Semua tulisan dari Musthofa AB

Alumni BATA-BATA Thn : 1995 - 2004

M022. HUKUM MEMOTONG KUMIS, MEMELIHARA JENGGOT & JAMBANG

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz

Diskripsi masalah :
Dalam kehidupan bermasyarat banyak kita temukan orang yang senang memelihara kumis dan jenggot seperti kelompok jama’ tabigh dan lain sebagainya.

Pertanyaannya, bagaimana hukumnya memelihara kumis hingga sampai menutupi bibir, dan bagaimana pula hukumnya memelihara jenggot hingga panjangnya sampai kedada?
Mohon tanggapan jawaban..

JAWABAN :

waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

HUKUM MENCUKUR KUMIS, JENGGOT & CAMBANG.

1. KUMIS (Arab: syarib). Adapun memotong kumis itu boleh. Sedangkan memelihara kumis itu juga boleh tapi disunnahkan agar dirapikan sehingga terlihat bibir bagian atas. Demikian pendapat Imam Nawawi dalam Lanjutkan membaca M022. HUKUM MEMOTONG KUMIS, MEMELIHARA JENGGOT & JAMBANG

H002. HUKUM MEMBUNUH KARENA MEMBELA DIRI, JIWA, HARTA & KEHORMATAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bagaimana tentang membunuh perampok, Begal, PKI, yang ingin mengintai Harta, jiwa dan ingin membunuh kiai? Andai mereka dapat kesempatan untuk membunuh kiai maka dia bakalan membunuh. Tidak ada cara lain mereka harus dikeroyok bahkan sampai terbunuh. Andai tidak di tindak seperti itu PKI gak bakalan jerah, mereka tetap mau membunuh kiai.

Bagaimana cara menghadapi orang yang seperti itu?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Kita boleh melawan orang yang menyerang kita dan memeranginya jika kita tdk bisa melarikan diri, Lanjutkan membaca H002. HUKUM MEMBUNUH KARENA MEMBELA DIRI, JIWA, HARTA & KEHORMATAN

T009. KESUCIAN LEMAK YANG ADA DALAM USUS SAPI (HEWAN)

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Mohon maaf kepada semua para ustadz dan para kiyai..

Sering saya temukan disaat penyembelihan kambing atau sapi, usus dari hewan tersebut di bedakan diantara usus yang berisi kotoran tapi bersih dan usus yang berisi kotoran yg sudah seperti layaknya kotoran. Sehingga pada usus tersebut di potong.
Lalu yang isinya kotor dan bau, dibersihkan setelah isinya di keluarkan.
Sedangkan yang isinya masih bersih hanya di cuci dari luar tanpa di keluarkan isinya. Bahkan supaya tidak keluar isi tersebut biasanya di ikat pada dua ujungnya..

Yang saya ingin tanyakan,
Adakah perbedaan diantara isi usus yg masih bersih dan yang sudah agak menghitam juga berbau dalam bidang najisnya?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh.. Lanjutkan membaca T009. KESUCIAN LEMAK YANG ADA DALAM USUS SAPI (HEWAN)

M021. HUKUM MEMASANG GIGI PALSU DARI EMAS

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

1. Bagaimana hukum memasang gigi palsu?
2. Bolehkah menambalnya dengan besi atau emas?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

1. Boleh menambal gigi berlubang atau mengganti gigi yang dicabut

2. Boleh menambal gigi berlubang pakai besi atau pake emas juga tidak apa-apa dengan syarat ada hajat itu juga kalau ada fulusnya.

Referensi : Lanjutkan membaca M021. HUKUM MEMASANG GIGI PALSU DARI EMAS

H001. HUKUM MENGEROYOK MALING SECARA MASSAL SAMPAI MATI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum wr wb..

Bagaimana hukumnya kalau maling di kroyok masal sampai meninggal?
Apa di perbolehkan oleh agama?
Sedang dalam islam ada aturan tersendiri seperti misalkan mencuri maka dipotong tanggannya dan seterusnya.
Bagaimana pendapat ustadz di group ini?

