Semua tulisan dari Musthofa AB

Alumni BATA-BATA Thn : 1995 - 2004

S038. SHALAT BAGI ORANG YANG BINGUNG MENENTUKAN ARAH KIBLAT

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Saya mau nanya Ustadz..

Bagaimana cara salat diatas kapal laut/perahu baik shalat sunnah ataupun wajib, sementara situasinya mendung dan kabut tebal sehingga arahnya kiblat tidak jelas?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Caranya shalat bagi orang yang berada diatas kapal laut/ perahu baik shalat sunnah atau pun shalat wajib maka ditafshil sebagaimana berikut :

a- Diantara syarat sahnya shalat adalah menghadap kiblat, namun jika seseorang kebingungan tentang arah kiblat, sedangkan ia sudah berusaha dengan sekuat tenanga untuk menemukan arah kiblat sementara tetap tidak menemukan titik temu arah kiblat yang sebenarnya dikarenakan kabut ataupun hujan yang luar biasa maka ia dapat melaksanakan shalat menurut kemampuan dan keyakinannya, karena syarat menjadi gugur disebabkan tidak mampu untuk menemukannya. Dalam hal ini berdasarkan pada firman Allah swt,

ولله المشرق والمغرب فأينما تولوا فثم وجه الله… الاية. الى ان قال… فقد نزلت هذه الاية فيمن كان في سفر وأضاع القبلة فلم يعرف جهتها،فإنه يجتهد ويتحرى ثم يصلي فإلى اي جهة صلى تصح صلاته،ولاتجب عليه إعادة الصلاة فيما اذا تبين له بعد الانتهاء خطاء توجهه.
فالاية اذا ليست عامة وانما هي خاصة فيمن جهل القبلة فلم يعرف جهتها.

مأخوذ : التبيان في علوم القرأن للشيخ علي الصابوني. ص ١٩-٢٠

“ayat ini turun bagi orang yang bingung akan arah qiblat, maka dia boleh menghadap kearah manapun yang diyakini qiblat. Dan ketika sudah selesai shalat, dia tidak usah mengulangi shalatnya seandainya keliru arah qiblat.

Juga dalam ayat lain Allah swt, berfirman :

لايكلف الله نفسا إلا وسعها لها ماكسبت وعليها مااكتسبت ربنا لاتأخذنا إن نسينا أو أخطعنا ربنا ولاتحمل علينا إصرا كما حملته على الذين من قبلنا ربنا ولاتحملنا مالاطاقة لنابه به واغفر لنا وارحمناأنت مولانا فانصرنا على القوم الكافرين.{ البقرة:٢٨٦}.

Senada dengan ayat diatas Rasulullah swt, bersabda:

وإذا امرتكم بأمر فأتوا منه مااستطعتم رواه البخار ومسلم

“Dan manakala aku memerintahkan kepadamu sekalian maka lakukanlah semampu kalian. {HR.Bukhari, No:7288 dan Muslim, No: 1327}.

أماالتفصيل عن الصلاة النافلة او الفريضة في السفينة كما يأتي في مغنى المحتاج.

Sedang rincian shalat sunnah dan wajib diperahu sebabagaimana dijelaskan dalam kitab.

مغنى المحتاج
الصلاة
إتفق الفقها على جواز الصلاة في السفينة، من حيث الجملة ، بشرط ان يكون المصلى مستقبل القبلة عند افتتاح الصلاة ، وأن يدور إلى جهة القبلة إن دارت السفينة لغيرها إن أمكنه ذلك، لوجوب الإستقبال. ولافرق ذلك بين الفريضة اوالنافلة لتيسره استقباله.
وخالف الحنابلة في النافلة، وقصروا وجوب الدواران إلى القبلة على الفريضة فقط، ولايلزمه أن يدور في النفل للحرج والمشقة، وأجتزوا ذلك للفلاخ: ألا يدوى في الفرض ايضا لحاجته لتيسير السفينة
(١) وللتفصيل انظر مُصْطَلَحَ (قبلة).

“Ulama fiqhih sepakat atas diperbolehksnnya salat diperahu sekiranya berkumpulnya syarat: Yaitu musholli hendaknya menghadap kiblat ketika membuka salat. Dan musholli hendaknya berputar kekiblat manakala petahunya berputar kearah lainya kiblat, ketika hal itu bisa, karena wajibnya menghadap kiblat. Dan tiada perbedaan antara salat wajib dan shalat sunnah dalam soal tersebut, karena mudahnya menghadapnya.

