HADITS KE 269 : TATACARA SUJUD SAHWI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 269 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ- قَالَ : ( صَلَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِحْدَى صَلَاتِي الْعَشِيّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى خَشَبَةٍ فِي مُقَدَّمِ الْمَسْجِدِ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهَا وَفِي الْقَوْمِ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَهَابَا أَنْ يُكَلِّمَاهُ وَخَرَجَ سَرَعَانُ النَّاسِ فَقَالُوا : أَقُصِرَتْ الصَّلَاةُ وَرَجُلٌ يَدْعُوهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ذَا الْيَدَيْنِ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اَللَّهِ أَنَسِيتَ أَمْ قُصِرَتْ ؟ فَقَالَ : لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ فَقَالَ : بَلَى قَدْ نَسِيتُ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ فَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ] ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَكَبَّرَ ثُمَّ وَضَعَ رَأْسَهُ فَكَبَّرَ فَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ [) ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : ( صَلَاةُ الْعَصْرِ )

وَلِأَبِي دَاوُدَ فَقَالَ : ( أَصَدَقَ ذُو الْيَدَيْنِ ؟ فَأَوْمَئُوا : أَيْ نَعَمْ ) وَهِيَ فِي الصَّحِيحَيْنِ لَكِنْ بِلَفْظِ : فَقَالُوا

وَهِيَ فِي رِوَايَةٍ لَهُ : ( وَلَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَقَّنَهُ اللَّهُ تَعَالَى ذَلِكَ )

Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah sholat salah satu dari dua sholat petang dua rakaat lalu salam Kemudian beliau menuju tiang di bagian depan masjid dan meletakkan tangannya pada kayu itu. Dalam jama’ah itu ada Abu Bakar dan Umar namun keduanya tidak berani mengatakan apapun kepada beliau. Orang-orang keluar dengan segera dan mereka bertanya-tanya apakah sholat tadi di qashar. Dalam Jama’ah itu ada seorang laki-laki yang dijuluki Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Dzulyadain ia bertanya: Ya Rasulullah apakah baginda lupa atau sholat tadi memang diqashar? Beliau bersabda: Aku tidak lupa dan sholat tidak diqashar. Orang itu berkata lagi: Tidak baginda telah lupa. Maka beliau sholat dua rakaat kemudian salam lalu takbir kemudian sujud seperti biasa atau lebih lama kemudian mengangkat kepalanya lalu takbir kemudian meletakkan kepalanya lalu takbir kemudian sujud seperti biasa atau lebih lama kemudian beliau mengangkat kepalanya dan takbir. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari Dalam suatu riwayat Muslim: Itu adalah sholat Ashar

Menurut Riwayat Abu Dawud Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bertanya: Apakah Dzulyadain benar? Lalu mereka mengiyakan Hadits itu ada dalam shahih Bukhari-Muslim tapi dengan lafadz: Mereka berkata

Dalam suatu riwayatnya pula: Beliau tidak sujud sampai Allah Ta’ala meyakinkannya akan hal itu.

HADITS KE 270 :

وَعَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ -رَضِيَ اَللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ- ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى بِهِمْ  فَسَهَا فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ  ثُمَّ تَشَهَّدَ  ثُمَّ سَلَّمَ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ  وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ  وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ

Dari Imran Ibnu Hushoin Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah sholat bersama mereka lalu beliau lupa maka beliau sujud dua kali kemudian tasyahhud lalu salam Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi Hadits hasan menurut Tirmidzi dan shahih menurut Hakim

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) mengutus Nabi kita untuk menetapkan hukum syariat yang di antaranya ialah hukum sujud sahwi ketika mengerjakan solat dan baginda telah menjelaskan melalui perbuatannya. Ketika baginda lupa, sekalipun lupa itu bukan karena lalai menghadap Allah, melainkan semata-mata karena mensyariatkan bagi
umatnya dan menjelaskan kepada mereka hukum agama melalui perbuatannya.

FIQH HADITS :

1. Perhatian para sahabat yang sedemikian tinggi untuk memperoleh ilmu melalui cara bertanya tanpa merasa segan atau rasa takut.

