HADITS KE 109 : LARANGAN MERATAPI KEMATIAN SESEORANG

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 109 :

عن خذيفة رضي الله عنهأن النبي صلى الله عليه وسلم كان ينهى عن النعي. رواه أحمد والترمذي وحسنه

Dari Hudzaifah (r.a) bahwa Nabi (s.a.w) melarang dari melakukan al-na’yu (meratap dengan cara Jahiliah). (Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Tirmizi yang menilainya sebagai hasan).

MAKNA HADITS :

Al-Na’yu ialah memberitahu kematian seseorang dan untuk menyampaikan berita kematian ada beberapa cara.

Pertama, memberitahu kepada keluarga si mayat, rekan-rekannya, orang sholeh dan tetangga. Ini termasuk amalan Sunnah mengingat si mayat harus dihadiri oleh jemaah yang akan memandikan, menyembahyangkan dan mengkebumikannya yang semua itu merupakan fardu kifayah dan harus dilakukan.

Kedua, mengajak orang banyak untuk tujuan membanggakan diri. Cara ini dimakruhkan kecuali bertujuan untuk memperbanyakkan pahala dan syafa’at dengan banyaknya orang yang menyembahyangkan si mayat.
Ketiga, memberitahu dengan cara niyahah dan menangis yang disertai dengan jeritan pada setiap pintu rumah, di pasar dan di atas mimbar. Ada pula dengan mengirimkan seseorang untuk berkeliling ke seluruh kabilah sebagaimana yang dilakukan oleh orang Arab pada zaman Jahiliyah. Cara inilah yang dilarang oleh Nabi (s.a.w) dalam hadis ini, karena baginda tidak suka meniru perbuatan mereka. Ini dikuatkan oleh sabda Nabi (s.a.w) dalam hadis yang lain:

إياكم والنعي فإن النعي من أعمال الجاهلية

“Janganlah kamu melakukan na’yu, karena sesungguhnya na’yu termasuk perbuatan Jahiliah.”

Adapun pemberitahuan secara mutlak tanpa disertai niyahah dan berbangga-bangga, maka itu diperbolehkan dengan berdalilkan sabda Nabi (s.a.w): “Mengapa kamu tidak memberitahukannya kepadaku?” sebagimana dalam kisah kematian seorang wanita yang bekerja membersihkan masjid sebelum ini.

FIQH HADITS :

1. Larangan melakukan perbuatan yang dahulu biasa dikerjakan oleh masyarakat Jahiliah apabila ada orang yang dihormati di kalangan mereka meninggal dunia atau mati dibunuh.

2. Disyariatkan memberitahu kematian seseorang agar seluruh keluarganya berkumpul, begitu pula teman-teman si mayat dan orang soleh.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s