HADITS KE 19 : RUKUN DAN SYARAT KHUTBAH JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 19 :

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُمَا, ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا, ثُمَّ يَجْلِسُ, ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ قَائِمًا, فَمَنْ أَنْبَأَك َ أَنَّهُ كَانَ يَخْطُبُ جَالِسًا, فَقَدْ كَذَبَ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِم ٌ

Dari Jabir Ibnu Samurah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berkhutbah dengan berdiri, lalu duduk, kemudian bangun dan berkhotbah dengan berdiri lagi. Maka barangsiapa memberi tahu engkau bahwa beliau berkhutbah dengan duduk, maka ia telah bohong. Dikeluarkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Khatib menyampaikan dua khutbah dalam keadaan berdiri dan duduk di antaranya merupakan perbuatan yang disyariatkan. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa berdiri ketika menyampaikan dua khutbah hukumnya sunat. Sedangkan jumhur ulama mengatakan, wajib berdiri semasa menyampaikan kedua khutbah itu. Mereka mengatakan demikian karena berdalilkan dengan kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w). Setiap perkara yang telah dijadikan sebagai kebiasaan
oleh Nabi (s.a.w) pada umumnya bermaksud hukum wajib. Sebaliknya setiap perkara yang tidak dibiasakan oleh baginda atau baginda malah meninggalkannya dalam keadaan atau waktu-waktu tertentu maka itu menunjukkan hukum tidak wajib. Rasulullah (s.a.w) bersabda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Solatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku mengerjakan sholat.”

Manakala hadis yang menyebutkan bahwa Nabi (s.a.w) pernah melakukannya dalam keadaan duduk, maka itu bukan ketika menyampaikan khutbah Jum’at.
Sedangkan hadis yang dinukil dari Mu’awiyah (r.a) yang menyatakan bahwa beliau pernah berkhutbah dalam keadaan duduk, maka itu karena beliau ketika itu mengalami udzur dimana tubuhnya sudah gemuk.

FIQH HADITS :

1. Menjelaskan bahwa sholat Jum’at terdiri dari dua khutbah, meskipun ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya. Jumhur ulama mengatakan bahwa dua khutbah merupakan syarat sah bagi sholat Jum’at. Mereka mengatakan demikian karena berdalil dengan keterangan yang datang dari Nabi (s.a.w) dalam hadis sahih bahwa baginda senantiasa menyampaikan
khutbah setiap kali hendak mengerjakan sholat Jum’at. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa khutbah sudah mencukupi hanya sekali, sedangkan khutbah yang kedua hukumnya sunat.

Ulama fiqih menyebutkan syarat dan rukun kedua khutbah meskipun sebagian darinya masih diperselisihkan. Mazhab Hanafi mengatakan bahwa rukun khutbah adalah kadar yang mencukupi untuk dikatakan sebagai khutbah; batasan minimumnya ialah tasbih, tahlil, atau tahmid, dan niat berkhutbah. Sedangkan syaratnya juga adalah hendaklah khutbah dilakukan pada waktunya yaitu sebelum mengerjakan sholat Jum’at dan dihadiri oleh sejumlah lelaki yang diperbolehkan mendirikan sholat Jum’at (yaitu tiga orang selain imam), antara khutbah dengan sholat Jum’at tidak dipisahkan oleh apapun.

Mazhab Maliki mengatakan bahwa rukun khutbah itu ada delapan
sebagai berikut:

a. Mengandung peringatan dan berita gembira;

b. dilakukan dengan menggunakan bahasa Arab;

c. diucapkan dengan suara kuat;

d. dilakukan sebelum mengerjakan sholat Jum’at;

e. dilakukan setelah tergelincir
matahari;

f. isi dan tajuk khutbah mestinya saling berkaitan antara satu sama
lain;

g. tidak ada pemisah antara khutbah dengan sholat Jum’at; dilakukan dengan dihadiri oleh jemaah yang dapat dijadikan syarat sahnya sholat Jum’at, yaitu dua belas orang lelaki selain imam;

h. dilakukan di dalam masjid.

Tetapi sebagian mazhab Maliki menyebut kesemua itu sebagai syarat.

Mazhab al-Syafi’i mengatakan bahwa rukun khutbah itu ada lima, yaitu:

a. dimulai dengan pujian kepada Allah (s.w.t)

b. membaca sholawat dan
salam ke atas Rasulullah (s.a.w) dan kerabatnya dengan lafaz yang telah ditentukan bukan sekadar makna;

c. berwasiat supaya bertakwa kepada Allah (s.w.t) dimana ketiga rukun ini harus ada pada kedua khutbah;

c. membaca ayat pada salah satu dari kedua khutbah itu;

d. berdo’a untuk kaum mukminin.

