Semua tulisan dari Musthofa AB

Alumni BATA-BATA Thn : 1995 - 2004

HADITS KE 189 : BERPUASA SEHARI ATAU DUA HARI SEBELUM RAMADHAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB PUASA

HADITS KE 189

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ, إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا, فَلْيَصُمْهُ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah engkau mendahului Ramadhan dengan shaum sehari atau dua hari, kecuali bagi orang yang terbiasa shaum, maka bolehlah ia shaum.” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADIST

“`Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang difardukan berdasarkan al-Qur’an,
Sunnah dan ijma’. Allah (s.w.t) berfirman:
ياايهاالذين امنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون ⭕ اياما معدودات…

“Wahai orang yang beriman, diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan ke atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (iaitu) dalam
beberapa hari tertentu….” (Surah al-Baqarah: 183-184)
Dalil yang bersumber daripada sunnah antara lain ialah hadis Ibn Umar (r.a)
di dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim bahawa: “Islam dibangun di atas
lima perkara,” antara lain di dalamnya disebutkan: “Dan puasa Ramadhan.”
Seluruh umat Islam telah pun berijma’ akan kewajipan ibadah puasa ini.
Nabi (s.a.w) melarang daripada melakukan puasa sebelum Ramadhan sebagai
langkah berhati-hati, kerana ibadah puasa itu berkaitan dengan ru’yah (melihat
anak bulan). Barang siapa mendahuluinya dengan berpuasa sehari atau dua hari
dengan niat berhati-hati, maka dia melakukan satu perbuatan yang menentang hukum syariat Islam. Akan tetapi dibolehkan berpuasa sebelum Ramadhan bagi
orang yang mempunyai kebiasaan berpuasa, kemudian kebiasaannya itu bertepatan
dengan hari tersebut“`

FIQH HADIST

  1. Dilarang berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan dengan alasan
    sebagai langkah berjaga-jaga kerana itu bererti sama dengan menentang
    ketetapan syariat Islam dan mencampuradukkan antara sunat dengan fardu.
  2. Anjuran untuk melaksanakan amal ibadah dan amal kebaikan yang biasa
    dilakukan oleh seseorang secara berkesinambungan.
  3. Boleh melakukan puasa yang biasa dilakukan oleh seseorang, meskipun
    puasa menurut kebiasaannya itu bertepatan dengan sehari atau dua hari sebelum Ramadhan.
  4. Makruh melakukan puasa sunat dalam sehari atau dua hari sebelum bulan
    Ramadhan.

Wallahu a'lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 188 : ANJURAN UNTUK TIDAK MENOLAK PEMBERIAN APABILA SUDAH HAKNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB PEMBAGIAN SODAQOH

HADITS KE 188

وَعَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ, عَنْ أَبِيهِ; ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُعْطِي عُمَرَ اَلْعَطَاءَ, فَيَقُولُ: أَعْطِهِ أَفْقَرَ مِنِّي, فَيَقُولُ: “خُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ, أَوْ تَصَدَّقْ بِهِ, وَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا اَلْمَالِ, وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ, وَمَا لَا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ” )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Salim Ibnu Abdullah Ibnu Umar, dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah memberikan sesuatu kepada Umar Ibnu Khattab. Lalu ia berkata: Berikanlah pada orang yang lebih membutuhkan daripada diriku.” Beliau bersabda: “Ambillah, lalu simpanlah atau bersedekahlah dengannya. Dan apa yang datang kepadamu dari harta semacam ini, padahal engkau tidak membutuhkannya dan tidak meminta, maka ambillah. Jika tidak demikian, maka jangan turuti nafsumu.” Riwayat Muslim.

