Semua tulisan dari Musthofa AB

Alumni BATA-BATA Thn : 1995 - 2004

S004 Anak kecil belum disunnat memegang orang yang sedang sholat

PERTANYAAN :

Assalamualaikun ustadz…

bagaimana hukumnya kalau ada orang sholat kemudian di pegang anak kecil yang belum disunnat?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Kalau cuman dipegang tidak masalah. Yangg batal apabila anak kecil tersebut digendong karena anak yang belum disunnat di quflahnya mengandung najis.

Sebenarnya dalam mas’alah Qulfah terjaadi hilaf. Menurut qaul ashohQulfah dihukumi sebagai anggota dhohir sehingga wajib disucikan. Dan menurut muqobilnya Qulfah dihukumi sebagai anggota batin sehingga tidak wajib disucikan. Dengan demikian berpijak pada dua qaul ini sholat orang tersebut dihukumi sah. Sebab meskipun berpijak pada qaul yang mengatakan anggota dlohir, kalau hanya bersentuhan atau menempel pada sesuatu (bayi) yang membawa najis tidak sampai membatalkan solat.

Catatan : Berpijak pada qaul ashoh, yang dapat membatalkan sholat dalam mas’alah ini adalah menggendong, mengikat, memegang merangkul, dan memangku anak kecil tersebut.

.قرة العين بفتاوى إسماعيل الزين ص 55

سؤال: ما قولكم فيمن يصلى فاعتنقه صبي لم يختتن وتعلق به ومعلوم أن ذلك الصبى لا بد من أن يحمل نجاسة في فرجه فهل صلاته مع ذلك صحيحة أم لا؟

الجواب: إذا كان معلوما أن الصبي المذكور يحمل نجاسة ظاهرة في جلدة قلفة الختان أو في ظاهر فرجه مثلا فصلاة من يحمله باطلة وإن لم يكن معلوما ولا مظنونا ظنا غالبا فصلاة من يحمله صحيحة عملا بأصل الطهارة(1). (1) أما مجرد مماسة لباس الصبي وتعلقه بالمصلي دون أن يحمله فلا تبطل به الصلاة وهو كمن يصلى ويضع تحت قدمه طرف الحبل المتصل بالنجاسة والله أعلم.

– ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺍﻟﺒﺠﻴﺮﻣﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻄﻴﺐ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻷﻭﻝ ﺹ 53 :

) ﻓﺮﻉ) ﻟﻮ ﺗﻌﻠﻖ ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﻲ ﺻﺒﻲ ﺃﻭ ﻫﺮﺓ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻣﻨﻔﺬﻫﻤﺎ ﻻ ﺗﺒﻄﻞ ﺻﻼﺗﻪ ﻷﻥ ﻫﺬﺍ ﻣﻤﺎ ﺗﻌﺎﺭﺽ ﻓﻴﻪ ﺍﻷﺻﻞ ﻭﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺇﺫ ﺍﻷﺻﻞ ﺍﻟﻄﻬﺎﺭﺓ ﻭﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻭﺧﺮﺝ ﺑﻘﻮﻟﻨﺎ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻣﻨﻔﺬﻫﻤﺎ ﻣﺎ ﻟﻮ ﻋﻠﻤﻪ ﺛﻢ ﻏﺎﺑﺖ ﺍﻟﻬﺮﺓ ﺃﻭ ﺍﻟﻄﻔﻞ ﺯﻣﻨﺎ ﻻ ﻳﻤﻜﻦ ﻓﻴﻪ ﻏﺴﻞ ﻣﻨﻔﺬﻫﻤﺎ ﻓﻬﻮ ﺑﺎﻕ ﻋﻠﻰ ﻧﺠﺎﺳﺘﻪ ﻓﺘﺒﻄﻞ ﺻﻼﺗﻪ ﻟﺘﻌﻠﻘﻬﻤﺎ ﺑﺎﻟﻤﺼﻠﻲ ﻭﻻ ﻳﺤﻜﻢ ﺑﻨﺠﺎﺳﺔ ﻣﺎ ﺃﺻﺎﺏ ﻣﻨﻔﺬﻫﻤﺎ ﻛﺎﻟﻬﺮﺓ ﺇﺫﺍ ﺃﻛﻠﺖ ﻓﺄﺭﺓ ﺛﻢ ﻏﺎﺑﺖ ﻏﻴﺒﺔ ﻳﻤﻜﻦ ﻃﻬﺮ ﻓﻤﻬﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﺍ ﻫـ ﻉ ﺵ ﻋﻠﻰ ﻡ ﺭ. ﻓﻼ ﺗﻨﺠﺲ ﻣﺎ ﺃﺻﺎﺑﻪ ﻓﻤﻬﺎ ﻭﻗﺪ ﻳﻘﺎﻝ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻣﺘﻴﻘﻨﺔ ﻭﺍﻟﻄﻬﺮ ﻣﺸﻜﻮﻙ ﻓﻴﻪ ﻓﻤﻘﺘﻀﺎﻩ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﻣﺎ ﺃﺻﺎﺑﻪ ﻓﻤﻬﺎ

– ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺹ 199 :
ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻏﻴﺮ ﻣﺨﺘﻮﻥ ﻓﻬﻞ ﻳﻠﺰﻣﻪ ﻓﻲ ﻏﺴﻞ ﺍﻟﺠﻨﺎﺑﺔ ﻏﺴﻞ ﻣﺎ ﺗﺤﺖ ﺍﻟﺠﻠﺪﺓ ﺍﻟﺘﻰ ﺗﻘﻄﻊ ﻓﻲ ﺍﻟﺨﺘﺎﻥ ﻓﻴﻪ ﻭﺟﻬﺎﻥ ﺣﻜﺎﻫﻤﺎ ﺍﻟﻤﺘﻮﻟﻲ ﻭﺍﻟﺮﻭﻳﺎﻧﻲ ﻭﺁﺧﺮﻭﻥ ﺃﺻﺤﻬﻤﺎ ﻳﺠﺐ ﺻﺤﺤﻪ ﺍﻟﺮﻭﻳﺎﻧﻲ ﻭﺍﻟﺮﺍﻓﻌﻲ ﻷﻥ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺠﻠﺪﺓ ﻣﺴﺘﺤﻘﺔ ﺍﻹﺯﺍﻟﺔ ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻟﻮ ﺃﺯﺍﻟﻬﺎ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﻟﻢ ﻳﻀﻤﻦ ﻭﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﺴﺘﺤﻘﺔ ﺍﻹﺯﺍﻟﺔ ﻓﻤﺎ ﺗﺤﺘﻬﺎ ﻛﺎﻟﻈﺎﻫﺮ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻻ ﻳﺠﺐ ﻭﺑﻪ ﺟﺰﻡ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﻋﺎﺻﻢ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ ﻻﻧﻪ ﻳﺠﺐ ﻏﺴﻞ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺠﻠﺪﺓ ﻭﻻ ﻳﻜﻔﻲ ﻏﺴﻞ ﻣﺎ ﺗﺤﺘﻬﺎ ﻓﻠﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﻛﺎﻟﻤﻌﺪﻭﻣﺔ ﻟﻢ ﻳﺠﺐ ﻏﺴﻠﻬﺎ ﻓﺒﻘﻰ ﻣﺎ ﺗﺤﺘﻬﺎ ﺑﺎﻃﻨﺎ

Wallahu a’lamu bisshowab..

T002 Haid bagi wanita hamil

PERTANYAAN :

Assalamu’laikum Wr Wb..

Mohon Pencerahannya Ustadz..

*Diskripsi Masalah*

Fatim Adalah Seorang Wanita Yang Baru Menikah, Setelah Beberapa Bulan Dari Pernikahannya Alhamdulillah Dokter Menyatakan Bahwa Dirinya Hamil, Namun Dalam Masa Kehamilannya Dirinya Sering Keluar Darah Seperti Haid Biasanya Terlebih Dalam Usia Kandungan Antara 2 BuLan Sampai 5 Bulan

*Pertanyaan*

1. Apakah Darah Yang Keluar Termasuk Haid?

2. Apakah Boleh Jika Dalam Masa Keluar Darah Dirinya Melakukan Sholat, Mengingat Darah Yang Keluar Sedang Dalam Masa Kehamilan?

JAWABAN :

1. Memang hukumnya khilaf, menurut qoul adzhar wanita hamil itu bisa haid, sedangkan muqobilul adzhar darah itu ialah darah fasid, bukan haid. sebagian ulama’ menyatakan sebab keluarnya darah dari wanita hamil ialah karena lemahnya anak (bayi) maka sesungguhnya anak tersebut mengambil makanan darah haid, maka tatkalanya melahirkan maka keluarlah darah tersebut dengan luber (mengalir banyak) maka sesungguhnya kelemahan (anak ini) itu terjadi pada bulan genap (masa kehamilan) conto bulan ke 2, ke 4 dll, maka ketahuilah anak itu mengambil makanan pokoknya (yaitu berupa darah haid) terjadi pada bulan-bulan ganjil masa kehamilan yaitu bulan 1, 3 dll, dan disebabkan ini anak yang lahir pada bulan-bulan ganjil : contoh bulan ke 9 / ke 7 pokoknya ganjil akan hidup sedangkan anak yang lahir pada bulan-bulan genap contoh bulan ke 8 ke akan mati.

[ Lihat al mizan al kubra juz 1 hal 140 atau bidayatul mujtahid 1/53 ]. khasiyah qolyubi wa umairoh 2/46 :

‎( وَالْأَظْهَرُ أَنَّ دَمَ الْحَامِلِ وَالنَّقَاءَ بَيْنَ ) دِمَاءِ ( أَقَلِّ الْحَيْضِ ) فَأَكْثَرَ ( حَيْضٌ ) أَمَّا فِي الْأُولَى فَلِأَنَّهُ بِصِفَةِ دَمِ الْحَيْضِ ، وَمُقَابِلُهُ فِيهَا يَقُولُ : هُوَ دَمُ فَسَادٍ إذْ الْحَمْلُ يَسُدُّ مَخْرَجَ دَمِ الْحَيْضِ .

– bidayatul mujtahid 1/53 :

وسبب اختلافهم في ذلك عسر الوقوف على ذلك بالتجربة واختلاط الأمرين فإنه مرة يكون الدم الذي تراه الحامل دم حيض وذلك إذا كانت قوة المرأة وافرة والجنين صغيرا وبذلك أمكن أن يكون حمل على حمل على ما حكاه بقراط وجالينوس وسائر الأطباء ومرة يكون الدم الذي تراه الحامل لضعف الجنين ومرضه التابع لضعفها ومرضها في الأكثر فيكون دم علة ومرض وهو في الأكثر دم علة.

– hasyiyah bujairomiy ‘alal khotib :

حاشية البجيرمي على الخطيب (3/ 236) ( والأظهر أن دم الحامل حيض ) وهو قول مالك والشافعي في أرجح قوليهما أنها تحيض ، وقال أبو حنيفة وأحمد : إن الحامل لا تحيض وما تراه من الدم فهو دم فساد ، وفائدة الخلاف أنها على الأول لا تصوم ولا تلزمها الصلاة ، وعلى الثاني تصوم وتصلي أَمَّا الدَّمُ الَّذِي يَخْرُجُ قَبْلَ الْوِلَادَةِ فَهُوَ دَمُ حَيْضٍ عِنْدَهُمْ –عبد الرحمن الجزيري، الفقه على مذاهب الأربعة، بيروت-دار الفكر، الطبعة الأولى، 1417 هـ /1996 م، ج، 1، ص. 124

“Bahwa darah yang keluar sebelum melahirkan maka itu adalah darah haid menurut pendapat mereka (kalangan Madzhab Maliki)”. (al-Juzairi, al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba`ah, Bairut-Dar al-Fikr, cet ke-1, 1417 H/1996 M, juz, I, h. 124)

Pendapat Kedua, dari Madzhab Hanafi, bahwa darah yang keluar sebelum melahirkan adalah darah istihadlah. Karena perempuan yang hamil itu tidak mengalami haid. Pandangan ini didasarkan pada ibarah dibawah ini.