 

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Dalam amar ma’ruf nahi munkar mbo ya kita sebagai masyarakat Lanjutkan membaca H001. HUKUM MENGEROYOK MALING SECARA MASSAL SAMPAI MATI

M020. HUKUM BEROBAT KE DOKTER NON MUSLIM

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

mau nanya ne yai.. bolehkah seorang muslimah memeriksakan kehamilannya sampai melahirkan ke bidan yang beragama kristen? Di desa saya bidannya cuman satu tapi kristen. Walaupun ada yang islam tapi jauh tempatnya.
Mohon pencerahannya..
Syukron katsir..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Berobat kepada dokter / tabib non muslim itu diperbolehkan dengan syarat tidak adanya orang islam yang mampu menggantikan posisinya, yang bisa melakukan pengobatan seperti dokter non muslim tersebut, dan dokter tersebut bisa dipercaya sekiranya dia tidak membawa dloror (membahayakan) bagi kita orang muslim. Wallaahu A’lam. Lanjutkan membaca M020. HUKUM BEROBAT KE DOKTER NON MUSLIM

M019. HUKUM MEMBELI BARANG YANG MASIH DALAM TANAH ATAU MASIH DALAM KULITNYA.

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..
Kalau ada orang yang au membeli kacang tapi masih dalam tanah dan tentunya tidak tau persis seperti apa isi kacang itu.
Bolehkah membeli kacang yang masih dalam tanah tersebut?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

(و) يحرم أيضا بيع (مالم يره) قبل العقد حذرا من الغرور أي ألخطر لما روى مسلم أنه صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع الغرر أي البيع المشتمل على الغرر فى المبيع قال الحصني وفى صحة بيع ذالك قولان احدهما أنه يصح وبه قال الأمة الثلاثة وطائفة من أئمتنا منهم البغوي والروياني والجديد الاظهر أنه لايصح لانه غرر انتهى. سلم التوفيق ص ٥٣

Lanjutkan membaca M019. HUKUM MEMBELI BARANG YANG MASIH DALAM TANAH ATAU MASIH DALAM KULITNYA.

S024. HUKUM MAKMUM MASBUQ KETINGGALAN MEMBACA FATIHAH

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Ustad nyoonah penjelasan epon tentang makmum MASBUK, pas ka’dintoh poleh manabi makmum baca fatihah baru separuh tapi imam sudah rukuk, apa yang harus dilakukan makmum, apakah makmum harus ikut imam rukuk ataukah makmun harus menyelesaikan bacaan fatihahnya dulu, mohon penjelasannya ustadz.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

فإن قرأه وأدرك الإمام في الركوع فقد أدرك الركعة، فإن لم يدركه فيه فاتته الركعة ولا يركع، لأنه لا يحسب له بل يتابعه في هويه للسجود وإلا بطلت صلاته.(قوله: لغت ركعته) أي لأن شرط عدم إلغائها إدراكه في الركوع.

Jika masbuq menyempurnakan bacaan fatekhahnya dan bisa menemui imam dalam ruku’ maka masbuq telah menemukan satu rokaat, jika tidak menemukan imam dalam rukuk maka dia kehilangan satu rokaat dan tidak boleh ruku’ karena rukuknya tidak terhitung baginya, tapi ikut imam dalam turun ke sujud, jika tidak maka batallah sholatnya masbuq yang menyempurnakan fatekah dan tidak bisa menemui imam saat ruku kemudian dia rukuk.

Tidak dihitung dan sholatnya tidak batal kecuali jika si imam akan turun ke sujud sedangkan dia masih dalam fatihahnya.

وبل الغمام في أحكام المأموم و الإمام ص ٣١.

فإن ركع الإمام و المأموم المسبوق في الفاتحة فإن كان لم يشتغل بشيء غير الفاتحة قطع القراءة و ركع معه و تحمل عنه بقية الفاتحة كما يتحملها إذا ركع عقب إحرامه أو وجده راكعا . فإن لم يتابعه حتى فارق الإمام أقل الركوع فاتته الركعة و لا تبطل صلاته إلا إن تخلف عنه حتى شرع الإمام في الهوي للسجود.

Kesimpulan : batal jika imam sujud, sedangkan masbuq masih fatihah.

Wallahu a’lam

Dalam i’anah Tholibiin halaman 138 ada penjelasan makmaum masbuQ hukmiy dan ada masbuQ haQiQiy. Makmum tersebut ikut gerakan imam saja, jadi langsung ikut imam rukuk saja dan tidak perlu meneruskan fatihahnya karena ia dihukumi masbuQ hukmi dan alfatihahnya ditanggung oleh imam.

