D021. HUKUM BAKAR DUPA/ KEMENYAN DALAM ACARA ISLAMI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimanakah hukum membakar kemenyan/dupa pada malam Jum’at atau acara-acara tertentu?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Dalam sebuah majelis dzikir ataupun majelis Maulid terkadang ada tradisi pembakaran dupa (bukhur). Tradisi semacam itu bukan sesuatu yang tanpa dasar, berikut penjelasannya :

ﻛﺎﻥ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺇﺫﺍ ﺍﺳﺘﺠﻤﺮ ﺍﺳﺘﺠﻤﺮ ﺑﺎﻟﻮﺓ ﻏﻴﺮ ﻣﻄﺮﺍﺓ ﺃﻭ ﺑﻜﺄﻓﻮﺭ ﻳﻄﺮﺣﻪ ﻣﻊ ﺍﻷﻟﻮﺓ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﻫﻜﺬﺍ ﻛﺎﻥ ﻳﺴﺘﺠﻤﺮ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ

Apabila Ibnu Umar beristijmar (membakar dupa) maka beliau beristijmar dengan uluwah yang tidak ada campurannya, dan dengan kafur yang di campur dengan uluwah, kemudian beliau berkata; “Seperti inilah Rasululloh SAW, beristijmar”. (HR. Nasa’i No seri Hadits: 5152)

Imam Nawawi mensyarahi hadits ini sebagai berikut:

ﺍﻻﺳﺘﺠﻤﺎﺭ ﻫﻨﺎ ﺍﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺍﻟﻄﻴﺐ ﻭﺍﻟﺘﺒﺨﺮ ﺑﻪ ﻭﻫﻮ ﻣﺄﺧﻮﺫ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺠﻤﺮ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺒﺨﻮﺭ ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻷﻟﻮﺓ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻻﺻﻤﻌﻲ ﻭﺃﺑﻮ ﻋﺒﻴﺪ ﻭﺳﺎﺋﺮ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﻭﺍﻟﻐﺮﻳﺐ ﻫﻲ ﺍﻟﻌﻮﺩ ﻳﺘﺒﺨﺮ ﺑﻪ

Yang di maksud dengan istijmar di sini ialah memakai wewangian dan berbukhur “berdupa” dengannya. Lafadz istijmar itu di ambil dari kalimat Al majmar yang bermakna al bukhur “dupa” adapun Uluwah itu menurut Al Ashmu’i dan Abu Ubaid dan seluruh pakar bahasa arab bermakna kayu dupa yang di buat dupa. (Syarh Nawawi ala Muslim: 15/10. )

Di tambah komentar Imam Nawawi pensyarah hadits ulung tentang hadits ini:

ﻭﻳﺘﺎﻛﺪ ﺍﺳﺘﺤﺒﺎﺑﻪ ﻟﻠﺮﺟﺎﻝ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻭﺍﻟﻌﻴﺪ ﻭﻋﻨﺪ ﺣﻀﻮﺭ ﻣﺠﺎﻣﻊ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻣﺠﺎﻟﺲ ﺃﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ

Dan sangat kuat kesunahan memakai wewangian (termsuk istijmar) bagi laki laki pada hari jumat dan hari raya, dan saat menghadiri perkumpulan kaum muslimin dan majlis dzikir juga majlis ilmu. (Syarah Nawawi ala Muslim: 15/10)

Didalam sebuah literatur (Bulghah al Thullab) dijelaskan bahwa membakar kemenyan/dupa ketika berdzikir dan lain sebagainya, seperti membaca al Qur’an, dan manjelis ilmu adalah mendapatkan legitimasi dari hadits Nabi yang menyatakan bahwa beliau mencintai aroma wangi dan wewangian, dan beliau sering memakainya, beliau juga bersabda “Yang aku suka dari dunia kalian adalah wanita dan wewangian, dan aku menjadikannya sebagai penenang dan penyejuk di dalam shalat”.

Dari pemaparan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa hukum membakar kemenyan/dupa pada malam Jum’at atau pada event-event tertentu seperti majelis dzikir dan lain sebagainya adalah boleh bahkan dianjurkan.

Imam Abu Zakariya Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi di dalam kitabnya (Syarh al Nawawi ‘Ala al Muslim) menyebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang menyatakan bahwa Ibnu Umar “beristijmar” dengan kayu garu tanpa campuran, atau dengan kafur yang dicampur dengan kayu garu, kemudian beliau berkata “Demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘beristijmar’”. al Nawawi menjelaskan bahwa “istijmar” adalah menggunakan wewangian dengan melakukan penguapan (dengan cara dibakar) dan seterusnya. Beliau juga menyatakan bahwa hadits tersebut mengindikasikan anjuran memakai wewangian bagi laki-laki sebagaimana dianjurkan bagi perempuan, namun anjuran bagi lak-laki untuk memakainnya adalah sesuatu yang dapat memunculkan aroma dan tidak menampakkan warna. Sedang ketika perempuan hendak keluar menuju Masjid atau yang lain, maka makruh baginya memakai setiap wewangian. Anjuran lebih ditekankan bagi laki-laki untuk memakainya pada hari Jum’at dan hari raya ketika hendak menghadiri perkumpulan orang-orang muslim, majelis dzikir, (majelis) ilmu, dan ketika hendak bersama istri.

Dasar pengambilan (1) oleh al-Ustadz Preman Berr Tasbih:

( كان بن عمر اذا استجمر استجمر بألوة غير مطراة أو بكافور يطرحه مع الألوة ثم قال هكذا كان يستجمر رسول الله صلى الله عليه و سلم ) الاستجمار هنا استعمال الطيب والتبخر به ……… الى ان قال ففي هذا الحديث استحباب الطيب للرجال كما هو مستحب للنساء لكن يستحب للرجال من الطيب ما ظهر ريحه وخفي لونه وأما المرأة فاذا أرادت الخروج إلى المسجد أو غيره كره لها كل طيب له ريح ويتأكد استحبابه للرجال يوم الجمعة والعيد عند حضور مجامع المسلمين ومجالس الذكر والعلم وعند ارادتة معاشرة زوجته ونحو ذلك والله أعلم
شرح النووي على مسلم – (ج 15 / ص 10)

Dasar pengambilan (2) oleh al-Ustadz Tamam Reyadi:

مسألة ج : إخراق البخور عند ذكر الله تعالى ونحوه كقراءة القرأن ومجلس العلم له أصل في السنة من حيث أن النبي صلى الله عليه وسلم يحب الريح الطيب الحسن ويحب الطيب ويستعملها كثيرا ويخض عليهما ويقول أحب إلي من دنياكم النساء والطيب وجعلت قرة عين في الصلاة. إهـ . بلغة الطلاب 53- 54

Daftar Pustaka:
1. Syarh al Nawawi ‘Ala al Muslim. XV/ 10
2. Bulghah al Thullab. LIII/ 53-54

Wallahu a’lamu bisshowab..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s