HADITS KE 95 : MENCAMPURKAN AIR DENGAN DAUN BIDARA UNTUK MEMANDIKAN JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 95 :

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ فِي الذِي سَقَطَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَمَاتَ: ( اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ, وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Mengenai orang yang terjatuh dari kendaraannya kemudian meninggal, mandikanlah ia dengan air dan bidara, dan kafankanlah dengan dua lapis kainnya.” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Ibn Abbas (r.a) menceritakan bahwa ketika beliau bersama Nabi (s.a.w) sedang berwukuf di Arafah dan banyak orang yang di sekelilingnya, tiba-tiba ada seorang
lelaki jatuh dari atas kendaraannya, hingga lehernya patah dan meninggal dunia
seketika itu juga. Melihat itu, Rasulullah (s.a.w) menyuruh para sahabatnya
untuk memandikannya dan meletakkan daun bidara di dalam air mandinya serta
mengafaninya dengan kedua pakaian ihramnya. Ketika itu lelaki tersebut sedang berihram dan memakai pakaian ihram, iaitu kain dan selendang.

Nabi (s.a.w) melarang mereka meletakkan hanuth (bahan pengawet) dan menutupi kepalanya. Mereka harus membiarkannya dalam keadaan berpakaian ihram sebagaimana ketika dia mati, karena sesungguhnya kelak pada hari kiamat
dia akan dihimpun dalam keadaan berpakaian ihram sebagaimana keadaannya ketika dia meninggal dunia seraya mengucapkan: “لبيك اللهم لبيك”

FIQH HADITS :

1. Wajib memandikan mayat dan mengkafaninya.

2. Boleh memandikan mayat yang mati dalam keadaan berihram dengan daun bidara dan air karena berlandaskan kepada perintah Rasulullah (s.a.w) dalam hadis ini. Imam al-Syafi’i berkata: “Orang hidup yang sedang berihram dibolehkan mandi dengan air dan daun bidara.” Sedangkan menurut jumhur ulama, itu makruh.

3. Boleh mengkafankan mayat dengan dua pakaian, tetapi yang lebih afdhal ialah dengan tiga helai pakaian, yaitu tiga helai kain.

4. Ihram lelaki berkaitan dengan kepalanya, bukan dengan wajahnya.

5. Disunatkan mengkafankan mayat yang mati selagi berihram dengan pakaian ihramnya.

6. Orang yang sedang mengerjakan amal ibadah lalu dia mati ketika mengerjakannya dan amal ibadahnya itu belum sempat dia selesaikan, maka diharapkan kelak pada hari kiamat dihimpun bersama orang yang
rajin dalam amal ibadah itu.

7. Jika seseorang yang sedang ihram meninggal dunia, maka status ihramnya
masih tetap wujud pada dirinya. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad mengatakan bahwa haram menutup kepala mayat yang mati ketika sedang berihram, bagitu pula memberinya wangian, karena berlandaskan kepada hadis ini. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa menutup kepala dan memberinya wangian boleh dilakukan ke atasnya sama dengan apa yang diperlakukan ke atas orang yang mati dalam keadaan tidak berihram. Ketetapan ini berdasarkan qiyas, karena status ibadah telah terputus dengan hilangnya beban taklif, yaitu hidup. Mereka menyanggah hadis ini bahwa hal tersebut merupakan keistimewaan bagi lelaki yang mati sedang berihram pada zaman Rasulullah (s.a.w) itu saja. Ini kerana pemberitahuan baginda yang menyatakan bahwa lelaki itu kelak akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah (berihram) merupakan kesaksian baginda yang haji lelaki itu telah diterima dan status ini tidak dapat diperlakukan kepada orang lain.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s