وإن وجد الإمام في القيام قبل أن يركع وقف معه، فإن أدرك معه قبل الركوع زمنا يسع الفاتحة بالنسبة للوسط المعتدل فهو موافق، فيجب عليه إتمام الفاتحة ويغتفر له التخلف بثلاثة أركان طويلة كما تقدم.

وإن لم يدرك مع الإمام زمنا يسع الفاتحة فهو مسبوق يقرأ ما أمكنه من الفاتحة، ومتى ركع الإمام وجب عليه الركوع معه.

Jika mendapati Imam dalam keadaan berdiri sebelum ruku’, maka makmum mengikuti saja. Ketika Makmum tersebut mendapat waktu guna menyempurnakan bacaan Fatihahnya sebelum ruku’ bersama Imam, maka ikuti saja Imam itu, dan wajib menyempurnakan bacaan fatihahnya. dan makmum yang demikian keadaannya di perbolehkan menselisihi 3 gerakan Imam yang panjang”.
“Dan ketika Makmum tidak mendapati keluasan waktu untuk menyelesaikan bacaan Fatihahnya, maka yang demikian itu di anggap sebagai Makmum Masbuq, ia hanya membaca Fatihah yang ia bisa saja. dan ketika Imam telah Ruku’, maka ia juga harus mengikuti ruku’nya Imam”. [ Nihayatuzain halaman 122 ].

Sebelum kita membahas makmum bisa dihukumi masbuQ pada rokaat kedua,ketiga dan keempat, maka tidak ada salah nya kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu makmum masbuQ dan yang muwafiq, silahkan anda fahami dari ibarot diatas. Selanjut nya, anda bisa memahami bahwaa makmum masbuQ itu bisa terjadi pada rokaat kedua,ketiga dan keempat pada ibarot selanjutnya ini, dan juga dalam ibarot ini menjelaskan bahwaa bcaan imam yang cepat, itu akan memungkinkan makmumnya tersebut akan masbuQ pada kesemua rokaatnya, al hasil.. Makmum tersebut tidak hrus membaca sempurna fatihahnya pada tiap2 rokaat-nya dalam sholat berjamaah tersebut, sebab statusnya masbuQ ( secara hukmiy ) dan fatihahnya ditanggung oleh imamnya. Ini ibarot nya:

ولو اقتدى بإمام راكع فركع واطمأن معه في ركوعه، ولما أتم الركعة وقام وجد إماما غيره راكعا فنوى مفارقة هذا واقتدى بالأخر وركع واطمأن معه، وهكذا إلى آخر صلاته جاز، وعلى هذا فيمكن سقوط الفاتحة عنه في جميع الركعات،

ولو إقتدى بإمام سريع القراءة على خلاف العادة، والمأموم معتدلها، وكان في قيام كل ركعة لايدرك مع الإمام زمنا يسع الفاتحة من الوسط المعتدل فهو مسبوق في كل ركعة فيقرأ من الفاتحة ما ادركه، وإذا ركع إمامه ركع معه وسقط عنه باقي الفاتحة لتحمل الإمام له، وعلى هذا فيمكن سقوط بعض الفاتحة عنه في كل ركعة.

Dan Ketika Imam telah ruku’ maka Makmum kemudian mengikuti ruku’nya, dan ketika si makmum menyempurnakan ruku’nya, tapi kemudian dia mendapati Imamnya telah ruku’ (Pada Roka’at berikutnya) laka si makmum harus berniat Mufaroqoh (Memisahkan diri dai Imam) dan kemudian berniat mengikuti Makmum yang lain sebagai Imamnya yang baru untuk di ikuti Ruku’nya secara Thumakninah, yang demikian ini memang di perbolehkan. dalam kasus seperti ini, makmum harus menggugurkan bacaan fatihahnya agar bisa mengikuti Imam tersebut di setiap roka’atnya (Membca fatihah sekedarnya, Untuk bisa masuk dalam kategori makmum yang sah).
Dan apa bila si makmum mengikuti Imam yang bacaannya cepat, dan makmum telah terbiasa dengan Imam itu, dan makmum itu tidak bisa mendapati pada setiap roka’atnya bersama Imam untuk bisa membaca fatihah yang biasa-biasa saja yang dapat mengimbangi gerakan Imam, maka Makmum seperti ini masuk dalam kategori sebagai Masbuq di setiap roka’atnya, maka Makmum di perbolehkan membaca fatihahnya yang bisa ia dapati (sebisanya saja) kemudian ia ruku’ mengikuti Imamnya, tidak perlu menyempurnakan bacaan fatihahnya, karena bacaan fatihahnya telah di tanggung sama Imamnya. Maka hal seperti ini bisa saja terjadi di setiap roka’atnya. [ Nihayatuzain halaman 60 ].

