J022. APAKAH RUH BISA MELIHAT ORANG YANG MASIH HIDUP?

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Apakah ruh orang yang sudah meninggal dunia bisa melihat orang yang menziarahinya?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

1- Ruh adalah jiwa yakni jiwa adalah ruh yang halus yang diciptakan oleh Allah sebelum jasad. Setelah ruh berhubungan dengan jasad maka ruh itu dapat mengenal/mengetahui kepada yang lain dan terhijab dari Allah dengan sebab kesibukannya dari Allah. Maka dari itu ruh (jiwa) butuh kepada peringatan.

Allah berfirman :

فذكر فإن الذكر تنفع المؤمنين

“Maka berilah peringatan sesungguhnya peringan itu berguna terhadap orang-orang yang beriman”

Jiwa (ruh) berupa mutiara yang bersinar di badan, maka jika ia bersinar di luarnya badan dan di dalamnya maka ia akan menghasilkan bangun, dan jika hanya menyinarinya di dalam badan maka ia akan menghasilkan tidur, dan jika sinarnya semua terputus (diluar badan dan didalam badan) maka akan menghasilkan mati. Ruh adalah halus yang bangsa robbaniy dari halusnya hingga ia tidak dapat terlihat. Oleh karenanya jika bertanya tentang hakikat ruh, maka ruh itu adalah urusan Allah.

Dalam hal ini Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al-Anfal :

ويسئلونك عن الروح قل الروح من أمر ربي

“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh katakanlah bahwa ruh adalah urusan Tuhanku”

2- Ruh jika sudah terpisah dari badan maka ketika dia ada di alam barzah dia hidup secara barzahiyyah ia mengenal atau mengetahui tehadap orang yang hidup yakni orang yang datang berziarah ke kuburannya.

Bahkan dia menjawab ucapan salamnya orang yang berziarah:

Dalil hadits :

مامن أحد يمر على قبر أخيه المؤمن كان يعرفه فى الدنيا فسلم عليه إلا عرفه ورد عليه السلام {رواه إبن أبى الدنيا والبيهقى}

“Tiada seorang yang yang berjalan diatas kuburan saudaranya yang mu’min sedangkan dia (ahli kubur) mengenalinya di dunia lalu dia (yang berjalan/zaair) mengucapkan salam, maka dia (ahli kubur) menjawab tehadap salamnya. {HR. Ibnu dunya dan Baihaqi}.

المراجع : تنوير القلوب ص: ٢١٦-٢١٧

Referensi :
تنوير القلوب ص: ٤٦٥
ثم اعلم أن النفس لطيفة ربانية وهى الروح قبل تعلقها بالأجساد،وقد خلق الله الروح قبل الأجساد،فكانت حينئذ فى جوار الحق وقربه، فلما أمرها الحق ان تعلق بالأجساد عرفت الغير فحجبت عن حضرة الحق بسب شغلها عنه تعالى فلذلك احتاجت الى مذكر قال الله تعالى( فذكر فإن الذكر تنفع المؤمنين) وهى جوهر مشرق على البدن ، فإن أشرق على ظاهر البدن وباطنه حصلت اليقظة، وإن أشرق على باطن البدن دون ظاهره حصل النوم ، وإن انقطع إشرافه بالكلية حصل الموت

Dalil dari hadits lain :

