Semua tulisan dari Musthofa AB

Alumni BATA-BATA Thn : 1995 - 2004

HADITS KE 127 : TIDAK DIWAJIBKAN MENGKODHO’ SHOLAT BAGI WANITA YANG NIFAS

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB HAID*_

HADITS KE 127 :

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَتِ اَلنُّفَسَاءُ تَقْعُدُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم بَعْدَ نِفَاسِهَا أَرْبَعِينَ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ وَاللَّفْظُ لِأَبِي دَاوُد

وَفِي لَفْظٍ لَهُ ( وَلَمْ يَأْمُرْهَا اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِقَضَاءِ صَلَاةِ اَلنِّفَاسِ ) وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِم

Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Wanita-wanita yang sedang nifas pada masa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam meninggalkan shalat selama 40 hari semenjak darah nifasnya keluar. Riwayat Imam Lima kecuali Nasa’i dan lafadznya dari Abu Dawud.

Dalam lafadz lain menurut riwayat Abu Dawud: Dan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak menyuruh mereka mengqadla shalat yang mereka tinggalkan saat nifas. Hadits ini shahih menurut Hakim.

MAKNA HADITS :

Islam memberi keringanan kepada wanita yang nifas dan menyamakannya dengan wanita yang haid, dimana mereka tidak boleh sholat dan puasa. Malah Islam memanjangkan masa nifas hingga empat puluh hari. Ia wajib mengqadha’ puasa fardhu yang ditinggalkannya selama nifas, namun tidak demikian dengan sholat dan ini merupakan satu kemudahan baginya. Jika seorang perempuan telah merasa suci sebelum masa empat puluh hari, maka dia mesti bersuci, dan tidak ada batasan minimum bagi masa nifas.

FIQH HADITS :

1. Batasan maksimum nifas ialah empat puluh hari menurut pendapat jumhur ulama. Imam al-Syafi’i mengatakan bahwa batasan maksimumnya adalah enam puluh hari, meskipun biasanya hanya memerlukan empat puluh hari,
sedangkan batasan minimumnya ialah setetes, (yakni hanya sekali
mengeluarkan darah). Imam Malik dan Imam Ahmad mengatakan tidak ada batasan minimum bagi tempoh nifas. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa masa nifas itu terbatas, yaitu selama dua puluh lima hari. Abu Yusuf mengatakan sebelas hari, sedangkan al-Hasan al-Basri mengatakan dua puluh hari.

2. Tidak ada qadha’ bagi sholat yang ditinggalkan selama masa nifas, kerana Nabi (s.a.w) tidak menyuruh kaum wanita berbuat demikian. Pada asalnya qadha’ itu tidak diwajibkan kecuali kerana adanya perintah yang baru dan perintah yang baru ini telah disebutkan dalam masalah puasa melalui firman-Nya:

…فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر… (البقرة : ١٨٤)

“… Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain…” (Surah al-Baqarah: 184)

Di sini tidak ada perintah baru yang mewajibkan mengqadha’ sholat yang ditinggalkan selama nifas. Jadi, hukum asal, yaitu tidak wajib qadha sholat mesti tetap dikekalkan. Hadis ini menyanggah pendapat sekumpulan Khawarij yang mengatakan sholat yang ditinggalkan oleh wanita yang haid dan nifas wajib diqadha’.

3. Menjelaskan hukum darah yang keluar sesudah bersalin. Jika darah tersebut terus mengalir selama empat puluh hari, maka dalam masa itu wanita tersebut tidak boleh sholat dan tidak boleh pula berpuasa. Tetapi apabila tetap mengalir hingga melebihi tempoh empat puluh hari, maka hukum darah tersebut adalah darah istihadhah yang ketentuan hukumnya telah disebutkan dalam hadits-hadits sebelum ini.

KESIMPULAN :

Hadis yang disebut dalam bab haid ini menunjukkan kesimpulan berikut:

1. Menjelaskan perbedaan warna darah haid dengan darah istihadhah, tempat keluarnya, cara untuk membedakan diantara keduanya dan demikian pula hukumnya.

