Semua tulisan dari Musthofa AB

Alumni BATA-BATA Thn : 1995 - 2004

P001. SUNTIK DAN INFUS KETIKA BERPUASA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..
mau tanya, bagaimana hukumnya apabila seseorang puasa kemudian suntik/ infus kesehatan / KB?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukum suntik bagi orang yang berpuasa, maka boleh jika dalam keadaan darurat. Namun ulama’ berbeda pendapat dalam masalah suntik membatalkan puasa atau tidak ?

1.Pendapat pertama : Membatalkan secara mutlak. Karena sampai ke dalam tubuh.

2.Pendapat kedua : Tidak membatalkan secara mutlak. Karena sampainya ke dalam tubuh bukan melalui lubang yang terbuka

3.Pendapat ketiga : diperinci sebagai berikut :

1)Jika suntikan tersebut berisi suplemen, sebagai pengganti makanan atau penambah vitamin, maka membatalkan puasa. Karena ia membawa makanan yang dibutuhkan ke dalam tubuh.

2)Jika tidak mengandung suplemen (hanya berisi obat), maka diperinci :

a. Apabila disuntikkan lewat pembuluh darah maka membatalkan puasa.

b. Disuntikkan lewat urat-urat yang tidak berongga maka tidak membatalkan puasa.

روضة الطالبين وعمدة المفتين – (ج 1 / ص 274)

فصل في مبيحات الفطر في رمضان وأحكامه : فالمرض والسفر مبيحان بالنص والاجماع كان مقيما صحيح البدن ثم شرط كون المرض مبيحا أن يجهده الصوم معه فيلحقه ضرر يشق احتماله على ما ذكرنا من وجوه المضار في التيمم. ثم المرض إن كان مطبقا فله ترك النية بالليل وإن كان يحم وينقطع نظر إن كان محموما وقت الشروع فله ترك النية وإلا فعليه أن ينوي من الليل ثم إن عاد واحتاج إلى الافطار أفطر وشرط كون السفر مبيحا كونه طويلا ومباحا ولو أصبح صائما ثم مرض في أثناء النهار فله الفطر ولو أصبح مقيما صائما ثم سافر لم يجز له فطر ذلك اليوم وقال المزني يجوز وبه قال غيره من أصحابنا.

التقريرات السديدة / 452

حكم الإبرة : تجوز للضرورةو ولكن اختلفوا في ابطالها للصوم على ثلاث اقوال :

1. ففي قول : انها تبطل مطلقا لأنها وصلت الى الجوف.

2. وفي قول : انها لا تبطل مطلقا ، لأنها وصلت الى الجوف من غير منفذ مفتوح.

3. وقول فيه تفصيل – وهو الأصح- : اذا كانت مغذية فتبطل الصوم, واذا كانت غير مغذية فننظر : اذا كان في العروق المجوفة-وهي الأوردة- : فتبطل، واذا كان في العضل – وهي العروق غير المجوفة – فلا تبطل

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Orang yang berpuasa dan disuntik, puasanya tidak batal, sebab obat yang dimasukan melalui injeksi itu adalah ke dalam daging, dan tidak ke dalam rongga badan.

Dasar pengambilan Kitab Al Mahali,Hamisy dari Kitab Al Qalyubi juz 2 halaman 56:

وَلَوْ اَوْصَلَ الدَّوَاءَ لِجَرَاحَةٍ عَلَى اسَّاقِ اِلَى دَاخِلِ الَّلخْمِ اَوْ غَرَزَ فِيْهِ سِكَّيْنًا وَصَلَتْ مُحَّهُ لَمْ يُفْطِرْ لأَِنَّهُ لَيْسَ بِجَوْفٍ.

Andaikata seseorang menyampaikan obat bagi luka betis sampai luka kedalam daging, atau menancapkan pisau pada betis tersebut sampai ke sumsum, maka hal itu tidak sampai membatalkan puasanya, daging itu bukan rongga badan.

Infus yang diberikan kepada pasien itu ada dua macam, meskipun caranya sama, yaitu infus untuk memasukan obat dan infus untuk memasukan makanan. Namun yang jelas, kedua macam infus tersebut dilakukan dengan memasukan jarum infus ke dalam saluran darah.

Masalahnya sekarang, apakah saluran darah itu oleh ilmu kedokteran dianggap rongga seperti usus yang menjadi saluran makanan, maka memasukan jarum injeksi ke dalam urat nadi tersebut oleh ilmu kedokteran tidak di anggap rongga seperti usus, maka memasukan jarum injeksi itu tidak di masukan melalui jarum infus tersebut adalah bahan makanan.

Sebab orang yang di infus dengan bahan makanan, yang terkadang beberapa tube, dia akan sanggup hidup meskipun berbulan-bulan meskipun tanpa makanan dan minuman lewat mulutnya. Maka ditinjau dari kandungan hikmah disyariatkan puasa, memasukan bahan makanan melalui jarum infus dapat membatalkan puasa.

Dasar pengambilan Kitab Al Mahalli, Hamisy dari Kitab Al Qalyubi juz 2 halaman 56:

وَلَوْ طَعَنَ نَفْسَهُ اَوْ طَعَنَهُ غَيْرُهُ بِاِذْ نهِ فَوَصَلَ السِّكِيْنُ جَوْفَهُ أَفْطَرَ.

Dan andaikata seorang menikam dirinya sendiri atau orang lain menikam dirinya dengan izinnya, kemudian pisaunya sampai pada rongga, maka hal itu membatalkan puasanya.

Memasukan obat tetes ke dalam telinga hukumnya membatalkan puasa. Memasukkan obat tetes mata tidak membatalkan puasa.

Dasar pengambilan Kitab Al Fiqhul Manhaji ala Madzahibil Imam Asy Syafi’i halaman 84:

فَا قَطْرَةُ مِنَ الأُذُنِ مُفْطِرَةٌ, لأَنَّهَا مَنْفَدٌ مَفْتُوْحٌ. وَالْقَطْرَةُ فِآ الْعَيْنِ غَيْرُ مُفْطِرَةٍ لأَِنَّهُ مَنْفَدٌ غَيْرُ مَفْتُوْحٍ.

Maka tetesan ke dalam lubang dari telinga adalah membatalkan puasa, karena telinga itu adalah lubang yang terbuka. Dan tetesan ke dalam mata itu tidak membatalkan puasa, karena mata itu lubang yang tidak terbuka.

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Ada 5 lubang bagi laki-laki dan 6 bagi perempuan. Jika masuk sesuatu yang kelihatan (ainiyah) ke dalamnya, maka batal lah puasanya, Yaitu Lubang: 1.Hidung,
2.Telinga,
3.Mulut, 4.Dubur,
5.Kemaluan dan
6.Susu (bagi perempuan).
[Kitab Sabilul Muhtadin].

Di kitab tersebut juga disebutkan tiada batal puasanya karena memasukkan jarum suntik, karena kulit tidak termasuk lubang yang terbuka yang 5 atau 6 ini. Ini mazhab Imam Syafi’i ‘alaihi ridhwanulloh wa ardhoh. Kalau mazhab Imam Maliki ditambah mata (maka bercelak membatalkan puasa menurut mazhab beliau ‘alaihi ridhwanulloh wa ardhoh). Wallahu a’lam. Mohon dikoreksi. Maaf tidak menyertakan teks kitabnya.

Wallahu a’lamu bisshowab..

J001. MENGUBURKAN JENAZAH DENGAN PETI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..
Mau tanya lagi,
Bagaimana hukum mengubur jenazah bersama peti mati? Karena ada daerah yang tanah pekuburannya baru satu meter sudah keluar air. Seperti di kalimantan.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Mengubur mayat dengan peti hukumnya makruh karena termasuk idho’atul maal. Terkecuali jika tanah pemakaman berair atau karena kemaslahatan lainnya

اعانة الطالبين ٢/١١٧مكتبة طه فوترا

و كره صندق الالنح نداوة فيجب……..قوله وكره صندوق) اى جعل الميت فيه لانه ينافى الاستكانة و الذل المقصودين من وضعه فى التراب و لان فيه اضاعة مال و عبارة الروض و شرحه و يكره صندوق اى جعل الميت فيه و لا تنفذ و صيته بذلك فان احتيج الى الصندوق لنداوة و نحوها كرخاوة فى الارض فلا كرهة و هو اى الصندوق المحتاج اليه من راس المال كالكفن و لانه من مصالح دفنه الواجب انتهى ملخصا

Jika menilik lafadz :

و هو اى الصندوق المحتاج اليه من راس المال كالكفن و لانه من مصالح دفنه الواجب

Meski peti sangat diperlukan demi kemaslahatan mayit, tetapi tak dapat menggugurkan kewajiban pengkafanan.

Sekira mayat dimasukkan peti tapi tidak dikafnani maka ia ibarat orang dalam kamar yang telanjang padahal penutupan aurat pada haq Allah adalah lebih utama ;

اعانة الطالبين ٢/ ١١٢

لان ساتر العورة حق الله تعالى قياسا على الحي قال الكردى حاصل ما اعتمده الشارح فى كتبه ان الكفن ينقسم على اربعة اقسام حق الله تعالى و هو ساتر العورة و هذا لا يجوز لاحد اسقاطه مطلقا….

Mayit dibungkus dengan daun pisang ? jangankan daun pisang rumput-rumputan juga boleh…

و يحرم التكفين فى جلد ان و جد غيره و كذا الطين و الحشيش فان لم يوجد ثوب وجب جلد ثم حشيش ثم طين فيما استظهره شيخنا

Kita semua sudah sama-sama tahu dan mengerti bahwa pengkafanan mayat adalah sebagian dari hal penting dan wajib dalam prosesi tajhiz janazah. Hubungannya dalam hal ini bahwa kewajiban menutup aurat atas orang yang masih hidup karena unsur efek yang berupa fitnah, bukan karena aurat itu sendiri. Sehingga apabila seseorang telah meninggal dunia maka padanya terdapat hak Allah yang harus dipenuhi, yakni menutup auratnya, dan hak mayat yaitu menutup seluruh badannya. Oleh karena demikian, hak Allah tak bisa gugur biar bagaimanapun, dan memasukkan mayat ke dalam peti mati itu belum menggugurkan hak Allah, dan demikian juga hak mayat. Hal ini bisa diambil mafhum dari ibarot berikut :

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ – ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ – ﺝ ٢ – ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٢٩

ﻓﻴﺠﺐ ﺇﻟﺦ ﺗﻔﺮﻳﻊ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﺧﺘﻼﻑ ﺑﺎﻟﺬﻛﻮﺭﺓ ﻭﺍﻷﻧﻮﺛﺔ.ﻭﻗﻮﻟﻪ: ﻣﺎ ﻳﺴﺘﺮ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻭﺍﻟﻜﻔﻴﻦ ﺃﻱ ﻭﻫﻮ ﺟﻤﻴﻊ ﺑﺪﻧﻬﺎ.ﻗﻮﻟﻪ: ﻻﻥ ﺣﻖ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻱ ﻻﻥ ﺳﺎﺗﺮ ﺍﻟﻌﻮﺭﺓ ﺣﻖ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻗﻴﺎﺳﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺤﻲ.

