N057. ANTARA WALI HAKIM DAN WALI AQROB

ANTARA WALI HAKIM DAN WALI AQROB

Dalam perkawinan, Islam menggariskan suatu aturan bahwa orang yang berhak menikahkan adalah wali mempelai perempuan, sehingga tidak boleh seorang perempuan menikahkan dirinya sendiri atau orang lain yang tidak punya hubungan kerabat. Wali yang dimaksud adalah; ayah, kakek, saudara laki-laki sekandung (se-ayah dan se-ibu), saudara laki-laki se-ayah, paman (saudaranya ayah), anaknya paman (saudaranya ayah). Kemudian apabila orang-orang diatas tidak ada, maka wilayah annikah pindah kepada ahli ashobah binnafsih, yaitu; setiap orang laki-laki yang punya hubungan kerabat dan diantara mereka tidak dipisah orang perempuan, mereka adalah; anak laki-laki, cucu laki-laki, ayah, kakek, saudara laki-laki yang sekandung, saudara laki-laki yang se-ayah, anak laki-laki dari saudara laki-laki yang sekandung, anak laki-laki dari saudara laki-laki yang se-ayah, paman yang sekandung dengan ayah, paman yang se-ayah dengan bapak, anaknya paman yang sekandung, anaknya paman yang se-ayah dengan bapak.
Daftar wali nikah diatas adalah urut-urutan orang yang berhak menikahkan anak perempuannya. Orang yang berada pada urutan yang paling atas disebut wali aqrob, sedangkan orang yang paling jauh dalam daftar urutan disebut wali ab’ad.

Referensi :

[1] المفتاح في النكاح /16-17

(الولي في النكاح واحق الأولياء بالتزويج) اولى اللأولياء واحقهم بالتزويج :

الأب
ثم الجد ابو الأب وان علا
ثم الأخ الشقيق
ثم الأخ لأب
ثم ابن الأخ الشقيق
ثم ابن الأخ لأب وان سفل
ثم العم الشقيق
ثم العم لأب
ثم ابن العم الشقيق
ثم ابن العم لأب وان سفل
ثم عم الأب
ثم ابنه وان سفل
ثم عم الجد
ثم ابنه وان سفل
ثم عم ابي الجد
ثم ابنه وان سفل

وهكذا على هذه الترتيب في سائر العصبات، ويقد الشقيق منهم على من كان لأب، فاذا لم يوجد احد من عصبات النسب فالمعتق فعصبته ثم معتق المعتق ثم عصبته ثم الحاكم او نائبه

*ترتيب الأولياء*
الاب : *بفاء*
الجد – *امبا*
(وإن علا) *بوجؤ ……*
الاخ الشقيق: *تريتان تفأ*
الاخ لاب: *تريتان توغكل بفأ*
ابن الاخ الشقيق: *فناكن تفأ*
ابن الاخ لاب- *فناكن توغكل بفأ*
وان سفل- *كومفوي فناكن ….*
العم الشقيق: *مجادئ تفأ*
العم لاب : *مجادئ توغكل بفأ*
ابن العم الشقيق: *سفوفوه تفأ*
ابن العم لاب- *سفوفوه توغكل بفأ*
وان سفل: *فناكن سفوفوه….*
عم الاب : *مجادئنه بفأ/امبا عيريغ*
ابن عم الاب: *مجادئ سفوفوه*
وان سفل : *دوفوفوه ……*
عم الجد : *مجادئنه أمبا/ بوجؤ عيريغ*
ابن عم الجد: *امبا سفوفوه*
وان سفل : *مجادئ دوفوفوه، فس انأنه (تلوفوفوه)*
عم ابي الجد : *مجادئنه بفأنه امبا/ جوجؤ عيريغ*
ابن عم ابي الجد: *أمبا دوفوفوه* – وان سفل: *مجادئ تلوفوفوه، فس انأنه ( امفأ فوفوه)*
*المفتاح لباب النكاح*
الكاتب نوائي شفيع الدين تدّان:

نعم، لوكان ابن العم لاب أخا لام قدم على ابن العم الشقيق ثم عم الاب الشقيق ثم عمه لاب ثم ابن عم الأب كذالك
والله اعلم بالصواب

(باكيّان ولي نكاح سي غلّي كا ولي أبعد)