قَوْلُهُ : وَالدَّمُ الَّذِي تَرَاهُ الْحَامِلُ أَوْ مَا تَرَاهُ الْمَرْأَةُ فِي حَالِ وِلَادَتِهَا قَبْلَ خُرُوجِ أَكْثَرِ الْوَلَدِ اسْتِحَاضَةٌ ) وَإِنْ بَلَغَ نِصَابَ الْحَيْضِ ؛ لِأَنَّ الْحَامِلَ لَا تَحِيضُ (أبو بكر بن علي بن محمد الحداد اليمني، الجوهرة النيرة على مختصر القدوري، باكستان-مكتبة حقانية، ج، 1،ص. 39 “

(Darah yang dilihat perempuan hamil, atau darah yang dilihat seorang perempuan ketika melahirkan sebelum keluar sebagain besar bayi yang lahir, adalah darah istihadlah), dan sekalipun telah sampai batasan haid, karena orang yang hamil itu tidak mengalami haidl.” (Abu Bakr bin Ali bin Muhammad al-Haddad al-Yamani, al-Jauharah an-Nayyirah ‘ala Mukhtashar al-Quduri, Pakistan-Maktabah Haqqaniyyah, tt, juz, 1, h. 39).

Pendapat Ketiga, dari Madzhab Syafii, bahwa jika seeorang yang hamil melihat darah yang keluar sebelum melahirkan maka menurut qaul jadid, meskipun ini jarang terjadi, dikategorikan darah haid. Namun hal ini dengan catatan darah tersebut sesuai dengan syarat-syarat darah haid, baik dari segi sifat maupun ukurannya. Maksudnya adalah ciri-cirinya dan masa keluarnya, yaitu paling sedikit satu hari satu malam dan paling lama 15 hari. Jika tidak demikian maka itu dikatakan darah fasid atau darah istihadlah. pandangan ini didasarkan pada perkataan al-Mawardi dibawah ini:

وَالْقَوْلُ الثَّانِي : وَهُوَ قَوْلُهُ فِي الْجَدِيدِ : أَنَّ دَمَ الْحَامِلِ إِذَا ضَارَعَ الْحَيْضَ فِي الصِّفَةِ وَالْقَدْرِ كَانَ حَيْضًا (أبو الحسن الماوردي، الحاوي الكبير، بيرروت-دار الفكر، ج، 10، ص. 295)

“Pendapat yang kedua yaitu qaul jadid Imam Syafii, bahwa darah yang keluar dari orang hamil ketika menyerupai darah haid baik dari sifat dan ukurannya itu adalah darah haid”. (Abu al-Hasan al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, XI, h. 295). Pendapat Keempat, dari Madzhab Hanbali, bahwa darah yang keluar saat hamil adalah darah fasid kecuali darah tersebut keluar dua hari atau tiga hari sebelum melahirkan maka disebut darah nifas, tetapi dengan disertai tanda-tanda melahirkan. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Qudamah.

(مَسْأَلَةٌ : قَالَ وَالْحَامِلُ لَا تَحِيضُ ، إلَّا أَنْ تَرَاهُ قَبْلَ وِلَادَتِهَا بِيَوْمَيْنِ ، أَوْ ثَلَاثَةٍ فَيَكُونُ دَمَ نِفَاسٍ مَذْهَبُ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّ الْحَامِلَ لَا تَحِيضُ ، وَمَا تَرَاهُ مِنْ الدَّمِ فَهُوَ دَمُ فَسَادٍ وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ التَّابِعِينَ– ابن قدامة، المغني، رياض- دار عالم الكتب، ج، 1، ص. 443

“(Masalah: Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa orang hamil itu tidak mengalami haid, tetapi jika ia melihat darah sebelum melahirkan dua hari atau tiga hari maka darah tersebut adalah darah nifas). Madzhab Abi Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal) rahimahullah menyatakan bahwa orang hamil tidak mengalami haid, sedang darah yang dilihatnya (saat hamil) adalah darah fasid. Pendapat ini sama dengan pendapat mayoritas tabiin.” (Ibnu Qudamah, al-Mughni, Riyadl-Daru ‘Alam al-Kutub, tt, juz, 1, h. 443).

Setelah kita mengetahui pelbagai pandangan para ulama, maka hemat kami pandangan yang menyatakan bahwa darah yang keluar pada saat hamil adalah darah fasid atau istihadlah. Dan seseorang yang mengalaminya tetap berkewajiban menjalankan shalat fardlu dengan terlebih dahulu membersihkan darah tersebut kemudian berwudlu. Sebab darah yang keluar tersebut bukan darah haid. Hal ini sejalan dengan pendangan medis yang menyatakan bahwa perempuan yang hamil tidak mengalami haid. Oleh karenanya, kami menyarankan ketika ada seorang perempuan hamil dan ditengah-tengah kehamilannya mengeluarkan darah maka sebaikanya segera berkonsultasi dengan dokter.

2. Tentang hukum shalatnya tidak boleh atau tidak sah jika mengikuti pendapat yang menghukumi haid ketika hamil.

Wallahu a’lamu bisshowab..

CARA WUDUK DAN SHOLAT BAGI PENDERITA PENYAKIT BESER ATAU PROSTAD

PERTANYAAN : Assalamualaikum ustadz.. Mau nanya, Bagaimana cara wudu’nya orang yang punya penyakit prostad/beser (kencingnya pakai sellang) dan bagaimana cara sholatnya?” JAWABAN : Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. Dari sudut pandang syariah, orang yang menderita beser termasuk udzur dan diberlakukan hukum dan dispensasi khusus sebagaimana yang berlaku pada wanita istihadah. Al-Jaziri dalam Al-Fiqh alal Mazahib al-Arba’ah, hlm. 1/81, mengutip pendapat mazhab Syafi’i sbb:

الشافعية قالوا : ما خرج على وجه السلس يجب على صاحبه أن يتحفظ منه بأن يحشو محل الخروج ويعصبه : فإن فعل ثم توضأ . ثم خرج منه شيء فهو غير ضار في إباحة الصلاة وغيرها بذلك الوضوء . إنما يشترط لاستباحة العبادة بهذا الوضوء شروط

