Semua tulisan dari Musthofa AB

Alumni BATA-BATA Thn : 1995 - 2004

HJ011. JIKA TERJADI SENTUHAN KULIT DUA JENIS BUKAN MAHROM SAAT THOWAF

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Di madzhab syafi’i saling bersentuhan kulit dua jenis bukan mahrom (mubaasyaroh) membatalkan wudu, sedangkan dalam thowaf hal ini bukanlah hal yang mudah dihindari dan pasti terjadi. Bagaimana cara mencari solusinya ? [Wahab Abdul].

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warohmatullahi wabarokaatuh..

Ada solusi Qiil dalam madzhab syafi’i. Menurut imam Furoni dan Imam Haromain tidak batal bila tak disengaja, menurut imam Ibnu Suraij tidak batal bila tidak syahwat, menurut imam AL AUZA’I tidak batal bila tidak menyentuh dengan tangan. Baca ktab AL BAHJAH JuZ 1 HLM 137 -138. Apakah itu muTLAQ APA khusus dalam thowaf ? Muthlaq.

Memang terdapat pendapat di kalangan Syafiiyah yang menyatakan tidak membatalkan wudhu bila persentuhan terjadi akibat tidak adanya kesengajaan, yaitu pendapat al-Furaani dan Imam Haramain. SOLUSINYA :

1. Mengikuti pendapat di atas

2. Pindah Madzhab, namun demikian harus mengikuti segala ketentuaan yang berlaku dalam madzhab yang diikutinya seperti syarat, rukun dan hal-hal yang membatalkan wudhu.

( قَوْلُهُ : وَسَوَاءٌ إلَخْ ) وَلَنَا وَجْهٌ أَنَّهُ لَا يُنْتَقَضُ وُضُوءُ الْمَلْمُوسِ ، وَوَجْهٌ أَنَّ لَمْسَ الْعُضْوِ الْأَشَلِّ أَوْ الزَّائِدِ لَا يَنْقُضُ ، وَوَجْهٌ لِابْنِ سُرَيْجٍ أَنَّهُ يُعْتَبَرُ الشَّهْوَةُ فِي الِانْتِقَاضِ قَالَ الْحَنَّاطِيُّ وَحُكِيَ هَذَا عَنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ ، وَوَجْهٌ حَكَاهُ الْفُورَانِيُّ وَإِمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَآخَرُونَ أَنَّ اللَّمْسَ لَا يَنْقُضُ إلَّا إذَا وَقَعَ قَصْدًا ، وَأَمَّا تَخْصِيصُ النَّقْضِ بِأَعْضَاءِ الْوُضُوءِ فَلَيْسَ وَجْهًا لَنَا بَلْ مَذْهَبُ الْأَوْزَاعِيِّ وَحُكِيَ عَنْهُ أَنَّهُ لَا يَنْقُضُ إلَّا اللَّمْسُ بِالْيَدِ كَذَا فِي الْمَجْمُوعِ

Dari kalangan Syafiiyah juga terdapat beberapa pendapat :

a.Ada yang menyatakan tidak menjadi batal wudhunya orang yang disentuh

b.Ada yang menyatakan tidak membatalkan menyentuh anggauta badan yang telah lumpuh atau anggauta tambahan

c.Ada yang menyatakan (pendapat Ibn Suraij) yang membatalkan saat terjadi syahwat dalam persentuhan, berkata al-Hannaathy diceritakan ini adalah hokum yang telah ditetapkan oleh Imam Syafi’i

d.Ada yang menyatakan (Pendapat al-Furaani dan Imam Haramain dan ulama-ulama lain) persentuhan kulit tidak membatalkan kecuali bila terjadi unsur kesengajaan.

Sedang bersentuhan kulit yang membatalkan terbatas pada anggauta wudhu’ saja bukan merupakan pendapat kalangan syafi’i namun pendapat al-Auzaa’i yang juga diceritakan menurutnya bahwa tidak membatalkan wudhu kecuali menyentuhnya dengan tangan, inilah yang diuaraikan dalam kitab al-majmuu’. [ Syarh alBahjah alWardiyyah II/44 ].

ومما تعم به البلوي في الطواف ملامسة النساء للزحمة ، فينبغي للرجل أن لا يزاحمهن ولها أن لا تزاحم الرجال خوفا من انتقاض الطهارة ، فإن لمس أحدهما بشرة الآخر ببشرته انتقض طهور اللامس وفي الملموس قولان للشافعي رحمه الله تعالي أصحهما أنه ينتقض وضوءه وهو نصه في أكثر كتبه ، والثاني لا ينتقض واختاره جماعة قليلة من أصحابه والمختار الأول .

Termasuk cobaan yang umum dalam thowaf adalah bersentuhan kulit dengan wanita karena berdesakan, maka sebaiknya bagi laki-laki tidak mendesaknya dan bagi wanita tidak mendesak kaum pria karena dikhawatirkan rusaknya bersuci, bila terjadi persentuhan kulit diantara keduanya naka batal kesuciannya orang yang menyentuh. Sedang bagi yang disentuh terdapat dua pendapat milik Imam Syafi’i rh. Pendapat yang paling shahih menyatakan juga batal wudhunya ini teks keterangan beliau dibeberapa kitabnya, sedang menurut pendapat yang kedua tidak batal, pendapat ini dipilih oleh sebagian golongan dari pengikut beliau sedang pendapat yang terpilih adalah pendapat yang pertama. [ Al-Iidhooh Hal. 102 ].