Madzhab Hanabilah berbeda pendapat, menurut mereka ia harus meringkas dan wajib memutarkan-Nya kearah kiblat untuk salat fardlu saja. Dan mereka (Hanaabilah) berpendapat tidak wajib berbutar didakam shalat sunnah karena haraj dan musyakkat. Dan mereka memperbolehkan hal tersebut bagi orang nelayan.

Dan tafshil lihat “Mustholah” (Qiblah,).
Selanjutnya dijelaskan dalam kitab Al-Um.

Selanjutnya dijekaskan Di dalam kitab Al Umm: Dan tidak diperkenankan bagi orang yang naik perahu, rakit atau sesuatu yang ia kendarai dilaut untuk shalat sunat sesuai arah perahunya tapi dia menghadaplah kiblat meskipun ia tenggelam maka bergantunglah pada kayu, shalatlah dengan menghadap arah kiblat dengan menggunakan isyarat kemudian baginya wajib mengulangi setiap shalat wajib yang ia kerjakan dalam kondisi tersebut bila ia mengerjakan shalatnya dengan tidak menghadap kiblat dan tidak perlu baginya mengulangi shalat wajibnya dalam kondisi tersebut bila ia kerjakan dalam posisi ia menghadap kiblat.

Inti yang pokok adalah wajib berputar menghadap qiblat kembali jika perahunya menghadap ke arah selain kiblat sebab diterpa angin, dan meneruskan sholat.

Referensi :
1. Al Majmu’ ala Syarh al Muhaddzab 3/233

اما الراكب في سفينة فيلزمه الاستقبال واتمام الاركان سواء كانت واقفة أو سائرة لانه لا مشقة فيه وهذا متفق عليه هذا في حق ركابها الاجانب اما ملاحها الذى يسبرها فقال صاحب الحاوى وابو المكارم يجوز له ترك القبلة في نوافله في حال تسييره

2. Al Umm 1/98

ﻭﻟﻴﺲ ﻟﺮﺍﻛﺐ ﺍﻟﺴﻔﻴﻨﺔ ﻭﻟﺎ ﺍﻟﺮﻣﺚ ﻭﻟﺎ ﺷﻲﺀ ﻣﻤﺎ ﻳﺮﻛﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﺤﺮ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻰ ﻧﺎﻓﻠﺔ ﺣﻴﺚ ﺗﻮﺟﻬﺖ ﺑﻪ ﺍﻟﺴﻔﻴﻨﺔ ﻭﻟﻜﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﻳﻨﺤﺮﻑ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ﻭﺇﻥ ﻏﺮﻕ ﻓﺘﻌﻠﻖ ﺑﻌﻮﺩ ﺻﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﺟﻬﺘﻪ ﻳﻮﻣﺊ ﺇﻳﻤﺎﺀ ﺛﻢ ﺃﻋﺎﺩ ﻛﻞ ﻣﻜﺘﻮﺑﺔ ﺻﻠﺎﻫﺎ ﺑﺘﻠﻚ ﺍﻟﺤﺎﻝ ﺇﺫﺍ ﺻﻠﺎﻫﺎ ﺇﻟﻰ ﻏﻴﺮ ﻗﺒﻠﺔ ﻭﻟﻢ ﻳﻌﺪ ﻣﺎ ﺻﻠﻰ ﺇﻟﻰ ﻗﺒﻠﻪ ﺑﺘﻠﻚ ﺍﻟﺤﺎﻝ

3. Al Majmu’ ala Syarh al Muhaddzab 3/240-241

وتصح الفريضة في السفينة الواقفة والجارية والزورق المشدود بطرف الساحل بلا خلاف إذا استقبل القبلة وأتم الاركان
فرع : قال اصحابنا إذا صلي الفريضة في السفينة لم يجز له ترك القيام مع القدرة كما لو كان في البر وبه قال مالك واحمد وقال أبو حنيفة يجوز إذا كانت سائرة قال اصحابنا فان كان له عذر من دوران الرأس ونحوه جازت الفريضة قاعدا لانه عاجز فان هبت الريح وحولت السفينة فتحول وجهه عن القبلة وجب رده إلى القبلة ويبى علي صلاته بخلاف ما لو كان في البر وحول انسان وجهه عن القبلة قهرا فانه تبطل صلاته كما سبق بيانه قريبا قال القاضي حسين والفرق أن هذا في البر نادر وفى البحر غالب وربما تحولت في ساعة واحدة مرارا
فرع : قال أصحابنا ولو حضرت الصلاة المكتوبة وهم سائرون وخاف لو نزل ليصليها علي الارض الي القبلة انقطاعا عن رفقته أو خاف علي نفسه أو ماله لم يجز ترك الصلاة وإخراجها عن وقتها بل يصليها على الدابة لحرمة الوقت وتجب الاعادة لانه عذر نادر