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻜﺮﺩﻱ: ﺣﺎﺻﻞ ﻣﺎ ﺍﻋﺘﻤﺪﻩ ﺍﻟﺸﺎﺭﺡ ﻓﻲ ﻛﺘﺒﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﻜﻔﻦ ﻳﻨﻘﺴﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﻗﺴﺎﻡ: ﺣﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻭﻫﻮ ﺳﺎﺗﺮ ﺍﻟﻌﻮﺭﺓ، ﻭﻫﺬﺍ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻻﺣﺪ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎ. ﻭﺣﻖ ﺍﻟﻤﻴﺖ: ﻭﻫﻮ ﺳﺎﺗﺮ ﺑﻘﻴﺔ ﺍﻟﺒﺪﻥ، ﻓﻬﺬﺍ ﻟﻠﻤﻴﺖ ﺃﻥ ﻳﻮﺻﻲ ﺑﺈﺳﻘﺎﻃﻪ ﺩﻭﻥ ﻏﻴﺮﻩ. ﻭﺣﻖ ﺍﻟﻐﺮﻣﺎﺀ: ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻭﺍﻟﺜﺎﻟﺚ، ﻓﻬﺬﺍ ﻟﻠﻐﺮﻣﺎﺀ ﻋﻨﺪ ﺍﻻﺳﺘﻐﺮﺍﻕ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ ﻭﻟﻤﻨﻊ ﻣﻨﻪ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻮﺭﺛﺔ. ﻭﺣﻖ ﺍﻟﻮﺭﺛﺔ: ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺰﺍﺋﺪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺜﻼﺙ، ﻓﻠﻠﻮﺭﺛﺔ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ ﻭﺍﻟﻤﻨﻊ ﻣﻨﻪ. ﻭﻭﺍﻓﻖ ﺍﻟﺠﻤﺎﻝ ﺍﻟﺮﻣﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻗﺴﺎﻡ ﺇﻻ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻣﻨﻬﺎ، ﻓﺎﻋﺘﻤﺪ ﺃﻥ ﻓﻴﻪ ﺣﻘﻴﻦ، ﺣﻘﺎ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻭﺣﻘﺎ ﻟﻠﻤﻴﺖ. ﻓﺈﺫﺍ ﺃﺳﻘﻂ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﺣﻘﻪ ﺑﻘﻲ ﺣﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻓﻠﻴﺲ ﻷﺣﺪ ﻋﻨﺪﻩ ﺇﺳﻘﺎﻁ ﺷﺊ ﻣﻦ ﺳﺎﺑﻎ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﺒﺪﻥ. ﺍﻫ.

Terkecuali situasinya memang darurat, seperti tidak menemukan penutup sama sekali, maka memasukkan mayat ke dalam peti mati sudah dianggap cukup, dan hal demikian wajib dilakukan.

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Sesuai kesepakatan ulama dimakruhkan mengubur jenazah dalam peti karena termasuk bid’ah kecuali kalau ada udzur seperti di tanah yang lembab atau gembur berair atau adanya binatang buas yang akan menggalinya walaupun sudah padat yang sekiranya tidak akan bisa terlindungi kecuali dimasukan ke dalam peti, atau jenazah wanita yang tidak punya mahram, dalam hal ini maka tidak dimakruhkan menggunakan peti mati untuk kemaslahatan,bahkan bila diperkirakan adanya binatang buas maka hukumnya menjadi wajib.

– Tuhfah almuhtaj jilid 3 hal 194 :

(يكره دفنه في التابوت)إجماعالانه بدعة(إلالعذر)ككون الدفن في أرض ندية بتخفيف التحتية أورخوة بكسرأوله أوفتحه أوبهاسبع تحفرأرضهاوإن أحكمت أوتهري بحيث لايضبطه إلاالتبوت أوكان إمرأة لامحرم لهافلايكره للمصلحة بل لايبعدوحوبه في مسألة السباع ان غلب وجودهاومسألة التهري

– I’anah At-tholibin jilid 2 hal 117 :

وكره صندق إلالنحونداوة فيجبه

Dan dimakruhkan menggunakan peti mati kecuali semisal berada di tanah yang lembab berair maka hukumnya wajib.

ويكره دفنه في تابوت) بالإجماع لأنه بدعة، (إلاَّ في أرض ندية) بسكون الدال وتخفيف التحتية، (أو رخوة) وهي بكسر الراء أفصح من فتحها: ضدّ الشديدة، فلا يكره للمصلحة؛ ولا تنفذ وصيته به إلاَّ في هذه الحالة. ومثل ذلك ما إذا كان في الميت تَهْرِيَةٌ بحريق أو لذع بحيث لا يضبطه إلاَّ التابوت، أو كانت امرأة لا محرم لـها كما قالـه المتولّي لئلاّ يمسّها الأجانب عند الدفن أو غيره. وَأَلْحَقَ في الوسيط بذلك دَفْنَهُ في أرض مسبعة بحيث لا يصونه من نَبْشِها إلاَّ التابوت

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ – ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ – ﺝ ٢ – ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٣١

ﻭﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﻮﺟﺪ ﺇﻻ ﺣﺐ، ﻓﻬﻞ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﺘﻜﻔﻴﻦ ﻓﻴﻪ ﺑﺈﺩﺧﺎﻝ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻓﻴﻪ ﻷﻧﻪ ﺳﺎﺗﺮ؟ ﻓﻴﻪ ﻧﻈﺮ، ﻭﻻ ﻳﺒﻌﺪ ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ.

نهاية الزين في إرشاد المبتدئين (ص: 154)

ويكره أن يجعل له فرش ومخدة وصندوق لم يحتج إليه لأن في ذلك إضاعة مال –، أما إذا احتيج إلى الصندوق لنداوة أو نحوها فلا يكره

Wallahu a’lamu bisshowab..

N002. HUKUM MENGAMBIL LAMARAN KARENA BERCERAI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Ini yang sering terjdi di tempat saya. Biasanya kalau ada pernikahan dari pengantin cowok membawa lamaran seperti tempat tidur lemari dan perabotan lainnya. Tapi kalau misalnya ada perceraian lamaran tersebut di ambil lagi sama si mantan suami.

Pertanyaannya, boleh ngak lamaran tersebut diambil lagi? Karena hal ini sudah menjadi kebiasaan di tempat kami.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Mengenai kasus harta yang di berikan saat prosesi lamaran hukumnya ditafshil:

1. Tidak boleh diminta lagi atau sudah jadi milik istri sepenuhnya, apabila harta yang dibawa tersebut diberikan kepada pihak wanita dengan tujuan hibah atau sebagai mahar maka tidak boleh ditarik kembali.

2. Boleh diminta lagi, apabila harta yang dibawa tersebut diberikan kepada pihak wanita bukan termasuk bagian dari mahar atau ada niat akan diminta lagi apabila tidak jadi menikah denganya atau tidak ada niat sama sekali maka boleh diminta lagi. Kemudian apabila barang/harta tersebut rusak atau hilang maka bagi si wanita harus bertanggung jawab dengan menggantinya.

– Kitab Fatawy Fiqhiyah Imam Ibnu Hajar :

[بَابٌ فِي الصَّدَاقِ] (وَسُئِلَ) عَمَّنْ خَطَبَ امْرَأَةً وَأَجَابُوهُ فَأَعْطَاهُمْ شَيْئًا مِنْ الْمَالِ يُسَمَّى الْجِهَازَ هَلْ تَمْلِكُهُ الْمَخْطُوبَةُ أَوْ لَا بَيِّنُوا لَنَا ذَلِكَ؟

(فَأَجَابَ) بِأَنَّ الْعِبْرَةَ بِنِيَّةِ الْخَاطِبِ الدَّافِعِ فَإِنْ دَفَعَ بِنِيَّةِ الْهَدِيَّةِ مَلَكَتْهُ الْمَخْطُوبَةُ أَوْ بِنِيَّةِ حُسْبَانِهِ مِنْ الْمَهْر حُسِبَ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مِنْ غَيْرِ جِنْسِهِ أَوْ بِنِيَّةِ الرُّجُوعِ بِهِ عَلَيْهَا إذَا لَمْ يَحْصُلْ زَوَاجٌ أَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ نِيَّةٌ لَمْ تَمْلِكهُ وَيُرْجَعُ بِهِ عَلَيْهَا

[Bab Mahar] Imam Ibnu Hajar ditanya: “ada seorang laki-laki melamar seorang perempuan, lalu laki-laki tersebut memberikan sejumlah harta benda kepada mereka yang disebutkan sebagai persiapan (jihaz) nikah, apakah perempuan yang dilamar itu berhak memilikinya? Mohon dijelaskan!
Imam Ibnu Hajar menjawab : “sesungguhnya yang diterima adalah niat pelamar yang memberinya.
Jika ia memberinya dengan niat sebagai hadiah, maka perempuan yang dilamar berhak memilikinya, atau jika laki-laki itu beniat sebagai maskawin, maka dianggap sebagai maskawin.
Jika laki-laki itu berniat bukan sebagai maskawin atau ia berniat untuk menarik kembali jika perkawinan gagal atau ia tidak berniat apapun, maka perempuan itu tidak berhak memilikinya dan pemberian itu kembali kepada pihak laki-laki terseb

الفتاوى الكبرى لابن حجر الهيتمي ج 4 ص 111

وسئل عمن خطب امرأة وأجابوه فأعطاهم شيئاً من المال يسمى الجهاز هل تملكه المخطوبة أو لا بينوا لنا ذلك؟. فأجاب بأن العبرة بنية الخاطب الدافع فإن دفع بنية الهدية ملكته المخطوبة أو بنية حسبانه من المهر حسب منه وإن كان من غير جنسه أو بنية الرجوع به عليها إذا لم يحصل زواج أو لم يكن له نية لم تملكه ويرجع به عليها.

إعانة الطالبين ج 3 ص 269

(سئل م ر) عمن خطب امرأة وأنفق عليها ليتزوجها ولم يحصل التزوّج بها فهل لها الرجوع بما أنفقه لأجل ذلك أم لا؟.

(فأجاب) بأن له الرجوع بما أنفقه على من دفعه له سواء كان مأكلاً أم مشرباً أم ملبساً أم حلياً، وسواء رجع هو أم مجيبة أم مات أحدهما لأنه إنما أنفق لأجل تزوّجها فيرجع به إن بقي وببدله إن تلف. اهـ. ببعض تصرّف. ومحل رجوعه حيث أطلق أو قصد الهدية لأجل النكاح، فإِن قصد الهدية، لا لأجل ذلك فلا رجوع وإنما حرم التصريح بها لأنها ربما تكذب في انقضاء العدة إذا تحققت رغبته فيها لما عهد على النساء من قلة الديانة وتضييع الأمانة فإِنهن ناقصات عقل ودين.

حاشية البجرمي ج 3 ص 331

وقد سئل م ر عمن خطب امرأة وأنفق عليها ولم يتزوج بها فهل له الرجوع بما أنفقه أم لا؟ فأجاب بأن له الرجوع بما أنفقه على من دفعه له سواء كان مأكلاً أم مشرباً أم ملبساً أم حلياً، وسواء رجع هو أم مجيبه أم مات أحدهما لأنه إنما أنفق لأجل تزوجها فيرجع به إن بقي وببدله إن تلف. قوله: (من يجد مثلك) وأنا راغب فيك، وأما الكناية وهي الدلالة على الشيء بذكر لازمة فقد تفيد ما يفيده التصريح فتحرم نحو: أريد أن أنفق عليك نفقة الزوجات وأتلذذ بك، فإن حذف أتلذذ بك لم يكن تصريحاً ولا تعريضاً ح ل .