Wallahu A’lamu Bis Showaab.

HJ010. HUKUM TOWAF MENGENDARAI SKUTER

PERTANYAAN :

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh.

Sahkah towafnya orang yang bertowaf mengelilingi baitulloh dengan mengendarai unta (skuter)?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

Sah apabila ada udzur seperti sakit atau cacat.

Rosululloh Shollalloohu alaihi wasallam bertowaf pada haji wada’ di atas untanya Rosululloh Shollalloohu alaihi wasallam. Tujuan dari Rosuululloh itu bertowaf di atas untanya ialah agar supaya Rosululloh yang sedang towaf itu dilihat oleh orang-orang, dan agar supaya Rosululloh itu bisa melihat kepada orang-orang dari atas untanya. Alasannya ialah karena orang-orang itu mengerumuni (mengelilingi) Rosululloh.

Jadi, orang yang sakit itu diperbolehkan dan sah bertowaf di atas unta (di atas skuter).

[الطَّوَافُ رَاكِبًا]

أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ الْمَكِّيُّ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ: «طَافَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ لِيَرَاهُ النَّاسُ وَأَشْرَفَ لَهُمْ لِأَنَّ النَّاسَ غَشَوْهُ» ، أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – طَافَ عَلَى رَاحِلَتِهِ وَاسْتَلَمَ الرُّكْنَ بِمَحَجَّتِهِ» ، أَخْبَرَنَا سَعِيدٌ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ شُعْبَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِثْلَهُ، أَخْبَرَنَا سَعِيدٌ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – طَافَ بِالْبَيْتِ وَبِالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ رَاكِبًا فَقُلْت: لِمَ؟ قَالَ لَا أَدْرِي قَالَ ثُمَّ نَزَلَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ» أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الْأَحْوَصِ بْنِ حَكِيمٍ قَالَ رَأَيْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَطُوفُ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ رَاكِبًا عَلَى

ج: 2 ص: 189

حول المشروع, اتصل بناالمكتبة الشاملة الحديثة

لا خلاف بين الفقهاء في صحة طواف الراكب إذا كان له عذر

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang keabsahan thawaf di atas kendaraan bagi yang memiliki udzur. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 23/123).

[ وذهب الحنفية والمالكية وأحمد في إحدى الروايات عنه، إلى أن المشي في الطواف من واجبات الطواف، فإن طاف راكبا بلا عذر وهو قادر على المشي وجب عليه دم(الموسوعة الفقهية)

Hanafiyah, Malikiyah, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad menyatakan pendapat bahwa berjalan merupakan bagian kewajiban dalam thawaf. Jika ada orang yang thawaf di atas kendaraan tanpa udzur, dan dia mampu berjalan, maka wajib bayar dam (Al Mausuu’atul Fiqhiyyah).

Wallohu a’lamu bisshowab..

HADITS KE 70 : DO’A DALAM SHALAT ISTISQA’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 70 :

وَعَنْ أَنَسٍ ( أَنَّ عُمَرَ رضي الله عنه كَانَ إِذَا قَحِطُوا يَسْتَسْقِي بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ. وَقَالَ: اَللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَسْتَسْقِي إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا, وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا، فَيُسْقَوْنَ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari Anas bahwa Umar Radliyallaahu ‘anhu bila orang-orang ditimpa kemarau ia memohon hujan dengan tawasul (perantaraan Abbas Ibnu Abdul Mutholib. Ia berdoa: Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu memohon hujan kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami, lalu Engkau beri kami hujan, dan sekarang kami bertawasul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka berilah kami hujan. Lalu diturunkan hujan kepada mereka. Riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Pada masa Khalifah Umar ibn al-Khatthab (r.a), umat manusia pernah mengalami musim kemarau yang panjang pada tahun 18 Hijriah. Tahun tersebut dikenali dengan tahun al-Ramadah, hingga permukaan tanah nampak kering gersang
karena tidak ada hujan. Banyak orang mengadukan hal tersebut kepada Khalifah Umar, lalu beliau mengumpulkan semua sahabat Nabi (s.a.w). Orang yang mula-
mula dijemput hadir ialah al-Abbas ibn Abdul Mutthalib, bapak saudara Nabi (s.a.w), karena kedudukannya yang dihormati dan kedekatan pertalian kekerabatannya dengan Rasulullah (s.a.w). Kemudian Khalifah Umar bertawassul kepada Allah melalui bapak saudara Nabi (s.a.w) dengan harapan Dia menurunkan hujan kepada mereka. Lalu al-Abbas berdo’a, sedangkan orang yang berada di sekelilingnya mengaminkan do’anya.

Di dalam riwayat lain telah disebutkan bahwa al-Abbas (r.a) ber-tadharru’
memohon hujan kepada Allah pada hari itu. Beliau membaca doa berikut:

اللهم إنه لم ينزل بلاء إلا بذنب ولم يرفع إلا بتوبة. وهذه أيدينا إليك بالذنوب وتواصينا إليك بالتوبة فاسقنا الغيث.

