HADITS KE 159 : MENTAKSIR ZAKAT BUAH-BUAHAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 159

وَعَنْ سَهْلِ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: أَمَرَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا خَرَصْتُمْ, فَخُذُوا, وَدَعُوا اَلثُّلُثَ, فَإِنْ لَمْ تَدَعُوا اَلثُّلُثَ, فَدَعُوا اَلرُّبُعَ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا اِبْنَ مَاجَهْ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ, وَالْحَاكِم ُ

Sahal Ibnu Abu Hatsmah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kami apabila kamu menaksir, maka kerjakanlah, tetapi bebaskan sepertiga. Apabila kamu enggan membebaskan sepertiga, maka bebaskan seperempat. Riwayat Imam Lima kecuali Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Hakim.

MAKNA HADIAT

Nabi (s.a.w) menyuruh amil zakat yang bertugas mentaksir hasil buah-buahan hendaklah memberikan keringanan kepada pemiliknya dengan menyisakan seperempat atau sepertiga daripada sepersepuluhnya. Ini merupakan salah satu kebaikan syariat dan satu rahmat bagi pemilik buah-buahan sebagai gantian kepada kekurangan dan kerosakan yang mungkin berlaku. Demikianlah menurut tafsiran sebagian ulama terhadap hadis ini.

Menurut ulama yang lain pula, zakat merupakan hukum syarak dan telah ditentukan bagiannya di mana perkiraan dan nisabnya tidak mungkin diubah.

Jadi maksud ini adalah hendaklah orang yang betugas mentaksir zakat buah-buahan membiarkan sepertiga atau seperempat daripada sepersepuluhnya untuk pemiliknya agar dia membagikannya sendiri kepada para jiran tetangganya dan kaum kerabatnya serta orang yang biasa dia beri hadiah. Pengertian ini mengandung rasa belas kasihan terhadap pemilik buah-buahan dan para pengikutnya.

Menurut pendapat lain, makna hadis ini ialah membiarkan sejumlah apa yang biasa dimakan oleh pemiliknya dan keluarganya menurut tradisi yang berlaku, lalu jumlah itu tidak boleh dimasukkan ke dalam taksiran.

Tetapi mengikut pendapat yang lebih kuat ialah mentafsirkan hadis menurut makna yang pertama di atas, kerana itu telah pun diperkuat oleh riwayat Jabir (r.a) yang kesimpulannya memberikan keringanan dalam menentukan taksiran.

FIQH HADIST

Disyariatkan melakukan taksiran untuk memelihara hak kaum fakir miskin. Akan
tetapi, hukum dan jenis yang dapat ditaksir masih diperselisihkan. Imam Malik
mengatakan bahwa taksiran wajib dilakukan ke atas buah anggur dan buah kurma yang masih belum masak. Imam Malik melandaskan pendapatnya dengan berdalil hadis ‘Arab yang akan disebutkan setelah hadis ini.

Imam Ahmad dan Imam al-Syafii mengatakan bahwa melakukan taksiran hanya disunatkan pada pohon kurma dan pohon anggur sahaja. Mereka melandaskan pendapatnya dengan berdalilkan hadis ‘Arab.

Imam Abu Hanifah mengatakan bahawa tidak boleh melakukan taksiran, kerana ia hanya sekadar dugaan dan perkiraan yang tidak dipastikan. Beliau melandaskan pendapatnya dengan berdalilkan hadis Jabir (r.a) yang mengatakan Rasulullah (s.a.w) melarang melakukan taksiran, lalu baginda bersabda:

ارايتم ان هلك التمر ايحب احدكم ان يأخذ مال اخيه بالباطل

Bagaimana menurut kamu apabila buah kurma itu rusak, apakah seseorang di antara kamu gemar apabila mengambil harta saudaranya dengan cara yang batil?

Imam Abu Hanifah menjawab hadis ‘Itab dengan mengatakan bahwa itu terjadi sebelum adanya larangan riba, kemudian ia dimansukh. Akan tetapi, ulama yang lain menyanggahnya. Jika anda ingin mengetahui pembahasan ini lebih mendalam, silahkan rujuk kitab-kitab fiqh.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s