MAKNA HADIST

Rasulullah (s.a.w) pernah memberikan sesuatu kepada Umar ibn al-Khathab, namun Umar al-Faruq mengajukan permintaan kepada Nabi (s.a.w) supaya baginda memberikannya kepada orang yang lebih memerlukannya. Baginda tidak mau menerima penolakannya untuk tujuan mengajarkannya etika yang baik terhadap seorang pemimpin dan memberitahu kepadanya bahawa pemberian tersebut bukanlah zakat, melainkan ia adalah hak yang semestinya diterima oleh Umar bin al-Khathab sebagai imbalan di atas jerih payahnya ketika bekerja. Nabi (s.a.w) menyuruhnya supaya menerima pemberian tersebut dan memasukkannya ke dalam harta miliknya. Setelah itu dia boleh menyedekahkannya. Dengan demikian, maka jelaslah hukum syar’i yang umum dalam sabda Rasulullah (s.a.w): “Dan apa yang datang kepadamu daripada jenis harta ini, sedangkan kamu tidak mengharapkannya dan tidak pula memintanya, maka terimalah ia.” Dengan arti kata lain, barang siapa yang diberikan suatu pemberian daripada harta yang halal, sedangkan dia tidak memintanya dan tidak pula mengharapkannya, maka apa yang lebih baik adalah menerimanya, dan hukumnya sunat. Akan tetapi, jika harta itu harta yang haram atau harta yang halal, tetapi orang yang berkenaan mempunyai keinginan untuk menerimannya dan tamak untuk mendapatkannya, maka janganlah dia memperturutkan kehendaknya, melainkan hendaklah dia memalingkan dirinya daripada pemberian tersebut dan tidak menerimannya. Ini merupakan sikap orang yang terhormat dan beretika.

FIQH HADIST

  1. Seorang pemimpin dianjurkan memberi hadiah kepada sebahagian
    rakyatnya apabila itu dipandang perlu, sekalipun ada orang lain yang lebih
    memerlukannya.
  2. Adalah tidak sopan apabila menolak pemberian seorang pemimpin, lebih-
    lebih lagi Rasulullah (s.a.w), kerana Allah (s.w.t) berfirman:
    وما ءاتكم الرسول فخذوه
    “Apa yang diberikan Rasul kepada kamu, maka terimalah.” (Surah al-Hasyr: 7)
  3. Menjelaskan keutamaan Umar (r.a) dan kezuhudannya serta usahanya
    yang lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.
  4. Barang siapa yang datang kepadanya suatu harta tanpa diminta, maka dia
    tidak boleh menolaknya. Dia boleh menjadikannya sebagai harta miliknya
    dan boleh pula menyedekahkannya kepada orang lain.
  5. Amil dianjurkan menerima upah di atas apa yang telah dikerjakannya dan
    tidak boleh menolaknya. Riwayat Muslim turut menjelaskan bahawa hadis
    ini berkaitan dengan masalah upah amil.
  6. Menahan diri daripada perkara yang diharamkan dan syubhat serta
    mengekang keinginan hawa nafsu.

Wallahu a'lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

KOPIBARISTA (Komunitas Pangan Mandiri Berbasis Agribisnis Bata-Bata)

KOPIBARISTA (Komunitas Pangan Mandiri Berbasis Agribisnis Bata-bata)

Lahir atas inisiasi RH. Moh. Tohir Abd Hamid ketika melihat realitas masyarakat di tengah pandemi Covid-19 yang semakin tidak menentu. Ekonomi terganggu, pendapatan semakin buntu. Dunia, seketika seperti terbalik. Tak ada persiapan sebab semuanya berubah dalam hitungan relatif singkat, mungkin dalam hitungan detik.

Di antara yang paling mengkhawatirkan di tengah pandemi ini adalah soal ketahanan pangan. Betul, kita adalah negara agraris. Tapi faktanya, bangsa ini kerap rentan jika dihadapkan pada ketahanan pangan. Ujung-ujungnya, impor adalah jalan untuk memenuhi kebutuhan. Jalan pintas yang cukup mengecewakan.

Terlebih Madura, setelah diserbu sekian ribu masyarakatnya yang memilih “mudik awal” karena kekhawatiran terpapar Covid-19, tentu saja memiliki beban yang semakin berat. Saat ini, mereka mulai kebingungan sementara pandemi tak kunjung selesai. Tabungan mulai menipis, sebagian mungkin sudah habis. Setiap kita berpotensi menjadi beban.

