Semua tulisan dari Musthofa AB

Alumni BATA-BATA Thn : 1995 - 2004

T006. HUKUM TATO. WUDHU, ADUS DAN SHOLATNYA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Nyo’onnah pamangki apakah boleh tato badan & apakah diterima (essa) wudhu’ & mandi besarnya?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

HUKUM TATO :

Dan bagi yang sudah terlanjur memakainya wajib menghilangkannya sedapat mungkin bila memang tidak menimbulkan bahaya pada dirinya dengan bahaya yang dapat diperkenankan seseorang menjalani tayammum, bila khawatir menimbulkan bahaya maka tidak wajib menghilangkannya dan ia juga tidak berdosa karenanya bila memang ia telah bertaubat.Ketentuan ini (wajib menghilangkannya) saat tattoo tersebut dilakoni dengan kerelaannya (tidak dipaksa) waktu ia sudah baligh/dewasa, bila terdapat sebelum dewasa atau dipaksa saat membuatnya maka tidak wajib dihilangkan.Shalat dan menjadikan imam orang bertatto dihukumi sah, dan tinak menjadi najis akibat semacam tangan disentuhkan pada anggauta tubuh yang terdapat tattonya.
(IQNAA’ I/139)

==================

والنقاء عما منع وصول ماء جسما….وليس منه طبوع عسر زواله كوشم فيعفي عنه

Diantara syarat-syarat wudhu adalah bersih dari segala hal yang dapat mencegah sampainya air pada tubuh, dan tidak tergolong mencegah sampainya air tera yang sulit dihilangkan seperti tattoo maka hukumnya dima’fu (dimaafkan)

Inaarah ad-Dujaa hal. 60

============

الكتاب : حاشية البجيرمي على الخطيب 4 / 55( الْوَشْمُ ) وَهُوَ غَرْزُ الْإِبْرَةِ فِي الْجِلْدِ حَتَّى يَخْرُجَ الدَّمُ ثُمَّ يَذُرَّ عَلَيْهِ نَحْوَ نِيلَةٍ لِيَخْضَرَّ أَوْ يَزْرَقَّ ا هـ ا ج .قَوْلُهُ : ( فَفِيهِ التَّفْصِيلُ الْمَذْكُورُ ) وَهُوَ أَنَّهُ إذَا فَعَلَهُ مُكَلَّفٌ مُخْتَارٌ عَالِمٌ بِالتَّحْرِيمِ بِلَا حَاجَةٍ وَقَدْرَ عَلَى إزَالَتِهِ لَزِمَتْهُ ، وَإِلَّا فَلَا .فَإِذَا فُعِلَ بِهِ فِي صِغَرِهِ أَوْ فَعَلَهُ مُكْرَهًا أَوْ جَاهِلًا بِالتَّحْرِيمِ أَوْ لِحَاجَةٍ وَخَافَ مِنْ إزَالَتِهِ مَحْذُورَ تَيَمُّمٍ فَلَا تَلْزَمُهُ إزَالَتُهُ وَصَحَّتْ صَلَاتُهُ وَإِمَامَتُهُ ، وَعُلِمَ مِنْ ذَلِكَ أَنَّ مَنْ فَعَلَ الْوَشْمَ بِرِضَاهُ فِي حَالِ تَكْلِيفِهِ ، وَلَمْ يَخَفْ مِنْ إزَالَتِهِ مَحْذُورَ تَيَمُّمٍ مَنَعَ ارْتِفَاعَ الْحَدَثِ عَنْ مَحَلِّهِ لِتَنَجُّسِهِ وَإِلَّا عُذِرَ فِي بَقَائِهِ مُطْلَقًا وَحَيْثُ لَمْ يُعْذَرْ فِيهِ وَلَاقَى مَاءً قَلِيلًا أَوْ مَائِعًا أَوْ رَطْبَا نَجَّسَهُ ، كَذَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ شَرْحُ م ر .

Tatto ialah tanda pada tubuh yang dihasilkan dengan cara menusukkan jarum pada tubuh hingga mengeluarkan darah kemudian meninggalkan warna membiru atau menghijau dari bekas tusukan jarum tersebut.Hukum menghilangkan tatto bila dilakukan saat seseorang sudah mukallaf (dewasa dan berakal), tidak dipaksa, tahu keharamannya, tanpa kepentingan, bisa dihilangkan maka wajib menghilangkannya, bila tidak maka tidak wajib.Maka bila dilakukan saat ia masih kecil, dipaksa, tidak tahu keharamannya, karena ada keperluan, khawatir timbul bahaya yang hingga diperbolehkan baginya tayaammum maka tidak wajib menghilangkannya dan sahlah shalat serta menjadikan imam dia.Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa orang yang menjalaninya setelah ia mukallaf atas dasar kerelaan, tidak menimbulkan bahaya saat menghilangkannya dengan bahaya yang memperkenankan menjalani tayammum maka terhalanglah hilangnya hadats dari tempat dari anggauta tubuh yang ditatto karena kenajisannya, bila tidak dalam ketentuan diatas (mukallaf atas dasar kerelaan, tidak menimbulkan bahaya saat menghilangkannya dengan bahaya yang memperkenankan menjalani tayammum) maka dianggap udzur keberadaannya.Keberadaan tattoo yang tidak dianggap udzur bila bertemu dengan air sedikit atau barang cair lainnya atau sesuatu yang basah dapat menjadikan kenajisannya. Bujairomi alaa al-Khothiib IV/55

