HADITS KE 225 : BASMALAH DALAM SUROH AL FATIHAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 225 :

وَعَنْ نُعَيْمٍ اَلْمُجَمِّرِ رضي الله عنه قَالَ : ( صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَرَأَ : (بِسْمِ اَللَّهِ اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ) . ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ اَلْقُرْآنِ حَتَّى إِذَا بَلَغَ : (وَلَا اَلضَّالِّينَ) قَالَ : “آمِينَ” وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ وَإِذَا قَامَ مِنْ اَلْجُلُوسِ : اَللَّهُ أَكْبَرُ . ثُمَّ يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ : وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ

Nu’aim al-Mujmir berkata: Aku pernah sembahyang di belakang Abu Hurairah r.a. Dia membaca (bismillaahirrahmaanirrahiim) kemudian membaca al-fatihah sehingga setelah membaca (waladldlolliin) dia membaca: Amin. Setiap sujud dan ketika bangun dari duduk selalu membaca Allaahu Akbar. Setelah salam dia mengatakan: Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya sungguh aku adalah orang yang paling mirip sholatnya dengan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Riwayat Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) adakalanya membaca basmalah ketika dalam sholat dengan suara keras dan adakalanya pula dengan suara tidak keras. Dalam solat jahriyyah, baginda membacanya dengan suara keras, sedangkan dalam solat sirriyyah, baginda membacanya dengan tidak keras. Tetapi adakalanya baginda membacanya dengan suara tidak keras dalam solat jahriyyah untuk menjelaskan bahwa itu boleh dilakukan. Dengan ini, riwayat yang meniadakan bacaan basmalah dan riwayat yang menyuruh membacanya dapat digabungkan.

Antara Sunnah Nabi (s.a.w) adalah membaca amin dalam solat jahriyyah ketika selesai membaca Surah al-Fatihah dan membaca takbir dalam setiap perpindahan satu rukun ke rukun yang lain kecuali ketika mengangkat kepala dari rukuk. Bacaan ketika bangkit daripada rukuk adalah “سمع الله لمن حمده”

FIQH HADITS :

Disyariatkan bagi imam membaca amin dengan suara keras. Inilah pendapat Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, imam membaca amin dengan suara tidak keras, karena bacaan amin tidak lain kecuali sebagai tambahan do’a dan oleh karenanya, inti do’a lebih utama dari itu. Tetapi riwayat Imam Malik mengenai membaca amin dalam solat jahriyyah masih ada perselisihan pendapat. Ulama Mesir meriwayatkan dari Imam Malik, tidak ada bacaan amin dalam solat jahriyyah, karena imam adalah orang yang berdo’a sedangkan membaca amin hanya disunatkan kepada orang yang tidak membaca do’a. Tetapi diriwayatkan pula dari Imam Malik bahwa hendaklah imam membaca amin dengan suara tidak kuat.

Meskipun begitu, mereka tidak berselisih pendapat dalam solat sirriyyah dimana imam dikehendaki membaca amin dengan suara tidak keras. Makmum juga hendaklah menngeraskan suara bacaan amin dalam solat jahriyyah dan tidak
menguatkan suara dalam solat sirriyyah. Inilah pendapat Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad. Imam Malik mengatakan bahwa makmum membaca amin dengan suara tidak kuat dalam keadaan apapun, baik dalam solat jahriyyah maupun dalam solat sirriyah. Orang yang solat sendirian juga sama hukumnya dengan makmum dalam masalah ini. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa makmum hendaklah membaca amin dengan suara tidak keras, begitu juga dengan orang yang solat bersendirian.

2. Disyariatkan mengucapkan takbiratul intiqal ketika sujud, ketika bangkit dari kedua sujud, dan ketika bangkit dari tasyahhud pertama.

3. Boleh bersumpah tanpa disertai permintaan untuk mengukuhkan perkara.

4. Ulama berbeda pendapat mengenai hukum membaca basmalah dengan suara kuat. Disini ada beberapa pendapat :

Imam al-Syafi’i mengatakan bahwa disunatkan membaca basmalah dengan suara yang keras dalam solat jahriyyah, dan dengan suara tidak keras dalam solat sirriyyah. Beliau mengatakan bahwa basmalah merupakan salah satu dari Surah al-Fatihah. Seluruh ulama bersepakat bahwa basmalah di dalam Surah al-Naml merupakan sebagian daripadanya, tanpa ada ulama yang memperselisihkannya, meskipun mereka berselisih pendapat dalam surah yang lain. Pendapat yang paling sahih menurut Imam al-Syafi’i adalah basmalah merupakan sebagian dari setiap surah. Beliau menguatkan pendapatnya dengan hadis yang diriwayatkan oleh ibnu huzaimah melalui Ummu Salamah (r.a) bahwa Nabi (s.a.w) membaca
ِ“ بسم الله الرحمن الرحيم”
ketika dalam solat dan baginda mengganggapnya sebagai satu ayat (dari al-Fatihah). Para sahabat telah bersepakat untuk menetapkannya dalam mushaf pada setiap permulaan surah kecuali pada permulaan Surah al-Baraah, yakni Surah al-Taubah.

Imam Malik mengatakan bahwa basmalah tidak perlu dibaca dalam solat fardu baik solat sirriyyah maupun solat jahriyyah, karena basmalah tidak termasuk salah satu ayat dari al-Qur’an, baik pada permulaan Surah al-Fatihah mahupun pada permulaan surah yang lainnya kecuali Surah al-Naml, karena di dalam Surah al-Naml basmalah merupakan salah satu dari ayatnya. Di dalam solat sunat, seseorang dibolehkan memilih baik membacanya atau sebaliknya.

Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad mengatakan bahwa disunatkan membaca basmalah dengan suara tidak kuat, bukan dengan suara kuat dalam solat sirriyyah dan jahriyyah. Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad mengatakan bahwa basmalah merupakan ayat tersendiri dari al-Qur’an. Ia diturunkan untuk memohon keberkatan dan sebagai pemisah di antara satu surah dengan surah yang lain, tetapi ia tidak termasuk salah satu daripada ayat Surah al-Fatihah dan juga surah-surah yang lain. Pada awalnya Rasulullah (s.a.w) tidak tahu apa yang patut dijadikan pemisah di antara satu surah dengan surah yang sebelum diturunkan kepadanya. Basmalah: “بسم الله الرحمن الرحيم ” Ini merupakan ketetapan yang menegaskan bahwa basmalah diturunkan untuk memisahkan
antara satu surah dengan yang lain, dan basmalah tidak termasuk sebagai ayat permulaan bagi setiap surah. Kedua ulama ini menguatkan pendapatnya dengan hadis yang diriwayatkan oleh Muslim melalui Anas (r.a):

أن النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر كانوا يفتتحون الصلاة ب ” الحمد لله رب العالمين” لا يذكرون “بسم الله الرحمن الرحيم” في أول قرأة ولا في أخرها

“Nabi (s.a.w) dan Abu Bakar serta Umar memulai solat dengan bacaan “الحمد لله رب العالمين”
Mereka tidak membaca “بسم الله الرحمن الرحيم ” baik pada permulaan bacaan maupun di akhir bacaan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s