Sedangkan syarat khutbah menurut mazhab al-Syafi’i adalah sebagai berikut:

a. khutbah dilakukan dengan menggunakan bahasa Arab

b. dilakukan pada waktunya

c. kesemua rukun khutbah harus dikerjakan beriringan tanpa ada pemisah dan begitu juga diantara
kedua khutbah dengan sholat Jum’at

d. khatib hendaklah suci dari
hadas dan najis

e. khatib harus menutup aurat

f. khatib harus berdiri apabila mampu berbuat demikian

g. duduk diantara dua khutbah dengan thuma’ninah

h. khutbah diperdengarkan kepada empat puluh orang lelaki yang menjadi syarat sahnya sholat Jum’at.

Mazhab Hanbali mengemukakan seperti apa yang dikatakan oleh
mazhab al-Syafi’i, namun mereka menyebutnya sebagai syarat. Mereka menambahkan bahwa waktu khutbah boleh dimulai sejak waktu mengerjakan sholat hari raya dan khatib mestilah layak menjadi imam sholat Jum’at.

2. Disyariatkan berdiri ketika menyampaikan khutbah, meskipun ulama masih memperselisihi hukumnya. Menurut jumhur ulama, hukum berdiri ketika menyampaikan khutbah adalah wajib karena mereka melandasi pendapatnya dengan berdalilkan kepada hadis ini. Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya serta satu riwayat dari Imam Ahmad mengatakan bahwa hukum berdiri ketika menyampaikan khutbah adalah sunat, karena berdalil dengan perbuatan Rasulullah (s.a.w) dan para khalifah sesudahnya, disamping semata perbuatan belum mencukupi untuk menunjukkan bahwa berdiri ketika menyampaikan khutbah adalah diwajibkan.

3. Disyariatkan duduk diantara dua khutbah. Menurut jumhur ulama, itu sunat, sedangkan menurut Imam al-Syafi’i, itu wajib. Imam al-Syafi’i menganggap sunat bahwa kadar duduk itu lebih kurang sama dengan membaca Surah al-Ikhlas, karena mengikut amalan dan tradisi ulama salaf dan ulama khalaf. Imam al-Syaf’ii berkata: “Hendaklah ketika khatib
sedang duduk diantara dua khutbah membaca ayat-ayat al-Qur’an karena mengikuti amalan yang pernah diamalkan oleh Nabi (s.a.w) sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ibn Hibban.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 18 : MENJUMPAI SATU RAKAAT SHALAT JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 18 :

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ( مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ وَغَيْرِهَا فَلْيُضِفْ إِلَيْهَا أُخْرَى, وَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُهُ ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ, وَابْنُ مَاجَهْ, وَالدَّارَقُطْنِيُّ, وَاللَّفْظُ لَهُ, وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ, لَكِنْ قَوَّى أَبُو حَاتِمٍ إِرْسَالَهُ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari sholat Jum’at atau sholat lainnya, maka hendaklah ia menambah rakaat lainnya yang kurang, dan dengan itu sempurnalah sholatnya.” Riwayat Nasa’i, Ibnu Majah dan Daruquthni. Lafadz hadits menurut riwayat Daruquthni. Sanadnya shahih tetapi Abu Hatim menguatkan ke-mursal-an hadits ini.

MAKNA HADITS :

Menghadiri dua khutbah bukanlah syarat bagi sahnya sholat Jum’at. Seorang makmum masbuq yang tidak sempat mendengarkan sedikitpun khutbah tetap dianggap sah sholat Jum’atnya, berbeda dengan orang yang menduga bahwa sholatnya itu batal. Hadits ini merupakan hujah bagi mereka yang beranggapan demikian.

Barang siapa yang sempat menjumpai satu rakaat dari sholat Jum’at maka dia tinggal menyempurnakan atau menambahkan satu rakaat yang kurang itu hingga dengan sempurnalah sholatnya. Jika sempat menjumpai imam kurang
dari satu rakaat misalnya menjumpai imam sholat Jum’at dalam keadaan sedang duduk kedua, maka hendaklah dia mengerjakan sholat Dzuhur, yakni empat rakaat. Lain halnya dengan madzhab Hanafi dimana mereka mengatakan bahwa seseorang itu tetap meneruskan sholat Jum’atnya, yakni tetap dua rakaat.

FIQH HADITS :

1. Barang siapa yang sempat menjumpai satu rakaat sholat Jum’at bersama imam, maka bererti dia telah menjumpai sholat Jum’at.