WUDHU, ADUS DAN SHOLATNYA ORANG YANG BERTATO :

Adapun waudhu dan mandinya tetap sah, sebagaimana dalam kitab Qurratul ‘Ain bifatawaa Ismail Zain halaman 49 berikut:

سؤال . ماقولكم فيمن غرز فى أعضاء وضوءه او فى سائر بدنه بالإبرة مثلا ووضع محله نحو حبر للتلوين والتصوير فإذا التحم بعد ذلك فهل يصح وضوؤه وكذلك غسله اولا ؟ الجواب : نعم يصح وضوؤه وغسله مع كونه إثما بذلك الفعل يجب عليه التوبة وإزالته ان لم يؤد الى ضرر لأنه نوع من الوشم ففعله غير جائز ولكن الوضوء والغسل معه صحيحان للضرورة لأنه داخل الجلد ملتحم عليه فلا يمنع صحة الوضوء والغسل لكونه داخل البشرة والصلاة معه صحيحة للضرورة.

Terjemah fatwa Syeikh Isma’il Zain: Bagiamana pendapat anda tentang orang yang mencocok pada anggota wudhunya atau disemua badannya dengan jarum misalnya, kemudian dia meletakkan tinta ditempat yang dicocok tsb dengan tujuan mewarnai atau melukis. Ketika merapat (tumbuh daging diatasnya) setelah itu, apakah sah wudhunya, begitu juga mandinya atau tidak ?

Benar, sah wudhu dan mandinya, namun dia berdosa dengan perbuatan itu, dia wajib bertaubat, dan wajib menghilangkannya jika memang tidak mendatangkan bahaya, karena itu termasuk WASYM, yang membuatnya tidak boleh, akan tetapi wudhu dan mandi dengan keduanya sah karena darurat, karena itu didalam kulit yang telah merapat (tumbuh daging diatasnya), maka tidak menghalng-halangi sahnya wudhu dan mandi karena itu didalam kulit. Shalat dengannya sah karena darurat.

Wallahu a’lamu bisshowab..

S013. TATACARA SHALAT JAMAK DAN QASHAR

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bagiamana carax shalat qosor/ jamak ustadz karena kami banyak yang tidak tau prakteknya walaupun berkeinginan untuk mlakukannya seperti halnya saya pribadi?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Pengertian :

– Sholat qoshor adalah meringkas shalat dari 4 (empat) raka’at menjadi 2 (dua) raka’at.

– Sholat jama’ adalah mengerjakan 2 (dua) sholat fardlu dalam satu waktu. Jika dikerjakan pada waktu yang pertama disebut jama’ Taqdim dan jika dikerjakan pada watu sholat yang kedua disebut jama’ ta’khir.

B. Syarat sholat qashar ada 7 (Tujuh) :

1. Bepergian yang bukan karena tujuan maksiat.

2. Jarak perjalanan mencapai 16 (enam belas) farsakh (ada ulama’ yang mengatakan 88 Km, 80 Km, 64 Km, 94,5 Km, dan lain-lain).

3. Sholat yang dilakukan adalah sholat ada’ (sholat yang dilakukan pada waktunya) ataupun sholat qodlo’ (sholat yang dilakukan di luar waktunya) yang terjadi dalam perjalanan, bukan sholat yang ditingalkan di rumah.

4. Niat qoshor (meringkas sholat) dilakukan ketika takbirotul ikhrom.

5. Tidak bermakmum kepada orang yang sholat sempurna (4 roka’at).

6. Dilakukan masih dalam perjalanan.

7. Bepergian dengan tujuan yang jelas.

C. Syarat jama’ taqdim ada 5 (Lima) :

1. Mendahulukan sholat yang pertama (dhuhur atau maghrib).

2. Berniat jama’ taqdim pada sholat yang pertama (dhuhur atau maghrib).

3. Muwalah/ terus menerus (antara sholat yang pertama dan kedua tidak terpisah oleh waktu yang lama kadar 2 (dua) roka’at).

4. Dilakukan ketika masih dalam perjalanan.

5. Kedua sholat yakin dilakukan pada waktu sholat yang pertama.

D. Syarat jama’ ta’khir :
Berniat jama’ ta’khir ketika masuknya waktu sholat yang pertama (Dhuhur dan Maghrib).

Catatan :

– Diperbolehkan untuk menggabungkan antara jama’ dan qoshor sholat.
– Tidak disyaratkan tartib dan niat pada waktu sholat yang awal.

