Semua tulisan dari Musthofa AB

Alumni BATA-BATA Thn : 1995 - 2004

S038. JAMAK DAN QOSHOR BAGI YANG BEPERGIAN TERUS MENERUS

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Diskripsi :
Saya kerja keluar kota dan di sana saya dua hari, pulang lagi ke rumah, satu hari di rumah, lalu berangkat lagi kerja keluar kota dua hari.

Pertanyaan :
Bolehkah menjamak dan mengkoshor sholat saya?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Bagi orang yang selalu bepergian seperti sopir/kondektur, menurut madhab syafi’i baginya boleh menjamak dan mengqoshor apabila perjalanan tersebut sampai batas dua marhalah diperbolehkannya mengkoshor shalat, namun yang lebih utama adalah sholat secara sempurna.

(المجموع شرح المهذب,جز ٤,صحيفۃ ٢٢۰)

(اما حكم المسئلۃ)فمذهبنا جواز القصر والاءتمام,فاءن كان سفره دون ثلاثۃ ايام فالأفضل الإتمام للخروج من خلاف ابي حنيفۃ وموافقيه كما سبق, وكذا ان كان يديم السفر باءهله في البحر فله القصر, والأفضل الاءتمام, وان بلغ سفره مراحل, وقد سبقت المسئلۃ. وقد نص الشافعي في الأم علی ان الأفضل ترك القصر للخروج من خلاف العلماء ولأنه لا وطن له غيره. واتفق اصحابنا علی هذا. قال اصحابنا: ويستثنی ايضا من وجد من نفسه كراهۃ القصر لا رغبۃ عن السنۃ اوشكا في جوازه. قال الشافعي والاءصحاب: القصر لهذا افضل بلا خلاف، بل يكره له الإتمام حتی تزول هذه الكراهۃ, وهكذا الحكم في جميع الرخص في هذه الحالۃ, وان كان سفره ثلاثۃ ايام فصاعدا, ولم يكن مد من سفر البحر وغيره ولا يترك القصر رغبۃ عنه، انتهی.

Bagi sopir juga boleh menjama’ dan mengqosor shalatnya.

Orang-orang yang berprofesi sebagai sopir boleh mengqosor shalatnya tapi yang lebih utama shalatnya tidak diqoshor :

و من يديم السفر مطلقا كالساعي فإن الإتمام أفضل له خروجا من خلاف من أوجبه كالإمام أحمد رضي الله عنه. الباجوري ١/٢٠١.

Mengqoshor sholat bagi musafir adalah lebih utama, jika bepergiannya mencapai 3 marhalah dan tidak terus menerus bepergian dan bukan nahkoda kapal yang berlayar bersama keluarganya, jika tidak maka menyempurnakan sholat lebih utama dan dimakruhkan baginya menqoshor.

Ibaroh kasyifatussaja hal 92 :

فرع) القصر للمسافر افضل ان بلغ سفره ثلاث مراحل و ليس مديما له و لا ملاحا اى سفانا معه عياله فى السفينة و الا فالاتمام افضل بل يكره له القصر.

BATASAN JARAK BOLEH MENGKOSHOR SHALAT :

Terdapat perbedaan pendapat antara ulama antara jarak jauh seseorang dikatakan musafir yang diperkenankan menjama’/mengqashar shalat, ada yang mengatakan :

1. Dua Marhalah (81 Km)/ perjalanan 2 hari/ 16 farshah (Syafi’iyyah, Malikiyyah dan Hanabilah)

2.Tiga Marhalah (243 Km)/ perjalanan 3 hari (Hanafiyyah)

Perbedaan ini muncul karena tidak terdapatnya dalil nash yang sharih mengenai jarak jauhnya, sehingga para ulama mengambil jalan ijtihad mereka masing-masing dalam membatasinya.

– al-Fiqh al-Islaam II/483 :

اشترط الفقهاء لصحة القصر الشروط الآتية :

1 – أن يكون السفر طويلاً مقدراً بمسيرة مرحلتين أو يومين أو ستة عشر فرسخاً عند الجمهور، أو ثلاث مراحل أو ثلاثة أيام بلياليها عند الحنفية، على الخلاف السابق بيانه.

Wallahu a’lamu bisshowab..

HADITS KE 87 : TATACARA BERISTINJAK DENGAN BATU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATA CARA BUANG HAJAT

HADITS KE 87 :

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: ( أَتَى اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم اَلْغَائِطَ فَأَمَرَنِي أَنْ آتِيَهُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ فَوَجَدْتُ حَجَرَيْنِ وَلَمْ أَجِدْ ثَالِثًا. فَأَتَيْتُهُ بِرَوْثَةٍ. فَأَخَذَهُمَا وَأَلْقَى اَلرَّوْثَةَ وَقَالَ: “هَذَا رِكْسٌ” ) أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيّ ُ. زَادَ أَحْمَدُ وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ: ( ائْتِنِي بِغَيْرِهَا

Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam hendak buang air besar lalu beliau menyuruhku untuk mengambilkan tiga biji batu kemudian saya hanya mendapatkan dua biji dan tidak menemukan yang ketiga. Lalu saya membawakan kotoran binatang. Beliau mengambil dua biji batu tersebut dan membuang kotoran binatang seraya bersabda: “Ini kotoran menjijikkan.” Diriwayatkan oleh Bukhari. Ahmad dan Daruquthni menambahkan: “Ambilkan aku yang lain.”

