HADITS KE 295-296 : ANJURAN BERBARING KE KANAN SETELAH SHALAT SUNNAH FAJAR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 295 :

وَعَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : ( كَانَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا صَلَّى رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ اِضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ اَلْأَيْمَنِ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila selesai sholat dua rakaat fajar berbaring atas sisinya yang kanan. Riwayat Bukhari.

HADITS KE 296 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ , فَلْيَضْطَجِعْ عَلَى جَنْبِهِ الْأَيْمَنِ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَأَبُو دَاوُدَ , وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang di antara kamu selesai sholat dua rakaat sebelum sholat Shubuh, hendaknya ia berbaring atas sisinya yang kanan.” Hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi.

MAKNA HADITS :

Berbaring sesudah mengerjakan sholat sunat qabliyyah Subuh adalah disyariatkan melalui sabda Nabi (s.a.w) dan dikuatkan lagi dengan perbuatannya. Maksudnya
adalah berbaring dalam waktu sebentar pada lambung yang sebelah kanan seraya menghadap ke arah kiblat. Tujuannya supaya seseorang itu senantiasa ingat tempat pembaringannya di dalam kubur kelak. Dengan demikian, dia berusaha dan berupaya melakukan amal sholeh sebagai bekalannya. Sedangkan Mazhab Zahiri mengemukakan pendapat yang berlainan dengan mengatakan bahwa berbaring pada lambung sebelah kanan adalah wajib berlandaskan kepada makna dzahir perintah yang terdapat di dalam hadis ini. Akan tetapi, apa yang dikatakannya itu dapat disanggah dengan kenyataan bahwa Nabi (s.a.w) adakalanya tidak berbaring pada lambung sebelah kanan setelah mengerjakan sholat sunat fajar. Bukti inilah yang memalingkan hukum wajib pada perkataan perintah yang
terdapat dalam hadis ini. Imam Malik menganggap makruh berbuat demikian apabila diniatkan sebagai sunat, tetapi beliau membolehkan apabila diniatkan sebagai istirahat. Apa yang dikatakannya ini berpegang kepada apa yang biasa dilakukan oleh masyarakat Madinah dan perbuatan yang dilakukan oleh Ibn Umar (r.a) yang menurut satu riwayat beliau sering melempari orang yang berbaring pada lambung setelah mengerjakan sholat sunat fajar dengan batu kerikil.

FIQH HADITS :

Orang yang sholat pada waktu malam hari disyariatkan berbaring pada lambung yang sebelah kanan untuk mengistirahatkan tubuh dari keletihan setelah lama berdiri ketika mengerjakan qiyamul lail supaya ketika mengerjakan sholat Subuh, tubuh menjadi segar kembali dan penuh semangat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s