T010. HUKUM MEMAKAN IKAN (LELE) YANG MAKANANNYA DARI BARANG NAJIS

PERTANYAAN :

Assalamu alaikum Wr. Wb..

Diskripsi masalah :

Seorang pengusaha ayam ternak juga buka usaha ternak IKAN LELE, yang mana jika ada salah satu ayamnya mati maka di langsung di taruh di kolam lele buat makan lelenya agar cepat besar dengan modal yang tidak begitu besar namun hasil akan melimpah. Bahkan ada sebagian yang memakan kotoran manusia.

Pertynyaannya :
Bagaimana hukum memakan ikan lele tersebut?

terima kasih..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Bila terjadi perubahan pada bau, rasa atau warna pada daging lele yang diberi makan kotoran manusia tersebut maka mengkonsumsi daging lele tersebut hukumnya MAKRUH, bila tidak terjadi perubahan pada dagingnya meskipun ia hanya diberikan makanan kotoran manusia maka tidak makruh.

ويكره جلالة ولو من غير نعم كدجاج إن وجد فيها ريح النجاسة( قوله ويكره جلالة ) أي ويكره أكل لحم الجلالة وبيضها وكذا شرب لبنها لخبر أنه صلى الله عليه وسلم نهى عن أكل الجلالة وشرب لبنها حتى تعلف أربعين ليلة رواه الترمذي وزاد أبو داود وركوبها والجلالة هي التي تأكل الجلة وهي بفتح الجيم وكسرها وضمها البعرة كذا في القاموس لكن المراد بها هنا النجاسة مطلقا ..وقوله إن وجد فيها ريح النجاسة تقييد للكراهة أي محل الكراهة إن ظهر في لحمها ريح النجاسة ومثله ما إذا تغير طعمه أو لونه وعبارة التحفة مع الأصل وإذا ظهر تغير لحم جلالة أي طعمه أو لونه أو ريحه كما ذكره الجويني واعتمده جمع متأخرون ومن اقتصر على الأخير أراد الغالب اه فإن لم يظهر ما ذكر فلا كراهة وإن كانت لا تأكل إلا النجاسة

Dan makruh hukumnya memakan daging jallaalah meskipun bukan dari jenis binatang ternak seperti ayam bila terdapati bau najisnya. (Keterangan dan makruh hukumnya memakan daging jallaalah) artinya hukumnya memakan daging serta telur jallaalah makruh begitu juga meminum susunya berdasarkan hadits nabi “Rasulullah SAW melarang memakan daging serta susu jallaalah hingga ia diberi makan (biasa) selama 40 malam” (HR. At-Turmudzy, dan Abu Daud menambahkan ‘dan menungganginya’). Jallaalah ialah hewan yang memakan kotoran hewan, namun yang dimaksud dalam hadits ini adalah memakan najis secara mutlak.

(Keterangan bila terdapati bau najisnya) adalah pembatasan atas hukum makruh dalam arti bila memang daging hewan tersebut terdapati bau, rasa atau warna dari najis yang menjadi makanannya maka makruh memakan dagingnya.Keterangan dalam kitab at-tuhfah “Bila nampak perubahan pada rasa, atau warna, atau bau pada daging Jallaalah sepertiyang dituturkan oleh al-Juwainy dan dijadikan pegangan oleh golongan ulama-ulama mutaakhiriin, ulama yang hanya mensyaratkan perubahan terjadi pada baunya karena menimbang pada kebiasaan terjadinya perubahan.Dan bila tidak tampak perubahan pada bau, rasa, atau warna pada daging Jallaalah maka tidak makruh memakannya meskipun ia tidak memakan makanan selain dari barang najis. [ I’aanah at-Thoolibiin II/351 ].

Imam al-syairazy dalam al-muhazzab kitab al-ath’imah berkata : makruh hukumnya makan daging jullalah, yaitu binatang yang makanan utamanya kotoran, seperti unta sapi, kambing, atau ayam, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas (bahwasanya Rasul melarang menkonsumsi susu binatang jullalah) dan hukumnya tidak haram memakannya karena tidak ada perubahan daging yang mencolok, hal ini tidak mewajibkan pengharaman, jika binatang jullalah memakan makanan yang bersih dan dagingnya menjadi baik, maka hukumnya tidak makruh.

ويكره أكل الجلالة ، وهي التي أكثر أكلها العذرة من ناقة أو بقرة أو شاة أو ديك أو دجاجة ، لما روى ابن عباس رضي الله عنهما { أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن ألبان الجلالة } ولا يحرم أكلها لأنه ليس فيه أكثر من تغير لحمها وهذا لا يوجب التحريم ، فإن أطعم الجلالة طعاما طاهرا وطاب لحمها لم يكره

Imam Al-nawawi dalam al-majmu’ syarah al-muhazzab kitab al-ath’imah bab al-jullalah menjelaskan sebagai berikut: (Penjelasan) hadits ibnu abbas itu shahih diriwayatkan oleh abu dawud, tirmidzi, nasa’i, dengan isnad yang shahih. Al-tirmidzi berkata : itu hadits hasan shahih. sahabat-sahabat kami berpendapat: al-jullalah adalah hewan yang memakan sampah dan benda najis, bisa jadi itu unta , sapi, kambing, ayam. Dikatakan, jika sebagian besar makanannya adalah benda najis, maka itulah jullalah, jika makanannya sebagian besar benda suci, maka bukan disebut jullalah. Qaul shahih menurut jumhur itu tidak ada ukuran banyak sedikit. Ukurannya adalah bau. Jika menurut urf (kebiasaan) didapati bau benda najis (dalam tubuh binatang) maka itulah jullalah, jika sebaliknya, maka tidak. Jika daging binatang jullalah itu berubah, maka hukumnya itu makruh tanpa ada perselisihan.

( الشرح ) حديث ابن عباس صحيح رواه أبو داود والترمذي والنسائي بأسانيد صحيحة ، قال الترمذي : هو حديث حسن صحيح ، قال أصحابنا : الجلالة هي التي تأكل العذرة والنجاسات ، وتكون من الإبل والبقر والغنم والدجاج ، وقيل : إن كان أكثر أكلها النجاسة فهي جلالة ، وإن كان الطاهر أكثر فلا ، والصحيح الذي عليه الجمهور أنه لا اعتبار بالكثرة ، وإنما الاعتبار بالرائحة والنتن فإن وجد في عرفها وغيره ريح النجاسة فجلالة ، وإلا فلا ، وإذا تغير لحم الجلالة فهو مكروه بلا خلاف

Jadi, hukum makan daging binatang jullalah, seperti ikan lele yang diberi makan dari kotoran dan benda najis itu hukumnya makruh, jika bau kotoran atau benda najis itu dominan terdapat di dalam daging binatang jullalah itu.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s