MAKNA HADITS :

Agama Islam senantiasa mengambil berat masalah disiplin dan kebersihan disamping mempersiapkan kehidupan yang suci dan baik bagi seorang muslim. Oleh karena itu, ia menyuruh beristinjak dan ber-istijmar (bersuci dengan menggunakan batu) serta menjauhi perkara-perkara kotor. Islam menganjurkan kebersihan dengan menjadikan istijmar dengan memakai tiga biji batu yang mempunyai daya
pembersih. Menggunakan objek yang memiliki permukaan licin dan tidak akan dapat membersihkan najis, malah justru menyebarkan lagi najis seperti tulang atau memakai barang yang najis tentu tidak boleh dijadikan sebagai alat untuk ber-istijmar.

FIQH HADITS :

1. Dilarang beristinjak dengan menggunakan kotoran hewan, kerana ia najis.

2. Tidak boleh menggunakan kurang dari tiga biji batu dalam beristinjak dengan syarat batu tersebut adalah batu yang mampu membersihkan najis. Inilah menurut mazhab Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad. Kedua ulama ini berlandaskan pendapatnya dengan riwayat yang mengatakan: “Datangkanlah selainnya buatku.” Bagi Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad boleh menggunakan sebiji batu yang mempunyai tiga sudut. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik

mengatakan bahwa tidak penting jumlah batu tertentu dalam beristinjak. Apa yang terpenting adalah batu yang digunakan beristinjak mampu membersihkan najis, meskipun hanya dengan sebiji batu dan disunatkan mengganjilkan bilangan batu yang digunakan beristinjak tersebut.

3. Dilarang beristinjak dengan tulang, kerana ia mempunyai permukaan yang

licin yang tidak dapat membersihkan najis. Selain itu tulang adalah makanan utama jin sebagaimana diterangkan oleh hadits lain.

4. Dianjurkan menyediakan alat untuk bersuci, baik batu ataupun air

sebelum membuang hajat dan dibolehkan pula meminta bantuan orang lain untuk mendatangkannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

M035. HUKUM MENGANTAR NON MUSLIM KE GEREJA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Mau tanya, di papua khususnya teman2 kami menjadi tukang ojek yang mayoritas yang mengojek adalah non moslim dan dia di hantar ke toko dll sesuai kebutuhan mereka. Bahkan sering kali di hantar ke tempat ibadah mereka (gereja). Bagaimana hukumnya kalau begitu?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tentang bermu’amalah dengan orang kafir sudah dibahas di dokumen Muamalah No.34. Silahkan buka linknya:

https://ikaba.net/2018/03/10/m034-hukum-jual-beli-dengan-non-muslim/

Adapun mengantar ke gereja berarti membantu melakukan maksiat, maka hukumnya berdosa. Boleh kerjasama dengan orang kafir tapi makruh selama hanya bekerjasama kalau khidmah hukumnya HARAM.

اسعاد الرفيق جزء 2 ص 127 ومنها أي من معاصى البدن الاعانة على المعصية أي على معصية من معاصى الله بقول او فعل او غيره ثم ان كانت المعصية كبيرة كانت الاعانة عليها كذالك كما في الزواجر قال فيها وذكري لهذين أي الرضا بها والاعانة عليها باي نوع كان ظاهر معلوم مما سيأتـي في الامر بالمعروف والنهي عن المنكر

“Di antara maksiat tubuh adalah ikut menolong (terlibat) peristiwa maksiat-maksiat yang dimurkai Allah, baik berupa ucapan, perbuatan dll. Bila maksiat tadi tergolong dalam dosa besar, maka dosa yang didapat dari keterlibatannya pun juga besar, seperti dijelaskan dalam kitab Zawajir. Di dalam kitab tersebut Ibn Hajar berkata :” (alasan) saya menyebutkan dua hal diatas, yakni membiarkan maksiat terjadi (Ridlo bi Maksiah) dan terlibat di dalamnya (Ianah alaiha) dengan berbagai macam ragamnya, sudah cukup jelas dan maklum seperti yang akan dijelaskan dalam Bab Amr Ma’ruf –Nahy Munkar”.