2. Wanita yang haid tidak boleh mengerjakan sholat dan puasa selama masa haid. Dia wajib mengqadha’ puasanya, tetapi tidak wajib mengqadha’ sholatnya. Selama masa itu, suaminya tidak boleh menyetubuhinya. Jika suami
menyetubuhinya, maka dia mesti membayar kifarat menurut pendapat Imam Ahmad. Menurut jumhur ulama, suami boleh menggaulinya, tetapi pada bagian atas kain. Tetapi Imam Ahmad membolehkan untuk menggaulinya, meskipun dibawah kainnya (kecuali farjinya).

3. Perkiraan masa istihadhah ditentukan berdasarkan kebiasaan sebelum itu atau membandingkannya dengan wanita lain yang sebaya dengannya. Dibolehkan baginya mengerjakan sholat dan puasa, dan suaminya boleh menyetubuhinya, dan disunatkan baginya mengerjakan sholat secara jamak shuri.

4. Perkiraan masa nifas sama dengan wanita yang haid di mana mereka tidak boleh mengerjakan solat dan puasa. Tidak diwajibkan mengqadha’ sholat yang ditinggalkan selama masa nifas, tetapi wajib mengqadha’ puasanya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

M043. HUKUM BEKERJA MENJADI TENAGA KERJA (TKI) ILEGAL

PERTANYAAN :

Assalaamualaikum Ustadz..

Salam ta’dzim kami sampaikan kpd para mujawwib. Smg kita smua slalu dpt hidayah dr Allah SWT. Aamiin.

Diskripsi masalah:
Di daerah tempat tinggal kami banyak masyarakat yang kerja ke luar negeri untuk mencari kebutuhan hidup. Dan tidak dipungkiri lagi bahwa sebagian besar gak punya izin kerja di Negara tersbut (Ilegal)/ dokumennya tidak lengakap Pertanyaan nya : Bagaimana hukum uang dari hasil kerja tersbut, mengingat dirinya gak punya izin kerja?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukum bekerja sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dengan menempuh cara-cara ilegal atau tidak resmi adalah tetap sah dan gajinya tetap halal yang penting pekerjannya halal.

Tetapi penggunaan cara-cara ilegal atau tidak resmi yang terlarang menurut agama tetap haram. Hal ini diqiyaskan dengan larangan jual beli ketika adzan Jum’at dikumandangkan bagi orang yang berkewajiban shalat jum’at. Dengan kata lain jual beli yang dilakukan adalah tetap sah, tetapi hukumnya menjadi haram karena melanggar larangan.

Begitu yang termaktub dalam Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab :

قال الشافعي في «الأم» والأصحاب إذا تبايع رجلان ……. من أهل فرضها أو أحدهما من أهل فرضها ……. وإن كان بعد جلوسه على المنبر وشروع المؤذن في الأذان حرم البيع على المتبايعين جميعـاً سواء كانا من أهل الفرض أو أحدهما، ولا يبطل البيع

Demikian pula dalam Khasyiyah Bujairami :

قوله أولى من قوله ويحرم الخ لأنه لا يلزم من الحرمة عدم الصحة كالبيع وقت نداء الجمعة فإنه صحيح مع الحرمة.

ibarot lain :

فلو غصب رجل كلبا أو سهما فاصطاد بهما صيدا حل ذالك الصيد لمصطاده وان كان عاصيا بالغصب.

Arti inti:
Jika kita menggashob Anjing atau busur panah untuk kita gunakan memburu hewan ”maka halallah hewan buruan tersebut bagi kita meskipun kita Termasuk orang yang maksiat pada allah swt dengan penggashopan ini.

Wallahu a’lamu bisshowab..

N047. KELUAR RUMAH DI MASA IDDAH

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Mau nanya ustadz bagaimana hukumnya atau bolehkah orang perempuan yang masih di dalam masa iddah keluar rumah dengan tujuan kulakan daganggan di malam hari karna kalau jualan/belanja2 di surabaya pasti kulakannya itu di malam hari mohon penjelasannya ustadz?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Boleh keluar untuk mencari nafkah pada malam hari selama tidak memungkinkan melakukannya pada siang hari.