إعانةالطالبين ج 3 ص 157

(سئل م ر) عمن خطب امرأة، ثم أنفق عليها نفقة ليتزوّجها، فهل له الرجوع بما أنفقه أم لا؟.

(فأجاب) بأن له الرجوع بما أنفقه على من دفع له، سواء كان مأكولاً، أو مشروباً، أم ملبساً، أم حلواً، أم حلياً، وسواء رجع هو، أم مجيبه، أم مات أحدهما، لأنه إنما أنفقه لأجل تزوّجها، فيرجع به إن بقي، وببدله إن تلف، وظاهر أنه لا حاجة إلى التعرّض لعدم قصده الهدية لا لأجل تزوّجه بها، لأنه صورة المسألة، إذ لو قصد ذلك، أي الهدية، لا لأجل تزوّجه بها، لم يختلف في عدم الرجوع. اهـ. (قوله: ولو بعث) أي شخص (قوله: فمات المهدى إليه) أي الشخص الذي أهدي إليه (قوله: قبل وصولها) أي الهدية (قوله: بقيت على ملك المهدي) أي لما تقدّم أن الهبة بأنواعها الثلاثة لا تملك إلا بالقبض بدليل أنه لما مات النجاشي قبل وصول ما أهداه رسول الله ، ردّ له وقسمه بين زوجاته (قوله: فإن مات المهدي) أي قبل وصول ما أهداه للمهدى إليه، (وقوله: لم يكن للرسول الخ) أي لا يجوز له ذلك إلا بإذن الوارث. وعبارة الروض وشرحه.

Wallahu a’lamu bisshowab..

M010. HUKUM JJS BERHADIAH

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bagaimana hukum undian seperti JJS ( Jalan-Jalan Sehat) itu terdapat kupon yang harus di beli, apakah termasuk perjudian?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Yang tidak boleh itu jika pesertanya dipungut biaya.
[ Referensi bajuri jilid 2 hal 33 cetakan mahkota surabaya ].

Hukumnya Tergantung :
– Bila hadiah undian dari dana peserta,
– Bila hadiah undian dari hasil transaksi ribawi,
– Bila hadiah dari pihak panitia dari sumber sah dan halal,

Kalau dipungut biaya / undiannya membeli maka harom, karena jual beli undian / kupon tersebut tidak sah karen kupon / undian tersebut tidak bermanfa’at / tidak bernilai dan juga jual beli kupon tersebut ada unsur penipuan dan judi karena ada untung dan rugi.

.ولا بيع حبتي نحو النطة أو الزبيب و نحو عشرين حبة خردل وغير ذلك من كل ما لا يقابل بمال عرفا في حالة الإختيار لانتفاء النفع بذلك لقلته.
تحفة المحتاج ٤/٢٣٨

الثاني من شروط المبيع النفع به شرعا ولو مآلا كجحش صغير ماتت أمه كما في الأنوار،قوله المتن الثاني النفع أى بما وقع عليه الشراء في حد ذاته فلا يصح بيع ما لا ينتفع به بمجرده وإن تأتي النفع به بضمه الى غيره كما سيأتي في نحو حبتي حنطة أن عدم النفع إما للقلة كحبتي بر و إما للخسة كالحشرات.
نهاية المحتاج ٣/٣٩٥

أن التجارة لا تحمد ولا تحل إلا إن صدرت عن التراضي من الجانبين والتراضي إنما يحصل حيث لم يكن هناك غش ولا تدليس وأما حيث كان هناك غش وتدليس.
الزواجر ١/٤٠٠

وهو أى القمار التردد بين الغنم والغرم.
الشرقاوي ٢/٤٢٥

Ibnu Qudamah mengatakan,
ومتى استبق الاثنان والجعل بينهما فأخرج كل واحد منهما لم يجز وكان قمارا لأن كل واحد منهما لا يخلو من أن يغنم أو يغرم وسواء كان ما أخرجاه متساويا مثل أن يخرج كل واحد منهما عشرة أو متفاوتا مثل أن أخرج أحدهما عشرة والآخر خمسة
Ketika 2 orang berlomba dan ada hadiahnya, namun masing-masing membayar iuran, hukumnya tidak dibolehkan. Dan termaduk judi. Karena masing-masing ada 2 kemungkinan, beruntung atau rugi. Baik iuran yang dikeluarkan nilainya sama, misalnya, masing-masing membayar 10 ribu. atau iurannya beda, misalnya, yang satu membayar 10 ribu sementara satunya membayar 5 ribu. (al-Mughni, 11/131).

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Bila kupon / undiannya tidak membeli bahkan hanya merupakan hadiah dari belanja barang / souvenir walaupun harganya mahal maka hukum hadiahnya halal.

Hadiah dari suatu undian atau kuis-kuis apabila terdapat unsur untung rugi dari peserta seperti pembelian kopon-kupon hukumnya haram. Sedangkan hadiah dalam perlombaan, apabila hadiahnya diambilkan dari uang pendaftaran hukumnya haram dan apabila tidak diambilkan dari uang pendaftaran hukumnya halal.

Referensi :

1. Is’ad al-Rafiq, Juz II, Hal. 102

2. Rawai’u al-Bayan, Juz I, Hal. 179

3. al-Bajuri, Juz II, Hal. 309

4. al-Mughni, Juz X, Hal. 171

5. Fawakih al-Dawany, Juz II, Hal. 285

6. al-Halal wa al-Haram fi al-Islam, Hal. 295

7. Syiraj al-Wahhaj, Hal 569

وعبارته :

1. (كل ما فيه قمار) وصورته المجمع عليها ان يخرج العوض من الجانبين مع تكافئهما وهو المراد من الميسر فى الأية ووجه حرمته ان كل واحد متردد بين ان يغلب صاحبه فيغنم او يغلبه صاحبه فيغرم فان عدل عن ذلك الى حكم السبق والرمي بأن ينفرد احد اللاعبين باخراج العوض ليأخذ منه ان كان مغلوبا وعكسه ان كان غالبا فالأصح حرمته ايضا اهـ (اسعاد الرفيق، جـ 2، صـ 102)

2. اتفق العلماء على تحريم ضروب القمار وأنها من الميسر المحرم لقوله تعالى “قل فيهما اثم كبير” فلكل لعب يكون فيه ربح لفريق وخسارة لأخر هو من الميسر المحرم سواء كان اللعب بالنرد أو السطرنج او غيرهما ويدخل فيه فى زماننا مثل (اليانصيب) سواء منه ما كان بقصد الخير (اليانصيب الخيري) او بقصد الربح المجرد فكله ربح خبيث وان الله تعالى طيب لا يقبل الا طيبا (روائع البيان، جـ 1، صـ 279)

3. ويجوز شرط العوض من غير المتسابقين من الامام أو الاجنبي كأن يقول الامام من سبق منكما فله على كذا من مالي أو فله فى بيت المال كذا ويكون ما يخرجه من بيت المال من سهم المصالح وكأن يقول الاجنبي من سبق منكما فله على كذا لانه بذل مال فى طاعة وليس لملتزم العوض ولو كان غير المتسابقين زيادة فى العوض ولا نقص عنه وكذلك العمل فليس له زيادة ولا نقص فيه وليس له فسخ العقد لانه لازم فى حقه كالاجارة (الباجوري، جـ2، صـ 309)

4. فصل فى اللعب كل لعب فيه قمار فهو محرم اي لعب كان وهو من الميسر الذي أمر الله تعالى باجتنابه ومن تكرر منه ذلك ردت شهادته وما خلا من القمار وهو اللعب الذي لا عوض فيه من الجانبين ولا من احدهما فمنه ما هو محرم ومنه ما هو مباح فأما المحرم فاللعب بالنرد وهذا قول ابي حنيفة وأكثر اصحاب الشافعي وقال بعضهم هو مكروه غير محرم اهـ (المغني، جـ 10، صـ 171)

5. ومن انواع الباطل القمار وهو ما يأخذه الشخص من غيره بسبب المغالبة عند اللعب بنحو الطاب او مسابقة على غير اوجه الشرعي اهـ (الفواكه الدواني، جـ 2، صـ 285)

6. والاسلام الذي ابح للمسلم الوانا من اللهو واللعب حرم كل لعب يخالطه قمار وهو ما لا يخلو للاعب فيه ربح او خسارة –الى ان قال- ولا يحل لمسلم ان يجعل من لعب القمار (اليسر) وسيلة وتمضية اوقات الفراغ كما لا يحل له ان يتخذ منه وسيلة لاكتساب المال بحال من الاحوال اهـ (الحلال والحرام فى الاسلام، صـ 295)

7. ويجوز شرط المال (من احدهما) فقط (فيقول ان سبقتني فلك على كذا او سبقتك فلا شيئ عليك، فان شرط) فى العقد (ان من سبق منهما فله على الاخير كذا لم يصح الا بمعلل) اهـ (شراج الوهاج، صـ 569)

Bagaimana kriteria suatu undian atau kuis agar tidak termasuk dalam kategori qimar (judi)?

Jawaban :

Undian dan kuis yang diadakan harus menghindari ketentuan-ketentuan dalam qimar seperti unsur untung rugi dalam pelaksanaannya.

Referensi : Meruju’ pada keterangan di atas.

Wallahu a’lamu bisshowab..

HE01. SEMBELIHAN HEWAN DARI LEHER BELAKANG SAMPAI KEPALA PUTUS

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bagaimana hukumnya menyenbelih hewan dari leher belakang sampai kepalanya putus, sebagaimana video yang sudah viral di media?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Dalam video tersebut, hewan yang berupa kambing disembelih dengan cara ditebas putus dalam posisi leher tidak menghadap ke pisau.

Maka hukumnya memotong hewan dari belakang (tidak dari leher) termasuk maksiat atau dosa. Sedangkan memotong leher hingga terputus hukumnya adalah makruh menurut qoul muktamad dan bahkan ada yang mengatakan haram menurut.

Dasarnya dari Kitab Tausyih Ala Ibni Qosim (Syarkh Fathul Qorib) Madzhab Imam Syafii Halaman 267 Darul Fikr, sebagai berikut:

ولو ذبح الحيوان من قفاه أو من صفحة عنقه عصى للعدول عن محل الذبح لما فيه من التعذيب.

Artinya: Jika seseorang menyembelih hewan dari arah tengkuk (jito’: jawa) maka ia melakukan kemaksiatan karena berpindah dari tempat menyembelih yang sesuai syara’. Dikarenakan hal tersebut terdapat unsur ta’dzib / menyakiti hewan

menyembelih hewan hingga kepalanya putus, alias tidak menjadi bangkai, namun metode tersebut ada yang mengatakan haram, dan ada yang mengatakan makruh. Ta’bir :

Pertama : dalam kitab Hasyiyah Qalyubi 16/51 (maktabah syamilah) :

وَلَا يَحْرُمُ قَطْعُ مَا زَادَ وَلَوْ بِانْفِصَالِ رَأْسِهِ

WA LAA YAHRUMU QATH’U MAA ZAADA WA LAU BINFISHAALI RA`SIHII.

