JILID II (DUA), HADITS KE 1 : SHALAT YANG BISA DIQASHAR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 1 :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: ( أَوَّلُ مَا فُرِضَتْ الصَّلَاةُ رَكْعَتَيْنِ , فَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ وَأُتِمَّتْ صَلَاةُ الْحَضَرِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

وَلِلْبُخَارِيِّ: ( ثُمَّ هَاجَرَ, فَفُرِضَتْ أَرْبَعًا, وَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ عَلَى الْأَوَّلِ )وَلِلْبُخَارِيِّ: ( ثُمَّ هَاجَرَ, فَفُرِضَتْ أَرْبَعًا, وَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ عَلَى الْأَوَّلِ)

Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Sholat itu awalnya diwajibkan dua rakaat, lalu ia ditetapkan sebagai sholat dalam perjalanan, dan sholat di tempat disempurnakan (ditambah). Muttafaq Alaihi.

Menurut riwayat Bukhari: Kemudian beliau hijrah, lalu diwajibkan sholat empat rakaat, dan sholat dalam perjalanan ditetapkan seperti semula.

MAKNA HADITS :

Oleh kerana bermusafir sering kali menyebabkan keletihan, maka syariat Islam mempersingkat sholat empat rakaat seperti sholat dzuhur, Asar, dan Isyak menjadi dua rakaat sebagai satu kemudahan bagi orang musafir sehinggalah dia kembali
pulang ke tempat tinggalnya.

Sholat Maghrib tidak boleh dipersingkat, karena ia merupakan witir bagi sholat siang hari, sedangkan witir disukai oleh Allah. Begitu pula sholat Subuh, tidak
boleh dipersingkat, karena dalam mengerjakan sholat Subuh bacaan al-Qur’an mesti dipanjang. Bacaan dalam sholat Subuh disaksikan oleh para malaikat dan usaha
mempercepat pelaksanaan sholat Subuh bertentangan dengan anjuran supaya bacaan al-Qur’an di dalamnya dipanjangkan.

Sholat qasar disunnatkan, karena ia adalah rukhsah. Sholat qasar lebih afdhal dari sholat secara sempurna. Allah suka apabila rukhsah-Nya dikerjakan, sebagaimana Dia suka apabila ‘azimah-Nya dilakukan.
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa sholat qasar wajib hukumnya, karena ia merupakan hukum asal sholat, kemudian ditambah bilangan rakaat sholat fardu itu ketika sedang tidak dalam perjalanan sebagaimana yang diterangkan oleh hadis Aisyah (r.a). Dalam kaitan ini Imam Abu Hanifah tidak mengemukakan
pandangannya itu berlandaskan akal semata, sebaliknya semata-mata berlandaskan tawqif (ketentuan syariat). Jumhur ulama mengatakan bahwa hadis Aisyah itu berkedudukan mawquf, hanya sampai kepada Aisyah (r.a).

FIQH HADITS :

1. Mengqasar sholat ketika dalam perjalanan menurut mazhab Hanafi adalah wajib. Mereka mengemukakan dalil untuk mendukung pendapatnya
berlandaskan dalil hadis yang mengatakan: “فرضت) “Diwajibkan). Menurut jumhur ulama, sholat qasar merupakan rukhsah dan mengerjakannya dengan sempurna adalah lebih diutamakan. Mereka mengatakan bahwa makna “فرضت “ialah ditetapkan berdasarkan firman Allah (s.w.t):

فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلٰوةِ (١٠١)

“… Apabila kamu musafir di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqasar sholatmu…” (Surah al-Nisa’: 101)

2. Sholat Maghrib dan sholat Subuh tidak boleh mengalami perubahan, baik ketika bermukim maupun ketika bermusafir.

3. Disyariatkan memperpanjang bacaan al-Qur’an ketika mengerjakan sholat Subuh.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

2 tanggapan untuk “JILID II (DUA), HADITS KE 1 : SHALAT YANG BISA DIQASHAR”

Tinggalkan Balasan ke Yusri Mathla'ul Anwar Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s