“Ya Allah, sesungguhnya tidak ada malapetaka yang diturunkan melainkan karena perbuatan dosa, dan tidak ada cara lain yang mampu melenyapkannya melainkan dengan cara bertaubat. Sekarang inilah tangan-tangan kami menengadah kepada Engkau dengan semua dosa kami, dan kami kembali kepada-Mu dengan bertaubat. Maka siramilah kami dengan hujan.”

Seketika itu juga langit menjadi mendung dan turunlah hujan dengan lebat
bagaikan dicurah dari atas langit, hingga bumi menjadi subur kembali dan
kehidupan umat manusia pun berjalan lancar.

FIQH HADITS :

1. Meminta syafaat kepada Allah melalui orang sholeh dan orang alim serta ahli bait Nabi (s.a.w).

2. Keutamaan al-Abbas (r.a) dan kedudukannya yang tinggi di sisi Allah
karena do’anya dikabulkan oleh Allah (s.w.t).

3. Keutamaan Umar (r.a) karena beliau bersikap rendah diri terhadap al-Abbas dan mengetahui apa yang sepatutnya beliau lakukan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

S067. DINAMIKA MAKMUM MASBUQ SHALAT JAMA’AH

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum Ustadz..

Sewaktu sholat berjama’ah pada roka’at ke 3 ketinggalan membaca fatihahnya karena bermakmum pada imam yang cepat pelaksanaan sholatnya. Hal ini jika dilnjutkan membaca alfatihahnya maka akan ketingglan lebih “2 rukun” sedangkan jika tidak dilanjutkan membaca fatihahnya padahal bukankah hal itu wajb dibaca ? Pertanyaan : Apa yang harus dilakukan makmum tersebut ?

JAWABAN :

Wa’alaikumussalaam Warohmatullahi wabarokaatuh..

Dalam i’anah Tholibiin halaman 138 ada penjelasan makmaum masbuQ hukmiy dan ada masbuQ haQiQiy. Makmum tersebut ikut gerakan imam saja, jadi langsung ikut imam rukuk saja dan tidak perlu meneruskan fatihahnya karena ia dihukumi masbuQ hukmi dan alfatihahnya ditanggung oleh imam.

وإن وجد الإمام في القيام قبل أن يركع وقف معه، فإن أدرك معه قبل الركوع زمنا يسع الفاتحة بالنسبة للوسط المعتدل فهو موافق، فيجب عليه إتمام الفاتحة ويغتفر له التخلف بثلاثة أركان طويلة كما تقدم.

وإن لم يدرك مع الإمام زمنا يسع الفاتحة فهو مسبوق يقرأ ما أمكنه من الفاتحة، ومتى ركع الإمام وجب عليه الركوع معه.

Jika mendapati Imam dalam keadaan berdiri sebelum ruku’, maka makmum mengikuti saja. Ketika Makmum tersebut mendapat waktu guna menyempurnakan bacaan Fatihahnya sebelum ruku’ bersama Imam, maka ikuti saja Imam itu, dan wajib menyempurnakan bacaan fatihahnya. dan makmum yang demikian keadaannya di perbolehkan menselisihi 3 gerakan Imam yang panjang”.

“Dan ketika Makmum tidak mendapati keluasan waktu untuk menyelesaikan bacaan Fatihahnya, maka yang demikian itu di anggap sebagai Makmum Masbuq, ia hanya membaca Fatihah yang ia bisa saja. dan ketika Imam telah Ruku’, maka ia juga harus mengikuti ruku’nya Imam”. [ Nihayatuzain halaman 122 ].

Sebelum kita membahas makmum bisa dihukumi masbuQ pada rokaat kedua,ketiga dan keempat, maka tidak ada salah nya kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu makmum masbuQ dan yang muwafiq, silahkan anda fahami dari ibarot diatas. Selanjut nya, anda bisa memahami bahwaa makmum masbuQ itu bisa terjadi pada rokaat kedua,ketiga dan keempat pada ibarot selanjutnya ini, dan juga dalam ibarot ini menjelaskan bahwaa bcaan imam yang cepat, itu akan memungkinkan makmumnya tersebut akan masbuQ pada kesemua rokaatnya, al hasil.. Makmum tersebut tidak hrus membaca sempurna fatihahnya pada tiap2 rokaat-nya dalam sholat berjamaah tersebut, sebab statusnya masbuQ ( secara hukmiy ) dan fatihahnya ditanggung oleh imamnya. Ini ibarot nya:

ولو اقتدى بإمام راكع فركع واطمأن معه في ركوعه، ولما أتم الركعة وقام وجد إماما غيره راكعا فنوى مفارقة هذا واقتدى بالأخر وركع واطمأن معه، وهكذا إلى آخر صلاته جاز، وعلى هذا فيمكن سقوط الفاتحة عنه في جميع الركعات،

ولو إقتدى بإمام سريع القراءة على خلاف العادة، والمأموم معتدلها، وكان في قيام كل ركعة لايدرك مع الإمام زمنا يسع الفاتحة من الوسط المعتدل فهو مسبوق في كل ركعة فيقرأ من الفاتحة ما ادركه، وإذا ركع إمامه ركع معه وسقط عنه باقي الفاتحة لتحمل الإمام له، وعلى هذا فيمكن سقوط بعض الفاتحة عنه في كل ركعة.