Tidak haram memotong organ lebih dari HULQUUM (saluran nafas) dan MARII` (saluran makanan), meskipun dengan terpisahnya kepala

Kedua : dalam kitab Hasyiyah Bujairimi ‘Alal Iqna’ juz 22 halaman 69 (maktabah syamilah) :

وَالزِّيَادَةُ عَلَى الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ وَالْوَدَجَيْنِ قِيلَ بِحُرْمَتِهَا لِأَنَّهَا زِيَادَةٌ فِي التَّعْذِيبِ وَالرَّاجِحُ الْجَوَازُ مَعَ الْكَرَاهَةِ

WAZZIYAADAH ‘ALAL HULQUUMI WAL MARII`I WAL WADAJAINI QIILA BIHURMATIHAA LI ANNAHAA ZIYAADATUN FITTA’DZIIBI, WARRAAJIHU AL JAWAAZ MA’AL KARAAHAH.

(Menyembelih) melebihi HULQUUM (saluran nafas), MARII` (saluran makanan) dan WADAJAIN (dua urat leher) ada yang mengatakan haram, karena hal itu menambah penyiksaan. Pendapat yang rajih adalah boleh disertai karaahah (makruh).

Kesimpulan : Menyembelih tidak ada syarat kepalanya tidak boleh putus, jika kepalanya putus sembelihannya tetap sah dan hasilnya halal dimakan, namun penyembelihan seperti itu hukumnya makruh.

– Hasyiyah al Bujairimi ‘alaa Fat_hil Wahhaab juz IV halaman 287 :

و يكره له ابانة راسها حالا، و زيادة القطع و كسر العنق و قطع عضو عنها و تحريكها و نقلها حتى تخرج روحها

Dimakruhkan memisahkan kepalanya seketika, menambah pemotongan, mematahkan leher, memotong anggota tubuhnya, menggerak-gerakan serta memindahkan sampai ruhnya keluar.

Sah menyembelih hewan hingga kepalanya putus, alias tidak menjadi bangkai, namun metode tersebut ada yang mengatakan haram, dan ada yang mengatakan makruh. Ta’bir :

Pertama : dalam kitab Hasyiyah Qalyubi 16/51 (maktabah syamilah) :

وَلَا يَحْرُمُ قَطْعُ مَا زَادَ وَلَوْ بِانْفِصَالِ رَأْسِهِ

WA LAA YAHRUMU QATH’U MAA ZAADA WA LAU BINFISHAALI RA`SIHII.

Tidak haram memotong organ lebih dari HULQUUM (saluran nafas) dan MARII` (saluran makanan), meskipun dengan terpisahnya kepala

Kedua : dalam kitab Hasyiyah Bujairimi ‘Alal Iqna’ juz 22 halaman 69 (maktabah syamilah) :

وَالزِّيَادَةُ عَلَى الْحُلْقُومِ وَالْمَرِيءِ وَالْوَدَجَيْنِ قِيلَ بِحُرْمَتِهَا لِأَنَّهَا زِيَادَةٌ فِي التَّعْذِيبِ وَالرَّاجِحُ الْجَوَازُ مَعَ الْكَرَاهَةِ

WAZZIYAADAH ‘ALAL HULQUUMI WAL MARII`I WAL WADAJAINI QIILA BIHURMATIHAA LI ANNAHAA ZIYAADATUN FITTA’DZIIBI, WARRAAJIHU AL JAWAAZ MA’AL KARAAHAH.

(Menyembelih) melebihi HULQUUM (saluran nafas), MARII` (saluran makanan) dan WADAJAIN (dua urat leher) ada yang mengatakan haram, karena hal itu menambah penyiksaan. Pendapat yang rajih adalah boleh disertai karaahah (makruh).

Kesimpulan : Menyembelih tidak ada syarat kepalanya tidak boleh putus, jika kepalanya putus sembelihannya tetap sah dan hasilnya halal dimakan, namun penyembelihan seperti itu hukumnya makruh.

– Hasyiyah al Bujairimi ‘alaa Fat_hil Wahhaab juz IV halaman 287 :

و يكره له ابانة راسها حالا، و زيادة القطع و كسر العنق و قطع عضو عنها و تحريكها و نقلها حتى تخرج روحها

Dimakruhkan memisahkan kepalanya seketika, menambah pemotongan, mematahkan leher, memotong anggota tubuhnya, menggerak-gerakan serta memindahkan sampai ruhnya keluar.

Wallahu a’lamu bisshowab…

M009. BATASAN MELIHAT AURAT ANAK KECIL

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Mau nanya, bolehkah anak kecil melihat aurat ibunya sendiri atau ibu melihat aurat anaknya sendiri. kalau boleh sampai batasan mana dibolehkan dan kalau tidak boleh sejak umur berapa tidak diperbolehkan?
Mohon penjelasannya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Menurut pendapat yang paling shahih kemaluan bocah wanita kecil haram dilihat kecuali bagi seorang ibunya dimasa usia menyusui, sedang kemaluan bocah lelaki kecil menurut mayoritas pengikut syafi’i boleh dilihat.

فتح المعين بشرح قرة العين ج 3 – الصفحة 260 زين الدين بن عبد العزيز المليباري

والمعتمد عند الشيخين عدم جواز نظر فرج صغيرة لا تشتهى وقيل يكره ذلك وصحح المتولي حل نظر فرج الصغير إلى التمييز وجزم به غيره وقيل يحرم ويجوز لنحو الام نظر فرجيهما ومسه زمن الرضاع والتربية للضرورة

الكتاب : حاشية إعانة الطالبين ج 3 – الصفحة 320 المؤلف : أبو بكر (المشهور بالبكري) بن محمد شطا الدمياطي (المتوفى : بعد 1302هـ) [ هو حاشية على حل الفاظ فتح المعين لشرح قرة العين بمهمات الدين / لزين الدين بن عبد العزيز المعبري المليباري (المتوفى : 987 هـ) ]

(قوله: والمعتمد عند الشيخين) عبارة المنهاج مع المغني: والاصح حل النظر إلى صغيرة لا تشتهي إلا الفرج، فلا يحل نظره. قال الرافعي، كصاحب العمدة، اتفاقا. ورده في الروضة بأن القاضي جوزه جزما، فليس ذلك اتفاقا، بل فيه خلاف.اه. بحدف (قوله: وصحح المتولي حل نظر فرج الصغير) أي قبله، كما هو ظاهر، اه سم. والفرق بين فرج الصغير – حيث حل النظر إليه – وفرج الصغيرة – حيث حرم النظر إليه – أن فرجها أفحش

(Keterangan menurut pendapat Mu’tamad (yang dapat dijadikan pegangan) menurut as-Syaikhaani) redaksi dalam kitab al-Manhaj dan al-Mughni “Pendapat yang paling shahih boleh melihat bocah wanita yang belum menimbulkan gelora syahwat kecuali kemaluannya, maka tidak halal.

Ar-Roofi’i dan pengarang kitab al-‘Umdah menyatakan “dengan kesepakatan ulama” namun dalam ar-Raudhah diterangkan bahwa alQadhy membolehkannya, berarti tidak terjadi kesepakatan ulama tetapi ada khilaf dalam masalah ini.

(Keterangan Al-Mutawaaly menshahihkan pendapat yang menyatakan bolehnya melihat kemaluan bocah laki-laki) perbedaan diantara kedua kelamin bocah ini hingga mengakibatkan halalnya melihat kelamin bocah laki-laki dan haramnya melihat kelamin bocah wanita adalah kelamin wanita bentuknya lebih cabul.

Menurut pendapat Mu’tamad (yang dapat dijadikan pegangan) menurut as-Syaikhaani (an-Nawaawy dan ar-Roofi’i) tidak bolehnya melihat kemaluan bocah kecil wanita yang belum mengundang syahwat, menurut Qiil (sebuah pendapat) makruh.

Al-Mutawaaly menshahihkan pendapat yang menyatakan bolehnya melihat kemaluan bocah laki-laki hingga ia usia tamyiz (usia saat ia bisa makan, minum, tidur, buang air kotoran dengan sendiri). menurut Qiil (sebuah pendapat) haram.

Dan bagi semisal Ibu boleh melihat dan memegang kemaluan kedua bocah tersebut saat usia menyusui dan mendidik karena adanya darurat. [ Fath al-Mu’in III/260, Hasyiyah I’aanah at-Thoolibiin III/320 ].

فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب ج 2 – الصفحة 55 زكريا بن محمد بن أحمد بن زكريا الأنصاري أبو يحيى سنة الولادة 823/ سنة الوفاة 926

( وحل بلا شهوة نظر لصغيرة ) لا تشتهي ( خلا فرج ) لأنها ليست في مظنة شهوة

أما الفرج فيحرم نظره وقطع القاضي بحله عملا بالعرف وعلى الأول استثنى ابن القطان الأم زمن الرضاع والتربية للضرورة أما فرج الصغير فيحل النظر إليه ما لم يميز كما صححه المتولي وجزم به غيره ونقله السبكي عن الأصحاب

Dan halal melihat bocah wanita kecil yang belum menimbulkan gelora syahwat kecuali kemaluannya yang haram melihatnya sedang alQaadhy (Husein) memutuskan diperbolehkannya dengan mempertimbangkan kebiasaan yang terjadi dimasyarakat. Ibn al-Qatthaan membolehkan melihatnya bagi seorang ibu saat usia menyusui dan mendidik karena adanya darurat. Sedang kemaluan bocah laki-laki halal melihatnya selagi ia belum tamyiz, pendapat ini dishahihkan oleh al-Mutawally dan lainnya dan dinuqil oleh as-Subky dari para Ashaab (pengikut as-Syaafi’i). [ Fath al-Wahhaab II/55 ]

AURAT ANAK KECIL :

الشافعية قالوا : إن عورة الصغير في الصلاة ذكرا كان أو أنثى مراهقا أو غير مراهق كعورة المكلف في الصلاة أما خارج الصلاة فعولة الصغير المراهق ذكرا كان أو أنثى كعورة البالغ خارجها في الأصح وعورة الصغير غير المراهق إن كان ذكرا كعورة المحارم إن كان ذلك الصغير يحسن وصف ما يراه من العورة بدون شهوة فإنه أحسنه بشهوة فالعورة بالنسبة له كالبالغ وإن لم يحسن الوصف فعورته كالعدم الا أنه يحرم النظر إلى قبله ودبره لغير من يتولى تربيته أما إن كان غير المراهق أنثى فإن كانت مشتهاة عند ذوي الطباع السليمة فعورتها عورة البالغة . وإلا فلا لكن يحرم النظر إلى فرجها لغير القائم بتربيتها

Kalangan Syafi’iyyah berpendapat : Aurat anak-anak baik pria atau wanita dalam shalat baik ia telah muraahiq (usia menjelang dewasa) atau belum seperti halnya aurat orang dewasa.Sedang aurat mereka diluar shalat menurut pendapat yang paling shahih juga seperti orang dewasa.

Aurat anak kecil yang belum murahiq bila ia pria maka seperti aurat diantara para mahram bila ia sudah mampu mensifati aurat yang ia lihat namun tanpa disertai syahwat, bila disertai syahwat maka auratnya seperti halnya orang dewasa.Sedang auratnya bila masih belum mensifati aurat yang ia lihat maka auratnya seperti tidak ada hanya saja diharamkan melihat kelamin dan duburnya bagi selain pengasuhnya.

