S037. DALIL MEMBACA “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAHU” KETIKA I’TIDAL

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Mau tanya para ustadz & ustdzah” kenapa ketika bangun dari ruku’ kok baca SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAHU artinya : (maha mendengar Allah terhadap orang yang memuji-Nya) kenapa tidak baca ALLAHU AKBAR seperti yang lain?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Perkataan “Sami’a Allahu Liman Hamidah” pada I’tidal berawal ketika Abubakar As-Siddiq masbu’ salat ‘Ashar bersama Rasulullah. Saw, beliu mendapatkan Rasulullah sedang ruku’ lalu beliau memuji Allah dan salat dibelakang rasulullah, pujian itu didengar oleh Allah dan “Sami’a Allahu Liman Hamidah” menjadi bacaan bangkit dari ruku’ semenjak itu.

Lihat: Sulaiman bin Umar al-Bujairimi, Hasyiyah al-Bujairimy alaa al-Khatib, (Daar al-Fikri, 1995), juz. 2. Hal. 69.

وَالسَّبَبُ فِي سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ «أَنَّ الصِّدِّيقَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – مَا فَاتَتْهُ صَلَاةٌ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَطُّ، فَجَاءَ يَوْمًا وَقْتَ صَلَاةِ الْعَصْرِ فَظَنَّ أَنَّهَا فَاتَتْهُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَاغْتَمَّ بِذَلِكَ وَهَرْوَلَ وَدَخَلَ الْمَسْجِدَ، فَوَجَدَهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مُكَبِّرًا فِي الرُّكُوعِ فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَبَّرَ خَلْفَهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَنَزَلَ جِبْرِيلُ وَالنَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي الرُّكُوعِ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُلْ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ» . وَفِي رِوَايَةٍ «اجْعَلُوهَا فِي صَلَاتِكُمْ» . فَقَالَهَا عِنْدَ الرَّفْعِ مِنْ الرُّكُوعِ، وَكَانَ قَبْلَ ذَلِكَ يَرْكَعُ بِالتَّكْبِيرِ وَيَرْفَعُ بِهِ فَصَارَتْ سُنَّةً مِنْ ذَلِكَ الْوَقْتِ بِبَرَكَةِ الصِّدِّيقِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

“Dan sebab pada perkataan “Sami’a Allah liman hamidah” adalah sesungguhnya Abubakar As-Siddiq Ra tidak pernah ketinggalan salat di belakang Rasulullah. Saw. Pada suatu hari ketika hendak sala ‘Ashar beliau terlambat dan menyangka tidak sempat salat di belakang Rasulullah. Saw, beliau sangat menginginkan agar bisa salat bersama Rasulullah. Saw, beliau berlari dan memasuki masjid rupanya meliau mendapatkan Rasulullah. Saw sedang membaca takbir dalam ruku’ maka belaiu memuji Allah dengan mengucapkan Alhamdulillah dan dan bertakbir salat mengikuti Rasulullah. Saw, datanglah malaikat Jibril kepada Rasulullah. Saw yang sedang ruku’ dan mengatakan: wahai Muhammad Allah telah mendengar orang yang memujinya maka bacakan “Sami’a Allahu Liman Hamidah”. Dalam riwayat lain disebutkan “Jadikanlah kalimat itu sebagai bacaan salat kalian” maka Rasulullah. Saw membacanya ketika bangkit dari ruku’ padahal sebelum itu beliau turun ke dan bangkit dari ruku’ dengan mengucapkan “Allahu Akbar” maka itu menjadi sunnah dari semenjak itu dengan berkat Abubakar as-Siddiq. Ra.

Ini bisa di lihat dalam:
Hasyiyah Jamal ala fath al-Wahab juz.1. Hal. 366.
Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz, 1. Hal.180.