Wallohu a’lam.

 

MAKMUM KETINGGALAN MEMBACA FATIHAH KARENA IMAM SHALATNYA CEPAT

Bacaan surat Fatihah di dalam shalat hukumnya wajib dan termasuk rukun shalat, berarti bagi yang tidak membaca surat Fatihah ketika shalat maka dipastikan shalatnya tidak sah.

Namun bagi makmum yang lambat dalam bacaannya maka mendapat kemudahan dengan tetap dihukumi sah shalatnya baik makmum muwafiq maupun makmum masbuq. Kalau makmum tidak sempat menyempurnakan membaca Fatihah, maka imam yang mananggung kekurangan bacaan makmum tersebut.

Dalam kondisi bacaan fatihah imam cepat maka makmum tetap harus mengikuti gerakan imam, artinya makmum tidak perlu menyelesaikan bacaan Fatihahnya kemudian menyusul imamnya, bahkan ketika imamnya ruku’ maka makmum juga mengikutinya ruku’ meskipun dia belum selesai dari bacaan Fatihahnya, karena dalam kondisi demikian imam menanggung sisa bacaan yang tidak sempat dia lanjutkan, dan shalat jamaahnya tetap dihukumi sah.

Seseorang dimaafkan karena bacaannya biasanya pelan-pelan/tidak bisa cepat maka bacaan Fatihahnya di tanggung imam sedang imam cepat bacaan Fatihahnya dengan catatan tidak boleh telat atau ketinggalan tiga rukun panjangnya imam dan tidak karena sibuk membaca iftitah atau ta’awwudz (misal diulang-ulang) jika imam ruku’ maka ikut ruku’ dengan imam maka ia mendapat satu rakaat bersama imam, namun jika tidak ruku’ dan imam hendak sujud ia belum ruku’ juga maka ia tidak mendapat satu rakaat bahkan ia harus langsung mengikuti imam yang hendak turun untuk sujud jika tidak maka batal atau niat mufaraqah. Wallahu a’lam.

Referensi:
Nihayah az Zain hal. 122

ﻭﺇﻥ ﻭﺟﺪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺮﻛﻊ ﻭﻗﻒ ﻣﻌﻪ، ﻓﺈﻥ ﺃﺩﺭﻙ ﻣﻌﻪ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ﺯﻣﻨﺎ ﻳﺴﻊ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻠﻮﺳﻂ ﺍﻟﻤﻌﺘﺪﻝ ﻓﻬﻮ ﻣﻮﺍﻓﻖ، ﻓﻴﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺇﺗﻤﺎﻡ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻭﻳﻐﺘﻔﺮ ﻟﻪ ﺍﻟﺘﺨﻠﻒ ﺑﺜﻼﺛﺔ ﺃﺭﻛﺎﻥ ﻃﻮﻳﻠﺔ ﻛﻤﺎ ﺗﻘﺪﻡ. ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺪﺭﻙ ﻣﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺯﻣﻨﺎ ﻳﺴﻊ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻓﻬﻮ ﻣﺴﺒﻮﻕ ﻳﻘﺮﺃ ﻣﺎ ﺃﻣﻜﻨﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ، ﻭﻣﺘﻰ ﺭﻛﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻭﺟﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ﻣﻌﻪ

I’anah ath Thaalibiin juz 2 hal. 40

واعلم) أن الأعذار التي توجب التخلف كثيرة: منها أن يكون المأموم بطئ القراءة لعجز خلقي لا لوسوسة، والإمام معتدلها، وأن يعلم أو يشك قبل ركوعه وبعد ركوع إمامه أنه ترك الفاتحة، وأن يكون المأموم لم يقرأها منتظرا

سكتة إمامه عقبها فركع الإمام عقب قراءته الفاتحة، وأن يكون المأموم موافقا واشتغل بسنه كدعاء الافتتاح والتعوذ، وأن يطول السجدة الأخيرة عمدا أو سهوا، وأن يتخلف لإكمال التشهد الأول أو يكون قد نام فيه متمكنا، وأن يشك هل هو مسبوق أو موافق؟ فيعطى حكم الموافق المعذور ويتخلف لقراءة الفاتحة، وأن يكون نسي أنه في الصلاة ولم يتذكر إلا والإمام راكع أو قريب منه، أو يكون سمع تكبيرة الإمام بعد الركعة الثانية فظنها تكبيرة التشهد فإذا هي تكبيرة قيام فجلس وتشهد، ثم قام فرأى الإمام راكعا .

