D015 : NAMA-NAMA YANG DILARANG DALAM ISLAM

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bagamaimana hukumnya memberi nama anak dengan nama ajamiy (putra dan putri) ataupun nama selain ajamiy seperti halnya صاحب الرحمن؟

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Memberi nama pada anak merupakan hak/ kewajiban orang tua terhadap anaknya, akan tetapi nama yang diberikan orang tua terhadap anaknya tidak sembarang nama, melaikan ia harus memberikan nama yang sesuai dengan nama yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, ataupun perkataan atau pendapat ulama, baik nama itu ‘ajamiy ataupun nama yang bukan ‘ajamiy.

Oleh karena itu ulama memberikan batasan-batasan tentang hukumnya memberikan nama sebagaimana berikut:

1. Sunnah :

Adapun dasar hukum disunnahkannya memberikan nama , dengan nama yang bagus adalah berdasarkan hadits sebagaimana ibarah berikut:

Referensi :

الباجوري الجزء الثاني ص ٣٠٥
ويسن أن يحسن اسمه لخبر … إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ..

“Sunnah memberi nama yang bagus sesuai dengan hadits : kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian dan nama-nama bapakmu maka perbaguslah nama-nama kalian.

Dalam hadits yang lain dijelaskan

حق الولد على والده أن يحسن اسمه.

“Hak anak wajib atas orang tuanya adalah memberikan nama yang bagus. Artinya kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah dia harus memberi nama anaknya dengan nama yang bagus. walaupun ‘ajamiy asalkan termasuk dalam katergori nama-nama nabi hukumnya sunnah. Berbeda dengan nama ‘ajamiy yang bukan nama para Nabi.

وقال النبي صلي الله عليه وسلم “تسمو بأسماء الأنبياء وأحب الأسماء إلى الله عبد الله وعبد الرحمن، وأصدقها حارث وهمام.

Dan Rasulullah SAW, bersabda : “Namakanlah dengan nama-nama para Nabi, dan paling dicintainya nama kepada Allah adalah عبد الله وعبد الرحمن dan sejenisnya حارث dan همام.

Bahkan bisa juga lebih afdhol karena itu dimudlofkan/ yang disandarkan pada asma Allah (أسماء الحسني) yang mana dalam ilmu tata bahasa disebut susunan idlofah. Sedangkn yang dimaksud idlofah adalah menggabungkan dua kata sehingga menjadi makna tertentu
seperti nama عبد الله dan عبد الرحمن, asalnya adalah dua kata yaitu عبد (hamba) dan lafadh الله (Allah) kemudian (digabung)
sehingga menjadi (عبد الله )
Yang berarti “hamba nya Allah”.

Referensi :

تحفة الحبيب على شرح الخطيب ٢٥٦/٥
قوله : وأفضل الأسماء عبد الله، وعبد الرحمن صلى الله عليه وسلم : والحاصل أن أفضل الأسماء عبد الله ثم عبد الرحمن (صلى الله عليه وسلم). ثم ما أضيف بالعبودية باسم من أسمائه ثم محمد ثم أحمد ما الأفضل منهما. فأجاب : بأن الأفضل بالنسبة لأهل الأرض محمد لشهرته عندهم بذلك وبالنسبة لأهل السماء أحمد لذلك وقال شيخنا س ل محمد أفضل مطلقا برماوي على الغزي.

2. Makruh :

“Makruh hukum memberi nama dengan memudlofkan kata عبد pada nama Nabi, ini adalah qaul yang mu’tamad, sebagaimana ibarah berikut:

وتكره بعبد النبي على المعتمد وما وقع في حاشية الرحماني من حرمة التسمية بعبد النبي ضعيف،

3. Haram :

“Haram memberi nama dengan memuhlofkan عبد kepada nama selain nama Allah yang terdapat dalam asma’ul husna seperti:
عبد العاطي
Dengan alasan karena العاطي bukan dimaksudkan pada nama Allah.

وصريح كلام الرحماني التسمية بعبد العاطي لانه لم يرد في أسمائه تعالى وهي توقيفية، وتكره التسمية أيضا بكل ما يتطير بنفيه أو إثباته كما قاله الشارح: كبركة ورحمة وغنيمة ونافع ويسار وحرب ومرة وشهاب وشيطان وحمار، وتشتد الكراهة بنحو ست الناس أو ست العلماء أو ست القضاة أوست العرب أو سيد العلماء أو سيد الناس.

Temasuk bagian nama yang haram dipakai adalah memudlofkan عبد kepada selain asma’ul husna seperti halnya dimudlofkan pada ka’bah, api, Ali, hasan. Dengan alasan karena mengesankan pada kesyirikan/ sekutu, sebagaimana ibarah:

Referensi :

الباجورى الجزء الثاني ص ٣١٤ :
وتحرم تسمية عبد الكعبة أو عبد الحسن أو عبد علي وكذا كل ماأضيف إليه بالعبودية بغير أسمائه تعالى لإيهامه التشريك كما في شرح الرملى إلا عبد النبي فتكره التسمية به على المعتمد خلافا لما وقع في حاشية الرحماني من حرمة التسمية به.

Demikian juga dengan nama ” صاحب الرحمن” maka hukumnya adalah haram baik shohib diartikan teman ataupun milik/ punya. Dimana bilamana nama “Shohiburrahmaan” diartikan menjadi temannya Allah yang bersifat Maha Penyayang.
Jadi hukumnya haram dengan alasan karena Allah tidak mempunyai teman dan tidak ada satupun orang yang sekutu/menyerupainya. Maka dicegah adanya makhluk yang menyamai (yang mengimbangi) kepada Allah didalam Sifat-Sifat kemuliyaan dan keagungan Allah.

مراح لبيد تفسير النواوى جز٢ ص٤٧٢
{ولم يكن له كفوا احد} اي لايشاركه احد من صاحبة وغيرها فيمتنع أن يكون شيء من الموجودات مساويا له تعالى في شيء من صفات الجلال والعظمة.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penting memberi nama yang bagus karena seseorang dihari kiamat akan dipanggil dengan menyebutkan namanya. Bahkan dari saking pentingnya nama yang bagus, ulama mewajibkan mengubah nama yang haram dan mensunnahkan mengubah nama yang makruh.

Dengan kata lain bagi orang yang memakai nama yang haram maka hukumnya wajib dirubah. Begitu juga orang yang memakai nama yang makruh sunnah dirubah.

Referensi :

تنوير القلوب ص ٢٣٤
ويجب تغيير الأسماء المحرمة ويستحب تغيير الأسماء المكروهة

” Mengubah nama yang haram hukumnya wajib, dan nama-nama yang makruh adalah sunnah”.

والله تعالى أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s