M076. HUKUM PENGOBATAN LAIN JENIS

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Bagaimana hukumnya dokter yang memeriksa pasien lawan jenis.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Dalam pandangan literasi fikih diperbolehkan untuk menangani/memeriksa pasien wanita dengan memenuhi syarat sebagai berikut:

1. Pemeriksaan dilakukan menghadirkan mahram baik suami, paman atau orang yang terpercaya (tsiqqoh).

2. Melihat anggota tubuh sesuai kebutuhan dalam pemeriksaan (tidak melihat anggota tubuh yang tidak dibutuhkan)
3. Tidak ada dokter ahli lain yang sejenis

4. Aman dari fitnah.

Berikut Ibaratnya dalam kitab Fatawa al Azhar juz 10 halaman 57:

فتاوى الأزهر (10/ 57
هل يجوز أن يتولى علاج المرأة وتوليدها رجل أجنبى؟
من القواعد الفقهية أن الضرورات تبيح المحظورات ، ومعلوم أن المرأة لا يجوز لها أن تكشف عن شىء من جسمها لرجل أجنبى-فيما عدا الوجه والكفين على تفصيل فى ذلك – وبالتالى لا يجوز اللمس بدون حائل ، أما عند الضرورة المصورة بعدم وجود زوج أو محرم أو امرأة مسلمة تقوم بذلك فلا مانع من النظر واللمس ، مع مراعاة القاعدة الفقهية الأخرى وهى: أن الضرورة تقدر بقدرها.
ولهذا الاستثناء احتياطات وآداب نورد فيها بعض ما قاله العلماء .

جاء فى كتاب “الإقناع فى شرح متن أبى شجاع” للشيخ الخطيب فى فقه الشافعية “ج 2 ص 120” أن النظر للمداواة يجوز إلى المواضع التى يحتاج إليها فقط ، لأن فى التحريم حينئذ حرجا ، فللرجل مداواه المرأة وعكسه ، وليكن ذلك بحضرة محرم أو زوج أو امرأة ثقة إن جوزنا خلوة أجنبى بامرأتين وهو الراجح ، ويشترط عدم امرأة يمكنها تعاطى ذلك من امرأة ، وعكسه كما صححه كما فى زيادة “الروضة” وألا يكون ذميًا مع وجود مسلم ، وقياسه -كما قال الأذرعى- ألا تكون كافرة أجنبية مع وجود مسلمة على الأصح ، ولو لم نجد لعلاج المرأة إلا كافرة ومسلما فالظاهر أن الكافرة تقدم ، لأن نظرها ومسها أخف من الرجل ، بل الأشبه عند الشيخين أنها تنظر منها ما يبدو عند المهنة، بخلاف الرجل. وقيد -فى الكافى- الطبيب بالأمين ، فلا يعدل إلى غيره مع وجوده ، ثم قال :
وشرط الماوردى أن يأمن الافتتان ولا يكشف إلا قدر الحاجة ، وفى معنى ما ذكر نظر الخاتن إلى فرج من يختنه ، ونظر القابلة إلى فرج التى تولدها . ويعتبر فى النظر إلى الوجه والكفين مطلق الحاجة، وفى غيرهما -ما عدا السوأتين- تأكدها ، بأن يكون مما يبيح التيمم كشدة الضنا ، وفى السوأتين مزيد تأكدها ، بألا يعد التكشف بسببها هتكا للمروءة

Apakah seorang lelaki ajnabi boleh melakukan pengobatan terhadap perempuan dan proses melahirkan (persalinan)?

Adapun jawaban sebagai berikut:
Dari sebagian kaidah-kaidah fikih yaitu kaidah bahwa darurat bisa memperbolehkan pekara-perkara yang dilarang. Telah diketahui bahwa seorang perempuan tidak boleh baginya membuka bagian dari tubuhnya dari lelaki ajnabi kecuali wajah dan kedua telapak tangan dengan perincian pada hukum tersebut. Selain itu juga tidak boleh bagi lelaki ajnabi menyentuh tanpa adanya penghalang.

Adapun ketika dalam keadaan darurat yang digambarkan dengan tidak adanya suami atau laki-laki mahram atau wanita muslimah yang melakukannya (dalam artian pengobatan), maka tidak ada penghalang untuk melihat dan menyentuh dengan menjaga kaidah bahwa darurat itu dikira-kirakan sesuai kadarnya.

