HADITS KE 143 : AWAL PERMULAAN ADZAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 143 :

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ رضي الله عنه قَالَ: ( طَافَ بِي -وَأَنَا نَائِمٌ- رَجُلٌ فَقَالَ: تَقُولُ: “اَللَّهُ أَكْبَرَ اَللَّهِ أَكْبَرُ فَذَكَرَ اَلْآذَانَ – بِتَرْبِيع اَلتَّكْبِيرِ بِغَيْرِ تَرْجِيعٍ وَالْإِقَامَةَ فُرَادَى إِلَّا قَدْ قَامَتِ اَلصَّلَاةُ – قَالَ: فَلَمَّا أَصْبَحْتُ أَتَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: “إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٍّ…” ) اَلْحَدِيثَ. أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ.

وَزَادَ أَحْمَدُ فِي آخِرِهِ قِصَّةَ قَوْلِ بِلَالٍ فِي آذَانِ اَلْفَجْرِ: ( اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ )

وَلِابْنِ خُزَيْمَةَ: عَنْ أَنَسٍ قَالَ: ( مِنْ اَلسُّنَّةِ إِذَا قَالَ اَلْمُؤَذِّنُ فِي اَلْفَجْرِ: حَيٌّ عَلَى اَلْفَلَاحِ قَالَ: اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ )

Abdullah Ibnu Zaid Ibnu Abdi Rabbih berkata: Waktu saya tidur (saya bermimpi) ada seseorang mengelilingi saya seraya berkata: Ucapkanlah “Allahu Akbar Allahu Akbar lalu ia mengucapkan adzan empat kali tanpa pengulangan dan mengucapkan qomat sekali kecuali “qod Qoomatish sholaat”. Ia berkata: Ketika telah shubuh aku menghadap Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya ia adalah mimpi yang benar.” Hadits dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah.

Ahmad menambahkan pada akhir hadits tentang kisah ucapan Bilal dalam adzan Shubuh: “Shalat itu lebih baik daripada tidur.”

Menurut riwayat Ibnu Khuzaimah dari Anas r.a ia berkata: Termasuk sunnah adalah bila muadzin pada waktu fajar telah membaca hayya ‘alash sholaah ia mengucapkan assholaatu khairum minan naum

MAKNA HADITS :

Ketika tahun pertama Nabi (s.a.w) berhijrah ke Madinah, kekuatan kaum muslimin semakin mantap dan para pengikutnya kian bertambah ramai. Mereka mula bermusyawarah mengenai sesuatu yang patut mereka gunakan untuk memberitahu masuknya waktu solat yang dengan demikian mereka segera berkumpul di dalam untuk mengerjakan solat secara berjamaah.

Ada di antara mereka yang mencadangkan nyala api, loceng dan terompet, tetapi di antara sekian saranan tersebut tidak ada satu pun daripadanya yang dapat
diterima, kerana kesemua itu merupakan syiar yang diambil daripada agama Majusi, Nasrani mahupun Yahudi. Setelah tidak memperoleh kata sepakat, merekapun kembali pulang menuju tempat tinggal mereka masing-masing, sedangkan mereka masih lagi memikirkan masalah yang mereka hadapi ini.

Abdullah ibn Zaid dalam mimpinya melihat seorang lelaki sedang membawa loceng. Abdullah berkata kepadanya: “Apakah engkau berminat menjual loceng itu?” Lelaki itu berkata: “Apa yang hendak engkau lakukan dengan loceng ini?”
Abdullah menjawab: “Untuk menyeru kaum muslimin melakukan solat.” Lelaki itu berkata: “Maukah engkau jika aku tunjukkan kepada sesuatu yang lebih baik daripada itu?” Abdullah menjawab: “Tentu.” Lelaki itu berkata: “Ucapkanlah,
“Allahu Akbar, Allahu Akbar,” hingga akhir azan.”

FIQH HADITS :

1. Dianjurkan mengutamakan urusan agama dan tidak menggunakan syiar agama ahli kitab.

2. Disyariatkan bermusyawarah dalam menangani masalah-masalah penting dan orang yang dipimpin hendaklah mengemukakan pendapat dan cadangan kepada pemimpin demi kemaslahatan umum, kemudian pemimpin dikehendaki melakukan apa-apa yang boleh mendatangkan kemaslahatan itu.

