HADITS KE 272 : MEMBERI TAU IMAM KETIKA LUPA DALAM SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 272 :

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ : ( صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ : يَا رَسُولَ اَللَّهِ أَحَدَثَ فِي اَلصَّلَاةِ شَيْءٌ ؟ قَالَ : وَمَا ذَلِكَ ؟ قَالُوا : صَلَّيْتَ كَذَا قَالَ : فَثَنَى رِجْلَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ اَلْقِبْلَةَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ : إِنَّهُ لَوْ حَدَثَ فِي اَلصَّلَاةِ شَيْءٌ أَنْبَأْتُكُمْ بِهِ وَلَكِنْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَتَحَرَّ اَلصَّوَابَ فلْيُتِمَّ عَلَيْهِ ثُمَّ لِيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ : ( فَلْيُتِمَّ ثُمَّ يُسَلِّمْ ثُمَّ يَسْجُدْ )

وَلِمُسْلِمٍ : ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَجَدَ سَجْدَتَيْ اَلسَّهْوِ بَعْدَ اَلسَّلَامِ وَالْكَلَامِ )

وَلِأَحْمَدَ وَأَبِي دَاوُدَ وَالنَّسَائِيِّ ; مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ بْنِ جَعْفَرٍ مَرْفُوعاً : ( مَنْ شَكَّ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَمَا يُسَلِّمُ ) وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat Ketika beliau salam dikatakan kepadanya: Ya Rasulullah apakah telah terjadi sesuatu dalam sholat؟ Beliau bersabda: Apa itu? Mereka berkata: Baginda sholat begini begitu Abu Mas’ud berkata: Lalu mereka merapikah kedua kakinya dan menghadap kiblat lalu sujud dua kali kemudian salam Beliau kemudian menghadap orang-orang dan bersabda: Sesungguhnya jika terjadi sesuatu dalam sholat aku beritahukan padamu tapi aku hanyalah manusia biasa seperti kamu sekalian yang dapat lupa seperti kalian Maka apabila aku lupa ingatkanlah aku dan apabila seseorang di antara kamu ragu dalam sholatnya hendaknya ia meneliti benar kemudian menyempurnakannya lalu sujud dua kali. (Muttafaq Alaihi)

Dalam suatu hadits riwayat Bukhari: “Hendaknya ia menyempurnakan lalu salam kemudian sujud.

Dalam riwayat Muslim: “Bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah sujud sahwi dua kali setelah salam dan bercakap-cakap”.

Menurut riwayat Ahmad Abu Dawud dan Nasa’i dari hadits Abdullah Ibnu Ja’far yang diterima secara marfu’: “Barangsiapa ragu dalam sholatnya hendaknya ia bersujud dua kali sesudah salam Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) tidak pernah lupa karena baginda dipelihara dari dipedaya syaitan, tetapi adakalanya baginda mengalaminya sebagai satu syariat kepada umatnya dan memberi pengajaran kepada orang yang lupa apa yang mesti dilakukannya apabila dia lupa ketika mengerjakan ibadah. Didalam hadis yang lain disebutkan:

إني لا أَنْسَى ولكن أُنَسَّى لأُشَرِّع

“Sesungguhnya aku tidak lupa, melainkan aku dilupakan untuk menetapkan syariat.”

Lupa merupakan salah satu ciri khas manusia apabila dibandingkan dengan kedudukan Allah Yang Maha Tinggi. Oleh itu, Allah Maha Suci dari sifat lupa. Allah (s.w.t) berfirman:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا (64)

“Dan tidaklah Tuhanmu lupa…” (Surah Maryam: 64)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

فِي كِتَابٍ ۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى (52)

“… Di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.” (Surah Taha: 52)

Demikianlah rahsia sabda Nabi (s.a.w) yang mengatakan:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ

“Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu. Aku bisa lupa sebagaimana kamu juga lupa.”

