HADITS KE 133 : CARA MENTALQIN MAYIT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 133 :

عن ضمرة ابن حبيب رضي الله عنه احد التابعين قَالَ: كانوا يستحبون إذا سوي على الميت قبره وانصرف الناس عنه أن يقال عند قبره : يا فلان قل لا اله إلا الله ثلاث مرات يا فلان قل ربي الله وديني الإسلام ونبيي محمد صلى الله عليه وسلم ثم ينصرف. رواه سعيد ابن منصور موقوفا. وللطبراني نحوه من حديث أبي أمامة مرفوعا مطولا.

Dari Dhamrah ibn Habib (r.a), salah seorang tabi’in, berkata: “Mereka (para sahabat) menyukai apabila mayat telah dikebumikan dan orang-orang mulai meninggalkannya, di dekat kuburnya para sahabat membaca: “Hai pulan, katakanlah: ‘Tidak ada tuhan selain Allah,’ sebanyak tiga kali. Hai pulan,
katakanlah: ‘Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam dan Nabi panutanku
adalah Muhammad’.” (Diriwayatkan oleh Sa’id ibn Manshur secara mawquf. Al-Thabarani turut mengemukakan hadits yang serupa dari Abu Umamah secara marfu’ secara panjang lebar)

MAKNA HADITS :

Mentalqin mayit ada dua cara:

Pertama, cara yang telah disepakati oleh seluruh ulama, yaitu talqin ketika seseorang sedang menghadapi kematiannya. Ini disunatkan dimana seseorang yang mentalqin disunatkan tidak mengatakan:
‘Katakanlah!’ dengan menggunakan kata-kata perintah, tetapi dia hendaklah mengucapkan dua kalimat syahadat mendekati telinganya dengan suara yang lemah lembut supaya orang yang sedang nazak itu tidak merasa terganggu dan menyusahkannya orang yang ditalqinnya. Jika orang yang ditalqinnya telah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka janganlah dia mengulanginya kerana
itu sudah mencukupi.
Dalilnya adalah Nabi (s.a.w) bersabda:

لقنوا موتاكم لا اله الا الله فإن من كان أخر كلامه لا اله الا الله دخل الجنة

“Ajarkanlah kepada orang yang sedang nazak di antara kamu kalimat “لا اله الا الله” Tidak
ada tuhan selain Allah), karena apabila kalimat terakhir yang diucapkan oleh seseorang adalah “لا اله الا الله” Tidak ada tuhan selain Allah), niscaya dia masuk surga.”

Kedua, cara yang masih diperdebatkan oleh ulama, yaitu talqin yang diucapkan
berdekatan kuburan sesudah mayit dikebumikan. Imam Malik dan Imam Ahmad
tidak mengakui adanya talqin dengan cara seperti ini, karena ia tidak pernah
diamalkan dan hadis-hadisnya tidak mencapai status sahih. Tetapi Imam al-Syafi’i dan Imam Abu Hanifah mengakui adanya talqin seperti ini, karena berlandaskan kepada keumuman makna hadis berikut:

من استطاع منكم أن ينفع أخاه فليفعل

“Barang siapa diantara kamu mampu berbuat manfaat untuk saudaranya, maka hendaklah
dia melakukannya.”

Di samping itu, adanya dalil yang menyatakan bahwa mayat dapat mendengar percakapan orang yang masih hidup dan mendengar suara terompah mereka. Dalil yang lain pula ialah hadis Abu Umamah yang serupa dengan hadis ini, meskipun hadisnya berstatus dha’if, tetapi itu sudah menjadi tradisi penduduk negeri Syam.

FIQH HADITS :

1. Dibolehkan mentalqin mayit sesudah menimbunkan tanah ke atas kuburnya
dan menyelesaikan proses penguburannya. Hal ini dianggap sunat oleh para pengikut mazhab al-Syafi’i. Ibn al-Qayyim dalam kitabnya al-Ruh berkata: “Hadis ini dha’if.” Jumhur ulama mengatakan bahwa hadis dha’if boleh diamalkan untuk tujuan keutamaan beramal.

2. Pertanyaan kubur itu ada dan terjadi setelah mayat dikebumikan.

3. Mayat mengalami kehidupan dalam bentuk yang lain di dalam kubur.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s