2. Sholat Jum’at sah bagi orang yang datang terlambat, sekalipun dia tidak sempat mendengarkan khutbah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 17 : BATAS JUMLAH JAMAAH SHALAT JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 17 :

وَعَنْ جَابِرٍ ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَخْطُبُ قَائِمًا, فَجَاءَتْ عِيرٌ مِنَ الشَّامِ, فَانْفَتَلَ النَّاسُ إِلَيْهَا, حَتَّى لَمْ يَبْقَ إِلَّا اثْنَا عَشَرَ رَجُلًا ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sedang khutbah berdiri, datanglah kafilah dagang dari negeri Syam. Lalu orang-orang menyongsongnya sehingga (dalam masjid) hanya tinggal dua belas orang. Diriwayatkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Tidak ada batasan yang jelas secara syarak berapa jumlah jemaah sholat Jum’at yang dengan demikian sholat Jum’at kemudian dinyatakan sah. Oleh itu, masalah ini merupakan ruang bagi ijtihad. Menurut Abu Hanifah, sholat Jum’at dapat
didirikan hanya dengan tiga orang termasuk imam di dalamnya. Menurut Imam Malik dan qaul qadim Imam al-Syafi’i, sholat Jum’at boleh didirikan apabila ada dua belas orang lelaki. Menurut Imam al-Syafi’i dalam qaul jadid, sholat Jum’at hanya dapat didirikan apabila ada empat puluh orang laki-laki. pendapat yang sama
juga dikatakan pula oleh Imam Ahmad.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan berdiri ketika menyampaikan khutbah.

2. Tidak disyaratkan jumlah tertentu bagi sahnya sholat Jum’at. Inilah yang menjadi pegangan Imam Malik. Beliau berkata: “Hendaklah jumlah orang
yang mengikuti pelaksanaan sholat Jum’at terdiri dari dua belas orang
laki-laki selain imam.” Murid-murid Imam al-Syafi’i dan ulama yang lain yang mensyaratkan empat puluh orang lelaki mengatakan bahwa hadis ini dapat ditafsirkan atas dasar mereka melaksanakan sholat Jum’at atau sebagian mereka kembali hingga jumlah mereka kemudian menjadi empat puluh orang lelaki dan Rasulullah (s.a.w) setelah itu melaksanakan sholat Jum’at bersama mereka. Imam Abu Hanifah berkata: “Solat Jum’at dapat didirikan dengan tiga orang termasuk imam di dalamnya. Bilangan tersebut merupakan jumlah minimum bagi sahnya sholat Jum’at.” Imam
Abu Hanifah melandaskan pendapatnya kepada firman Allah (s.w.t):

فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ الله (٩)

“… Maka bersegeralah kamu mengingat Allah…” (Surah al-Jumu’ah: 9)

Perintah dalam ayat ini ditujukan kepada jemaah sesudah adanya seruan supaya mereka mengerjakan sholat Jum’at, sedangkan bilangan minimum bagi suatu jemaah itu adalah tiga orang.

3. Menjelaskan perjalanan hidup yang terpuji bagi Abu Bakar, Umar, dan Jabir serta mereka yang tidak tergoda oleh harta benda dan tidak meninggalkan sholat Jum’at karena disibukkan oleh harta benda tersebut.

“`Wallahu a’lam bisshowab..“`

_*Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.*_

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 16 : ANJURAN BERSEGERA MENGERJAKAN SHALAT JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 16 :

وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: مَا كُنَّا نَقِيلُ وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ, مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ وَفِي رِوَايَةٍ: فِي عَهْدِ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم

Sahal Ibnu Sa’ad Radliyallaahu ‘anhu berkata: Kami tidak pernah tidur siang dan makan siang kecuali setelah (sholat) Jum’at. Muttafaq Alaihi dengan lafadz menurut riwayat Muslim. Dalam riwayat lain disebutkan: Pada jaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam

MAKNA HADITS :

Makna dzahir hadis ini menjadi hujjah bagi ulama yang mengatakan boleh mengerjakan sholat Jum’at sebelum matahari tergelincir ke arah barat. Jumhur ulama menyanggahnya dengan mengatakan bahwa ini hanyalah tradisi dimana makan siang dan istirahat dilakukan sesudah matahari tergelincir. Allah (s.w.t) telah berfirman:

وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ الظَّهِيرَةِ (٥٨)

Ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari…” (Surah al-Nur: 58)

FIQH HADITS :

