HADITS KE 339: TENTANG BERJALAN DALAM SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT

HADITS KE 339 :

وَعَنْ أَبِي بَكْرَةَ رضي الله عنه أَنَّهُ اِنْتَهَى إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ رَاكِعٌ, فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ, فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ( زَادَكَ الله حِرْصًا وَلَا تَعُدْ ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَزَادَ أَبُو دَاوُدَ فِيهِ: ( فَرَكَعَ دُونَ الصَّفِّ, ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ)

Dari Abu Bakrah Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ketika beliau ruku’. Lalu ia ruku’ sebelum mencapai shof. Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda padanya: “Semoga Allah menambah keutamaanmu dan jangan mengulanginya.” Riwayat Bukhari. Abu Dawud menambahkan dalam hadits itu: Ia ruku’ di belakang shaf kemudian berjalan menuju shof.

MAKNA HADITS :

Pada suatu hari seorang sahabat bernama Abu Bakrah datang dengan langkah tergesa-gesa untuk mengerjakan sholat berjamaah, hingga akhirnya sampailah dia kepada Nabi (s.a.w). Ketika itu Nabi (s.a.w) sedang rukuk. Oleh kerana Abu Bakrah merasa kawatir tidak mendapat pahala sholat berjamaah dan pahala rukuk bersama Rasulullah (s.a.w), dia segera melakukan rukuk mengikuti Rasulullah (s.a.w) sebelum sampai pada shaf sholat. Kemudian dia berjalan sambil rukuk menuju shaf sholat bergabung dengan jamaah yang lain.

Ketika Rasulullah (s.a.w) selesai mengerjakan sholat, baginda menanyakan siapa orang yang melakukan perbuatan itu, lalu Abu Bakrah mengakui perbuatannya.
Nabi (s.a.w) menyetujui apa yang telah diperbuatnya itu, tetapi baginda memberinya petunjuk yang lebih afdhal untuk dia lakukan pada masa mendatang, supaya kelak Abu Bakrah berjalan pada ajaran yang sempurna. Inilah yang diungkapkan oleh Nabi (s.a.w) dalam suatu kalimat yang penuh dengan sopan: “Semoga Allah membuat kamu bertambah rajin, tetapi janganlah kamu ulangi lagi perbuatanmu itu.

FIQH HADITS :

1. Berjalan di dalam sholat untuk kemaslahatan sholat itu sendiri tidak membatalkannya. Ulama berbeda pendapat mengenai kadar langkah yang dimaafkan. Menurut mazhab Imam al-Syafi’i, kadarnya ialah satu langkah atau dua langkah secara berturut-turut, tidak boleh lebih dari itu. Jika langkah yang dilakukannya terputus-putus, maka itu dimaafkan, meskipun dilakukan hingga seratus langkah. Sebagian kalangan mazhab Hanafi membolehkannya hanya satu langkah, sedangkan menurut sebagian yang lain sampai batasan tempat sujud. Menurut mazhab Maliki, apabila melangkah untuk menutupi celah-celah shaf yang kosong, maka itu dimaafkan sebatas dua atau tiga shaf. Jika langkah yang dilakukan bukan untuk kedua tujuan itu seperti menolak orang yang lewat di hadapannya atau menangkap hewan kendaraan yang lari dan
lain-lain sebagainya, maka hitungan langkah itu hendaklah mengikut kepada tradisi yang berlaku. Apa yang dianggap sedikit oleh tradisi, maka itu dimaafkan, tetapi bila dinilai sebaliknya oleh tradisi, maka itu tidak dimaafkan.

2. Barang siapa yang mendapati imam sedang rukuk, maka orang itu tidak boleh memasuki sholat sebelum sampai pada safnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s