Hampir semua lapisan masyarakat mengeluh. Semua pihak juga berpeluh-peluh. Maka, salah satu cara terbaik untuk bertahan dalam kondisi seperti ini adalah kembali bertani untuk membuat masyarakat tetap mandiri, baik secara pangan lebih² secara perekonomian, pada akhirnya.

Hal itulah yang akhirnya membuat RH. Moh. Tohir Abd. Hamid, merasa perlu untuk kembali menyadarkan masyarakat, lebih² para alumni Mambaul Ulum Bata-bata, untuk menggalakkan sektor pertanian karena dengan itulah akan dicapai kemandirian. Sedikit meringankan sesak nafas akibat pandemi Covid-19 yang melelahkan.

Bertani bukanlah hal asing bagi kita semua, tapi mengejawantahkannya dalam bentuk komunitas yang betul-betul intens, semangat, serta melalui pengelolaan yang profesional adalah hal yang berbeda.

Namun, KopiBarista tidak hanya berbicara soal bertani, tapi sekaligus soal penyediaan bibit, penelitian dan survei, serta pengelolaan pasca panen bagi segala hasil pertanian. Besar harapannya, bahwa ini akan menjadi ikhtiar dan pembuka jalan bagi tercapainya kemandirian pangan di sekitar, serta akan memiliki nilai jual yang tinggi sehingga geliat perekonomian akan tumbuh perlahan.

Terakhir, ini juga harus dipahami tidak hanya sebagai antisipasi atas situasi yang tidak menentu saat ini, kemandirian pangan melalui agribisnis, serta marketplace dari hasil pertanian semata. Tapi lebih dari itu, bahwa ini adalah bentuk kepedulian, perhatian, dan wujud cinta Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-bata, melalui RH. Moh. Tohir Abd. Hamid, untuk memberikan solusi bagi masyarakat, terutama para alumni.

Mari bertani, dengan itu kita akan mandiri.

SHOLAT WITIR SATU SALAM

realistic-ramadan-background-concept_23-2148475498PERTANYAAN:

Assalamualaikum Warohamatullahi Wabarokatuh

Mohon penjelasan Ust tentang shalat witir dan hal-hal yang berkaitan dengan witir

Pertanyyannya:

1-Apakah boleh shalat witir 3 rakaat diwashol disatukan menjadi satu salam, kalau boleh lalu mana yang lebih utama disatukan menjadi satu tasyahhud dan dipisah dengan 2 tasyahud?

2-Bagaimàna cara talaffudh binniyah jika dipisah menjadi dua salam, Mohon penjelasannya Ust.
JAWABAN :

Waalaikumsalam Warohamatullahi Wabarokatuh..

Poin pertama ;

HUkumnya Boleh.

Uraian ;

sholat witir tiga rokaat, memiliki dua cara ;

Cara pertama :

tasyahhud_nya satu kali yaitu pada rokaat ketiga sebelum salam

Cara kedua :

Tasyahhud_nya dua kali, pada roka’at kedua dan roka’at ketiga

Cara pertama adalah yang utama, supaya teknis_nya tidak menyerupai sholat maghrib.

Poin kedua ; lebih utama dipisah ( dua rokaat salam kemudian satu roka’at salam ),

Alasannya karena akan menimbulkan lebih banyak gerakan

( لزيادةالاعمال فيه )

Sesuai dengan qoidah fiqih

(ماكان اكثر فعلا كان اكثر فضلا )

semakin banyak pekerjaannya maka semakin banyak pula keutamaannya)

Sumber dari qoidah ini adalah hadist yang di riwayatkan Siti Aisyah:

Rosulullah berkata:

اجرك على قدر نصبك

Kadar pahala tergantung kadar kepayahan yg kemudian sebagian contohnya di sebutkan didalam kitab