Dan Ketika Imam telah ruku’ maka Makmum kemudian mengikuti ruku’nya, dan ketika si makmum menyempurnakan ruku’nya, tapi kemudian dia mendapati Imamnya telah ruku’ (Pada Roka’at berikutnya) laka si makmum harus berniat Mufaroqoh (Memisahkan diri dai Imam) dan kemudian berniat mengikuti Makmum yang lain sebagai Imamnya yang baru untuk di ikuti Ruku’nya secara Thumakninah, yang demikian ini memang di perbolehkan. dalam kasus seperti ini, makmum harus menggugurkan bacaan fatihahnya agar bisa mengikuti Imam tersebut di setiap roka’atnya (Membca fatihah sekedarnya, Untuk bisa masuk dalam kategori makmum yang sah).
Dan apa bila si makmum mengikuti Imam yang bacaannya cepat, dan makmum telah terbiasa dengan Imam itu, dan makmum itu tidak bisa mendapati pada setiap roka’atnya bersama Imam untuk bisa membaca fatihah yang biasa-biasa saja yang dapat mengimbangi gerakan Imam, maka Makmum seperti ini masuk dalam kategori sebagai Masbuq di setiap roka’atnya, maka Makmum di perbolehkan membaca fatihahnya yang bisa ia dapati (sebisanya saja) kemudian ia ruku’ mengikuti Imamnya, tidak perlu menyempurnakan bacaan fatihahnya, karena bacaan fatihahnya telah di tanggung sama Imamnya. Maka hal seperti ini bisa saja terjadi di setiap roka’atnya. [ Nihayatuzain halaman 60 ].

Wallohu a’lamu bisshowab..

HADITS KE 69 : DO’A DALAM SHALAT ISTISQA’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 69 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه ( أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَوْمَ الجُمُعَةِ, وَالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم قَائِمٌ يَخْطُبُ. فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ, هَلَكَتِ الأَمْوَالُ, وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ, فَادْعُ اللَّه] عَزَّ وَجَلَّ] يُغِيثُنَا, فَرَفَعَ يَدَيْهِ, ثُمَّ قَالَ: “اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا, اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا” ) فَذَكَرَ الحَدِيثَ، وَفِيهِ الدُّعَاءُ بِإِمْسَاكِهَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Anas bahwa ada seorang laki-laki masuk ke masjid pada hari Jum’at di saat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berdiri memberikan khutbah, lalu orang itu berkata: Ya Rasulullah, harta benda telah binasa, jalan-jalan putus, maka berdoalah kepada Allah agar Dia memberikan kita hujan. Lalu beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Ya Allah turunkanlah hujan pada kami, ya Allah turunkanlah hujan kepada kami.” Lalu dia meneruskan hadits itu dan didalamnya ada doa agar Allah menahan awan itu. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Kedudukan Nabi (s.a.w) di sisi Allah sangat tinggi dan do’anya senantiasa dimakbulkan. Sepanjang hidupnya, kedudukan baginda di hati umat manusia sangatlah mulia. Pada suatu hari ada seorang Arab badawi mengadu kepadanya tentang musim kemarau yang membinasakan harta (ternakan) mereka dan begitu pula anak-anak mereka hidup dalam kesengsaraan karena sumber kehidupan mereka terganggu.

Ketika itu Nabi (s.a.w) berada di atas mimbar sedang berkhutbah. Tetapi keadaan ini tidak mencegah baginda untuk mendengarkan aduan lelaki badawi itu. Baginda mendengarkan dan memenuhi permintaannya yang didorong oleh perasaan kasih sayang yang sememangnya tabiat semula jadinya, sehingga Nabi (s.a.w) segera berdo’a memohon kepada Allah. Allah mengabulkan do’anya dan ketika itu juga turun hujan dengan lebatnya bagaikan dicurahkan dari atas langit secara berterusan tanpa henti selama satu minggu. Datang pula seorang lelaki badawi yang lain memohon agar hujan tersebut dihentikan karena kawatir akan menimbulkan kerusakan, banjir dan kemudaratan.
Nabi (s.a.w) berdo’a agar hujan ditahan dan airnya dipindahkan ke bukit-bukit serta dataran-dataran yang tinggi. Dalam hal ini Nabi (s.a.w) tidak memohon agar hujan dihentikan demi melestarikan nikmat. Kisah ini termasuk salah satu bukti kenabiannya, kasih sayangnya kepada umat dan betapa perhatian kepada kemaslahatan umum, tetapi tanpa melupakan etika terhadap Allah Tuhan semesta alam.

FIQH HADITS :

1. Boleh berbicara dengan imam ketika dia sedang berkhutbah apabila ada
keperluan penting, sebab khutbah tidak terputus karena adanya percakapan
yang penting diperlukan, misalnya menjawab pertanyaan seseorang.

2. Berdiri ketika berkhutbah.

3. Boleh bersuara keras di dalam masjid karena ada keperluan penting yang
mendorong untuk berbuat demikian.

4. Meminta dido’akan kepada orang alim dan orang sholeh ketika ditimpa
malapetaka dan mengulang-ulangi permintaan itu supaya dikabulkan.

