M022. HUKUM MEMOTONG KUMIS, MEMELIHARA JENGGOT & JAMBANG

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz

Diskripsi masalah :
Dalam kehidupan bermasyarat banyak kita temukan orang yang senang memelihara kumis dan jenggot seperti kelompok jama’ tabigh dan lain sebagainya.

Pertanyaannya, bagaimana hukumnya memelihara kumis hingga sampai menutupi bibir, dan bagaimana pula hukumnya memelihara jenggot hingga panjangnya sampai kedada?
Mohon tanggapan jawaban..

JAWABAN :

waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

HUKUM MENCUKUR KUMIS, JENGGOT & CAMBANG.

1. KUMIS (Arab: syarib). Adapun memotong kumis itu boleh. Sedangkan memelihara kumis itu juga boleh tapi disunnahkan agar dirapikan sehingga terlihat bibir bagian atas. Demikian pendapat Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmuk teksnya sbb:

ثم ضابط قص الشارب أن يقص حتى يبدو طرف الشفة، ولا يحفه من أصله، هذا مذهبنا، وقال أحمد رحمه الله: إن حفه فلا بأس، وإن قصه فلا بأس

2. JENGGOT (Arab: lihyah): (Dalam madzhab Syafi’i, memelihara jenggot itu sunnah sedangkan mencukur jenggot itu makruh. Ini pendapat dua ulama besar madzhab Syafi’i yaitu Imam Nawawi dan Rofi’i. pendapat ini didukung oleh ulama muta’akhirin seperti Ibnu Hajar Al-Haitami dan Ar-Ramli. Pendapat Imam Ramli dapat dilihat dalam kitab Al-Fatawa yang dicetak dipinggirnya kitab Fatawa-nya Ibnu Hajar hlm. 4/69 sbb:

( باب العقيقة ) ( سئل ) هل يحرم حلق الذقن ونتفها أو لا ؟ ( فأجاب ) بأن حلق لحية الرجل ونتفها مكروه لا حرام , وقول الحليمي ‏في منهاجه لا يحل لأحد أن يحلق لحيته ولا حاجبيه ضعيف .‏

Arti singkat: Mencukur jenggot laki-laki itu makruh, bukan haram. Adapun pendapat Halimi dalam kitab Minhaj-nya bahwa itu tidak halal adalah pendapat lemah.

Qadhi Iyadh sebagaimana dikutip dalam Syarah Muslim hlm. 1/154 menyatakan:

يكره حلقها وقصها وتحريقها أما الأخذ من طولها وعرضها فحسن

Artinya: Memotong sama sekali atau mencukur jenggot itu makruh. Adapun memotong untuk dirapikan itu baik.

Ad-Dimyati dalam I’anah at-Tolibin 2/240 menyatakan

المعتمد عند الغزالي وشيخ الإسلام _ أي القاضي زكريا الأنصاري كما هو اصطلاح المتأخرين _ وابن حجر في التحفة والرملي والخطيب _ أي الشربيني _ وغيرهم الكراهة

Artinya: Pendapat yang muktamad menurut Imam Ghazali dan Zakaria Al-Anshari adalah makruh.

Adapun ulama yang mengharamkan mencukur jenggot adalah ulama di madzhab selain Syafi’i yaitu Hanafi, Maliki dan Hanbali. Sedangkan ulama kontemporer yang menghramkan umumnya adalahulama Wahabi Arab Saudi yang mantan muridnya cukup banyak aktif online di Indonesia.

