HADITS KE 104 : HUKUM MENGIKAT RAMBUT KETIKA MANDI JUNUB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 104 :

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( قُلْتُ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ إِنِّي اِمْرَأَةٌ أَشُدُّ شَعْرَ رَأْسِي أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ اَلْجَنَابَةِ؟ وَفِي رِوَايَةٍ: وَالْحَيْضَةِ؟ فَقَالَ: لَا إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِي عَلَى رَأْسِكِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ ) رَوَاهُ مُسْلِم

Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku bertanya wahai Rasulullah sungguh aku ini wanita yang mengikat rambut kepalaku. Apakah aku harus membukanya untuk mandi jinabat؟ Dalam riwayat lain disebutkan: Dan mandi dari haid؟ Nabi menjawab: “Tidak tapi kamu cukup mengguyur air di atas kepalamu tiga kali.” Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Tidak boleh malu untuk bertanya soal hukum agama. Contohnya adalah salah seorang Ummul Mukminin, di mana beliau menanyakan kepada Rasulullah (s.a.w) suatu persoalan yang bertujuan mengetahui hukum syariat. Rasulullah (s.a.w) menjawabnya dengan jawapan yang tegas dan menetapkan baginya satu hukum syariat yang dapat dijadikan pegangan olehnya dan juga oleh kaum wanita sesamanya, yaitu tidak perlu menguraikan rambut ketika mandi junub dan mandi kerana haid. Tetapi makna hadits ini ditakwilkan oleh para ulama menurut pendapat mereka masing-masing. Ada di antara mereka yang mewajibkan menguraikan rambut ketika mandi haid dan nifas, tetapi tidak mewajibkannya ketika mandi junub (setelah bersetubuh). Ada pula diantara mereka yang tidak mewajibkannya secara mutlak. Sebahagian yang lain ada yang mewajibkan menguraikan rambut apabila air tidak dapat sampai ke dalam kulit kepalanya selain dengan menguraikannya dan bagi wanita yang tidak lebat rambutnya disunatkan untuk menguraikan rambutnya ketika mandi junub, sekalipun akarnya telah basah.

FIQH HADITS :

Seorang wanita tidak perlu menguraikan rambut ketika mandi junub dan mandi setelah haid atau nifas, jika dia yakin bahwa air dapat sampai ke akar rambut.

Dalam masalah masalah ini ulama berbeda pendapat :

Imam Malik mewajibkan menguraikannya jika air tidak dapat sampai ke akar rambut.

Imam Abu Hanifah mengatakan tidak wajib menguraikannya jika akarnya
sudah basah. Tetapi seorang lelaki diwajibkan menguraikan rambutnya meskipun air dapat meresap ke akar rambut menurut pendapat yang sahih.

Imam Ahmad mengatakan tidak wajib menguraikannya ketika mandi junub,
tetapi diwajibkan ketika mandi haid dan nifas. Beliau melandaskan pendapatnya dengan sabda Nabi (s.a.w) yang ditujukan kepada ‘Aisyah (r.a) ketika haid: “Huraikan rambutmu dan celah-celahilah!”

Imam al-Syafi’i berpendapat disunatkan menguraikannya bagi orang yang
berambut tidak lebat, tetapi diwajibkan menguraikannya jika ternyata air tidak
dapat sampai ke akarnya kecuali dengan cara menguraikannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s