Referensi :

تَنْبِيهٌ : اقْتَصَرَ الْمُصَنِّفُ عَلَى الْحَاجَةِ إعْلَامًا بِجَوَازِهِ لِلضَّرُورَةِ مِنْ بَابِ أَوْلَى كَأَنْ خَافَتْ عَلَى نَفْسِهَا تَلَفًا أَوْ فَاحِشَةً أَوْ خَافَتْ عَلَى مَالِهَا أَوْ وَلَدِهَا مِنْ هَدْمٍ أَوْ غَرَقٍ .فَيَجُوزُ لَهَا الِانْتِقَالُ لِلضَّرُورَةِ الدَّاعِيَةِ إلَى ذَلِكَ ، وَعُلِمَ مِنْ كَلَامِهِ كَغَيْرِهِ تَحْرِيمُ خُرُوجِهَا لِغَيْرِ حَاجَةٍ وَهُوَ كَذَلِكَ ، كَخُرُوجِهَا لِزِيَارَةٍ وَعِيَادَةٍ وَاسْتِنْمَاءِ مَالِ تِجَارَةٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ .
قَوْلُهُ : ( وَنَحْوِ ذَلِكَ ) أَيْ كَخُرُوجِهَا لِجِنَازَةِ زَوْجِهَا أَوْ أَبِيهَا مَثَلًا فَلَا يَجُوزُ .

Tujuan Pengarang kitab membatasi bolehnya keluar bagi wanita yang sedang menjalani masa idah bila ada HAJAT (kepentingan, seperti bekerja mencukupi kebutuhannya) itu sekaligus memberi pengertian juga diperbolehkan baginya keluar dalam keadaan DARURAT seperti dia khawatir akan keselamatannya, kehormatannya, harta bendanya, khawatir akan keselamatan anaknya, maka diperbolehkan baginya keluar rumah sebab adanya darurat tersebut, ini berarti bila tidak unsur diatas tidak boleh (haram) baginya keluar rumah tanpa ada keperluan seperti seperti diatas semisal keluar untuk ziyaroh, menengok orang sakit, menjalankan usahanya agar hartanya bertambah dan lain sebagainya.
Keterangan (dan lain sebagainya) seperti keluarnya untuk menjenguk jenazah suaminya, ayahnya, maka keluarnya tidak boleh. [Hasyiyah Bujairomi ‘Alaa al-Khootib XI/285]

Namun bila keluarnya ada HAJAT (keperluan) seperti mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan dirinya (bagi wanita yang menjalani masa iddah sementara tidak ada yang menafkahinya ) hukum keluarnya DIPERBOLEHKAN

( إلَّا لِحَاجَةٍ ) أَيْ فَيَجُوزُ لَهَا الْخُرُوجُ فِي عِدَّةِ وَفَاةٍ وَعِدَّةِ وَطْءِ شُبْهَةٍ وَنِكَاحٍ فَاسِدٍ وَكَذَا بَائِنٌ وَمَفْسُوخٌ نِكَاحُهَا ,وَضَابِطُ ذَلِكَ كُلُّ مُعْتَدَّةِ لَا تَجِبُ نَفَقَتُهَا وَلَمْ يَكُنْ لَهَا مَنْ يَقْضِيهَا حَاجَتَهَا لَهَا الْخُرُوجُ فِي النَّهَارِ لِشِرَاءِ طَعَامٍ وَقُطْنٍ وَكَتَّانٍ وَبَيْعِ غَزْلٍ وَنَحْوِهِ لِلْحَاجَةِ إلَى ذَلِكَ ، أَمَّا مَنْ وَجَبَتْ نَفَقَتُهَا مِنْ رَجْعِيَّةٍ أَوْ بَائِنٍ حَامِلٍ أَوْ مُسْتَبْرَأَةٍ فَلَا تَخْرُجُ إلَّا بِإِذْنٍ أَوْ ضَرُورَةٍ كَالزَّوْجَةِ ، لِأَنَّهُنَّ مُكَفَّيَاتٌ بِنَفَقَةِ أَزْوَاجِهِنَّ وَكَذَا لَهَا الْخُرُوجُ لِذَلِكَ لَيْلًا إنْ لَمْ يُمْكِنْهَا نَهَارًا وَكَذَا إلَى دَارِ جَارَتِهَا لِغَزْلٍ وَحَدِيثٍ وَنَحْوِهِمَا لِلتَّأَنُّسِ لَكِنْ بِشَرْطِ أَنْ تَرْجِعَ وَتَبِيتَ فِي بَيْتِهَا .

