J016. HUKUM ADZAN SAAT MAYAT DIKUBURKAN & HUKUM MENJAWABNYA

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saya mau bertanya ustadz..
Bagaimana hukumnya mengadzankan mayyit ketika dimasukkan ke dalam kubur? Lalu bagaimana hukum menjawabnya?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

DI KALANGAN SYAFI’IYAH TERDAPAT KHILAF:

a. Hukumnya SUNNAH karena menqiyaskan terhadap bayi yang baru dilahirkan.

Mengadzani mayyit ketika dimasukkan ke dalam kubur ulama’ mutaakkhiriin mengqiyaskan pada kesunnatan mengadzani anak yang baru lahir di telinganya yang kanan dan meng-iqomahkan ditelinganya yang kiri, karena tidak ada dalil atau khabar dan atsar tentang anjuran mengadzani mayyit. Sebagaimana dimaklumi bahwa adzan pada dasarnya adalah disyariatkan untuk panggilan shalat lima waktu (الإعلان بالصلاة) Namun adakalanya adzan disunnatkan diluar shalat karena mengharapkan barokah (تبركا) Sebagaima ulama fiqih dari kalangan madzhab Syafi’i berkata; Disunnatkan adzan di telinganya anak yang baru lahir orang yang prihatin (kesusahan), mengadzani ditelinganya orang yang sakit perut, ketika marah, ketika berdesakannya tentara dan kebakaran.

تحفة المحتاج/٧/٥١ :

قَدْ يُسَنُّ الْأَذَانُ لِغَيْرِ الصَّلَاةِ كَمَا فِي آذَانِ الْمَوْلُودِ ، وَالْمَهْمُومِ ، وَالْمَصْرُوعِ ، وَالْغَضْبَانِ وَمَنْ سَاءَ خُلُقُهُ مِنْ إنْسَانٍ ، أَوْ بَهِيمَةٍ وَعِنْدَ مُزْدَحَمِ الْجَيْشِ وَعِنْدَ الْحَرِيقِ قِيلَ وَعِنْدَ إنْزَالِ الْمَيِّتِ لِقَبْرِهِ قِيَاسًا عَلَى أَوَّلِ خُرُوجِهِ لِلدُّنْيَا لَكِنْ رَدَدْته فِي شَرْحِ الْعُبَابِ وَعِنْدَ تَغَوُّلِ الْغِيلَانِ أَيْ تَمَرُّدِ الْجِنِّ لِخَبَرٍ صَحِيحٍ فِيهِ ، وَهُوَ ، وَالْإِقَامَةُ خَلْفَ الْمُسَافِرِ ( قَوْلُهُ : خَلْفَ الْمُسَافِرِ ) يَنْبَغِي أَنَّ مَحَلَّ ذَلِكَ مَا لَمْ يَكُنْ سَفَرَ مَعْصِيَةٍ فَإِنْ كَانَ كَذَلِكَ لَمْ يُسَنَّ ع ش

Terkadang adzan disunahkan dikerjakan bukan untuk waktunya shalat seperti adzan untuk orang yang sedang ditimpa kesusahan, ketakutan, sedang marah, orang atau hewan yang jelek perangainya, saat perang berkecamuk, kebakaran, menurut sebagian pendapat saat mayat diturunkan dalam kuburan dengan mengqiyaskan diberlakukannya adzan saat ia terlahir didunia namun aku menolak yang demikian dalam Syarh al-‘Ubaab, dan saat terdapat gangguan jin dan adzan dan iqamah bagi seseorang yang hendak bepergian. (Keterangan bagi seseorang yang hendak bepergian) semestinya letak kesunahannya bukan pada bepergian yang maksiat bila bepergiannya demikian maka tidak disunahkan. [ Tuhfah al-Muhtaaj V/51 ].