والله أعلم بالصواب

M036. BOLEHKAH TIDAK MEMBAYAR HUTANG KARENA MERASA TERTIPU

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Diskripsi :
Ceritanya seperti ini awalnya saya biasa membeli atau ngolak (Bhs Madura) bensin dengan harga 300 ribu, setelah keduakalinya penjual menjual bensinnya dengan harga 500 ribu, padahal jumlah harga dan jumlah bensin tersebut masih seperti biasa yakni tidak ada perubahan, dan saat itu saya hanya bayar 300 dengan harga yang biasa, dan saya katakan sisanya hutang.

Pertanyaannya, bagaimana kalau saya tidak bayar uang yang 200 berhubung saya merasa telah tertipu?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Apabila dalam transaksi kedua saudara sudah setuju dengan harga Rp.500.000 maka yang Rp. 200.000 wajib dibayar.
Pada dasarnya keabsahan transaksi jual beli bergantung diawal akad karena sah dan tidaknya tergantung pada akad (لأن البيع عن تراض) karena sahnya transaksi jual beli adalah saling rela (ridha). dengan demikian maka ia wajib membayar sisa dari pembayaran tersebut.

Apa termasuk penipuan? Tidak termasuk pada penipuan karena ia telah menerimanya dengan ijab dan qobul.
Sebagaimana ibarah berikut beserta batasan-batasan yang masuk pada kategori penipuan :

Keabsahan jual beli berdasarkan pada kerelaan, sementaraan rela atau ridha adanya dihati maka harus ada ucapan yang menunjukan pada kerelaan tersebut sebagaimana ibarah berikut ;

مرقاة صعود التصديق في شرح سلم التوفيق ص ٥٣
وإنما شرطت لأن البيع منوط بالرضا لقوله صلى الله عليه وسلم” إنما البيع عن تراض رواه ابن حبان والرضا خفي فاعتبر مايدل عليه من اللفظ.

“Sighat tersebut disyaratkan karena jual beli itu bergantung pada kerelaan kedua belah pihak. Hal ini berpijak pada hadits Nabi saw. ” jual beli itu bisa sah kalau ada kerelaan diantara kedua pihak”. (HR. Ibnu hebban).
Sementara kerelaan adalah perbuatan hati yang tidak tampak. Oleh karenanya dibutuhkan ungkapan (sighat) yang menunjukkan pada kerelaan tersebut.

Sedang batasan penipuan dalam transaksi yang diharamkan ialah pemilik barang, baik penjual pembeli atau lainnya mengetahui beberapa hal dalam barang yang jika orang hendak mengambilnya mengetahuinya niscaya tidak jadi mengambilnya dengan ditukar barang-Nya.

إسعاد الرفيق الجزء الأول ص ١٣٧.
ويجب على أجنبي علم أن السلعة عيبا أن يخبر به مريدا أخذها وان لم يسأله عته كما يجب عليه إذا رأي إنسانا يخطب أمرأة ويعلم بها اوبه عيبا أو رأى انسانا يريد ان يخالط آخر لمعاملة او صدقة او قراءة نحو علم وعلم أن بأحدهما عيبا أن يخبر به وإن لم يستشر كل ذلك أدآء للنصيحة المأكد وجوبها لخاصة المسلمين وعامتهم هذا حاصل جواب سأل ذكره في الزواجر والفتاوى إتفق الشافعية أنه متى جهل وزن الظرف وبيع مظروفه كل رطل من الجملة بكذا فالبيع باطل للغرر وكذا لو جهل وزن المطروف وحده او لم تكن للظرف قيمة لاشتراط العقد على بذل مال في مقابلة ماليس بمال فمن فعل ذلك فقد خان الله ورسوله وخالف قوله ” ياأيها الذين آمنوا لاتأكلو اموالكم، الأية. إلاّ إن صدرت عن تراض والتراضي لايحصل إلا إذا لم يكن هناك غش وتدليسٌ وإلا فذلك شديد التحريم موجب للمقت من الله ورسوله.