SYARAT KEBOLEHAN JAMAK-QASHAR :

1. Seseorang boleh menjamak-qashar shalatnya setelah melewati batas desanya.

2. Jika seseorang mengadakan perjalanan, lalu dalam perjalanannnya ia melewati daerahnya lagi, maka ia tidak boleh menjamak-qashar, sampai ia keluar lagi dari batas desanya.

TUJUAN PERJALANAN :

Jika seseorang mengadakan perjalanan semata-mata bertujuan tamasya / rekreasi, maka ia tidak boleh menjamak-qashar.

STATUS MUSAFIR :

Seseorang dihukumi lepas dari status musafir (sehingga tidak boleh jamak-qashar) dengan salah satu dari 3 sebab:

1). Sampai kembali ke batas desanya.

2). Tiba di tempat tujuan yang berniat tinggal di situ selama 4 hari 4 malam atau lebih selain hari datang-pulang.

3). Berniat mukim/menetap di satu tempat secara mutlak (tanpa di batasi waktu).

Berikut Lafadz Niat Solat Jamak dan Qasar.

Jamak Taqdim dan Qasar :

·Zuhur-Asar

أصلي فرض الظهر ركعتين قصرا مجموعا إليه العصر أداء لله تعالى

“Aku menyengaja sholat fardhu zuhur dua rakaat dipendekkan dan dihimpunkan kepadanya asar tunai kerana Allah Taala”

. أصلي فرض العصر ركعتين قصرا مجموعا إلي الظهر أداء لله تعالى

“Aku menyengaja sholat fardhu asar dua rakaat dipendekkan dan dihimpunkan kepada zuhur tunai kerana Allah Taala”.

·Maghrib – Isyak

أصلي فرض المغرب ثلاث ركعات مجموعا إليه العشاء أداء لله تعالى

“Aku menyengaja sholat fardhu maghrib 3 rakaat dihimpunkan kepadanya isyak tunai kerana Allah Taala”.

. أصلي فرض العشاء ركعتين قصرا مجموعا إلي المغرب أداء لله تعالى

“Aku menyengaja sholat fardhu isyak dua rakaat dipendekkan dan dihimpunkan kepada maghrib tunai kerana Allah Taala”.

Jamak Takhir dan Qasar :

·Asar – DZuhur

أصلي فرض العصر ركعتين قصرا مجموعا إليه الظهر أداء لله تعالى

“Aku menyengaja sholat fardhu asar dua rakaat dipendekkan dan dihimpunkan kepadanya zuhur tunai kerana Allah Taala”.

أصلي فرض الظهر ركعتين قصرا مجموعا إلي العصر أداء لله تعالى

“Aku menyengaja sholat fardhu zuhur dua rakaat dipendekkan dan dihimpunkan kepada asar tunai kerana Allah Taala”.

·Isyak – Maghrib

أصلي فرض العشاء ركعتين قصرا مجموعا إليه المغرب أداء لله تعالى

“Aku menyengaja sholat fardhu isyak dua rakaat dipendekkan dan dihimpunkan kepadanya maghrib tunai kerana Allah Taala”.

أصلي فرض المغرب ثلاث ركعات مجموعا إلي العشاء أداء لله تعالى

“Aku menyengaja sholat fardhu maghrib 3 rakaat dihimpunkan kepada isyak tunai kerana Allah Taala”.

Wallahu a’lamu bisshowab..

S012. DEFINISI JILBAB, BATASAN AURAT & HUKUM MENUTUPNYA

Definisi Jilbab, Batasan Aurat Wanita & Hukum Menutupnya

Jilbab itu menurut Tafsir al Qurtubi dalam menafsiri ayat ke-59 dari surat al Ahzab, adalah : Selembar pakaian yang lebih besar daripada kerudung. Menurut riwayat Ibn Abbas dan Ibn Mas’ud, jilbab itu adalah selendang. Ada yang mengatakan bahwa jilbab itu adalah cadar yang dipakai untuk menutupi muka wanita. Yang benar, jilbab itu adalah pakaian yang dipakai Lanjutkan Membaca Klik Disini

S011. SHALAT SUNNAH YANG BOLEH DILAKUKAN BERJAMAAH & POSISI MAKMUM PEREMPUAN SENDIRIAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

A. Bagaimana hukumnya sholat qobliyah dan ba’diyah dikerjakan berjamaah?

B. Dan dimana posisinya seorang perempuan ketika sholat berjamaah berdua suami istri ?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh.. Lanjutkan Membaca Klik Disini

N007. THALAQ LEWAT TELEPON & THALAQ KARENA EMOSI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

A. Bagaimana hukumnya thalak melewati wa atau sms.

B. apakah termasuk thalak jika suami mengatakan kata2 cerai dalam keadaan emosi.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

A. Bila ada niat talak dari seorang suami yang mengirim SMS atau email tersebut maka jatuh talak, bila tidak ada niat talak tidak jatuh. Kalau melaui telepon sah, karena syarat talaq jatuh tak harus di depan istri, yang penting bisa didengar oleh diri sendiri.

