HADITS KE 118 : PENJELASAN DARAH ISTIHADAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB HAID

HADITS KE 118 :

وَعَنْ حَمْنَةَ بِنْتِ جَحْشٍ قَالَتْ: ( كُنْتُ أُسْتَحَاضُ حَيْضَةً كَبِيرَةً شَدِيدَةً فَأَتَيْتُ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَسْتَفْتِيهِ فَقَالَ: إِنَّمَا هِيَ رَكْضَةٌ مِنَ اَلشَّيْطَانِ فَتَحَيَّضِي سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةً ثُمَّ اِغْتَسِلِي فَإِذَا اسْتَنْقَأْتِ فَصَلِّي أَرْبَعَةً وَعِشْرِينَ أَوْ ثَلَاثَةً وَعِشْرِينَ وَصُومِي وَصَلِّي فَإِنَّ ذَلِكَ يُجْزِئُكَ وَكَذَلِكَ فَافْعَلِي كَمَا تَحِيضُ اَلنِّسَاءُ فَإِنْ قَوِيتِ عَلَى أَنْ تُؤَخِّرِي اَلظُّهْرَ وَتُعَجِّلِي اَلْعَصْرَ ثُمَّ تَغْتَسِلِي حِينَ تَطْهُرِينَ وَتُصَلِّينَ اَلظُّهْرَ وَالْعَصْرِ جَمِيعًا ثُمَّ تُؤَخِّرِينَ اَلْمَغْرِبَ وَتُعَجِّلِينَ اَلْعِشَاءِ ثُمَّ تَغْتَسِلِينَ وَتَجْمَعِينَ بَيْنَ اَلصَّلَاتَيْنِ فَافْعَلِي. وَتَغْتَسِلِينَ مَعَ اَلصُّبْحِ وَتُصَلِّينَ. قَالَ: وَهُوَ أَعْجَبُ اَلْأَمْرَيْنِ إِلَيَّ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ اَلْبُخَارِيّ

Hamnah binti Jahsy berkata: Aku pernah mengeluarkan darah penyakit (istihadlah) yang banyak sekali. Maka aku menghadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam untuk meminta fatwanya. Beliau bersabda: Itu hanya gangguan dari setan. Maka anggaplah enam atau tujuh hari sebagai masa haidmu kemudian mandilah. Jika engkau telah bersih shalatlah 24 atau 23 hari berpuasa dan shalatlah karena hal itu cukup bagimu. Kerjakanlah seperti itu setiap bulan sebagaimana wanita-wanita yang haid. Jika engkau kuat untuk mengakhirkan shalat dhuhur dan mengawalkan shalat Ashar (maka kerjakanlah) kemudian engkau mandi ketika suci dan engkau shalat Dhuhur dan Ashar dengan jamak. Kemudian engkau mengakhirkan shalat maghrib dan mengawalkan shalat Isya’ lalu engkau mandi pada waktu subuh dan shalatlah. Beliau bersabda: Inilah dua hal yang paling aku sukai. Diriwayatkan oleh Imam Lima kecuali Nasa’i. Shahih menurut Tirmidzi dan hasan menurut Bukhari.

MAKNA HADITS :

Syariat Islam menjelaskan hukum-hukum haid dan istihadhah sekaligus memberi peluang bagi kaum wanita untuk menanyakan berbagai hukum yang berkaitan dengan ihwal agama mereka. Oleh sebab itu, Islam menjelaskan perbedaan antaradarah haid dengan darah isrihadhah dalam segi tempat keluar, ciri danhukumnya. Tidak hanya itu, syariat Islam juga telah membolehkan merekamenjamak antara dua sholat yang waktunya saling berdekatan antara satu sama lain seperti sholat dzuhur dengan sholat Asar, sholat Maghrib dengan sholat Isyak dalam bentuk jamak formal yaitu mengerjakan sholat yang pertama di akhir waktu dan sholat yang kedua di awal waktu. Dengan demikian, setiap sholat dikerjakan tetap di dalam waktunya masing-masing. Ini merupakan satu kemudahan yang diberikan oleh agama Islam kepada kaum muslimin.

FIQH HADITS :

1. Diperbolehkan mendengar suara wanita bukan muhrim jika ada keperluan.

2. Diperbolehkan bertanya mengenai perkara-perkara yang dianggap malu untuk ditanyakan berkaitan agama, meskipun masalah itu dikemukakan kepada orang besar.

3. Orang yang ditanya, betapapun tinggi kedudukannya, diwajibkan menjawab persoalan penanya dan mengemukakan jawaban yang mudah difahami.

4. Seseorang mestilah berpegang dengan agama dan ilmunya dalam perkara-perkara yang tidak diketahui melainkan dengan dirinya.

5. Syaitan mampu menguasai manusia antara lain dengan cara menyepaknya yang ditujukan kepada salah satu otot wanita yang dinamakan al-‘adzil hingga otot itu mengeluarkan darah hingga orang tersebut senantiasa merasa ragu dalam urusan agamanya.

6. Wanita yang beristihadhah ketika sedang haid diharamkan mengerjakan sholat.

7. Darah haid itu najis dan begitu pula darah istihadhah.

8. Wajib menghilangkan benda yang menjijikkan.

9. Darah istihadhah tidak mencegah seorang wanita dari terus mengerjakan sholat dan puasa, bahkan dia wajib mengerjakan keduanya.

10. Tidak boleh menjamak dua sholat secara jamak hakiki di dalam waktu salah satu di antara keduanya, kerana adanya uzur (penyakit).

11. Rasulullah (s.a.w) tidak memperbolehkan wanita yang beristihadhah menjamak dua sholat, malah baginda menyuruh supaya tetap mengerjakan sholat tepat pada waktunya meskipun sholat pertama dikerjakan pada penghujung waktunya dan sgolat kedua pula dikerjakan pada permulaan waktunya.

12. Seorang mufti hendaklah memberikan bimbingan kepada orang yang meminta fatwa untuk melakukan perkara yang terbaik baginya.

13. Kebiasaan yang dialami oleh kaum wanita hendaklah dijadikan panduan dalam hal-hal haid yang berkaitan dengan mereka.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s