Juga penjelasan dalam ibarah hadits berikut tentang sunnahnya mengadzani bayi yang baru lahir (ما قيس عليه) :

فقه السنة في العقيقةِ

ومن السنة أَن يؤذن في أذن المولود اليمنى، ويقيم في الأذن اليسرى؛ ليكون أول ما يطرق سمعَه اسمُ اللّه؛ روى أحمد، وأبو داود، والترمذي وصحَّحه، عن أَبي رافع _ رضي اللّه عنه _ قال: رأيت النبي صلى الله عليه وسلم أَذَّن بالصلاة في أذن الحسن بن علي حين ولدته فاطمة _ رضي اللّه عنهم _(١).
وروى ابن السني، عن الحسن بن علي، أن النبيَّ صلى الله عليه وسلم قال: “مَن ولد له ولد، فأَذَّن في أذنه اليمنى وأقام في اليسرى، لم تضرَّه أم الصبيان(٢)”(٣).

(١) الترمـذي (٤ /٦٧)،٢٠ كـتاب الأضاحي _ بـاب الأذان في أذان المولـود، برقم
(١٥١٤)، وأبو داود (٥ /٣٣٣)، ٣٥ـ كتاب الأدب،
١١٦ـ باب في الصبي يولد فيؤذن في أذنه، والفتح الرباني ( ١٣/١٣٣).
(٢) يقال: إنها القرينة.
(٣) وعزاه في “كنز العمال”
( ١٦/ ٤٥٤١٤) إلى أبي يعلى عن الحسين، وابن السني (٦١٧). وأورده الهيثمي في “المجمع” وقال: رواه أبو يعلى، وفيه مروان بن سالم الغفاري وهو متروك (٤ /٥٩). فالحديث ضعيف جداً.

“Diantara sebagian dari yang disunnatkan adzan adalah:
Mengadzani ditelinga kanan anak yang baru lahir, dan meng-iqomahinya ditelinga yang kiri, supaya adzan mejadi awal dari ketukan pendengaran anak memlalui asma Allah swt, keterangan hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, Abu daud, dan imam Tirmidzi dan menshohihkannya dari Abi Rofik ra. berkata: “Saya melihat Nabi Muhammad saw, mengadzankan dengan الصلاة ditelinganya Alhasan bin Ali ketika Siti Fatimah melahirkannya radliyallahu anhum.

Diriwatyatkan dari ibnu ssaniy dari Alhasan bin Ali bahwa Nabi Muhammad bersabda:” Barang siapa yang melahirkan anak (menpunyai anak) maka adzanilah telinganya yang kanan dan iqomatilah telinganya yang kiri, maka Ummu Al- Shibyan (jin) tidak memudlaratkannya/ mengikutinya
(membuntutinya).

b. Tidak mensunatkan karena tidak ada dalil khusus, namun tidak membid’ahkan bagi yang melakukannya.

Diantara kalangan madzhab Syafiiyah sendiri masalah ini merupakan masalah yang diperselisihkan, ada yang tidak menganjurkan (namun tidak melarang) dan ada pula yang menganjurkan, sebagaimana yang diamalkan oleh umat Islam di Indonesia:

Syaikh asy-Syarwani:

ولا يندب الآذان عند سده خلافا لبعضهم برماوي اه(حواشي الشرواني – ج 3 / ص 171)

“Tidak disunahkan adzan saat menutup liang lahat, berbeda dengan sebagian ulama. Dikutip dari Syaikh Barmawi”(Hawasyai asy-Syarwani 3/171)

Syaikh Sulaiman al-Jamal:

وَلَا يُنْدَبُ الْأَذَانُ عِنْدَ سَدِّهِ وِفَاقًا لِلَأْصْبَحِيِّ وَخِلَافًا لِبَعْضِهِمْ ا هـ . بِرْمَاوِيٌّ . (حاشية الجمل – ج 7 / ص 182)

“Tidak disunahkan adzan saat menutup liang lahat, sesuai dengan al-Ashbahi dan berbeda dengan sebagian ulama. Dikutip dari Syaikh Barmawi” (Hasyiah asy-Jamal 3/171)

Syaikh Abu Bakar Syatha:

واعلم أنه لا يسن الاذان عند دخول القبر، خلافا لمن قال بنسبته قياسا لخروجه من الدنيا على دخوله فيها. قال ابن حجر: ورددته في شرح العباب، لكن إذا وافق إنزاله القبر أذان خفف عنه في السؤال. (إعانة الطالبين – ج 1 / ص 268)