Bersegera mengerjakan sholat Jum’at pada permulaan waktu zawal yakni ketika matahari tergelincir hendaklah bersegera mengerjakan sholat Jum’at.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 15 : WAKTU PELAKSANAAN SHALAT JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 15 :

وَعَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رضي الله عنه قَالَ: ( كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم الْجُمُعَةَ, ثُمَّ نَنْصَرِفُ وَلَيْسَ لِلْحِيطَانِ ظِلٌّ نَسْتَظِلُّ بِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيّ ِ وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ: ( كُنَّا نَجْمَعُ مَعَهُ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ, ثُمَّ نَرْجِعُ, نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ )

Salamah Ibnu Al-Akwa’ Radliyallaahu ‘anhu berkata: Kami sholat bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam hari Jum’at, kemudian kami bubar pada saat tembok-tembok tidak ada bayangan untuk berteduh. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari. Dalam lafadz menurut riwayat Muslim: Kami sholat Jum’at bersama beliau ketika matahari tergelincir kemudian kami pulang sambil mencari-cari tempat berteduh.

MAKNA HADITS :

Menurut pendapat kebanyakan ulama, waktu sholat Jum’at sama dengan waktu sholat Dzuhur. Rasulullah (s.a.w) selalu mengerjakan sholat Jum’at ketika
matahari telah tergelincir (dari tengah langit) agar orang ramai kembali pulang ke tempat tinggalnya masing-masing untuk beristirahat dari sengatan panasnya terik matahari.

Menurut pendapat Imam Ahmad, waktu sholat Jum’at sama dengan waktu sholat hari raya. Beliau melandaskan pendapatnya dengan makna dzahir hadis ini:
“Sedangkan di kawasan perkebunan tidak ada lagi nampak bayangannya.”

Jumhur ulama mengatakan bahwa kalimat nafi mestilah ditujukan konteksnya dimana pemahamannya adalah: “Sedangkan di kawasan perkebunan tidak lagi terdapat bayangan yang mencukupi sebagai naungan.”

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan segera melaksanakan sholat Jum’at ketika matahari tergelincir karena waktu itu merupakan waktu dimana Rasulullah (s.a.w) biasa mengerjakannya. Inilah pendapat jumhur ulama. Sedangkan menurut mazhab Hambali, dibolehkan mengerjakan sholat Jum’at sebelum matahari tergelincir, karena berlandaskan kepada hadis yang diriwayatkan oleh Imam
Ahmad, al-Nasa’i dan Muslim dari Jabir (r.a) bahwa Rasulullah (s.a.w)
mengerjakan sholat Jum’at, kemudian kami pergi menuju ke tempat ternak unta kami, lalu mengistirahatkannya ketika matahari sedang tergelincir.

2. Sahabat memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap perkara-perkara yang berkaitan dengan ibadah dan pelaksanaan syiar-syiar agama.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADTS KE 14 : PENTINGNYA SHALAT JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 14 :

عَنْ عَبْدِ الله بْنِ عُمَرَ, وَأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُمْ, ( أَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ -عَلَى أَعْوَادِ مِنْبَرِهِ- “لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ, أَوْ لَيَخْتِمَنَّ الله عَلَى قُلُوبِهِمْ, ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Abdullah Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu berkata bahwa mereka berdua mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda di atas kayu mimbarnya: “Hendaknya orang-orang itu benar-benar berhenti meninggalkan sholat Jum’at, atau Allah akan menutup hati mereka, kemudian mereka benar-benar termasuk orang-orang yang lupa.” Diriwayatkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Hari Jum’at merupakan hari mulia. Sejak dahulu hari Jum’at selalu diagungkan, hingga ketika di zaman Jahiliah pun diagungkan. Nama lain hari Juma’t ialah hari ‘Urubah. Nabi (s.a.w) mengenai hari Jum’at ini pernah bersabda:

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ ، وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ ، وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا ، وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ (الحديث)

“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya ialah hari Jum’at. Pada hari Jum’at Adam diciptakan, pada hari Jum’at pula dia masuk ke dalam surga, dan pada hari Jum’at pula dia dikeluarkan daripadanya. Dan tidak sekali-kali hari kiamat terjadi kecuali pada hari Jum’at.”

Diberi nama hari Jum’at karena orang ramai berhimpun pada hari itu untuk mengerjakan ibadah sholat Jum’at. Hari Jum’at merupakan hari raya mingguan bagi umat Islam yang datang secara berulang dalam setiap minggu. Pada hari Jum’at terdapat suatu saat dimana pada saat itu do’a dikabulkan oleh Allah (s.w.t).