– Asna alMathoolib III/277 :

فَصْلٌ كَتْبُ الطَّلَاقِ وَلَوْ صَرِيحًا كِنَايَةٌ وَلَوْ من الْأَخْرَسِ فَإِنْ نَوَى بِهِ الطَّلَاقَ وَقَعَ وَإِلَّا فَلَا

(PASAL) Menulis talak walau berupa kalimat talak yang SHORIH (jelas, seperti kata talak, cerai dan pisah) hukumnya menjadi KINAYAH berarti bila ada niat dari suami maka jatuh talak, bila tidak ada niat tidak jatuh.

– Asybah aw annadhooir I/489 :

و لو كتب : الطلاق فهو كناية فلو كتب كناية من كناياته فكما لو كتب الصريح فهذا كناية عن الكناية

– Roudhotut Tholibin :

فرع حرك لسانه بكلمة الطلاق ولم يرفع صوته قدرا يسمع نفسه قال المتولي حكى الزجاجي أن المزني نقل فيه قولين أحدهما تطلق لأنه أقوى من الكتب مع النية والثاني لا لأنه ليس بكلام ولهذا يشترط في قراءة الصلاة أن يسمع نفسه قلت الأظهر الثاني لأنه في حكم النية المجردة بخلاف الكتب فإن المعتمد في وقوع الطلاق به حصول الافهام ولم يحصل هنا والله أعلم( روضة الطالبين ج 7 ص 42)

Keterangan, dari kitab:

1. Fat-hul Mu’in (I’anatut Thalibin juz IV halaman 16, maktabah syamilah)

فَرْعٌ لَوْ كَتَبَ صَرِيْحَ طَلَاقٍ أَوْ كِنَايَتَهُ وَلَمْ يَنْوِ إِيْقَاعَ الطَّلَاقِ فَلَغْوٌ مَا لَمْ يَتَلَفَّظْ حَالَ الْكِتَابَةِ أَوْ بَعْدَهَا بِصَرِيْحَ مَا كَتَبَهُ نَعَمْ يُقْبَلُ قَوْلُهُ أَرَدْتُ قِرَاءَةَ الْمَكْتُوْبِ لَا الطَّلَاقَ

2.Hasyiyah Al-Jamal ‘Alaa Syarhil Manhaj juz 18 halaman 138-142, maktabah syamilah, 4/332-333, cet. Daar Ihya at Turats al ‘Arabi, Beirut:

( فَرْعٌ ) كَتَبَ أَنْتِ أَوْ زَوْجَتِيْ طَالِقٌ وَنَوَى الطَّلَاقَ طَلُقَتْ ، وَإِنْ لَمْ يَصِلْ كِتَابُهُ إلَيْهَا ؛ لِأَنَّ الْكِتَابَةَ طَرِيْقٌ فِيْ إِفْهَامِ الْمُرَادِ كَالْعِبَارَةِ وَقَدْ قُرِنَتْ بِالنِّيَّةِ ، فَإِنْ لَمْ يَنْوِ لَمْ تَطْلُقْ ؛ لِأَنَّ الْكِتَابَةَ تَحْتَمِلُ النَّسْخَ وَالْحِكَايَةَ وَتَجْرِبَةَ الْقَلَمِ وَالْمِدَادِ وَغَيْرِهَا

3. al-Muhadzdzab juz II halaman 83, maktabah syamilah:

فَصْلٌ إِذَا كَتَبَ طَلَاقَ امْرَأَتِهِ بِلَفْظٍ صَرِيْحٍ وَلَمْ يَنْوِ لَمْ يَقَعْ اَلطَّلَاقُ لِأَنَّ الْكِتَابَةَ تَحْتَمِلُ إِيْـقَاعَ الطَّلَاقِ وَتَحْتَمِلُ امْتِحَانَ الْخَطِّ فَلَمْ يَقَعْ اَلطَّلَاقُ بِمُجَرَّدِهَا وَإِنْ نَوَى بِهَا الطَّلَاقَ فَفِيْهِ قَوْلَانِ قَالَ فِي الْإِمْلَاءِ لَا يَقَعُ بِهِ الطَّلَاقُ لِأَنَّهُ فِعْلٌ مِمَّنْ يَقْدِرُ عَلَى الْقَوْلِ فَلَمْ يَقَعْ بِهِ الطَّلَاقُ كِالْإشَارَةِ وَقَالَ فِي الْأُمِّ هُوَ طَلَاقٌ وَهُوَ الصَّحِيْحُ لِأَنَّهَا حُرُوْفٌ يُفْهَمُ مِنْهَا الطَّلَاقُ فَجَازَ أَنْ يَقَعَ بِهَا الطَّلَاقُ كَالنُّطْقِ

B. Jika kata cerai diucapkan dalam keadaan emosi dgn ucapan (akuceraikan kau) apa talak sudah jatuh?

jawab; sudah jatuh

ref:

ﻭﺍﺗﻔﻘﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﻭﻗﻮﻉ ﻃﻼﻕ ﺍﻟﻐﻀﺒﺎﻥ ﻭﺇﻥ ﺍﺩﻋﻰ ﺯﻭﺍﻝﺷﻌﻮﺭﻩ ﺑﺎﻟﻐﻀﺐ ) ﻻ ( ﻃﻼﻕ ) ﻣﻜﺮﻩ ( ﺑﻐﻴﺮ ﺣﻖﻗﻮﻟﻪ ﻭﺍﺗﻔﻘﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﻭﻗﻮﻉ ﻃﻼﻕ ﺍﻟﻐﻀﺒﺎﻥ ( ﻓﻲ ﺗﺮﻏﻴﺐﺍﻟﻤﺸﺘﺎﻕﺳﺌﻞ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﺍﻟﺮﻣﻠﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﻠﻒ ﺑﺎﻟﻄﻼﻕ ﺣﺎﻝ ﺍﻟﻐﻀﺐﺍﻟﺸﺪﻳﺪ ﺍﻟﻤﺨﺮﺝ ﻋﻦ ﺍﻻﺷﻌﺎﺭ ﻫﻞ ﻳﻘﻊ ﺍﻟﻄﻼﻕ ﺃﻡ ﻻﻭﻫﻞ ﻳﻔﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺘﻌﻠﻴﻖ ﻭﺍﻟﺘﻨﺠﻴﺰ ﺃﻡ ﻻ ﻭﻫﻞ ﻳﺼﺪﻕﺍﻟﺤﺎﻟﻒ ﻓﻲ ﺩﻋﻮﺍﻩ ﺷﺪﺓ ﺍﻟﻐﻀﺐ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻹﺷﻌﺎﺭ ﻓﺄﺟﺎﺏﺑﺄﻧﻪ ﻻ ﺍﻋﺘﺒﺎﺭ ﺑﺎﻟﻐﻀﺐ ﻓﻴﻬﺎ ﻧﻌﻢ ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺯﺍﺋﻞ ﺍﻟﻌﻘﻞﻋﺬﺭ ﺍﻫـ ﺑﺤﺬﻑ ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻭﺇﻥ ﺍﺩﻋﻰ ﺯﻭﺍﻝ ﺷﻌﻮﺭﻩ ﺃﻱﺇﺩﺭﺍﻛﻪ ﻭﻗﻮﻟﻪ ﺑﺎﻟﻐﻀﺐ ﺃﻱ ﺑﺴﺒﺐ ﺍﻟﻐﻀﺐ ﻭﻫﻮ ﻣﺘﻌﻠﻖﺑﺰﻭﺍﻝ( ﻗﻮﻟﻪ ﻻ ﻃﻼﻕ ﻣﻜﺮﻩ ( ﻣﻌﻄﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﻃﻼﻕ ﻣﺨﺘﺎﺭﺑﺎﻋﺘﺒﺎﺭ ﺍﻟﺸﺮﺡ ﺃﻣﺎ ﺑﺎﻋﺘﺒﺎﺭ ﺍﻟﻤﺘﻦ ﻓﻤﻜﺮﻩ ﻣﻌﻄﻮﻑ ﻋﻠﻰﻣﻜﻠﻒ ﺃﻱ ﻻ ﻳﻘﻊ ﻃﻼﻕ ﻣﻜﺮﻩ ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪﺕ ﺷﺮﻭﻃﻪﺍﻵﺗﻴﺔ ﺧﻼﻓﺎ ﻟﻺﻣﺎﻡ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﺫﻟﻚﻟﺨﺒﺮ ﺭﻓﻊ ﻋﻦ ﺃﻣﺘﻲ ﺍﻟﺨﻄﺄ ﻭﺍﻟﻨﺴﻴﺎﻥ ﻭﻣﺎ ﺍﺳﺘﻜﺮﻫﻮﺍﻋﻠﻴﻪ ﻭﺧﺒﺮ ﻻ ﻃﻼﻕ ﻓﻲ ﺇﻏﻼﻕ ﺑﻜﺴﺮ ﺍﻟﻬﻤﺰﺓ ﺃﻱ ﺇﻛﺮﺍﻩ

Wallahu a’lamu bisshowab..

T005. NIFAS WANITA OPERASI CAESAR

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Ini ada sesorang melahirkan di operasi. yang kellas kan tidak ada darah yang keluar dari farji’nya. Apakah harus mengerjakan sholat?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Darah yang keluar dari farji wanita yang habis melahirkan dengan jalan operasi caesar tetap dinamakan darah nifas :

الشافعية قالوا : يشترط في تحقق أنه دم نفاس أن يخرج الدم بعد فراغ الرحم من الولد بأن يخرج كله فلو خرج بعض الولد أو أكثره لا يكون دم نفاس ومعنى كونه عقب الولادة أن لا يفصل بينه وبينها خمسة عشر يوما فأكثر وإلا كان دم حيض أما الدم الذي يصاحب الولد وينزل قبل الطلق فليس هو دم نفاس بل هو دم حيض إن كانت حائضا لأن الحامل قد تحيض عندهم كما تقدم وإن لم تكن حائضا فهو دم فاسد

islamport.com/w/fqh/Web/2793/111.htm
Kalau keluar darah dari farjinya maka darah yang keluar dari farji sehabis operasi caesar tsb dinamakan nifas, jika keluar bukan lewat farji maka itu bukan nifas :

الموسوعة الفقهية :

18 – لما كان النفاس هو الدم الخارج من الفرج عقب الولادة ، فقد نص الحنفية على أنه إذا ولدت من سرتها- مثلا- وسال منها دم لا تكون نفساء ، بل هي صاحبة جرح ما لم يسل من فرجها ، لكن يتعلق بالولد سائر أحكام الولادة .