“Ketahuilah bahwa tidak disunahkan adzan ketika masuk dalam kuburan, berbeda dengan ulama yang menganjurkannya, dengan dikiyaskan keluarnya dari dunia terhadap masuknya kea lam dunia (dilahirkan). Ibnu Hajar berkata: Tapi saya menolaknya dalam Syarah al-Ubab, namun jika menurunkan mayit ke kubur bertepatan dengan adzan, maka diringankan pertanyaan malaikat kepadanya” (Ianat ath-Thalibin 1/268)

Dalam keterangan lain disebutkan dalam kirab:

حاشيةالشرقاوى الجزءالأول ص ٢٢٧ِ
{ قوله ويسن الأذان ايضا } اى كما يسن للمكتوبة وقوله في أذن المولود اى اليمني والإقامة في اليسرى لما قيل أن من فعل ذلك لم تضره أم الصبيان اى التابعة من الجنة وليكون اول مايقرع سمعه حال خوله في الدنيا الذكر ويكون أذن بغير رفع صوت، في المؤذن ذكرا مسلما وفي المولود.
ان يكون ولد مسلم، لأن الأذن من جملة أحكام الدنيا وأولاد الكفار معاملون معاملة آبائهم فيها وإن ولدوا على الفطرة،
ويسن الأذان وحده في أذن المهموم فيسن ان يأمر من يؤذن في أذنه لأنه يزيل الهم ، وأذن المصروع والغضبان ومن ساء خلقه مت إنسان أو بهيمة وعن مزدحم الجيش والحريق،
ولايسن عند إدخال الميت القبر على المعتمد ، ويسن والإقامة خلف المسافر.

“Disunnatkan adzan pada anak yang dilahirkan ditelinganya yang kanan dan iqomamah ditelinganya yang kiri. Dikatakan, barang siapa yang melakukan adzan dan iqomah ditelinganya anak yang dilahirkan maka anak itu tidak akan diganggu oleh Ummu shibyan/ jin (tidak diikuti jin) jadikan adzan sebagai dzikir di awal ketukan pendengarannya dalam memasuki dunia dengan tampa menyaringkan suara. Adapun anak-anak orang kafir mereka sumuanya mengamalkan sebagaimana amalan para bapak-bapak mereka di dunia walaupun mereka dilam keadan fithrah.

Dusunnat adzan sendiri di telingan orang yang prihatin (kesusahan) karena adzan dapat menghilangkan kesusahan, mengadzankan pada telinga orang yang sakit perut, marah, orang yang buruk akhlanya, sunnah adzan dalam keadaan penuh (berdesakannya) tentara dan kebakaran.

Tidak disunnatkan adzan ketika menurunkan mayyit kedalam kuburan menurut Qoul yang mu’tamat (Kuat). Dan disunnatkan adzan dan iqomah dibelakangnya orang yang akan bepergian (Musafir).

Di kitab lainnya Ibnu Hajar secara khusus menjelaskan masalah ini:

( وَسُئِلَ ) نَفَعَ اللَّهُ بِهِ بِمَا لَفْظُهُ مَا حُكْمُ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ عِنْدَ سَدِّ فَتْحِ اللَّحْدِ ؟ ( فَأَجَابَ ) بِقَوْلِهِ هُوَ بِدْعَةٌ وَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ سُنَّةٌ عِنْدَ نُزُولِ الْقَبْرِ قِيَاسًا عَلَى نَدْبِهِمَا فِي الْمَوْلُودِ إلْحَاقًا لِخَاتِمَةِ الْأَمْرِ بِابْتِدَائِهِ فَلَمْ يُصِبْ وَأَيُّ جَامِعٍ بَيْنَ الْأَمْرَيْنِ وَمُجَرَّدُ أَنَّ ذَاكَ فِي الِابْتِدَاءِ وَهَذَا فِي الِانْتِهَاءِ لَا يَقْتَضِي لُحُوقَهُ بِهِ . (الفتاوى الفقهية الكبرى – ج 3 / ص 166)