Rasulullah (s.a.w) memerintahkan supaya menghadiri dua khutbah dan mengikuti sholat Jum’at, serta mengingatkan umatnya dari memandang rendah masalah ini. Untuk itu, baginda menjelaskan bahwa meninggalkan sholat Jum’at akan mengakibatkan seseorang terhina dan hatinya dikunci mati oleh Allah. Sholat Jum’at adalah fardu ‘ain bagi kaum lelaki dan tidak wajib bagi kaum wanita, hamba sahaya dan orang yang bermusafir. Waktu sholat Jum’at merupakan waktu sholat Dzuhur. Orang yang mengingkari kewajiban sholat Jum’at hukumnya kafir dan dalil kewajipan mengerjakan sholat Jum’at adalah firman Allah (s.w.t):

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ (٩)

“Hai orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (Surah al-Jumu’ah: 9)

Sholat Jum’at difardukan di Mekah, tetapi masih belum dilaksanakan kecuali setelah Nabi (s.a.w) berada di Madinah mengingat saat itu kaum muslimin masih belum memiliki kekuatan. Sholat Jum’at pertama yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w) ialah di kalangan Bani Amr ibn Mu’adz yang terletak di antara Quba’ dan Madinah, tepatnya di lembah Ranunah.

FIQH HADITS :

1. Disunahkan membuat mimbar. Ini merupakan Sunnah Rasulullah (s.a.w).

2. Hukum sholat Jum’at adalah fardu ‘ain.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 13 : POSISI SHALAT BAGI ORANG SAKIT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 13 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: ( رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي مُتَرَبِّعًا ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ. وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ.

Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat dengan bersila. Riwayat Nasa’i. Menurut Al-Hakim hadits tersebut shahih.

MAKNA HADITS :

Berdiri ketika mengerjakan sholat fardu merupakan salah satu rukun sholat bagi orang yang mampu berdiri. Orang yang sedang sakit dan tidak mempunyai kemampuan untuk berdiri boleh mengerjakan sholat dalam keadaan duduk mengikut kemampuannya.

Ini merupakan salah satu dari kemudahan hukum Islam. Pahala orang yang sholat sambil duduk karena sakit sama dengan pahala orang yang sholat sambil berdiri. Dalil yang mewajibkan berdiri dalam sholat fardu ialah firman Allah (s.w.t):

وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ (238)

“… Dan berdirilah untuk Allah (dalam sholatmu) dengan khusyuk.” (Surah al-Baqarah: 238) Ketika mengerjakan sholat sunat tidak diwajibkan berdiri, tetapi apabila dikerjakan dengan berdiri maka itu lebih diutamakan.”

FIQH HADITS :

Menjelaskan gambaran duduk seseorang yang sholat apabila dia mempunyai uzur karena sakit hingga tidak mampu berdiri.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

N080. SAHKAH TALAK DALAM KONDISI SANGAT MARAH?

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum Ustadz..

Langsung saja, saja mau mau bertanya tentang talak ketika dalam kondisi sangat marah. Tetangga saya adalah orang yang penyabar dan kalau bicara tidak pernah kasar. Saya tahu dia orang baik karena memang kita sejak kecil berteman. Ia pernah bercerita bahwa dirinya pada suatu waktu pernah bertengkar hebat dengan isterinya. Ia sebenarnya sudah berusaha sabar, tetapi karena isterinya terus mengajak bertengkar akhirnya tanpa sadar karena emosi yang tak bisa terbendung ia mengucapkan kata talak. Yang ingin saya tanyakan apakah talak dalam kondisi sangat marah sehingga menghilangkan kesadaran normalnya itu sah (jatuh)? . Atas penjelasannya saya ucapkan terimakasih.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Dalam kehidupan rumah tangga perselisihan antara suami-isteri merupakan hal yang tak bisa dielakkan. Ini merupakan hal biasa dalam kehidupan rumah tangga. Namun acapkali di tengah-tengah perselisihan itu muncul kemarahan yang sangat luar biasa, sehingga tanpa sadar terucap kata talak dari pihak suami.

Sedang mengenai jatuh apa tidaknya talaknya orang yang dalam kondisi sangat marah, para ulama terjadi perselisihan pendapat. Namun dalam kasus ini ada yang menarik dari penjelasan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, salah satu ulama pengikut madzhab hanbali.

Pertama-tama yang dilakukan beliau sebelum menetapkan sah atau tidaknya talak dalam kondisi marah. Beliau terlebih dahulu membagi bentuk kemarahan. Setidaknya ada tiga klasifikasi atau level kemarahan. Level pertama, kemarahan yang biasa, yang tidak mempengaruhi kesadarannya. Artinya, pihak yang marah masih menyadari dan mengetahui apa yang ia ucapkan atau maksudkan dalam kondisi tersebut. Dalam kasus kemarahan yang seperti ini jika sampai terucap kata talak maka talaknya sah atau jatuh.