Artinya: Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa air yang keluar karena beser maka wajib dijaga dengan cara menutup tempat keluarnya dan mengikatnya dengan kain. Apabila ia sudah melakukan itu lalu berwudhu, lalu keluar sesuatu (kencing) darinya maka itu tidak merusak kebolehan shalat dan lainnya dengan wudhu tersebut. Namun diberlakukan sejumlah syarat untuk bolehnya ibadah dengan cara wudhu seperti ini Adapun syarat-syaratnya sebagai berikut: (a) Saat masuk waktu shalat fardhu, sebelum mengambil air wudhu, terlebih dahulu siapkan baju dan pakaian dalam yang suci. (b) bersihkan jalan keluar air kencing (cebok) dengan bersih. (c) jalan keluar air kencing disumbat dengan kapas bagi wanita atau gunakan kain seperti kain perban untuk laki-laki atau yang lebih praktis gunakan pampers untuk dewasa, barulah menggunakan pakaian dalam yang bersih dan suci. (d) Mengambil air wudhu secara sempurna. (e) Segera lakukan shalat. CATATAN PENTING ; – Wudhu khusus penderita beser ini hanya berlaku untuk satu kali salat wajib. Namun bisa ditambah dengan shalat sunnah berkali-kali. – Niat wudhunya adalah [نويت بوضوئي أن يبيح الشارع لي به الصلاة] “Saya niat wudhu untuk bolehnya shalat”. Niat khusus ini dilakukan karena memang ini bukan wudhu yang sebenarnya. Tapi wudhu dispensasi Islam agar bisa melaksanakan shalat dengan wudhu khusus ini. – Antara cebok, menutup kemaluan dengan kain, wudhu dan kemudian shalat harus dilakukan dengan tertib dan segera (muwalat). Tidak boleh ada perbuatan lain yang menyelanya. Kalau itu dilakukan maka batal wudhunya. Kecuali kalau perbuatan penyela itu ada kaitan dengan shalat. Misalnya, setelah wudhu ia berjalan menuju masjid. Atau setelah wudhu ia diam menunggu imam untuk shalat berjamaah, maka diamnya itu tidak membatalkan wudhu. – Menyumbat lobang kencing dengan kapas itu dilakukan apabila tidak sedang puasa. Kalau sedang pua Teks Arab dan uraian detail dari madzhab Syafi’i dan non-Syafi’i lihat di sini. Al-Bakri (mazhab Syafi’i) dalam Ianah At-Thalibin Syarah Fathul Muin, 1/47 menyatakan:

وحاصل ما يجب عليه – سواء كان مستحاضة أو سلسا – أن يغسل فرجه أولا عما فيه من النجاسة، ثم يحشوه بنحو قطنة – إلا إذا تأذى به أو كان صائما – وأن يعصبه بعد الحشو بخرقة إن لم يكفه الحشو لكثرة الدم، ثم يتوضأ أو يتيمم، ويبادر بعده إلى الصلاة، ويفعل هكذا لكل فرض وإن لم تزل العصابة عن محلها.

Artinya: Adapun hasil (kesimpulan) sesuatu yang wajib atasnya (Daimul hadas) itu sama saja ada pada Istihadoh (berdarah penyakit) atau orang yang terus menerus kencing agar dibasuhnya farjinya lebih dulu dari najis, kemudian disumpal dengan seumpama kapas kecuali jika hal tersebut menyakitinya atau sedang berpuasa. Dan hendaknya mengikat atau membalut (kemaluan) dengan kain perca jika sekiranya tidak cukup untuk disumpal saja, karena banyaknya darah, kemudian segeralah berwudu dan sesudah itu bersegeralah sholat. Lakukan hal ini untuk setiap satu shalat fardhu walaupun perban atau pembalut masih tetap berada di tempatnya. Tata Cara Orang yang Terkena Istihadho atau Beser sebagai berikut ; Orang yang beser. Cara yang harus dilakukan adalah dengan mensucikan kemaluan/farji, setelah itu disumbat dengan pembalut atau kapas. Barulah kemudian berwudlu dengan menyegerakan shalat. Penderita keputihan dan orang yang beser tidak boleh menunda-nunda shalat setelah berwudlu, kecuali untuk kemaslahatan shalat seperti menjawab adzan atau menunggu jamaah. Dasar Pengambilan :

( قَوْلُهُ وَرُطُوبَةٍ فَرْجٍ) هِيَ مَاءٌ أَبْيَضُ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ الْمَذْيِ وَالْعَرَقِ وَمَحِلُّ ذَلِكَ إذَا خَرَجَتْ مِنْ مَحَلٍّ يَجِبُ غَسْلُهُ ، فَإِنْ خَرَجَتْ مِنْ مَحِلٍّ لَا يَجِبُ غَسْلُهُ فَهِيَ نَجِسَةٌ ؛ لِأَنَّهَا رُطُوبَةٌ جَوْفِيَّةٌ وَهِيَ إذَا خَرَجَتْ إلَى الظَّاهِرِ يُحْكَمُ بِنَجَاسَتِهَا وَإِذَا لَاقَاهَا شَيْءٌ مِنْ الطَّاهِرِ تَنَجَّسَ. حاشية الجمل. الجز 2.صفحة 149.

(Pernyataan cairan dalam kemaluan) yaitu cairan putih yang ambigu antara madzi dan keringat. Titik tekan masalah ini, yaitu ketika cairan itu keluar dari tempatnya yang wajib membersihkannya. Apabila cairan itu keluar dari tempat yang tidak wajib dibersihkan maka dihukumi najis, karena hal itu merupakan cairan dari dalam. Apabila cairan itu keluar dari anggota dzahir, maka dihukumi najis. Apabila sesuatu yang suci bersentuhan dengannya maka menjadi mutanajis. Dasar Pengambilan:

والاستحاضة كسلس فلا تمنع ما يمنعه الحيض فيجب أن تغسل مستحاضة فرجها فتحشوه فتعصبه بشرطهما فتطهر لكل فرض وقته وتبادر به ولا يضر تأخيرها لمصلحة كستر وانتظار جماعة. منهج الطلاب. الجز 1. صفحة 26.