Bacaan SAMI’A ALLAAHU LIMAN HAMIDAHU menurut kitab-kitab kalangan SYAFI’IYYAH disunahkan bagi imam, makmum, muballigh ataupun orang yang sedang shalat sendirian…

وَيُسْتَحَبُّ له أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ كما سَبَقَ في تَكْبِيرِ الْإِحْرَامِ حين يَرْفَعُ رَأْسَهُ من الرُّكُوعِ بِأَنْ يَكُونَ ابْتِدَاءُ رَفْعِهِمَا مع ابْتِدَاءِ رَفْعِهِ قَائِلًا في ارْتِفَاعِهِ لِلِاعْتِدَالِ سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ لِلِاتِّبَاعِ رَوَاهُ الشَّيْخَانِ مع خَبَرِ صَلُّوا كما رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي وَسَوَاءٌ في ذلك الْإِمَامُ وَغَيْرُهُ وَأَمَّا خَبَرُ إذَا قال سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا لَك الْحَمْدُ فَمَعْنَاهُ قُولُوا ذلك مع ما عَلِمْتُمُوهُ من سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ لِعِلْمِهِمْ بِقَوْلِهِ صَلُّوا كما رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي مع قَاعِدَةِ التَّأَسِّي بِهِ مُطْلَقًا

“Dan disunahkan mengangkat kedua tangannya seperti saat takbiratul ihram saat ia mengangkat kepalanya dari ruku’, dalam artian awal mengangkat kedua tangannya berbarengan dengan awal mengangkat kepalanya seraya membaca “samiallohuliman hamidah” berdasarkan itba’ Nabi pada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim”Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat shalatku”.Ketentuan diatas sama bagi seorang imam dan lainnya (makmum, orang yang shalat sendirian).
Sedang hadits ‘bila imam membaca “samiallohu liman hamidah” maka ucapkanlah oleh kalianRabbana laka hamdu” artinya adalah ucapkanlah “rabbana lakal hamdu” bersama dengan ucapan yang telah kalian ketahui yakni”samiallohu liman hamidah” sebab para sahabat telah mengetahui bacaan “samiallohu liman hamidah” dari shalat yang dikerjakan oleh nabi dengan kaidah ta’ssy secara mutlak”
Asna al-Mathoolib I/158

ويجهر الامام بسمع الله لمن حمده، ويسر بربنا لك الحمد ويسر غيره بهما.نعم المبلغ يجهر بما يجهر به الامام ويسر بما يسر به كما قاله في المجموع لانه ناقل

“Dan bagi imam bacalah dengan keras bacaan”samiallohuliman hamidah” dan bacalah dengan pelan bacaan rabbana lakal hamdu , sedang bagi selain imam (makmum, orang yang shalat sendirian) bacalah pelan keduanya”Hanya saja bagi seorang muballigh (perantara bacaan imam) bacalah keras bacaan yang dikeraskan imam dan bacalah pelan bacaan yang dipelankan oleh imam sebagaimana yang diterangkan dalam kitab al-majmuu’ karena kedudukannya sebagai pemindah bacaan dari imam”.
Al-Iqnaa I/133

ثم يرفع من ركوعه قائلا سمع الله لمن حمده ويرفع يديه حذم منكبيه فإذا اعتدل قائما قال ربنا لك الحمد ملء السموات وملء الأرض ما شئت من شيء اماما كان أو مأموما أو منفردا

Kemudian bangkitlah ia dari rukukmya seraya mengucapkan samiallohu liman hamidah dan angkatlah kedua tangaanya selaras dengan kedua bahunya, kemudian saat ia telah tegak nerdiri ucapkan Rabbana lakal hamdu milussamawati wamin uma syi’ta min say’in ba’du baik ia seorang imam, makmum ataupun shalat sendiri”.
Iqnaa Li al-Mawardy I/39

( و ) يسن لكل مصل ( التكبير للانتقال من ركن إلى آخر….( إلا في الاعتدال ) ولو لثاني قيام الكسوف ( فيقول ) إماما كان أو منفردا أو مأموما مبلغا أو غيره ( سمع الله لمن حمده ) للاتباع أي تقبل الله منه حمده ويحصل أصل السنة بقوله من حمد الله سمعه

“Disunahkan bagi setiap orang yang shalat membaca takbir pada perpindahan gerakan-gerakan yang terdapat pada satu rukun shalat pada gerakan lainnya, kecuali saat ia i’tidal meskipun pada saat berdiri yang kedua sewaktu shalat gerhana, maka ucapkanlahsamiallohu liman hamidah baik ia seorang imam, shalat sendirian, makmum, muballigh ataupun lainnya berdasarkan itba’ pada nabi dengan hadits “semoga Allah mendengar pujian darinya”. Dan kesunahan terdapatkan juga dengan membaca man hamidahu allohu samia’ahu“. Al-Minhaj al-Qawiim I/201.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s