M074. HUKUM DAN PROBLEMATIKA ARISAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskripsi Masalah :
Arisan pada prinsipnya termasuk tolong-menolong antar sesama yang sudah menjadi kebiasaan di masyarakat. Dalam praktiknya, para anggota mengadakan kesepakatan jumlah nominal iuran, waktu pelaksanaan, bentuk arisan (uang tunai/barang/jasa seperti biaya naik haji) dan sebagainya. Untuk menentukan pemenang (pengambil giliran) dilakukan dengan cara mengundi nomor peserta.

Salah satu tokoh agama berpendapat bahwa dalam praktik arisan tersebut terdapat unsur untung rugi yang mengakibatkan tidak bolehnya praktik tersebut, karena masa tenggang (giliran pemenang arisan) antara anggota yang satu dengan lannya kadang-kadang bersamaan dengan berubahnya nilai mata uang/barang/jasa sehingga yang mendapatkan giliran akhir tentunya dirugikan.

Pertanyaan :

a. Dinamakan akad apakah praktik arisan tersebut?

b. Benarkah pendapat tokoh agama tersebut dengan pertimbangan hukum seperti tersebut di atas?

c. Bolehkah dalam arisan barang/jasa jumlah nominal iuran disesuaikan dengan harga barang/ongkos jasa yang berlaku pada waktu pelaksanaan pegundian arisan?

d. Apabila di pertengahan ada salah satu peserta meninggal dunia, sedangkan beliau meninggalkan anak yatim dan sisa dari arisan tsb tinggal separu perjalanan, apakah sisa arisan itu masuk katagori hutang utk di bayar? atau yg bayar harus anak yatimnya atau ada solusi lain utk membayar sisa dari arisan tsb.

Mohon jawaban sekaligus refrensi yg jelas. terimakasih

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

a. Termasuk akad qardlu (utang piutang)

b. Tidak benar, kerena akad qardlu mengandung unsur tolong menolong sehingga tidak memperhitungkan unsure untung rugi.

c. Boleh

Referensi :
1. al-Mahally, Juz II, Hal. 287
2. Hasyiyatan Qalyuby wa ‘Amirah, Juz II, Hal. 321
3. Mughni, Juz II, Hal. 118
4. Nihayah al-Muhtaj, Juz IV, Hal. 225
5. Al-Majmu’, Juz XIII, Hal. 174
6. Hamisy I’anah al-Thalibin, Juz III, Hal. 53

Referensi :

وعبارته :

1. الاقراض هو تمليك الشيئ على ان يرد بدله اهـ (المحلى، جـ 2، صـ 287)

2. فرع : الجمعة المشهورة بين النساء بأن تأخذ امرأة من كل واحدة من جماعة منهن قدرا معينا فى كل جمعة او شهر وتدفعه لواحدة بعد واحدة الى اخرهن جائزة كما قاله الولي العراقي (حاشيتان قليوبى وعميرة، جـ 2، صـ 321)

3. قال فى الروضة ولا يجوز اقراض المنافع لانه لا يجوز السلم فيها ويؤخذ من تعليله ان محله فى منافع العين المعينة اما التي فى الذمة فيجوز اقراضها لجواز السلم فيها (مغني، جـ2، صـ 118)

4. فى الروضة هنا عن القاضى منع قرض المنفعة لانتفاع السلم فيها وفيها كاصلها وفى الاجارة جوازهما وجمع الاسنوي وغيره اخذا من كلامهما بحمل المنع على منفعة فى الذمة واعتمده الوالد رحمه الله تعالى فى فتاويه (نهاية المحتاج، جـ 4، صـ 225)

5. اذا اقترضه الخبز وشرط ان يرد عليه الخبز ففيه وجهان احدها يجوز لان مبناه عى الرفق فلو منعناه من رد الخبز شق وضاق والثانى لا يجوز اذا اشترط صار بيع خبز بخبز وذلك لا يجوز (المجموع، جـ 14، صـ 174)

6. ولا يلزم المقترض الدفع فى غير محل الاقراض الا اذا لم يكن لحمله مؤنة أوله مؤنة وتحملها المقرض لكن له مطالبة فى غير محل الاقراض بقيمة بمحل الاقراض وقت المطالبة فيما لنقله مؤنة ولم يتحملها المقرض لجواز الاعتياض عنه (هامش اعانة الطالبين، جـ 3، صـ 53)

Dasar Hukum diperbolehkannya ARISAN

(فَرْعٌ) الْجُمُعَةُ الْمَشْهُوْرَةُ بَيْنَ النِّسَاءِ بِاَنْ تَأْخُذَ اِمْرَأَةٌ مِنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُنَّ قَدْرًا مُعَيَّنًا فىِ كُلِّ جُمُعَةٍ اَوْ شَهْرٍ وَتَدْفَعُهُ لِوَاحِدَةٍ بَعْدَ وَاحِدَةٍ اِلىَ آَخِرِهِنَّ جَائِزَةٌ كَمَا قَالَهُ الْوَلِيُّ الْعِرَاقِيُّ . القليوب ص 258 الجزء 2

(Cabang) Hari Jum’at yang termasyhur di antara para wanita, yaitu apabila seseorang wanita mengambil dari setiap wanita dari jama’ah para wanita sejumlah uang tertentu pada setiap hari Jum’at atau setiap bulan dan menyerahkan keseluruhannya kepada salah seorang, sesudah yang lain, sampai orang terakhir dari jamaah tersebut adalah boleh sebagaimana pendapat Al-Wali al-‘Iraqi. [ AlQolyuuby II/258 ].

d. Karena arisan itu termasuk aqad hutang piutang (al iqrod), sedangkan aqad iqrod adalah

(المحلي,جز ٢,صحيفۃ ٢٨٧)
الاقراض هو تمليك الشيء علی ان يرد بدله

Iqrod: Memberikan uang agar supaya orang yang diberi uang itu mengembalikan gantinya uang yang diberikan, maka peserta arisan yang meninggal dunia (yang meninggalkan anak yatim) wajib membayar sisa arisan yang tinggal separuh (setengah) perjalanan. Uang pembayarannya itu diambilkan dari tirkah (harta peninggalan) peserta yang meninggal dunia. Alasannya ialah: Karena arisan sama dengan hutang.

Adapun anak yatim tidak boleh disuruh membayar arisan dengan menggunakan uang anak yatim tersebut. Alasannya ialah karena takut termasuk memakan harta anak yatim-yang diharamkan

Dalil diharamkannya memakan harta anak yatim adalah:

(ارشاد العباد,صحيفۃ ٨٣)
واخرج الشيخان عن ابي هريرۃ قال:,قال رسول الله صلی الله عليه وسلم: (اجتنبوا السبع الموبقات,قالوا: يا رسول الله وما هي,قال: الشرك بالله والسحر وقتل النفس التي حرم الله الا بالحف واكل الربا واكل مال اليتيم والتولي يوم الزحف وقذف المحصنات الغافلات الموءمنات)

Artinya: Rosululloh SAW. bersabda: Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang merusak/ yang membinasakan. Para sahabat bertanya: Ya Rosulalloh,apakah tujuh perkara yang merusak (yang membinasakan) itu?. Rosululloh berkata:
(1)Musyrik kepada Allah.
(2)Sihir.
(3)Membunuh orang lain (yang diharamkan oleh Allah untuk membunuhnya).
(4)Memakan riba.
(5)Memakan harta anak yatim.
(6)Melarikan diri pada waktu peperangan.
(7)Menuduh berzina kepada perempuan yang mu’minat.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s