من أَعاَنَ عَلَى مَعْصِيَةٍ وَلَوْ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ كاَنَ شَرِيْكاً فِيْهاَوفى نفس الكتاب اجرة العمل الذى يتعلق بالمعصية حرام والتصدق به منها لايجوز ولايصح إهـ مغني المحتاج ٢/٣٣٧.

“Barang siapa yang menolong kemaksiyatan walaupun hanya dengan setengah kalimat, maka ia telah terlibat dalam maksiyat tersebut” (al-Hadits)

– I’anatut Tholibin, Juz 3 Hal 129 :

يصح استئجار كافر لمسلم، ولو إجارة عين، مع الكراهة، لكن لا يُمكّن من استخدامه مطلقا، لانه لا يجوز خدمه المسلم للكافر أبدا.

– Hasyiyah Qalyubi Hal 455 :

وَأَمَّا خِدْمَةُ الْمُسْلِمِ لِلْكَافِرِ فَحَرَامٌ مُطْلَقًا سَوَاءٌ بِعَقْدٍ أَوْ بِغَيْرِ عَقْدٍ

Wallahu a’lamu bisshowab..

D012. TRADISI 4 BULANAN DAN 7 BULANAN BAGI IBU HAMIL

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Diskripsi :
Di desa kami ada tradisi 4 bulanan kehamilan dan ada yang 7 bulanan kehamilan.

Pertanyaa’annya, manakah yang dianjurkan syari’at, dan apakah yang dua tradisi tadi diatas ada yang menyalahi syari’at islam?

Mohon dengan sangat jawabannya karena tradisi itu udah turun temurun takut menyalahi hukum islam..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Secara khusus tidak ditemukan dasar dalam syariat. Hanya saja, dalam fikih disampaikan bahwa apabila dalam kegiatan tersebut tidak terdapat hal-hal yang dilarang agama bahkan merupakan kebajikan seperti sodaqoh, qiro’atul qur’an dan sholawat kepada Nabi serta tidak meyakini bahwa penentuan waktu itu adalah sunnah, maka hukumnya diperbolehkan.

Walimah al-Hamli bukan tergolong walimah yang disyariatkan dalam Islam, namun selagi dalam pelaksanaannya tidak disertai hal-hal yang tercela maka tidak menjadi BID’AH yang QABIIH (tercela).

– قرة العين بفتاوى الشيخ اسماعيل الزين، ص ١٨٢

سؤال ما قولكم في حكم وليمة الحمل؟ الجواب : والله الموفق للصواب ان وليمة الحمل المذكورة في السؤال ليست من الولائم المشروعية فهي بدعة وقد تكون بدعة قبيحة لما يصحبها العادات الذميمة

PERTANYAAN : Bagaimana pendapat tuan tentang Walimah al-Haml ?

JAWABAN : Semoga Allah selalu memberikan taufiq pada kebenaran, sesungguhnya walimah al-haml yang ditanyakan dalam soal diatas tidak tergolong walimah-walimah yang diperlakukan oleh syariat Islam, walimah tersebut termasuk bidah dan bahkan bisa menjadi bid’ah yang jelek bila disertai dengan adat-adat yang tercela. [ Qurrah al-‘Aiin Bi Fataawa as-Syaikh Ismail az-Zain Hal. 182 ].

قَالَ الشَّافِعِيُّ ، رَحِمَهُ اللَّهُ : ” الْوَلِيمَةُ الَّتِي تُعْرَفُ : وَلِيمَةُ الْعُرْسِ ، وَكُلُّ دَعْوَةٍ عَلَى إِمْلَاكٍ أَوْ نِفَاسٍ أَوْ خِتَانٍ أَوْ حَادِثِ سُرُورٍ ، فَدُعِيَ إِلَيْهَا رَجُلٌ ، فَاسْمُ الْوَلِيمَةِ يَقَعُ عَلَيْهَا

Imam as-Syafi’i berkata “Walimah yang dikenal (dalam islam) adalah walimah ‘Urs dan setiap jamuan yang diadakan atas dasar mendapatkan sesuatu, persalinan, khitanan atau kebahagiaan yang baru diperoleh kemudian jamuan tersebut dijadikan undangan maka nama walimah layak disematkan padanya”. [ Al-Haawy fii Fiqh as-Syaafi’i IX/555 ].

Dianjurkan memperbanyak do’a pada saat hamil terutama menjelang 4 bulanan sangat dibutuhkan, mengingat roh seluruh bani adam serta umur, rizqi pekerjaan dan nasibnya, oleh Allah swt. Diperintahkan untuk ditiupkan dan ditentukan pada saat umur janin 40 hari x 3 atau 120 hari dalam kandungan yang berarti berumur 4 bulan.

Sebagaimana keterangan dalam hadits :

ان احدكم يجمع خلقه في بطن امه اربعين يوما نطفة ثم… الحديث

Juga berdo’a untuk mendapatkan keturunan anak yang sholeh sangatlah dianjurkan, sebagaimana Firman Allah :

رب هب لي من الصالحين

Dan memperbanyak do’a :

ربنا هب لنا من ازواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين اماما.

Wallahu a’lamu bisshowab..

M034. HUKUM JUAL BELI DENGAN NON MUSLIM

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saya mau tanya ustadz..

Bagaimana hukumnya jual beli dengan non muslim? Misalkan motor bekas kepunyaan orang non muslim.

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hukum Mengadakan Transaksi dengan Ahli Kitab : Muamalah/jual beli non islam diperbolehkan, karena dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa Nabi shallallaahu alaihi wasallam membeli barang-barang dagangan pada Maysaroh, dan beliau juga membeli makanan dari orang Yahudi, juga mengadakan gadai dengannya. Ini menunjukkan bolehnya menjalani muamalah dengan mereka.

– Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah VII/147 :

حكم التعامل مع أهل الكتاب : 17 – التعامل مع أهل الكتاب جائز ، فقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه اشترى من يهودي سلعة إلى الميسرة (١) وثبت عنه صلى الله عليه وسلم أنه اشترى من يهودي طعاما إلى أجل ورهنه درعه (٢) ففيه دليل على جواز معاملتهم ،
(١) حديث : ” اشترى من يهودي سلعة إلى الميسرة . . ” أخرجه أحمد ( الفتح الرباني ١٥ / ١٨٨) ط دار الشهاب . وقال البنا الساعاتي : أخرجه النسائي والحاكم وصححه الحاكم وأقره الذهبي . (٢) حديث : ” إن النبي صلى الله عليه وسلم اشترى من يهودي طعاما . . ” أخرجه البخاري في الرهن ( الفتح ٥/ ١٤٢٩/٢٥٠٩ ) ط السلفية . ومسلم في المساقاة (٣/١٢٢٦ ) ط الحلبي .

– Fath al-Baari IV/410 :

٢٢١٦- حدثنا أبو النعمان حدثنا الفاء بن سليمان عن أبيه عن أبي عثمان عن عبد الرحمن بن أبي بكر رضي الله عنهما قال ثم كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ثم جاء رجل مشرك بغنم يسوقها فقال النبي صلى الله عليه وسلم بيعا أم عطية أو قال أم هبة قال لا بل بيع فاشترى منه شاة “[الحديث
٢٢١٦- طرفاه في: ٢٦١٧
،٥٣٨٢[قوله: “باب الشراء والبيع مع المشركين وأهل الحرب” قال ابن بطال: معاملة الكفار جائزة، إلا بيع ما يستعين به أهل الحرب على المسلمين.

Dari Abdurrahman Bin Abu Bakar ra, ia berkata “Kemudian kami bersama baginda nabi Shallallaahu alaihi wasallam kemudian datanglanglah lelaki musyrik dengan menuntun kambing, Nabi bertanya : (Kambing ini engkau) jual atau berikan ? (atau Nabi bertanya, atau kau hibahkan ?), lelaki tersebut menjawab, dijual.Kemudian nabi membeli darinya seekor kambing.(Keterangan jual beli dengan orang-orang musyrik dan kafir harb (kafir yang sedang berperang dengan orang-orang muslim), Ibn Batthaal berkata “Mengadakan transaksi dengan orang-orang non muslim diperbolehkan kecuali menjual alat-alat yang digunakan untuk memerangi orang-orang muslim”. [ Fath al-Baari IV/410 ].

Senada dengan itu, menurut Imam Abu Hanifah dalam kitab mabsuth, kita boleh jual beli dengan non muslim.

وقد كان حذيفة ـ رضي الله عنه ـ ممن يستعمل التقية، على ما روي أنه يداري رجلاً، فقيل له: إنك منافق، فقال: لا، ولكني أشتري ديني بعضه ببعض، مخافة أن يذهب كله، وقد ابتلى «ببعض ذلك في زمن رسول الله ـ صلى الله عليه وسلّم ـ على ما روي أن المشركين أخذوه، واستحلفوه على أن لا ينصر رسول الله في غزوة، فلما تخلص منهم جاء إلى رسول الله ـ صلى الله عليه وسلّم ـ وأخبره بذلك، فقال ـ عليه الصلاة والسلام ـ: «أوف لهم بعهدهم، ونحن نستعين بالله عليهم» .وذكر عن مسروق ـ رحمه الله ـ قال: بعث معاوية ـ رضي الله عنه ـ بتماثيل من صفر، تباع بأرض الهند، فمر بها على مسروق ـ رحمه الله ـ قال: والله لو أني أعلم أنه يقتلني لغرقتها، ولكني أخاف أن يعذبني، فيفتنني، والله لا أدري أي الرجلين، معاوية رجل قد زين له سوء عمله، أو رجل قد يئس من الآخرة، فهو يتمتع في الدنيا، وقيل: هذه تماثيل كانت أصيبت في الغنيمة، فأمر معاوية ـ رضي الله عنه ـ ببيعها بأرض الهند ليتخذ بها الأسلحة، والكراع للغزاة، فيكون دليلاً لـأبي حنيفة ـ رحمه الله ـ في جواز بيع الصنم. والصليب ممن يعبده ، كما هو طريقة القياس.وقد استعظم ذلك مسروق ـ رحمه الله ـ كما هو طريق الاستحسان الذي ذهب إليه أبو يوسف ومحمد ـ رحمهما الله ـ في كراهة ذلك. فيكون دليلاً لـأبي حنيفة ـ رحمه الله ـ في جواز بيع الصنم. والصليب ممن يعبده ، كما هو طريقة القياس.

Maka hal itu menjadi dalil bagi Abu Hanifah rohimahulloh pada bolehnya menjual patung dan salib bagi orang yang menyembahnya, sebagaimana itu merupakan jalan analogi / qiyas. Sedang pendapat yang tidak boleh adalah menurut imam ibnu Hajar (syafi’iyyah) dalam kitab Tuhfatul Muhtaj syarh minhaj :

(وَلا) بَيْعُ (حَبَّتَيْ) نَحْوِ (الْحِنْطَةِ) أَوْ الزَّبِيبِ وَنَحْوِ عِشْرِينَ حَبَّةَ خَرْدَلٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ كُلِّ مَا لا يُقَابَلُ بِمَالٍ عُرْفًا فِي حَالَةِ الاخْتِيَارِ لانْتِفَاءِ النَّفْعِ بِذَلِكَ لِقِلَّتِهِ وَمِنْ ثَمَّ لَمْ يُضْمَنْ, وَإِنْ حَرُمَ غَصْبُهُ وَوَجَبَ رَدُّهُ وَكَفَرَ مُسْتَحِلُّهُ وَعَدُّهُ مَالا يَضُمُّهُ لِغَيْرِهِ أَوْ لِنَحْوِ غَلاءٍ لا أَثَرَ لَهُ كَالاصْطِيَادِ بِحَبَّةٍ فِي فَخٍّ (وَآلَةِ اللَّهْوِ) الْمُحَرَّمِ كَشَبَّابَةٍ وَطُنْبُورٍ وَصَنَمٍ وَصُورَةِ حَيَوَانٍ وَلَوْ مِنْ ذَهَبٍ وَكُتُبِ عِلْمٍ مُحَرَّمٍ إذْ لا نَفْعَ بِهَا شَرْعًا نَعَمْ يَصِحُّ بَيْعُ نَرْدٍ صَلَحَ مِنْ غَيْرِ كَبِيرِ كُلْفَةٍ فِيمَا يُظْهِرُ بَيَادِقَ لِلشِّطْرَنْجِ كَجَارِيَةِ غِنَاءٍ مُحَرَّمٍ وَكَبْشٍ نَطَّاحٍ, وَإِنْ زِيدَ فِي ثَمَنِهِمَا لِذَلِكَ ; لأَنَّ الْمَقْصُودَ أَصَالَةً الْحَيَوان.

والله تعالى اعلم بالصواب

S037. DALIL MEMBACA “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAHU” KETIKA I’TIDAL

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Mau tanya para ustadz & ustdzah” kenapa ketika bangun dari ruku’ kok baca SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAHU artinya : (maha mendengar Allah terhadap orang yang memuji-Nya) kenapa tidak baca ALLAHU AKBAR seperti yang lain?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Perkataan “Sami’a Allahu Liman Hamidah” pada I’tidal berawal ketika Abubakar As-Siddiq masbu’ salat ‘Ashar bersama Rasulullah. Saw, beliu mendapatkan Rasulullah sedang ruku’ lalu beliau memuji Allah dan salat dibelakang rasulullah, pujian itu didengar oleh Allah dan “Sami’a Allahu Liman Hamidah” menjadi bacaan bangkit dari ruku’ semenjak itu.

Lihat: Sulaiman bin Umar al-Bujairimi, Hasyiyah al-Bujairimy alaa al-Khatib, (Daar al-Fikri, 1995), juz. 2. Hal. 69.

وَالسَّبَبُ فِي سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ «أَنَّ الصِّدِّيقَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – مَا فَاتَتْهُ صَلَاةٌ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَطُّ، فَجَاءَ يَوْمًا وَقْتَ صَلَاةِ الْعَصْرِ فَظَنَّ أَنَّهَا فَاتَتْهُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَاغْتَمَّ بِذَلِكَ وَهَرْوَلَ وَدَخَلَ الْمَسْجِدَ، فَوَجَدَهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مُكَبِّرًا فِي الرُّكُوعِ فَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَبَّرَ خَلْفَهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَنَزَلَ جِبْرِيلُ وَالنَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي الرُّكُوعِ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُلْ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ» . وَفِي رِوَايَةٍ «اجْعَلُوهَا فِي صَلَاتِكُمْ» . فَقَالَهَا عِنْدَ الرَّفْعِ مِنْ الرُّكُوعِ، وَكَانَ قَبْلَ ذَلِكَ يَرْكَعُ بِالتَّكْبِيرِ وَيَرْفَعُ بِهِ فَصَارَتْ سُنَّةً مِنْ ذَلِكَ الْوَقْتِ بِبَرَكَةِ الصِّدِّيقِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

“Dan sebab pada perkataan “Sami’a Allah liman hamidah” adalah sesungguhnya Abubakar As-Siddiq Ra tidak pernah ketinggalan salat di belakang Rasulullah. Saw. Pada suatu hari ketika hendak sala ‘Ashar beliau terlambat dan menyangka tidak sempat salat di belakang Rasulullah. Saw, beliau sangat menginginkan agar bisa salat bersama Rasulullah. Saw, beliau berlari dan memasuki masjid rupanya meliau mendapatkan Rasulullah. Saw sedang membaca takbir dalam ruku’ maka belaiu memuji Allah dengan mengucapkan Alhamdulillah dan dan bertakbir salat mengikuti Rasulullah. Saw, datanglah malaikat Jibril kepada Rasulullah. Saw yang sedang ruku’ dan mengatakan: wahai Muhammad Allah telah mendengar orang yang memujinya maka bacakan “Sami’a Allahu Liman Hamidah”. Dalam riwayat lain disebutkan “Jadikanlah kalimat itu sebagai bacaan salat kalian” maka Rasulullah. Saw membacanya ketika bangkit dari ruku’ padahal sebelum itu beliau turun ke dan bangkit dari ruku’ dengan mengucapkan “Allahu Akbar” maka itu menjadi sunnah dari semenjak itu dengan berkat Abubakar as-Siddiq. Ra.

Ini bisa di lihat dalam:
Hasyiyah Jamal ala fath al-Wahab juz.1. Hal. 366.
Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz, 1. Hal.180.

Bacaan SAMI’A ALLAAHU LIMAN HAMIDAHU menurut kitab-kitab kalangan SYAFI’IYYAH disunahkan bagi imam, makmum, muballigh ataupun orang yang sedang shalat sendirian…

وَيُسْتَحَبُّ له أَنْ يَرْفَعَ يَدَيْهِ كما سَبَقَ في تَكْبِيرِ الْإِحْرَامِ حين يَرْفَعُ رَأْسَهُ من الرُّكُوعِ بِأَنْ يَكُونَ ابْتِدَاءُ رَفْعِهِمَا مع ابْتِدَاءِ رَفْعِهِ قَائِلًا في ارْتِفَاعِهِ لِلِاعْتِدَالِ سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ لِلِاتِّبَاعِ رَوَاهُ الشَّيْخَانِ مع خَبَرِ صَلُّوا كما رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي وَسَوَاءٌ في ذلك الْإِمَامُ وَغَيْرُهُ وَأَمَّا خَبَرُ إذَا قال سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا لَك الْحَمْدُ فَمَعْنَاهُ قُولُوا ذلك مع ما عَلِمْتُمُوهُ من سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ لِعِلْمِهِمْ بِقَوْلِهِ صَلُّوا كما رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي مع قَاعِدَةِ التَّأَسِّي بِهِ مُطْلَقًا

“Dan disunahkan mengangkat kedua tangannya seperti saat takbiratul ihram saat ia mengangkat kepalanya dari ruku’, dalam artian awal mengangkat kedua tangannya berbarengan dengan awal mengangkat kepalanya seraya membaca “samiallohuliman hamidah” berdasarkan itba’ Nabi pada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim”Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat shalatku”.Ketentuan diatas sama bagi seorang imam dan lainnya (makmum, orang yang shalat sendirian).
Sedang hadits ‘bila imam membaca “samiallohu liman hamidah” maka ucapkanlah oleh kalianRabbana laka hamdu” artinya adalah ucapkanlah “rabbana lakal hamdu” bersama dengan ucapan yang telah kalian ketahui yakni”samiallohu liman hamidah” sebab para sahabat telah mengetahui bacaan “samiallohu liman hamidah” dari shalat yang dikerjakan oleh nabi dengan kaidah ta’ssy secara mutlak”
Asna al-Mathoolib I/158

ويجهر الامام بسمع الله لمن حمده، ويسر بربنا لك الحمد ويسر غيره بهما.نعم المبلغ يجهر بما يجهر به الامام ويسر بما يسر به كما قاله في المجموع لانه ناقل

“Dan bagi imam bacalah dengan keras bacaan”samiallohuliman hamidah” dan bacalah dengan pelan bacaan rabbana lakal hamdu , sedang bagi selain imam (makmum, orang yang shalat sendirian) bacalah pelan keduanya”Hanya saja bagi seorang muballigh (perantara bacaan imam) bacalah keras bacaan yang dikeraskan imam dan bacalah pelan bacaan yang dipelankan oleh imam sebagaimana yang diterangkan dalam kitab al-majmuu’ karena kedudukannya sebagai pemindah bacaan dari imam”.
Al-Iqnaa I/133

ثم يرفع من ركوعه قائلا سمع الله لمن حمده ويرفع يديه حذم منكبيه فإذا اعتدل قائما قال ربنا لك الحمد ملء السموات وملء الأرض ما شئت من شيء اماما كان أو مأموما أو منفردا

Kemudian bangkitlah ia dari rukukmya seraya mengucapkan samiallohu liman hamidah dan angkatlah kedua tangaanya selaras dengan kedua bahunya, kemudian saat ia telah tegak nerdiri ucapkan Rabbana lakal hamdu milussamawati wamin uma syi’ta min say’in ba’du baik ia seorang imam, makmum ataupun shalat sendiri”.
Iqnaa Li al-Mawardy I/39

( و ) يسن لكل مصل ( التكبير للانتقال من ركن إلى آخر….( إلا في الاعتدال ) ولو لثاني قيام الكسوف ( فيقول ) إماما كان أو منفردا أو مأموما مبلغا أو غيره ( سمع الله لمن حمده ) للاتباع أي تقبل الله منه حمده ويحصل أصل السنة بقوله من حمد الله سمعه

“Disunahkan bagi setiap orang yang shalat membaca takbir pada perpindahan gerakan-gerakan yang terdapat pada satu rukun shalat pada gerakan lainnya, kecuali saat ia i’tidal meskipun pada saat berdiri yang kedua sewaktu shalat gerhana, maka ucapkanlahsamiallohu liman hamidah baik ia seorang imam, shalat sendirian, makmum, muballigh ataupun lainnya berdasarkan itba’ pada nabi dengan hadits “semoga Allah mendengar pujian darinya”. Dan kesunahan terdapatkan juga dengan membaca man hamidahu allohu samia’ahu“. Al-Minhaj al-Qawiim I/201.

Wallahu a’lamu bisshowab..

HADITS KE 86 : ANJURAN BERDO’A KELUAR DARI WC

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATA CARA BUANG HAJAT

HADITS KE 86 :

وَعَنْهَا; ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنْ اَلْغَائِطِ قَالَ: “غُفْرَانَكَ” ) أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ. وَصَحَّحَهُ أَبُو حَاتِمٍ وَالْحَاكِم

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam jika telah keluar dari buang air besar beliau berdo’a: “Aku mohon ampunan-Mu.” Diriwayatkan oleh Imam Lima. Hadits shahih menurut Abu Hatim dan Hakim.

MAKNA HADITS :

Memohon ampun yang dilakukan oleh Rasulullah (s.a.w) kerana baginda lupa berzikir kepada Allah ketika sedang membuang hajat. Menurut satu pendapat lagi, permintaan ampun tersebut merupakan permintaan taubat kerana lalai mensyukuri nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepadanya.

Allah telah memberinya makan, kemudian makanan itu dihimpun di dalam perutnya dan dimudahkan jalan keluar bagi ampasnya, manakala yang bermanfaat pula tetap berada di dalam tubuhnya. Baginda melihat syukur yang telah dilakukan masih tidak mampu menandingi nikmat tersebut. Untuk itu, baginda segera mengucapkan istighfar sebagai contoh bagi umatnya. Ini kerana hati baginda tidak pernah lupa dari memuraqabah Allah (s.w.t), baik ketika sedang membuang hajat maupun dalam keadaan selain itu.

FIQH HADITS :

1. Memohon ampunan kepada Allah (s.w.t) sesudah keluar dari tempat buang hajat dan disunatkan do’a tersebut ditambah sebagaimana disebutkan di dalam hadis Anas (r.a) yang menyebutkan bahwa:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْخَلَاءِ، قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنِّي الْأَذَى وَعَافَانِي

“Rasulullah (s.a.w) apabila telah selesai membuang hajatnya membaca do’a
berikut:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنِّي الْأَذَى وَعَافَانِي

“Segala puji bagi Allah yang telah melenyapkan kotoran dariku dan
memberikan kesembuhan kepadaku.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah).

2. Para sahabat senatiasa mengambil berat semua amal perbuatan Rasulullah (s.a.w), hingga ketika baginda selesai membuang hajat pun diperhatikan.
Tujuannya adalah untuk mengikuti jejak dan langkah Rasulullah (s.a.w).

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HJ005. HUKUM MEMANGGIL “HAJI” TERHADAP ORANG YANG BELUM BERHAJI

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saya mau tanya ustadz..
Pertanyaannya, Bagaimana hukumnya orang yang memanggil haji kepada orang yang hanya melakukan ibadah umroh?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Memanggil “pak haji” dengan tujuan ta’dhim (memuliakan) sementara yang bersangkutan belum melaksanakan ibadah haji hukumnya harom.