Namun, ada perbedaan antara lupa baginda dengan lupa mereka. Lupa baginda memuatkan ketentuan hukum dan syariat buat umatnya. Ini terjadi atas kehendak dan rahmat Allah (s.w.t). Allah (s.w.t) berfirman:

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰ (6) إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ

“Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Maka kamu tidak akan lupa kecuali kalau Allah menghendaki…” (Surah al-A‟la: 6-7)

Adapun lupa yang dialami oleh selain baginda, itu bersumber dari kelalaian dan godaan syaitan.

FIQH HADITS :

1. Makmum mesti mengikuti imam, dan solat makmum batal apabila dia meyakini yang imam solat telah melakukan kesalahan dan dia tetap bermakmum kepadanya. Rasulullah (s.a.w) tidak menyuruh para sahabat untuk mengulangi solat, padahal mereka telah meyakini adanya tambahan rakaat. Ini karena pada zaman Rasulullah (s.a.w) ada kemungkinan terjadi perubahan dan nasakh hukum. Oleh itu, mereka bertanya: “Apakah telah terjadi suatu perubahan dalam solat?”

2. Pengikut hendaklah mengingatkan orang yang diikutinya mengenai perkara-perkara yang telah dilakukannya. Ini tidak boleh dihambat oleh kebesaran orang yang dianutinya itu.

3. Dianjurkan berpegang teguh kepada apa yang diyakininya dalam solat dan membuang keraguan.

4. Menjelaskan bahwa apa yang diperlukan tidak boleh terlambat dari waktu yang diperlukan, karena Nabi (s.a.w) bersabda: “Seandainya terjadi suatu perubahan dalam masalah solat, niscaya aku akan memberitahukannya kepada kamu,” yakni sebelum datangnya waktu yang diperlukan.

5. Ada kalanya Nabi (s.a.w) mengalami lupa dalam sesetengah pekerjaan dengan tujuan menetapkan hukum syariat buat umatnya.

6. Percakapan orang yang lupa dan salamnya tidak membatalkan solat.

7. Percakapan yang disengajakan untuk kepentingan solat tidak membatalkan solat. Buktinya, Nabi (s.a.w) tidak menyuruh mereka mengulangi solatnya.

8. Disyariatkan melakukan sujud sahwi sesudah salam. Hukum sujud sahwi masih diperselisihkan di kalangan ulama.

Imam Ahmad mengatakan bahwa sujud sahwi wajib kerana berlandaskan kepada perintah yang terdapat di dalam sabda Nabi (s.a.w): “Hendaklah dia melakukan sujud dua kali.” Oleh karena makna asal perintah menunjukkan makna wajib, maka jika seseorang meninggalkannya dengan sengaja, maka solat yang telah dikerjakannya menjadi batal apabila dia sebelum mengucapkan salam, tetapi tidak batal apabila dia telah salam. Sebab dia telah berada di luar solat dan sujud itu hanya berfungsi untuk menutupi kekurangan yang ada padanya. Jika meninggalkan sujud ini karena lupa sebelum salam atau sesudahnya, maka dia mesti mengerjakannya selagi jarak pemisahnya tidak terlalu lama menurut ukuran kebiasaan, sekalipun dia telah berpaling dari arah kiblat atau telah berbincang-bincang. Jika jarak pemisah terlalu lama atau dia telah keluar meninggalkan masjid atau telah hadas, maka tidak perlu lagi melakukan sujud sahwi dan solatnya tetap dianggap sah.

Imam Abu Hanifah dan begitu pula murid-muridnya mengatakan bahwa sujud sahwi itu wajib dan berdosa bagi orang yang meninggalkannya, tetapi solatnya tidak batal. Dia mesti
mengulangi lagi solatnya untuk membebaskan dirinya dari dosa.

Mazhab al-Syafi’i mengatakan bahwa sujud sahwi hukumnya sunat. Inilah pendapat yang masyhur di kalangan mereka.

Mazhab Maliki mengatakan, tidak
ada bedanya antara sujud yang dilakukan oleh orang yang belum salam dengan yang sudah salam. Sebahagian mereka mengatakan wajib melakukan sujud sahwi bagi orang yang belum salam.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s