Kedua, kemarahan yang sangat luar biasa sehingga menyebabkan orang yang mengalami kemarahan ini tidak menyadari apa yang terucap dan apa yang dikehendaki. Apa yang terucap ketika dalam kemarahan yang seperti ini tidak memiliki konsekwensi apa-apa. Dengan demikian, jika seseorang mengucapkan kata talak dalam kondisi kemarahan yang sangat luar biasa maka talaknya tidak sah atau jatuh. Alasannya adalah ketika seseorang dalam kondisi marah yang sangat luar biasa itu seperti orang gila yang tidak menyadari apa yang diucapkan dan tidak mengerti maksud dari apa yang diucapkan tersebut.

Ketiga, kemarahan yang berada di tengah yang berada antara kemarahan pada level pertama dan kedua. Kemaran pada level tidak menjadikan seseorang seperti orang yang gila. Bagi Ibnu al-Qayyim, jika ada seseorang mengalami kemarahan pada level ini kemudian terucap kata talak maka talak tersebut tidak sah atau tidak jatuh.

قُلْتُ : وَلِلْحَافِظِ ابْنِ الْقَيِّمِ الْحَنْبَلِيِّ رِسَالَةٌ فِي طَلَاقِ الْغَضْبَانِ قَالَ فِيهَا : إنَّهُ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ : أَحَدُهَا أَنْ يَحْصُلَ لَهُ مَبَادِئُ الْغَضَبِ بِحَيْثُ لَا يَتَغَيَّرُ عَقْلُهُ وَيَعْلَمُ مَا يَقُولُ وَيَقْصِدُهُ ، وَهَذَا لَا إشْكَالَ فِيهِ .وَالثَّانِي أَنْ يَبْلُغَ النِّهَايَةَ فَلَا يَعْلَمُ مَا يَقُولُ وَلَا يُرِيدُهُ ، فَهَذَا لَا رَيْبَ أَنَّهُ لَا يَنْفُذُ شَيْءٌ مِنْ أَقْوَالِهِ .الثَّالِثُ مَنْ تَوَسَّطَ بَيْنَ الْمَرْتَبَتَيْنِ بِحَيْثُ لَمْ يَصِرْ كَالْمَجْنُونِ فَهَذَا مَحَلُّ النَّظَرِ ، وَالْأَدِلَّةُ عَلَى عَدَمِ نُفُوذِ أَقْوَالِهِ

“Saya berkata, bahwa al-hafizh Ibn al-Qayyim al-Hanbali memeliki risalah mengenai talak dalam kondisi marah. Dalam risalah tersebut ia mengatakan bahwa kemarahan itu ada tiga macam. Pertama, adanya dasar-dasar kemarahan bagi seseorang namun nalarnya tidak mengalami kegoncangan sehingga ia masih mengerti apa yang dikatakan dan dimaksudkan. Dan dalam konteks ini tidak ada persoalan sama sekali. Kedua, ia sampai pada puncak (kemarahannya) sampai tidak menyadari apa yang dikatakan dan dikehendaki. Dan dalam konteks ini tidak ada keraguan bahwa apa yang terucap tidak memiliki konsekwensi(akibat) apa-apa. Ketiga, orang yang tingkat kemarahannya berada di tengah di antara level yang pertama dan kedua. Dan dalam konteks perlu ditinjau lebih lanjut lagi (mahall an-nazhar). Namun, dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa apa yang terucap tidak memiliki konsekwensi(akibat) apa-apa. (Lihat Ibnu Abidin, Hasyiyatu Durr al-Mukhtar, Bairut-Dar al-Fikr, 1421 H/2000 M, juz, 10, h. 488)

Namun jika seseorang mengalami kemarahan pada level ketiga, yaitu di antara level pertama dan kedua kemudian terucap darinya kata talak, maka menurut mayoritas ulama talaknya sah. Artinya dalam pandangan mereka kemarahan yang tidak sampai berakibat pada hilangnya kesadaran dan rasionalitas seseorang, meskipun menyebakan ia keluar dari kebiasaanya tetaplah jatuh. Sebab, ia tidak seperti orang gila.