عَنْ سُفْيَانَ عَمَّنْ سَمِعَ مِنْ اَنَسِ ابْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْأَعْمَالَ الْأَحْيَاءِ تُعْرَضُ عَلَى عَشَآئِرِهِمْ وَعَلَى آبَآئِهِمْ مِنَ الْأَمْوَاتِ فَإِنْ كَانَ خَيْرًا حَمِدُوا اللهَ تَعَالَى وَاسْتَبْشِرُوْا وَإِنْ يَرَوْا غَيْرَ ذٰلِكَ قَالُوْا : اَللهم لَا تَمُتُّهُمْ حَتَّى تَهْدِيْهِمْ هِدَايَةً فَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامَ يُؤْذِى الْمَيِّتِ فِى قَبْرِهِ كَمَا يُؤْذِى فِى حَيَاتِهِ قِيْلَ مَا اِيْذَاءُ الْمَيِّتِ قَالَ عَلَيْهِ السَّلَامَ اِنَّ الْمَيِّتَ لَايَذْنَبُ وَلَايَتَنَازَعُ وَلَايَخَاصَمُ أَحَدًا وَلَايُؤْذِى جَارًا إِلَّا أَنَّكَ اِنْ نَازَعْتَ أَحَدًا لَابُدَ اَنْ يَسْتَمَكَ وَوَالِدَيْكَ فَيُؤْذِيَانِ عِنْدَ الْاُسَاةِ وَكَذٰالِكَ يَفْرَحَانِ عِنْدَ اْلإِحْسَانِ فِى حَقِّهِمَا.

Dari Sufyan, dia dari seseorang yang pernah mendengar dari Anas bin Malik ra. dia berkata, Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya amal-amal (perbuatan) mereka yang masih hidup itu bisa diperlihatkan kepada keluarga dan ayah-ayahnya yang sudah meninggal dunia. Jika amal tersebut baik maka mereka merasa gembira dan memuji Allah swt. akan tetapi jika amal tersebut buruk, maka mereka (para mayit) berdo’a ‘Ya Allah, janganlah Engkau tutup usianya sebelum Engkau memberi petunjuk kepada mereka’ “. Kemudian, Rasulullah saw. bersabda : “Mayit yang ada di dalam kubur itu juga bisa merasakan sakit, apabila dia disakiti sebagaimana halnya saat dia masih hidup ”. ‘Apa yang dapat menyakiti si mayit?’ demikian beliau ditanya. Rasulullah saw. menjawab, “ Jika engkau bersengketa dengan seseorang, kemudian orang tersebut mencacimu dan mencaci kedua orang tuamu (yang sudah meninggal). Maka, si mayit yang sama sekali tidak merasa berdosa, bersengketa dan bersitegang (bermusuhan) kepada orang itu serta tidak merasa menyakiti hati tetangga, akan turut juga terkena cacian dari orang tersebut. Jadi, si mayit akan merasa disakiti hatinya jika dijelek-jelekkan (di caci-maki). Begitu juga sebaliknya, si mayit akan merasa senang hatinya jika dibagus-baguskan (di puji).”

(Dinukil dari Kitab ‘Ushfuriyyah)

Dalam salah satu kitab yang membahas tentang hal ini, yaitu kitab yang berjudul “Ar-Ruh” karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan banyak dalil bahwa orang yang telah meninggal dunia mengetahui jika diziarahi dan menjawab salam jika disalami. Sebuah hadits dari Nabi saw. menjelaskan : “Jika seseorang berziarah kepada makam saudaranya, dan duduk dekat pusara saudaranya itu, maka saudaranya yang telah meninggal dunia itu akan merasa tenang dan menjawab salamnya, sampai orang tadi berdiri pergi meninggalkan pemakaman”.

Bahkan, di halaman-halaman berikutnya Ibnu Qayyim menjelaskan banyak pendapat sekaligus dalil bahwa perbuatan dan tindakan orang-orang yang masih hidup disiarkan secara langsung kepada kerabatnya yang telah meninggal dunia; jika mereka melihat amal keluarganya itu baik, maka mereka akan gembira dan bahagia. Namun, jika mereka melihat amal keluarganya jelek, maka mereka berusaha mendo’akannya agar Allah memberi petunjuk kepada keluarganya.