“Wajib bagi orang lain (selain penjual dan pembeli) yang mengetahui bahwa sesuatu dalam barang terdapat cacat untuk memberitahukannya pada orang yang ingin membelinya meskipun ia tidak bertanya, sebagaimana ia wajib memberitahu seseorang yang ingin meminang seseorang wanita dan ia mengetahui bahwa dalam diri orang itu atau wanita itu terdapat cacat, atau melihat ada seseorang yang ingin berinteraksi dengan orang lain dalam rangka hubungan bisnis, bersahabat, atau mengaji sebuah ilmu dan mengetahui bahwa dalam diri salah satunya terdapat cacat untuk memberitahukannya meskipun ia tidak dimintai pendapat. Semua itu dalam rangka menunaikan nasehat yang wajib disampikan pada kaum muslimin baik kalangan khusus atau yang awam”.

Ulama Syafi’iyah sepakat bahwa jika timbangannya dan wadah tersebut dijual beserta isinya, setiap satu kati (ukuran arab) ialah sekian. Demikian juga jika timbangan wadahnya saja yang tidak diketahui atau wadahnya tidak mempunyai harga sama sekali.

Karena ada pensyaratan akad untuk menyerahkan sebuah harta dengan sesuatu yang bukan harta. Barang siapa yang melakukan itu maka sungguh ia telah berkhianat kepada Allah (swt) dan UtusanNya dan menyalahi firman Allah swt : “Wahai orang-orang yang beriman jangan kalian makan harta-harta kalian……. (sampai akhir ayat)”. kecuali muncul dari dari saling rela (عن تراض). Dan saling rela tidak akan berhasil jika disana tidak ada penipuan dan memperdaya. Jika ada maka itu hukumnya haram dan menyebabkan Allah dan Rasul-Nya murka.

والله تعالى أعلم بالصواب

HADITS KE 90 : ANJURAN ISTIBRO’ SETELAH KENCING

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATA CARA BUANG HAJAT

HADITS KE 90 :

وَعَنْ عِيسَى بْنِ يَزْدَادَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلْيَنْثُرْ ذَكَرَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ) رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَه بِسَنَدٍ ضَعِيف

Dari Isa Ibnu Yazdad dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah saw bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu telah selesai buang air kecil maka hendaknya ia mengurut kemaluannya tiga kali.” Riwayat Ibnu Majah dengan sanad yang lemah.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) adalah seorang murabbi agung. Baginda membimbing kita menuju segala sesuatu yang mengandung kebahagiaan serta kebaikan dalam urusan agama

dan kehidupan dunia kita. Oleh kerana bersuci merupakan salah satu syarat bagi sahnya sebagian besar ibadah, maka Nabi (s.a.w) memandang perlu untuk memberikan penjelasan mengenai tata caranya. Untuk itu, baginda memerintahkan orang yang membuang hajat kecil supaya melakukan istibra’ dari

air kencing yang masih tersisa pada batang zakarnya dengan cara mengurutnya sebanyak tiga kali. Hal ini sebagai langkah berhati-hati dan bertujuan menyempurnakan kesucian diri dari najis, supaya pakaiannya tidak terkena air kencing yang masih tersisa, sebab ha itu dapat menyebabkan kesuciannya batal dan shalatnya pun batal.

FIQH HADITS :

Wajib mengeluarkan semua air kencing dari dzakar sesudah kencing dengan cara mengurut atau menggerak-gerikannya. Inilah yang disebut istibra’.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 89 : POSISI KAKI KETIKA BUANG HAJAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATA CARA BUANG HAJAT

HADITS KE 89 :

وَعَنْ سُرَاقَةَ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: ( عَلَّمْنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي اَلْخَلَاءِ: ” أَنَّ نَقْعُدَ عَلَى اَلْيُسْرَى وَنَنْصِبَ اَلْيُمْنَى” ) رَوَاهُ اَلْبَيْهَقِيُّ بِسَنَدٍ ضَعِيف

Suraqah Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengajari kami tentang cara buang air besar yaitu agar kami duduk di atas kaki kiri dan merentangkan kaki kanan. Diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang lemah.

MAKNA HADITS :

Akhlak yang diajarkan oleh syari’at Islam di dalamnya pasti mengandung berbagai rahasia dan hikmah. Oleh kerana bertumpu pada telapak kaki kiri dapat memudahkan keluarnya najis, maka syari’at memerintahkan supaya bertopang kepada kaki kiri ketika seseorang sedang membuang hajat.

FIQH HADITS :

1. Ketika membuang hajat disyariatkan supaya mengangkat kaki sebelah kanan supaya penggunaan kaki yang sebelah kanan dapat dikurangi lantaran
kemuliaannya.

2. Bertopang pada kaki kiri untuk memudahkan najis keluar dengan mudah, sebab perut berada di sebelah kiri dan pundi kencing yang merupakan tempat memproses air kencing pun terletak agak ke sebelah kiri.

Sebagai contoh saya sertakan Video :

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 88 : SIKSA KUBUR BAGI ORANG YANG MEREMEHKAN BERSUCI SETELAH BUANG AIR KECIL

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATA CARA BUANG HAJAT

HADITS KE 88 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اِسْتَنْزِهُوا مِنْ اَلْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ اَلْقَبْرِ مِنْهُ ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيّ

وَلِلْحَاكِمِ: ( أَكْثَرُ عَذَابِ اَلْقَبْرِ مِنْ اَلْبَوْلِ ) وَهُوَ صَحِيحُ اَلْإِسْنَاد

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sucikanlah dirimu dari air kencing karena kebanyakan siksa kubur itu berasal darinya. Riwayat Daruquthni.

Menurut riwayat Hakim: “Kebanyakan siksa kubur itu disebabkan (tidak membasuh) air kencing.” Hadits ini sanadnya shahih.

MAKNA HADITS :

Siksa kubur adalah benar dan ia termasuk perkara yang wajib kita beriman dengannya secara ghaib. Tidak membersihkan diri setelah membuang air kecil mengakibatkan tubuh dan pakaian tercemar oleh najis yang menyebabkan amal ibadah batal. Oleh sebab itu, kebiasaan kencing tanpa membasuh sesudahnya termasuk
salah satu dosa besar. Kebanyakan siksa kubur disebabkan oleh amal buruk ini kerana seseorang sering kali memandangnya sebelah mata. Nabi (s.a.w) adalah orang yang amat penyayang dan belas kasihan kepada kita sebagai umatnya. Baginda seanntiasa menasehati kita dan mengingatkan akibat yang meremehkan hal itu.

FIQH HADITS :

1. Siksa kubur benar adanya dan kebanyakan siksa kubur disebabkan oleh kebiasaan tidak mau membersihkan diri sesudah membuang air kecil.

2. Siksaan akan disegerakan di dalam kubur (alam barzakh) bagi orang yang tidak membersihkan dirinya sesudah membuang air kecil.

3. Air kencing itu najis.

4. Wajib menghilangkan najis.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

N026. HUKUM MENOLAK BEHUBUNGAN INTIM KARENA SUAMI TERJANGKIT HIV AIDS

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bolehkah seorang istri menolak ajakan suaminya untuk melakukan hubungan suami istri sedangkan si suami telah di vonis dgn penyakit HIV AIDS?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Bila betul-betul sudah terjangkit penyakit tersebut maka tidak mengapa menolak berhubungan seksual, bahkan boleh meminta cerai / fasakh.

Referensi :

1. يسئلونك في الدين والحياة ٢/١٨٢.
ذكر الفقهاء طائفة من الأمراض والعيوب التي تبيح التلخيص من عقد الزواج……وللحاكم من جهة السياسة الشرعية أن يفرق بين الزوجين متى ثبت أن أحدهما مصاب بمرض من هذه الأمراض التي تنفر وتعدى أو تمنع من المعاشرة أو يتعدى ضررها على النسل أو الذرية.

Menurut ulama fiqih tentang bolehnya memfasakh apabila seseorang punya penyakit dan cacat. Hakim dalam Syari’at Islam boleh menetapkan cerai antara suami istri yang terkena penyakit seperti tidak bisa behubungan badan atau punya penyakit tidak bisa mempunyai keturunan (mandul).

2. ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺴﺎﺩﺱ ﻋﺸﺮ ﺍﻟﺼﺤﻴﻔﺔ: ٢٦٥-٢٦٦.

ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻣﺮﺃﺗﻪ ﻣﺠﻨﻮنة ﺃﻭ ﻣﺠﺬﻭمة ﺃﻭ ﺑﺮﺻﺎﺀ ﺃﻭ ﺭﺗﻘﺎﺀ ﻭﻫﻰ ﺍﻟﺘﻰ ﺍﻧﺴﺪ ﻓﺮﺟﻬﺎ ﺃﻭ ﻗﺮﻧﺎﺀ ﻭﻫﻰ ﺍﻟﺘﻰ ﻓﻲ ﻓﺮﺟﻬﺎ ﻟﺤﻢ ﻳﻤﻨﻊ ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ، ﺛﺒﺖ ﻟﻪ ﺍﻟﺨﻴﺎﺭ. ﻭﺍﻥ ﻭﺟﺪﺕ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻣﺠﻨﻮﻧﺎ ﺃﻭ ﻣﺠﺬﻭﻣﺎ ﺃﻭ ﺍﺑﺮﺹ ﺃﻭ ﻣﺠﺒﻮﺑﺎ ﺃﻭ ﻋﻨﻴﻨﺎ، ﺛﺒﺖ ﻟﻬﺎ ﺍﻟﺨﻴﺎﺭ … ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ : ﻓﺜﺒﺖ ﺍﻟﺮﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﺮﺹ ﺑﺎﻟﺨﺒﺮ، ﻭﺛﺒﺖ ﻓﻲ ﺳﺎﺋﺮ ﻣﺎ ﺫﻛﺮﻧﺎﻩ ﺑﺎﻟﻘﻴﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﺮﺹ، ﻷﻧﻬﺎ ﻓﻲ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﻓﻲ ﻣﻨﻊ ﺍﻻﺳﺘﻤﺘﺎﻉ.

Apabila seorang wanita mempunyai penyakit gila atau judzam atau kusta atau mandul yang hal tersebut membuat terganggunya farjik atau ada daging yang menghalangi terjadinya jimak maka perempuan tersebut boleh di cerai. Begitu juga seorang suami yang punya penyakit gila atau kusta atau terputus kemaluannya atau impoten maka boleh bagi istri untuk fasakh. Dalam hadits hanya menyebutkan penyakit kusta. Tentang penyakit yang lain mengqiaskan penyakit tersebut terhadap kusta karena sama-sama mencegah kemesraan (berhubungan suami istri).

Wallahu a’lamu bisshowab..

S038. JAMAK DAN QOSHOR BAGI YANG BEPERGIAN TERUS MENERUS

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Diskripsi :
Saya kerja keluar kota dan di sana saya dua hari, pulang lagi ke rumah, satu hari di rumah, lalu berangkat lagi kerja keluar kota dua hari.

Pertanyaan :
Bolehkah menjamak dan mengkoshor sholat saya?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Bagi orang yang selalu bepergian seperti sopir/kondektur, menurut madhab syafi’i baginya boleh menjamak dan mengqoshor apabila perjalanan tersebut sampai batas dua marhalah diperbolehkannya mengkoshor shalat, namun yang lebih utama adalah sholat secara sempurna.

(المجموع شرح المهذب,جز ٤,صحيفۃ ٢٢۰)

(اما حكم المسئلۃ)فمذهبنا جواز القصر والاءتمام,فاءن كان سفره دون ثلاثۃ ايام فالأفضل الإتمام للخروج من خلاف ابي حنيفۃ وموافقيه كما سبق, وكذا ان كان يديم السفر باءهله في البحر فله القصر, والأفضل الاءتمام, وان بلغ سفره مراحل, وقد سبقت المسئلۃ. وقد نص الشافعي في الأم علی ان الأفضل ترك القصر للخروج من خلاف العلماء ولأنه لا وطن له غيره. واتفق اصحابنا علی هذا. قال اصحابنا: ويستثنی ايضا من وجد من نفسه كراهۃ القصر لا رغبۃ عن السنۃ اوشكا في جوازه. قال الشافعي والاءصحاب: القصر لهذا افضل بلا خلاف، بل يكره له الإتمام حتی تزول هذه الكراهۃ, وهكذا الحكم في جميع الرخص في هذه الحالۃ, وان كان سفره ثلاثۃ ايام فصاعدا, ولم يكن مد من سفر البحر وغيره ولا يترك القصر رغبۃ عنه، انتهی.

Bagi sopir juga boleh menjama’ dan mengqosor shalatnya.

Orang-orang yang berprofesi sebagai sopir boleh mengqosor shalatnya tapi yang lebih utama shalatnya tidak diqoshor :

و من يديم السفر مطلقا كالساعي فإن الإتمام أفضل له خروجا من خلاف من أوجبه كالإمام أحمد رضي الله عنه. الباجوري ١/٢٠١.

Mengqoshor sholat bagi musafir adalah lebih utama, jika bepergiannya mencapai 3 marhalah dan tidak terus menerus bepergian dan bukan nahkoda kapal yang berlayar bersama keluarganya, jika tidak maka menyempurnakan sholat lebih utama dan dimakruhkan baginya menqoshor.

Ibaroh kasyifatussaja hal 92 :

فرع) القصر للمسافر افضل ان بلغ سفره ثلاث مراحل و ليس مديما له و لا ملاحا اى سفانا معه عياله فى السفينة و الا فالاتمام افضل بل يكره له القصر.

BATASAN JARAK BOLEH MENGKOSHOR SHALAT :

Terdapat perbedaan pendapat antara ulama antara jarak jauh seseorang dikatakan musafir yang diperkenankan menjama’/mengqashar shalat, ada yang mengatakan :

1. Dua Marhalah (81 Km)/ perjalanan 2 hari/ 16 farshah (Syafi’iyyah, Malikiyyah dan Hanabilah)

2.Tiga Marhalah (243 Km)/ perjalanan 3 hari (Hanafiyyah)

Perbedaan ini muncul karena tidak terdapatnya dalil nash yang sharih mengenai jarak jauhnya, sehingga para ulama mengambil jalan ijtihad mereka masing-masing dalam membatasinya.

– al-Fiqh al-Islaam II/483 :

اشترط الفقهاء لصحة القصر الشروط الآتية :

1 – أن يكون السفر طويلاً مقدراً بمسيرة مرحلتين أو يومين أو ستة عشر فرسخاً عند الجمهور، أو ثلاث مراحل أو ثلاثة أيام بلياليها عند الحنفية، على الخلاف السابق بيانه.

Wallahu a’lamu bisshowab..

HADITS KE 87 : TATACARA BERISTINJAK DENGAN BATU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATA CARA BUANG HAJAT

HADITS KE 87 :

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: ( أَتَى اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم اَلْغَائِطَ فَأَمَرَنِي أَنْ آتِيَهُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ فَوَجَدْتُ حَجَرَيْنِ وَلَمْ أَجِدْ ثَالِثًا. فَأَتَيْتُهُ بِرَوْثَةٍ. فَأَخَذَهُمَا وَأَلْقَى اَلرَّوْثَةَ وَقَالَ: “هَذَا رِكْسٌ” ) أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيّ ُ. زَادَ أَحْمَدُ وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ: ( ائْتِنِي بِغَيْرِهَا

Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam hendak buang air besar lalu beliau menyuruhku untuk mengambilkan tiga biji batu kemudian saya hanya mendapatkan dua biji dan tidak menemukan yang ketiga. Lalu saya membawakan kotoran binatang. Beliau mengambil dua biji batu tersebut dan membuang kotoran binatang seraya bersabda: “Ini kotoran menjijikkan.” Diriwayatkan oleh Bukhari. Ahmad dan Daruquthni menambahkan: “Ambilkan aku yang lain.”

MAKNA HADITS :

Agama Islam senantiasa mengambil berat masalah disiplin dan kebersihan disamping mempersiapkan kehidupan yang suci dan baik bagi seorang muslim. Oleh karena itu, ia menyuruh beristinjak dan ber-istijmar (bersuci dengan menggunakan batu) serta menjauhi perkara-perkara kotor. Islam menganjurkan kebersihan dengan menjadikan istijmar dengan memakai tiga biji batu yang mempunyai daya
pembersih. Menggunakan objek yang memiliki permukaan licin dan tidak akan dapat membersihkan najis, malah justru menyebarkan lagi najis seperti tulang atau memakai barang yang najis tentu tidak boleh dijadikan sebagai alat untuk ber-istijmar.

FIQH HADITS :

1. Dilarang beristinjak dengan menggunakan kotoran hewan, kerana ia najis.

2. Tidak boleh menggunakan kurang dari tiga biji batu dalam beristinjak dengan syarat batu tersebut adalah batu yang mampu membersihkan najis. Inilah menurut mazhab Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad. Kedua ulama ini berlandaskan pendapatnya dengan riwayat yang mengatakan: “Datangkanlah selainnya buatku.” Bagi Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad boleh menggunakan sebiji batu yang mempunyai tiga sudut. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik

mengatakan bahwa tidak penting jumlah batu tertentu dalam beristinjak. Apa yang terpenting adalah batu yang digunakan beristinjak mampu membersihkan najis, meskipun hanya dengan sebiji batu dan disunatkan mengganjilkan bilangan batu yang digunakan beristinjak tersebut.

3. Dilarang beristinjak dengan tulang, kerana ia mempunyai permukaan yang

licin yang tidak dapat membersihkan najis. Selain itu tulang adalah makanan utama jin sebagaimana diterangkan oleh hadits lain.

4. Dianjurkan menyediakan alat untuk bersuci, baik batu ataupun air

sebelum membuang hajat dan dibolehkan pula meminta bantuan orang lain untuk mendatangkannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

M035. HUKUM MENGANTAR NON MUSLIM KE GEREJA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Mau tanya, di papua khususnya teman2 kami menjadi tukang ojek yang mayoritas yang mengojek adalah non moslim dan dia di hantar ke toko dll sesuai kebutuhan mereka. Bahkan sering kali di hantar ke tempat ibadah mereka (gereja). Bagaimana hukumnya kalau begitu?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tentang bermu’amalah dengan orang kafir sudah dibahas di dokumen Muamalah No.34. Silahkan buka linknya:

https://ikaba.net/2018/03/10/m034-hukum-jual-beli-dengan-non-muslim/

Adapun mengantar ke gereja berarti membantu melakukan maksiat, maka hukumnya berdosa. Boleh kerjasama dengan orang kafir tapi makruh selama hanya bekerjasama kalau khidmah hukumnya HARAM.

اسعاد الرفيق جزء 2 ص 127 ومنها أي من معاصى البدن الاعانة على المعصية أي على معصية من معاصى الله بقول او فعل او غيره ثم ان كانت المعصية كبيرة كانت الاعانة عليها كذالك كما في الزواجر قال فيها وذكري لهذين أي الرضا بها والاعانة عليها باي نوع كان ظاهر معلوم مما سيأتـي في الامر بالمعروف والنهي عن المنكر

“Di antara maksiat tubuh adalah ikut menolong (terlibat) peristiwa maksiat-maksiat yang dimurkai Allah, baik berupa ucapan, perbuatan dll. Bila maksiat tadi tergolong dalam dosa besar, maka dosa yang didapat dari keterlibatannya pun juga besar, seperti dijelaskan dalam kitab Zawajir. Di dalam kitab tersebut Ibn Hajar berkata :” (alasan) saya menyebutkan dua hal diatas, yakni membiarkan maksiat terjadi (Ridlo bi Maksiah) dan terlibat di dalamnya (Ianah alaiha) dengan berbagai macam ragamnya, sudah cukup jelas dan maklum seperti yang akan dijelaskan dalam Bab Amr Ma’ruf –Nahy Munkar”.

من أَعاَنَ عَلَى مَعْصِيَةٍ وَلَوْ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ كاَنَ شَرِيْكاً فِيْهاَوفى نفس الكتاب اجرة العمل الذى يتعلق بالمعصية حرام والتصدق به منها لايجوز ولايصح إهـ مغني المحتاج ٢/٣٣٧.

“Barang siapa yang menolong kemaksiyatan walaupun hanya dengan setengah kalimat, maka ia telah terlibat dalam maksiyat tersebut” (al-Hadits)

– I’anatut Tholibin, Juz 3 Hal 129 :

يصح استئجار كافر لمسلم، ولو إجارة عين، مع الكراهة، لكن لا يُمكّن من استخدامه مطلقا، لانه لا يجوز خدمه المسلم للكافر أبدا.

– Hasyiyah Qalyubi Hal 455 :

وَأَمَّا خِدْمَةُ الْمُسْلِمِ لِلْكَافِرِ فَحَرَامٌ مُطْلَقًا سَوَاءٌ بِعَقْدٍ أَوْ بِغَيْرِ عَقْدٍ

Wallahu a’lamu bisshowab..