Jawaban ini dinukil dari hasil keputusan bahtsul masai’il LBM Sumenep Madura :

Status Nifas Wanita yang Melahirkan Sesar

Pertanyaan :

1. Bagaimana hukumnya persalinan dengan cara operasi bedah sesar ?

2. Apakah diwajibkan bagi wanita tersebut untuk melakukan mandi wiladah setelah melakukan operasi ?

3. Bagaimana status nifas wanita tersebut ?

Jawaban :

Jawaban dari tiga pertanyaan di atas adalah sebagai berikut :

Pertama, Operasi sesar adalah operasi yang bertujuan untuk mengeluarkan janin dari perut ibunya, baik itu dilakukan setelah janin tersebut sempurna penciptaannya atau sebelumnya.

Terdapat dua kondisi diperbolehkannya melakukan operasi sesar :

1. Dhorurot, yaitu keadaan dikhawatirkannya keselamatan ibu, janinnya atau keselamatan keduanya, seperti pada kondisi kehamilan diluar rahim, kematian ibu yang sedang mengandung dan tergoncangnya rahim. Dalam kondisi seperti ini operasi cesar boleh dilakukan, bahkan wajib jika memang itumerupakan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan bayi atau wanita yang mengandungnya.

2. Hajat, yaitu keadaan dimana dokter merasa perlu untuk melakukan operasi yang disebabkan sulitnya melahirkan secara normal, dan akan menimbulkan bahaya yang menghawatirkan akan menyebabkan kematian bayi atau ibunya, seperti operasi yang dilakukan karena sempitnya rahim atau rahim sang ibu lemah.

Pada keadaan seperti ini para dokter lah yang memutuskan apakah melakukan operasi atau tidak, bukan atas permintaan wanita yang akan melahirkan atau suaminya yang menginginkan terhindar dari kesakitan saat melahirkan. Dokter yang memutuskan untuk melakukan operasi dengan mempertimbangkan kondisi wanita tersebut, apakah mampu untuk melahirkan secara normal atau tidak, selain itu dipertimbangkan juga tentang efek yang akan ditimbulkan, jika memang bahaya yang akan ditimbulkan diluar kemampuan wanita tersebut atau akan membahayakan keselamatan janin maka diperbolehkan untuk melakukan operasi jika memang tak ada cara lain yang bisa dilakukan.

Kedua, Para Fuqoha’ dalam hal ini berbeda pendapat. Sebagian menggolongkan persalinan dengan jalan operasi sebagai wiladah, dengan demikian tetap wajib mandi wiladah. Sedangkan sebagian lagi yang lain, menganggapnya bukan wiladah, maka mandi wiladah tidak lagi menjadi sebuah kewajiban.

Ketiga, Darah yang keluar setelah melakukan kelahiran bayi dengan jalan operasi tersebut tidak termasuk darah nifas dan bukan pula darah haidl, maka tidak ada konsekuensi hukum apapun kecuali ia adalah sesuatu yang najis.

Ibarot :

– Ahkamul Jirohah Ath Thibbiyyah Wal Atsar Al Mutarottibah Alaiha, Hal. 154-158 :

المبحث الثالث في جراحة الولادة

وهي الجراحة التي يقصد منها إخراج الجنين من بطن أمه، سواء كان ذلك بعد اكتمال خلقه، أو قبله، ولا تخلو الحاجة الداعية إلى فعلها من حالتين

الحالة الأولى

أن تكون ضرورية، وهي الحالة التي يخشى فيها على حياة الأم، أو جنينها، أو هما معًا، ومن أمثلتها ما يلي:

(1) جراحة الحمل المنتبذ.

(2) جراحة استخراج الجنين الحي بعد وفاة أمه.

(3) الجراحة القيصرية في حال التمزق الرحمي

فهذه الحالات تعتبر فيها جراحة الولادة ضرورية، لأن المقصود منها إنقاذ حياة الأم، أو الجنين، أو هما معاً

ففي المثال الأول: يتكون الجنين خارج الرحم في قناة المبيض، ويسمى بالحمل المهاجر، أو القنوي، وهذا الموضع الذي تكون فيه الجنين يستحيل بقاؤه فيه حيًا، وغالبًا ما ينفجر في القناة التي بداخلها، وحينئذ تصبح حياة الأم مهددة بالخطر، فيرى الأطباء ضرورة إجراء الجراحة، واستخراجه قبل انفجاره، وذلك كله إنقاذًا لحياة الأم

وفي المثال الثاني: تموت الأم بعد اكتمال خلق الجنين، وحياته، فيضطر الأطباء إلى شق بطنها لاستخراج ذلك الجنين قبل موته.

