D023. SEJARAH HIJRIYAH & ANJURAN-ANJURAN PADA BULAN MUHARRAM

SEJARAH HIJRIYAH

Diriwayatkan dari Abdul Aziz dari Ayahnya dari Sahl bin Sa’d, ia berkata :

مَا عَدُّوا مِنْ مَبْعَثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا مِنْ وَفَاتِهِ مَا عَدُّوا إِلَّا مِنْ مَقْدَمِهِ الْمَدِينَةَ

Para sahabat tidak menetapkan perhitungan kalender dari tahun diutusnya Nabi SAW, tidak juga dari wafatnya beliau akan tetapi para sahabat menetapkan perhitungan kalender dari masa kedatangan beliau ke madinah [HR Bukhari]

Catatan

Kalender hijriyah yang merupakan sistem penanggalan islam dimulai sejak 14 abad silam. Adakah terbesit dalam hati, mengapa demikian? Apa yang melatar belakangi penetapan kalender islam ini dan apakah yang menjadi acuannya?

Orang Arab sebelum datangnya Islam telah mengenal kalender qamariyah (kalender berdasarkan peredaran bulan). Mereka menandai awal bulan atau tanggal 1 disetiap bulannya dengan kehadiran hilal. Mereka juga mengenal nama-nama bulan muharram, shafar dst, dan mereka juga mengenal bulan-bulan mulia (haram) meskipun mereka tidak konsisten dan suka memindah-mindah bulan haram sesuai kepentingan mereka. Hal inilah yang disebut nasi’ oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ

Sesungguhnya Nasi’ (mengundur-undurkan bulan haram itu) adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah… [QS At-Taubah : 37]

Pada empat bulan haram yang mulia (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab) tidak boleh diadakan peperangan. Peraturan ini dilanggar oleh orang-orang jahiliyah dengan mengadakan peperangan di bulan Muharram (bulan 1) dan sebagai gantinya mereka menjadikan bulan Shafar (bulan 2) sebagai bulan mulia. Yang disisakan oleh mereka dari bulan haram hanya jumlahnya saja yaitu empat bulan.

Kendati telah lazim menggunakan nama-nama bulan qamariyah namuan masyarakat Arab saat itu belum memiliki angka tahun sehingga mereka tahu tanggal dan bulan, tapi tidak ada tahunnya. Sebagai pembeda antar tahun, mereka menggunakan peristiwa besar yang terjadi seperti tahun gajah, karena pada saat itu terjadi peristiwa besar yaitu serangan pasukan gajah yang dipimpin oleh raja Abrahah dari Yaman. Tahun Fijar, karena ketika itu terjadi Harbul Fijar (perang Fijar yang terjadi antara suku kinanah dan qais) ketika baginda berusia 14-15 tahun. Tahun renovasi Ka’bah, karena ketika itu Ka’bah rusak akibat banjir dan di renovasi. Terkadang mereka juga menggunakan tahun kematian pemuka masyarakat sebagai acuan seperti lima tahun setelah meninggalnya Ka’ab bin Luai dll.
Kondisi seperti ini terus berlangsung hingga di zaman Nabi SAW sekalipun bahkan berlanjut di zaman Khalifah Abu Bakr RA, Hingga saat itu belum ada penetapan hitungan tahun qamariyah. Barulah hitungan tahun qamariyah ditetapkan pada zaman Umar bin Khattab RA, tepatnya di tahun ketiga beliau menjabat sebagai khalifah. Diceritakan dari Maimun bin mahran bahwa seseorang melaporkan kepada Khalifah sebuah cek (Shakk, bukti kepemilikan) dengan tertera tempo bulan sya’ban. Yang menjadi permasalaha adalah sya’ban tersebut tahun kapan? Apakah tahun mendatang, tahun ini ataukah tahun lalu?

Menanggapi masalah tersebut, Khalifah Umar RA mengumpulkan para sahabat dan mengajukan permasalahan ini kepada mereka, Khalifah berkata:

ضعوا للناس شيئا يعرفونه من التاريخ

“Jadikanlah sesuatu untuk masyarakat yang bisa mereka jadikan acuan untuk mengetahui tahun.”

Ada yang usul untuk menggunakan acuan tahun bangsa Romawi. Namun usulan ini dibantah, karena tahun Romawi sudah terlalu tua karena perhitungan tahun Romawi sudah dibuat sejak zaman Dzul Qornain, Ada usulan lain untuk menggunakan acuan tahun bangsa persia namun usulan ini disanggah dengan pertimbangan bahwa kebiasaan raja persia adalah setiap ada raja yang baru maka ia membuang perihal raja sebelumnya (tahunnya silih berganti) sehingga tidak bisa dibuat acuan.

فأجمع رأيهم على أن الهجرة كانت عشر سنين ، فكتبوا التاريخ من هجرة النبى – صلى الله عليه وسلم

Para sahabat sepakat bahwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan pada akhirnya mereka perhitungan tahun qamariyah berawal dari hijrahnya Nabi SAW. [Kanzul Ummal dan Tarikh At-Thabari]

Pertimbangan lain disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar sebagai berikut:

كَانَتْ الْقَضَايَا الَّتِي اُتُّفِقَتْ لَهُ وَيُمْكِن أَنْ يُؤَرَّخ بِهَا أَرْبَعَة : مَوْلِده وَمَبْعَثه وَهِجْرَته وَوَفَاته ، فَرَجَحَ عِنْدهمْ جَعْلهَا مِنْ الْهِجْرَة لِأَنَّ الْمَوْلِد وَالْمَبْعَث لَا يَخْلُو وَاحِد مِنْهُمَا مِنْ النِّزَاع فِي تَعْيِين السَّنَة ، وَأَمَّا وَقْت الْوَفَاة فَأَعْرَضُوا عَنْهُ لِمَا تُوُقِّعَ بِذِكْرِهِ مِنْ الْأَسَف عَلَيْهِ ، فَانْحَصَرَ فِي الْهِجْرَة

Permasalahan yang disepakati dan bisa dijadikan acuan tahun dalam kalender ada empat: tahun kelahiran Nabi SAW, tahun ketika diutus sebagai rasul, tahun ketika hijrah, dan tahun ketika beliau wafat. Dan hijrah dipilih oleh para sahabat mengingat bahwa tahun kelahiran Nabi SAW dan tahun ketika beliau diutus, tidak lepas dari perdebatan dalam penentuan tahun peristiwa itu. Mereka juga menolak jika tahun kematian sebagai acuannya, karena ini akan menimbulkan kesedihan bagi kaum muslimin. Sehingga yang tersisa adalah tahun hijrah beliau [Fathul Bari]

Ibnu hajar juga menyebutkan beberapa versi diantaranya kisah gubernur yaman, abu musa al-Asy’ari yang menerima beberapa surat dari khalifah umar namun kebingungan karena tidak adanya keterangan tahun. Ada juga versi orang yang datang kepada khalifah dan menceritakan kalender versi orang-orang yaman yang mencantumkan hitungan tahun. Kejadian tersebut terjadi pada tahun 17atau 16 H. Dan pengusul muharram sebagai awal bulan dari tahun hijriyah adalah Umar, Ustsman, Ali RA. [Fathul Bari]

Demikianlah sehingga dalam hadits utama (atsar) di atas disebutkan bahwa para sahabat tidak menetapkan perhitungan kalender dari tahun diutusnya Nabi SAW, tidak juga dari wafatnya beliau akan tetapi para sahabat menetapkan perhitungan kalender dari masa kedatangan beliau ke madinah. [HR Bukhari]

Masalah perhitungan kalender tidaklah berhenti sampai di sini. Masalah selanjutnya adalah kapan atau bulan apa yang akan Setelah melewati musyawarah para sahabat sepakat untuk memilih bulan muharram dijadikan sebagai bulan pertama dalam kalender hijriyah ini. Ibnu Hajar mengemukakan beberapa alasannya :

أَخَّرُوهُ مِنْ رَبِيع الْأَوَّل إِلَى الْمُحَرَّم لِأَنَّ اِبْتِدَاء الْعَزْم عَلَى الْهِجْرَة كَانَ فِي الْمُحَرَّم ، إِذْ الْبَيْعَة وَقَعَتْ فِي أَثْنَاء ذِي الْحِجَّة وَهِيَ مُقَدِّمَة الْهِجْرَة ، فَكَانَ أَوَّل هِلَال اِسْتَهَلَّ بَعْد الْبَيْعَة وَالْعَزْم عَلَى الْهِجْرَة هِلَال الْمُحَرَّم فَنَاسَبَ أَنْ يُجْعَل مُبْتَدَأ ، وَهَذَا أَقْوَى مَا وَفَقْت عَلَيْهِ مِنْ مُنَاسَبَة الِابْتِدَاء بِالْمُحَرَّمِ .

Para sahabat mengakhirkan (permulaan tahun hijriyah) dari bulan Rabi’ul Awwal (bulan Nabi tiba di madinah) ke Muharram mengingat bahwa permulaan tekat / rencana hijrah terjadi pada bulan muharram dan sebelumnya bai’at terjadi pada pertengahan bulan Dzulhijjah dan bai’at tersebut adalah permulaan (penyebab) hijrah. Maka awal tanggal setelah bai’at dan rencana hijrah adalah tanggal hijrah sehingga relevan untuk dijadikan (bulan) pertama. Ini adalah pendapat terkuat yang relevan . [Fathul Bari]

Demikianlah sehingga muharram dan hijrah menjadi awal perhitungan tahun islam saat itu. Dengan demikian jelas bahwa di zaman rasul belum ada istilah tahun baru sehingga kalau ada keterangan yang dikatakan sebagai hadits mengenai keutamaan tahun baru maka ini merupakan suatu kekeliruan. Namun demikian tidak ada larangan untuk berdoa awal dan akhir tahun karena berdoa itu boleh saja, kapanpun dan dimanapun kecuali jika ada larangan secara khusus. Adapun redaksi doa yang populer sebagai doa awal dan akhir tahun bukanlah dari Nabi, dan sebagaimana kita ketahui bahwa berdoa tidaklah harus memakai redaksi dari Nabi, kita boleh berdoa dengan redaksi sendiri bahkan bahasa sendiri yang tidak pernah dilafadzkan oleh Nabi.

Dengan ditetapkannya kalender islam oleh Khalfiah Umar RA, maka mulai saat itu kaum muslimin memiliki kalender resmi, dengan bulan Muharam sebagai bulan pertama dan hijrah sebagai acuannya. Dan oleh karena hitungan tahun dalam kalender Islam mengacu kepada hijrah maka kalender ini dinamakan kemudian dikenal dengan sebutan kalender hijriyah.

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk mengetahui sejarah dan asal usul segala sesuatu dari apa yang akan kerjakan dan alami.

DO’A AKHIR TAHUN DAN DO’A AWAL TAHUN

Syekh Ibnu Qudamah Al-Maqdisy, salah seorang ulama besar yang ikut meriwayatkan “doa awal tahun” menuturkan, “Guru-guruku tidak pernah luput berwasiat untuk selalu membaca doa tersebut. Dan aku belum pernah melewatkan doa itu sepanjang hidupku.”

Bacaan Do’a Akhir Tahun, 3 kali :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي السَّنَةِ الْمَاضِيَةِ وَلَمْ تَرْضَهُ ، وَنَسِيْتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ ، وَحَلُمْتَ عَنِّيْ مَعَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ ، وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جَرَاءَتِيْ عَلَيْكَ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَغْفِرُكَ مِنْهُ فَاغْفِرْ لِيْ اَللَّهُمَّ وَمَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ وَالْغُفْرَانَ فَتَقَبَّلْهُ مِنِّيْ ، وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَز
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ .

Bacaan Do’a Awal Tahun :

Sebelum membaca doa awal tahun, sebaiknya membaca ayat kursi sebanyak 360/121/100/77/ 41/21/11 kali (semampunya) dengan basmalah di setiap permulaannya. Kemudian membaca doa berikut sebanyak salah satu angka tersebut semampunya :

اللّهُمَّ يَا مُحَوِّلَ الأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالِيْ إِلَى أَحْسَنِ الأَحْوَالِ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا مُتَعَال، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم .

Dan dilanjutkan dengan do’a awal tahun, 3X :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَمْلَأُ خَزَائِنَ اللهِ نُوْرًا ، وَتَكُوْنُ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ فَرَجًا وَفَرْحًا وَسُرُوْرًا ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. اَللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الْأَوَّلُ ، وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ الْعَمِيْمِ الْمُعَوَّلِ ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ ، أَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ ، وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ ، وَالْاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Maka setan akan berkata, “Orang yang membaca do’a ini telah meminta perlindungan kepada Allah sepanjang sisa umurnya. Dan dua malaikat telah dipercaya untuk menjaganya dari aku dan para pengikutku.”

Kami sertakan do’a awal tahun berbentuk PDF dari Alhabib Ali Bin Muhammad Al Habsyi, RA. :

https://drive.google.com/file/d/1SqYlrB9Q0XNt9TK9zIXQZQZyPeddsHhn/view?usp=drivesdk

KEUTAMAAN AMALAN PUASA BULAN MUHARRAM :

Oleh : Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah

Bulan Muharrom adalah salah satu dari empat bulan mulia yang disebutkan dalam Al-Quran. Amalan yang di anjurkan adalah semua amalan yang di anjurkan di bulan lain sangat di anjurkan di bulan ini, hanya saja ada amalan yang sangat dianjurkan secara khusus di bulan ini yaitu :

1. Puasa tanggal 10 yang disebut dengan puasa ‘Asyuro, seperti yang telah disebutkan dalam hadits :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ وَلَمْ يَكْتُبْ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ وَأَنَا صَائِمٌ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ )

Rosulullah SAW bersabda : “Ini (10 Muharrom) adalah hari ‘Asyuro dan Allah tidak mewajibkan puasa atas kalian dan sekarang aku berpuasa, maka siapa yang mau silahkan berpuasa dan siapa yang tidak mau silahkan berbuka (tidak berpuasa) “ (Bukhori :1899 dan Muslim : 2653)

2. Dengan pahala akan diampuni dosa tahun yang lalu :

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاء، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu “. (Muslim : 2746).

3. Sangat dianjurkan untuk ditambah agar bisa berpuasa di hari yang ke-Sembilan, seperti yang telah disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

عَنْ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ حِيْنَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya dia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berpuasa di hari ‘Asyura’ dan memerintahkan (perintah sunnah) manusia untuk berpuasa, para sahabat pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, ‘Apabila datang tahun depan Insya Allah kami akan berpuasa pada tanggal 9 (Muharram). Berkata Abdullah bin Abbas “ Belum sempat tahun depan tersebut datang, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.” ( Muslim : 1134/2666)

4. Lebih bagus lagi jika ditambah hari yang ke-Sebelas seperti disebutkan dalan sebuah riwayat dari sahabat Abdullah ibn Abbas :

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاء، وَخَالِفُوا اليَهُودَ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا

Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyuro` dan berbedalah dengan orang Yahudi, (yaitu) berpuasalah kalian sehari sebelumnya atau sehari setelahnya” (Ibnu Khuzaimah: 2095).

5. Lebih dari itu berpuasa disepanjang bulan Muharom adalah sebaik baik bulan untuk puasa seperti disebutkan oleh Rasulullah dalam hadits yang disebutkan Imam Muslim :

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ اْلمُحَرَّمِ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Sebaik baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Muharom, dan sebaik-baiknya sholat setelah sholat fardhu adalah Sholat malam” (Muslim No: 2755).

Kesimpulannya :
1) Bahwa puasa sepanjang bulan Muharrom adalah puasa yang sangat dianjurkan seperti disebutkan dalam Hadits tersebut di atas.

2) Sebaik-baik hari dari bulan Muharom tersebut adalah tanggal 10 Muharrom.

3) Dan setelah 10 Muharrom akan menjadi lebih baik lagi jika ditambah dengan tanggal 9 (sembilan) seperti yang disebutkan dalam hadits tersebut di atas.

4) Dan akan lebih baik lagi jika ditambah dengan sehari di tanggal 11 untuk berbeda dengan orang Yahudi dan Nasrani.

5) Dan untuk lebih baiknya lagi adalah menambah hari di sepanjang bulan Muharrom hingga sempurna.

Catatan Penting :
Berpuasa penuh sepanjang bulan Muharrom adalah
sunnah, seperti disebutkan dengan sangat jelas dalam hadits Nabi SAW tersebut di atas.

Wallohu a’lam bishshowab..

DALIL LAIN TENTANG FADILAH BULAN MUHARRAM :

ذكر الحافظ إبن حجر رحمه الله تعالى : أنه روي عن حفصة رضي الله تعالى عنها، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال :

Al-Hafidz Ibnu Hajar rohimahulloh menyebutkan : bahwa diriwayatkan oleh Sayyidah Hafsoh rodliyallohu anha, dari Nabi shollallahu alaihi wa sallam beliau bersabda :

من صام آخر يوم من ذي الحجة وأول يوم من المحرم جعله الله تعالى له كفارة خمسين سنة، وصوم يوم من المحرم بصوم ثلاثين يوما.

Siapa yang puasa di hari terakhir bulan Dzul hijjah dan hari pertama bulan Muharrom maka ALLAH akan menjadikan puasa tersebut sebagai pelebur dosanya 50 tahun, dan puasa sehari di bulan Muharrom seperti puasa 30 hari.

أن من كتب البسملة فى أول المحرم مائة وثلاث عشرة مرة لم ينل حاملها مكروه فيه ولا فى أهل بيته مدة عمره، وإذا لقيه حاكم ظالم أمن من شره.

Sesungguhnya siapa yang menulis Basmalah di hari pertama bulan Muharrom 113 kali maka orang yang membawanya tidak akan mendapatkan sesuatu yang tidak ia senangi bahkan keluarganya seumur hidupnya, dan bila hakim yang dzolim menemuinya dia akan aman dari kejelekan hakim tersebut.

ومن خواص قوله تعالى ( أفأمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا بياتا وهم نائمون ¤ أوأمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا ضحى وهم يلعبون ¤ أفأمنوا مكر الله فلا يأمن مكر الله إلا القوم الخاسرون ) أنها لطرد الهوام المؤذية من المنزل، وإذا أردت ذلك فاكتبها أول يوم من المحرم فى قرطاس واغسله بالماء، ورشه فى زوايا البيت أو الدار؛ فإنك تأمن جميع ذلك بإذن الله تعالى.

Diantara khasiat firman ALLAH ta’alaa :

( أفأمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا بياتا وهم نائمون ¤ أوأمن أهل القرى أن يأتيهم بأسنا ضحى وهم يلعبون ¤ أفأمنوا مكر الله فلا يأمن مكر الله إلا القوم الخاسرون )

Adalah untuk mengusir serangga yang mengganggu dari rumah, bila kamu ingin hal tersebut maka tulislah ayat tersebut di hari pertama bulan Muharrom di kertas kemudian siramlah kertas tersebut dengan air dan percikkan di ruangan-ruangan yang ada di rumah, maka kamu akan aman dari semua itu dengan izin ALLAH ta’alaa.

MENGUSAP KEPALA ANAK YATIM DI BULAN MUHARRAM

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلي الله عليه وسلم من صام يوم عاشوراء من المحرم اعطاه الله تعالي ثواب عشرة الاف مللك ومن صام يوم عاشوراء من المحرم اعطي ثواب عشر شهيد ومن مسح يده علي راس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالي له بكل شعرة درجة

Diriwayatkan dari Ibn Abbas ra. Ia berkata : Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barang siapa puasa pada hari ‘asyura( tanggal10) muharram, Allah memberikan10.000 pahala malaikat

Barang siapa puasa pada hari ‘asyura( tanggal10) muharram, Allah memberikan pahala 10.000 para syuhada’

Dan barang siapa mengusap kepala anak yatim pad tgl 10 muharram, Allah mengangkatderajatnya dengan setiap rambut yg diusap”

Manaahiij al-Imdaad I/521

وورد في فضل مسح رأس اليتيم حديث أخرجه احمد والطبراني عن أبي امامة بلفظ من مسح رأس يتيم لا يمسحه الا لله كان له بكل شعرة تمر يده عليها حسنة وسنده ضعيف ولأحمد من حديث أبي هريرة ان رجلا شكى إلى النبي صلى الله عليه و سلم قسوة قلبه فقال اطعم المسكين وامسح رأس اليتيم وسنده حسن

Dan telah datang penjelasan hadits-hadits mengenai keutamaan mengusap kepala anak yatim yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Thabraany dari riwayat Abu Umamah dengan pernyataan “Barangsiapa mengusap kepala anak yatim yang semata-mata karena Allah disetiap rambut yang ia usap, Allah berikan kebaikan” (sanadnya dho’if)

Juga hadits dari riwayat Abu Hurairah “Sesungguhnya seorang lelaki mengadu pada Nabi shallallaahu alaihi wasallam tentang kerasnya hatinya, Nabi bersabda ‘Berikan makanan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim” (HR. Ahmad, sanadnya Hasan)

Fath al-Baari XI/151

PENGERTIAN MENGUSAP KEPALA ANAK YATIM

Menurut Ibn Hajar al-Haytamy maksud mashu ro’si yatiim (mengusap kepala anak yatim) diatas adalah makna hakiki (arti sebenarnya)

والمراد من المسح في الحديث الثاني حقيقته كما بينه آخر الحديث وهو ( من مسح رأس يتيم لم يمسحه إلا لله كان له بكل شعرة تمر عليها يده عشر حسنات ومن أحسن إلى يتيمة أو يتيم عنده كنت أنا وهو في الجنة كهاتين وقرن بين أصبعيه ) .

وخص الرأس بذلك لأن في المسح عليه تعظيماً لصاحبه وشفقة عليه ومحبة له وجبراً لخاطره ، وهذه كلها مع اليتيم تقتضي هذا الثوب الجزيل ، وأما جعل ذلك كناية عن الإحسان فهو غير محتاج إليه لأن ثواب الإحسان الذي هو أعلى وأجلّ قد ذكر بعده وأين القرب منه ( صلى الله عليه وسلم ) في الجنة حتى يكونا كالأصبعين من إعطاء حسنات بعدد شعر الرأس ، فشتان ما بينهما إذ الأول أكمل وأعظم وعلى التنزل وأنه أريد بذلك الكناية المذكورة فيكون قوله ( كان له ) إلخ كناية عن عظيم الجزاء ، وأنه لعظمته لو وجد في الخارج لكان أكثر من عدد شعر الرأس بكثير ، فيكون التجوّز والكناية في الطرفين طرف الفعل وطرف الجزاء عليه والكناية وإن كانت أبلغ من الحقيقة إلا أن محل الحمل عليها حيث لم يمنع منها مانع ، وقد علمت أن آخر الحديث يعين الحمل على الحقيقة لإفادته أن ما بعده يكون تأسيساً ، وهو خير من التأكيد اللازم للحمل على الكناية فافهم ذلك وتأمله . ثم رأيت أحاديث صريحة بأن المراد بالمسح حقيقته .

Yang dimaksud dengan mengusap dalam hadits kedua diatas adalah arti sebenarnya seperti dijelaskan pada hadits lain “Barangsiapa mengusap kepala anak yatim yang semata-mata karena Allah disetiap rambut yang ia usap, Allah berikan sepuluh kebaikan, dan barangsiapa memperbaiki anak yatim perempuan atau laki-laki yang ada didekatnya niscaya aku dan dia disurga bersanding seperti ini (Dan Nabi menggandengkan antara jemarinya)”

Kepala menjadi hal yang istimewa untuk disebutkan dalam hadits-hadits diatas karena mengusap kepala mengandung pengertianadanya kasih saying, rasa cinta dan mengayomi akan kebutuhan yang diusap, dan kesemuanyabila dilakukan pada anak yatim berhak mendapatkan pahala yang agung.

Sedang mengartikan ‘mengusap’ dalam hadits diatas dengan arti kinayah (sindiran-bukan sebenarnya) dalam pengertian ‘berbuat baik’ tidaklah dibutuhkan…. dst

Al-Fataawaa al-Haditsiyyah Li Ibni Hajar I/43

الملا علي القاري

Namun menurut imam at toyyi dalam kitab Marqaah al-Mafaatiih Imam al-Malaa Ali al-Qaariy al-Hanafy yang dimaksud kata ‘mengusap’ pada hadits diatas adalah arti kinayah dari memberikan kasih sayang serta berbuat penuh kelembutan dan cinta kasih pada mereka .

وعن أبي أمامة أي الباهلي قال قال رسول الله من مسح رأس يتيم وكذا حكم اليتيمة بل هي الأولى بالحنية لضعفها ثم التنكير يفيد العموم فيشمل القريب والأجنبي يكون عنده أو عند غيره لم يمسحه حال من فاعل مسح أي والحال أنه لم يمسح رأس اليتيم إلا لله أي لا لغرض سواه كان له أي للماسح بكل شعرة بسكون العين ويفتح أي بكل واحدة من شعر رأسه يمر بالتذكير ويؤنث من المرور أي يأتي عليها وكذا حكم محاذيها يده وفي نسخة من الإمرار ففاعله ضمير الماسح ويده مفعوله حسنات بالرفع على اسم كان والظاهر أن الحسنات مختلفة كمية وكيفية باعتبار تحسين النيات قال الطيبي مسح رأس اليتيم كناية عن الشفقة والتلطف إليه ولما لم تكن الكناية منافية لإرادة الحقيقة لإمكان الجمع بينهما كما تقول فلان طويل النجاد وتريد طول قامته مع طول علاقة سيفه رتب عليه قوله بكل شعرة يمر عليه يده ومن أحسن إلى يتيمة أو يتيم قيل أو للتنويع وقدم اليتيمة لأنها أحوج والظاهر أنه شك من أحد الرواة وقع في غير محله لأن حكم اليتيم قد علم مما سبق ففي هذه الفقرة جير اليتيمة باللطف اللهم إلا أن يخص الإحسان بالأنعام والإنفاق ونحوهما مما يغاير معنى مطلق الإحسان الشامل للمسح

Marqaah al-Mafaatiih Syarh Misykaah al-Mashaabiih XIV/263

SEMOGA BERMANFAAT..!!!

Wallahu a’lamu bisshowab..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s