Aurat anak kecil yang belum murahiq bila ia telah menimbulkan pesona syahwat menurut ukuran akal normal maka seperti wanita dewasa bila belum menimbulkan pesona maka tidak, namun haram melihat kemaluannya bagi selain pengasuhnya. [ Al-Fiqh alaa Madzaahib al-Arba’ah I/198 ].

نظر الرجل إلى الصغيرة :9 – اتفق الفقهاء على أن النظر إلى الصغيرة بشهوة حرام ، مهما كان عمرها ، ومهما كان العضو المنظور إليه منها ، واتفقوا أيضا على أنه يجوز للرجل أن ينظر بغير شهوة إلى جميع بدن الصغيرة التي لم تبلغ حد الشهوة سوى الفرج منها .

Semua Ulama sepakat bahwa melihat aurat anak kecil wanita dengan disertai syahwat maka haram hukumnya, usia berapapun anak kecil tersebut dan dibagian tubuh manapun yang ia lihat, dan Ulama juga sepakat bahwa diperbolehkan bagi pria dewasa melihat dengan tanpa syahwat terhadap anak kecil wanita yang belum sampai pada usia yang menimbulkan gelora kecuali pada kemaluannya. [ Al-Mausuu’h al-Fiqhiyyah 40/347 ].

Wallahu a’lamu bisshowab..

S006. MAKMUM MASBUQ UNTUK SHALAT JANAZAH

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Makmum yang bisa dikatakan ikut pada imam adalah ketika bisa mengikuti imam paling akhir yaitu ikut rukuknya (Sekedar bacaan dalam rukuk) Dalam kitab2 fikih banyak penjelasan nya tapi untuk sholat janazah, sampai dimana batasan makmum dikatakan ikut pada imam?
Apa takbir yang pertama?
Atau takbir yang kedua?
Atau yang penting bisa ikut takbir imam walaupun yang terakhir?

Nyo’onah jawabannya ustadz..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Ketentuan bagi makmum sholat jenazah sebagai berikut :

– MAKMUM MUWAFIQ

Makmum muwafiq ketika mengundur-undur takbir pertama dalam mengikuti imam tanpa adaya udzur sehingga imam takbir yang kedua maka batal shalatnya, karenaa meninggalkan takbir sama halnya meninggalkan 1 roka’at pada selain shalat jenazah.

– MAKMUM MASBUQ

Adapun makmum masbuq maka ia langsung takbir dan membaca al fatihah walaupun imam dalam shalat mayit sedang membaca shalwat kepada nabi (takbir kedua) atau membaca do’a, hal ini makmum masbuq agar memperhtikan urutan shalatnya sendiri, kemudian jika imam takbir selanjutnya sebelum makmum masbuq tersebut membaca al fatihah maka gugur bacaan al fatihahya, hal ini seperti imam rukuk dalam Selain shalat jenazah maka makmum masbuq langsung ruku dan tidak membaca al fatihah, kemudian jika imam takbir selanjutnya sedangkan makmum masbuq sedang membaca al fatihah maka ia harus meninggalkan bacaan al fatihahnya dan mengikuti imam, hal ini menurut madzhab untuk menjaga dalam mgikuti imam.

Kemudian setelah imam salam maka makmum masbuq menyempurnakan shalat jenazahya dengan takbir-takbir pada shalat jenazah dan dzikir-dzikirya yang tertinggal. Disunahkan untuk tidak mengangkat jenazah sehingga semua shalat makmumnya selesai dan tidak membahayakan mengangkat jenazah sblum semua makmum shalat jenazah selesai. [ Lihat kifayatul akhyar 1/168 ].

– ibaroh dari kitab Roudhotut Tholibin :

ﻓﺮﻉﺍﻟﻤﺴﺒﻮﻕ ﺇﺫﺍ ﺃﺩﺭﻙ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻓﻲ ﺃﺛﻨﺎﺀ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺼﻼﺓ ، ﻛﺒﺮ ﻭﻟﻢﻳﻨﺘﻈﺮ ﺗﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﺒﻠﺔ ، ﺛﻢ ﻳﺸﺘﻐﻞ ﻋﻘﺐ ﺗﻜﺒﻴﺮﻩﺑﺎﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ، ﺛﻢ ﻳﺮﺍﻋﻲ ﻓﻲ ﺍﻷﺫﻛﺎﺭ ﺗﺮﺗﻴﺐ ﻧﻔﺴﻪ ، ﻓﻠﻮ ﻛﺒﺮﺍﻟﻤﺴﺒﻮﻕ ، ﻓﻜﺒﺮ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻣﻊ ﻓﺮﺍﻏﻪ ﻣﻦ ﺍﻷﻭﻟﻰ ، ﻛﺒﺮ ﻣﻊﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ، ﻭﺳﻘﻄﺖ ﻋﻨﻪ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ، ﻛﻤﺎ ﻟﻮ ﺭﻛﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻓﻲ ﺳﺎﺋﺮﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ ﻋﻘﺐ ﺗﻜﺒﻴﺮﻩ . ﻭﻟﻮ ﻛﺒﺮ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻭﺍﻟﻤﺴﺒﻮﻕﻓﻲ ﺃﺛﻨﺎﺀ ﺍﻝﻓﺎﺗﺤﺔ ، ﻓﻬﻞ ﻳﻘﻄﻊ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﻳﻮﺍﻓﻘﻪ ، ﺃﻡ ﻳﺘﻤﻬﺎ ؟ﻭﺟﻬﺎﻥ ﻛﺎﻟﻮﺟﻬﻴﻦ ﻓﻴﻤﺎ ﺇﺫﺍ ﺭﻛﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻭﺍﻟﻤﺴﺒﻮﻕ ﻓﻲ ﺃﺛﻨﺎﺀﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ، ﺃﺻﺤﻬﻤﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻷﻛﺜﺮﻳﻦ : ﻳﻘﻄﻊ ﻭﻳﺘﺎﺑﻌﻪ . ﻭﻋﻠﻰﻫﺬﺍ ، ﻫﻞ ﻳﺘﻢ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮﺓ ﻷﻧﻪ ﻣﺤﻞ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺑﺨﻼﻑﺍﻟﺮﻛﻮﻉ ، ﺃﻡ ﻻ ﻳﺘﻢ ؟ ﻓﻴﻪ ﺍﺣﺘﻤﺎﻻﻥ ﻟﺼﺎﺣﺐ ) ﺍﻟﺸﺎﻣﻞ ( .ﺃﺻﺤﻬﻤﺎ : ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ . ﻭﻣﻦ ﻓﺎﺗﻪ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮﺍﺕ ، ﺗﺪﺍﺭﻛﻬﺎ ﺑﻌﺪﺳﻼﻡ ﺍﻹﻣﺎﻡ ، ﻭﻫﻞ ﻳﻘﺘﺼﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮﺍﺕ ﻧﺴﻘﺎ ﺑﻼ ﺫﻛﺮ ، ﺃﻡﻳﺄﺗﻲ ﺑﺎﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ؟ ﻗﻮﻻﻥ . ﺃﻇﻬﺮﻫﻤﺎ : ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ .ﻗﻠﺖ : ﺍﻟﻘﻮﻻﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ ﻭﻋﺪﻣﻪ ، ﺻﺮﺡ ﺑﻪ ﺻﺎﺣﺐ) ﺍﻟﺒﻴﺎﻥ ( ﻭﻫﻮ ﻇﺎﻫﺮ – . ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻻ ﺗﺮﻓﻊ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ، ﺣﺘﻰ ﻳﺘﻢ ﺍﻟﻤﺴﺒﻮﻗﻮﻥ ﻣﺎﻋﻠﻴﻬﻢ ، ﻓﻠﻮ ﺭﻓﻌﺖ ، ﻟﻢ ﺗﺒﻄﻞ ﺻﻼﺗﻬﻢ ﻭﺇﻥ ﺣﻮﻟﺖ ﻋﻦﺍﻟﻘﺒﻠﺔ ، ﺑﺨﻼﻑ ﺍﺑﺘﺪﺍﺀ ﻋﻘﺪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ، ﻻ ﻳﺤﺘﻤﻞ ﻓﻴﻪ ﺫﻟﻚﻭﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﺣﺎﺿﺮﺓ

ﻓﺮﻉﻟﻮ ﺗﺨﻠﻒ ﺍﻟﻤﻘﺘﺪﻱ ﻓﻠﻢ ﻳﻜﺒﺮ ﻣﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﺃﻭ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﺣﺘﻰﻛﺒﺮ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺘﻜﺒﻴﺮﺓ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﺒﻠﺔ ﻣﻦ ﻍﻳﺮ ﻋﺬﺭ ، ﺑﻄﻠﺖ ﺻﻼﺗﻪﻛﺘﺨﻠﻔﻪ ﺑﺮﻛﻌﺔ

ﺭﻭﺿﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﻭﻋﻤﺪﺓ ﺍﻟﻤﻔﺘﻴﻦ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺹ: [ 128 ﺍﻟﻤﻜﺘﺐ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲﺳﻨﺔ ﺍﻟﻨﺸﺮ1412 :ﻫـ 1991 /ﻡ

Makmum yang terlambat datang dalam berjamaah shalat jenazah, juga disebut makmum masbuq seperti shalat jamaah lainnya. Takbir dalam shalat jenazah sama dengan rakaat dalam shalat yang lain. Dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa adillatuh; 2/1525-1526 (Maktabah Syamilah) disebutkan bahwa, para ulama sepakat bahwa makmum masbuq shalat jenazah hendaknya mengikuti imam dalam rukun yang ia temui, lalu setelah imam salam, ia menyempurnakan rukun yang belum ia lakukan hingga salam.

Madzhab Syafi’i, memberikan perincian bahwa makmum masbuq shalat jenazah hendaknya takbiratul ihram lalu membaca fatihah, meskipun pada saat itu imam sudah melakukan takbir selain takbir pertama (takbirotul ihrom). Kemudian, jika imam takbir lagi, sebelum makmum menyelesaikan bacaan fatihah atau bahkan tidak mempunyai kesempatan membaca fatihah, maka si makmum hendaknya ikut takbir, dan bacaan fatihahnya gugur. Jika imam salam, si makmum meneruskan rukun-rukun shalat jenazah yang selanjutnya, hingga salam.

Menurut madzhab Hanafi dan Maliki, makmum masbuq langsung takbiratul ihram, lalu menanti imam melakukan takbir, kemudian takbir bersamanya dan membaca bacaan sesuai dengan apa yang dibaca imam. Setelah imam salam, si makmum menyempurnakan takbir secara langsung tanpa doa kemudian salam. Jika si makmum datang, sementara imam sudah melakukan takbir ke-4, maka ia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berjamaah shalat jenazah.

Menurut Hanabilah, masbuq langsung takbir dan menyempurnakan takbir yang tertinggal hingga sama dengan jumlah takbir imam, tidak harus menyempurnakan takbir setelah imam salam.

Referensi:

الفقه الإسلامي وأدلته ج 2 ص 1525-1526

اتفق الفقهاء على أن المسبوق يتابع الإمام فيما لحقه، ويتم ما فاته، ولكن لهم تفصيلات في كيفية الإتمام (1). فقال الحنفية: المسبوق ببعض التكبيرات يكبر للتحريمة ثم لا يكبر في الحال، بل ينتظر تكبير الإمام ليكبر معه للافتتاح؛ لأن كل تكبيرة ركعة، كما سبق، ثم يكبر ما فاته كالمدرك الحاضر، بعد فراغ الإمام، تكبيراً متتابعاً، بلا دعاء إن خشي رفع الميت على الأعناق. أما لو جاء المسبوق بعد تكبيرة الإمام الرابعة فقد فاتته الصلاة، لتعذر الدخول في تكبيرة الإمام. وكذلك قال المالكية: يكبر المسبوق للتحريمة، ثم يصبر وجوباً إلى أن يكبر الإمام، فإن كبر صحت صلاته، ولا يعتد بها عند أكثر المشايخ، ثم يدعو المسبوق بعذ فراغ الإمام إن تركت الجنازة، وإلا بأن رفعت والى التكبير بلا دعاء وسلم. فالمالكية كالحنفية تماماً. وقال الشافعية: يكبر المسبوق ويقرأ الفاتحة، وإن كان الإمام في تكبيرة أخرى غير الأولى، فإن كبر الإمام تكبيرة أخرى قبل شروع المأموم في الفاتحة بأن كبر عقب تكبيره، كبر معه، وسقطت القراءة، وتابعه في الأصح، كما لو ركع الإمام عقب تكبير المسبوق، فإنه يركع معه، ويتحملها عنه. وإذا سلم الإمام وجب على المسبوق تدارك باقي التكبيرات بأذكارها. وقال الحنابلة: من فاته شيء من التكبير قضاه متتابعاً، فإن سلم مع الإمام ولم يقض، فلا بأس وصحت صلاته، أي أن المسبوق بتكبير الصلاة في الجنازة يسن له قضاء ما فاته منها على صفته، عملاً بقول ابن عمر: إنه لا يقضي. ولما روي عن عائشة أنها قالت: «يا رسول الله، إني أصلي على الجنازة، ويخفى علي بعض التكبير؟ قال: ما سمعت فكبري، وما فاتك فلا قضاء عليك» (1). فإن خشي المسبوق رفع الجنازة، تابع بين التكبير من غير قراءة ولا صلاة على النبي صلّى الله عليه وسلم ولا دعاء للميت، سواء رفعت الجنازة أم لا. ومتى رفعت الجنازة بعد الصلاة عليها لم توضع لأحد يريد أن يصلي عليها، تحقيقاً للمبادرة إلى مواراة الميت، أي يكره ذلك.

Wallahu a’lamu bisshowab..

D004. HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN BAGI PEREMPUAN HAID

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bolehkah membaca amalan ayat Al-Qur’an bagi perempuan haid?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Membaca al-Quran bagi wanita haid juga haram hukumnya kecuali bila tidak terdapat unsur qoshdul qiroáh (bertujuan membaca) seperti saat bertujuan membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan atau berdoa.

( مسألة ى ) يكره حمل التفسير ومسه إن زاد على القرآن وإلا حرم. وتحرم قراءة القرآن على نحو جنب بقصد القراءة ولو مع غيرها لا مع الإطلاق على الراجح ولا بقصد غير القراءة كرد غلط وتعليم وتبرك ودعاء .

Makruh membawa dan memegang Tafsir yang jumlahnya melebihi tulisan qurannya bila tidak maka haram.

Dan haram membacanya bagi semisal orang junub bila bertujuan untuk membacanya meskipun alQurannya bersama tulisan lain tapi tidak haram baginya bila memutlakkan tujuannya menurut pendapat yang kuat dan juga tidak haram tanpa adanya tujuan membacanya seperti saat membenarkan bacaan yang salah, mengajar, mencari keberkahan dan berdoa. [ Bughyah al-Mustarsyidiin hal. 26 ]

Boleh baca al-Qur’an bagi orang haid atau junub dengan niat dzikir

ولا فرق بين ما لا يوجد نظمه الا فيه كآية الكرسي وسورة الاخلاص وبينما يوجد فيه وفي غيره على المعتمد عند العلامة م ر تبعا لوالده وهو الاقرب … قال الشيخ الخطيب أفتى الشيخ السهاب الرملي أنه لو قرأ القرأن جميعه لا بقصد القرأن جاز وهو المعتمد … ومعنى عدم القصد أن يقصد بالقراءة التعبد لاننا متعبدون بذكر القرآن جميعه … وهل يشترط في قصد الذكر بالقراءة ملاحظة الذكر في جميع القراءة قياسا على تكبير الانتقالات أو يكفي قصد الذكر في الأول وان غفل عنه في الأثناء فيه نظر والاقرب الثاني اهـ حاشية الجمل 1/157

Dan tidak ada beda antara ayat yang tidak ada pemakainnya kecuali di dalam al-Qur’an semisal ayat kursi dan surat al-ikhlash dan ayat yang biasa dipakai di selain al-qur’an (semisal hamdalah atau basmalah) menurut pendapat yang Mu’tamad (yang bisa dibuat pegangan) yang dikemukakan oleh Imam Romli mengikuti pendapat ayahnya. Pendapat inilah yang lebih dekat.

Berkata syekh Khotib : Berfatwa syekh as-Syihab al-Romli bahwasannya jika membaca al-Qur’an selururhnya tidak dengan tujuan baca al-Qur’an boleh, dan inilah pendapat yang mu’tamad.

Yang dimaksud dengan “tidak dengan tujuan baca al-Qur’an” ialah membaca al-Qur’an dengan tujuan ibadah. Karena kita bisa beribadah dengan dzikir al-Qur’an seluruhnya.

Apakah dalam niat dzikir ini harus ingat niat tersebut pada seluruh bagiannya diqiyaskan dengan niat takbir pada saat takbir intiqal? Ataukah cukup dengan niat dzikir di awalnya saja walaupun di pertengahan lupa? Dalam masalah ini terjadi pemikiran, dan yang lebih mendekati “benar” adalah yang kedua.

•••••••••••○•••••••••••

Mengenai hukum wanita haidh membaca al-Qur’an, dalam mazhab syafi’iyah terdapat tujuh pembahasan :

1.Bila membaca al-Qur’an diniati untuk membaca al-Qur’annya maka haram.

2.Bila membaca al-Qur’an diniati untuk membaca al-Qur’annya besertaan niat lainnya maka juga dihukumi haram.

3.Bila membaca al-Qur’an diniati selain untuk membaca al-Qur’an seperti untuk menjaga hafalan, membaca zikirnya, kisah-kisah, mauizah, hukum-hukum, maka diperbolehkan.

4.Bila membaca al-Qur’an karena kelepasan bicara maka diperbolehkan.

5.Bila membaca al-Qur’an diniati secara mutlak, yakni sekedar ingin membaca tanpa niat tertentu maka diperbolehkan.

6.Bila membaca al-Qur’an diniati secara mutlak atau niat selain al-Qur’an, namun yang dibaca adalah susunan kalimat khas al-Qur’an atau satu surat panjang atau keseluruhan al-Qur’an maka khilaf. Menurut an-Nawawi, ar-Ramli Kabir, dan Ibnu Hajar diperbolehkan, sedangkan bagi az-Zarkasyi dan as-Suyuthi diharamkan.

7.Bila membaca al-Qur’an diniatkan pada salah satunya tanpa dijelaskan yang mana maka khilaf. Menurut qaul mu’tamad diharamkan sebab adanya kemungkinan niat pada bacaan al-Qur’an.

Sedangkan dalam mazhab malikiyah boleh bagi wanita haidh membaca al-Qur’an. Lebih jelasnya tentang hal ini terdapat dua pembahasan:

1.Boleh secara mutlak, yakni ketika membacanya dalam kondisi darah haidh sedang merembes keluar.

2.Tidak diperbolehkan sebelum mandi hadats, yakni ketika membacanya dalam kondisi darah haidh sedang mampet. Kecuali bila khawatir lupa, atau kecuali dengan menengok pada qaul dha’if yang memperbolehkannya asalkan haidhnya tidak disertai junub.

Berikut uraian selengkapnya dari kitab Hasyiyah al-Bujairimi ‘ala al-Iqna’ karya Sulaiman bin Umar bin Muhammad al-Bujairimi :

( وَ ) الثَّالِثُ ( قِرَاءَةُ ) شَيْءٍ مِنْ ( الْقُرْآنِ ) بِاللَّفْظِ أَوْ بِالْإِشَارَةِ مِنْ الْأَخْرَسِ كَمَا قَالَ الْقَاضِي فِي فَتَاوِيهِ ، فَإِنَّهَا مُنَزَّلَةٌ مَنْزِلَةَ النُّطْقِ هُنَا وَلَوْ بَعْضَ آيَةٍ لِلْإِخْلَالِ بِالتَّعْظِيمِ ، سَوَاءٌ أَقَصَدَ مَعَ ذَلِكَ غَيْرَهَا أَمْ لَا لِحَدِيثِ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ : { لَا يَقْرَأْ الْجُنُبُ وَلَا الْحَائِضُ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآنِ }

الشَّرْحُ قَوْلُهُ : ( وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ ) وَعَنْ مَالِكٍ : يَجُوزُ لَهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ ، وَعَنْ الطَّحَاوِيِّ يُبَاحُ لَهَا مَا دُونَ الْآيَةِ كَمَا نَقَلَهُ فِي شَرْحِ الْكَنْزِ مِنْ كُتُبِ الْحَنَفِيَّةِ

“Keharaman sebab haid yang ketiga adalah membaca sesuatu dari al-Qur’an, dengan diucapkan atau dengan isyarah dari orang bisu, seperti yang dikatakan Qadhi Husein dalam Fatawinya. Mengingat konteks isyarah diletakkan pada konteksnya hukum berucap pada permasalahan ini, meskipun yang dibaca hanyalah sebagian ayat saja dikarenakan hal itu menunjukkan pada unsur penghinaan. Baik bacaan itu diniati bersama dengan niat yang lain ataupun tidak, berdasarkan hadits riwayat Tirmidzi dan lainnya, “Orang yang sedang junub dan orang yang haid tidak diperbolehkan membaca sesuatu dari al-Qur’an.

Komentar pensyarah: [Membaca al-Qur’an] dari Imam Malik dijelaskan bahwa diperbolehkan bagi perempuan haid membaca al-Qur’an. Dan dari Ath-Thahawi diterangkan bahwa diperbolehkan bagi dia untuk membaca al-Qur’an namun kurang dari satu ayat, seperti yang dia kutipkan dalam Syarah Al-Kanzu dari kitabnya mazhab Hanafi.” (Hasyiyah Bujairimi, 3/259-261)

تَنْبِيهٌ : يَحِلُّ لِمَنْ بِهِ حَدَثٌ أَكْبَرُ أَذْكَارُ الْقُرْآنِ وَغَيْرُهَا كَمَوَاعِظِهِ وَأَخْبَارِهِ وَأَحْكَامِهِ لَا بِقَصْدِ الْقُرْآنِ كَقَوْلِهِ عِنْدَ الرُّكُوبِ : { سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ } أَيْ مُطِيقِينَ ، وَعِنْدَ الْمُصِيبَةِ : { إنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ } وَمَا جَرَى بِهِ لِسَانُهُ بِلَا قَصْدٍ فَإِنْ قَصَدَ الْقُرْآنَ وَحْدَهُ أَوْ مَعَ الذِّكْرِ حُرِّمَ ، وَإِنْ أَطْلَقَ فَلَا .

