HADITS KE 106 : SHOLAT JANAZAH BAGI ORANG YANG DIRAJAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 106 :

عن بريدة رضي الله عنه – في قصة الغامدية التي امر النبي صلى الله عليه وسلم برجمها في الزنا – قال : ثم أمر بها فصلي عليها ودفنت. رواه مسلم.

Dari Buraidah (r.a) menceritakan hadis yang memuatkan kisah tentang
al-Ghamidiyyah yang diperintahkan oleh Nabi (s.a.w) untuk menjalani hukuman rajam karena telah berbuat zina: “Kemudian baginda memerintahkan agar jenazah wanita itu diselenggarakan, lalu disholatkan dan dikebumikan.”

(Diriwayatkan oleh Muslim)

MAKNA HADITS

Nabi (s.a.w) adalah pembimbing yang bijaksana, bersifat lemah lembut dan menyayangi kaum mukminin. Baginda tidak mau melakukan sesuatu apabila itu lebih bagus untuk baginda tinggalkan.
Tetapi adakalanya baginda menyuruh
sahabatnya untuk melakukan hal tersebut sebagai bukti kasih sayangnya.

Nabi (s.a.w) tidak mau menyembahyangkan jenazah orang yang fasik agar dijadikan peringatan bagi orang yang berkelakuan sama dengan mereka sekaligus sebagai peringatan terhadap yang lain. Sikap ini merupakan salah satu cara pelajaran sekali gus hukuman mengingat telah diketahui oleh Nabi (s.a.w) bahwa sahabat sangat bergantung kepada sholat yang dilakukan baginda terhadap orang yang mati di antara mereka.

Sholat jenazah merupakan syafa’at dan syafaat Rasulullah (s.a.w) tidak ditolak.
Demikianlah alasan Nabi (s.a.w) tidak mau menyembahyangkan orang yang
membunuh dirinya sendiri dengan pisau agar dijadikan peringatan bagi orang yang lain di samping sebagai protes terhadap perbuatan keji tersebut. Begitu pula baginda tidak mau menyembahyangkan jenazah yang masih meninggalkan hutang pada masa permulaan Islam untuk memacu para sahabat agar mereka segera menyelesaikan hutang. Sungguhpun begitu, adakalanya Nabi (s.a.w) menyuruh sahabat untuk
menyembahyangkan jenazah teman-teman mereka yang masih mempunyai hutang agar tidak ada mayat yang dikebumikan tanpa disholatkan terlebih dahulu, tetapi baginda sendiri bersabda: “Aku tidak mahu menyembahyangkannya.”

FIQH HADITS :

1. Orang yang melanggar hukuman hudud dianjurkan untuk meminta agar hukuman hudud ditegakkan ke atas dirinya yang disertai dengan taubat agar penyucian dirinya benar-benar menjadi sempurna.

2. Tidak boleh menggugurkan hukuman hudud hanya dengan bertaubat
setelah kesannya dilaporkan kepada hakim.

3. Dalam menegakkan hukuman hudud harus disertai bukti yang nyata demi
memelihara jiwa dan kehormatan.

4. Dibolehkan mengakhirkan hukuman hudud terhadap wanita yang sedang
hamil hingga melahirkan kandungannya dan menyusui bayinya karena
menghormati janin yang tidak berdosa. Sehubungan dengan ini, Imam al-
Syafi’i dan Imam Ahmad serta satu pendapat yang masyhur di kalangan
mazhab Maliki mengatakan bahwa wanita tersebut tidak boleh dirajam
sebelum menemukan wanita lain yang bersedia menyusukan bayinya.
Jika tidak dapat menemukan wanita lain yang menyusui anaknya, maka
hendaklah dia menyusui anaknya sendiri hingga menyapihnya. Setelah
itu barulah dia menjalani hukuman rajam. Imam Abu Hanifah berkata:
“Jika wanita itu telah melahirkan anaknya, maka dia harus menjalani
hukuman rajam tanpa harus menunggu wanita lain yang bakal menyusui
anaknya.”

5. Hukuman hudud bagi orang sakit ditangguhkan hingga sembuh dari
sakitnya atau mendekati sembuh. Sesudah itu barulah dilaksanakan
hukuman hudud ke atasnya.

6. Hukum rajam hanya berlaku bagi orang yang melakukan zina muhson,
yakni orang yang pernah kawin yang sah di sisi syara’.

7. Menempatkan wanita ke dalam suatu lubang ketika menjalani hukuman
hudud agar auratnya tidak terlihat.

8. Larangan memaki orang yang sedang menjalani hukuman hudud.

9. Melakukan hubungan liar merupakan satu perbuatan kejahatan yang
dosanya dapat dihapuskan dengan cara bertaubat dan tidak mengulangi
lagi perbuatan yang serupa.

10. Boleh bersumpah tanpa diminta untuk memperbesarkan perkara yang
sedang terjadi.

11. Disyariatkan menyembahyangkan jenazah orang yang telah menjalankan
hukuman hudud dan rajam. Imam al-Syafi’i dan Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa imam dan orang soleh serta selain mereka turut serta menyembahyangkan orang yang mati karena hukuman hudud. Tetapi menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, imam dan orang soleh makruh
menyembahyangkan orang yang mati kerana hukuman hudud, namun
selain mereka tidak dimakruhkan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s