HADITS KE 64 : MACAM-MACAM CARA SHALAT GERHANA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT GERHANA

HADITS KE 64 :

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : ( اِنْخَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَصَلَّى, فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا, نَحْوًا مِنْ قِرَاءَةِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ, ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا, ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ, ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا, وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ, ]ثُمَّ سَجَدَ, ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلاً, وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ, ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا, وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ], ثُمَّ رَفَعَ, فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا, وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الْأَوَّلِ, ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً, وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ, ثُمَّ سَجَدَ, ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ تَجَلَّتِ الشَّمْسُ. فَخَطَبَ النَّاسَ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ. وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: ( صَلَّى حِينَ كَسَفَتِ الشَّمْسُ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ فِي أَرْبَعِ سَجَدَاتٍ )

وَعَنْ عَلِيٍّ مِثْلُ ذَلِكَ

وَلَهُ: عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه ( صَلَّى سِتَّ رَكَعَاتٍ بِأَرْبَعِ سَجَدَاتٍ )

وَلِأَبِي دَاوُدَ: عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: ( صَلَّى, فَرَكَعَ خَمْسَ رَكَعَاتٍ وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ, وَفَعَلَ فِي الثَّانِيَةِ مِثْلَ ذَلِكَ )

Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, maka beliau sholat, beliau berdiri lama sekitar lamanya bacaan surat al-Baqarah, kemudian ruku’ lama, lalu bangun dan berdiri lama namun lebih pendek dibandingkan berdiri yang pertama, kemudian ruku’ lama namun lebih pendek dibanding ruku’ yang pertama, lalu sujud, kemudian berdiri lama namun lebih pendek dibanding berdiri yang pertama, lalu ruku’ lama namun lebih pendek dibandingkan ruku’ yang pertama, kemudian bangun dan berdiri lama namun lebih pendek dibanding berdiri yang pertama, lalu ruku’ lama namun lebih pendek dibanding ruku’ yang pertama, kemudian beliau mengangkat kepala lalu sujud, kemudian selesailah dan matahari telah terang, lalu beliau berkhutbah di hadapan orang-orang. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari. Dalam suatu riwayat Muslim: Beliau sholat ketika terjadi gerhana matahari delapan ruku’ dalam empat sujud.

Dari Ali Radliyallaahu ‘anhu juga ada hadits semisalnya.

Dalam riwayat Bukhari dari Jabir: Beliau sholat enam ruku’ dengan empat sujud.

Menurut riwayat Abu Dawud dari Ubay Ibnu Ka’ab Radliyallaahu ‘anhu : Beliau sholat lalu ruku’ lima kali dan sujud dua kali, dan melakukan pada rakaat kedua seperti itu.

MAKNA HADITS :

Menurut pendapat yang paling kuat, hukum sholat gerhana adalah sunat mu’akkad. Pada dasarnya sholat gerhana terdiri dari dua rakaat. Tetapi telah disebutkan dalam hadis yang riwayatnya berbeda-beda antara satu sama lain tentang bilangan rukuknya, yaitu lebih banyak daripada sholat fardu, meskipun seluruh riwayat itu bersepakat tentang bilangan sujudnya sebanyak dua kali. Hadis ini menyebutkan perincian sholat gerhana agar dapat diketahui oleh orang yang belum
mengetahuinya. Berbagai macam riwayat yang menceritakan bilangan rukuk pada setiap rakaat sholat gerhana. Menurut riwayat al-Bukhari dari Ibn Abbas (r.a), sholat gerhana itu sebanyak dua rakaat, pada setiap rakaat terdapat dua rukuk dan dua sujud.

Menurut riwayat Muslim, dua rakaat dan pada setiap rakaat terdapat empat kali rukuk dan dua kali sujud. Dalam riwayat yang lain oleh Muslim dari Jabir (r.a) disebutkan dua rakaat dan pada setiap rakaat terdapat tiga kali rukuk dan dua kali sujud. Dalam riwayat Abu Daud disebutkan bahwa pada setiap rakaat terdapat lima kali rukuk dan dua kali sujud.

FIQH HADITS :

1. Sholat gerhana adalah dua rakaat.

2. Menjelaskan cara pertama mengerjakan sholat gerhana, yaitu dua rakaat; pada setiap rakaat dua kali rukuk dan dua kali sujud.

3. Menjelaskan cara kedua mengerjakan sholat gerhana, yaitu dua rakaat; pada
setiap rakaat empat kali rukuk dan dua kali sujud.

4. Menjelaskan cara ketiga mengerjakan sholat gerhana, yaitu dua rakaat; pada
setiap rakaat tiga kali rukuk dan dua kali sujud.

5. Menjelaskan cara keempat mengerjakan sholat gerhana, yaitu dua rakaat dengan lima kali rukuk dan dua kali sujud pada setiap rakaatnya.

6. Disyariatkan berkhutbah sesudah mengerjakan sholat gerhana. Isi khutbah
memuatkan pujian dan sanjungan kepada Allah (s.w.t) dan anjuran untuk berdo’a dan bersedekah. Imam al-Syafi’i mengatakan bahwa disunatkan melakukan dua khutbah sesudah mengerjakan sholat. Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad meriwayatkan bahwa sholat gerhana
tidak ada khutbah setelahnya dan mereka mentafsirkan hadis-hadis yang
menyebutkan adanya khutbah di dalamnya hanyalah semata-mata sebagai khutbah nasehat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s