Diperbolehkah wanita dalam masa iddah keluar rumah untuk bekerja memenuhi kebutuhannya sendiri dan keluarganya dengan beberapa ketentuan :

a• keluarnya hanya semata-mata mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarganya yang seandainya tidak keluar akan bisa menimbulkan masyaqoh.

b• keluarnya dilakukan pada siang hari dan tetap komitmen dengan aturan ihdad selain menetap di rumah seperti tidak memakai wewangian, celak dll.

Diperbolehkan juga baginya keluar untuk mencari nafkah pada malam hari selama tidak memungkinkan melakukannya pada siang hari.

Wallahu a’lamu bisshowab..

HADITS KE 126 : LARANGAN MENGGAULI ISTRI YANG LAGI HAID ANTARA PUSAR DAN LUTUT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB HAID*_

HADITS KE 126 :

وَعَنْ مُعَاذٍ رضي الله عنه ( أَنَّهُ سَأَلَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم مَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ مِنِ اِمْرَأَتِهِ وَهِيَ حَائِضٌ؟ قَالَ: مَا فَوْقَ اَلْإِزَارِ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَضَعَّفَه

Dari Muadz Ibnu Jabal Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang apa yang dihalalkan bagi seorang laki-laki terhadap istrinya yang sedang haid. Beliau menjawab: Apa yang ada di atas kain. Diriwayatkan dan dianggap lemah oleh Abu Dawud.

MAKNA HADITS :

Membendung semua kemungkinan yang dapat menimbulkan bahaya (sadd al-dzari’ah) merupakan salah satu prinsip syariat yang agung. Islam amat mengambil berat masalah ini, kerana mengabaikan sarana atau washilah boleh mengakibatkan
ketidakseimbangan dalam menempuh tujuan.

Di dalam satu hadits disebutkan:
فمن حام حول الحمى يوشم أن يقع فيه
“Barang siapa yang berkeliling di sekitar tempat yang dilarang, dia dikawatiri akan terjerumus masuk ke dalamnya.”

Oleh karena itu, Islam hanya membolehkan bersenang-senang dengan isteri yang sedang haid dalam batasan di luar kain dan bukan pada bagian dalamnya. Diantara ulama ada yang menganggapnya sebagai wajib sebagai langkah berjaga-jaga dan ada pula yang menganggapnya sebagai sunat.

FIQH HADITS :

Diharamkan menggauli anggota tubuh isteri yang ditutup oleh kain, yaitu antara pusar dan lutut. Makna hadis ini membatasi keumuman makna yang terdapat dalam hadits sebelum ini yang mengatakan:

اصنعوا كل شيء الا النكاح

“Lakukanlah segala sesuatu kecuali nikah (bersetubuh).”