وقد ذكر الشارح بعضها.

ومما ينسب للشيخ العزيزي: إن رمت ضبطا للذي شرعا عذر * * حتى له ثلاث أركان غفر: من في قراءة لعجزه بطئ * * أو شك إن قرا ومن لها نسي وصف موافقا لسنة عدل * * ومن لسكتة انتظاره حصل من نام في تشهد أو اختلط * * عليه تكبير الإمام ما انضبط كذا الذي يكمل التشهدا * * بعد إمام قام منه قاصدا والخلف في أواخر المسائل * * محقق فلا تكن بغافل وقوله: والخلف في أواخر المسائل، وهي ثلاثة: من نام في تشهده الأول ممكنا مقعده بمقره فما انتبه من نومه إلا وإمامه راكع، ومن سمع تكبير إمامه للقيام فظنه لجلوس التشهد فجلس له وكبر إمامه للركوع فظنه للقيام من التشهد الأول ثم على أنه للركوع.

ففي هاتين المسألتين جرى الخلاف بين العلامتين ابن حجر، والشمس الرملي، فقال الأول: هو مسبوق، فيلزمه أن يقرأ من الفاتحة ما تمكن منها.

وقال الثاني: هو موافق، يغتفر له ثلاثة أركان طويلة.

والمسألة الثالثة: من مكث بعد قيام إمامه لإكمال التشهد الأول، فلا انتصب وجد إمامه راكعا أو قارب أن يركع.

فقال الرملي: هو موافق، يغتفر له ما مر من الأركان.

وقال حجر: هو كالموافق المتخلف لغير عذر، فإن أتم فاتحته قبل هوى

سجدته إلا والإمام راكع أو قارب أن يركع، فقال الرملي: هو كموافق.

وعند حجر: كالمسبوق.

ومسألة خامسة، وهي: ما لو شك هل أدرك زمنا يسع الفاتحة أم؟ فجرى في التحفة على أنه يلزمه الاحتياط فيتخلف لا تمامها ولا يدرك الركعة إلا إن أدركه في الركوع، فلو أتمها والإمام آخذ في الهوي للسجود لزمه المتابعة ويأتي بعد سلام الإمام بركعة، ولو لم يتم حتى هوي الإمام للسجود لزمه نية المفارقة، وإلا بطلت صلاته.

والذي جرى عليه الرملي ومثله الخطيب، أنه كالموافق، فيجري على ترتيب صلاة نفسه ويدرك الركعة، ما لم يسبق بأكثر من ثلاثة أركان طويلة.

وبه أفتى الشهاب الرملي، وظاهر الإمداد يميل إليه.

قوله: كإسراع إمام قراءة) تمثيل للعذر.

والمراد بالإسراع: الاعتدال، فإطلاق الإسراع عليه لأنه في مقابلة البطء الحاصل للمأموم.

وأما لو أسرع الإمام حقيقة بأن لم يدرك معه المأموم زمنا يسع الفاتحة للمعتدل فإنه يجب على المأموم أن يركع مع الإمام ويتركها لتحمل الإمام لها، ولو في جميع الركعات

