M079. HUKUM PRAKTEK JUAL BELI TANPA AKAD (BAI’ MU’ATHOH)

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi masalah:
Dalam dunia bisnis telah mentaradisi di toko-toko kecil seperti menjual rokok dan lainya sedangkan di barang tersebut sudah tertera bandrul harga, namun kadangkala cocok dengan harga yang sudah tertera ada kalanya setelah dibeli lebih dan ada kalanya kurang, ada juga warung yang jualan kopi, hal ini tidak sedikit orang mengatakan rokok surya/Djisamso atau kopi buk..!!/pak..!! Tanpa ada ijab dan qobul.

Pertanyaannya:
Sahkah menurut hukum agama tentang jual beli dalam kasus tersebut dengan tanpa taransaksi ijab dan qobul?

Mohon jawabannya berikut referensinya soalnya sudah lumrah di masyarakat. Terimakasih..

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jual beli “Mu’athoh” adalah jual beli tanpa adanya sighot dari kedua pihak atau dari salah satunya, sedangkan harga barangnya sudah dianggap cocok oleh keduanya yaitu sebagaimana biasanya yang telah terjadi/berjalan dimasyarakat, karena harganya sudah cocok maka pembeli menyerahkan barangnya dan pembeli menerimanya. Maka dalam hal ini hukumnya terdapat perbedaan dikalangan ulama, yakni ada yang memperbolehkan dan ada yang tidak memperbolehkan.

الشافعية ــــ قالوا: لاينعقد البيع إلا بالصيغة الكلامية أو مايقوم مقامها من الكتاب والرسول، وإشارة الأخرس المعلومة، أما المعاطاة فإن البيع لاينعقد بها، وقد مال صاحب الإحياء إلى جواز البيع في الأشياء اليسيرة بالمعاطاة لأن الإيجاب والقبول يشق في مثلـها عادة
Madzhab syafi’i berkata: Tidak sah jual beli kecuali dengan shighat yang sempurna baik dengan tulisan, isyarat yang jelas bagi orang bisu. Adapun jual beli tanpa shighot tidak sah. Dan Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ condong kepada bolehnnya jual beli secara mu’athoh (tanpa akad) namun berlaku untuk hal2 yang remeh. Karena ijab dan qabul untuk dianggap sulit. (Fiqih Madzahibul Arba’ah, 2/155). Ini dari kitab Syarah Muhadzab :
فرع: صورة المعاطاة التي فيها الخلاف السابق: أن يعطيه درهماً أو غيره ويأخذ منه شيئاً في مقابلته، ولا يوجد لفظ أو يوجد لفظ من أحدهما دون الآخر، فإذا ظهر ـــ والقرينة وجود الرضى من الجانبين ـــ حصلت المعاطاة، وجرى فيها الخلاف
Contoh dari jual beli secara mu’athoh yang terjadi perbedaan pendapat di atas ialah : semisal jika orang itu memberikan uang dan ia mengambil barang sedagai gantinya. Dan tidak ada kalimat yang menayatkan ijab qobul. Maka jika secara dhohir ada kerelaan diantara keduanya (pembeli dan penjual) maka itulah yang dinamakan jual beli secara mu’athoh yang mana keabsahannya terjadi khilaf. (Majmu’ Syarah Muhadzab, 9/163-164).

Adapun penjelasan yang tidak memperbolehkan adalah sebagai berikut:

Refensi :

المهذب الجزء الأول ص: ٢٥٧
ولاينعقد البيع إلا بالإيجاب والقبول فأماالمعاطة فلاينعقد بها البيع لأن اسم البيع لايقع عليه والإيجاب أن يقول بعتك أو ملكتك أو ماأشبههما والقبول أن يقول قبلت أو أبتعت أو ماأشبههما.
وعبارة المجموع:وأحسن من هذه المسألة وأوضحها المتولى فقال المعاطة التى جرة بها العادة بان يزن النقد ويأخذ المتاع من غير إيجاب ولاقبول ليست بيعا على المشهور من مذهب الشافعى وقال إبن سريج كل ماجرت العادة فيه بالمعاطة وعده بيعا فهو بيع ومالم تجر فيه العادة كالجوارى والدواب والعقار لايكون بيعا قال وهذا وهو المختار للفتوى- الى ان قال- (فرع) صورة المعاطة التى فيها الخلاف السابق أن يعطيه درهما أوغيره ويأخذ منه شيئا فى مقابلته ولايوجد لفظ أويوجد لفظ من أحد هما دون الأخر-الى ان قال-فأما إذا أخذ منه شيئا ولم يعطه شيئا ولم يتلفظابيع بل نويا أخذه بثمنه المعتاد كمايفعله كثير من الناس فهذا باطل بلا خلاف لانه ليس بيع لفظي ولامعاطة ولايعد بيعا فهو باطل.

Sedangkan penjelasan yang tidak memperbolehkan adalah sebagai berikut:

Referensi :

هامش إعانة الطالبين الجزء الثانى ص:٤

{كاشتريت} هذا بكذا {وقبلت} أو رضيت أو أخذت أو تملكت {هذا بكذا} وذلك لتتم الصيغة الدال على اشتراطها قوله صلى الله عليه وسلم إنمالبيع عن تراض والرضا خفي،فاعتبر مايدل عليه من اللفظ فلاينعقد بالمعاطاة لكن اختير الإنعقاد بكل مايتعارف البيع بهافيه كالخبز واللحم دون نحو الدواب والاراضى.فعلى الأول المقبوض بها كالمقبوض بالبيع الفاسد أى فى أحكام الدنيا، أمافى الآخرة فلا مطالبة بها ويجري خلافها فى سائر العقود.وصورتها أن يتفقا على ثمن ومثمن وإن لم يوجد لفظ من واحد.
إعانة الطالبين الجزء الثالث ص:٤

Jual beli mu’athah adalah kesepakatan kedua belah pihak atas harga (tsaman) dan barang yang dijual (mutsaman), dan keduanya saling memberi tanpa ijab qabul, dan kadang-kadang ada lafadz (perkataan) dari salah satu pihak.