“Ibnu Hajar ditanya: Apa hukum adzan dan iqamat saat menutup pintu liang lahat? Ibnu Hajar menjawab: Ini adalah bid’ah. Barangsiapa yang mengira bahwa adzan tersebut sunah ketika turun ke kubur, dengan dikiyaskan pada anak yang lahir, dengan persamaan akhir hidup dengan permulaan hidup, maka tidak benar. Dan dari segi apa persamaan keduanya? Kalau hanya antara permulaan dan akhir hidup tidak dapat disamakan” (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra 3/166)

Tentu yang dimaksud bid’ah disini tentu bukan bid’ah yang sesat, sebab Ibnu Hajar ketika menyebut bid’ah pada umumnya menyebut dengan kalimat “al-Madzmumah”, atau “al-Munkarah” dan lainnya dalam kitab yang sama. Beliau hanya sekedar menyebut bid’ah karena di masa Rasulullah Saw memang tidak diamalkan.

ADZAN PERTAMAKALI SAAT DIKUBUR

Sejauh referensi yang saya ketahui tentang awal mula melakukan adzan saat pemakaman adalah di abad ke 11 hijriyah berdasarkan ijtihad seorang ahli hadis di Syam Syria, sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh al-Muhibbi:

محمد بن محمد بن يوسف بن أحمد بن محمد الملقب شمس الدين الحموي الأصل الدمشقي المولد الميداني الشافعي عالم الشام ومحدثها وصدر علمائها الحافظ المتقن : وكانت وفته بالقولنج في وقت الضحى يوم الاثنين ثالث عشر ذي الحجة سنة ثلاث وثلاثين وألف وصلى عليه قبل صلاة العصر ودفن بمقبرة باب الصغير عند قبر والده ولما أنزل في قبره عمل المؤذنون ببدعته التي ابتدعها مدة سنوات بدمشق من افادته إياهم أن الأذان عند دفن الميت سنة وهو قول ضعيف ذهب إليه بعض المتأخرين ورده ابن حجر في العباب وغيره فأذنوا على قبره (خلاصة الأثر في أعيان القرن الحادي عشر – ج 3 / ص 32)

“Muhammad bin Muhammad bin Yusuf bin Ahmad bin Muhammad yang diberi gelar Syamsuddin al-Hamawi, asalnya ad-Dimasyqi, kelahiran al-Midani, asy-Syafii, seorang yang alim di Syam, ahli hadis disana, pemuka ulama, al-hafidz yang kokoh. Beliau wafat di Qoulanj saat waktu Dhuha, hari Senin 13 Dzulhijjah 1033. Disalatkan sebelum Ashar dan dimakamkan di pemakaman ‘pintu kecil’ di dekat makam orang tuanya. Ketika janazahnya diturunkan ke kubur, para muadzin melakukan bid’ah yang mereka lakukan selama beberapa tahun di Damaskus, yang diampaikan oleh beliau (Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Yusuf) kepada mereka bahwa ‘adzan ketika pemakaman adalah sunah’. Ini adalah pendapat lemah yang dipilih oleh sebagian ulama generasi akhir. Pendapat ini ditolak oleh Ibnu Hajar dalam kitab Al-Ubab dan lainnya, maka mereka melakukan adzan di kuburnya” (Khulashat al-Atsar 3/32)

TENTANG MENJAWAB ADZANNYA :

Menjawab adzan hanya dianjurkan bagi adzan yang disyari’atkan seperti adzan untuk shalat lima waktu. Adapun yang tidak disyari’atkan maka tidak dianjurkan untuk dijawab.

ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺗﻨﺪﺏ اﻹﺟﺎﺑﺔ ﻓﻲ اﻷﺫاﻥ اﻟﻤﺸﺮﻭﻉ، ﺃﻣﺎ ﻏﻴﺮ اﻟﻤﺸﺮﻭﻉ ﻓﻼ ﺗﻄﻠﺐ ﻓﻴﻪ اﻹﺟﺎﺑﺔ، ﻭﻫﺬا ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ، ﺇﻻ ﻋﻨﺪ اﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ،

الفقه على المذاهب الاربعة ج١، ص: ٢٧٨

Dengan demikian maka menjawab azan tidak dianjurkan karena mengadzani mayyit ulama’ yang menghukumi tidak sunnah, tetapi adzan dilain itu disunnahkan.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s