مواهب السنية :
ومن فروعها ان فصل الوتر افضل من وصله،

Karena melakukan witir secara فصل ( melakukan witir dua rokat lalu salam ) mengandung penambahan niat, takbir dan salam, dan tentunya ada kesulitan ( مشقة) dalam praktek sperti ini serta kadar pahala tergantung tingkat kesulitan,

Begitulah uraian dari;

الشيخ ابي الفيض محمد يس بن عيس الفاداني المكي

dlm kitab
الفواءد الجنية

Referensi :

نهاية الزين: ص.١٠١
والوصل بتشهد أفضل منه بالتشهدين فرقا بينه وبين المغرب،وهذا جار فيمالو أحرم بزيادة على ثلاثة دفعة لما فى اﻹتيان بتشهدين من مشابهته للمغرب فى الجملة. والفصل أفضل من الوصل لزيادة اﻷعمال فيه،

الفوائد الجنية ٤٩١
القاعدة التاسعة عشر
ماكان اكثر فعلا كان اكثر فضلا_ الى ان قال _ واصلها من الحديث المنتخب عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: اجرك على قدر نصبك _ الى ان قال _
ومن فروعها ان فصل الوتر افضل من وصله _ الى ان قال_ لان في الوصل زيادة النية والتكبير والسلام فكانت المشقة فيه اكثر من الوصل والاجر على قدر المشقة

2- Poin kedua :

Lafadz niat satu roka’at witir :

اصلي ركعة الوتر لله تعالى

Untuk yang dua roka’at witir ada dua versi lafaz niat:

_ Menurut imam ibnu hajar dan ali syimbromulsi ( tidak wajib menyebut lafadz من sebelum lafadz ركعتين )

١ – أصلى سنة الوتر ركعتين لله تعالى .

_ versi Syarah minhaj , nihayah dan lainnya
( wajib menyebut lafadz من sesudah lafadz ركعتين)

٢- أصلى سُنَّةً رَكْعَتَيْن من الوتر /ِ أصلي ركعتين من الوتر
Uraian ;

kriteria niat sholat sunnah ( termasuk witir ) :

1. Sengaja ( hendak ) sholat ; قصد فعل الصلاة seperti اصلي

2. Menentukan sholat yang ingin dikerjakan; ; تعيين الصلاة seperti وترا

3. Status hukum sholat ( sunnah ) ; نية النفلية seperti سنة

4. Status dilaksanakan di waktu atau mengganti ; نية الادأ والقضأ seperti ادأ atau قضأ

5. Menyandarkan ibadah kepada Allah; الاضافة الى الله تعالى seperti لله تعالى

6. Khusus dua roka’at witir di tambah lafadz من ( bermakna sebagian )

Catatan:

nomor satu dan dua adalah syarat niat bagi sholat sunnah.

Nomor tiga sampai enam, ulama tidak satu pendapat; ada yang mengatakan syarat ada yang mengatakan bukan syarat

Refrensi:

المحلي ص: ١٦٠ _١٦١

( دون الاضافة الى الله ) فلاتجب لان العبادة لاتكون الا له تعالى ،وقيل : تجب ليتحقق معنى الاخلاص. (و) الاصح (انه يصح الادأ بنية القضأ وعكسه) هو قول الاكثرين القائلين بأنه لا يشترط في الادأ نية الادأ ، ولا في القضأ نية القضأ، وعدم الصحة مبني على اشتراط ذالك، ومرادهم كما قال في الروضة : الصحة لمن نوى جاهل الوقت لغيم او نحوه اي ظانا خروج الوقت او بقأه ، ثم تبين الامر بخلاف ظنه، اما العالم بالحال فلا تنعقد صلاته قطعا لتلاعبه، نقله في شرح المهذب عن تصريحهم

والنفل ذو الوقت او السبب كالفرض فيما سبق ( من اشتراط قصد فعل الصلاة وتعيينها كصلاة عيد الفطر _ الى ان قال_ والوتر )

وفي اشتراط نية النفلية وجهان كما في نية الفرضية قلت الصحيح لاتشترط نية النفلية والله اعلم _ الى ان قال _