Nihayah az Zain hal. 60

ﻭَﻟَﻮِ ﺍﻗْﺘَﺪَﻯ ﺑِﺈِﻣَﺎﻡٍ ﺳَﺮِﻳْﻊَ ﺍﻟﻘِﺮَﺍﺀَﺓِ ﻋَﻠَﻰ ﺧِﻼَﻑِ ﺍﻟﻌَﺎﺩَﺓِ ﻭَﺍﻟﻤَﺄﻣُﻮﻡُ ﻣُﻌْﺘَﺪِﻟُﻬَﺎ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻓِﻰ ﻗِﻴَﺎﻡِ ﻛُﻞِّ ﺭَﻛْﻌَﺔٍ ﻻَﻳُﺪْﺭَﻙُ ﻣَﻊَ ﺍﻹِﻣَﺎﻡِ ﺯَﻣَﻨًﺎ ﻳَﺴَﻊُ ﺍﻟﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻮَﺳَﻂِ ﺍﻟﻤُﻌْﺘَﺪِﻝِ ﻓَﻬُﻮَ ﻣَﺴْﺒُﻮﻕٌ ﻓِﻰ ﻛُﻞِّ ﺭَﻛْﻌَﺔٍ ﻓَﻴَﻘْﺮَﺃُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﻣَﺎ ﺃَﺩْﺭَﻛَﻪُ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺭَﻛَﻊَ ﺇِﻣَﺎﻣُﻪُ ﺭَﻛَﻌﺾ ﻣَﻌَﻪُ ﻭَﺳَﻘَﻂَ ﺑَﺎﻗِﻲَ ﺍﻟﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﻟِﺘَﺤَﻤُّﻞِ ﺍﻹِﻣَﺎﻡِ ﻟَﻪُ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﻫَﺬَﺍ ﻓَﻴُﻤْﻜِﻦُ ﺳُﻘُﻮﻁُ ﺑَﻌْﺾِ ﺍﻟﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﻋَﻨْﻪُ ﻓِﻰ ﻛُﻞِّ ﺭَﻛْﻌَﺔٍ. ﺇﻫــ

I’anah ath Thaalibiin juz 1 hal. 31-35

و) منها (عَدَمُ تـخـلُّفٍ عن إمام بِرُكْنَـيْن فِعْلِـيَّـين) مُتوالـيـين تامّين (بلا عذر مع تَعَمُّد وعِلـم) بـالتـحريـم، وإن لـم يكونا طويـلـين. فإن تـخـلف بهما بطلت صلاته لفحشِ الـمخالفة، كأن رَكعَ الإِمامُ، واعتدَلَ وَهوِيَ للسجودِ ــــ أي زالَ من حَدّ القـيامِ ــــ والـمأموم قائمٌ. وخرج بـالفِعْلِـيَّـين القَوْلِـيان، والقَوْلـيُّ والفِعْلـيُّ (و) عَدَمُ تـخـلّفٍ عنه معهما (بأكثر من ثَلاثِة أركانٍ طويـلة) فلا يحسب منها الاعتدالُ والـجلوسُ بـين السجدتـين (بعذرٍ أوْجَبَه) أي اقتضى وُجوب ذلك التَّـخـلّف، (كإِسراع إمام قراءة) والـمأموم بُطيء القراءة لعجز خَـلْقـيّ، لا لِوَسْوَسَةٍ أو الـحركات. (وانتظامُ مأمومٍ سكْتَتَه) أي سكتَةَ الإمام لـيقرأ فـيها الفـاتـحة، فركع عَقِبَها، وسَهْوُه عنها حتـى ركع الإمام. وشَكُّهُ فـيها قبل ركوعه. أما التـخـلف لِوَسْوسَة، بأن كان يُردّد الكلـمات مِن غيرِ مُوجبٍ فَلـيس بعذرٍ. قال شيخنا: ينبغي فـي ذي وَسوسةٍ صارت كالـخُـلقـيةِ ــــ بحيث يقطع كل مَن رَآهُ أنه لا يـمكنهُ تَركُها ــــ أن يأتـيَ فـيهِ ما فـي بطيءِ الـحركة، فـيـلزمُ الـمأمومَ فـي الصُّوَرِ الـمذكورة إتـمامُ الفـاتـحة، ما لـم يتـخـلف بأكثر من ثلاثة أركان طويـلة، وإن تـخـلف مع عذر بأكثر من الثلاثة بِأنْ لا يفرغَ مِنَ الفـاتـحةِ إلاّ والإمامُ قائمٌ عن السُّجودِ أو جالِسٌ للتشهّد (فلـيوافِقْ) إمامَه، وُجوباً (فـي) الركن (الرابع) وهو القـيام، أو الـجلوس للتشهّد، ويترك تَرتـيبَ نفسِه، (ثم يَتدارَك) بعد سلام الإمام ما بقـيَ علـيه، فـإِن لـم يُوافِقهُ فـي الرابعِ، مَع عِلـمِهِ بوجوبِ الـمتابعةِ ولـم يَنْوِ الـمفـارَقَة بَطُلَتْ صَلاتُه، إن عَلِـم وتَعَمّد. وإن رَكعَ الـمأمومُ مع الإمامِ فشَكَّ هل قَرَأ الفـاتـحةَ، أو تَذكَّرَ أنه لـم يَقْرَأْها؟ لـم يَجُزْ له العَوْدُ إلـى القِـيام، وَتَداركَ بَعدَ سلام الإمام رَكعةً. فإن عادَ عالِـماً عامِداً بَطلتْ صلاتُه، وإلا فلا. فلو تـيقّنَ القراءَةَ وشَكَّ فـي إِكمالها فـإِنه لا يؤثّر. (ولو اشتغل مسبوقٌ) وهو مَنْ لـم يُدرِكْ من قِـيامِ الإمام، قدراً يَسَعُ الفـاتـحةَ بـالنسبة إلـى القِراءةِ الـمعتدلة وهو ضِدُّ الـموافِق. ولو شَكَّ هل أدْرَك زمناً يَسَعها؟ تـخـلف لإِتـمامها، ولا يُدرِك الركعة ما لـم يُدرِكْه فـي الركوع (بسُنّة) كتَعَوُّذٍ، وافتتاحٍ، أو لـم يشتغل بشيء، بأن سكت زمناً بعد تـحرُّمهِ وقبل قراءته، وهو عَالـم بأن واجِبَه الفـاتـحة.

ولو اشتغل مسبوقٌ) وهو مَنْ لـم يُدرِكْ من قِـيامِ الإمام، قدراً يَسَعُ الفـاتـحةَ بـالنسبة إلـى القِراءةِ الـمعتدلة وهو ضِدُّ الـموافِق

I’anah ath Thaalibiin juz 2 hal. 36-37

وعُذِرَ) مَنْ تَـخـلَّف لِسُنّة، كبُطْءِ القراءِة ــــ علـى ما قاله الشيخان، كـالبَغوِيّ ــــ لِوُجوب التـخـلّفِ، فـيَتـخـلّفْ ويُدْرِك الرَّكعةَ، ما لـم يُسْبَق بأكثر مِن ثلاثةِ أركانٍ، خِلافاً لـما اعتـمَدَهُ جَمعٌ مُـحقِّقونَ مِن كونِهِ غيرَ مَعذورٍ لِتقصِيرِهِ بـالعُدولِ الـمذكور. وَجَزَمَ بهِ شيخنا فـي شرح الـمنهاج وفتاويه، ثم قال: مَن عَبَّر بعذره فعِبـارتُه مُؤَوَّلة. وعلـيه: إن لـم يدرِكِ الإمامَ فـي الركوع فـاتته الرَّكعة، ولا يَرْكع، لأنه لا يُحسَبَ له، بل يُتابِعه فِـي هُوِيّه للسجودِ، إلا بطلت صلاته، إن علـم وتعمّد. ثم قال: والذي يتـجه أنه يتـخـلف لقراءة ما لَزِمَه حتـى يريد الإمامُ الهُويَّ للسجود، فـإِن كمل وافقه فـيه، ولا يركع، وإلا بطلت صلاته إن علـم وتعمد، وإلا فـارقه بـالنـية. قال شيخنا فـي شرح الإِرشاد: والأقرب للـمنقولِ الأوّلُ، وعلـيه أكثرُ الـمتأخرين. أما إذا رَكع بدون قراءةِ قدرها فتبطل صلاته. وفـي شَرْحِ الـمنهاج ــــ له ــــ عن مُعْظَمِ الأصحاب: أنه يَرْكَع ويَسقُط عنهُ بَقِـيةُ الفـاتـحة. واختـير، بل رجحه جمع متأخرون، وأطالوا فـي الاستدلال له، وأن كلام الشيخين يقتضيه. أما إذا جَهَل أن واجِبَهُ ذلك فهو تـخَـلّفِه لِـما لَزِمَهُ مُتَـخـلّف بعذرٍ. قاله القاضي . وخرج بـالـمسبوقِ الـموافقُ، فـإِنه إذا لـم يُتِـمّ الفـاتـحةَ لاشتغالهِ بِسُنّة؛ كدُعاءِ افتتاحٍ، وإن لـم يظنّ إدراك الفـاتـحةَ معه، يكون كبطيءِ القراءةِ فـيـما مَرّ، بلا نزاع.

Wallahu a’lamu bisshowab..

