HADITS KE 104 : HUKUM SUAMI MEMANDIKAN ISTRI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 104 :

عن عا ئشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عيه وسلم قال : “لَوْ متِّ قَبْلِي فَغَسَّلْتُكِ” الحديث. رواه أحمد وابن ماجة وصححه ابن حبان

Dari Aisyah (r.a) bahwa Nabi (s.a.w) bersabda kepadanya: “Jika kamu
meninggal dunia sebelumku, niscaya aku yang akan memandikanmu,…” hingga akhir hadis. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibn Majah, dinilai sahih oleh Ibn Hibban)

MAKNA HADITS :

Menurut kaidah asal, sesuatu itu ditetapkan seperti keadaannya semula. Oleh itu, seorang suami dibolehkan memandikan jenazah isterinya. Inilah menurut pendapat jumhur ulama karena berlandaskan kepada kekalnya hukum perkawinan di samping berdasarkan kepada sabda Nabi (s.a.w) kepada isterinya, Aisyah (r.a): “Seandainya kamu mati sebelumku, niscaya aku yang akan memandikan (jenazah)mu. Selain itu, pendapat jumhur ulama ini turut didukung oleh wasiat Fatimah (r.a) yang meminta agar Ali (r.a), suaminya memandikannya. Dalil yang lain pula adalah berdasarkan wasiat Khalifah Abu Bakar (r.a) kepada isterinya, Asma’ binti ‘Umais yang meminta agar istrinya memandikan jenazahnya. Asma’ meminta bantuan Abdul Rahman ibn Auf agar membantunya melakukan wasiat tersebut memandang keadaan tubuhnya ketika itu yang lemah dan ternyata tidak ada seorang pun yang memprotesnya.

Dari uraian di atas dapat diambil satu kesimpulan bahwa salah seorang di
antara suami isteri apabila memandikan yang lain merupakan tradisi yang telah dikenal sejak zaman Rasulullah (s.a.w) dan demikian pula setelah baginda wafat.
Akan tetapi, hukum jenazah bukan mahram tentu memiliki hukum yang berlainan dimana apabila ada seorang wanita meninggal dunia di tengah-tengah lelaki tanpa ada seorang wanita pun di antara mereka atau ada seorang lelaki meninggal dunia di kalangan wanita lain tanpa ada seorang lelaki pun di antara mereka, maka kedua jenazah ini hendaklah ditayamumkan, lalu dikebumikan dan jenazah mereka ini disamakan dengan orang yang tidak menemukan air.

Adapun wanita yang memandikan jenazah suaminya, maka itu dibolehkan
mengikut kesepakatan ulama.

FIQH HADITS :

1. Orang yang sakit boleh memperlihatkan rasa sakitnya, tetapi bukan sebagai
keluhan, melainkan untuk mencari dokter atau obat.

2. Seorang suami boleh memandikan jenazah isterinya, lain halnya dengan
Imam Abu Hanifah yang meriwayatkan hadis dengan bermakna yang sebaliknya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s