M036. BOLEHKAH TIDAK MEMBAYAR HUTANG KARENA MERASA TERTIPU

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Diskripsi :
Ceritanya seperti ini awalnya saya biasa membeli atau ngolak (Bhs Madura) bensin dengan harga 300 ribu, setelah keduakalinya penjual menjual bensinnya dengan harga 500 ribu, padahal jumlah harga dan jumlah bensin tersebut masih seperti biasa yakni tidak ada perubahan, dan saat itu saya hanya bayar 300 dengan harga yang biasa, dan saya katakan sisanya hutang.

Pertanyaannya, bagaimana kalau saya tidak bayar uang yang 200 berhubung saya merasa telah tertipu?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Apabila dalam transaksi kedua saudara sudah setuju dengan harga Rp.500.000 maka yang Rp. 200.000 wajib dibayar.
Pada dasarnya keabsahan transaksi jual beli bergantung diawal akad karena sah dan tidaknya tergantung pada akad (لأن البيع عن تراض) karena sahnya transaksi jual beli adalah saling rela (ridha). dengan demikian maka ia wajib membayar sisa dari pembayaran tersebut.

Apa termasuk penipuan? Tidak termasuk pada penipuan karena ia telah menerimanya dengan ijab dan qobul.
Sebagaimana ibarah berikut beserta batasan-batasan yang masuk pada kategori penipuan :

Keabsahan jual beli berdasarkan pada kerelaan, sementaraan rela atau ridha adanya dihati maka harus ada ucapan yang menunjukan pada kerelaan tersebut sebagaimana ibarah berikut ;

مرقاة صعود التصديق في شرح سلم التوفيق ص ٥٣
وإنما شرطت لأن البيع منوط بالرضا لقوله صلى الله عليه وسلم” إنما البيع عن تراض رواه ابن حبان والرضا خفي فاعتبر مايدل عليه من اللفظ.

“Sighat tersebut disyaratkan karena jual beli itu bergantung pada kerelaan kedua belah pihak. Hal ini berpijak pada hadits Nabi saw. ” jual beli itu bisa sah kalau ada kerelaan diantara kedua pihak”. (HR. Ibnu hebban).
Sementara kerelaan adalah perbuatan hati yang tidak tampak. Oleh karenanya dibutuhkan ungkapan (sighat) yang menunjukkan pada kerelaan tersebut.

Sedang batasan penipuan dalam transaksi yang diharamkan ialah pemilik barang, baik penjual pembeli atau lainnya mengetahui beberapa hal dalam barang yang jika orang hendak mengambilnya mengetahuinya niscaya tidak jadi mengambilnya dengan ditukar barang-Nya.

إسعاد الرفيق الجزء الأول ص ١٣٧.
ويجب على أجنبي علم أن السلعة عيبا أن يخبر به مريدا أخذها وان لم يسأله عته كما يجب عليه إذا رأي إنسانا يخطب أمرأة ويعلم بها اوبه عيبا أو رأى انسانا يريد ان يخالط آخر لمعاملة او صدقة او قراءة نحو علم وعلم أن بأحدهما عيبا أن يخبر به وإن لم يستشر كل ذلك أدآء للنصيحة المأكد وجوبها لخاصة المسلمين وعامتهم هذا حاصل جواب سأل ذكره في الزواجر والفتاوى إتفق الشافعية أنه متى جهل وزن الظرف وبيع مظروفه كل رطل من الجملة بكذا فالبيع باطل للغرر وكذا لو جهل وزن المطروف وحده او لم تكن للظرف قيمة لاشتراط العقد على بذل مال في مقابلة ماليس بمال فمن فعل ذلك فقد خان الله ورسوله وخالف قوله ” ياأيها الذين آمنوا لاتأكلو اموالكم، الأية. إلاّ إن صدرت عن تراض والتراضي لايحصل إلا إذا لم يكن هناك غش وتدليسٌ وإلا فذلك شديد التحريم موجب للمقت من الله ورسوله.

“Wajib bagi orang lain (selain penjual dan pembeli) yang mengetahui bahwa sesuatu dalam barang terdapat cacat untuk memberitahukannya pada orang yang ingin membelinya meskipun ia tidak bertanya, sebagaimana ia wajib memberitahu seseorang yang ingin meminang seseorang wanita dan ia mengetahui bahwa dalam diri orang itu atau wanita itu terdapat cacat, atau melihat ada seseorang yang ingin berinteraksi dengan orang lain dalam rangka hubungan bisnis, bersahabat, atau mengaji sebuah ilmu dan mengetahui bahwa dalam diri salah satunya terdapat cacat untuk memberitahukannya meskipun ia tidak dimintai pendapat. Semua itu dalam rangka menunaikan nasehat yang wajib disampikan pada kaum muslimin baik kalangan khusus atau yang awam”.

Ulama Syafi’iyah sepakat bahwa jika timbangannya dan wadah tersebut dijual beserta isinya, setiap satu kati (ukuran arab) ialah sekian. Demikian juga jika timbangan wadahnya saja yang tidak diketahui atau wadahnya tidak mempunyai harga sama sekali.

Karena ada pensyaratan akad untuk menyerahkan sebuah harta dengan sesuatu yang bukan harta. Barang siapa yang melakukan itu maka sungguh ia telah berkhianat kepada Allah (swt) dan UtusanNya dan menyalahi firman Allah swt : “Wahai orang-orang yang beriman jangan kalian makan harta-harta kalian……. (sampai akhir ayat)”. kecuali muncul dari dari saling rela (عن تراض). Dan saling rela tidak akan berhasil jika disana tidak ada penipuan dan memperdaya. Jika ada maka itu hukumnya haram dan menyebabkan Allah dan Rasul-Nya murka.

والله تعالى أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s