Apa yang dibolehkan untuk digauli hanyalah anggota tubuh bagian luaran atau bagian atas kain sebagaimana yang telah dijelaskan sebelum ini. Tetapi menurut pendapat Imam Ahmad, menggauli antara pusar dan lutut diperbolehkan, meskipun tanpa penghalang dan ini berlandaskan kepada keumuman makna hadits di atas tadi, yaitu: “Lakukanlah segala sesuatu kecuali bersetubuh.” Perintah memakai kain menurutnya hanya mengandung makna sunat, bukannya wajib.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 125 : LARANGAN TOWAF BAGI WANITA YANG SEDANG HAID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB HAID*_

HADITS KE 125 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( لَمَّا جِئْنَا سَرِفَ حِضْتُ فَقَالَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم اِفْعَلِي مَا يَفْعَلُ اَلْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ فِي حَدِيث

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Ketika kami telah tiba di desa Sarif (terletak di antara Mekah dan Madinah) aku datang bulan. Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Lakukanlah apa yang dilakukan oleh orang haji namun engkau jangan berthawaf di Baitullah sampai engkau suci. Muttafaq Alaihi dalam hadits yang panjang.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menetapkan cara penyelesaian bagi permasalahan yang dialami oleh kaum wanita ketika melakukan ibadah haji. Oleh sebab itu, baginda menjelaskan wanita yang sedang haid dan nifas dinyatakan sah melakukan semua amal ibadah haji atau umrah kecuali bertawaf di Baitullah, kerana syarat bertawaf adalah suci. Jika seorang wanita telah bersuci dari haid atau nifas, maka ketika itu dia baru dibolehkan memasuki Masjid al-Haram untuk kemudian bertawaf.

Ini merupakan salah satu rahmat bagi kaum wanita dan merupakan salah satu kemudahan agama Islam sekaligus menjelaskan keutamaan tawaf, dimana seorang wanita turut disyaratkan mematuhi syarat ketika hendak mengerjakan sholat, yaitu bersuci dan menutup aurat.

FIQH HADITS :

1. Wanita yang sedang haid dilarang tawaf sebelum bersuci dari haid, kerana suci merupakan salah satu syarat bagi sahnya tawaf.

2. Wanita yang haid diperbolehkan melakukan semua manasik haji yang lain kerana manasik haji itu tidak bergantung kepada keadaan suci sebagaimana tawaf dan sholat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 124 : WANITA HAID TIDAK BOLEH SHOLAT DAN PUASA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB HAID

HADITS KE 124 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ فِي حَدِيث

Dari Abu Said Al-Khudry bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Bukankah wanita itu jika datang haid tidak boleh shalat dan berpuasa. Muttafaq Alaihi dalam hadits yang panjang.

MAKNA HADITS :

Akal dan fikiran wanita itu lemah. Jika sedang emosi, dia tidak mau mengakui jasa besar yang selama ini diterimanya, berpura-pura melupakan kebaikan malah
kadangkala melupakannya sama sekali. Dia seringkali memendam kejahatan dan menyukai perbuatan jahat. Kesaksiannya adalah separuh kesaksian lelaki dan agamanya pula dianggap kurang yang bermaksud belum sempurna. Syari’at Islam
mengakui kekurangan agama kaum wanita sebagaimana yang dikandung oleh hadits di atas bahwa: “Wanita sering kali tidak sadar terhadap apa yang dikatakannya. Jika engkau mengabaikan permintaannya meskipun itu baru yang pertama kali, dia pasti melupakan semua yang pernah engkau berikan kepadanya sebelum ini berupa kebaikan-kebaikan dan dia mengingkarinya seakan-akan semua itu tidak pernah wujud. Dia gemar mencaci dan memaki hingga mulutnya berbuih. Dia pandai merayu hati dan menguasai akal melalui kata-katanya yang memukau bagaikan sihir yang manis seperti madu.” Semoga Allah memperbaiki tingkah laku mereka dan menunjukkan jalan yang lurus kepada kita.

FIQH HADITS :

1. Allah memperlihatkan kepada Rasul-Nya apa yang bakal terjadi di akhirat kelak berupa pahala dan siksaan, hingga baginda dapat menceritakannya kepada para sahabatnya. Tujuannya supaya orang yang baik akan bertambah
kebaikannya dan orang jahat segera menghentikan perbuatan jahatnya.

2. Anjuran untuk bersedekah, karena sedekah dapat menghilangkan kemurkaan Allah.

3. Membuktikan adanya neraka.

4. Kebanyakan wanita adalah penghuni neraka kerana mereka seringkali mengingkari kebaikan suaminya dan gemar mengeluarkan kata-kata laknat.

5. Dalil yang menunjukkan kurangnya akal wanita, kerana kesaksian mereka dianggap separuh dari kesaksian lelaki. Dengan arti kata lain, untuk mengimbangi kesaksian seorang lelaki mestilah wujud dua orang wanita.

6. Dalil yang menunjukkan kurangnya agama wanita, kerana wanita tidak boleh bersholat dan berpuasa dalam masa haid dan demikian pula dalam masa nifasnya.

7. Bersuci merupakan syarat bagi sahnya sholat dan puasa.

8. Wanita yang berhaid diwajibkan mengqadha’ puasanya, tetapi tidak wajib mengqadha” sholatnya, kerana ada nash yang mewajibkan mereka supaya mengqadha’ puasa, sedangkan sholat tidak wajib diqadha’ kerana wujud masyaqqah (kesukaran) memandangkan bilangan solat yang mesti diqadha’ terlampau banyak dan bercanggah dengan prinsip agama itu mudah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

DOKUMEN KAJIAN 1 HARI 1 HADITS IKABA, BAB THAHARAH-HAID : 001-127

Silahkan buka link berikut ini :

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/01/kajian-hadits-ikaba.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/01/kajian-hadits-ikaba-10-20.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/01/kajian-hadits-ikaba-21-30.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/01/kajian-hadits-ikaba-31-40.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/02/kajian-hadits-ikaba-41-50.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/02/kajian-hadits-ikaba-51-60.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/02/kajian-hadits-ikaba-61-70.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/03/kajian-hadits-ikaba-71-80.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/03/kajian-hadits-ikaba-81-90.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/03/kajian-hadits-ikaba-91-100.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/04/kajian-hadits-ikaba-101-110.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/04/kajian-hadits-ikaba-111-120.html?m=1

http://kajiantarjuman.blogspot.com/2018/04/kajian-hadits-ikaba-121-127.html?m=1

HADITS KE 123 : ANJURAN BERSEDEKAH BAGI ORANG YANG TERLANJUR MENJIMAK ISTRINYA DALAM KEADAAN HAID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB HAID

HADITS KE 123 :

وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم -فِي اَلَّذِي يَأْتِي اِمْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ- قَالَ: ( يَتَصَدَّقُ بِدِينَارٍ أَوْ نِصْفِ دِينَارٍ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ وَابْنُ اَلْقَطَّانِ وَرَجَّحَ غَيْرَهُمَا وَقْفَه

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tentang orang yang mencampuri istrinya ketika dia sedang haid. Beliau bersabda: Ia harus bersedakan satu atau setengah dinar. Riwayat Imam Lima. Shahih menurut Hakim dan Ibnul Qaththan dan mauquf menurut yang lainnya.

MAKNA HADITS :

Dalam kehidupan ini ada ketikanya seseorang dikalahkan oleh hawa nafsu yang melampaui batas hingga akhirnya nafsu itu merosakkan akal sehat dan hati nurani. Dia pun akhirnya melakukan perbuatan yang merbahaya dan tidak mampu mengelakkan diri dari perbuatan dosa. Dia menyetubuhi isterinya ketika sedang haid.

Sebahagian ulama menganjurkan seseorang yang menyetubuhi isterinya ketika sedang haid supaya bersedekah sebanyak satu dinar apabila dia menyetubuhi isterinya pada permulaan masa haid. Hukuman ini dijatuhkan ke
atasnya kerana dia baru saja menjimak isterinya. Oleh itu, perbuatannya itu tidak dapat dimaafkan dan hukumannya pun berat. Lain halnya apabila dia
menyetubuhi isterinya ketika masa haid menjelang berakhir, maka hukumannya diringankan menjadi setengah dinar saja.

Sebahagian ulama yang lain mengatakan bahwa menyetubuhi isteri ketika sedang haid adalah satu dosa yang tidak semestinya bersedekah kerananya dan
kafaratnya ialah sudah memadai dengan beristighfar memohon ampun di atas perbuatan itu.

FIQH HADITS :

Disunatkan bersedekah senilai satu dinar atau setengah dinar bagi orang yang menggauli isterinya ketika sedang haid menurut Imam Al-Syafi’i dan Imam Ahmad.

Sedangkan menurut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah tidak
semestinya bersedekah, sebaliknya suami yang menyetubuhi isterinya ketika sedang haid cukup beristighfar memohon ampun kepada Allah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

N046. MACAM-MACAM HUKUM MENIKAH

PERTANYAAN :

Assalamu Alaikum ustadz..

Saya punya teman pak ustadz dia laki-laki dan umurnya bisa di bilang kelewat mateng hingga sekarang dia belum menikah ternyata dia punya pendirian memang dia tidak berkeinginan untuk menikah setelah di tanya dia menjawab “karena menikah itu sunnah, dan aku akan melakukan sunnah Rosululloh yang lain tidak harus fokus pada sunnah menikah itu saja.

Terus bagai mana pak ustadz menurut pandangan syariat islam sendiri tentang jawaban teman saya ini?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukum nikah pada dasarnya adalah mubah artinya melaksanakan nikah/ menikah tidak diganjar dan meninggalkan nikah pun juga tidak diganjar. Namun dari hukum asal mubah itu bisa berubah mendi, wajib, sunnah, haram, makruh. Maka dari itu memberikan batasan atau menyipulkan hukum nikah yaitu terdapat lima :

1-Wajib
2-Sunnah
3-Makruh
4-Mubah
5-Haram.

Adapun perubahan hukum nikah tersebut diatas bergantung pada situasi dan kondisi baseorang.

As-Syaikh Al-‘Allaamah Al-Judaari menerangkan hukum menikah dengan beberapa bait syair yang terdapat dalam Kitab Qurratul ‘Uyuun berikut ini :

وواجب علي الذي يخشي الزنا • تزوج بكل حال امكنا

وزيد في النساء فقد المال • وليس منفق سوي الرجال

وفي ضياع واجب والنفقة • من الخبيث حرمة متفقة

لراغب اوراجي نليندب • وان به يضيع مالا يجب

ويكره ان به يضيع النفل • وليس فيه رغبة اونسل

وان انتفي ما يقتضي حكما مضي • جاز النكاح بالسوي المرتضي

Hukum menikah sangat tergantung pada keadaan orang yang hendak melakukannya, hukumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. WAJIB : Bagi orang yang telah mampu sedang dan bila ia tidak segera menikah amat di khawatirkan akan berbuat zina

2. SUNNAH : Bagi orang yang menginginkan sekali punya anak, tetapi ia masih mampu mengendalikan diri dari perbuatan zina, baik ia sudah berminat menikah atau belum walaupun jika menikah nanti ibadah sunnah yang sudah biasa ia lakukan akan sedikit terlantar.

3. MAKRUH : Bagi orang yang belum berminat punya anak, juga belum pernah menikah sedangkan ia mampu menahan diri dari berbuat zina padahal bila ia menikah amalan ibadah sunnahnya akan terlantar.

4. MUBAH : Bagi orang yang mampu menahan gejolak nafsunya dari berbuat zina, sementara ia belum berminat memiliki anak dan seandainya ia menikah ibadah sunnahnya tidak sampai terlantar.

5. HARAM : Bagi orang yang apabila ia menikah justru akan merugikan istrinya karena ia tidak mampu memberi nafkah lahir dan bathin atau jika menikah ia akan cari mata pencaharian yang di haramkan Allah SWT walaupun orang tersebut sudah berminat menikah dan mampu menahan gejolak nafsunya dari berbagai zina. Hukum menikah tersebut juga berlaku bagi kaum wanita. Ibnu Arafah menambahkan, bahwa bagi wanita hukum menikah wajib apabila ia tidak mampu menafkahi dirinya sendiri sedangkan jalan satu-satunya untuk menanggulangi nafkah tersebut adalah menikah.

Wallahu a’lamu bisshowab..