كَمَا نَبَّهَ عَلَيْهِ النَّوَوِيُّ فِي دَقَائِقِهِ لِعَدَمِ الْإِخْلَالِ بِحُرْمَتِهِ ؛ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ قُرْآنًا إلَّا بِالْقَصْدِ قَالَهُ النَّوَوِيُّ وَغَيْرُهُ ، وَظَاهِرُهُ أَنَّ ذَلِكَ جَارٍ فِيمَا يُوجَدُ نَظْمُهُ فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ كَالْآيَتَيْنِ الْمُتَقَدِّمَتَيْنِ وَالْبَسْمَلَةِ وَالْحَمْدَلَةِ ، وَفِيمَا لَا يُوجَدُ نَظْمُهُ إلَّا فِيهِ كَسُورَةِ الْإِخْلَاصِ وَآيَةِ الْكُرْسِيِّ ، وَهُوَ كَذَلِكَ ، وَإِنْ قَالَ الزَّرْكَشِيّ : لَا شَكَّ فِي تَحْرِيمِ مَا لَا يُوجَدُ نَظْمُهُ فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ ، وَتَبِعَهُ عَلَى ذَلِكَ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ كَمَا شَمِلَ ذَلِكَ قَوْلَ الرَّوْضَةِ ، أَمَّا إذَا قَرَأَ شَيْئًا مِنْهُ لَا عَلَى قَصْدِ الْقُرْآنِ فَيَجُوزُ .

الشَّرْحُ

قَوْلُهُ : ( تَنْبِيهٌ إلَخْ ) هَذَا التَّنْبِيهُ بِمَنْزِلَةِ قَوْلِهِ مَحَلُّ حُرْمَةِ الْقِرَاءَةِ إذَا كَانَتْ بِقَصْدِ الْقُرْآنِ أَوْ بِقَصْدِ الْقُرْآنِ وَالذِّكْرِ ، و َإِلَّا فَلَا حُرْمَة .

قَوْلُهُ : ( يَحِلُّ إلَخْ ) كَلَامُهُ فِي الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ فَدُخُولُ غَيْرِهِمَا مَعَهُمَا اسْتِطْرَادِيٌّ تَأَمَّلْ ق ل .

قَوْلُهُ : ( كَمَوَاعِظِهِ ) أَيْ مَا فِيهِ تَرْغِيبٌ أَوْ تَرْهِيبٌ .

قَوْلُهُ : ( وَأَخْبَارِهِ ) أَيْ عَنْ الْأُمَمِ السَّابِقَةِ .

قَوْلُهُ : ( وَأَحْكَامِهِ ) أَيْ مَا تَعَلَّقَ بِفِعْلِ الْمُكَلَّف .

قَوْلُهُ : ( وَمَا جَرَى بِهِ لِسَانُهُ بِلَا قَصْدٍ ) بِأَنْ سَبَقَ لِسَانُهُ إلَيْهِ .

قَوْلُهُ : ( وَإِنْ أَطْلَقَ فَلَا ) كَمَا لَا يَحْرُمُ إذَا قَصَدَ الذِّكْرَ فَقَطْ ، فَالصُّوَرُ أَرْبَعَةٌ يَحِلُّ فِي ثِنْتَيْنِ ، وَيَحْرُمُ فِي ثِنْتَيْنِ وَأَمَّا لَوْ قَصَدَ وَاحِدًا لَا بِعَيْنِهِ فَفِيهِ خِلَافٌ ، وَالْمُعْتَمَدُ الْحُرْمَةُ ؛ لِأَنَّ الْوَاحِدَ الدَّائِرَ صَادِقٌ بِالْقُرْآنِ فَيَحْرُمُ لِصِدْقِهِ بِهِ . قَوْلُهُ : ( لَا يَكُونُ قُرْآنًا إلَخْ ) أَيْ لَا يَكُونُ قُرْآنًا تَحْرُمُ قِرَاءَتُهُ عِنْدَ وُجُودِ الصَّارِفِ إلَّا بِالْقَصْدِ ، وَإِلَّا فَهُوَ قُرْآنٌ مُطْلَقًا ، أَوْ الْمَعْنَى لَا يُعْطَى حُكْمَ الْقُرْآنِ إلَّا بِالْقَصْدِ ، وَمَحَلُّهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي صَلَاةٍ كَأَنْ أَجْنَبَ وَفَقَدَ الطَّهُورَيْنِ وَصَلَّى لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ بِلَا طُهْرٍ ، وَقَرَأَ الْفَاتِحَةَ ، فَلَا يُشْتَرَطُ قَصْدُ الْقُرْآنِ ، بَلْ يَكُونُ قُرْآنًا عِنْدَ الْإِطْلَاقِ لِوُجُوبِ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ فَلَا صَارِفَ فَاحْفَظْهُ وَاحْذَرْ خِلَافَهُ كَمَا ذَكَرَهُ ابْنُ شَرَفٍ عَلَى التَّحْرِيرِ .

“(Tanbih): Diperbolehkan bagi orang yang mempunyai hadats besar untuk membaca dzikir al-Qur’an dan yang lainnya, seperti mauizhahnya, cerita, dan hukum yang ada di dalam al-Qur’an, dengan tidak diniatkan pada al-Qur’annya. Seperti perkataanya ketika naik kendaraan :

(سبحان الذي سخر لنا هذا و ما كنا له مقرنين)

dan ketika mendapat musibah dia mengucapkan :

(إنا لله و إنا اليه راجعون).

Serta pada apa yang tanpa dikehendaki terucap oleh lisannya. Namun jika dia memaksudkan al-Qur’an saja atau memaksudkan al-Qur’an beserta dzikirnya, maka diharamkan. Kemudian jika dia memutlakkannya maka tidak diharamkan, sesuai dengan peringatan an-Nawawi dalam kitab Daqaiq, sebab tidak ada unsur penghinaan pada kemuliaan al-Qur’an di sini. Memandang bahwasanya al-Qur’an tidak akan diberlakukan hukum al-Qur’an kecuali ketika dengan wujudnya niat.

Secara zahir pendapat tersebut berlaku baik pada ayat yang bisa ditemukan susunan kalimatnya di luar al-Qur’an semisal dua ayat di atas, juga basmalah dan al-fatihah. Serta pada ayat yang tidak akan ditemukan susunan kalimatnya selain di al-Qur’an semisal surat al-Ikhlas dan ayat kursi. Benarlah demikian, meski az-Zarkasyi berpendapat tidak diragukannya keharaman pada ayat yang tidak akan ditemukan susunan kalimatnya selain di al-Qur’an. Pendapat az-Zarkasyi ini dianut oleh sebagian ulama mutaakhirin.

Keterangan an-Nawawi tentang kemutlakan tersebut juga terkandung dalam kitab ar-Raudhah. Sedangkan ketika membaca al-Qur’an itu tidak diniatkan pada membaca al-Qur’annya maka diperbolehkan.

Komentar pensyarah :

[Tanbih dst.] Tanbih ini menempati perkataan mushannif, “Tempat keharaman membaca al-Qur’an adalah ketika dalam pembacaan itu dengan maksud al-Qur’an atau dengan maksud al-Qur’an dan dzikir. Jika tidak memaksudkan dengan itu semua maka tidak diharamkan.”

[Diperbolehkan dst.] Pembahasan penulis tentang wanita haidh dan nifas, namun bisa dikonfirmasikan juga pembahasan selain keduanya. Cermatilah. (al-Qulyubi)

[Seperti mauizhah] Yakni perkara tentang anjuran dan ancaman.

[Cerita] Yakni dari kisah umat terdahulu.

[Dan hukum yang ada di dalam al-Qur’an] Yakni perkara yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf.

[Serta pada apa yang tanpa dikehendaki terucap oleh lisannya] Dengan kelepasan bicara.

[Kemudian jika dia memutlakkannya maka tidak diharamkan] Sebagaimana tidak pula diharamkan ketika diniatkan pada dzikirnya saja. Sehingga bisa disimpulkan ada empat situasi pembacaan al-Qur’an di sini. Dua diperbolehkan, dan dua lainnya diharamkan.

Sedangkan ketika dia meniatkan pada salah satunya namun tanpa dijelaskan yang mana maka hukumnya khilaf. Menurut qaul Mu’tamad dihukumi haram. Sebab unsur salah satunya bisa dimungkinkan niat pada al-Qur’annya sehingga diharamkan memandang adanya kemungkinan tersebut. [Al-Qur’an tidak akan diberlakukan hukum al-Qur’an dst.] Yakni ketika muncul qarinah pembeda maka tidak dianggap sebagai al-Qur’an yang haram dibaca kecuali dengan wujudnya niat. Atau bisa juga diartikan tidak diberlakukan hukum al-Qur’an kecuali dengan wujudnya niat. Konteks ini mengesampingkan pada kasus shalat, semisal pada orang junub yang tidak bisa bersuci dengan wudhu dan tayammum, lantas dia shalat li hurmatil waqti, membaca al-Fatihah, maka tidak berlaku persyaratan niat membaca al-Qur’an. Bahkan tetap dianggap sebagai hukum bacaan al-Qur’an ketika dimutlakkan sebab tidak ada qarinah pembeda di sini. Camkanlah dan hati-hati terhadap kesalahpahaman tentang hal itu, sebagaimana dituturkan oleh an-Nawawi dalam kitab at-Tahrir.” (Hasyiyah al-Bujairimi, 1/259-264).

Elaborasi tentang khilafiyah Imam Malik dituturkan dalam kitab al-Mausu’ah:

وَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ إِلَى أَنَّ الْحَائِضَ يَجُوزُ لَهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي حَال اسْتِرْسَال الدَّمِ مُطْلَقًا ، كَانَتْ جُنُبًا أَمْ لاَ ، خَافَتِ النِّسْيَانَ أَمْ لاَ . وَأَمَّا إِذَا انْقَطَعَ حَيْضُهَا ، فَلاَ تَجُوزُ لَهَا الْقِرَاءَةُ حَتَّى تَغْتَسِل جُنُبًا كَانَتْ أَمْ لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَخَافَ النِّسْيَانَ .

هَذَا هُوَ الْمُعْتَمَدُ عِنْدَهُمْ ، لأَنَّهَا قَادِرَةٌ عَلَى التَّطَهُّرِ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ ، وَهُنَاكَ قَوْلٌ ضَعِيفٌ هُوَ أَنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا انْقَطَعَ حَيْضُهَا جَازَ لَهَا الْقِرَاءَةُ إِنْ لَمْ تَكُنْ جُنُبًا قَبْل الْحَيْضِ . فَإِنْ كَانَتْ جَنْبًا قَبْلَهُ فَلاَ تَجُوزُ لَهَا الْقِرَاءَةُ .

“Kalangan malikiyah berpendapat bahwa wanita haidh diperbolehkan membaca al-Qur’an di masa sedang keluarnya darah haidh secara mutlak, baik disertai junub maupun tidak, entah karena khawatir lupa ataupun tidak. Sedangkan di masa darah haidh sedang berhenti maka tidak diperbolehkan membaca al-Qur’an sampai dia mandi bersuci, baik kondisinya disertai junub maupun tidak, kecuali bila khawatir lupa (maka boleh membaca, pen).

