HADITS KE 325 : SHALAT I’ADAH UNTUK BERJAMAAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 325 :

وَعَنْ يَزِيدَ بْنِ الْأَسْوَدِ رضي الله عنه ( أَنَّهُ صَلَّى مَعَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم صَلَاةَ الصُّبْحِ, فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا هُوَ بِرَجُلَيْنِ لَمْ يُصَلِّيَا, فَدَعَا بِهِمَا, فَجِيءَ بِهِمَا تَرْعَدُ فَرَائِصُهُمَا, فَقَالَ لَهُمَا: “مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَنَا?” قَالَا: قَدْ صَلَّيْنَا فِي رِحَالِنَا. قَالَ: “فَلَا تَفْعَلَا, إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمْ, ثُمَّ أَدْرَكْتُمْ الْإِمَامَ وَلَمْ يُصَلِّ, فَصَلِّيَا مَعَهُ, فَإِنَّهَا لَكُمْ نَافِلَةٌ” ) رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَاللَّفْظُ لَهُ, وَالثَّلَاثَةُ, وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّان

Dari Yazid Ibnu al-Aswad bahwa dia pernah sholat Shubuh bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah usai sholat beliau bertemu dengan dua orang laki-laki yang tidak ikut sholat. Beliau memanggil kedua orang itu, lalu keduanya dihadapkan dengan tubuh gemetaran. Beliau bertanya pada mereka: “Apa yang menghalangimu sehingga tidak ikut sholat bersama kami?” Mereka menjawab: Kami telah sholat di rumah kami. Beliau bersabda: “Jangan berbuat demikian, bila kamu berdua telah sholat di rumahmu kemudian kamu melihat imam belum sholat, maka sholatlah kamu berdua bersamanya karena hal itu menjadi sunat bagimu.” Riwayat Imam Tiga dan Ahmad dengan lafadz menurut riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Tirmidzi.

MAKNA HADITS :

Tidak mengikuti sholat berjamaah bersama imam sholat di dalam masjid termasuk perbuatan mengingkari imam sekaligus memecah belah persatuan di samping membuka peluang bagi ahli bid’ah untuk menampilkan perbuatan bid’ah mereka dan membentuk jamaah tersendiri. Di sini Rasulullah (s.a.w) melarang perbuatan memisahkan diri dari jamaah. Ini diungkapkan oleh Nabi (s.a.w) melalui bimbingannya kepada kedua orang lelaki yang tidak faham itu.

FIQH HADITS :

1. Menjelaskan tentang betapa hebat wibawa Rasulullah (s.a.w).

2. Menanyakan apa penyebab yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu pelanggaran.

3. Memperhatikan keadaan orang banyak ketika mengerjakan sholat serta memberikan bimbingan dan penyuluh kepada mereka yang melakukan pelanggaran agar kembali ke jalan yang benar.

4. Boleh melakukan sholat fardu di luar masjid.

5. Barang siapa telah melaksanakan sholat di luar masjid, kemudian dia menjumpai sholat berjamaah di dalam masjid, maka disunatkan baginya mengerjakan sholat lagi bersama jamaah. Sholat yang pertama merupakan sholat fardu, sedangkan sholat kedua yang dia lakukan secara berjamaah itu dianggap sholat sunat.

Imam Abu Hanifah mengkhususkan disyariatkannya pengulangan sholat itu hanya untuk selain sholat Subuh dan Maghrib.

Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad juga mengatakan bahwa pengulangan ini boleh dilakukan ke semua sholat tanpa terkecuali karena berdasarkan kepada makna dzahir hadis tersebut.

Imam Malik berkata: “Jika seseorang telah mengerjakan sholat secara berjamaah (di luar masjid), maka dia tidak perlu lagi mengulanginya. Jika tidak, maka dia dianjurkan untuk mengulanginya, kecuali sholat Maghrib.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s