HADITS KE 149 : ADZAN UNTUK SHOLAT YANG SUDAH BERLALU WAKTUNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 149 :

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةٌ فِي اَلْحَدِيثِ اَلطَّوِيلِ ( فِي نَوْمهمْ عَن الصَّلَاةِ – ثُمَّ أَذَّنَ بِلَالٌ فَصَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَمَا كَانَ يَصْنَعُ كُلَّ يَوْمٍ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Qotadah Radliyallaahu ‘anhu dalam hadits yang panjang tentang mereka yang meninggalkan shalat karena tidur kemudian Bilal adzan maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam shalat sebagaimana yang beliau lakukan setiap hari. Hadits riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Ulama berselisih pendapat dalam azan disyariatkan untuk menunjukkan masuknya waktu solat atau disyariatkan untuk menunjukkan masuknya waktu solat sekaligus mengajak kaum muslimin mengerjakan solat fardu secara berjamaah. Dari sini muncul perbedaan pendapat di kalangan mereka baik azan disyariatkan untuk mengerjakan solat yang sudah berlalu waktunya dan mengerjakan solat yang terlupakan.

Jumhur ulama mengatakan bahwa azan disyariatkan untuk mengerjakan solat yang telah berlalu waktunya. Pendapat ini merupakan qaul qadim Imam al-Syafi’i dengan berlandaskan kepada hadis ini. Imam al-Syafi’i di dalam qaul jadid pula mengatakan bahwa tidak perlu dikumandangkan azan untuk mengerjakan solat yang telah berlalu waktunya. Jika solat yang telah terlewatkan waktunya dikerjakan bersamaan dengan solat yang masih wujud di dalam waktunya, maka azan untuk solat yang masih wujud waktunya itu sudah mencukupi. Beliau mengemukakan dalil dengan hadis yang menceritakan Nabi (s.a.w) mengerjakan solat yang telah berlalu waktunya ketika perang al-Khandaq. Di sini baginda hanya mengumandangkan iqamah dan tidak menyuruh supaya azan dikumandangkan memandangkan waktunya telah berlalu.

FIQH HADITS :

Disyariatkan mengumandangkan azan untuk mengerjakan solat yang waktunya sudah berlalu kerana tertidur dan demikian pula dengan solat yang terlupa untuk mengerjakannya kerana kedua keadaan ini mempunyai kesamaan hukum sebagaimana yang ditegaskan dalam sabda Nabi (s.a.w):

من نام على صلاة فنسيها فليصلها إذا ذكرها

“Barang siapa yang tertidur hingga tidak mengerjakan sholat atau dia lupa mengerjakannya, maka hendaklah dia segera melakukannya apabila ingat (atau terjaga dari tidurnya).”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s