وفي اشتراط نية الادأ والقضاء والاضافة الى الله تعالى الخلاف السابق

لا يلزم الناوى لركعتين من نحو التراويح والوتر إستحضار *من التبعيضية* عند ابن حجر و ع ش. ورجح فى شرح المنهج والنهاية وغيرهما لزومها.
( بغية المسترشدين ص ٤٠)

Wallahu a’lamu bisshowab..realistic-ramadan-background-concept_23-2148475498

HADITS KE 187 : BUDAK NABI JUGA TIDAK BOLEH MENERIMA ZAKAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB PEMBAGIAN SODAQOH

HADITS KE 187

وَعَنْ أَبِي رَافِعٍ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بَعَثَ رَجُلًا عَلَى اَلصَّدَقَةِ مِنْ بَنِي مَخْزُومٍ, فَقَالَ لِأَبِي رَافِعٍ: اِصْحَبْنِي, فَإِنَّكَ تُصِيبُ مِنْهَا, قَالَ: حَتَّى آتِيَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْأَلَهُ. فَأَتَاهُ فَسَأَلَهُ, فَقَالَ: ” مَوْلَى اَلْقَوْمِ مِنْ أَنْفُسِهِمْ, وَإِنَّا لَا تَحِلُّ لَنَا اَلصَّدَقَةُ “. )  رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَالثَّلَاثَةُ, وَابْنُ خُزَيْمَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ

Dari Abu Rafi’ Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengutus seseorang dari Banu Makhzum untuk mengambil zakat. Orang itu berkata kepada Abu Rafi’: Temanilah aku, engkau akan mendapatkan bagian darinya. Ia menjawab: Tidak, sampai aku menghadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam untuk menanyakannya. Lalu keduanya menghadap beliau dan menanyakannya. Beliau bersabda: “Hamba sahaya suatu kaum itu termasuk kaum tersebut, dan sesungguhnya tidak halal zakat bagi kami.” Riwayat Ahmad, Imam Tiga, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban.

MAKNA HADIST

Bekas hamba milik keluarga Nabi (s.a.w) diharamkan menerima zakat, sebagaimana tuan-tuan mereka dari kalangan keluarga Nabi (s.a.w) sebagai menghormati mereka berkat adanya pertalian yang bersifat umum itu, di mana hamba sahaya tersebut adalah orang yang dimerdekakan oleh mereka, meskipun hamba itu bukan dari kalangan nasab mereka. Sesungguhnya pengikut itu menjadi terhormat lantaran kehormatan orang yang diikutinya. Hadis ini mengukuhkan keumuman tafsiran perkataan “keluarga” yang telah diterangkan sebelum ini

FIQH HADIST

Zakat diharamkan atas Nabi (s.a.w), keluarganya dan bekas hamba mereka.
Keterangan yang mendalam mengenai keluarga Nabi (s.a.w) dan hukum mawali mereka telah diketengahkan dalam pembahasan hadis no. 150.

Wallahu a'lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 186 : DIHARAMKAN ZAKAT BAGI BANI HASYIM DAN BANI AL-MUTHALIB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB PEMBAGIAN SODAQOH

HADITS KE 186

وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قَالَ: ( مَشَيْتُ أَنَا وَعُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ رضي الله عنه إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اَللَّهِ, أَعْطَيْتَ بَنِي اَلْمُطَّلِبِ مِنْ خُمُسِ خَيْبَرَ وَتَرَكْتَنَا, وَنَحْنُ وَهُمْ بِمَنْزِلَةٍ وَاحِدَةٍ, فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم “إِنَّمَا بَنُو اَلْمُطَّلِبِ وَبَنُو هَاشِمٍ شَيْءٌ وَاحِدٌ” )  رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Jubair Ibnu Muth’im Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku dan Utsman Ibnu Affan pernah menghadap Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, lalu kami bertanya: Wahai Rasulullah, baginda telah memberi seperlima dari hasil perang Khaibar kepada Banu al-Mutthalib dan baginda meninggalkan kami, padahal kami dan mereka adalah sederajat. Lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Banu al-Mutthalib dan Banu Hasyim adalah satu keluarga.” Riwayat Bukhari.