Namun para fuqaha berbeda pendapat mengenai keabsahan jual beli mu’athah. Berikut adalah beberapa pendapat para fuqaha mengenai jual beli mu’athah:

Menurut Hanafiah, Malikiyah, dan Hanabilah dalam qaul yang paling rajah, hukum jual beli mu’athah adalah sah apabila sudah menjadi adat kebiasaan yang menunjukkan kepada kerelaan, dan perbuatan tersebut menggambarkan kesempurnaan kehendak dan keinginan masing-masing pihak.

Menurut Syafi’iyah, semua akad termasuk jual beli harus menggunakan lafadz yang sharih atau kinayah, dengan ijab qabul. Oleh karena itu, jual beli mu’athah hukumnya tidak sah, baik barang yang dijual berharga mahal atau murah. Alasannya adalah bahwa unsur utama dalam jual beli adalah kerelaan kedua belah pihak.

Unsur kerelaan berada dan tersembunyi di dalam hati. Oleh karena itu, kerelaan perlu diungkapkan dengan ijab dan qabul. Apalagi persengketaan jual beli bisa berlanjut ke pengadilan.

Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda:

انما البيع عن تراض

Artinya:
“Sesungguhnya jual beli itu harus atas dasar suka sama suka”

Akan tetapi, beberapa ulama Syafi’iyyah seperti An-Nawawi dan Al-Mutawalli membolehkan jual beli mu’athah di dalam setiap sesuatu yang dianggap sebagai jual beli. Sebagian dari ulama Syafi’iyyah seperti Ibnu Suraij dan Imam Ar-ruyani membolehkan jual beli mu’athah khusus dalam barang-barang yang murah, seperti roti, sayuran, dan lain-lain.

Imam Hanafi mengatakan hal serupa dalam suatu riwayatnya dengan mensyaratkan ijab dan kabul untuk jual beli barang yang besar, sedangkan barang kecil-kecilan tidak diperlukan.

Jual Beli Muathah Sekarang
Dengan berkembangnya teknologi, dunia perdagangan semakin mengalami corak-corak tersendiri, hingga kepada hal yang semakin praktis. Teknis pelaksanaannya tidak lagi menggunakan “ijab dan qabul”.

Dan yang tidak menggunakan ijab qabul inilah dalam bahasa fiqh yang disebut “jual beli mu’athah” (saling memberi dan menerima), karena adanya perbuatan dari pihak-pihak yang telah saling memahami perbuatan transaksi tersebut dengan segala akibat hukumnya.

Kegiatan seperti ini sering terjadi di supermarket-supermarket, swalayan-swalayan dan barang-barang kecil yang tidak ada proses tawar menawar di dalamnya. Barang kecil yang dimaksud adalah seperti menjual dan membeli sepotong roti atau sejenisnya sebagai makanan ringan.

Berdasarkan pemaparan masalah tersebut, jual beli swalayan dilakukan melalui transaksi perbuatan. Hal ini dapat disebut dengan ta’ati atau mu’athah. Pihak pembeli telah mengetahui harga barang yang secara tertulis dicantumkan pada barang tersebut. Pada saat pembeli datang ke meja kasir menunjukkan bahwa di antara mereka akan melakukan transaksi jual beli. Maka dari itu hukum jual beli di supermarket adalah sah.

Adapun pengertian akad adalah:

الربط وهو جمع الطرفي حبلين ويشد أحدهما بالآخر حتى يتصلا فيصبحا كقطعة واحدة

Artinya:
“Ikatan, yakni mengumpulkan dua tepi dan mengikat salah satunya dengan lainnya hingga tergabung dan menjadilah ia seperti sepotong benda”.

Sedangkan akad mu’athah adalah:

المعاطة هي الأحذ والاعطاء بدون الكلام

Artinya:
“Al-mu’athah adalah (suatu akad jual beli dengan cara) mengambil dan memberikan sesuatu tanpa harus berbicara”.

Dari pengertian di atas, dapat kita ketahui bahwa jual beli mu’athah adalah jual beli dengan cara memberikan barang dan menerima pembayaran tanpa ijab dan kabul oleh pihak penjual dan pembeli, sebagaimana yang berlaku dalam masyarakat sekarang, dimana transaksi dilakukan dengan cara yang dapat memudahkan kedua belah pihak.

Hal ini dikarenakan hukum Islam pada dasarnya membolehkan segala praktik bisnis yang dapat memberikan manfaat, tiga prinsip dasarnya:

الاصل فى الأشياء الإبحة حتي يدل دليل على تحر يمها

Kaidah hukum islam yang berbunyi “dasar pada setiap sesuatu pekerjaan adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya”.

Hadits Rasulullah Saw. yang berbunyi “kaum muslimin bertransaksi sesuai dengan syarat-syaratnya selama tidak menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal”.

Kaidah hukum Islam yang menyatakan bahwa:

العادة محكمة
Artinya:
“Kebiasaan adalah bagian dari hukum”.

والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s