENTANG ARWAH ORANG YANG MASIH MEMPUNYAI BEBAN HUTANG

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 94 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( نَفْسُ المُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ, حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Ruh orang mati itu tergantung dengan hutangnya sampai hutang itu dilunasi untuknya.” Riwayat Ahmad dan Tirmidzi. Hadits hasan menurut Tirmidzi.

MAKNA HADITS :

Hutang membuat seseorang tidak dapat tidur nyenyak pada waktu malam bari,
sedangkan waktu pada siang harinya merupakan kesusahan dan kesulitan yang selalu mengejar dirinya. Orang yang berakal akan berusaha dengan daya upaya untuk membebaskan diri dari berhutang.
Ini kerana si mayat terhambat oleh hutangnya sesudah dia mati dan hadis ini menjelaskan bahwa jiwa seorang mukmin tergantung pada hutangnya hingga tidak dapat mencapai kedudukan yang benar, sebelum hutangnya diselesaikan. Nabi
(s.a.w) tidak mau menyembahyangkan jenazah orang yang masih mempunyai
hutang, karena sholat jenazah merupakan do’a untuk si mayat, sedangkan do’a Nabi (s.a.w) dikabulkan, maka baginda tidak mau menyia-nyiakan hak-hak hamba Allah. Tetapi apabila ada seseorang yang mau menanggung hutang si mayat,
maka barulah Nabi (s.a.w) menyembahyangkannya.

Ini terjadi pada permulaan Islam, kemudian ketika Allah menganugerahkan banyak harta ghanimah, maka Nabi (s.a.w) tetap menyembahyangkan setiap
orang muslim yang meninggal dunia, dan baginda sendiri yang membayarkan hutangnya dari baitul mal, karena Nabi (s.a.w) adalah wali bagi orang yang tidak mempunyai wali. Inilah salah satu contoh kesempurnaan kasih sayang baginda
terhadap umatnya.

Selain itu hadis ini menyarankan supaya seseorang mengelakkan diri dari kebiasaan berhutang. Di dalam hadis tersebut disebutkan bahwa setiap dosa orang yang mati syahid diampuni, kecuali hutang. Jika itu berkaitan dengan hutang yang diambil melalui cara yang dibenarkan oleh syariat, lebih-lebih lagi hutang yang
diambil secara paksa dan merompak.

Ya Allah, semoga Engkau menyelesaikan hutang kami di dunia dan di akhirat.

FIQH HADITS :

1. Dianjurkan membebaskan diri dari hutang sebelum mati.

2. Mayat masih tetap disibukkan oleh hutangnya sebelum ada orang yang
menyelesaikannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 93 : BOLEH MENCIUM ORANG YANG TELAH WAFAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 93 :

وَعَنْهَا ( أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ رضي الله عنه قَبَّلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بَعْدَ مَوْتِهِ ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Abu Bakar Radliyallaahu ‘anhu mencium Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam setelah beliau wafat. Riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) memuliakan anak Adam dan menjadikan mayatnya pun suci. Allah

(s.w.t) berfirman:

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam…” (Surah al-Isra’: 70)

Oleh itu, dibolehkan mencium orang yang telah mati. Nabi (s.a.w) sendiri pernah mencium saudara sesusuannya, yaitu Utsman ibn Mazh’un ketika meninggal

dunia, sedangkan air mata baginda bercucuran. Abu Bakar (r.a) mencium Rasulullah (s.a.w) ketika baginda telah wafat. Cukuplah perbuatan Rasulullah (s.a.w) sebagai dalil dan hujah sebagaimana apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar (r.a). Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan itu tidak hanya khusus kepada Nabi (s.a.w) saja.

FIQH HADITS :

Boleh mencium orang yang telah meninggal dunia.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

M110. HUKUM TUKAR MENUKAR UANG BERSELISIH NOMINAL

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum.. Menjelang IDUL FITRI, biasanya orang-orang mendadak “latah” tukar uang baru. Bahkan sampai direwangi ngantri berpanjang panjang di Bank. Ada juga calo-calo yang berjajar di tepi jalan, menawarkan lembaran-lembaran uang baru.Untuk di Bank, tidak ada masalah. Karena 1 lembar uang 100 ribu akan ditukar dengan uang pecahan lain dengan nilai yang sama. Bagaimana hukumnya tukar uang kepada Calo, yang 1 lembar 100 ribu, jika ditukar dengan pecahan uang lainnya, maka hanya ditukar senilai 90 ribu. Jadi kurang 10 ribu, yang dianggap ” ongkos ” antri para Calo tersebut ?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