Istihadzah (darah penyakit) itu seperti orang yang beser, maka orang yang istihadzah tidak tercegah melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh orang yang haid. Maka wajib bagi seorang yang istihadzah untuk mensucikan farjinya, menyumpal dan membalutnya sesuai dengan syarat-syaratnya, kemudian berwudlu. Hal ini wajib dilakukan setiap akan menjalankan shalat fardlu dan bersegera menjalankannya. Mengakhirkan shalat (setelah wudlu) diperboleh bila untuk kemaslahatan seperti menutup aurat atau menunggu jamaah.

والأصل في النية حديث الصحيحين المشهور « إنما الأعمال بالنيات » ( ومن دام حدثه كمستحاضة ) ومن به سلس البول ( كفاه نية الاستباحة ) كغيره ( دون الرفع ) لبقاء حدثه ( على الصحيح فيهما ) وقيل : لا تكفي نية الاستباحة ، بل لا بد من نية الرفع معها لتكون نية الرفع للحدث السابق ونية الاستباحة للاحق . وقيل : تكفي نية الرفع لتضمنها لنية الاستباحة . ( ومن نوى تبردا مع نية معتبرة ) كنية مما تقدم ( جاز ) له ذلك أي لم يضره في النية المعتبرة ( على الصحيح ) لحصوله من غير نية . والثاني يضره للإشراك في النية بين العبادة وغيرها ونية التنظيف كنية التبرد فيما ذكر ( أو ) نوى ( ما يندب له الوضوء كقراءة ) أي نوى الوضوء لقراءة القرآن أو نحوها ، ( فلا ) يجوز له ذلك ، أي لا يكفيه في النية ( في الأصح ) لأن ما يندب له الوضوء جائز مع الحدث فلا يتضمن قصده قصد رفع الحدث ، والثاني يقول قصده حالة كماله ، فيتضمن قصده ما ذكر . حاشيتان قليوبي وعميرة – الجزء الأول – ص 52 – 53

Wallahu a’lamu bisshowab..

S002 Lewat di depan orang yang sedang sholat

PERTANYAAN :

Assalamualaikum wr wb.. ingin tanya,
Hukum lewat di depan sholat itu kan gak boleh / di larang keras.
Pertanyaannya bagaimana kalau seperti di masjidil haram makkah?

JAWABAN :

Seandainya orang yang sedang sholat memakai sutroh seperti sajadah misalnya maka haram melintasi di sekitar sajadah tersebut, dan ada pendapat dari imam Ghozali bahwa hal tersebut tidak haram akan tetapi makruh. Dan disunnahkan bagi orang yang sholat tersebut untuk menghadangnya dengan tangannya jika ada orang yang melintasinya. Namun ada beberapa hal yang dikecualikan akan keharamannya melintasi orang yang sedang sholat yaitu :

  1. Jika orang sholat di masjidil harom maka boleh bagi orang lain melintasinya. ( ini berlaku selama ia sholatnya di batasan yang diperbolehkannya thowaf).
  2. Jika ada seseorang yang sholat akan tetapi dia sholatnya di tempat yang orang biasa lalu lalang seperti dia sholat di depan pintu.
  3. Seandainya ada tempat yang kosong maka boleh bagi seseorang melintasi orang orang yang sedang sholat untuk mengisi tempat tersebut.
  4. Jika dia dalam keadaan terdesak seperti dia akan buang hajat ketika sholat sedangkan dia misalkan berada di shof atau barisan awal maka boleh baginya untuk melintasi orang orang untuk menunaikan hajatnya.

Boleh terpaksa lewat di depan orang shalat, bila darurat tidak ada jalan lain.

Referensi ;

– Taqrirot Sadidah :

التقريرات السديدة ج ١ ص ٢٥٠

إذا كانت السترة معتبرة فيحرم المرور و نقل الإمام النووي في مجموعه قولا عن الإمام الغزالي : أنه يكره المرور و لا يحرم و في هذا سعة لكثير من الناس و يندب للمصلي دفع المار

و يجوز المرور مع وجود السترة في أربع حالات :

١. إذا كان في حرم مكة في محل الطواف فقط

٢. إذا قصر المصلي بأن صلى في الطريق

٣. إذا وجد المصلى فرجة فيجوز له المرور لسد الفرجة

٤. إذا كان مضطرا بأن كان يريد قضاء الحاجة أثناء الصلاة

– AlMajmu’ :

المجموع شرح المهذب

( المسألة الثانية ) إذا صلى إلى سترة حرم على غيره المرور بينه وبين السترة ، ولا يحرم وراء السترة . وقال الغزالي ” يكره ولا يحرم ” والصحيح [ ص: 228 ] بل الصواب أنه حرام ، وبه قطع البغوي والمحققون ، واحتجوا بحديث أبي الجهيم الأنصاري الصحابي رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : { لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه ؟ لكان أن يقف أربعين خيرا له من أن يمر بين يديه } رواه البخاري ومسلم ، وفي رواية رويناها في كتاب الأربعين للحافظ عبد القادر الرهاوي : { لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه من الإثم }

– Fatkhul ‘Alam :

فتح العلام

واعتمد الأسنوي ما نقله الإمام عن الأئمة من جواز المرور حيث لا طريق غير ما بين المصلي وسترته كما في الكردي وبشرى الكريم

– AlHawasyi AlMadinah :

الحواشي المدنية

قال الأذرعي لا شك في حل المرور اذا لم يجد طريقا سواه عند ضرورة خوف نحو بول أو لعذر يقبل منه وكل ما رجحت مصلحته على مفسدة المرور فهو في معنى ذلك

•••••••••••○○○○○○○•••••••••••

LEWAT DI DEPAN ORANG YANG SEDANG SHOLAT ADA TIGA PENJELASAN :

Pertama,
Menurut pendapat yang shohih lewat didepan orang yang sedang sholat (maksutnya tempat antara tempat meletakkan kening ketika sujud dan kedua telapak kaki orang yang sedang sholat) baik sholat yang sedang dikerjakan adalah sholat fardhu atau sholat sunat, dan baik sholatnya sholat jama’ah atau sendirian, jika dilakukan oleh orang yang sudah mukallaf dengan sengaja bahkan menurut Al-Azizi hal tersebut masuk dalam kategori dosa besar. Ketentuan hukum ini berdasarkan hadits Nabi ;

لَوْ يَعْلَمُ المَارُّ بَيْنَ يَدَيِ المُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ، لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

“Seandainya orang yang lewat di depan orang yang sholat mengetahui dosa yang akan dipikulnya maka ia lebih baik berdiri empat puluh hari daripada harus lewat di depannya”.(Shohih Bukhori, no.510 dan Shohih Muslim, no.507).