MAKNA HADIST

Ibn Hajar mengetengahkan satu hadis yang menjadi dalil bagi orang yang mengatakan bahawa Bani al-Mutalib haram menerima zakat kerana mereka adalah saudara Bani Hasyim; mereka dan Bani Hasyim adalah satu keluarga. Oleh kerana Itu Bani al-Mutalib sama dengan Bani Hasyim dalam bahagian dzawil qurba yang ada di dalam baitul mal, maka diharamkan zakat bagi Bani al-Mutalib seperti yang berlaku atas Bani Hasyim. Kesetiaan Bani al-Mutalib terhadap Bani Hasyim berlangsung secara berterusan sejak masa Jahiliah hingga masa Islam. Oleh itu, mereka berhak untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan Bani Hasyim, meskipun terdapat keturunan yang berlainan nasab, seperti Bani Abd Syams dan Bani Naufal. Namun kesetiaan Bani Abd Syams dan Bani Naufal tidak berlangsung secara berterusan. Sedangkan orang yang mengatakan bahawa Bani al-Mutalib tidak dapat disamakan dengan Bani Hasyim dalam hal pengharaman zakat mengemukakan alasannya bahawa sesungguhnya pemberian Nabi (s.a.w) berupa bahagian dzawul qurba kepada mereka hanya dipandang sebagai penghormatan semata, bukan sebagai hak yang mesti mereka terima

FIQH HADIST

  1. Bani al-Mutalib sama dengan Bani Hasyim dalam bahagian dzawul
    qurba (kerabat Nabi (s.a.w).
  2. Diharamkan zakat bagi Bani Hasyim dan Bani al-Mutalib.

Wallahu a'lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

P015. HUKUM ONANI DI BULAN PUASA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana konsekwensi bagi orang yang masturbasi di bulan Ramadhan?

JAWABAN :

Dalam kasus ini ada beberapa hal yang ahrus diperhatikan. Pertama adakah maksud atau sengaja ingin mengeluarkan air mani ataukah tidak. Kedua adakah persentuhan (an mubasyaratin) dalam proses keluarnya air mani itu atau tidak. Jika memang seorang yang sedang berpuasa tidak bisa menahan diri dan ingin merasakan nikmatnya beronani dengan cara tertentu (mengosok/meremas kelamin, atau menonton gambar porno atau sengaja ngelonjor –ngelamun jorok) sehingga hal ini akan merangsang dan menyebabkan keluar mani maka hal itu dapat membatalkan puasa. Demikian keterangan dalam Nihayatuz Zain karya Syaikh Nawawi:

(واستمناء) أى طلب خروج المني وهو مبطل للصوم مطلقا سواء كان بيده أو بيد حليلته أو غيرهما بحائل أولا بشهوة أولا 

Namun jika tidak ada niat mengeluarkan air mani, tetapi keluar karena adanya persentuhan atau ‘kontak langsung antara kulit sebagai indera perasa dengan suatu barang. Semisal mencium, menggenggam tangan atau alat kelamin menempel pada sesuatu hingga kelar air mani, maka hal itu membatalkan puasa.  Akan tetapi jika proses keluarnya air mani itu terjadi dengan sendirinya, tanpa ada keinginan dan tanpa ada proses an mubasyaratin persentuhan langsung, seperti ketika keluar mani sebab bermimpi atau tiba-tiba terlihat pemandangan seronok maka hal ini tidak membatalkan puasa. Namun demikian, di bulan puasa yang merupakan ruang melatih diri mengekang hawa nafsu, hendaklah lebih berhati-hati. Ingatlah hadits Rasulullah saw tentang mereka yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apapun kecuali lapar dan dahaga, karena sesungguhnya mereka tidak melakukan puasa kecuali tidak makan dan minum. 