Ibnu Qayyim membagi ruh menjadi dua :

– Ruh yang disiksa

– Ruh yang bergelimang nikmat

Ruh-ruh yang disiksa, disibukkan oleh siksaan yang dialaminya sehingga tidak sempat saling bertemu atau berkunjung. Sedangkan ruh yang mendapat nikmat, dalam keadaan bebas tidak ditahan sehingga bisa ke mana saja untuk saling berkunjung, bahkan memperbincangkan masa lalu mereka saat hidup di dunia.

Lalu, apakah ruh-ruh orang yang meninggal dunia bisa bertemu dengan orang yang masih hidup?

Ibnu Qayyim berkata, bisa, yaitu melalui mediasi dunia mimpi saat orang yang masih hidup sedang tidur, saling bicara, ngobrol tentang apa saja, bahkan tentang yang terjadi di dunia, dan cerita soal ini sangat banyak sekali kita dengar. Salah satunya terjadi di zaman Nabi saw.,yaitu yang dialami oleh sahabat-sahabat beliau.

Diriwayatkan, bahwa ada dua sahabat Nabi saw. yang saling berteman karib (akrab), yaitu Auf bin Malik dan Sha’b bin Jutsamah, keduanya membuat sebuah kesepakatan, jika salah satu dari keduanya meninggal dunia lebih dulu, maka jika bisa, yang meninggal dunia lebih dulu harus datang di mimpi yang masih hidup.

Beberapa waktu kemudian Sha’b meninggal dunia, dan dia datang ke mimpi Auf, Auf pun melihatnya di mimpi dan keduanya mulai berbincang.

“Apa yang kau alami di sana?” tanya Auf.

“Alhamdulillah, Allah mengampuni dosa-dosaku” jawab Sha’b. Hanya saja Auf melihat bercak hitam di leher Sha’b.

“Apa ini?” tanya Auf.

“Oh, ini sebab hutangku pada seorang Yahudi, 10 Dinar, belum aku bayar, tolong bayarkan hutangku, uangnya ada di kotak di rumahku, tempatnya di sudut.” kata Sha’b.

“Auf, aku beri tahu kamu, bahwa semua kabar keluargaku sepeninggalku, seluruhnya sampai kepadaku, bahkan kucing kami yang barusan mati beberapa hari lalu,” lanjut Sha’b menutup pertemuan itu.

Setelah itu, Auf terbangun dengan penuh keheranan, dan langsung bergegas ke rumah sahabatnya itu untuk membuktikan apakah mimpi itu benar. Setelah sampai di rumah sang sahabat, ternyata apa yang dikatakan di mimpi tadi memang benar. Uang 10 Dinar juga ditemukan di sebuah kotak di sudut rumah, dan oleh Auf diambil untuk dibayarkan pada Yahudi tadi.

Namun, Auf bertanya pada Yahudi tadi apa benar Sha’b berhutang padanya 10 Dinar dan belum sempat dibayar? Yahudi tadi membenarkan jika Sha’b berhutang padanya.

Lalu, Auf kembali ke rumah Sha’b, dan bertanya pada Istri Sha’b, apakah terjadi sesuatu di rumah ini? Istri Sha’b menjawab, tidak terjadi apa-apa, kecuali kucing yang mati beberapa hari lalu.

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ

Dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Aku telah melarang kalian untuk berziarah kubur, sekarang berziarahlah. Karena ia dapat menjadikan zuhud di dunia dan mengingatkan dengan akhirat.” (HR. Ibnu Majah)

Dari keterangan hadits-hadits di atas dan riwayat dari sahabat Nabi saw. tersebut menjadikan bukti kuat bahwa orang yang telah meninggal dunia bisa mengetahui keadaan orang yang masih hidup terutama keluarganya. Bahkan, perintah Nabi saw. kepada umatnya untuk mengirim doa, bacaan Al-Qur’an dan ziarah kubur serta membaca salam kepada ahli kubur ketika masuk pemakaman menjadi bagian bukti kuat bahwa orang yang sudah meninggal dunia sangat mengharap do’a dan bisa menjawab salam orang yang masih hidup.

والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s