Coba baca Hasil Keputusan Bahtsul Masail ke-9 FMP3 (Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri) se-Jawa Timur komisi A, Di Ponpes Putri Modern Ar-Rifa’ie Gondanglegi Malang, 6-7 Februari :

Deskripsi Masalah : Menjelang hari Lebaran, kebutuhan akan uang pecahan mengalami peningkatan.Praktis, kantor-kantor bank yang melayani penukaran uang menjadi penuh oleh nasabah yang ingin mendapatkan uang pecahan kecil. Panjangnya antrean menjadikan mereka enggan pergi ke bank. Fenomena(gejala) ini ditangkap oleh sebagian kalangan sebagai kesempatan untuk mengais rezeki. Yakni dengan menyediakan jasa penukaran uang, dengan adanya selisih nominal, semisal uang 100 ribuaan mereka tukar dengan 90-95 lembar uang 1000 atau pecahan lainnya. Dan, lahan bisnis ini terbukti mendapat respon. Usaha mereka laris manis.

Pertanyaan : Termasuk aqad apakah praktek dalam deskripsi(pemaparan, penggambaran) di atas ?Bagaimanakah hukum mengadakan transaksi (aqad)tersebut ?

Jawaban : Termasuk akad bay’ (jual beli)

Mengingat bahwa pada zaman sekarang, mata uang terkait dengan neraca perdagangannya,bukan berdasarkan cadangan emas dan perak yang dimilikinya, maka hukum transaksi(aqad) di atas adalah :

– Menurut ulama’ Syafi’iyyah, hukumnya diperbolehkan, karena mata uang rupiah tidak tergolong mal ribawi.

– Menurut ulama’ Malikiyyah, hukumnya tidak diperbolehkan, karena mata uang rupiah bisa disetarakan dengan emas dan perak dalam unsur ribawi-nya.

Referensi : Tuhfah al-Muhtaj juz VI hlm. 212, Hâsyiyah Al-Bujarimi ‘ala Al-Khathîb juz VII hlm. 339, I’ânah al-Thâlibîn juz III hlm. 12-13, Qaul al-Munaqqah hlm. 5, Al-Fawâkih al-Dawâni juz V hlm. 403 dan Hâsyiyah Al-’Adawi juz V hlm. 450.

Ibarot :

تحفة المحتاج الجزء السادس عشر ص: 212

(كتاب البيع) قيل أفرده لإرادته نوعا منه هو بيع الأعيان ويرد بأن إفراده هو الأصل إذ هو مصدر وإرادة ذاك تعلم من إفراده السلم بكتاب مستقل وهو لغة مقابلة شيء بشيء وشرعا عقد يتضمن مقابلة مال بمال بشرطه الآتي لاستفادة ملك عين أو منفعة مؤبدة وهو المراد هنا وقد يطلق على قسيم الشراء فيحد بأنه نقل ملك بثمن على وجه مخصوص والشراء بأنه قبوله على أن لفظ كل يقع على الآخر وأركانه عاقد ومعقود عليه وصيغة .

حاشية البجيرمي على الخطيب الجزء السابع ص: 339

(ولا يجوز بيع) عين (الذهب بالذهب و) لا بيع عين (الفضة كذلك) أي بالفضة (إلا) بثلاثة شروط الأول كونه (متماثلا) أي متساويا في القدر من غير زيادة حبة ولا نقصها . والثاني كونه (نقدا) أي حالا من غير نسيئة في شيء منه . والثالث كونه مقبوضا قبل التفرق أو التخاير للخبر السابق . وعلة الربا في الذهب والفضة جنسية الأثمان غالبا كما صححه في المجموع ويعبر عنه أيضا بجوهرية الأثمان غالبا وهو منتفية عن الفلوس وغيرها من سائر العروض . واحترز بغالبا عن الفلوس إذا راجت فإنه لا ربا فيها كما مر ولا أثر لقيمة الصنعة في ذلك حتى لو اشترى بدنانير ذهبا مصوغا قيمته أضعاف الدنانير اعتبرت المماثلة ولا نظر إلى القيمة .والحيلة في تمليك الربوي بجنسه متفاضلا كبيع ذهب بذهب متفاضلا أن يبيعه من صاحبه بدراهم أو عرض ويشتري منه بها أو به الذهب بعد التقابض فيجوز وإن لم يتفرقا ولم يتخايرا .

قوله : (وعلة الربا إلخ) أي حكمته فلا ينافي كون حرمة الربا من الأمور التعبدية كما قرره شيخنا العشماوي وإنما كان حكمة لا علة لأن الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما والحكمة لا يلزم اطرادها . وعبارة ق ل لو قال وحكمة الربا لكان أقوم إذ لا ربا في غيرها وإن غلبت الثمنية فتأمل ولعل عزوه لبراءته من عهدته وكذا ما بعده فقوله وهي منتفية إلخ مضر أو لا حاجة إليه ا هـ بحروفه .

إعانة الطالبين الحزء الثالث ص :12-13

(وشرط في بيع) ربوي وهو محصور في شيئين (مطعوم) كالبر والشعير والتمر والزبيب الملح والارز والذرة الفول (ونقد) أي ذهب وفضة ولو غير مضروبين كحلي وتبر (بجنسه) كبر ببر وذهب بذهب (حلول) للعوضين (وتقابض قبل تفرق).

(قوله: ونقد) قال في التحفة وعلة الربا فيه جوهرية الثمن فلا ربا في الفلوس وإن راجت . اهـ.

قول المنقح ص : 5

فإن بيعت الأوراق مثلها متماثلا أو متفاوتا كان من قبيل بيع النقد بنقد في الذمة فتجري فيه شروط الربوي فإن اتفق في الجنس كفضة بفضة اشترط في صحة العقود الحلول والتقابض والتماثل وإن اختلف في الجنس واتحد في علة الربا كذهب وفضة اشترط الأولان وإن فقد شرط من هذه الشروط لم يصح العقد

الفواكه الدواني الجزء الخامس ص 403

(خاتمة) وقع خلاف في علة الربا في النقود فقيل غلبة الثمنية وقيل مطلق الثمنية وعلى الأول تخرج الفلوس الجدد فلا يدخلها الربا ويدخلها على الثاني .

حاشية العدوي الجزء الخامس ص 450

واختلف في علة الربا في النقود فقيل غلبة الثمنية وقيل مطلق الثمنية وعلى الأول تخرج الفلوس الجدد فلا يدخلها الربا ويدخلها على الثاني وإنما كانت علة الربا في النقود ما ذكر لأنا لو لم نمنع الربا فيها لأدى ذلك إلى قلتها فيتضرر بها الناس كما قاله اللقاني وحمل قول مالك في الفلوس على الكراهة للتوسط بين الدليلين كما قاله خليل في توضيحه .

Wallahu a’lamu bisshowab..

HADITS KE 92 : ANJURAN MENUTUPI MAYAT DENGAN KAIN SEBELUM DIMANDIKAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 92 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: ( أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ تُوُفِّيَ سُجِّيَ بِبُرْدٍ حِبَرَةٍ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ketika wafat ditutup dengan kain bermotif dari Yaman. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Menutupi tubuh mayat sebelum dimandikan dengan selimut yang paling baik merupakan suatu perbuatan yang disunatkan. Hikmahnya ialah menjaga agar tubuhnya tidak terbuka dan menutupinya dari pandangan mata apabila terjadi perubahan.

Sesungguhnya menutupi tubuh mayat ini hanya dilakukan setelah menanggalkan semua pakaian si mayat dari tubuhnya, agar tubuh mayat tidak berubah dan mencegah agar tubuhnya tidak terkena kotoran yang keluar dari tubuhnya ketika sedang nazak dan ruhnya keluar.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan menutupi tubuh mayat. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar
tubuhnya yang berubah tidak terbuka akibat proses kematiannya.

2. Disyariatkan menanggalkan pakaian yang dipakai oleh si mayat ketika dia
mati agar tubuhnya tidak berubah karena pakaian tersebut.

3. Disunatkan mengikat dagunya dengan kain yang agak lebar, dan melenturkan sendi-sendi tulangnya setelah rohnya keluar dengan cara menekukkan tangan ke lengannya, betis ke pahanya, dan paha ke perutnya, kemudian dikembalikan lagi kepada posisi semula agar mudah dimandikan, karena pada saat itu tubuh masih dalam keadaan hangat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

رابطة خرجي معهد منبع العلوم بتابتا

%d blogger menyukai ini: