Semua tulisan dari Musthofa AB

Alumni BATA-BATA Thn : 1995 - 2004

M026. SEPUTAR BUNGA BANK DAN BERTRANSAKSI DI DALAMNYA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana ketegasan hukum bunga hasil dari Bank konvensional. Sementara sudah lumrah semua elemen naruh uang di Bank tersebut dengan alasan keamanan.

Pertanyaannya ;

1. Bangaimana hukum bunga Bank?

2. Bolehkah meminjam modal dari Bank?

3. Apakah ada solusi ketika mendapatkan bunga dari Bank?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

1. HUKUM BUNGA BANK

Hukum bunga bank Khilaf, ada yang menghukumi Haram, Halal dan Syubat.

Ta`birnya :

بغية المسترشدين ص: 7 دار الفكر

يحرم على المفتى التساهل فى الفتيا وسؤال من عرف بذلك إما لعدم التثبت و المسارعة فى الجواب او لغرض فاسد كتتبع الحيل ولو مكروهة و التمسك بالشبه للترخيص على من يرجو نفعه و التعسي ر على ضده نعم إن طلب حيلة لا شبهة فيها ولا تجر الى مفسدة بل ليتخلص بها السائل عن نحو اليمين فى نحو الطلاق فلا بأس بل ربما يندب. أهـ Lanjutkan membaca M026. SEPUTAR BUNGA BANK DAN BERTRANSAKSI DI DALAMNYA

S029. SHALAT UNSI/ IHDA’ (HADIYAH KEPADA MAYIT)

PERTANYAAN :

Asslamualaikm wr wb..

Maaf ustdz, saya mau tanya. apa ya sholat untsi/ sholat yg dihadiahkan kepada mayyit? Dan apa boleh di lakukan? Mohon keterangannya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya Boleh bahkan sunnah.

اعانة الطالبين :
وقال المحب الطبري: يصل للميت كل عبادة تفعل عنه: واجبة أو مندوبة.

وفي شرح المختار لمؤلفه: مذهب أهل السنة أن للانسان أن يجعل ثواب عمله وصلاته لغيره ويصله

Ini hadist sholat Ihda’/ Unsi lil mayit :

ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻗﺎﻝ : ) ﻻ ﻳﺄﺗﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﺃﺷﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻴﻠﺔ ﺍﻷﻭﻟﻰ ، ﻓﺎﺭﺣﻤﻮﺍ ﻣﻮﺗﺎﻛﻢ ﺑﺎﻟﺼﺪﻗﺔ ، ﻓﻤﻦ ﻟﻢ ﻳﺠﺪ ﻓﻠﻴﺼﻞ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ، ﻳﻘﺮﺃ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺭﻛﻌﺔ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻓﺎﺗﺤﺔ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ، ﻭﺁﻳﺔ ﺍﻟﻜﺮﺳﻲ ، ﻭﺃﻟﻬﺎﻛﻢ ، ﻭﻗﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ ﺇﺣﺪﻯ ﻋﺸﺮﺓ ﻣﺮﺓ ، ﻭﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺑﻌﺚ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﻗﺒﺮﻩ ﻓﻼﻥ ﺍﺑﻦ ﻓﻼﻧﺔ ، ﻓﻴﺒﻌﺚ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺳﺎﻋﺘﻪ ﺇﻟﻰ ﻗﺒﺮﻩ ﺃﻟﻒ ﻣﻠﻚ ، ﻣﻦ ﻛﻞ ﻣﻠﻚ ﻧﻮﺭ ﻭﻫﺪﻳﺔ ، ﻳﺆﻧﺴﻮﻧﻪ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻩ ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﻳﻨﻔﺦ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻮﺭ ، ﻭﻳﻌﻄﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﺼﻠﻰ ﺑﻌﺪﺩ ﻣﺎ ﻃﻠﻌﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﺣﺴﻨﺎﺕ ﻭﻳﺮﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻪ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﺃﻟﻒ ﺩﺭﺟﺔ ﺃﻟﻒ ﺣﺠﺔ ﻭﻋﻤﺮﺓ ﻭﻳﺒﻨﻰ ﻟﻪ ﺃﻟﻒ ﻣﺪﻳﻨﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﻳﻌﻄﻰ ﺛﻮﺍﺏ ﺃﻟﻒ ﺷﻬﻴﺪ ﻭﻳﻜﺴﻰ ﺃﻟﻒ ﺣﻠﺔ.

R. KH. Abdul Hamid Bin Istsbat Banyuanyar dalam Kitab karangannya (Tarjuman hal : 117 -118) menjelaskan, selai bersedekah untuk mayit dianjurkan juga Shalat Ihda’ bagi mayit.

Ini niat shalat ihda’/Unsi :

اصلي سنة لاهداء ثوابها الى فلان….. الميت ركعتين لله تعالى.

Bacaan setelah Fatihah adalah Ayat Kursi, Al-Takatsur dan Suroh Ikhlas 11x.

Setelah salam membaca do’a :

اللهم إني صليت هذه الصلاة وتعلم ما أريد. اللهم ابعث ثوابها الى قبر فلان ابن فلانة.

Artinya : Ya Allah sungguh aku telah melaksanakan shalat ini dan engkau yang lebih mengetahui apa yang aku inginkan. Ya Allah sampaikanlah pahala shalat ini kepada quburannya Fulan… (sebat namanya) Bin Fulanah… (sebut nama ibu kandungnya).

Shalat Hadiah Perspektif KH. Ali Maksum dan Syaikh Nawawi Banten

Shalat yang juga popular dengan nama Shalat Anisil Qabri termasuk salah satu shalat ala sufi yang memang dipertentangkan keabsahannya oleh ulama. Dalam konteks ini Kiai Ali Ma’shum termasuk ulama yang menyetujui legalitasnya. Beliau mengutip keterangan dari Syaikh Nawawi Banten (w. 1316 H/1898 M) dalam kitab Nihayah az-Zain yang menganggapnya sebagai salah satu dari sekian banyak shalat sunnah.

Teknis dan Keutamaan Shalat Hadiah

Selain itu, Kiai Ali Maksum juga mengutip hadits yang menjelaskan teknis detail dan keutamaannya. Di antaranya disebutkan , hendaknya orang mewujudkan rasa belas kasih kepada mayit dengan meringankan beban kuburnya pada hari pertamannya, yaitu dengan bersedekah. Bila tidak bisa maka dengan shalat dua rakaat dengan membaca al-Fatihah 1 x, ayat Kursi 1 x, at-Takatsur 1 x dan al-Ikhlas 11 x setiap rakaatnya. Kemudian berdoa:

اَللهم إِنِّي صَلَّيْتُ هَذِهِ الصَّلَاةَ وَتَعْلَمُ مَا أُرِيدُ. اَللهم ابْعَثْ ثَوَابَهَا إِلَى قَبْرِ فُلَانِ ابْنِ فُلَانٍ.

“Ya Allah, sungguh aku melaksanakan shalat ini dan Engkau tahu apa yang ku kehendaki. Ya Allah, kirimkanlah pahalanya ke kuburan Fulan bin Fulan.”

Kemudian juga disebutkan keutamannya, yaitu bila shalat tersebut dilakukan maka pada saat itu pula Allah akan mengirimkan ke kubur mayityang dimaksud 1.000 malaikat yang masing-masing membawa cahaya dan hadiah yang dapat membuatnya nyaman sampai hari kiamat.

Selain itu, pelakunya akan mendapatkan pahala yang sangat besar, yaitu tidak akan keluar dari dunia hingga melihat tempatnya di surga. Karenanya ada pula ulama yang menyatakan, sangat beruntung orang yang melakukannya setiap malam dan menghadiahkan pahalanya kepada seluruh orang Islam yang sudah meninggal.

Pendapat Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari

Namun demikian, shalat ini diperselisihkan, bahkan ditentang secara cukup keras oleh Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pendiri NU. Argumentasi beliau sebagaimana terdokumentasikan dalam buku NU Menjawab (I/12-17) adalah:

Tidak ada dasarnya dalam syariat. Terbukti dalam kitab-kitab fikih yang mu’tabar(otoritatif) semisal Taqrib, Fath al-Mu’in dan semisalnya tidak disebutkan.Haditsnya berstatus maudhu’ (palsu).

Karenanya menurut Kiai Hasyim, tidak boleh mengajak-ajak orang lain atau melakukannya sendiri.

Namun demikian, banyak pula kalangan Nahdliyyin yang tetap melakukannya. Lalu bagaimana kita menyikapinya?

Legalitas Shalat Hadiah :

Dalam hal ini, Ibn Hajar al-Haitami (Tuhfah al-Muhtaj, II/238) ulama fikih Syafi’iyah yang sebenarnya juga termasuk penentang shalat-shalat ala sufi, secara jernih menyampaikan:

… نَعَمْ إنْ نَوَى مُطْلَقَ الصَّلَاةِ ثُمَّ دَعَا بَعْدَهَا بِمَا يَتَضَمَّنُ نَحْوَ اسْتِعَاذَةٍ أَوْ اسْتِخَارَةٍ مُطْلَقَةٍ لَمْ يَكُنْ بِذَلِكَ بَأْسٌ.

“ … Ya shalat-shalat ala sufi itu tidak boleh dilakukan, namun bila orang niat shalat sunnah mutlak kemudian setelahnya berdoa dengan doa yang mengandung semacam permohonan perlindungan atau istikharah secara mutlak, maka hal itu tidak mengapa (boleh dilakukan).

Bahkan lebih lanjut, mengutip penjelasan Syaikh Bashri, Muhammad Abdul Hamid as-Syirwani (w. 1301 H/1884 M) pakar fikih Syafi’iyyah asal kota Shirvan, Azerbaijan negeri di Kaukasus persimpangan Eropa dan Asia Barat Daya sebelah selatan Rusia yang kemudian berkarir dan meninggal di Makkah, dalam catatannya atas kitab Tuhfah al-Muhtaj (Hasyiyyah as-Syirwani ‘ala at-Tuhfah, II/238) menjelaskan, bahwa maksud niat shalat para sufi yang tidak termaktub dalam kitab-kitab fikih dalam perspektif mereka adalah motif pemicu (ba’its) melakukan shalat tersebut, bukan niat yang dimaksud dalam istilah para alim fikih yang dilakukan bersamaan takbiratul ikhram.

Memahami niat shalat khas para sufi dalam konteks semacam ini lebih utama daripada mengkritik atau bahkan mencela mereka. Pemahaman para sufi ini juga diperkuat dengan hadits shahih yang merekam bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sering melakukan shalat sunnah ketika menghadapi berbagai hal besar yang selayaknya memerlukan doa spesial, sebagaimana diriwayatkan oleh Sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى. (رواه أحمد. صحيح)

“Biasanya ketika mendapatkan urusan yang berat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam segera melakukan shalat.” (HR. Ahmad. Shahih)

Penjelasan as-Syirwani sesuai pula dengan firman Allah subhahanu wa ta’ala :

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ. (البقرة: 45)

“Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan kesabaran dan shalat. Sungguh shallat sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusu’.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Kesimpulan :

Dari sini menjadi jelas, bahwa Shalat Hadiah dan shalat ala ulama sufi lainnya meskipun tidak dijelaskan dalam kitab-kitab fikih hukumnya boleh dilaksanakan selama diniati sebagai shalat sunnah mutlak, kemudian diiringi dengan do’a sesuai urusan penting yang dihadapi.

Selain itu juga terdapat hikmah untuk tidak secara serampangan menyalahkan para ulama, kiai dan masyarakat luas yang menjalankan suatu ibadah yang kadang terasa asing bagi kita, namun sebenarnya mempunyai dasar agama yang melegalkannya.

Wallahu a’lamu bisshowab..

M025. RESIKO ORANG YANG MEMULAI KEJELEKAN AKAN BERDAMPAK SAMPAI AKHIRAT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskripsi masalah :
Kalau ada orang meninggal dunia pada masa hidupnya ia menjadi pemula dan pinpinan perampokan ataupun perjudian sedang anak buahnya tidak berhenti/jera melakukan hal tersebut.

Pertanyaannya ;
Apakah pinpinan perammpok yang mininggal masih berdosa dan menambah siksaan dengan sebab perbuatan anak buahnya yg tidak jera? mohon penjelasan..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Dia tetap akan mendapatkan siksa disebabkan dosa orang yang melanjutkan pekerjaan jelek selama di dunia.

Dalil Hadists :

1. Dari Jarir bin Abdillahradhiallahu ’anhu berkata: ”Datang serombongan orang dari dusun menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam maka Beliau melihat kondisi mereka yang memperihatinkan, ditimpa kemiskinan. Maka Beliau menganjurkan agar manusia bersedekah, namun mereka terlihat tidak menanggapi Beliau sehingga terlihat (kegelisahan) pada wajah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, hingga datanglah seorang lelaki dari golongan Ansar membawa satu kantong uang perak, yang kemudian di ikuti yang lainnya sehingga terlihat kegembiraan di wajah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, setelah itu barulah beliau shallallahu ’alaihi wasallam bersabda :”

مَنْ سَنَّ فِي الإسلام سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِها بعْدَهُ كُتِب لَه مثْلُ أَجْر من عَمِلَ بِهَا وَلا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، ومَنْ سَنَّ فِي الإسلام سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وزر من عَمِلَ بِهَا ولا يَنْقُصُ من أَوْزَارهِمْ شَيْءٌ

“Barang siapa yang membuat jalan kebaikan dalam Islam, kemudian amalan tersebut tetap diamalkan setelahnya, maka akan dituliskan baginya ganjaran pahala orang-orang yang mengamalkannya tanpa harus mengurangi pahala mereka. dan Barang siapa yang membuat jalan kejelekan dalam Islam, kemudian kejelekan tersebut tetap dilakukan setelahnya, maka akan dituliskan baginya ganjaran dosa orang-orang yang melakukannya tanpa harus mengurangi dosa-dosa mereka. HR Muslim

2. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun

3. Sabda Rasulullah :

مَا منْ نَفْسٍ تُقْتَلٌُ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا وَذَلِكَ لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ

Tidak ada satu jiwapun terbunuh secara zhalim, kecuali anak adam pertama (yaitu yang membunuh saudaranya, Red) mendapatkan bagian dari darahnya (dosa pembunuhan), itu karena ia adalah orang pertama yang mencontohkan pembunuhan.

Dalil kitab :

Orang yang meninggal dunia yang mana dimasa hidupnya memulai berbuat keburukan/makshiyat dan diikuti oleh orang-orang yang sesudahnya maka dia didalam kuburnya akan disiksa sebab perbuatannya yang diikuti oleh orang-orang yang setelahnya (orang yang masih hidup).

Referensi :

تنوير القلوب ص ٤١٥
ثم اعلم أن سائر أهل القبور حياء حياة برزحية يعلمون بها،ويعقلون بها ويسمعون ويرون ويعرفون من زارهم ومن سلم عليهم ويردون عليه السلام ويتزاورون بينهم ويتأذون بما يبلغهم عن الأحياء ويتصرفون وتصدر منهم أمور عظيمة بقدرة الله ويتنعمون أو يعذبون وأن أعمال الأحياء تعرض عليهم فما رأوه من خير حمدوا الله تعالى ، واستبشروا ودعوا لفاعله بالزيادة والثبات وإن رأو شرا دعوا الله لهم وقالوا : اللهم راجع بهم الى الطاعة واهدهم كما هديتنا.

“Kemudian ketahuilah bahwa semua orang yang meninggal dunia mereka didalam kuburnya hidup dalam kehidupan Barzakhiyyah dan mereka mengetahuinya dan mereka berakal, mendengar, dan mereka melihat, mengenal pada orang yang mengunjunginya dan orang yang mengucapkan salam padanya dan mereka menjawab salamnya orang yang berkunjung, dan mereka saling berkunjung didalam kuburnya dan mereka merasa sakit dengan apa yang disampaikan oleh orang yang masih hidup pada mereka dan bertindak dan timbul pada mereka perkara yang agung dengan kekuasaan Allah swt. dan mereka bernikmat-nikmatan dan mereka disiksa dan sesungguhnya amal-amal yang hidup didatangkan pada mereka. Terhadap sesuatu yang mereka lihat baik, maka mereka memuji kepada Allah. dan mereka merasa gembira dan berdo’a bagi orang yang berbuat baik dengan di’a tambahan dan ketetapan dan jika melihat keburukan maka mereka (ahli kubur) berdo’a untuk yang hidup : “Ya Allah kembalikanlah mereka untuk bethaat dan berikanlah hidayah kepada mereka sebagaimana engkau telah memberikan hidayah kepada kami”.

– Tanwirul qulub :

وأما تأذى الميت بما يبلغه من الأحياء فقد قال صلى الله عليه وسلم : “إن الميت يؤذيه فى قبره ما يؤذيه في بيته .رواه الديلمى. وأما عرض أعمال الأحياء على الموتى فقد قال صلى الله عليه وسلم تعرض أعمالكم على الموتى فإ ن رأوا حسنتا إستبشروا وإن رأوا سوأ قالوا اللهم راجع بهم رواه إبن المبارك.
تنوير القلوب ٤١٧-٤٢٧

Wallahu a’lamu bisshowab..

J014. MEMINTAKAN MAAF ATAS DOSA ORANG YANG SUDAH MENINGGAL DUNIA

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Langsung saja Ust..
Saya punya pertanyaan, Apabila shohibul mushibah memintakan maaf dosa orang yang sudag mati.

Pertanyaanya, Apakah bisa dimaafkan/bisa diampuni oleh Allah dosanya orang yang meninggal?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ditafshil :

1. Apabila dosa kepada Allah (حق الله) maka akan diampuni oleh Allah.

Sebagaimana Allah mengajarkan kita untuk mendo’akan orang yang sudah meninggal dunia.

Suroh Al-Hasyr – Ayat 10 :

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdo’a : “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.

Surat Ibrahim ayat 40-41 :

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الحِسَابَ

Artinya : Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.

2. Apabila dosa kepada sesama manusia (حق الأدمي) maka wajib memintakan maaf dulu kepada orangnya (kalau berupa hutang maka wajib membayarkannya). Baru setelah itu Allah akan segera memaafkannya.

Cara menyelesaikan hak-hak di antara manusia adalah: sebagaimana diterangkan dalam hadits.

Rasulullah saw. bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه.

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah (s.a.w) bersabda : Barang siapa memiliki tanggungan kezaliman terhadap saudaranya, entah dalam hal kehormatan atau pun hartanya, maka hendaklah meminta kehalalannya hari ini. Sebelum datang hari(kiamat) di mana tidak berguna lagi dirham dan dinar. Pada hari kiamat nanti,bila seseorang yang menzalimi belum meminta kehalalan dari saudaranya, maka bila ia memiliki amal kebaikan, sebagian amal kebaikannya itu diambil sekadar kezaliman yang ia lakukan untuk diserahkan kepada orang yang pernah ia zalimi.Bila ia sudah tidak memiliki sisa amal kebaikan, maka dosa yang dimiliki orang yang pernah ia zalimi di dunia akan dilimpahkan kepadanya senilai kezaliman yang pernah ia lakukan. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah r.a.).

Jika dosa yang berhubungan dengan hutang kepada sesama manusia maka bayarlah hutang tersebut.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda :

نَفْسُ الْـمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّىٰ يُقْضَى عَنْهُ

Artinya : Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung dengan sebab utangnya sampai hutang dilunasi.

Redaksi Hadits :

باب ما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال نفس المؤمن معلقة بدينه حتى يقضى عنه

1078 حدثنا محمود بن غيلان حدثنا أبو أسامة عن زكريا بن أبي زائدة عن سعد بن إبراهيم عن أبي سلمة عن أبي هريرة قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم نفس المؤمن معلقة بدينه حتى يقضى عنه

http://library.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=1964&idto=1967&bk_no=56&ID=753#docu

– Kitab Minhaj al-‘Aabidiin :

ﺛﻢ ﺭﺃﻳﺖ ﻓﻰ ﻣﻨﻬﺎﺝ ﺍﻟﻌﺎﺑﺪﻳﻦ ﻟﻠﻐﺰﺍﻟﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ﺍﻟﺘﻰ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ﺇﻣﺎ ﻓﻰ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻭﻳﺠﺐ ﺭﺩﻩ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﻜﻨﺔ ﻓﺈﻥ ﻋﺠﺰ ﻟﻔﻘﺮ ﺍﺳﺘﺤﻠﻪ ﻓﺈﻥ ﻋﺠﺰ ﻋﻦ ﺍﺳﺘﺤﻼﻟﻪ ﻟﻐﻴﺒﺘﻪ ﺃﻭ ﻣﻮﺗﻪ ﻭﺃﻣﻜﻦ ﺍﻟﺘﺼﺪﻕ ﻋﻨﻪ ﻓﻌﻠﻪ ﻭﺇﻻ ﻓﻠﻴﻜﺜﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﺴﻨﺎﺕ ﻭﻳﺮﺟﻊ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻳﺘﻀﺮﻉ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﻰ ﺃﻥ ﻳﺮﺿﻴﻪ ﻋﻨﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ .ﺍﻫـ.
(حياة الجمال، ٧/٣٨٨)

“Kemudian aku melihat dalam kitab Minhaj al-‘Aabidiin karya al-Ghozaly dikatakan : Bahwa dosa yang terjadi antar sesama hamba-hamba Allah
adakalanya berhubungan dengan harta benda Dan wajib mengembalikan harta tersebut (pada pemilik harta) bila dalam kondisi berkemungkinan, bila tidak
mampu karena kefakirannya maka mintalah halal darinya, bila tidak mampu meminta halal karena
ketiadaannya atau telah meninggalnya dan (pemilik tanggungan) berkemungkinan bersedekah, maka
bersedekahlah dengan atas namanya, dan bila masih tidak mampu maka perbanyaklah berbuat kebajikan,
kembalikan segalanya pada Allah, rendahkanlah diri dihadapanNya agar kelak dihari kiamat Allah meridhoi beban tanggungan harta (yang masih
belum tertuntaskan)”

Hasyatul Jamal V/388.

Wallahu A’lam Bis showaab..

D008. BOLEHKAH MENGHARAP KEMATIAN?

PERTANYAAN :

Asslamualaikm ustdz..

Ada petanyaan, Kita sebagai manusia, apakah boleh kalau ada seorang mengharap kematian. Apa termasuk kebaikan? tolong di jelaskan ustdz..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Mengharap kematian karena ditimpa musibah ataupun ujian dan lain sebagainya tidak diperbolehkan did alam agama tetapi kalau sudah dalam keadaan terpaksa maka Nabi menganjurkan agar mengucapkan do’a.

Sabada Rasulullah saw. :

لايتمنى أحدكم الموت فإن كان لا بد أن يقول اللهم أحينى ماكانت الحيات خير لي وتوفني ماكانت الوفات خيرلي.. (الحديث)

Hukum mengharapkan mati adalah Makruh, bila tidak karena takut fitnah akan agama, terkecuali bila ia berharap mati syahid, ingin cepat bertemu Allah, ingin mati di tanah suci makah maka ini disunahkan.

ويكره (تمنى الموت) لضرر فى بدنه او ماله للنهى الصحيح عنه (بلا خوف فتنة فى الدين) و الا فيسن و كذا تمنيه لنحو شهادة او محبة لقاء الله او ببلد شريف كمكة او جار صالح و هذا خرج بقولنا لضر فى بدنه او ماليه

بشرى الكريم ٢/٢٨

باب كراهية تمنى الموت لضر نزل بالانسان وجوازه اذا خاف فتنة فى دينه

Bab menerangkan tentang kemakruhan mengharap kematian karena adanya kerepotan/musibah yg melanda manusia dan bolehnya mengharap kematian jika takut kena fitnah pada agamanya

وروينا فى صحيحى البخارى ومسلم عن انس رضى

 

ذا اذا تمنى لضر ونحوه فان تمنى الموت خوفا على دينه لفساد الزمان ونحو ذلك لم يكره

dan saya bercerita yg diambil dari keterangan kitab shohih bukhori muslim dari sahabat anas Ra berkata,Nabi SAW bersabda,janganlah salah satu dari kalian mengharapkan kematian gara-gara ada kerepotan yang lagi menimpa

maka jika harus mengharuskan berbuat maka berucaplah :

“Ya Alloh berikanlah aku kehidupan jika kehidupan itu lebih baik untukku dan berilah aku kematin jika kematian itu lebih baik untukku”

para ulama’ dari golongan kita syafiiyyah dan yg lain berpendapat, keterangan ini jika mengharap kematian gara-gara tertimpa kerepotan dan selainnya tapi jika menginginkan kematian gara-gara takut terhadap agamanya karena rusaknya zaman atau sejenisnyamaka hukumnya tidak makruh.

AL-ADZKAR HAL 127

أحاديث مختارة من الصحيحين – (ج 1 / ص 72)

وعنه قال : قال رسول الله ( : ( لا يتمنينّ أحدكم الموت لضرٍّ أصابه ، فإن كان لا بدّ فاعلاً فليقل : اللهم أحيني ما كانت الحياة خيراً لي ، وتوفني إذا كانت الوفاة خيراً لي ) .

معاني الكلمات :

لا يتمنينّ أحدكم :الخطاب للصحابة والمراد هم ومن بعدهم من المسلمين . لضرٍّ أصابه : أي ضرر دنيوي كفقر أو مرض.

الفوائد :

1. النهي عن تمني الإنسان الموت بسبب ضرٍّ نزل به .

2. قوله ( لضرٍّ نزل به ) حمله جماعة من السلف على الضرر الدنيوي ، وذلك لأمرين :

أولاً : جاء عند ابن حبان : ( لا يتمنينّ أحدكم الموت لضرٍّ نزل به في الدنيا ) على أن ( في ) سببية ، أي بسبب أمر من أمر الدنيا .

ثانياً : أن جماعة من السلف تمنّوا الموت خوف الفتنة ، فدلّ على جوازه خشية الفتنة .

قال عمر : ( اللهم كبرت سني ، وضعفت قوتي ، وانتشرت رعيتي ، فاقبضني إليك غير مضيع ولا مفرط ) . رواه مالك

وجاء عن عابس الغفاري أنه قال : ( يا طاعون خذني ، فقال له علم الكندي : لم تقول هذا ؟ ألم يقل رسول الله : لا يتمنين أحدكم الموت ؟ فقال : إني سمعته يقول : بادروا بالموت ستاً : إمرة السفهاء ، وكثرة الشرط … ) .

3. السبب في النهي عن تمني الموت : لأن زيادة العمر في تقوى الله فيه زيادة في الحسنات ، وقد جاء عند الترمذي عن رسول الله ( أنه قال : ( خير الناس من طال عمره وحسن عمله ) .

وقد جاءت هذه الحكمة في حديث أبي هريرة قال : قال رسول الله ( : ( لا يتمنينّ أحدكم الموت ، إما محسناً فلعله يزداد ، وإما مسيئاً فلعله يستعتب ) . متفق عليه

4. يجوز تمني الموت في حالات :

الأولى : عند خوف الفتنة .

كما قال تعالى عن مريم : ( يا ليتني متُّ قبل هذا وكنت نسياً منسياً ( .

قال القرطبي : ” إنها تمنت الموت لوجهين :

أحدهما : أنها خافت أن يُظنّ بها السوء في دينها وتُعيّر فيفتنها ذلك

الثاني : لئلا يقع قوم بسببها في البهتان والزور والتهمة إلى الزنا ، وذلك مهلك لهم .

وقال ( : ( وإذا أردت بقوم فتنة فاقبضني إليك غير مفتون ) . رواه أحمد

الثانية : تمني الشهادة .

كما قال ( : ( من سأل الشهادة بصدق بلغه الله منازل الشهداء وإن مات على فراشه ) . رواه مسلم

فإن قال قائل : ما الجواب عن قول يوسف : ( ربّ توفني مسلماً وألحقني بالصالحين ( ؟

قيل : لم يتمنّ الموت ، وإنما تكاملت عليه النعم ، وجُمع له الشمل ، واشتاق إلى لقاء ربه .

وقيل : أن يوسف لم يتمنى الموت ، وإنما تنمى الموافاة على الإسلام ، وهذا القول رجحه القرطبي ، وهو الصحيح .

5. على المسلم أن يغتنم حياته الدنيا ليتزود منها بالأعمال الصالحة .

6. السنة لمن أراد الموت أن يقول الدعاء الذي أرشد إليه النبي ( : ( اللهم أحيني ما كانت … ) ففيها التسليم التام لله تعالى ، الذي يعلم حقائق الأمور وعواقبها .

7. حسن هذه الشريعة العظيمة ، حيث أنها لم تنهى عن شيء إلا وقد جاءت ببدله .

8. ينبغي الالتجاء إلى الله ودعاؤه في كل الأمور ، فهو الذي يعلم عاقبتها

Wallahu a’lamu bisshowab..

J013. BETULKAH ARWAH MAYIT PULANG SETIAP MALAM JUM’AT

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Langsung saja Ustadz.. Saya mau tanya. Apa benar jika malam jum’at ruh mayyit itu pulang kerumahnya?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ya, betul arwah orang yang sudah meninggal akan datang ke bekas rumahnya setiap malam jumat.

Berkata Nabi saw : Sesungguhnya Arwah-arwah kaum mu’minin itu setiap malam mendatangi langit dunia dan mereka ( arwah ) berhenti / berdiri dengan terompah mereka pada rumah-rumah mereka ( selama masih hidup ), mereka memangil / menyeru, setiap kali seruan dengan suara susah seribu kali seruan. Wahai ahliku dan kerabatku dan anak-anakku. Wahai orang yang telah menempati rumahku, dan memaki baju tinggalanku dan yang telah membagi warisan hartaku. Adakah dari mu seseorang yang ingat padaku dan memikirkan Rantauanku ( merantau ). Aku dalam penjara yang sangat lama, dan dalam benteng yang sangat kuat. Maka Kasihanilah aku, maka Alloh akan menghasihi kalian dan jangan lah kamu pelit terhadapku sebelum kalian menjadi seperti aku ( mati ) wahai hamba-hamba Alloh. Sesungguhnya apa yang utama di tanganmu itu juga di tanganku. Dan akau tidak menafkah kan nya di jalan Alloh dan aku tidak menghitungn ya serta perduli terhadapnya ( harta ) dan sekarang manfaat nya terhadap selain ku. Maka bila kamu tidak memberikan sesuatu pada arwah-arwah tadi dengan sesuatu, maka mereka para arwah akan pergi dengan kerugian dan dia akan tercegah.

Kalau mau ‘ibaroh yang sesuai dengan pertanyaan (“tiap malam jum’at”) :

ﻫﺪﻳﺔ ﺍﻷﺣﻴﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﻣﻮﺍﺕ ﻭﻣﺎ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﻟﻠﻬﻜﺎﺭﻱ 1/174 :

ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ﺇﻥ ﺃﺭﻭﺍﺡ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻳﺄﺗﻮﻥ ﻛﻞ ﺟﻤﻌﺔ ﺇﻟﻰ ﺳﻤﺎﺀ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻴﻘﻔﻮﻥ ﺑﺤﺬﺍﺀ ﺩﻭﺭﻫﻢ ﻭﺑﻴﻮﺗﻬﻢ ﻓﻴﻨﺎﺩﻱ ﻛﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ ﺑﺼﻮﺕ ﺣﺰﻳﻦ: ﻳﺎ ﺃﻫﻠﻲ ﻭﻭﻟﺪﻱ ﻭﺃﻫﻞ ﺑﻴﺘﻲ ﻭﻗﺮﺍﺑﺎﺗﻲ، ﺍﻋﻄﻔﻮﺍ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﺸﻲﺀ، ﺭﺣﻤﻜﻢ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﺍﺫﻛﺮﻭﻧﺎ ﻭﻻ ﺗﻨﺴﻮﻧﺎ، ﻭﺍﺭﺣﻤﻮﺍ ﻏﺮﺑﺘﻨﺎ، ﻭﻗﻠﺔ ﺣﻴﻠﺘﻨﺎ، ﻭﻣﺎ ﻧﺤﻦ ﻓﻴﻪ، ﻓﺈﻧﺎ ﻗﺪ ﺑﻘﻴﻨﺎ ﻓﻲ ﺳﺤﻴﻖ ﻭﺛﻴﻖ، ﻭﻏﻢ ﻃﻮﻳﻞ، ﻭﻭﻫﻦ ﺷﺪﻳﺪ، ﻓﺎﺭﺣﻤﻮﻧﺎ ﺭﺣﻤﻜﻢ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﻻ ﺗﺒﺨﻠﻮﺍ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﺪﻋﺎﺀ ﺃﻭ ﺻﺪﻗﺔ ﺃﻭ ﺗﺴﺒﻴﺢ، ﻟﻌﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺮﺣﻨﺎ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻧﻮﺍ ﺃﻣﺜﺎﻟﻨﺎ، ﻓﻴﺎ ﺣﺴﺮﺗﺎﻩ ﻭﺍﻧﺪﺍﻣﺎﻩ ﻳﺎ ﻋﺒﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ، ﺍﺳﻤﻌﻮﺍ ﻛﻼﻣﻨﺎ، ﻭﻻ ﺗﻨﺴﻮﻧﺎ، ﻓﺄﻧﺘﻢ ﺗﻌﻠﻤﻮﻥ ﺃﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻔﻀﻮﻝ ﺍﻟﺘﻲ ﻓﻲ ﺃﻳﺪﻳﻜﻢ ﻛﺎﻧﺖ ﻓﻲ ﺃﻳﺪﻳﻨﺎ، ﻭﻛﻨﺎ ﻟﻢ ﻧﻨﻔﻖ ﻓﻲ ﻃﺎﻋﺔ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﻣﻨﻌﻨﺎﻫﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﻖ ﻓﺼﺎﺭ ﻭﺑﺎﻻً ﻋﻠﻴﻨﺎ ﻭﻣﻨﻔﻌﺘﻪ ﻟﻐﻴﺮﻧﺎ، ﻭﺍﻟﺤﺴﺎﺏ ﻭﺍﻟﻌﻘﺎﺏ ﻋﻠﻴﻨﺎ.

Wallahu a’lamu bisshowab..

N023. HUKUM MENCINATAI SESAMA JENIS YANG NEGATIF

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bagaimana hukumnya orang yang saling mencintai sampai tejadi hubungan musaahaqah dan mufaakhadzah..?
dan bagaimana pula hukumnya musaahaqah dan mufaakhadzah menurut agama apakah termasuk zina? mohon tanggapan dan jawaban beserta refrensinya.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukum sesorang saling mencintai dan saling menyayangi terhadap sesama manusia sangatlah dianjurkan dalam agama islam apalagi orang yang seiman dan seagama karena tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia menciatai terhadap dirinya sendiri bahkan seseorang tidak akan merasakan manisnya iman sehingga ia saling mencintai karena Allah.

Tetapi jika saling mencintainya dan menyayanginya tidak karena Allah swt, melaikan dengan tujuan yang negatif atau ma’shiat sampai terjadi hubungan musaahaqah dan mufaakhadzah maka hukumnya haram.

Adapun dalil anjuran mencintai terhadap sesama muslim adalah sebagai berikut :

عن أبى حمزة أنس بن مالك قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “لايؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه مايحب لنفسه.رواه البخارى

” Dari Hamzah Anas bim Malik dia berakata Rasulullah saw.bersabda;” Tidaklah sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai terhadap dirinya sendirinya sendiri. HR.Bukhari.

Refrensi :

مجالس السنية ص ٣٨

Selanjutnya hukumnya musaahaqah dan mufaakhadzah adalah haram bahkan termasuk zina. Apa itu musaahaqah dan mufaakhadzah.
Musaahaqah adalah hubungan intim(Masturbasi) perempuan sama perempuan dalam farjinya.Sedangkan Mufaakhadzah adalah hubungan lelaki sama lelaki (Masturbasi) melalui fahanya.

Refrensi :

قامع الطغيان على منظومة شعب الإيمان. ص ١١
والشعبة الخامسة والثلاثون حفظ الفرج عما نهى الله عنه من الزنا واللواط والمساحقة والمفاخذة، فاللواط هو إدخال الذكر فى الدبر والمساحقة هى أن تفعل المرأة مع مثلها والمخافذة هى أن يفعل الرجل مع مثله فى الفخذ. قال الله تعالى ” لاتقربواالزنا إنه كان فاحشة وساء سبيلا. وقال تعالى ” أتأتون الذكران على العالمين. وقال تعالى أئنكم لتأتون الرجال شهوة من دون النساء بل أنتم قوم مسرفون.

“Dan cabang yang ke 35 adalah memelihara farji(kemaluan) dari hal perbuatan yang dilarang oleh Allah swt, yaitu menjauhi dari zina, dan liwath , musaahaqah, dan mufaakhazah.
Liwath adalah memasukkan zakar kedalamdubur.Musaahaqah adalah hubungan intim perempuan sama perempuan(masturbasi) melalui farjinya.Mufakhadzah adalah hubungan intim( masturbasi) lelaki sama lelaki melalui fahanya. Allah berfirman.” Janganlah engkau mendekati zina karena sesungguhnya zina adalah seburuk-buruknya perbuatan jalan yang keji.

Wallahu a’lamu bisshowab..

N022. HUKUM TAJDIDUN NIKAH (MEMPERBAHARUI NIKAH)

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bagaimana hukum Tajdidun Nikah (Memperbaharui Nikah)?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Masalah tajdidun nikah (memperbarui nikah) dalam kajian fiqh ada dua pendapat ulama:

1. Boleh Menurut Pendapat Shahih

Memperbarui nikah kalau dimaksudkan sekadar tajammul (keindahan atau pura-pura), seperti orang yang dinikahkan sah menurut agama Islam, lengkap dengan syarat dan rukunnya, namun tidak didaftarkan di KUA, setelah didaftarkan di KUA dinikahkan lagi sebagai persyaratan yang harus disaksikan oleh petugas KUA, maka dalam hal ini menurut Syaikh Ibnu Hajar dan jumhur ulama Syafi’iyah tidak membatalkan nikah yang pertama, asalkan pengantin laki-laki tetap meyakini bahwa nikah yang pertama tidak rusak.

Pendapat ini adalah yang shahih (kuat/benar), yakni hukumnya boleh. Karena di dalam memperbarui nikah terdapat unsur tajammul (memperindah) dan ihtiyath (kehati-hatian dari sepasang suami-istri). Sebab bisa saja terjadi sesuatu yang bisa merusak nikah tanpa mereka sadari, sehingga memperbarui nikah guna menetralisir kemungkinan tersebut. (Tuhfat al-Muhtaj juz 7 halaman 391, Hasyiyat al-Jamal ‘ala al-Manhaj juz 4 halaman 245 dan Syarh al-Manhaj li Syihab Ibn Hajar juz 4 halaman 391).

أَنَّ مُجَرَّدَ مُوَافَقَةِ الزَّوْجِ عَلَى صُورَةِ عَقْدٍ ثَانٍ مَثَلاً لاَ يَكُونُ اعْتِرَافًا بِانْقِضَاءِ الْعِصْمَةِ اْلأُولَى بَلْ وَلاَ كِنَايَةَ فِيهِ وَهُوَ ظَاهِرٌ إِلَى أَنْ قَالَ وَمَا هُنَا فِي مُجَرَّدِ طَلَبٍ مِنْ الزَّوْجِ لِتَجَمُّلٍ أَوْ احْتِيَاطٍ فَتَأَمَّلْهُ.

“Sesungguhnya persetujuan murni suami atas aqad nikah yang kedua (memperbarui nikah) bukan merupakan pengakuan habisnya tanggung jawab atas nikah yang pertama, dan juga bukan merupakan kinayah dari pengakuan tadi. Dan itu jelas. Sedangkan apa yang dilakukan suami di sini (dalam memperbarui nikah) semata-mata untuk memperindah atau berhati-hati.” (Tuhfat al-Muhtaj juz 7 halaman 391).

وعبارته: لأن الثاني لايقال له عقد حقيقة بل هو صورة عقد خلافا لظاهر ما في الأنوار ومما يستدل به على مسئلتنا هذه ما في فتح الباري في قول البخاري إلي أن قال قال ابن المنير يستفاد من هذا الحديث ان إعادة لفظ العقد في النكاح وغيره ليس فسخا للعقد الأول خلافا لمن زعم ذلك من الشافعية قلت الصحيح عندهم انه لايكون فسخا كما قاله الجمهور إهـ

(Hasyiyat al-Jamal ‘ala al-Manhaj juz 4 halaman 245).

إن مجرد موافقة الزوج على صورة عقد ثان مثلا لا يكون إعترافا بانقضاء العصمة الأولى بل ولاكناية فيه وهو ظاهر لأنه مجرد تجديد طلب من الزوج لتجمل أو إحتياط فتأمل.

(Syarh al-Minhaj li Syihab Ibn Hajr juz 4 halaman 391).

2. Tidak Boleh Menurut Pendapat Lemah

Memperbarui nikah jika dimaksudkan untuk membatalkan yang pertama karena menganggap hari pernikahan pertama kurang baik atau menganggap setelah sekian lama menikah karena khawatir pernah mengucapkan thalaq. Maka menurut sebagaian ulama Syafi’iyah nikah yang pertama dianggap batal.

Pendapat kedua ini adalah pendapat yang lemah, yang berarti tidak memperkenankan tajdidunnikah. Dengan alasan karena dapat merusak akad nikah yang pertama. (Hasyiyat al-Jamal ‘ala al-Manhaj juz 4 halaman 245 dan al-Anwar li A’mal al-Abrar juz 2 halaman 156 dan juz 7 halaman 88).

وَلَوْ جَدَّدَ رَجُلٌ نِكَاحَ زَوْجَتِهِ لَزِمَهُ مَهْرٌ آخَرُ ِلأَنَّهُ إِقْرَارٌ بِالْفُرْقَةِ وَيَنْتَقِضُ بِهِ الطَّلاَقُ وَيَحْتَاجُ إِلَى التَّحْلِيْلِ فِى الْمَرَّةِ الثَّالِثَةِ.

Wallahu a’lam..

Fathul Bari Li Ibnu Hajar, Juz : 13 Hal : 199

حدثنا أبو عاصم، عن يزيد بن أبي عبيد، عن سلمة، قال: بايعنا النبي صلى الله عليه وسلم تحت الشجرة، فقال لي: يا سلمة ألا تبايع؟، قلت: يا رسول الله، قد بايعت في الأول، قال: وفي الثاني

وقال بن المنير : يستفاد من هذا الحديث أن إعادة لفظ العقد في النكاح وغيره ليس فسخا للعقد الأول خلافا لمن زعم ذلك من الشافعية قلت الصحيح عندهم أنه لا يكون فسخا كما قال الجمهور

Qurrotul ‘Ain Bi Fatawi Isma’il Az-Zen, Hal :148

حكم التجديد النكاح

سؤال : ما حكم تجديد النكاح ؟

الجواب: أنه إذا قصد به التأكيد فلا بأس به لكن الأولى تركه والله أعلم

تجديد عقد النكاح لا يوجب مهرا جديدا

سؤال : ماقولكم فيمن جدد نكاحه فهل يجب عليه أو يسن أن يعطيها الصداق مرة ثانية لذكره في العقد الجديد أولا سواء طلقها الزوج بعد ذلك أو لا ؟الجواب : لايجب عليه أن يجدد صداقا وتجديد صيغة عقد النكاح فإنما هي للتأكيد والأولى
والله سبحانه وتعالى أعلم

Pertanyaan ;
apakah akad yang kedua dapat merusk akad nikah yang pertama sehingga dapat mengurangi jatah talaq dan wajibkah sang suami mebayar mahar lagi ?

Jwaban :
1. Menurut pendapat mayoritas ulama’, akad nikah kedua tidak merusak akad pertama, sebab akad yang kedua hanyalah akad nikah yang dalam bentuknya saja, dan hal tersebut bukan berrti merusak akad yang pertama. Pendapat ini merupakan pendapat yang Shohih dalam madzhab Syafi’i, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari. Sedangkan dalil bahwa akad kedua tidak merusak akad pertama, seperti yang dijelaskan Imam Ibnul Munir adalah hadits yang diriwayatkan Salamah rodhiyallohu ‘anha ;

بَايَعْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ، فَقَالَ لِي: «يَا سَلَمَةُ أَلاَ تُبَايِعُ؟»، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ بَايَعْتُ فِي الأَوَّلِ، قَالَ: وَفِي الثَّانِي

Kami melakukan bai’at kepada Nabi SAW di bawah pohon kayu. Ketika itu, Nabi SAW menanyakan kepadaku : “Ya Salamah, apakah kamu tidak melakukan bai’at ?. Aku menjawab : “Ya Rasulullah, aku sudah melakukan bai’at pada waktu pertama (sebelum ini).” Nabi SAW berkata : “Sekarang kali kedua.” (Shohih Bukhori, no.7208)

Karena akad yang kedua tidak merusak akad nikah yang pertama, maka akad yang kedua juga tidak mengurangi jatah talak suami, jika sebelumnya belum menjatuhkan talak, maka jatah talaknya masih 3, dan bila sudah menjatuhkan talak satu, maka jatah talaknya tinggal 2 dan seterusnya. Begitu juga pihak laki-laki tidak perlu memberikan mahar lagi.

2. Menurut Syekh Ardabili, sebagaimana yang beliau jelaskan dalam kitab Al-Anwar Li A’malil Abror, dengan melakukan tajdid nikah, maka nikah yang pertama telah rusak, dan tajdid nikah itu dianggap sebagai pengakuan (iqror) perpisahan, dan tajdid nikah tersebut mengurangi jatah talak suami, dan diharuskan memberikan mahar lagi.

Kesimpulannya :

Akad nikah yang dilakukan oleh petugas KUA itu diperbolehkan, apalagi hal ini menyangkut legalitas akad nikah, dan menurut pendapat mayoritas ulama’ akad nikah yang kedua tidak wajib menggunakan mahar dan akad kedua tersebut tidak mengurangi hitungan nikah suami. Wallohu a’lam.

Al Anwar Li A’malil Abror, Juz : 2 Hal : 88

ولو عقد بالسر بألف وفى العلانية بألفين وهما متفقان على بقاء العقد الاول فالمهر الف–الى ان قال– ولو جدد رجل نكاح زوجته لزمه مهر اخر لانه اقرار بالفرقة وينتقص به الطلاق ويحتاج الى التحليل فى امرأة الثالثة اهـ

Wallahu a’lamu bisshowab..

J012. HUKUM MENUNDA PEMAKAMAN MAYAT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz

Adakah dalil fikih yang memperbolehkan penundaan pemakaman mayat dengan alasan cinta dan menunggu keluarga, atau karena terbentur waktu, misalnya meninggal diwaktu sore, tapi pemakamannya ditunda sampai besok pagi?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Boleh menunda pemakaman mayat.Tapi dengan syarat, jika penundaan pemakaman itu tidak menyebabkan berubahnya badan mayit menjadi membusuk.

وسئل رضي الله عنه وافاض علينا من مدده ما قولكم فيما افتی به شيخنا الوالد من انه لا يتاءخر تجهيز الميت لاءجل تحصيل الكافور زمنا لا يتغير فيه الميت قبله, فاءنه وقع عندي في ذلك شيء بمساءلۃ نقل الميت,فاءجاب نفعنا الله به وبعلومه باءن اللذي يتجه ان الاءفضل تاءخير الميت تاءخيرا يسيرا لا يخشی منه تغير بوجه لاءجل تحصيل الكافور,لاءن كلامهم في باب الجناءز ناطق باءن الاءولی فعل الاءفضل به,وان ادی رعايۃ ذلك الاءفضل الی تاءخير.الا تری ان اقل الغسل يحصل باءفاضۃ الماء علی جميع البدن ,ومع ذلك قالوا: الاءولی رعايۃ اكمل الغسل مع ان الاءكمل الذي ذكروه يستدعي زمنا طويلا ولم ينظروا لذلك ,وكذلك قالوا:الاءولی افراد كل ميت بالصلاۃ عليه ولم ينظروا الی جميع الموتی في صلاۃ واحدۃ,وكذالك قالوا نختار نقل الميت الی نحو مكۃ ان لم يتغير قبله,ولم يراعوا طول زمن تاءخير دفنه لتلك المصلحۃ العاءدۃ عليه ,ونظاءر ذلك كثيرۃ في كلامهم,علی ان لنا قولا او وجها قواه بعضهم ان الكافور واجب ,وحينءذ فيتاءكد رعايۃ تحصيله وان ادی الی تاءخير كما مر ,خروجا من خلاف من قال بوجوبه, والله اعلم بالصواب
(الفتاوي الفقهيۃ الكبری,جز ٢,صحيفۃ ٢)و(اعانۃ الطالبين,جز ٢,صحيفۃ ١٣٢).

Menunda penguburan janazah bila memang sudah jelas dan nyata akan kematiannya hukumnya menyalahi kesunahan terlebih bila sampai terjadi perubahan akan janzah sendiri seperti menjadi berbau bisa menjadi haram hukumnya berdasarkan hadits nabi. Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Dari Nabi saw., beliau bersabda : Percepatlah pengurusan jenazah! Karena, jika jenazah itu baik, maka sudah sepantasnya kalian mempercepatnya menuju kebaikan. Dan kalau tidak demikian (tidak baik), maka adalah keburukan yang kalian letakkan dari leher-leher kalian (melepaskan dari tanggungan kalian) (Shahih Muslim No.1568).

Namun bila penundaan tersebut dengan alasan masih menunggu keluarganya mayat hukumnya boleh meskipun tidak dapat menggugurkan kesunatan mempercepat penguburan janazah, kecuali kalau menunggu walinya si mayyit agar menjadi imam sholat janazah (karena yang paling berhak menjadi imam sholat janazah adalah walinya janazah itu sendiri).

– Mughni Almuhtaaj I/340 :

( ويسرع بها ) ندبا لخبر الصحيحين أسرعوا بالجنازة فإن تك صالحة فخير تقدمونها إليه وإن تك سوى ذلك فشر تضعونه عن رقابكم هذا ( إن لم يخف تغيره ) أي الميت بالإسراع وإلا فيتأنى به والإسراع فوق المشي المعتاد ودون الخبب لئلا تنقطع الضعفاء فإن خيف تغيره بالتأني زيد في الإسراع

– I’anah Atthoolibiin II/132 :

( قوله ولا يندب تأخيرها ) أي الصلاة على الميت ( وقوله لزيادة المصلين ) أي كثرتهم وذلك لخبر أسرعوا بالجنازة ( وقوله إلا لولي ) أي إلا لأجل حضور ولي الميت ليصلي عليه فإنه تؤخر الصلاة له لكونه هو المستحق للإمامة لكن محله إذا رجي حضوره عن قرب وأمن من التغير

SEBAB-SEBAB DIPERBOLEHKANNYA PENUNDAAN PEMAKAMAN MAYAT :

Penundaan pemakaman mayit karena diotopsi diperbolehkan, sebatas ada sebab-sebab yang membolehkan dilakukan otopsi pada mayit. Sebab-sebab itu :

1. Ada kecurigaan dalam kasus pembunuhan.

2. Bertujuan untuk mendapat kesimpulan yang valid terkait dengan pidana pembunuhan.

3. Bertujuan untuk kepentingan bukti hukum diperadilan, ketika bukti yang lain lemah.

4. Mendapat persetujuan ahli waris.

5. Otopsi dilakukan dokter yang ahli/professional.

6. Mendapat izin dari qadhi syar’i.

7. Mayit sudah nyata-nyata telah mati.

REFERENSI :

فتوى يسألونك ص 258-259

يجوز وفى هذه المسألة تعارض الاسراع فى الدفن مع التشريح لمعرفة سبب الوفاة وفيه تأخير الدفن .

فقه النوازل ج 2 ص 46-47

وهذا الجواز عيد من قال به فى ضوء الشروط الآتية

– ان يكون فى الجناية متهم

– ان يكون علم التشريح لكشف الجريمة بلغ الى درجة تفيد نتيج الدليل كشأن اكتشاف تزوير التوقيعات والخطوط

– قيام الضرورة للتشريح بان تكون ادلة الجناية ضعيفة لا تقوى على الحكم بتقدير القاضى

– ان يمكون حق الوارث قائما لم يسقطه

– ان يكون التشريح بواسطة طبيب ماهر

– اذن القاضى الشرعى

– التأكيد من موت من يراد تشريحه لكشف جريمة الموت المعتبر شرعا

 

Dalil bolehnya mengotopsi dan membedah mayat karena alasan syar’ie :

الفقه الإسلامى الجزء الثالث ص: 521-522 دار الفكر

وأجاز الشافعية شق بطن الميتة لإخراج ولدها وشق بطن الميت لإخراج مال منه كما أجاز الحنفية كالشافعية شق بطن الميت فى حال ابتلاعه مال غيره إذا لم تكن له تركة يدفع منها ولم يضمن عنه أحد وأجاز المالكية أيضا شق بطن الميت إذا ابتلع قبل موته مالا له أو لغيره إذا كان كثيرا هو قدر نصاب الزكاة فى حالة ابتلاعه لخوف عليه أو لعذر أما إذا ابتلعه بقصد حرمان الوارث مثلا فيشق بطنه ولو قل وبناء على هذه اللآراء المبيحة: يجوز التشريح عند الضرورة أو الحاجة بقصد التعليم لأغراض طبية أو لمعرفة سبب الوفاة وإثبات الجناية على المتهم بالقتل ونحو ذلك لأغراض جنائية إذا توقف عليها الوصول فى أمر الجناية للأدلة الدالة على وجوب العدل فى الأحكام حتى لا يظلم بريئ ولا يفلت من العقاب مجرم أثيم كذلك يجوز تشريح جثث الحيوان للتعليم لأن المصلحة فى التعليم تتجاوز إحساسها بالألم وعلى كل حال ينبغى عدم التوسع فى التشريح لمعرفة وظائف الأعضاء وتحقيق الجناية والإقتصار على قدر الضرورة أو الحاجة وتوفير حرمة الإنسان الميت وتكريمه بمواراته وستره وجمع أجزائه وتكفينه وإعادة الجثمان لحالته بالحياطة ونهوها بمجرد الانتهاء من تحقيق الغاية المقصودة كما يجوز نقل بعض أعضاء الإنسان لأخر كالقلب والعين إذا تأكد الطبيب المسلم الثقة العدل موت المنقول عنه لأن الحي أفضل من الميت وتوفير البصر أول الحياة لإنسان نعمة عظمى مطلوبة شرعا.

Wallahu a’lamu bisshowab..