5. Mengulang-ulangi do’a sebanyak tiga kali.

6. Memasukkan doa istisqa’ dan sholatnya di dalam khutbah Jum’at.

7. Tingginya kedudukan Rasulullah (s.a.w) di sisi Allah karena do’anya dikabulkan dengan seketika.

8. Kebijaksanaan Nabi (s.a.w) yang luar biasa karena baginda memenuhi
permintaan si penanya dengan perkara yang bakal mendatangkan
kemaslahatan.

9. Etika dalam berdo’a memandang Rasulullah (s.a.w) tidak berdo’a agar
hujan dihentikan secara mutlak, karena adanya kemungkinan bahwa kita masih memerlukannya. Oleh itu, dalam do’anya itu Nabi (s.a.w) mengecualikan jenis hujan yang dapat membuat mudarat (bahaya),
dan baginda meminta hujan yang membawa manfaat. Barang siapa yang telah dianugerahi suatu kenikmatan oleh Allah, maka tidak layak baginya membenci nikmat tersebut hanya karena suatu peristiwa yang menghambatnya, tetapi hendaklah dia meminta kepada Allah agar hambatan tersebut dilenyapkan dan nikmat tetap diturunkan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

D042. HUKUM MENJAWAB ADZAN DARI MEDIA ELEKTRONIK

PERTANYAAN :

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Jika kita mendengar adzan dari media elektronik (Televisi, Radio, Hp, Dvd, Vcd), apakah sunnat untuk di jawab?

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warohmatullahi wabarokaatuh..

Hukum menjawab adzan yang didengar dari media elektronik (seperti radio, Televisi,Hp,Dvd,Vcd dan lain-lain) diperinci sebagai berikut :

1. Apabila adzan tersebut dilakukan secara langsung lalu disiarkan lewat media elektronik, semisal televisi yang sedang menyiarkan siaran langsung adzan dari suatu masjid atau adzan yang dikumandangkan di suatu masjid disiarkan lewat radio, maka hukumnya sunnat untuk dijawab.

2. Apabila suara adzan yang didengar merupakan rekaman suara adzan yang diputar, seperti suara adzan dari kaset, VCD, hape, aplikasi atau software dll, maka tidak sunat dijawab. Wallohu a’lam.

Referensi :
1. Qurrotul ‘Ain Bi Fatawi Isma’il Az-Zen, Hal : 52

Ibarot :
Qurrotul ‘Ain Bi Fatawi Isma’il Az-Zen, Hal : 52

سؤال : هل يسن جواب الاذان من مكبر الصوت إذا كان المؤذن بعيدا عنه بحيث لا يسمع أذانه إلا بواسطة مكبر الصوت أولا ؟ بينوا لنا ذلك

الجواب : نعم يسن إجابة المؤذن المذكور, والمكبر غاية ما فيه أنه يقوي الصوت ويبلغه إلى مدى بعيدة. هذا إذا كان الأذان منقولا بواسطة المكبر عن مؤذن يؤذن بالفعل, أما إذا كان الأذان في الشريط المسجل فلا تسن إجابته لأنه حاك والحاكي لا يحاكى. والله أعلم

Syarah Al-Yaqut Annafis,Ta`lif Fadhilatul Ustadz Muhammad bin Ahmad Asysyathiri juz 1 halaman 253 :

ثم لو أن تلاوة قرآن تسمع من راديو أو تلفاز أو غيرهما , وبعض الحاضرين أو واحد منهم يلهو ويعبث عبثا يعتبر قلة أدب , ألا يكون فيه إعراض وعدم تشريف لكتاب الله ؟ ولا تبعد الحرمة . فإذا قلنا بالحرمة , أو على الأقل قلنا بالكراهة , فهلا نستدل باحترام هذه القراءة والتأدب معها , ونقول يشرع السجود . وما دمنا اعتبرنا ما في هذه الأسطوانة أو الشريط محترما , فإن من كمال الأدب السجود عند سماع آية سجدة . وهذا كله كلام بحث فقط.
ومثله الأذان عند ما نسمعه من هذه الأجهزة يقرب أنه يندب إجابته وخصوصا إذا كان نقلا حيا مباشرة – كما نسمع كل يوم عند ما ينقلونه لنا من مكة – فإذا كان بعد دخول الوقت – حسب ما ظهر لي – يستحب إجابته, لأنه خصص للإعلام , فلا يبعد أن يكون مجزيا وتسن إجابته

Alhasil :
Tetap sunnah walau adzan dari radio atau tekevisi dll.

Wallahu a’lamu Bisshowab..

HUKUM UMROH BERRULANG-KALI DALAM HAJI TAMATTU’

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Langsung saja,
Kalau ada orang yg melakukan umroh di bulan2 ashurum maklumat (syawal, dulqo’dah, dulhijjah) maka ketika orang itu melakukan haji. hajinya di namakan haji tamattu” Yg mana haji tamattu’ harus bayar dam.

Pertanyaanya:
seandainya orang itu melakukan umroh berkali-kali, misal melakukan umroh sampai 4 kali apakah harus bayar dam 4 kali juga? (Umroh satu kali maka bayar damnya satu kali juga, Umroh 4 kali maka harus bayar dam 4 kali juga) apakah seperti ini?