اَلثَّالِثُ : أَنْ يَكُونَ الْغَضَبُ وَسَطًا بَيْنَ الْحَالَتَيْنِ بِأَنْ يَشَتَدَّ وَيُخْرِجُ عَنْ عَادَتِهِ وَلَكِنَّهُ لَا يَكُونُ كَالْمَجْنُونِ الَّذِي لَا يَقْصِدُ مَا يَقُولُ وَلَا يَعْلَمُهُ وَالْجُمْهُورُ عَلَى أَنَّ الْقِسْمَ الثَّالِثَ يَقَعُ بِهِ الطَّلَاقُ

“Ketiga, adanya kemarahan itu pada level sedang yaitu di antara level pertama dan kedua. Artinya, ada kemarahan yang sangat sehingga ia keluar dari kebiasannya, akan tetapi ia tidak seperti orang gila yang tidak menyadari kemana arah dan tujuan apa yang diucapkannya dan tidak mengetahuinya. Menurut mayoritas ulama talaknya seseorang yang mengalami kemarahan pada level ketiga ini jatuh” (Lihat Abdurraham al-Jujairi, al-Fiqh ‘ala Madzahab al-Arba’ah, Bairut-Dar al-Fikr, juz, 4, h. 142 )

Hasil verifikasi atau tahqiq yang dilakukan para ulama dari kalangan madzhab hanafi menyatakan bahwa kemarahan yang mengakibatkan seseorang keluar dari karakter dan kebiasannya, dimana igauan mendominasi(menguasai) perkataan dan tindak lakunya adalah ini tidak jatuh, meskipun ia menyadari apa yang dikatakan dan apa yang dimaksudkan.

Alasan yang dikemukakan mereka adalah, bahwa ia dalam keadaan mengalami kegoncangan pemahaman. Karenanya, apa yang kehendaki atau dimaksudkan tidak didasarkan pada pemahaman yang sahih. Jadi, ia seperti orang gila.

وَالتَّحْقِيقُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ أَنَّ الْغَضْبَانَ الَّذِي يُخْرِجُهُ غَضَبُهُ عَنْ طَبِيعَتِهِ وَعَادَتِهِ بِحَيْثُ يَغْلُبُ الْهَذَيَانُ عَلَى أَقْوَالِهِ وَأَفْعَالِهِ فَإِنَّ طَلَاقَهُ لَا يَقَعُ وَإِنْ كَانَ يَعْلَمُ مَا يَقُولُ وَيَقْصِدُهُ لِأَنَّهُ يَكُونُ فِي حَالَةٍ يَتَغَيَّرُ فِيهَا إِدْرَاكُهُ فَلَا يَكُونُ قَصْدُهُ مَبْنِيًّا عَلَى إِدْرَاكٍ صَحِيحٍ فَيَكُونُ كَالْمَجْنُونِ

“Hasil verifikasi kalangan madzhab Hanafi menyatakan bahwa kemarahan yang menyebabkan seseorang keluar dari tabiat dan kebiasaannya, dimana igauan menguasai perkataan dan perbuatannya, maka talaknya tidak jatuh meskipun ia mengetahui apa yang dikatakan dan apa yang dimaksudkan. Sebab, ia berada dalam kondisi mengalami kegoncangan pemahaman. Karenanya, apa yang dikehendaki itu tidak didasarkan atas pemahaman yang sahih sehingga ia menjadi seperti orang gila” (Lihat Abdurraham al-Jujairi, al-Fiqh ‘ala Madzahab al-Arba’ah, Bairut-Dar al-Fikr, juz, 4, h. 144 )

Berangkat dari penjelasan ini, maka jawaban untuk pertanyaan di atas adalah bahwa talaknya orang yang dalam kondisi sangat marah sehingga hilang kesadarannya adalah tidak jatuh atau tidak sah.

Begitu juga talak tidak sah ketika kemarahan itu sampai membuat seseorang keluar dari tabiat dan kebiasannya, meskipun ia menyadari apa yang diucapkan dan apa yang dimaksudkan. Dalam ini tentunya berbeda dengan pandangan mayoritas ulama, yang menyatakan tetap jatuh atau sah talaknya.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dimengerti dengan baik. Bagi para suami agar selalu mengontrol kemarahannya, dan bagi para isteri agar tidak perlu memancing kemarahan suami.

Wallahu a’lamu bisshowab..

M0101. HUKUM MAKAN DAN MINUM SAMBIL BERDIRI

PERTANYAAN :

Assalamu ‘alaikum Ustadz

Bagaimana hukumnya makan dan minum sambil berdiri?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

Praktik makan dan minum dalam posisi berdiri disinggung dalam sejumlah hadits Nabi Muhammad SAW. Sebagian hadits nabi melarang umat Islam melakukan praktik ini. Larangan ini tampak jelas dalam hadits riwayat Imam Ahmad dan Muslim berikut ini:

وعن أبي سعيد أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم نهى عن الشرب قائما رواه أحمد ومسلم

Artinya, “Dari Abu Said bahwa Nabi SAW melarang minum sambil berdiri,” (HR Ahmad dan Muslim).

