J018. HUKUM PENGUBURAN MAYAT DENGAN BARANG BERHARGA

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum ustadz..

Ma’af pak kiyai kalo’ kami sering bertanya. begini pak kiyai, tiga minggu yg lalu ada kasus mayat terdampar di pinggir pantai gili raja dia seorang perempuan, dan identitasnya sampek sekarang belum diketahui, dan dia waktu di evakuasi ternyata memakai gelang emas dan mayat langsung di kubur. yang jadi pertanya’an :

1. bagaimana hukumnya mayat yang dikubur langsng sementara emasnya belum dilepas karena takut untuk melepasnya karna baubusuk yang menyengat?

2. beratkah beban pada simayat dalam kubur karena emasnya belum dibuka?

3. berdosakah bagi yang hidup karena mengubur mayat tanpa melepas emas yang dipakai?

Nb: mohon dgn hormat jawabannya karena ini kejadian yang nyata didesa kami gili raja. Terimakasih..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Jawaban untuk No.1 :

HUKUMNYA DITAFSHIL :

1. Bila dengan melepas itu menyebabkan hilangnya kehormatan mayit, maka tidak boleh dilepas / harom.

2. Kalau tidak menyebabkan hilangnya kehormatan mayit, maka tergantung kerelaan ahli waritsnya.

.إن كان خلعه يهتك حرمة الميت فيحرم خلعه وإلا فيوقف على إمضاء الورثة. أحكام الفقهاء ٢/٧٠

Jenazah muslim wajib disikapi sebagaimana orang hidup. Artinya tidak boleh dikerasi, tidak boleh dilukai, atau diambil bagian tubuhnya, apalagi dipatahkan tulangnya.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا

”Mematahkan tulang mayit, statusnya sama dengan mematahkan tulangnya ketika masih hidup.” (HR. Abu Daud 3207, Ibnu Majah 1616, dan yang lainnya).

Jawaban untuk No.2 :

para ulama menegaskan bahwa tidak wajib mengambil benda asing yang ada pada tubuh mayit. Makna tidak wajib, artinya keberadaan barang itu di tubuh mayit, tidak memberikan dampak apapun bagi mayit. Keberadaan benda itu, tidaklah menyebabkan si mayit menjadi tertahan amalnya atau dia tidak tenang, atau keyakinan semacamnya.

Dalam kitab al-Inshaf, al-Mardawi al-Hambali (w. 885 H) mengatakan,

قال في الفصول: وكذا لو رآه محتاجا إلى ربط أسنانه بذهب فأعطاه خيطا من ذهب، أو أنفا من ذهب فأعطاه فربطه به ومات، لم يجب قلعه ورده، لأن فيه مثلة

“Dalam kitab al-Fushul dinyatakan, jika ada orang yang butuh untuk mengikat giginya dengan emas, kemudian giginya diberi kawat emas. Atau dia butuh hidung emas, kemudian dia diberi hidung emas lalu diikat, kemudian dia mati, maka tidak wajib dilepas dan dikembalikan kepada pemiliknya. Karena melepasnya menyebabkan menyayat mayat.” (al-Inshaf, 2/555).

Hal yang sama juga disampaikan Ibnu Qudamah,

وإن جبر عظمه بعظم فجبر، ثم مات، لم ينزع إن كان طاهرا. وإن كان نجسا فأمكن إزالته من غير مثلة أزيل؛ لأنه نجاسة مقدور على إزالتها من غير مضرة. وإن أفضى إلى المثلة لم يقلع

”Jika tulang seseorang ditambal dengan tulang hewan lain, lalu ditutup, kemudian dia mati, maka tidak boleh dilepas, jika tulang pasangan itu suci. Namun jika tulang pasangan itu najis, dan memungkinkan untuk dihilangkan tanpa menyayat mayit maka dia diambil. Karena ini termasuk benda najis yang mampu untuk dihilangkan tanpa membahayakan. Namun jika harus menyayat mayit maka tidak perlu dilepas.” (al-Mughni, 2/404).

Jawaban untuk No.3 :

Tidak berdosa apabila tidak disengaja.

Bila mayit terlanjur dikubur sebelum gelang atau cincinnya dilepas maka ditafsil :

1.Bila gelang tersebut milik orang lain dan pemiliknya memintanya sedangkan ahli warits atau orang lain tidak ada yang menanggungnya maka harus dibongkar untuk mengambil cincin tersebut.

2.Kalau harta tersebut milik sendiri maka tidak usah dibongkar :

.فإن ابتلع مال نفسه فلا ينبش ولا يشق لاستهلاكه له حال حياته. إعانة الطالبين ٢/١٢٢ وكذا في مغني المحتاج ٢/٥٩

gelang yang ikut terkubur maka makam wajib digali dan diambil akiknya

الاقناع في حل ألفاظ أبى شجاع (1/ 194) وأما نبشه بعد دفنه وقبل البلى عند أهل الخبرة بتلك الارض للنقل وغيره كالصلاة عليه وتكفينه فحرام لان فيه هتكا لحرمته إلا لضرورة كأن دفن بلا غسل ولا تيمم بشرطه وهو ممن يجب غسله لانه واجب، فاستدرك عند قربه فيجب على المشهور نبشه وغسله إن لم يتغير أو دفن في أرض أو في ثوب مغصوبين وطالب بهما مالكهما فيجب النبش ولو تغير الميت ليصل المستحق إلى حقه، ويسن لصاحبهما الترك. ومحل النبش في الثوب إذا وجد ما يكفن فيه الميت وإلا فلا يجوز النبش كما اقتضاه كلام الشيخ أبي حامد وغيره.

قال الرافعي: والكفن الحرير أي للرجل كالمغصوب. قال النووي: وفيه نظر وينبغي أن يقطع فيه بعدم النبش انتهى. وهذا هو المعتمد لانه حق الله تعالى أو وقع في القبر مال وإن قل كخاتم فيجب نبشه وإن تغير الميت لان تركه فيه إضاعة مال

Atau di dalam kubur kejatuhan harta walau sedikit seperti cincin maka wajib menggali kembali walaupun mayatnya sudah hancur karena meninggalkan penggalian dalam masalah ini termasuk mensia-siakan harta.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s