Kami memohon jawaban dgn referensinya yg valid dan shohih yg sesuai pertanyaan.
Dan atas perhatiannya kami sampaikan terima kasih, wassalam.!

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ulama Khilaf dalam masalah ini :

Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj dan Hasiyatul Idhoh tidak adanya pengulangan dam artinya membayar dam cuma sekali
Dalam Nihayatul Muhtaj menuqil dari Imam Roimi membayar dam sesuai dengan jumlah umroh yg dia lakukan,
Dan pendapat yang mu’tamad menurut ‘Ali Syibro Malisi adalah membayar dam cuma sekali saja walaupun umrohnya berkali kali.

Referensi :

بغية المسترشدين : قلت وهل يتكرر الدم بتكرر العمرة في أشهر الحج أم لا واعتمد في التحفة وحاشية الإيضاح عدم التكرر. وقال في النهاية ولو قرر المتمتع لعمرة في أشهر الحج أفتى الريمي صاحب التفقيه شرح التنبيه بالتكرر وأفتى بعض مشايخ الناشري بعدمه قال أي الناشري وهو الظاهر اھ قال ع ش قوله وهو الظاهر هو المعتمد.

بغية المسترشدين ١١٩ حرمين

والله أعلم بالصواب

MACAM-MACAM NAJIS YANG DI MA’FU

MACAM-MACAM NAJIS YANG DI MA’FU:

1.najis yang dima’fu baik sedikit maupun banyaknya, baik di baju maupun di badan, yaitu : darahnya kutu loncat, kutu rambut, nyamuk, jerawat, nanah, bisul, cacar dan darah tempatnya bekam.di ma’funya najis-najis tsb dengan 2 syarat :

a.bukan atas perbuatan diri sendiri, jadi misalnya membunuh kutu kemudian darahnya mengotori baju dan banyak darahnya maka tidak dima’fu.

b.tidak melampaui batas dalam membiarkannya, karena manusia mempunyai kebiasaan mencuci baju,jika baju ditinggalkan tanpa dicuci selama setahun misalnya, dan dibiarkan bertumpuk-tumpuk maka tidak dima’fu.

2.najis yang sedikitnya dima’fu, jika banyak tidak dima’fu, yaitu : darahnya orang lain dan tanah jalanan yang diyakini najisnya.

3.najis yang dima’fu bekasnya dan tidak di ma’fu dzatiyahnya, yaitu : bekas istinja’ dan sisa bau atau warna najis yang sulit hilangnya.

4.najis yang tidak dima’fu dztiyah dan bekasnya, yaitu selain najis-najis yang disebut diatas.

Pembagian najis yang dima’fu :

1.najis yang dima’fu di air dan baju, yaitu : najis yang tidak terlihat pandangan mata, debu najis yang kering , sedikit asap, rambut, mulutnya kucing dan bayi.yang semisal air adalah benda cair, dan yang semisal baju adalah badan.

2.najis yang dima’fu di air dan benda cair tapi tidak di ma’fu dibaju dan badan, yaitu : bangkai hewan yang tidak mempunyai darah mengalir, lobang kotoran burung, kotoran ikan, dan cacing yang muncul dalam benda cair.

3.sebailknya kedua, dima’fu di baju dan badan tapi tidak dima’fu di air dan benda cair, yaitu : darah sedikit, tanah jalanan, ulat sutera jika mati di dalamnya.maka tidak wajib membasuhnya sebagaimana penjelasan al hamawy, sedangkan penjelasan qodhi husain sebaliknya.

4.najis yang dima’fu pada tempat saja, yaitu : kotoran burung di masjid dan tempat towaf, dan disamakan dengannya yaitu sesuatu yang berada dalam perut ikan yang kecil .

– kitab asbah wan nadhoir :

تقسيم النجاسات

أقسامأحدها : ما يعفى عن قليله وكثيره في الثوب والبدن وهو : دم البراغيث والقمل والبعوض والبثرات والصديد والدماميل والقروح وموضع الفصد والحجامة ولذلك شرطان

أحدهما : أن لا يكون بفعله ، فلو قتل برغوثا فتلوث به وكثر : لم يعف عنه

والآخر : أن لا يتفاحش بالإهمال فإن للناس عادة في غسل الثياب ، فلو تركه سنة مثلا وهو متراكم لم يعف عنه قال الإمام : وعلى ذلك حمل الشيخ جلال الدين المحلي قول المنهاج إن لم يكن بجرحه دم كثير .

الثاني : ما يعفى عن قليله دون كثيره وهو : دم الأجنبي وطين الشارع المتيقن نجاسته .

الثالث : ما يعفى عن أثره دون عينه وهو : أثر الاستنجاء ، وبقاء ريح أو لون عسر زواله .

الرابع : ما لا يعفى عن عينه ولا أثره وهو ما عدا ذلك .

تقسيم ثان ما يعفى عنه من النجاسة أقسام :

أحدها : ما يعفى عنه في الماء والثوب وهو : ما لا يدركه الطرف وغبار النجس الجاف وقليل الدخان والشعر وفم الهرة والصبيان . ومثل الماء : المائع ومثل الثوب : البدن

الثاني : ما يعفى عنه في الماء والمائع دون الثوب والبدن وهو الميتة التي لا دم لها سائل ومنفذ الطير وروث السمك في الحب والدود الناشئ في المائع .