3. Nabi (s.a.w) diperbolehkan untuk melakukan ijtihad.

4. Disyariatkan azan. Hikmahnya adalah menegakkan syi’ar Islam, memberitahu masuknya waktu sholat di tempat di mana adzan itu dikumandangkan dan sebagai seruan untuk melaksanakan sholat secara berjamaah.
Adzan mencakupi akidah iman dan mengandungi kedua jenisnya, iaitu ‘aqliyat dan sam’iyat. Adzan diawali dengan menetapkan Zat Allah dan segala sesuatu yang berhak disandangnya berupa kesempurnaan dan kemahasucian dan lawan-lawan-Nya dengan mengucapkan Allahu Akbar. Kemudian ditetapkan pula sifat keesaaan dan menafikan segala bentuk sekutu yang mustahil bagi Allah (s.w.t). Ini merupakan tiang iman dan tauhid yang mesti didahulukan ke atas semua kewajipan agama yang lain.

Setelah itu ditetapkan pula bukti-bukti yang menetapkan kenabian sekali mengakui kerasulan Nabi Muhammad (s.a.w). Ini merupakan asas kedua setelah syahadah al-tauhid. Dengan keyakinan seperti ini, maka sempurnalah kesemua akidah ‘aqliyyah. Kemudian dikumandangkan kalimat yang menyeru kaum muslimin untuk mengerjakan ibadah, iaitu ibadah untuk mengerjakan solat. Ini disebut setelah mengakui kerasulan dan kenabian Muhammad (s.a.w) kerana kewajipan ibadah itu diketahui berdasarkan ajaran Nabi (s.a.w), bukan berlandaskan akal.
Sesudah itu kaum muslimin diseru untuk menuju kejayaan dan
kebahagiaan, yaitu perkara-perkara yang boleh menghantarkan mereka menuju kejayaan dan keabadian dalam nikmat yang berkekalan. Di dalam seruan ini terdapat satu isyarat dimana kaum muslimin perlu senantiasa mengingati negeri akhirat berupa hari kebangkitan dan hari pembalasan.
Kemudian kalimat-kalimat ini diulangi semasa dalam iqamah sholat untuk memberitahukan bahwa sholat hendak dimulai. Pemberitahuan ini
mengandung makna yang mengukuhkan keimanan. Mengulangi semula sebutan kalimat-kalimat tersebut ketika hendak mengerjakan sholat supaya hati dan lisan seseorang mengetahui apa yang hendak dikerjakannya. Dengan iman
itu, dia merasakan keagungan ibadah yang hendak dikerjakan, merasakan keagungan Allah yang disembahnya dan bakal memperoleh pahala yang
berlimpah daripada-Nya.
Ulama berbeda pendapat mengenai hukum azan. Imam Ahmad mengatakan bahwa adzan adalah fardu kifayah ketika hendak mengerjakan sholat lima waktu secara ada’an, namun sholat fardu lima waktu yang dilakukan secara qadha’an tidak diperlukan azan. Azan dilakukan oleh kaum lelaki yang hendak mengerjakan sholat berjamaah, baik di perkotaan maupun di kampung, dan dalam keadaan bermukim, bukannya dalam keadaan bermusafir. Imam al-Syafi’i dan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hukum adzan adalah sunat bagi seseorang yang mengerjakan sholat fardu dalam keadaan bersendirian dan bagi mereka yang mengerjakan secara berjamaah, baik ketika bermukim maupun ketika bermusafir.

Imam Malik berpendapat bahwa hukum azan itu sunat kifayah bagi
mereka yang hendak mengerjakan sholat secara berjamaah supaya mereka segera untuk berhimpun di masjid dan demikian pula di tempat-tempat yang
biasanya dilaksanakan sholat berjamaah di dalamnya. Imam Malik mengatakan wajib kifayah mengumandangkan azan bagi orang yang berada di bandar.

5. Tukang adzan disunatkan mempunyai suara yang kuat dan merdu.

6. Disyariatkan membaca tatswib (الصلاة خير من النوم) ketika mengumandangkan adzan Subuh secara khusus, namun solat-solat fardu selain itu tidak perlu membaca tatswib.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s