– Hasyiyah Jamal :

وقع السؤال مما يقع كثيرا فى مخاطبة الناس بعضهم مع بعض من قولهم لمن لم يحج يا حاج فلان تعظيم…ا له هل هو حرام ام لا والجواب عنه ان الظاهر الحرمة لانه كذب الى ان قال نعم ان اراد بيا حاج فلان المعنى اللغوى وقصد به معنى صحيحا كان اراد بيا حاج يا قاصد التوجه الى كذا كالجماعة او غيرها فلا حرمة اهـ ع ش . (حاشية الجمل ص372جز2

“Ada yang bertanya mengenai pemanggilan terhadap orang yang tidak berhaji “wahai haji/hajah fulan..!” sedangkan tujuan memanggil haji/hajjah kerena memuliakan kepadanya.
Apakah panggilan itu haram?

Jawaban dari pentanyaan tersebut, bahwa secara dzohir panggilan itu adalah haram karena ia adalah BOHONG apabila tujuan dari perkataan tersebut adalah panggilan membenarkan. Namun apabila seseorang memanggilnya secara bahasa saja karena berhadapan dengan jamaah misalnya atau dengan orang lain maka tiada apa-apa (tidak haram).

Wallahu a’lamu bisshowab..

HJ004. UMROH TIDAK MENGGUGURKAN KEWAJIBAN HAJI

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bagaimana orang yang sudah umrah apakah masih punya hutang atau berkewajiban haji?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Orang yang sudah melaksanakan umroh masih tetap mempunyai kewajiban haji apabila mampu, karena rukun islam yang kelima adalah haji ke baitullah bagi yang mampu, bukan umrah.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah RA:

بُنِىَ الاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ اَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّ اﷲُ٬ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اﷲِ٬ وَاِقَامِ الصَّلاَةِ ٠ وَاِيْتَاءِ الزَّكاَةِ ٬ وصَوْمِ رَمَضَانَ ٬ وَحِجِّ الْبَيْتِ لِمَنْ اِسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً٠

Artinya: “Islam dibina atas lima perkara:

1) bersaksi bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwa Muhammad itu Rasul Allah,
2) mendirikan shalat,
3) menunaikan zakat,
4) puasa di bulan Ramadhan, dan
5) melakukan haji ke Baitullah, bagi orang yang mampu melakukan perjalanan kesana.”

Adapun ijma’, maksudnya bahwa para ulama’ kaum muslimin seluruhnya sepakat atas fardhunya haji ini, tanpa ada seorang pun di antara mereka yang berpendapat lain. Dan oleh karenanya, mereka menghukumi kafir terhadap orang yang mengingkari kefardhuan haji, karena berarti mengingkari sesuatu yang secara otentik dinyatakan oleh al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’.

Kesimpulannya :
Orang yang umrah masih berkewajiban haji apabila ia mampu (punya biaya).

Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

{وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ } [آل عمران: 97]

Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam“. QS. Ali Imran: 97.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

هذه آية وُجُوب الحج عند الجمهور. وقيل: بل هي قوله: { وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ } [البقرة:196] والأول أظهر.

Artinya: “Ini adalah ayat yang menunjukkan wajibnya haji menurut pendapat Jumhur (mayoritas) ulama, ada juga yang berpendapat bahwa dalil yang menunjukkan kewajiban haji adalah firman Allah Ta’ala:

{ وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ }

Artinya: “Dan Sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah”. QS. Al Baqarah: 196. Dan pendapat pertama lebih jelas (pendalilannya)”. Lihat Tafsir Ibnu Katsir.

Dan dalil dari wajibnya haji juga berdasarkan hadits riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhubahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam berasabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا ». فَقَالَ رَجُلٌ أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ، ثُمَّ قَالَ، ذَرُونِى مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَىْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَىْءٍ فَدَعُوهُ ».

Artinya: “Wahai manusia, telah diwajibkan atas kalian berhaji maka berhajilah”, kemudian ada seorang bertanya: “Apakah setiap tahun Wahai Rasulullah?”, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjawab sampai ditanya tiga kali, barulah setelah itu beliau menjawab: “Jika aku katakan: “Iya”, maka niscya akan diwajibkan setiap tahun belum tentu kalian sanggup, maka biarkanlah apa yang sudah aku tinggalkan untuk kalian, karena sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian, akibat banyaknya pertanyaan dan penyelisihan mereka terhadap nabi mereka, maka jika aku perintahkan kalian dengan sesuatu, kerjakanlah darinya sesuai dengan kemampuan kalian dan jika aku telah melarang kalian akan sesuatu maka tinggalkanlah”.HR. Muslim.

Wallahu a’lamu bisshowab..