الثالث : عكسه ، وهو : الدم اليسير وطين الشارع ودود القز إذا مات فيه : لا يجب غسله صرح به الحموي وصرح القاضي حسين بخلافه

الرابع : ما يعفى عنه في المكان فقط ، وهو ذرق الطيور في المساجد والمطاف كما أوضحته في البيوع ويلحق به ما في جوف السمك الصغار على القول بالعفو عنه لعسر تتبعها وهو الراجح .

Sumber : M2KAD

Wallahu a’lamu bisshowab..

HADITS KE 68 : KHOTBAH DALAM SHALAT ISTISQA’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 68 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( شَكَا اَلنَّاسُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قُحُوطَ الْمَطَرِ, فَأَمَرَ بِمِنْبَرٍ, فَوُضِعَ لَهُ فِي اَلْمُصَلَّى, وَوَعَدَ اَلنَّاسَ يَوْمًا يَخْرُجُونَ فِيهِ, فَخَرَجَ حِينَ بَدَا حَاجِبُ اَلشَّمْسِ, فَقَعَدَ عَلَى اَلْمِنْبَرِ, فَكَبَّرَ وَحَمِدَ اللَّهَ, ثُمَّ قَالَ: “إِنَّكُمْ شَكَوْتُمْ جَدَبَ دِيَارِكُمْ, وَقَدْ أَمَرَكُمْ اللَّهُ أَنْ تَدْعُوَهُ, وَوَعَدَكُمْ أَنْ يَسْتَجِيبَ لَكُمْ, ثُمَّ قَالَ: اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ, اَلرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ, لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ, اَللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, أَنْتَ اَلْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ, أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ, وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ” ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ, فَلَمْ يَزَلْ حَتَّى رُئِيَ بَيَاضُ إِبِطَيْهِ, ثُمَّ حَوَّلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ, وَقَلَبَ رِدَاءَهُ, وَهُوَ رَافِعٌ يَدَيْهِ, ثُمَّ أَقْبِلَ عَلَى اَلنَّاسِ وَنَزَلَ, وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ, فَأَنْشَأَ اللَّهُ سَحَابَةً, فَرَعَدَتْ, وَبَرَقَتْ, ثُمَّ أَمْطَرَتْ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَقَالَ: “غَرِيبٌ, وَإِسْنَادُهُ جَيِّدٌ”

وَقِصَّةُ التَّحْوِيلِ فِي “الصَّحِيحِ” مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ، وَفِيهِ: ( فَتَوَجَّهَ إِلَى اَلْقِبْلَةِ, يَدْعُو, ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ, جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ )

وَلِلدَّارَقُطْنِيِّ مِنْ مُرْسَلِ أَبِي جَعْفَرٍ اَلْبَاقِرِ: وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ؛ لِيَتَحَوَّلَ الْقَحْطُ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu : Bahwa orang-orang mengadu kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang tidak turunnya hujan. Beliau menyuruh mengambil mimbar dan meletakkannya di tempat sholat, lalu beliau menetapkan hari dimana orang-orang harus keluar. Beliau keluar ketika mulai tampak sinar matahari. Beliau duduk di atas mimbar, bertakbir dan memuji Allah, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian telah mengadukan kekeringan negerimu padahal Allah telah memerintahkan kalian agar berdoa kepada-Nya dan Dia berjanji akan mengabulkan doamu. Lalu beliau berdoa, segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang merajai hari pembalasan, tidak ada Tuhan selain Allah yang melakukan apa yang Ia kehendaki, ya Allah Engkaulah Allah tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau Mahakaya dan kami orang-orang fakir, turunkanlah pada kami hujan, dan jadikan apa yang Engkau turunkan sebagai kekuatan dan bekal hingga suatu batas yang lama.” Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya terus menerus hingga tampak warna putih kedua ketiaknya, lalu beliau masih membelakangi orang-orang dan membalikkan selendangnya dan beliau masih mengangkat kedua tangannya. Kemudian beliau menghadap orang-orang dan turun, lalu sholat dua rakaat. Lalu Allah mengumpulkan awan, kemudian terjadi guntur dan kilat, lalu turun hujan. Riwayat Abu Dawud. Dia berkata: Hadits ini gharib dan sanadnya baik.

Mengenai kisah membalikkan selendang dalam shahih Bukhari dari hadits Abdullah Ibnu Zaid di dalamnya disebutkan: Lalu beliau menghadap kiblat dan berdoa, kemudian sholat dua rakaat dengan bacaan yang keras.

Menurut riwayat Daruquthni dari hadits mursal Abu Ja’far al-Baqir: Beliau membalikkan selendang itu agar musim kemarau berganti (dengan musim hujan).

MAKNA HADITS :

Sholat istisqa’ terdiri dari dua khutbah, do’a, menghadap ke arah kiblat, dan membalikkan kain selendang. Pelaksanaan sholatnya sama dengan sholat hari raya, yaitu terdiri dari dua rakaat dan setelah imam memberitahunya kepada orang banyak, hari di mana mereka akan mengerjakan sholat istisqa’ dengan tujuan mereka bersiap sedia untuk bertaubat, bersedekah dan mengembalikan hak-hak milik orang lain yang sebelum ini diambil dengan cara tidak betul.
Dua khutbah dilakukan sesudah mengerjakan sholat dan dimulai membaca istighfar disertai dengan do’a. Do’a dilakukan ketika menghadap ke arah kiblat pada akhir khutbah kedua. Hendaklah khatib berdo’a dengan bahasa yang dia inginkan, tetapi apa yang lebih utama ialah membaca do’a-do’a yang pernah diajarkan oleh Rasulullah (s.a.w), seperti yang tercantum di dalam hadits ini.

Manakala tahwil atau membalikkan kain selendang hendaklah dilakukan
ketika khatib hendak turun dari atas mimbar. Cara membalikkan kain selendang ialah dengan membalikkan bagian tepi selendang yang sebelah kanan ke arah kiri dan sebaliknya. Hikmah membalikkan kain selendang ini ialah mengandung harapan yang baik dan sebagai isyarat permohonan semoga keadaan berubah menjadi lebih
baik. Ini seakan-akan dikatakan kepadanya: “Balikkanlah kain selendangmu agar keadaanmu berubah menjadi lebih baik!” Membalikkan kain selendang ini sunat dan bukannya fardu.

FIQH HADITS :

1. Merujuk kepada pemimpin ketika terjadi malapetaka.

2. Imam disyariatkan keluar dengan membawa semua anggota masyarakat
menuju padang untuk mengerjakan sholat istisqa’ dan menentukan harinya agar mereka bersiap sedia menyambutnya dengan terlebih dahulu membersihkan diri daripada perbuatan zalim dan dosa lain yang selama mereka lakukan, dan diharapkan mereka bertaubat terlebih dahulu.

3. Disunatkan keluar menuju tempat sholat istisqa’ pada permulaan siang hari.

4. Disunatkan melakukan khutbah di tempat yang tinggi dan memulainya
dengan membaca takbir, pujian, dan apa-apa yang ada kaitannya dengan istisqa’.

5. Dalam khutbah sholat istisqa’ dibolehkan mengulang-ulangi pujian.

6. Dianjurkan orang yang melakukan khutbah adalah orang yang dikenal
bersifat zuhud dan warak agar do’anya cepat dimakbulkan.

7. Imam disunatkan menghadap ke arah orang ramai ketika sedang
menyampaikan khutbah.

8. Disunatkan mengangkat kedua tangan setinggi yang mungkin ketika
berdo’a istisqa’ dengan menghadap ke arah kiblat. Adapun hadits yang
diriwayatkan dari Anas (r.a) yang menyatakan bahwa Nabi (s.a.w)
tidak pernah mengangkat kedua-dua tangannya ketika berdo’a kecuali
dalam do’a istisqa’, maka ini ditafsirkan bahwa apa yang dinafikan ialah
sifat kesungguhannya atau dengan kata lain tidak bersungguh-sungguh
mengangkat kedua tangannya. Ini karena telah disebutkan dalam beberapa
hadis yang menceritakan bahwa mengangkat kedua tangan ketika
berdo’a memang disyariatkan.

9. Imam boleh membalikkan tulang belakang ketika dia telah selesai berdo’a.

10. Disunatkan membalikkan kain selendang dengan niat ber-tafa’ul (beroptimis) agar keadaan dibalikkan menjadi lebih baik, menurut pendapat jumhur ulama. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa tidak boleh membalikkan kain selendang. Hal ini merupakan satu riwayat yang bersumber daripada Abu Yusuf, salah seorang murid Imam Abu Hanifah. Ulama berselisih
pendapat mengenai cara membalikkannya. Mazbab Maliki dan mazhab Hambali mengatakan bahwa bagian tepi yang sebelah kanan dibalikkan ke arah kiri, dan yang sebelah kiri dibalikkan ke arah kanan. Hal yang sama dikatakan pula oleh mazhab Imam al-Syafi’i. Mazhab Imam al-Syafii mengatakan bahwa itu dilakukan apabila kain selendangnya berbentuk bulat; jika kainnya berbentuk empat persegi panjang, maka cara membalikkannya ialah dengan menjadikan bagian atasnya ke arah bawah dan bagian bawahnya ke arah atas. Imam Muhammad dari mazhab Hanafi mengatakan bahwa imam membalikkan kain selendangnya dengan cara menjadikan bagian atasnya ke bagian bawah, sedangkan para makmum tidak dianjurkan berbuat demikian. Apabila kain selendangnya berbentuk bulat, maka bagian dalaman dikeluarkan, sedangkan bagian luar dimasukkan ke dalam.

11. Boleh melakukan khutbah sebelum sholat.

12. Disyariatkan menguatkan suara bacaan dalam sholat.

13. Khatib boleh tersenyum di atas mimbar karena kagum melihat banyak orang.

14. Menjelaskan kedudukan Rasulullah (s.a.w) yang mulia di sisi Allah, karena
do’anya dikabulkan dengan seketika.

15. Menjelaskan keadaan hadis dimana hadis ini boleh dijadikan sebagai
hujah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..