HADITS KE 130 : HUKUM MEMBANGUN KUBURAN DAN MENGECATNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 130 :

ولمسلم عنه : نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يجصص القبر، وأن يقعد عليه، وأن يبنى عليه. متفق عليه.

Menurut riwayat Muslim dari Jabir (r.a) disebutkan sebagai berikut bahwa Rasulullah (s.a.w) telah melarang dari mengecat kuburan, duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya.” (MDttafaq ‘alaih)

MAKNA HADITS :

Hukum-hakum syariat telah ditetapkan demi kemaslahatan sekaligus
menjauhkan kemudharatan, baik kemudharatan itu sendiri ataupun akibat yang bakal ditimbulkan oleh kemudharatan itu. Kejahilan telah merajalela di kalangan umat terdahulu hingga mereka menjadikan bangunan sebagai kenangan berganti peranan menjadi berhala-berhala yang disembah. Oleh sebab itu, syariat Islam melarang mengecat kuburan, membuat binaan di atasnya, dan menghiasinya
dengan kain kelambu serta mengusap dindingnya. Larangan ini untuk mencegah
perkara-perkara yang bakal mengakibatkan kemudharatan sesuai dengan hikmah
yang terdapat di sebalik rahsia syariat Islam ini.

FIQH HADITS :

1. Dilarang mengecat kuburan. Larangan ini menunjukkan hukum makruh menurut pendapat keempat imam mazhab. Hikmah larangan ini ialah karena kuburan itu sifatnya sementara, bukan untuk selamanya;
dan mengecatnya merupakan perhiasan duniawi, sedangkan mayat tidak memerlukan itu di samping dikawatiri kuburan tersebut akan berubah peranan menjadi tempat sesembahan apabila kejahilan telah merajalela di kalangan umat. Adapun mengecatnya dengan tanah liat, maka menurut Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad, itu tidak dilarang selagi bertujuan keadaan kuburan senantiasa diketahui. Imam Malik pula berkata: “Makruh mengecat kuburan dengan tanah liat selagi tidak bertujuan untuk mencegah bau busuk, tetapi apabila itu dibuat untuk tujuan mencegah penyebaran bau busuk itu, maka ia dibolehkan. Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya, menurut pendapat yang dipilih di kalangan mereka, mengatakan bahwa mengecat kuburan dengan tanah liat tidaklah dimakruhkan.

2. Dilarang duduk di atas kuburan. Menurut jumhur ulama, larangan ini menunjukkan hukum makruh. Jika duduk di atasnya untuk membuang hajat, baik hajat kecil ataupun hajat besar, maka larangan ini menunjukkan
hukum haram. Menurut pendapat yang masyhur dari Imam Malik, makruh
duduk dan berjalan di atas kuburan baik kuburan tersebut ditinggikan permukaannya atau diratakan sedangkan jalan berada di bawahnya dan diyakini masih ada tulang mayat di dalamnya. Jika diyakini sudah tidak ada lagi tulang di dalamnya, maka dibolehkan tanpa adanya hukum makruh. Imam Malik mentafsirkan hadits yang melarang berbuat demikian bahwa larangan itu ditujukan kepada orang yang duduk di atasnya untuk
membuang hajat kecil atau hajat besar.

3. Dilarang membuat bangunan di atas kuburan. Menurut pendapat yang paling sahih di sisi Imam al-Syafi’i dan murid-muridnya, Imam Abu Hanifah dan mazhab Hanbali, larangan ini menunjukkan hukum makruh apabila
bangunan tersebut berada di tanah milik si pembangun; sedangkan larangan
yang menunjukkan hukum haram adalah apabila bangunan tersebut berada
di kawasan perkuburan umum. Al-Nawawi berkata: Bangunan tersebut wajib diruntuhkan tanpa ada seorang ulama pun yang berselisih pendapat dalam masalah ini. Imam Abu Hanifah berkata: “Bangunan tersebut wajib diruntuhkan, sekalipun berada di dalam masjid.” Menurut mazhab Maliki,
makruh membuat bangunan di atas kuburan apabila kuburan itu berada di atas tanah umum atau milik orang lain setelah mendapat kebenaran dari pemiliknya, atau berada di atas tanah yang tidak bertuan selagi tidak bertujuan membanggakannya. Haram membuat bangunan di atas tanah yang bukan milik umum, misalnya di atas tanah waqaf khusus untuk
perkuburan atau itu dilakukan untuk membanggakan diri karena si mayat
termasuk orang yang disegani semasa hidupnya. Diharamkan berbuat demikian karena itu bererti menguasai hak umum, di samping tindakan sedemikian dianggap sifat takabbur dan perbuatan berbangga diri yang dilarang oleh Islam.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s