وهذه الصورة ليست بحديثة بل هي صورة كانت موجودة من القدم وهي محل خلاف بين أهل العلم -رحمهم الله- سيأتي بيانه إن شاء الله تعالى في مباحث العمل الجراحي، وأنه لا حرج في فعل هذا النوع من الجراحة إنقاذًا لحياة الجنين

وفي المثال الثالث: يتعرض الرحم إلى التمزق الذي يهدد حياة الأم، وجنينها وذلك بعد اكتمال خلقه، فيضطر الأطباء إلى إجراء الجراحة واستخراج الجنين. حتى لا تتعرض الأم وجنينها للهلاك

فهذه ثلاث صور من صور جراحة الولادة الضرورية، الأولى قصد منها إنقاذ حياة الأم، والثانية قصد منها إنقاذ حياة الأثنين، والثالثة قصد منها إنقاذ حياتهما معًا

وهذا النوع من الجراحة يعتبر مشروعًا وجائزًا، نظرًا لما يشتمل عليه من إنقاذ النفس المحرمة الذي هو من أجلِّ ما يتقرب به إلى الله عز وجل، وهو داخل في عموم قوله سبحانه: {وَمَن أحْيَاهَا فَكَأنَّمَا أحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا} (1)، ولأنه كما جاز استئصال الداء الموجب للهلاك من جسم المريض كذلك يجوز استخراج الجنين إذا كان بقاؤه موجبًا لهلاك أمه، بجامع دفع الضرر في كل.

وكذلك شق بطن المرأة الحامل الميتة من أجل إنقاذ جنينها الحي، فكما يجوز شق البطن للعلاج والتداوي، كذلك يجوز شقها لإنقاذ النفس المحرمة، ولأن بقاءها في البطن بدون ذلك يعتبر ضررًا محضًا، فتشرع إزالته بالجراحة اللازمة للقاعدة الشرعية التي تقول: الضرر يزال

قال الإمام ابن حزم -رحمه الله-: “ولو ماتت امرأة حامل، والولد حي يتحرك قد تجاوز ستة أشهر فإنه يشق عن بطنها طولاً، ويخرج الولد، لقوله تعالى: {وَمَنْ أحْيَاهَا فَكَأنمَا أحْيَا الناسَ جَمِيعًا} ومن تركه عمدًا حتى يموت فهو قاتل نفس” (3) اهـ.

فاعتبر -رحمه الله- فعل هذا النوع من الجراحة فرضًا لازمًا على الطبيب إذا امتنع من فعله عمدًا كان قاتلاً، لامتناعه من فعل السبب الموجب للنجاة مع قدرته على فعله

ولا يشكل على القول بجواز الجراحة في الصورة الأولى ما تتضمنه من إتلاف الجنين وتعريضه للهلاك، وذلك لأن حياة الأم مهددة ببقائه، وبقاؤه في الغالب غير منته بسلامته وخروجه حيًا، ومن ثم كانت حياة الجنين موهومة، وحياة الأم متيقنة فلا يجوز تعريض الحياة المتيقنة للهلاك طلبًا لحياة موهومة، وجاز استخراج الجنين بالجراحة على هذا الوجه ارتكابًا لأخف الضررين للقاعدة الشرعية التي تقول: إذا تعارض مفسدتان روعي أعظمهما ضرراً بارتكاب أخفهما

فالضرر المترتب على بقاء الجنين في هذه الصورة يعرض الأم والجنين للهلاك، بخلاف الضرر المترتب على استخراجه فإنه مختص بالجنين فهو أخفهما.

وينبغي على الأطباء أن يتقوا الله عز وجل، وأن يبذلوا كل ما في وسعهم لعلاج هذه الحالات بالوسائل التي تنتهي بسلامة الأم وجنينها، وألا يقدموا على فعل هذا النوع من الجراحة إلا إذا تعذرت تلك الوسائل، وتحققوا من أن بقاء الجنين مفض إلى هلاكه وأمه، أو غلب على ظنهم ذلك … والله تعالى أعلم

الحالة الثانية

أن تكون حاجية: وهي الحالة التي يحتاجها الأطباء فيها إلى فعل الجراحة بسبب تعذر الولادة الطبيعية، وترتب الأضرار عليها إلى درجة لا تصل إلى مرتبة الخوف على الجنين أو أمه من الهلاك.

ومن أشهر أمثلتها: الجراحة القيصرية التي يلجأ إليها الأطباء عند خوفهم من حصول الضرر على الأم أو الجنين أو هما معًا، إذا خرج المولود بالطريقة المعتادة, وذلك بسبب وجود العوائق الموجبة لتلك الأضرار، ومن أمثلتها: ضيق عظام الحوض، أو تشوهها أو إصابتها ببعض الآفات المفصلية، بحيث يتعذر تمدد مفاصل الحوض.

