HADITS KE 87 : TATACARA BERISTINJAK DENGAN BATU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATA CARA BUANG HAJAT

HADITS KE 87 :

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: ( أَتَى اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم اَلْغَائِطَ فَأَمَرَنِي أَنْ آتِيَهُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ فَوَجَدْتُ حَجَرَيْنِ وَلَمْ أَجِدْ ثَالِثًا. فَأَتَيْتُهُ بِرَوْثَةٍ. فَأَخَذَهُمَا وَأَلْقَى اَلرَّوْثَةَ وَقَالَ: “هَذَا رِكْسٌ” ) أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيّ ُ. زَادَ أَحْمَدُ وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ: ( ائْتِنِي بِغَيْرِهَا

Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam hendak buang air besar lalu beliau menyuruhku untuk mengambilkan tiga biji batu kemudian saya hanya mendapatkan dua biji dan tidak menemukan yang ketiga. Lalu saya membawakan kotoran binatang. Beliau mengambil dua biji batu tersebut dan membuang kotoran binatang seraya bersabda: “Ini kotoran menjijikkan.” Diriwayatkan oleh Bukhari. Ahmad dan Daruquthni menambahkan: “Ambilkan aku yang lain.”

MAKNA HADITS :

Agama Islam senantiasa mengambil berat masalah disiplin dan kebersihan disamping mempersiapkan kehidupan yang suci dan baik bagi seorang muslim. Oleh karena itu, ia menyuruh beristinjak dan ber-istijmar (bersuci dengan menggunakan batu) serta menjauhi perkara-perkara kotor. Islam menganjurkan kebersihan dengan menjadikan istijmar dengan memakai tiga biji batu yang mempunyai daya
pembersih. Menggunakan objek yang memiliki permukaan licin dan tidak akan dapat membersihkan najis, malah justru menyebarkan lagi najis seperti tulang atau memakai barang yang najis tentu tidak boleh dijadikan sebagai alat untuk ber-istijmar.

FIQH HADITS :

1. Dilarang beristinjak dengan menggunakan kotoran hewan, kerana ia najis.

2. Tidak boleh menggunakan kurang dari tiga biji batu dalam beristinjak dengan syarat batu tersebut adalah batu yang mampu membersihkan najis. Inilah menurut mazhab Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad. Kedua ulama ini berlandaskan pendapatnya dengan riwayat yang mengatakan: “Datangkanlah selainnya buatku.” Bagi Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad boleh menggunakan sebiji batu yang mempunyai tiga sudut. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik

mengatakan bahwa tidak penting jumlah batu tertentu dalam beristinjak. Apa yang terpenting adalah batu yang digunakan beristinjak mampu membersihkan najis, meskipun hanya dengan sebiji batu dan disunatkan mengganjilkan bilangan batu yang digunakan beristinjak tersebut.

3. Dilarang beristinjak dengan tulang, kerana ia mempunyai permukaan yang

licin yang tidak dapat membersihkan najis. Selain itu tulang adalah makanan utama jin sebagaimana diterangkan oleh hadits lain.

4. Dianjurkan menyediakan alat untuk bersuci, baik batu ataupun air

sebelum membuang hajat dan dibolehkan pula meminta bantuan orang lain untuk mendatangkannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s