D014. APAKAH SEMUA PERTANYAAN WAJIB DI JAWAB?

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Langsung saja mau tanya,
Apakah setiap pertanyaan harus dijawab, sementara hal yang ditanyakan merupakan hal yg sangat bersifat rahasia?
Lalu bagaimana kaitannya dengan hadits orang yang ditanyai ilmu sementara ia tidak menjawab/atau menyimpannya sedangkan ia tau?

من سئل عن علم فكتمه ألجمه الله يوم القيامة بلجام من النار. ” رواه ابن ماجه “

Mohon jawabannya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tidak semua pertanyaan itu harus dijawab, mengapa demikian? karena ilmu itu ada dua yaitu :
1- ilmu lisan dan
2- ilmu hati.
Adapun pertanyaan yang harus dijawab adalah ilmu lisan, yaitu ilmu yang nampak, seperti halnya hukum-hukum mu’amalah, hukum-hukum yang menjelaskan tentang halal dan haram, dan lain sebagainya maka jika dimintai/ atau ditanyaakan tentang hal tersebut maka ia wajib menjawab/ mejelaskan sesuai dengan ilmu pengetahun yang dimilikinya atau yang ia ketahui, karena kalau ia mengetahui dan tidak menjelaskan ketika ditanya maka hukumnya haram, dan akan dibelenggu di akhirat dengan belenggu api neraka. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi (s.a.w) :

عن ابي هريرة رضي الله قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من سئل عن علم فكتمه ألجمه الله يوم القيامة بلجام من النار. ” رواه ابن ماجه “

“Barang siapa yang ditanyai tentang ilmu lalu ia menyimpannya (tidak menjelaskannya) maka Allah akan membelenggunya dihari kiamat dengan belenggu api neraka”

Sedangkan pertayaan yang tidak harus dijawab ialah ilmu yang bersifat rahasia (hati) sedang urusan hati hanyalah yang melihatnya, hanya Allah swt, sebagaimana Rasulullah bersabda :

Rasulullah bersabda :

العلم علمان ، علم في القلب فذلك علم النافع وعلم في اللسان فذلك حجة الله على ابن أدم رواه الخطيب عن جابر
مختار الحديث ص ١١٦

“Ilmu itu ada dua :
1- ilmu hati, Yaitu ilmu yang bermanfaat.
2- ilmu lisan, Yaitu hujjah/ dalil atas anak Adam.
Contoh bahwa tidak semua pertanyaan bisa dijawab dijelaskan Assyaih Athoillah dalam kitab Alhikam.

(غيث المواهب العليۃ في شرح الحكم العطاءيۃ,صحيفۃ ٢٣٣)ما العارف من اذا اشار وجد الحق اقرب اليه من اشارته,بل العارف من لا اشارۃ له,لفناءه في وجوده وانطواءه في شهوده.

Bukanlah orang yang ‘aarif (yang ahli ma’rifat), yaitu orang yg jika orang itu memberi isyarot maka orang yg ‘aarif itu menemukan kepada Allah lebih dekat dari isyarohnya.
Tapi yg dikatakan ‘aarif adalah orang yg tidak ada isyaroh bagi dia, disebabkan karena (perasaan didalam orang ‘aarif) tentang fana’nya orang ‘aarif itu didalam wujudnya Allah, dan disebabkan karena orang yg ‘aarif itu dilipat didalam menyaksikan (didalam hatinya) kepada Allah.
Artinya, jika kita bertanya kepada orang yg ‘aarif (yang ahli ma’rifat kepada Allah) tentang rahasia ketuhanan, maka orang yg ‘aarif itu tidak akan menjawab, karena dia itu sangat asyik didalam menyaksikan dzat Allah dari bashirohnya (dari mata hatinya).

imam asysyibli berkata:

وكل اشارۃ اشار بها الخلق الی الحق فهي مردودۃ عليهم,حتی يشيروا الی الحق بالحق وليس لهم ذلك طريق

Semua isyaroh, yg mana makhluk itu memberi isyaroh dengan isyaroh itu kepada pengenalan kepada Allah,maka isyaroh itu ditolak dari makhluk, sampai makhluk itu memberi isyaroh kepada pengenalan kepada Allah(dengan melalui Allah).Dan tidak ada jalan bagi makhluk untuk mengenal secara haqiqat kepada Allah.
Artinya tidak setiap pertanyaan itu wajib dijawab. Kalau pertanyaannya itu mengenai pengenalan kepada haqiqat Allah (haqiqat ketuhanan) itu sulit jawabannya.

“Apabila seseorang bertanya pada orang lain, apakah malam ini baik untuk di gunakan akad nikah atau pindah rumah maka pertanyaan seperti tidak perlu dijawab, karena nabi pembawa syariat melarang meyakini hal semacam itu dan mencegahnya dengan pencegahan yang sempurna maka tidak ada pertimbangan lagi bagi orang yang masih suka mengerjakannya, Imam Ibnu Farkah menuturkan dengan menyadur pendapat Imam syafii : Bila ahli nujum tersebut meyakini bahwa yang menjadikan segala sesuatu hanya Allah hanya saja Allah menjadikan sebab akibat dalam setiap kebiasaan maka keyakinan semacam ini tidak apa-apa yang bermasalah dan tercela adalah bila seseorang berkeyakinan bahwa bintang-bintang dan makhluk lain adalah yang mempengaruhi akan terjadinya sesuatu itu sendiri (bukan Allah). Lihat Ghayat al Talkhis al Murad Hal 206 :

(مسألة) إذا سأل رجل اخر هل ليلة كذا او يوم كذا يصلح للعقد او النقلة فلا يحتاج إلي جواب لان الشارع نهي عن اعتقاد ذلك وزجر عنه زجرا بليغا فلا عبرة بمن يفعله. وذكر ابن الفركاح عن الشافعي انه ان كان المنجم يقول ويعتقد انه لايؤثر الا الله ولكن أجري الله العادة بأنه يقع كذا عند كذا . والمؤثر هو الله عز وجل. فهذه عندي لابأس فيه وحيث جاء الذم يحمل علي من يعتقد تأثير النجوم وغيرها من المخلوقات. وافتى الزملكاني بالتحريم مطلقا. اهـ

Wallahu a’lamu bisshowab..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s