Sebaiknya dalam pengobatan itu menghadirkan mahram, suami atau wanita yang terpercaya, ketika kita mengikuti pendapat ulama’ yang memperbolehkan khalwat seorang lelaki dengan dua orang perempuan. Selain itu, disyaratkan pula, pada keadaan itu tidak ada dokter perempuan yang ahli atau sebaliknya. Ada keterangan tambahan dalam kitab ar Raudhoh, bahwa dokternya bukan termasuk golongan dzimmi selama ada seorang muslim, dan persyaratan yang lainnya.

Dalam kitab fatawa al Azhar tersebut berdasarkan keterangan di kitab Iqna’ Syarh Matan Abi Syuja’ juz 2 halaman 120 karya Syaikh Khatib, yaitu memperbolehkan melihat anggota badan perempuan sesuai kebutuhan saja dalam konteks pengobatan baik itu lelaki kepada perempuan atau sebaliknya, karena ketika keadaan tersebut diharamkan akan menyebabkan akibat yang lebih luas.

تحفة المحتاج في شرح المنهاج 29/ 262
( وَيُبَاحَانِ ) أَيْ النَّظَرُ وَالْمَسُّ ( لِفَصْدٍ وَحِجَامَةٍ وَعِلَاجٍ ) لِلْحَاجَةِ لَكِنْ بِحَضْرَةِ مَانِعِ خَلْوَةٍ كَمَحْرَمٍ ، أَوْ زَوْجٍ أَوْ امْرَأَةٍ ثِقَةٍ لِحِلِّ خَلْوَةِ رَجُلٍ بِامْرَأَتَيْنِ ثِقَتَيْنِ يَحْتَشِمُهُمَا وَلَيْسَ الْأَمْرَدَانِ كَالْمَرْأَتَيْنِ خِلَافًا لِمَنْ بَحَثَهُ ؛ لِأَنَّ مَا عَلَّلُوا بِهِ فِيهِمَا مِنْ اسْتِحْيَاءِ كُلٍّ بِحَضْرَةِ الْأُخْرَى لَا يَأْتِي فِي الْأَمْرَدَيْنِ كَمَا صَرَّحُوا بِهِ فِي الرَّجُلَيْنِ وَبِشَرْطِ عَدَمِ امْرَأَةٍ تُحْسِنُ ذَلِكَ كَعَكْسِهِ ، وَأَنْ لَا يَكُونَ غَيْرَ أَمِينٍ مَعَ وُجُودِ أَمِينٍ وَلَا ذِمِّيًّا مَعَ وُجُودِ مُسْلِمٍ ، أَوْ ذِمِّيَّةٍ مَعَ وُجُودِ مُسْلِمَةٍ وَبَحَثَ الْبُلْقِينِيُّ أَنَّهُ يُقَدَّمُ فِي الْمَرْأَةِ مُسْلِمَةٌ فَصَبِيٌّ مُسْلِمٌ غَيْرُ مُرَاهِقٍ فَمُرَاهِقٌ فَكَافِرٌ غَيْرُ مُرَاهِقٍ فَمُرَاهِقٌ فَامْرَأَةٌ كَافِرَةٌ فَمَحْرَمٌ مُسْلِمٌ فَمَحْرَمٌ كَافِرٌ فَأَجْنَبِيٌّ مُسْلِمٌ فَكَافِرٌ ا هـ

Dalam keterangan ibarat di atas, yaitu dalam kita Tuhfah al Muhtaj fi Syarhi al Manhaj juz 29 halaman 262, bahwa diperbolehkan laki-laki dan perempuan melihat dan memegang jika hal itu masuk dalam lingkup bekam, cantuk dan berobat karena dikategorikan kebutuhan, akan tetapi dengan syarat menghadirkan pencegah terjadinya khalwat seperti mahram, suami, dan perempuan yang terpercaya untuk mengindentifikasi hal-hal yang diharamkan antara dokter dan pasien.

Dari keterangan di atas, intinya adalah sesuai dengan kadar kebutuhan. Dokter harus professional dengan porsi sesuai dengan kode etik profesi dibarengi dengan pengetahuan hukum tentang mahram agar sadar batas.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s