Berdosa orang yang sengaja membatalkan puasa ramadlan (tanpa udzur) dan dia wajib qodlo’ puasa yang ditinggalkan, tetapi tidak usah membayar fidyah. Berbeda jika membatalkan puasa dengan jimak maka wajib qodlo’ dan bayar kafarot. Lihat Syarah muhaddzab juz 1 hal 331 :


ومن أفطر في رمضان بغير جماع من غير عذر وجب عليه القضاء لقوله صلى الله عليه وسلم: “من استقاء فعليه القضاء1” ولأن الله تعالى أوجب القضاء على المريض والمسافر مع وجود العذر فلأن يجب مع عدم العذر أولى ويجب عليه إمساك بقية النهار لأنه أفطر بغير عذر فلزمه إمساك بقية النهار ولا تجب عليه الكفارة لأن الأصل عدم الكفارة إلا فيما ورد به الشرع وقد ورد الشرع بإيجاب الكفارة في الجماعوما سواه ليس في معناه لأن الجماع أغلظ ولهذا يجب به الحد في ملك الغير ولا يجب فيما سواه فبقي على الأصل وإن بلغ ذلك السلطان عذره لأنه محرم ليس فيه حد ولا كفارة فثبت فيه التعزيز كالمباشرة فيما دون الفرج من الأجنب
 

  • kitab roudhoh (2/370) :

  • فَرْعٌ . فِي أَحْكَامِ الْفِطْرِ . كُلُّ مَنْ تَرَكَ النِّيَّةَ الْوَاجِبَةَ عَمْدًا أَوْ سَهْوًا ، فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ . وَكَذَا كُلُّ مَنْ أَفْطَرَ
     
    Makan dan minum dengan sengaja maka ia wajib Qadha’ dan bayar Kaffarat menurut kami ( Hanafiyyah) Dan menurut Imam Syafi’i hanya wajib Qadha saja .
    المبسوط ج 3 74قال : وكذلك إن أكل أو شرب متعمدا فعليه القضاء والكفارة عندنا وعند الشافعي رحمه الله تعالى لا كفارة عليه
     
  • taqrirot sadidah :
    التقريرات السديدة
    ما يلزم فيه القضاء دون الفدية كالمغمى عليه وناسي النية والمتعدي بفطره بغير جماع.
    فلا كفارة على من افسده بغير جماع كأكل او استمناء ومثل ذلك ما لو أفسده بجماع مع غيره فلا كفارة عليه سواء تقدم ذلك الغير على الجماع أو قارنه . . . كاشفة السجا
     
    Tidak wajib membayar kifarat bagi orang yang merusak puasa dengan selain jima’ seperti makan, istimna’. Demikian juga orang yang merusak puasa dengan jima beserta lainnya. Maka tidak wajib kifarot. Baik yang selain jima itu mendahului jima ato bersamaan. Wallohu a’lam.
  • DOSA BAGI ORANG YANG MENINGGALKAN PUASA DENGAN SENGAJA.
  • Abu Hurairah r.a. juga pernah meriwayatkan hadis Nabi saw., beliau bersabda,

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ رَخَّصَهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَقْضِ عَنْهُ صِيَامُ الدَّهْرِ رواه احمد

Siapa yang berbuka/tidak puasa satu hari dari bulan Ramadhan tanpa adanya rukhsah yang telah ditetapkan oleh Allah swt., maka puasanya selama setahun tidak dapat menggantikannya. (H.R. Ahmad)

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami di dalam kitabnya Az-Zawajir Aniqtirafil Kabair pun juga mengatergorikannya sebagai dosa besar. Beliau berkata,

الْكَبِيرَةُ الْأَرْبَعُونَ وَالْحَادِيَةُ وَالْأَرْبَعُونَ بَعْدَ الْمِائَةِ: تَرْكُ صَوْمِ يَوْمٍ مِنْ أَيَّامِ رَمَضَانَ، وَالْإِفْطَارُ فِيهِ بِجِمَاعٍ أَوْ غَيْرِهِ بِغَيْرِ عُذْرٍ مِنْ نَحْوِ مَرَضٍ أَوْ سَفَرٍ

Dosa besar yang ke 40 dan 41 dari 100 adalah meninggalkan puasa satu hari di bulan Ramadhan dan tidak berpuasa di bulan Ramadhan sebab jima’ atau sebab lainnya dengan tanpa adanya udzur, seperti sakit atau berpergian.