Dan diqiyaskan dengan lewat didepan orang sholat, duduk, menjulurkan kaki dan berbaring didepan orang yang sedang sholat. Begitu juga menjulurkan tangan untuk mengambil sesuatu didepan orang yang sedang sholat, karena hal tersebut bisa mengganggu orang yang sedang sholat.

Kedua,
Ketentuan hukum haromnya lewat didepan orang yang sedang sholat ini berlaku jika orang yang sedang sholat tersebut memakai”sutroh” (penghalang atau penanda) didepannya, hal ini dipahami dari anjuran untuk mencegah orang yang lewat didepan orang yang sedang sholat yang sudah memakai sutroh sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi ;

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنْ اَلنَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

“Apabila seseorang di antara kamu sholat dengan memasang batas yang membatasinya dari orang-orang lalu ada seseorang yang hendak lewat di hadapannya, maka hendaklah ia mencegahnya. Bila tidak mau perangilah dia sebab dia sesungguhnya adalah setan”. (Shohih Bukhori, no.509 dan Shohih muslim, no.505)

Begitu juga keharoman lewat didepan orang yang sedang sholat ini masih berlaku jika sewaktu sholat ia memakai sutroh, lalu sutroh tersebut hilang, misalnya karena tertiup angin atau diambil orang dan orang yang lewat tersebut mengetahuinya.
Dari keterangan diatas bisa dipahami bahwa jika orang yang sedang sholat tidak memakai sutroh, maka tidak diharomkan lewat didepannya, namun hukumnya makruh sebagaimana dijelaskan oleh Imam Nawawi.

Ketiga,
Meskipun tidak ada tempat lainnya bagi seseorang selain lewat didepan orang yang sedang sholat tetap tidak diperkenankan untuk lewat didepan orang yang sedang sholat, sebagaimana diceritakan oleh Abu Sholih bin As-Samman dalam satu hadits ;

رَأَيْتُ أَبَا سَعِيدٍ الخُدْرِيَّ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ يُصَلِّي إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ، فَأَرَادَ شَابٌّ مِنْ بَنِي أَبِي مُعَيْطٍ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَدَفَعَ أَبُو سَعِيدٍ فِي صَدْرِهِ، فَنَظَرَ الشَّابُّ فَلَمْ يَجِدْ مَسَاغًا إِلَّا بَيْنَ يَدَيْهِ، فَعَادَ لِيَجْتَازَ، فَدَفَعَهُ أَبُو سَعِيدٍ أَشَدَّ مِنَ الأُولَى، فَنَالَ مِنْ أَبِي سَعِيدٍ، ثُمَّ دَخَلَ عَلَى مَرْوَانَ، فَشَكَا إِلَيْهِ مَا لَقِيَ مِنْ أَبِي سَعِيدٍ، وَدَخَلَ أَبُو سَعِيدٍ خَلْفَهُ عَلَى مَرْوَانَ، فَقَالَ: مَا لَكَ وَلِابْنِ أَخِيكَ يَا أَبَا سَعِيدٍ؟ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَلْيَدْفَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

“Pada hari jum’at aku melihat Abu Sa’id Al Khudri shalat menghadap sesuatu yang membatasinya dari orang-orang (yang lewat). Kemudian ada seorang pemuda dari Bani Abu Mu’aith hendak lewat di depannya. Maka Abu Sa’id menghalangi orang itu dengan menahan dadanya. Pemuda itu mencari jalan tapi tidak ada kecuali di depan Abu Sa’id. Maka pemuda itu mengulangi lagi untuk lewat. Abu Sa’id kembali menghadangnya dengan lebih keras dari yang pertama. Kemudian pemuda itu pergi meninggalkan Abu Sa’id dan menemui Marwan, ia lalu mengadukan peristiwa yang terjadai antara dirinya dengan Abu Sa’id. Setelah itu Abu Sa’id ikut menemui Marwan, Marwan pun berkata, “Apa yang kau lakukan terhadap anak saudaramu ini, wahai Abu Sa’id?” Abu Sa’id menjawab, “Aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang membatasinya dari orang, kemudian ada seseorang yang hendak lewat dihadapannya maka hendaklah dicegah. Jika dia tidak mau maka perangilah dia, karena dia adalah setan”. (Shohih Bukhori, no.509)

Sedangkan menurut Imam Haromain, Imam Ghozali, Imam Al-Isnawi dan beberapa ulama’ lainnya hukumnya dari kalangan madzhab Syafi’i boleh lewat didepan orang yang sedang sholat jika tak ada jalan lainnya. Dan ini juga merupakan pendapat tiga Imam Madzhab. Begitu juga diperbolehkan lewat jika memang terpaksa (dhorurot ) seperti jika takut akan kencing sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Adzro’i.