N018. HUKUM ORANG TUA FASIQ MENJADI WALI NIKAH

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bagaimana hukumya orang tua mengawinkan anak perempuanya sedangkan orang tuanya gak pernah sholat tanpa mewakilkan sama hakim atau Kiai. Apa dampaknya sama kedua mempelai?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Perwalian yang dilakukan oleh orang fasik terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, menurut pendapat yang kuat tidak sah sebab orang yang tidak mengerjakan shalat karena malas berarti fasik sedang perwalian orang fasik tidak dibenarkan, sedang menurut pendapat kalangan Malikiyyah, Hanafiyyah dan pendapat segolongan ulama di kalangan syafi’iyyah seperti al-Ghozali, Ibn Abdis Salam, an-nawaawi, as-Subky dan Ibn Shalah hukumnya sah dan boleh.

(مسألة : ك) : يشترط في الولي عدم الفسق على الراجح…والقول الثاني وهو الذي عليه عمل الناس منذ أزمنة ، بل لا يسعهم إلا هو ، وأفتى به المتأخرون ، وصححه ابن عبد السلام والغزالي ، وهو مذهب مالك وأبي حنيفة وجماعات أن الفاسق يلي مطلقاً

Disyaratkan dalam wali tidak adanya kefasikan menurut pendapat yanh kuat… Sedang pendapat yang kedua yang sering dijumpai dan dikerjakan dikalangan orang-orang dan difatwakan oleh ulama-ulama mutaakhkhirin serta dibenarkan oleh Ibn Abdis Salam dan al-Ghozali juga merupakan madzhab dari Imam malik dan Abu Hanifah sesungguhnya ia boleh menjadi wali secara mutlak. [ Bughyah al-Mustarsyidiin I/423 ].

– Qulyuby :

( ولا ولاية لفاسق على المذهب ) مجبرا كان أو غيره فسق بشرب الخمر أو بغيره ، أعلن بفسقه أو أسره ؛ لأن الفسق في الشهادة فيمنع الولاية كالرق فيزوج الأبعد ،

– Fath al-Mu’iin III/305 :

( و ) شرط ( في الولي عدالة وحرية وتكليف ) فلا ولاية لفاسق غير الإمام الأعظم لأن الفسق نقص يقدح في الشهادة فيمنع الولاية كالرق هذا هو المذهب للخبر الصحيح لا نكاح إلا بولي مرشد أي عدل وقال بعضهم إنه يلي والذي اختاره النووي كابن الصلاح والسبكي ما أفتى به الغزالي من بقاء الولاية للفاسق

Disyaratkan dalam wali pernikahan sifat adil, merdeka dan taklif seorang wali, maka tidak ada kewalian bagi orang yang fasik selain Imam A’dzam sebab kefasikan adalah sifat kurang yang dapat mencederai persaksian maka tidak boleh kewalian dari orang fasik sebagai sifat sahaya, pendapat inilah yang dijadikan madzhab berdasarkan hadits shahih “Tidak ada pernikahan tanpa wali wali yang adil”.Namun sebagian pendapat menyatakan kebolehan perwalian darinya, pendapat inilah yang dipilih oleh an-nawaawy, Ibn Shalahm as-Subky dan al-Ghozali.

Wali “fasiq” pun sah melaksanakan/menjadi wali nikah.

مغني المحتاج – (ج 3 / ص 145)( وينعقد بمستوري العدالة ) وهما المعروفان بها ظاهرا لا باطنا بأن عرفت بالمخالطة دون التزكية عند الحاكم ( على الصحيح ) لأن الظاهر من المسلمين العدالة ولأن النكاح يجري بين أوساط الناس والعوام فلو اعتبر فيه العدالة الباطنة لاحتاجوا إلى معرفتها ليحضروا من هو متصف بها فيطول الأمر عليهم ويشق

مغني المحتاج – (ج 3 / ص 145)تنبيه ظاهر إطلاق المصنف في انعقاد النكاح بالمستورين أنه لا فرق بين أن يعقد بهما الحاكم أو غيره وهو ما صححه المتولي فإنه صحح أن الحاكم كغيره

Kurang sependapat karena jelas di atas dikatakan SEORANG YG TIDAK SHOLAT 5 WAKTU. hemat saya tidak sah menjadai wali.

Ibarot dalam Qulyuby :

( ولا ولاية لفاسق على المذهب ) مجبرا كان أو غيره فسق بشرب الخمر أو بغيره ، أعلن بفسقه أو أسره ؛ لأن الفسق في الشهادة فيمنع الولاية كالرق فيزوج الأبعد.

Wallaahu A’lamu Bis showaab..