Wallahu a’lamu bisshowab..

HADITS KE 184 : TIGA HAL YANG BOLEH MEMINTA-MINTA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB PEMBAGIAN SODAQOH

HADITS KE 184

وَعَنْ قَبِيصَةَ بْنِ مُخَارِقٍ اَلْهِلَالِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِنَّ اَلْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ: رَجُلٌ تَحَمَّلَ حَمَالَةً, فَحَلَّتْ لَهُ اَلْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا, ثُمَّ يُمْسِكَ، وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ, اِجْتَاحَتْ مَالَهُ, فَحَلَّتْ لَهُ اَلْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ, وَرَجُلٌ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَى مِنْ قَومِهِ: لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ; فَحَلَّتْ لَهُ اَلْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ, فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ اَلْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتٌ يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا ( سُحْتًا )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ, وَأَبُو دَاوُدَ, وَابْنُ خُزَيْمَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ 

Dari Qobishoh Ibnu Mukhoriq al-Hilaly Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya meminta-minta tidak dihalalkan kecuali bagi salah seorang di antara tiga macam, yakni orang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian ia berhenti; orang yang tertimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup; dan orang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga tiga orang dari kaumnya yang mengetahuinya menyatakan: “Si fulan ditimpa kesengsaraan hidup.” ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain tiga hal itu, wahai Qobishoh, adalah haram dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram.” Riwayat Muslim, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban.

MAKNA HADIST

Meminta sesuatu kepada orang lain merupakan perbuatan hina dan rendah diri, kecuali apabila dalam keadaan mendesak. Ini kerana perbuatan meminta-minta itu sama dengan menconteng muka sendiri dan membuat diri seseorang dianggap remeh. Perbuatan meminta-minta tidak halal dilakukan kecuali oleh salah seorang daripada ketiga golongan berikut: Pertama, seorang lelaki yang mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa hingga dia menanggung hutang, atau dia mendamaikan masalah pembunuhan hingga dia terpaksa menanggung diyat. Maka dia dibolehkan meminta kepada orang kaya sebahagian daripada zakat mereka, meskipun pada kenyataannya dia sendiri adalah orang kaya, tetapi dia tidak dibebani untuk melangsaikan tanggungan tersebut daripada hartanya sendiri. Kedua, orang yang hartanya ditimpa malapetaka, baik yang datang dari langit ataupun dari bumi. Maka dia dibolehkan meminta-minta hingga mendapatkan kembali pegangan hidupnya. Tetapi sesudah keadaannya bertambah baik, maka dia diharamkan meminta-minta. Ketiga, seorang lelaki yang sangat memerlukan bantuan dan disaksikan oleh beberapa orang yang berakal dari kalangan kaumnya, bahawa keadaannya benar-benar sangat dha’if. Maka dihalalkan pula baginya meminta-minta, apabila pada mulanya dia adalah orang kaya, lalu jatuh miskin. Adapun seseorang yang keadaannya belum pernah dikenali sebagai orang kaya sejak semula, maka dihalalkan baginya meminta-minta, sekalipun tanpa memakai wujud saksi

FIQH HADIST

  1. Anjuran untuk berakhlak mulia.
  2. Haram meminta-minta kepada orang lain kecuali apabila dalam terpaksa.
  3. Batasan tentang jumlah pemberian yang diberikan kepada seseorang
    daripada harta zakat, iaitu sebatas apa yang dapat mencukupi keperluan
    si penerimanya. Standarnya berbeda-beda antara satu orang dengan orang
    lain dan ini mesti disesuaikan dengan keperluan mereka masing-masing.

Wallahu a'lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..