Pada kesempatan lain, Nabi SAW juga pernah meminum air zam-zam dalam posisi berdiri. Riwayat Imam Ahmad dan Bukhari berikut ini mengisahkan Sayyidina Ali RA yang minum dalam posisi berdiri:

وعن الإمام علي رضي الله عنه أنه في رحبة الكوفة شرب وهو قائم قال إن ناسا يكرهون الشرب قائما وإن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم صنع مثل ما صنعت رواه أحمد والبخاري

Artinya, “Dari Imam Ali RA bahwa ia di satu lapangan di Kota Kufah meminum dalam posisi berdiri. Ia berkata, ‘Banyak orang memakruhkan minum dalam posisi berdiri. Padahal Rasulullah SAW melakukan apa yang kulakukan,’” (HR Ahmad dan Bukhari).

Bagaimana menyikapi dua dalil yang bertentangan perihal praktik makan dan minum smabil berdiri? Imam An-Nawawi mencari titik temu antara kedua hadits tersebut. Metode ini digunakan agar semangat kedua hadits tersebut tetap terakomodasi dalam putusan hukum sebagai berikut ini:

ولا يكره الشرب قائما وحملوا النهي الوارد على حالة السير قلت هذا الذي قاله من تأويل النهي على حالة السير قد قاله ابن قتيبة والمتولي وقد تأوله آخرون بخلاف هذا والمختار أن الشرب قائما بلا عذر خلاف الأولى للأحاديث الصريحة بالنهي عنه في صحيح مسلم وأما الحديثان الصحيحان عن علي وابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم شرب قائما فمحمولان على بيان الجواز جمعا بين الأحاديث

Artinya, “Minum sambil berdiri tidak makruh. Ulama memahami larangan yang tersebut itu dalam keadaan perjalanan. Menurut saya, pendapat yang dikatakan ini berdasar pada takwil larangan dalam keadaan perjalanan sebagaimana dipegang oleh Ibnu Qutaibah dan Al-Mutawalli. Ulama lain menakwil berbeda. Pendapat yang kami pilih, minum sambil berdiri tanpa uzur menyalahi yang utama berdasarkan larangan pada hadits riwayat Imam Muslim. ” Lihat Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin, [Beirut, Al-Maktab Al-Islami: 1405 H], juz VII, halaman 340).

Menurut mayoritas para fuqoha’ , dari hadits yang ada perihal makan dan minum sambil berdiri menganjurkan mereka yang tidak memiliki uzur apa pun untuk makan dan minum sambil duduk. Sedangkan makan dan minum sambil berdiri menyalahi keutamaan.

لا خلاف بين الفقهاء أنه يندب الْجُلُوسُ لِلأكْل وَالشُّرْبِ وَأَنَّ الشُّرْبَ قَائِمًا بِلاَ عُذْرٍ خِلاَفُ الأَوْلَى عِنْدَ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ

Artinya, “Tiada khilaf di kalangan ahli fiqih bahwa seseorang dianjurkan makan dan minum sambil duduk. Tetapi minum sambil berdiri tanpa uzur menyalahi yang afdhal menurut mayoritas ulama,” (Wizaratul Awqaf was Syu`unul Islamiyyah, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Safwah: 1997 M/1417 H], cetakan pertama, juz XV, halaman 270-271).

Pada prinsipnya, praktik makan dan minum sambil berdiri boleh dilakukan. Hanya saja makan dan minum sambil duduk lebih utama.

ويجوز الشرب قائماً، والأفضل القعود

Artinya, “Minum sambil berdiri boleh. Tetapi afdhalnya minum dilakukan sambil duduk,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz III, halaman 536).

Kami menyarankan orang-orang yang tidak memiliki uzur atau hajat(keperluan) tertentu untuk makan dan minum sambil duduk untuk mengejar keutamaan.

Bagi mereka yang memiliki uzur, hajat(keperluan) tertentu, atau lupa, apa boleh buat makan dan minum dalam kondisi berdiri sebagaimana Rasulullah SAW melakukannya yang disaksikan oleh sejumlah sahabat. Tetapi hal ini sebaiknya tidak menjadi kebiasaan.

Wallahu a’lamu bisshowab..

رابطة خرجي معهد منبع العلوم بتابتا

%d blogger menyukai ini: