HADITS KE 121 : ANJURAN SEGERA MENGUBURKAN JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI
《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 121 :

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي ﷺ قال : أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ، فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا اليه وَإِنْ يكُ سِوَى ذَلِكَ فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah (r.a) daripada Rasulullah (s.a.w), baginda bersabda:
“Bersegeralah kamu mengusung jenazah. Jika jenazah itu orang sholeh, berarti kamu telah melakukan kebaikan untuknya. Jika jenazah itu bukan orang soleh, bererti kamu telah membuang keburukan dari bahu kamu.” (Mutafaq ‘alaih)

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) mengingatkan kaum muslimin apabila mayat telah diletakkan
di dalam keranda, lalu diusung oleh sekumpulan kaum lelaki, maka disunatkan bersegera membawanya ke liang lahad, karena apabila mayat itu orang sholeh,
sebaiknya disegerakan acara pengkebumiannya agar dia segera menjumpai pahala yang telah disediakan oleh Allah (s.w.t) untuknya.
Namun jika mayat itu bukan orang soleh, maka tidak ada untungnya melewatkan masa pengkebumiannya, karena berteman dengan orang jahat merupakan perbuatan tercela. Antara amalan kebaikan ialah menjauhi kejahatan dan oleh karenanya dianjurkan bersegera mengkebumikan jenazah yang tidak sholeh untuk membebaskan diri dari keburukannya. Melalui hadis ini Rasulullah
(s.a.w) seakan-akan membangkitkan dorongan untuk berbuat amal kebaikan
kepada orang lain, sekalipun mereka telah menjadi mayat di samping mendorong
mereka menjauhi kejahatan serta pelaku maksiat, sekalipun mereka telah menjadi
mayat

FIQH HADITS :

1. Disunatkan bersegera membawa jenazah dengan langkah-langkah kaki yang sederhana antara berjalan cepat dengan jalan lambat hingga tidak menimbulkan mudharat pada mayat atau tidak menimbulkan kesusahan
bagi para pengiring dan orang yang mengusungnya. Jika terlalu cepat hingga menimbulkan perkara-perkara yang tidak diinginkan, maka hukumnya haram.

2. Disunatkan bersegera mengkebumikan mayat, kecuali orang yang mati itu menderita sakit jantung atau sakit lumpuh, lalu mati mendadak, maka kematiannya harus diperiksa terlebih dahulu oleh doktor dan menangguhkan pengkebumiannya.

3. Tidak boleh bergaul dengan orang jahat dan pelaku maksiat karena tidak ada kebaikannya bergaul dengan mereka.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 120 : ANJURAN IHLAS KETIKA MENDO’AKAN MAYIT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 120 :

وعنه أن النبي ﷺ قال : إذا صليت على الميت فأخلصوا عليه الدعاء. رواه أبو دود وصححه ابن حبان.

Dari Abu Hurairah (r.a), bahwa Nabi (s.a.w) bersabda: “Jika kamu melakukan
sholat jenazah, maka ikhlaslah ketika kamu mendo’akan jenazah itu.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban)

MAKNA HADITS :

Seseorang yang melakukan sholat jenazah adalah orang yang memohon syafaat untuk jenazah dan berharap semoga syafaatnya diterima untuk si mayat. Oleh itu, sudah sepatutnya dia bersungguh-sungguh ketika berdo’a dan ikhlas dalam melakukannya. Rasulullah (s.a.w) menyuruh kita untuk berbuat demikian melalui sabdanya: “Ikhlaslah kamu ketika mendo’akan jenazah itu.” Perintah yang terdapat di dalam hadis ini menunjukkan hukum sunnah.

FIQH HADITS :

Dianjurkan ikhlas ketika mendo’akan mayat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 118-119 : DO’A-DO’A DALAM SHALAT JANAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 118 :

عن عوف بن مالك رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال: صلى رَسُول اللَّهِ ﷺ على جنازة فحفظت من دعائه وهو يقول: اللهم اغفر له وارحمه، وعافه واعف عنه، وأكرم نزله ووسع مدخله، واغسله بالماء والثلج والبرد، ونقه من الخطايا كما نقيت الثوب الأبيض من الدنس، وأبد له داراً خيراً من داره، وأهلاً خيراً من أهله، وأدخله الجنة، وقه فتنة القبر وعذاب النار. رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Auf ibn Malik (r.a), beliau berkata: “Rasulullah (s.a.w) telah
menyembahyangkan jenazah dan aku telah menghafal do’a yang telah dibaca
baginda itu:

اللهم اغفر له وارحمه، وعافه واعف عنه، وأكرم نزله ووسع مدخله، واغسله بالماء والثلج والبرد، ونقه من الخطايا كما نقيت الثوب الأبيض من الدنس، وأبد له داراً خيراً من داره، وأهلاً خيراً من أهله، وأدخله الجنة، وقه فتنة القبر وعذاب النار

“Ya Allah, ampunilah dia dan berilah rahmat kepadanya. Selamatkanlah dirinya dan berilah pengampunan kepadanya, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburnya, dan mandikanlah dia dengan air, salju dan embun. Bersihkanlah dirinya dari dosa-dosa sebagaimana membersihkan baju putih dari kotoran, dan gantilah untuknya rumah yang lebih baik daripada rumahnya, dan keluarga
yang lebih baik daripada keluarganya. Dan masukkanlah dia ke dalam surga serta peliharalah dirinya dari siksa kubur dan siksa neraka.” (Diriwayatkan
oleh Muslim)

HADITS KE 119 :

للَّهم اغفر لِحَيِّنَا وَميِّتِنا ، وَصَغيرنا وَكَبيرِنَا ، وذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا ، وشَاهِدِنا وَغائِبنَا . اللَّهُمَّ منْ أَحْيَيْتَه منَّا فأَحْيِه على الإسْلامِ ، وَمَنْ توَفَّيْتَه منَّا فَتَوَفَّهُ عَلى الإيمانِ ، اللَّهُمَّ لا تَحْرِمْنا أَجْرَهُ ، وَلا تَضلنا بَعْدَهُ » رواه مسلم والاربعة.

Dari Abu Hurairah (r.a), beliau berkata: “Jika Rasulullah (s.a.w)
menyembahyangkan jenazah, baginda berdo’a seraya mengatakan:

اللَّهُمَّ منْ أَحْيَيْتَه منَّا فأَحْيِه على الإسْلامِ ، وَمَنْ توَفَّيْتَه منَّا فَتَوَفَّهُ عَلى الإيمانِ ، اللَّهُمَّ لا تَحْرِمْنا أَجْرَهُ ، وَلا تَضلنا بَعْدَه

“Ya Allah, berikanlah ampunan bagi orang yang hidup di antara kami, orang yang
mati di antara kami, orang yang hadir di antara kami, orang yang tidak hadir di
antara kami, anak-anak dan orang tua di antara kami, lelaki dan perempuan kami. Ya Allah, siapa yang Engkau karuniakan hidup di antara kami, maka hidupkanlah dia dalam Islam dan siapa yang Engkau matikan di antara kami,
maka matikanlah dia dalam iman. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami untuk meraih pahala dan janganlah Engkau sesatkan kami sepeninggalannya.” (Diriwayatkan oleh Muslim dan al-Arba’ah)

MAKNA HADITS :

Topik kedua hadis ini sama, yaitu cara berdo’a untuk si mayat. Rasulullah
(s.a.w) menyuruh kita supaya ikhlas ketika mendo’akan mayat, karena orang
yang mengerjakan sholat jenazah adalah orang yang memohon syafaat, dan orang
yang memohon syafaat itu hendaklah ikhlas supaya do’anya dikabulkan. Tidak diragukan bahwa do’a yang pernah dibaca oleh Nabi (s.a.w) lebih afdal untuk
didahulukan, karena baginda dianugerahkan Jawami’ al-Kalim dan baginda adalah seorang yang paling mengetahui cara berdo’a. Banyak hadis yang menceritakan do’a mayat ini dengan pelbagai bentuk kalimat yang dimuatkannya. Ini menunjukkan bahwa masalah ini luas dan tidak ada batasan dengan do’a tertentu. Do’a-do’a tersebut diucapkan ketika mengerjakan sholat jenazah dengan suara yang tidak kuat. Do’a-do’a untuk mayat yang dinukil oleh para sanabat dari Nabi (s.a.w) dapat ditafsirkan bahwa sesekali Nabi (s.a.w) menguatkan suara bacaan do’a ketika mengerjakan sholat jenazah supaya didengar oleh makmum di belakang, meskipun tidak menutup kemungkinan mereka bertanya tentang apa yang dibaca oleh baginda dalam do’anya itu, lalu Nabi (s.a.w) memberitahu hal tersebut kepada mereka.

FIQH HADITS :

1. Dalam sholat jenazah disyariatkan berdo’a untuk si mayat.

2. Disunatkan berdo’a dengan do’a-do’a yang terdapat di dalam hadis, karena
do’a-do’a tersebut lebih lebih afdal.

3. Menetapkan adanya siksa kubur dan siksa neraka.

4. Dianjurkan berdo’a dengan do’a yang memiliki makna yang menyeluruh.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 116-117 : HUKUM MEMBACA SURAH AL-FATIHAH DALAM SHALAT JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 116 :

عن جابر رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يكبر على جنائزنا أربعا ويقرأ بفاتحة الكتاب في التكبيرة الأولى . رواه الشافعي بإسناد ضعيف.

Dari Jabir (r.a), beliau berkata: “Rasulullah (s.a.w) bertakbir untuk jenazah
kami sebanyak empat kali dan pada takbir yang pertama baginda membaca Surah
al-Fatihah.” (Diriwayatkan oleh al-Syafi’i dengan sanad berkedudukan dha’if)

HADITS KE 117 :

عن طلحة ابن عبد الله ابن عوف رضي الله عنه قال صليت خلف ابن عباس على جنازة فقرأ فاتحة الكتاب فقال لتعلموا أنها سنة. رواه البخاري والنسائي

Dari Talhah ibn Abdullah ibn Auf (r.a), beliau berkata: “Saya pernah
melakukan sholat jenazah di belakang Ibn Abbas, lalu beliau membaca Surah al-
Fatihah dan berkata: “Ketahuilah bahwa bacaan al-Fatihah ini Sunnah (tuntunan
Nabi (s.a.w).” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

MAKNA HADITS :

Ulama berselisih pendapat mengenai hukum disyariatkan bacaan al-Fatihah dalam sholat jenazah. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad, mengatakan bahwa membaca Surah al-Fatihah sesudah takbir pertama adalah wajib. Mereka beralasan bahwa sholat jenazah termasuk salah satu sholat, sedangkan Rasulullah (s.a.w) pernah bersabda:

لا صلاة إلا بفاتحة الكتاب

Tidak ada sholat kecuali dengan Fatihah al-Kitab.”

Dengan demikian, sholat jenazah termasuk ke dalam pengertian umum hadis ini. Selain itu, ia turut berlandaskan kepada hadits di atas yang mengatakan bahwa bacaan al-Fatihah ini adalah Sunnah atau termasuk Sunnah. Menurut riwayat lain disebutkan haq, yaitu suatu ketetapan. Ini mengukuhkan lagi bahwa membaca al-Fatihah adalah wajib, karena Sunnah adalah kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w) atau tuntunan Nabi (s.a.w), sementara pengertian haq adalah sesuatu yang telah ditetapkan.
Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa di dalam sholat
jenazah tidak ada bacaan al-Qur’an, karena tujuan utamanya adalah mendo’akan
si mayat. Mereka melandaskan pendapatnya dengan perkataan Ibn Mas’ud (r.a): “Rasulullah (s.a.w) tidak menetapkan suatu bacaan apa pun dalam sholat jenazah kepada kami.”
Apapun, pendapat kedua imam yang pertama lebih baik untuk dijadikan pegangan.

FIQH HADITS :

Disyariatkan membaca Surah al-Fatihah ketika mengerjakan sholat jenazah.
Sehubungan ini, ulama berbeda pendapat. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad
mengatakan bahwa membaca Surah al-Fatihah ketika mengerjakan sholat jenazah adalah wajib. Sedangkan menurut mazhab Maliki, membaca Surah al-Fatihah
dalam sholat jenazah adalah makruh.
Mazhab Hanafi mengatakan bahwa tidak ada bacaan Surah al-Fatihah
dalam sholat jenazah. Antara yang mensyariatkan membaca Surah al-Fatihah dalam mengerjakan sholat jenazah adalah Ibnu Mas’ud, al-Hasan ibn Ali dan Ibn
Umar. Manakala antara yang tidak mensyariatkannya adalah Ibn ‘Umar dan Abu Hurairah. Kebanyakan ulama mengatakan bahwa Surah al-Fatihah dibaca dengan suara yang tidak kuat dan mereka bersepakat untuk tidak membaca satu surah pun sesudah membaca Surah al-Fatihah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 114 : JUMLAH TAKBIR DALAM SHOLAT JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 114 :

عن عبد الرحمن بن أبي ليلى رضي الله عنه قال : كان زيدُ بنُ أرقمَ يُكبِّرُ على جنائزِنا أربعًا وإنه كبر على جنازة خمسًا، فسأَلْناه فقال: كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يكبرها. رواه مسلم والاربعة.

Dari Abdul Rahman ibn Abu Laila (r.a), beliau berkata: “Zaid ibn Arqam
melakukan empat kali takbir ketika menyembahyangkan jenazah kami. Pada suatu ketika, beliau melakukan lima kali takbir ketika mengerjakan sholat jenazah, lalu aku bertanya kepadanya (mengenai hal itu), kemudian beliau berkata: “Dahulu
Rasulullah (s.a.w) pernah melakukannya.”
(Diriwayatkan oleh Muslim dan al-Arba’ah)

HADITS KE 115 :

عن علي رضي الله عنه أنه كبر على سهل بن حنيف ستا. قال إنه بدري. رواه سعيد ابن منصور وأصله في البخاري

Dari Ali (r.a) bahwa beliau pernah bertakbir sebanyak enam kali untuk menyembahyangkan jenazah Sahl ibn Hunaif. Beliau mengatakan bahwa
sesungguhnya Sahl ibn Hunaif seorang ahli Badar. (Diriwayatkan oleh Sa’id ibn
Manshur dan asal hadis berada pada al-Bukhari)

MAKNA HADITS :

Para sahabat melakukan takbir sholat jenazah pada zaman Rasulullah (s.a.w), ada yang empat kali, lima kali dan ada pula yang enam serta tujuh kali. Kemudian
Khalifah Umar (r.a) mengumpulkan seluruh sahabat Rasulullah (s.a.w), setiap
mereka memberitahu jumlah takbir sesuai dengan apa yang pernah mereka lihat.
Lalu Khalifah ‘Umar (r.a) menghimpun pendapat-pendapat itu, hingga terjadilah
kesepakatan untuk melakukan empat kali takbir dalam sholat jenazah.

Sesudah Raja al-Najasyi meninggal dunia, Rasulullah (s.a.w) melakukan sholat je nazah dengan empat kali takbir, lalu ditetapkan seterusnya menjadi empat
kali takbir hingga Allah (s.w.t) mewafatkannya. Akan tetapi, Khalifah ‘Umar (r.a) dan orang yang bersamanya masih belum mengetahui bahwa takbir itu telah ditetapkan menjadi empat kali, hingga Khalifah ‘Umar (r.a) mengumpulkan mereka dan bermusyawarah memecahkan masalah ini.

FIQH HADITS :

Jumhur ulama bersepakat bahwa takbir sholah jenazah adalah empat kali.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 113 : HUKUM MENSHOLATKAN JANAZAH DI DALAM MASJID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 113 :

عن عائشة رضي الله عنها قالت : والله لقد صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم على ابني بيضاء في المسجد. رواه مسلم.

Dari Aisyah (r.a), beliau berkata: “Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah
(s.a.w) pernah menyembahyangkan jenazah kedua anak laki-laki Baidha’ di
dalam masjid.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

MAKNA HADITS :

Ketika Sa’ad ibn Abu Waqqash meninggal dunia, semua isteri Nabi (s.a.w) mengirimkan utusan meminta agar orang’orang membawa jenazah Sa’ad melewati masjid supaya mereka dapat turut serta menyembahyangkannya. Akhirnya orang-orang pun memenuhi permintaan mereka lalu jenazah Sa’ad dihentikan di hadapan rumah-rumah mereka, lalu mereka menyembahyangkannya. Sesudah itu jenazah Sa’ad dikeluarkan melalui pintu al-Jana’iz, lalu tersiarlah berita bahwa banyak orang mencela perbuatan istri-istri Nabi dan mereka mengatakan bahwa tidak
patut jenazah dimasukkan ke dalam masjid. Keadaan itu kemudian terdengar oleh Aisyah (r.a) lalu beliau berkata: “Banyak orang terlalu terburu-buru mencela suatu perbuatan, padahal mereka tidak mempunyai pengetahuan apapun mengenainya. Mereka mencela kami yang meminta agar iringan jenazah melewati masjid. Saya bersumpah bahwa Rasulullah (s.a.w) pernah melakukan sholat jenazah untuk kedua anak Baidha’ di dalam masjid.”

FIQH HADITS :

1. Boleh bersumpah tanpa diminta untuk mengukuhkan perkara yang telah
terjadi.

2. Menurut Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad, boleh melakukan sholat jenazah
di dalam masjid. Tetapi menurut pendapat yang masyhur dari Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, itu dimakruhkan. Kedua ulama ini melandaskan pendapatnya dengan hadis Abu Hurairah (r.a) berikut:

من صلى على جنازة في المسجد فلا شيء له

Barang siapa yang menyembahyangkan jenazah di dalam masjid, maka dia tidak
memperoleh ganjaran pahala.”

Tetapi sanad hadis ini dha’if mengingat di dalamnya terdapat Shalih, pembantu al-Taw’amah, seperti yang ditegaskan oleh Imam Ahmad. Umar pernah menyembahyangkan jenazah Abu Bakar di dalam masjid. Begitu pula Shuhaib, beliau pernah menyembahyangkan jenazah ‘Umar di dalam masjid.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 112 : POSISI BERDIRI DALAM MENSHALATKAN JANAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 112 :

عن سمرة بن جندب رضي الله عنه قال : صليت وراء رسول الله صلى الله عليه وسلم على امرأة ماتت في نفاسها، فقام وسطها. متفق عليه.

Dari Samurah ibn Jundub (r.a), beliau berkata: “Aku pernah mengerjakan sholat jenazah di belakang Nabi (s.a.w) untuk seorang wanita yang meninggal dunia karena melahirkan. Baginda berdiri di tengah-tengah (tubuh) nya.” (Muttafaq ‘alaih)

MAKNA HADITS :

Ulama telah bersepakat membolehkan imam berdiri di dekat mayit ketika melakukan sholat jenazah di bagian manapun yang disukainya. Tetapi mereka berselisih pendapat tentang tempat berdiri yang paling afdal bagi imam. Hadis ini menunjukkan adanya perbedaan antara jenazah lelaki dengan jenazah perempuan. Jika jenazah tersebut adalah seorang perempuan, maka apa yang lebih afdhal
hendaklah imam berdiri di bagian tengahnya. Jika jenazahnya lelaki, maka apa yang lebih afdhal adalah berdiri di dekat kepala. Apa yang diwajibkan ialah menghadap ke posisi manapun anggota si mayit, baik mayat itu lelaki maupun mayat perempuan.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan melakukan sholat jenazah ke atas mayit wanita, baik meninggal dunia karena melahirkan anak, pendarahan ketika haid ataupun sebab-sebab yang lain.

2. Imam berdiri di bagian tengah jenazah wanita. Tetapi apabila jenazahnya
itu laki-laki, maka imam berdiri di dekat kepalanya. Imam al-Syafi’I, Imam
Ahmad dan Abu Yusuf berkata: “Imam dan makmum disunatkan berdiri di dekat dubur jenazah wanita. Jika jenazahnya itu laki-laki, hendaklah berdiri di dekat kepalanya agar tidak memandang ke arah kemaluannya,
lain halnya dengan jenazah wanita yang biasanya diletakkan di dalam keranda. Maksud “imam berdiri di bagian tengahnya” ialah untuk menutupi jenazah dari penglihatan orang banyak. Menurut pendapat yang masyhur di kalangan mazhab Hanafi, hendaklah imam berdiri sejajar dengan dada mayat baik mayat laki-laki maupun mayat perempuan. Imam Malik berkata: “Jika mayat itu laki-laki, maka imam berdiri di bagian tengahnya. Jika mayat itu perempuan, maka imam berdiri di dekat kedua bahunya.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 111 : ANJURAN MENSHALATKAN JANAZAH SAMPAI 40 ORANG ATAU LEBIH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 111 :

عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم يقول: ما من رجل مسلم يموت، فيقوم على جنازته أربعون رجلا، لا يشركون بالله شيئا إلا شفعهم الله فيه. رواه مسلم

Dari Ibnu Abbas (r.a) bahwa saya pernah mendengar Rasulullah (s.a.w) bersabda: “Tidaklah sekali-kali ada seorang muslim meninggal dunia, lalu jenazahnya disholatkan oleh empat puluh orang lelaki yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, kecuali Allah memberikan syafaat kepada mereka untuk si mayit.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

MAKNA HADITS :

Antara rahmat Allah (s.w.t) kepada hamba-Nya ialah diterima-Nya syafaat saudara-saudara si mayat yang menyembahyangkannya, karena rahasia sholat jenazah untuk mayit ialah memohonkan syafaat untuknya. Jika orang yang melakukan sholat itu banyak, maka syafaat yang diinginkan diterima oleh Allah. Telah disebutkan di dalam beberapa hadis yang mengkhususkan jumlah orang yang melakukan sholat jenazah sehingga syafaatnya dapat diterima, misalnya empat puluh orang lelaki, namun ada pula yang mengatakan bahwa jumlah mereka mestilah sebanyak seratus orang. Telah diketahui bahwa jumlah ini bukanlah batasan melainkan menganjurkan agar memperbanyak jumlah orang yang melakukan sholat jenazah.

Barangkali hadis tersebut sebagai jawaban terhadap pertanyaan yang menanyakan jumlahnya, sehingga muncullah jawaban seperti itu. Apapun, kesemua hadis itu boleh dapat diamalkan, sekalipun jumlah orang yang mengerjakan sholat jenazah itu sedikit dan syafaat mereka insya Allah dapat diterima di sisi Allah sebagai wujud dari karunia-Nya.

FIQH HADITS :

1. Keutamaan memperbanyak jamaah ketika mengerjakan sholat jenazah.

2. Syafaat orang yang beriman bermanfaat dan diterima di sisi Allah.

3. Menjelaskan betapa berlimpah rahmat Allah ketika dengan syafaat itu
diterima di sisi-Nya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 110 : TAKBIR DALAM SHALAT JANAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 110 :

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم نعى النجاشي في اليوم الذي مات فيه، وخرج بهم إلى المصلى، فصف بهم وكبر عليه أربعا. متفق عليه

Dari Abu Hurairah (r.a) bahwa Nabi (s.a.w) pernah mengumumkan berita tentang kematian al-Najasyi pada hari kematiannya, lalu baginda keluar bersama mereka menuju tempat sholat dan membariskan mereka menjadi bershaf- shaf. Nabi (s.a.w) melakukan empat kali takbir untuk al-Najasyi. (Muttafaq ‘alaih)

MAKNA HADITS :

Oleh karena makna dzahir hadis yang pertama menunjukkan larangan melakukan na’yu secara mutlak, maka Ibn Hajar mengiringinya dengan hadis Abu Hurairah yang bertujuan mengecualikannya sekaligus menjelaskan bahwa melakukan na’yu tidak dilarang apabila hanya sekedar memberitahu kematian seseorang tanpa disertai niyahah (tangisan ala Jahiliah dan juga tidak bertujuan membanggakan diri). Nabi (s.a.w) melakukan sholat jenazah untuk ahli Badar dengan enam kali takbir, lima kali takbir untuk sahabat yang lain, dan empat kali takbir untuk orang
selain mereka. Ketika Raja al-Najasyi meninggal dunia, baginda mengerjakan sholat jenazah untuknya sebanyak empat kali takbir, kemudian sholat jenazah ditetapkan menjadi empat kali takbir hingga baginda wafat.

Rasulullah (s.a.w) menyukai apabila bilangan orang yang sholat jenazah
diperbanyak, agar permohonan ampun bagi si mayat bertambah, begitu pula do’a
untuknya.

FIQH HADITS :

1. Boleh memberitahu kematian seseorang agar jenazahnya segera dilawat dan segala sesuatunya segera dipersiapkan dengan cepat,
menyembahyangkannya, berdo’a untuknya, dan memohonkan ampunan baginya. Hal ini tidak termasuk cara na’yu yang dilarang.

2. Boleh melakukan sholat ghaib ke atas kematian seseorang yang berada
di negeri yang berjauhan menurut pendapat Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad. Tetapi Imam Malik dan Imam Abu Hanifah melarang dari melakukan sholat ghaib; mereka mengatakan bahwa sesungguhnya sholat untuk Raja al-Najasyi merupakan suatu keistimewaan baginya.

3. Salah satu mukjizat Rasulullah (s.a.w) ialah baginda memberitahu kematian
Raja al-Najasyi tepat pada hari kematiannya kepada orang banyak, padahal jarak antara kota Madinah dengan negeri Habsyah sangatlah jauh.

4. Keutamaan Raja al-Najasyi bertambah.

5. Takbir sholat jenazah berjumlah empat kali. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad
berkata: “Disyariatkan mengangkat kedua tangan pada setiap kali bertakbir.” Imam Abu Hanifah dan pendapat yang masyhur di kalangan mazhab Maliki mengatakan bahwa tidak ada mengangkat tangan setiap kali bertakbir, kecuali takbir pertama saja.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

رابطة خرجي معهد منبع العلوم بتابتا

%d blogger menyukai ini: