N069. BOLEHKAH WALI AQROB PINDAH KE WALI AB’AD KARENA BISU?

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi masalah:
Ahmadi dan Sitti Maisarah dua insan yang telah lama menjalin hubungan “pertunangan” sedangkan ayah Sitti Maisarah telah meninggal seminjak dia masih kecil,namun untungnya Sitti Maisarah masih masih punya kakek dan saudara laki-laki seayah seibu bernama Yusuf.
Selang beberapa minggu hubungan Ahmadi dan Sitti Aisyah semakin dekat sehingga tumbuh hasrat (keinginan) dalam hatinya untuk segera melangsungkan pernikahan. Akan tetapi sangat disayangkan manakala pernihan akan segera dilangsungkan kekak kesayangannya jatuh sakit (struk) sehingga mengakibatkan bisu, tidak bisa berjalan, tidak mendengar (tuli) bahkan fikiran dan akalnya menjadi tidak normal.

Pertanyaannya:
Bolehkah Yusuf saudara Sitti Maisarah menikahkan adiknya (menjadi wali nikah) dikala situasi kakeknya sakit srtuk (bisu, fikiran dan akalnya tidak normal)?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Boleh Yusuf saudara Sitti Maisarah yang seayah seibu menikahkan dan mengawinkan Sitti Maisarah (menjadi wali nikah) manakala kakekya dalam situasi sakit struk yang mengakibatkan bisu dan tidak normalnya akal dan fikirannya sehingga tidak memungkinkan menikahkan sendiri dan mewakilkan baik secara isyarah ataupun tulisan. Dengan alasan karena adanya kakek telah dianggap tidak memenuhi persyaratan wali nikah.

Referensi :

الإقناع الجزء الثانى ص:١٢٤
{تنبيه}مماتركه المصنف من شروط الولى أن لايكون مختل النظر بهرم أو خبل وأن لايكون محجورا عليه بسفه متى كان الأقرب ببعض هذه الصفات المانعة للولاية فالولاية للأبعد

“(Satu peringatan)” Diantara perkara yang ditinggalkan oleh Kyai Mushonnif adalah diantara bebera syarat menjadi wali diantaranya adalah:

1. Harus memiliki fikiran atau akal yang sempurna artinya tidak cukup syarat bilamana fikirannya dan akalnya rusak karena disebabkan pikun.

2. Tidak menjadi “Mahhjur alaih” dengan sebab kebodohannya.
Kapan walinikah yang “aqrab”(lebih dekat) tidak memenuhi syarat yang ada diantara sebagian sifat tersebut yang mencegah(adanya maani’) atas kewalian maka wali nikah nya adalah beralih kepada wali ab-ad(lebih jauh) yakni Saudar-Nya yang seayah seibu dan seterusnya.

Referensi :

الإقناع الجزء الثانى ص:١٢٥
{فرع} الأحرس إن كان وليا وله إشارة يفهمها كل واحد عقد بها وإن فهمها الفطن أوكان له كتابة وأمكن التوكيل بهما وكل وإلا زوج الآبعد، وأما إن كان زوجا فإن كانت إشارته صريحة عقدبها وإن كانت كناية أوكانت له كتابة فإن أمكنه التوكيل وكل وإلا عقد للضرورة وتعرف نيته بإشارة أخرى أو كتابة وقيل يكون كالمجنون فزوج الحاكم عند فقد الأب والجد.

(“Satu cabang”) Orang yang bisu (tidak bisa bicara) manakala dia bersetatus wali nikah sedangkan dia bisa memberikan isyarah dan bisa difahami oleh setiap seorang dan atau bisa difahami oleh orang yang cerdas maka dia boleh mengakadnya atau sibisu bisa menulis dan memungkinkan mewakilkan maka wakilkan. Akan tetapi jika hal tersebut tidak memungkinkan mengakad dan mewakilkan, maka yang menikahkannya (menjadi wali nikah) adalah wali ab’ad (lebih jauh) yakni Yusuf saudaranya Sitti Maisarah dan serusnya.
Dan adapun jika si bisu punya istri dan sedangkan isyarah sharikh (jelas) baik dalam bentuk kinayah atau tulisan maka dia mengakadnya dan jika bisa mewakilkan dengan tulisan maka wakilkan dengan tulisan jika tidak bisa maka akadlah (wali ab’ad) dengan kondisi dlorurah. Dan niatnya dapat dikenal/diketahui disisi yang lain.

Dikatakan oleh sebagian ulama, dia diibaratkan orang gila
maka hakim yang menikahkan (menjadi wali) diwaktu tidak adanya ayah dan kakek.

CATATAN:

Jika ada ungkapan kata “قيل” (dikatakan) adalah:

a. Menunjukkan adanya khilaf (perbedaan pendapat) pada wajah-wajah ashhab.

b. Menunjukkan pendapat yang lemah.

لايقال قيل إلا ضعيف

Tidak dikatakan suatu perkatan “قيل” terkecuali lemah.

Adapun yang dimaksud wali aqrab (dekat) diatas adalah “Ayah” karena wali yang lebih dekat dengan perempuan untuk menikahkan.

Sedangka yang dimaksud dengan wali ab’ad (jauh) adalah Kakek/Saudara se ayah se ibu. Sebagaiman rincian wali nikah sebagai berikut :

Derajat (tingkatan) wali nikah (Wali yang mengakad nikah) pada dasarnya ada dua macam:

1- Wali nasab

Wali nasab adalah wali yang ada hubungan darah dengan perenpuan yang akan mereka kawini adalah :
a.) Ayah kandung
b.) Kakek dari ayah
c.) Saudara laki-laki seayah seibu
d.) Saudara laki-laki seayah
e.) Anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu seayah
f.) Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah
g.) Saudara laki-laki seayah dari ayah
h.) Saudara laki-laki seayah dari ayah
i.) Anak laki-laki dari saudara laki laki seeibu seayah dari ayah
j.) Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah dari ayah
Wali kolom a.) di atas disebut
“Wali yang paling dekat” kepada perempuan yang hendak dinikahkan. Dalam bahasa Arab disebut “ألولى الأقرب”.
Wali yang dibelakangnya disebut (dinamakan) “Wali yang lebih jauh”. Dalam bahasa Arab disebut “الولى الآبعد”.

Jika wali kolom 1/ a.) tidak ada karena berhalangan tetap (meninggal) atau berhalangan tidak tetap karena ada perjalanan sampai dua marhalah maka yang mengakatnya wali kolom 2/ b.) yang lebih dekat dan jika wali kolom b.) tidak ada maka yang menjadi wali adalah kolom 3/c.) dan seterudnya.

2- Wali hakim.
Yang dimaksud ” Wali Hakim” ialah kepala negara yang beragama Islam, dan dalam hal ini biasanya Pengadilan Agama, ia dapat mengangkat orang lain menjadi Hakim (biasanya yang diangkat KUA (Kepala Kantor Urusan Agama) Kecamatan untuk mengakatkan nikah perempuan yang berwali Hakim.

Sebagaimana Sabda Rasulullah (S.a.w) :

عن عائشة رضى الله عنها قالت:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل، فإن دخل بها فلها المهر بمااستحلّ من فرجها،فإن اشتجروا فالسلطان ولىّ من لا ولى له (أخرجه الأربعة إلا النسائي وصححه أبو عوانة وابن حبان والحاكم)

الباجورى الجزء الثانى ص: ١٠٥
(وأولى الولاية )
أى أحق الآولياء بالتزويج (الأب ثم الجد أبو الأب) ثم أبوه وهكذا ويقدم الأقرب من الأجداد على الأبعد (ثم الأخ للآب والأم) ولو عبر بالشقيق لكان أخصر (ثم الأخ للأب ثم ابن الآخ للأب والأم وإن سفل(ثم إبن الأخ للأب) وإن سفل………الخ
{قوله الأب ثم الجد} إنمالم يقل الأب وإن علا وإنه أخصر لضرورة أفادة الترتيب بين الأب والجد فإنه لو قال ماذكر لم يفد الترتيب بينهما فاندفع بذلك قول المحشى تبعا للقليوبى لو قال الأب وان علا لكان أولى وأخصر وقوله أبو الأب إحتراز من الجد أبى الأم فلا ولاية له كمالايخفى {قوله ثم أبوه} أى أبو الجد وقوله وهكذا أى ثم ابو أبيه ثم أبو ابي أبيه قوله ويقدم الأقرب من الأجداد على الأبعد وهو مستفاد من قوله ثم أبوه وهكذا وهو تصريح بما علم أتى به توضيحا {قوله ثم الآخ للأب والأم } أى لادلائه بالأب فهو أقرب من ابن الأخ……… الخ

والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s