2. Beretika (bersopan santun) ketika bersama Nabi (s.a.w) karena Dzu al-Yadain tidak mengatakan kepadanya dengan kata-kata bahwa baginda telah lupa.

3. Tidak boleh mempercayai berita yang datang dari seseorang tanpa terlebih dahulu memastikan kebenarannya dengan bertanya kepada orang banyak.

4. Disyariatkan sujud sahwi. Sujud sahwi itu terdiri dari dua kali sujud. Ia tidak dilakukan secara berulang kali meskipun terdiri dari banyak
sebab.

5. Berbicara di dalam solat dengan sengaja membatalkan solat baik sedikit ataupun banyak. Namun berbicara demi kemaslahatan solat itu sendiri tidaklah membatalkan solat. Namun ulama masih berselisih pendapat mengenai masalah ini. Begitu pula ulama berbeda pendapat tentang orang lupa dan orang yang faham (bahwa berbicara dalam solat itu membatalkan solat).

6. Boleh meneruskan solat sesudah salam. Menurut Imam al-Syafi’i, itu boleh dilakukan apabila seseorang sadar akan lupanya dalam waktu yang tidak lama dan belum keluar meninggalkan masjid. Sebagian ulama mengatakan boleh meneruskan solat secara mutlak dan mereka mengikatnya dengan ketentuan apabila pemisahnya tidak lama, meskipun ada pula sebagian diantara mereka yang mengatakan boleh meneruskan solat meskipun waktu pemisahnya itu lama selagi wuduk belum batal.

7. Tempat untuk melakukan sujud sahwi ialah di akhir solat, yaitu sesudah salam. Hadis ini dijadikan pegangan oleh Imam Abu Hanifah.

Nabi (s.a.w) kadangkala lupa dalam sesetengah perbuatannya untuk menetapkan satu hukum syariat ke atas umatnya sebagaimana sabda baginda:

إِنّنِيْ لَا أَنْسٰى وَلٰكِنْ أُنَسَّي لِأَسُنَّ – لِأُشَرِّعَ

“Sesungguhnya aku tidak lupa, melainkan aku dilupakan untuk menetapkan syariat.”

9. Melakukan takbir untuk sujud sahwi dan melakukan salam sesudahnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa seseorang hendaklah melakukan salam dua kali -ini merupakan pendapat yang sahih- untuk membedakannya dengan salam yang biasa. Sebagian yang lain pula mengatakan bahwa salam dilakukan hanya sekali ke sebelah kanan (tanpa salam ke sebelah kiri).

10. Disyariatkan membaca tasyahhud sesudah melakukan dua kali sujud sahwi secara mutlak dan melakukan salam sesudahnya, karena berlandaskan kepada
makna zahir hadis. Ini dijadikan pegangan oleh Imam Abu Hanifah.

Mazhab Maliki mengatakan bahwa seseorang yang telah membaca tasyahhud (akhir) hendaklah melakukan tasyahhud lagi untuk sujud sahwi dan barulah bersalam.
Sedangkan seseorang yang belum membaca tasyahhud, menurut Imam Malik dalam masalah ini ada dua riwayat dan keduanya bersumber darinya. Tetapi menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab Maliki, hendaklah seseorang bertasyahhud agar salam yang dilakukan jatuh sesudah tasyahhud.

Imam al-Syafi’i mengatakan, jika seseorang telah melakukan sujud sebelum salam, maka dia tidak perlu bertasyahhud. Inilah pendapat masyhur dalam mazhab al-Syafi’i. Tetapi mereka berselisih pendapat mengenai masalah sekiranya sujud dilakukan sesudah salam. Menurut pendapat yang sahih, seseorang hendaklah terus salam dan tidak perlu lagi mengucapkan tasyahhud.

Mazhab Hanbali mengatakan, jika sujud dilakukan sebelum salam, maka tidak boleh lagi bertasyahhud dan jika sujud dilakukan sesudah salam, maka baginya wajib tasyahhud.

11. Berniat keluar dari solat apabila berlandaskan kepada sangkaan bahwa solat telah sempurna, maka itu tidak menjadikan solat yang dilakukannya batal apabila telah mengucapkan salam.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s