أو يكون جدار الرحم ضعيفًا، ونحو ذلك من الأمور الموجبة للعدول عن الولادة الطبيعية دفعًا للضرر المترتب عليها

والحكم بالحاجة في هذا النوع من الجراحة راجع إلى تقدير الأطباء، فهم الذين يحكمون بوجودها، ولا يعد طلب المرأة أو زوجها مبررًا لفعل هذا النوع من الجراحة طلبًا للتخلص من آلام الولادة الطبيعية، بل ينبغي للطبيب أن يتقيد بشرط وجود الحاجة، وأن ينظر في حال المرأة وقدرتها على تحمل مشقة الولادة الطبيعية وكذلك ينظر في الآثار المترتبة على ذلك، فإن اشتملت على أضرار زائدة عن القدر المعتاد في النساء ووصلت إلى مقام يوجب الحوج والمشقة على المرأة، أو غلب على ظنه أنها تتسبب في حصول ضرر للجنين، فإنه حينئذ يجوز له العدول إلى الجراحة وفعلها، بشرط ألا يوجد بديل يمكن بواسطته دفع تلك الأضرار وإزالتها … والله تعالى أعلم

– Qutul Habib Al Ghorib, Hal. 25 :

ويجب الغسل على من ولدت من غير الطريق المعتاد، لثبوت أمية الولدمنه

– Hasyiyah Al Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz. 1 Hal. 90 :

قوله ونحو ولادة ) ظاهره ولو من غير محلها المعتاد لانه أطلق فيه، وفصل فيما بعده ع ن، وقيد إبن قاسم بكون الفرج منسدا

– Hasyiyah Bujairomi Alal Khotib, Juz 1 Hal. 205 :

قال الشوبري فيما كتبه على المنهاج ولو ولدت من غير طريقه المعتاد فالذي يظهر وجوب الغسل أخذا مما قالوه من ثبوت أمية الولدبه ومما بحثه م ر فيما لوقال إن ولدت فأنت طالق فألقته من غير طريقه المعتاد حيث لم يقع، فليحرر، وقد يتجه عدم وجوب الغسل، لأن علته خروج المني، ولاعبرة بخروجه من غير طريقه المعتاد مع إنفتاح الأصلي. وقد يفرق بينه وبين ما مر. إنتهى ما قاله ق ل ( ألشهاب أحمد ألقليوبي )، أ ج ( عطية الأجهوري ) . وقوله وقد يفرق بينه أي بين عدم وجوب الغسل وبين ثبوت أمية الولد ووقوع الطلاق. وصورة الفرق أن أمية الولد منوطة بالولادة وقدحصلت، ولو من غير طريقها المعتاد. ووجوب الغسل بخروج المني من طريقه ولم يوجد. قلت؛ وقد يرد الفرق، ويقال بوجوب الغسل بأنه إنما وجب هنا للولادة لا لخروج المني، بقيده الذي ذكره ، فالولادة غير خروج المني، والغسل يجب بكل منهما. فإذا كان الخارج منيا تقيد بمحله كما ذكر، والولادة لا تتقيد, إذ المقصود خروج الولد من أي محل ، فليتأمل، ذكر ذلك م د ( محمد المدابغي ). وعبارة الاطفيحي : وينبغي أن يأتي فيه ما تقدم من التفصيل في إنسداد الفرج بين الأصلي و العارض، فإن كان الإنسداد أصليا: قيل لها ولادة وكانت مو جبة للغسل ، و إلا فلا، لأن خروج الولد من جنبها مثلا مع إنفتاح فرجها لا يسمى ولادة

– Hasyiyah Al Baijuri Ala Syarhi Ibnul Qosim, Juz 1 Hal. 74 :

ولو ولدت من غير الطريق المعتاد فالذي يظهر وجوب الغسل أخذا مما بحثه الرملي فيما لو قال؛ إن ولدت فأنت طالق، فولدت من غير طريقه المعتاد، وقال بعضهم : قد يتجه عدم الوجوب، لأن علته أن الولد مني منعقد، ولاعبرة بخروجه من غير طريقه المعتاد مع إنفتاح الاصلي، ورد، بأن الولادة نفسها صارت موجبة للغسل، فهي غير خروج المني

– Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz 14 Hal. 16 :

الولادة بجرح في البطن

لما كان النفاس هو الدم الخارج من الفرج عقب الولادة، فقد نص الحنفية على أنه إذا ولدت من سرتها – مثلا – وسال منها دم لا تكون نفساء، بل هي صاحبة جرح ما لم يسل من فرجها، لكن يتعلق بالولد سائر أحكام الولادة

– Al Fiqhu Alal Madzahib Al Arba’ah, Juz 1 Hal. 121 :

ولو شق بطن المرأة ، ولو خرج منها الولد، فإنها لاتكون نفساء

Wallahu a’lamu bisshowab..