وعَشْرةٌ سَوالبُ الولايَـة ** كُفرٌ , وفسقٌ , والصِّبا لغَـاية
رِقٌّ , جُنونٌ مُطبِقٌ , أوِ الخَبَلْ ** وأَخْرَسٌ جَوابُهُ قدِ اقْتَفَلْ
ذُو عَتَـهٍ , نظِيرُهُ مُبَرسَمُ ** وأبلَهٌ لاَ يَهتَدِي , وأبكَـمُ

(باكيّان سي غلّي كا حاكم)

وَقَدْ جَمَعَ بَعْضُهُمْ الْمَوَاضِعَ الَّتِي يُزَوِّجُ فِيهَا الْحَاكِمُ فِي أَبْيَاتٍ فَقَالَ:

وَتُزَوِّجُ الْحُكَّامُ فِي صُوَرٍ أَتَتْ … مَنْظُومَةً تَحْكِي عُقُودَ جَوَاهِرِ
عَدَمُ الْوَلِيِّ وَفَقْدُهُ وَنِكَاحُهُ … وَكَذَاكَ غَيْبَتُهُ مَسَافَةَ قَاصِرِ
وَكَذَاكَ إغْمَاءٌ وَحَبْسٌ مَانِعٌ … أَمَةً لِمَحْجُورٍ تَوَارِي الْقَادِرِ

إحْرَامُهُ وَتَعَزُّزٌ مَعَ عَضْلِهِ … إسْلَامُ أُمِّ الْفَرْعِ وَهِيَ لِكَافِرِ

https://drive.google.com/file/d/1ioFmqWKbW-YrUF4gtNEJrLM8r_wf4IpQ/view?usp=drivesdk

OTORITAS WALI HAKIM

1. الاقناع في حل ألفاظ أبي شجاع – (ج 2 / ص 155)
والأوجه إطلاق المتن لأن الحاكم يزوج للضرورة وقضاؤه نافذ أمام الإمام الأعظم فلا يقدح فسقه لأنه لا ينعزل به فيزوج بناته وبنات غيره بالولاية العامة تفخيما لشأنه فعليه إنما يزوج بناته إذا لم يكن لهن ولي غيره كبنات غيره

Menurut pendapat Awjah, otoritas hakim dalam mengawinkan perempuan itu bersifat dhorurot, kekuasaannya sebagai kepanjangan tangan dari Imam a’dhom (presiden), sehingga ia tidak cacat hukum hanya karena berbuat fasiq dan bisa dicopot kekuasaanya. Ia boleh mengawinkan anaknya sendiri atau anak orang lain, karena kekuasaanya itu bersifat umum, ia boleh mengawinkan anak orang lain apabila tidak ada wali dari kerabat yang bisa mengawinkannya.

2. تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 30 / ص 26)
( وَلَوْ غَابَ الْأَقْرَبُ إلَى مَرْحَلَتَيْنِ ) أَوْ أَكْثَرَ وَلَمْ يُحْكَمْ بِمَوْتِهِ وَلَا وَكَّلَ مَنْ يُزَوِّجُ مُوَلِّيَتَهُ إنْ خُطِبَتْ فِي غَيْبَتِهِ ( زَوَّجَ السُّلْطَانُ ) لَا الْأَبْعَدُ وَإِنْ طَالَتْ غَيْبَتُهُ وَجُهِلَ مَحَلُّهُ وَحَيَاتُهُ لِبَقَاءِ أَهْلِيَّةِ الْغَائِبِ وَالْأَصْلُ إبْقَاؤُهَا وَالْأَوْلَى أَنْ يَأْذَنَ لِلْأَبْعَدِ أَوْ يَسْتَأْذِنَهُ لِيَخْرُجَ مِنْ الْخِلَافِ.

Apabila wali mempelai perempuan yang terdekat sedang pergi pada radius dua marhalah (80 Km) atau lebih, sedang ia belum meninggal dunia atau tidak menyerahkan pernikahan puterinya yang telah dilamar kepada orang lain, maka hakim boleh menikahkanya. Sedangkan wali yang jauh (ab’ad) maka tidak diperbolehkan mengawinkannya, meskipun wali aqrob (yang terdekat) berada di tempat yang sangat jauh dan tidak diketahui tempat tinggalnya dan apakah ia masih hidup atau tidak. Demikian, karena yang berhak menikahkan adalah hakim (pihak KUA) dan hak bagi wali aqrob masih belum hilang. Namun demikian, yang lebih utama hendaklah hakim meminta izin (konfirmasi) kepada wali ab’ad sebagai solusi dari khilaf ulama’ yang mewajibkan pensyaratan meminta izin.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s