Ibarot :
Subulus Salam, Juz : 1 Hal : 213

والحديث دليل على تحريم المرور بين يدي المصلي؛ أي ما بين موضع جبهته في سجوده وقدميه، وقيل غير هذا، وهو عام في كل مصل، فرضا أو نفلا، سواء كان إماما أو منفردا، يختص بالإمام والمنفرد، إلا المأموم فإنه لا يضره من مر بين يديه؛ لأن سترة الإمام سترة له، إلا أنه قد رد هذا القول بأن السترة إنما ترفع الحرج عن المصلي لا عن المار، ثم ظاهر الوعيد يختص بالمار لا بمن وقف عامدا مثلا بين يدي المصلي، أو قعد أو رقد، ولكن إذا كانت العلة فيه التشويش على المصلي فهو في معنى المار

Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 3 Hal : 249

المسألة الثانية : إذا صلى الي سترة حرم علي غبره المرور بينه وبين السترة ولا يحرم وراء السترة وقال الغزالي يكره ولا يحرم والصحيح بل الصواب انه حرام وبه قطع التغوى والمحققون واحتجوا بحديث أبى الجهيم الانصاري الصاحبي رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ” لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه لكان أن يقف أربعين خيرا له من أن بمر بين يديه ” رواه البخاري ومسلم وفي رواية رويناها في كتاب الأربعين للحافظ عبد القادر الرهاوي ” لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه من الإثم ” وعن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” إذا صلي احدكم إلى شئ يستره من الناس فأراد أحد أن يجتاز بين يديه فليدفعه فإن أبى فليقاتله فإنما هو شيطان ” رواه البخاري ومسلم –الى أن قال- أما إذا لم يكن بين يديه سترة لو كانت وتباعد عنها فوجهان أحدهما له الدفع لتقصير المار وأصحهما ليس له الدفع لتقصيره بترك السترة ولمفهوم قوله صلى الله عليه وسلم ” إذا صلى احدكم الي شئ يستره ” ولا يحرم في هذه الحالة المرور بين يديه ولكن يكره

فرع : إذا وجد الداخل فرجة في الصف الأول فله أن يمر بين يدي الصف الثاني ويقف فيها لتقصير أهل الصف الثاني بتركها

فرع : قال إمام الحرمين النهى عن المرور الامر بالدفع إنما هو إذا وجد المار سبيلا سواه فإن لم يجد وازدحم الناس فلا نهي عن المرور ولا يشرع الدفع وتابع الغزالي إمام الحرمين على هذا قال الرافعي وهو مشكل ففي صحيح البخاري خلافه وأكثر كتب الأصحاب ساكتة عن التقييد بما إذا وجد سواه سبيلا

قلت : الحديث الذي في صحيح البخاري عن أبي صالح السمان فال ” رأيت أبا سعيد الخدري رضي الله عنه في يوم جمعة يصلى الي شئ يستره من الناس فأراد شاب أن يجتاز بين يديه فدفع أبو سعيد في صدره فنظر الشاب فلم يجد مساغا إلا بين يديه فعاد ليجتاز فدفعه أبو سعيد أشد من الأول فنال من أبي سعيد ثم دخل على مروان فشكا إليه ما لقي من أبي سعيد ودخل أبو سعيد خلفه على مروان فقال مالك ولابن أخبك يا أبا سعيد قال سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول إذا صلى أحدكم إلى شئ يستره من الناس فأراد أحد أن يجتاز بين يديه فليدفعه فإن أبى فليقاتله فإنما هو شيطان ” رواه البخاري ومسلم

Hasyiyah Qulyubi Ala Syarhil Mahalli, Juz : 1 Hal : 219

والصحيح تحريم المرور حينئذ) أي حين سن الدفع قال – صلى الله عليه وسلم – «لو يعلم المار بين يدي المصلي ماذا عليه لكان أن يقف أربعين خيرا له من أن يمر بين يديه» رواه الشيخان هو بعد حمله على المصلي إلى سترة محتمل للكراهة المقابلة للصحيح وظاهر في التحريم، ويدل عليه نصا رواية البخاري من الإثم بعد قوله عليه، ولو صلى من غير سترة أو تباعد عنها فليس له الدفع لتقصيره، ولا يحرم المرور بين يديه

[حاشية قليوبي]

قوله: (وتحريم المرور) أي على العامد العالم المكلف المعتقد للحرمة، وإن زالت السترة كما مر. ويحرم على الولي تمكين موليه غير المكلف من المرور. نعم إن قصر المصلي بوقوفه في محل المرور لم يحرم المرور ولا يسن الدفع. قوله: (أربعين) في رواية البزار «أربعين خريفا» أي عاما. قوله: (ظاهر في التحريم) أي من لفظ عليه، فقدم على الندب وعليه، فالدفع أخف لأنه كالتنبيه. قوله: (رواية البخاري) فيه رد على من قال كابن حجر، إن لفظة من الإثم لم توجد في رواية. قوله: (أو تباعد عنها) ومن التباعد مجاوزة أعلى المصلي، أو الخط على ثلاثة أذرع من موقف المصلي، وإن لم يكن طولهما ثلاثة أذرع. قوله: (إلى سترة) خرج المصلي على سترة، كالسجادة لأن الصلاة عليه لا إليه

Hasyiyah Asy-Syibromilsi Ala Nihayatul Muhtaj, Juz : 2 Hal : 54

والصحيح تحريم المرور) بينه وبين سترته حينئذ: أي عند سن دفعه، وهو في صلاة صحيحة في اعتقاد المصلي فيما يظهر فرضا كانت أو نفلا

………………………………………………….

قوله: والصحيح تحريم المرور) قال سم على حج: ويلحق بالمرور جلوسه بين يديه ومده رجليه واضطجاعه. اهـ بالمعنى. وقوله ومده رجليه ومثله مد يده ليأخذ من خزانته متاعا؛ لأنه يشغله وربما شوش عليه في صلاته

Hasyiyah Asy-Syarwani Ala Tuhfatul Muhtaj, Juz : 2 Hal : 159-160

قول المتن (تحريم المرور) أي على المكلف العالم م ر اهـ سم وفي البجيرمي عن العزيزي أنه من الكبائر أخذا من الحديث اهـ.