3. CAMBANG (Arab: sawalif) dianggap bagian dari jenggot. Karena itu hukumnya sama dengan hukum jenggot.

Mencukur jenggot hukumnya haram menurut imam yang empat (hanafi, maliki, hambali, syafi’i) kecuali yang mu’tamad dari madzhab syafi’i hukumnya makruh. Yang menghukumi makruh dari madzhab syafi’i :

1. Nawawi

2. Rofi’i

3. Romli

4. Zakariya Al-Anshori

5. Ghazali

6. Al-Akiti

Yang menghukumi haram dari madzhab syafi’i :

1. Al-Quffal

2. al-Halimi

3. Al-Adzro’i

4. Ibnu Ar-Rifa’ah

5. Al-Ashkhar

وأما إعفاء اللحية: فلا شك بأنه سنة مطلوبه لقوله صلّى الله عليه وسلم : «خالفوا المشركين، أحْفُوا الشوارب، وأوفوا اللِّحى» ، «جُزُّوا الشوارب وأرْخُوا اللحى، خالفوا المجوس» وروت عائشة: «عشر من الفطرة: قص الشارب، وإعفاء اللحية، والسواك…» الحديث، وعن ابن عمر عن النبي صلّى الله عليه وسلم : «أنه أمر بإحفاء الشوارب، وإعفاء اللحية» (2) .ومعنى إحفاء الشوارب: قص ما طال على الشفتين، حتى يبين بياضهما.ومعنى إعفاء اللحية: توفيرها، خلافاً لما كان من عادة الفرس من قص اللحية، فنهى الشرع عن ذلك.وقد حرم المالكية والحنابلة حلقها، واعتبر الحنفية حلقها مكروهاً تحريمياً، والمسنون في اللحية هو القبضة، وأما الأخذ منها دون ذلك أو أخذها كلها فلا يجوز (3) . وقال الشافعية بكراهية حلقها، فقد ذكر النووي أن العلماء ذكروا عشر خصال مكروهة في اللحية، بعضها أشد من بعض، منها حلقها إلا إذا نبت للمرأة لحية، فيستحب لها حلقها (4) .

Sedang hukum membiarkan jenggot maka tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya adalah sunah yang dianjurkan berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW : “Bedailah orang-orang musyrik, Cukurlah kumis kalian dan biarkanlah jenggot kalian”. “Cukurlah kumis kalian dan biarkanlah jenggot kalian, maka kalian akan menyelisihi orang-orang majusi”. Dan ‘Aisyah meriwayatkan, bersabda Rasulullah saw. “Sepuluh yang termasuk fitrah : Mencukur kumis, membiarkan janggut, menggosok gigi, berkumur, memotong kuku, membersihkan kotoran di badan, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan dan bercebok”.

Dari Ibn Amr dari Nabi SAW “Sesungguhnya Nabi memerintahkan menyamarkan kumis dan membiarkan jenggot”. Arti menyamarkan kumis adalah memotong rambut kumis yang memanjang dari kedua bibir hingga terlihat warna putih dari kedua bibirnya, sedang arti membiarkan jenggot adalah menyempurnakannya/tidak menguranginya, berbeda dengan kebiasaan orang-orang persia yang mencukur jenggot mereka, maka syara’ melarangnya.

PERNYATAAN PARA ULAMA TENTANG HUKUM MENCUKUR JENGGOT DARI DALIL-DALIL HADITS DI ATAS

Kalangan Malikiyyah dan Hanabilah memilih hukum haram mencukur jenggot bagi pria, sedang kalangan Hanafiyyah menghukuminya makruh tahrim, yang disunahkan dalam jenggot menurut mereka tersisa segenggam tangan, sedang mengambil lebih sedikit dari ukuran tersebut atau menghilangkannya sama sekali maka tidak diperbolehkan.

Kalangan Syafi’iyyah lebih cenderung memilih hukum makruh mencukur jenggot, Imam an-Nawawy bahkan menuturkan bahwa terdapat sepuluh hal yang oleh para ulama dipandang makruh dalam hal jenggot diantaranya adalah mencukur jenggot kecuali bagi wanita yang tumbuh jenggotnya maka dianjurkan baginya untuk mencukurnya. [ al-Fiqh al-Islaam IV/208 ].

Wallaahu A’lamu Bis showaab..

One thought on “M022. HUKUM MEMOTONG KUMIS, MEMELIHARA JENGGOT & JAMBANG”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s