(قوله أي حين إذ سن له الدفع) أي وهو في صلاة صحيحة في اعتقاد المصلي فيما يظهر فرضا كانت أو نفلا شرح م ر اهـ سم (قوله وإن لم يجد المار سبيلا) نعم قد يضطر المار إلى المرور بحيث تلزمه المبادرة لأسباب لا يخفى كإنذار نحو مشرف على الهلاك تعين المرور لإنقاذه شرح م ر اهـ سم قال ع ش قوله م ر كإنذار نحو مشرف إلخ أو خطف نحو عمامته وتوقف إنقاذها من السارق على المرور فلا يحرم المرور بل يجب في إنقاذ نحو المشرف ويحرم على المصلي الدفع إن علم بحاله اهـ

وعبارة الكردي وفي الإيعاب قال الأذرعي ولا شك في حل المرور إذا لم يجد طريقا سواه عند ضرورة خوف نحو بول أو لعذر يقبل منه وكل ما رجحت مصلحته على مفسدة المرور فهو في معنى ذلك انتهى وما ذكره في الضرورة ظاهر بخلاف ما بعده على إطلاقه انتهى كلام الإيعاب ونقل الإمام عن الأئمة جواز المرور إن لم يجد طريقا واعتمده الإسنوي والعباب وغيرهما اهـ

Hasyiyah Al-Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1 Hal : 250-251

وحرم مرور) وإن لم يجد المار سبيلا آخر لخبر «لو يعلم المار بين يدي المصلي – أي: إلى السترة – ماذا عليه من الإثم لكان أن يقف أربعين خريفا خيرا له من أن يمر بين يديه» رواه الشيخان إلا من الإثم فالبخاري،، وإلا خريفا فالبزار، والتحريم مقيد بما إذا لم يقصر المصلي بصلاته في المكان، وإلا كأن وقف بقارعة الطريق فلا حرمة، بل ولا كراهة، كما قاله في الكفاية أخذا من كلامهم، وبما إذا لم يجد المار فرجة أمامه، وإلا فلا حرمة، بل له خرق الصفوف، والمرور بينها ليسد الفرجة، كما قاله في الروضة كأصلها، وفيها لو صلى بلا سترة، أو تباعد عنها، أي: أو لم تكن بالصفة المذكورة، فليس له الدفع لتقصيره، ولا يحرم المرور بين يديه لكن الأولى تركه فقوله في غيرها: ” لكن يكره ” محمول على الكراهة غير الشديدة

قوله: وحرم مرور) وهو من الكبائر، أخذا من الحديث اهـ عزيزي، وهو معطوف على قوله: فيسن إلخ فيكون مرتبا على الصلاة لنحو جدار فكان المناسب الإتيان بالمضارع، ويلحق بالمرور الجلوس بين يديه، ومد رجليه، واضطجاعه ع ش ولو أزيلت سترته حرم على من علم بها المرور، كما بحثه الأذرعي لعدم تقصيره، وقياسه أن من استتر بسترة يراها مقلده، ولا يراها مقلد المار، تحريم المرور ولو قيل باعتبار اعتقاد المصلي في جواز الدفع، وفي تحريم المرور باعتبار اعتقاد المار، لم يبعد وكذا إن لم يعلم مذهب المصلي ولو صلى بلا سترة فوضعها غيره اعتد بها –الى أن قال _ قوله: مقيد بما إذا لم يقصر المصلي إلخ) يؤخذ منه أنه لو لم يجد محلا يقف فيه إلا باب المسجد لكثرة المصلين كيوم الجمعة مثلا حرم المرور، وسن له الدفع وهو محتمل، ويحتمل عدم حرمة المرور لاستحقاقه المرور في ذلك المكان على أنه قد يقال بتقصير المصلي حيث لم يبادر للمسجد بحيث يتيسر له الجلوس في غير الممر وهذا أقرب.

(قوله: بقارعة الطريق) أي: أو شارع أو درب ضيق، أو باب نحو مسجد كالمحل الذي يغلب مرور الناس فيه وقت الصلاة ولو في المسجد كالمطاف قال شيخنا ع ش وليس منه ما جرت به العادة من الصلاة برواق ابن معمر بالجامع الأزهر، فإن هذا ليس محلا للمرور غالبا، نعم ينبغي أن يكون منه ما لو وقف في مقابلة الباب، اهـ. برماوي (قوله: وبما إذا لم يجد المار فرجة) ليس بقيد، بل المدار على السعة ولو بلا خلاء بأن يكون بحيث لو دخل بينهم لوسعوه، كما سيصرح به في شروط الاقتداء ح ل. (قوله: بل له خرق الصفوف) وإن تعددت وزادت على صفين بخلاف ما سيأتي في الجمعة من تخطي الرقاب، حيث يتقيد ذلك بصفين؛ لأن خرق الصفوف في حال القيام أسهل من التخطي؛ لأنه في حال القعود ح ل (قوله: ليسد الفرجة) وإن لزم عليه المرور بين يدي المصلين، وفيه تصريح بأنا لا نكتفي في السترة للمصلي بالصفوف ح ل وهو كذلك كما صرح به م ر. (قوله: وفيها إلخ) مراده بيان مفهوم قوله: وسن إلخ. (قوله: فليس له الدفع) أي: فيحرم عليه ذلك وإن تعذرت السترة بسائر أنواعها ز ي (قوله: ولا يحرم المرور) قال م ر في شرحه ولو استتر بسترة في مكان مغصوب لم يحرم المرور بينها وبينه، ولم يكره كما أفتى به الوالد اهـ. أي؛ لأنها لا قرار لها لوجوب إزالتها فهي كالعدم

Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 112

فائدة : يحرم المرور بين المصلي وسترته ، وإن لم يجد طريقاً ولو لضرورة كما في الإمداد والإيعاب ، لكن قال الأذرعي : ولا شك في حل المرور إذا لم يجد طريقاً سواء عند ضرورة خوف بول ، ككل مصلحة ترجحت على مفسدة المرور ، وقال الأئمة الثلاثة : يجوز إذا لم يجد طريقاً مطلقاً ، واعتمده الأسنوي والعباب وغيرهما اهـ كردي ، وبه يعلم جواز المرور لنحو الإمام عند ضيق الوقت أو إدراك جماعة اهـ باسودان. وقال في فتح الباري : وجواز الدفع وحرمة المرور عام ولو بمكة المشرفة ، واغتفر بعض الفقهاء ذلك للطائفين للضرورة عن بعض الحنابلة جوازه في جميع مكة اهـ

Wallahu a’lamu bisshowab..