Pendapat di atas adalah qaul mu’tamad, sebab seorang wanita dipandang mampu bersuci dalam kondisi darah sedang berhenti tersebut. Namun dalam hal ini ada qaul dha’if yang berpendapat seorang wanita ketika darahnya sedang berhenti tetap diperbolehkan membaca al-Qur’an asalkan kondisinya tidak disertai junub sebelum haidh. Ketika sebelum haidh telah disertai junub maka tidak diperbolehkan membaca al-Qur’an (sampai dia mandi bersuci, pen)” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwatiyyah, 18/322).

Wallaahu A’lamu Bis Showaab..

M008. HUTANG UANG DENGAN AKAD PINJAM

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bolehkah hutang uang dengan memakai akad pinjam seperti yang sudah umum terjadi di masyarakat?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Dalam tradisi keseharian, banyak ditemukan ungkapan yang tidak sesuai dengan maksud orang yang mengungkapkannya. Terbukti ketika seseorang mau berhutang kepada yang lain, sering kita dengar, “Saya pinjam uangmu Rp. 10.000,-”. Termasuk transaksi apakah perkataan seperti itu?

Jawab: Termasuk akad hutang, karena menurut urf, maksud kata-kata tersebut adalah hutang bukan pinjam.

ﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ ﺍﻟﺠﺰﺀ 5 ﺻﺤـ : 124 ﻣﻜﺘﺒﺔ ﺩﺍﺭ ﺍﻟﻔﻜﺮ

ﻭَﻟَﻮْ ﺷَﺎﻉَ ﺃَﻋِﺮْﻧِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻘَﺮْﺽِ ﻛَﻤَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺯِ ﻛَﺎﻥَ ﺻَﺮِﻳﺤًﺎ ﻓِﻴﻪِ ﻗَﺎﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻻﻧْﻮَﺍﺭِ ﻭَﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﻴُﻔَﺮَّﻕُ ﺑَﻴْﻨَﻪُ ﻭَﺑَﻴْﻦَ ﻗَﻮْﻟِﻬِﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﻄَّﻼﻕِ ﻻ ﺃَﺛَﺮَ ﻟِﻺِﺷَﺎﻋَﺔِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﺮَﺍﺣَﺔِ ﺑِﺄَﻧَّﻪُ ﻳُﺤْﺘَﺎﻁُ ﻟِﻼﺑْﻀَﺎﻉِ ﻣَﺎ ﻻ ﻳُﺤْﺘَﺎﻁُ ﻟِﻐَﻴْﺮِﻫَﺎ ﻭَﻇَﺎﻫِﺮُ ﻛَﻼﻣِﻬِﻢْ ﺻَﺮَﺍﺣَﺔُ ﺟَﻤِﻴﻊِ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻻﻟْﻔَﺎﻅِ ﻭَﻧَﺤْﻮِﻫَﺎ ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻻ ﻛِﻨَﺎﻳَﺔَ ﻟِﻠْﻌَﺎﺭِﻳَّﺔِ ﻭَﻓِﻴﻪِ ﺗَﻮَﻗُّﻒٌ ﻇَﺎﻫِﺮٌ ‏( ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﺻَﺮِﻳﺤًﺎ ‏) ﻭَﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﻴُﻤْﻜِﻦُ ﺃَﻥْ ﻳُﻘَﺎﻝَ ﺗَﺘَﻤَﻴَّﺰُ ﺍﻟْﻌَﺎﺭِﻳَّﺔُ ﺑِﻤَﻌْﻨَﻰ ﺍﻹِﺑَﺎﺣَﺔِ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﺑِﻤَﻌْﻨَﻰ ﺍﻟْﻘَﺮْﺽِ ﺑِﺎﻟْﻘَﺮَﺍﺋِﻦِ ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗُﻮﺟَﺪْ ﻗَﺮِﻳﻨَﺔٌ ﺗُﻌَﻴِّﻦُ ﻭَﺍﺣِﺪًﺍ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﻓَﻴَﻨْﺒَﻐِﻲ ﻋَﺪَﻡُ ﺍﻟﺼِّﺤَّﺔِ ﺃَﻭْ ﻳُﻘَﻴَّﺪُ ﺣَﻤْﻠُﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻔَﺮْﺽِ ﺑِﻤَﺎ ﺍُﺷْﺘُﻬِﺮَ ﻓِﻴﻪِ ﺑِﺤَﻴْﺚُ ﻫَﺠَﺮَ ﻣَﻌَﻪُ ﺍﺳْﺘِﻌْﻤَﺎﻟَﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻌَﺎﺭِﻳَّﺔِ ﺇﻻ ﺑِﻘَﺮِﻳﻨَﺔٍ ﻭَﻇَﺎﻫِﺮُﻩُ ﺃَﻥَّ ﺫَﻟِﻚَ ﺷَﺎﺋِﻊٌ ﺣَﺘَّﻰ ﻓِﻲ ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟﺪَّﺭَﺍﻫِﻢِ ﻛَﺄَﻋِﺮْﻧِﻲ ﺩَﺍﺑَّﺘَﻚ ﻣَﺜَﻼ ﺍﻫـ

📚 *إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين*

مهمة) من تصرف في مال غير ببيع أو غيره ظانا تعديه فبان أن له عليه ولاية، كأن كان مال مورثه فبان موته، أو مال أجنبي فبان إذنه له، أو ظانا فقد شرط فبان مستوفيا للشروط، صح تصرفه، لان العبرة في العقود بما في نفس الامر

(مهمة) من تصرف في مال غير ببيع أو غيره ظانا تعديه فبان أن له عليه ولاية، كأن كان مال مورثه فبان موته، أو مال أجنبي فبان إذنه له، أو ظانا فقد شرط فبان مستوفيا للشروط، صح تصرفه، لان العبرة في العقود بما في نفس الامر، وفي العبادات بذلك، وبما في ظن المكلف.
ومن ثم لو توضأ ولم يظن أنه مطلق: بطل طهوره، وإن بان مطلقا، لان المدار فيها على ظن المكلف.
وشمل قولنا ببيع أو غيره: التزويج، والابراء، وغيرهما.
فلو أبرأ من حق ظانا أنه لا حق له فبان له حق،
(قوله: فلا يصح بيع آبق وضال) مثل البيع: الشراء به – فلا يصح دفع عبد آبق أو ضال ثمنا لغير قادر على انتزاعه – كما علمت.
(قوله: لغير قادر على انتزاعه) أي أخذه من المحل الذي أبق إليه أو ضل فيه، أو من الغاصب الذي غصبه.
(قوله: وكذا سمك بركة) أي وكذلك لا يصح بيع سمك بركة لغير قادر على أخذه.
ومثل البيع: الشراء به، بأن يدفع ثمنا – كما علمت – (وقوله: شق تحصيله) أي السمك على المشتري، أي أو على البائع في الصورة التي زدناها.
(قوله: مهمة) أي في بيان حكم من تصرف في مال غيره ظاهرا ثم تبين أنه له.
ولا يقال إن هذا قد ذكره بقوله: ويصح بيع مال غيره ظاهر إلخ، لأنا نقول ذاك خاص في التصرف بالبيع، وما هنا في مطلق التصرف.
نعم، كان الأولى والأخصر أن يقتصر على هذا، لأنه شامل للبيع ولغيره، أو يقتصر على ذاك، ولكن يعمم فيه. فتنبه.
(قوله: من تصرف في مال غير) المراد بالمال: ما يشمل المنفعة، وإلا لما صح – قوله فيما يأتي: وشمل قولنا ببيع أو غيره: التزويج.
(قوله: أو غيره) أي البيع، كالهبة، والعتق، والوقف.
(قوله: ظانا تعديه) أي حال كونه معتقدا أنه متعد في تصرفه.
والظاهر أن هذا ليس بقيد، بل مثله ما إذا اعتقد أنه ليس متعديا، كأن كان يعتقد أن التصرف في مال مورثه في حياته جائز.
(قوله: فبان) أي ظهر بعد التصرف.
(وقوله: أن له) أي المتصرف.
(وقوله: عليه) أي المتصرف فيه.
(وقوله: ولاية) أي سلطنة بملك، أو وكالة، أو إذن – كما مر – (قوله: كأن كان) أي المتصرف فيه.
(وقوله: فبان موته) أي فتبين بعد التصرف فيه موت من له الولاية قبيل التصرف.
(قوله: أو مال أجنبي) معطوف على مال مورثه، أي وكأن كان المال الذي تصرف فيه مال أجنبي – أي أو مال مورثه – فكونه أجنبيا ليس يقيد – كما هو ظاهر -.
(قوله: فبان إذنه له) أي فتبين بعد التصرف أن ذلك الأجنبي إذن له في التصرف قبله.
(قوله: أو ظانا فقد إلخ) ظاهره أنه معطوف على ظانا تعديه، والمعنى: أو تصرف في مال غيره ظانا فقد شرط من شروط التصرف.
وفيه أن هذا ليس مرادا، بل المراد أنه تصرف في مال نفسه ظانا فقد شرط من شروط صحة التصرف، فتبين أنه لم يفقد شرط من ذلك.
ولو قال: أو باع ماله ظانا فقد شرط إلخ – لكان أولى – فتنبه.
(قوله: فبان مستوفيا للشروط) أي فتبين أن تصرفه مستوف لشروط التصرف.
(قوله: صح تصرفه) جواب من.
(قوله: لأن العبرة في العقود إلخ) تعليل للصحة.
(وقوله: بما في نفس الأمر) أي بما هو مطابق للواقع.
وإنما كانت العبرة في العقود به، لعدم احتياجها للنية، فانتفى التلاعب.
وبفرضه لا يضر لصحة نحو بيع الهازل – كذا في النهاية، والتحفة -.
(قوله: وفي العبادات إلخ) أي ولأن العبرة في العبادات بما في نفس الأمر، وبما في ظن المكلف.
وهذا يفيد أن العبرة في العبادات بمجموع الأمرين: ما في نفس الأمر وما في ظن المكلف.
وصورته الآتية: وهي أنه لو توضأ إلخ، مع علتها، وهي قوله لأن المدار الخ تفيد أن العبرة بالثاني فقط، وهذا خلف، ولا يصح أن يقال إن الواو في قوله وبما في ظن المكلف، بمعنى أو، لأن ذلك يقتضي أن ما في نفس الأمر كاف وحده في العبادات، وليس كذلك.
فتأمل.
(قوله: ومن ثم) أي ومن أجل أن العبرة في العبادات بما ذكر: لو توضأ إلخ.
(قوله: أنه مطلق) أي أن ما توضأ به ماء مطلق.
(وقوله: وإن بان) أي ما توضأ به.
(وقوله: مطلقا) أي ماء مطلقا.
(قوله: لأن المدار إلخ) لا حاجة إلى هذه العلة بعد قوله ومن ثم إلخ.
(والحاصل) عبارته لا تخلو عن النظر.
(قوله: وشمل قولنا ببيع أو غيره) الأولى إسقاط لفظ ببيع – كما هو ظاهر -.

[جزء ٣ صفحة ١٦

Dan untuk permasalahan beda Lafadz saya kira jawaban sudah jelas berdasar pada koidah العبرة……. dalam jual beli pun seperti itu. Jadi Lafadz Dari ijab qobul tidak ditentukan meskipun pakek kata minta tapi maksud yang dipahami adalah membeli ya berarti membeli.

واختار للنواوي وجماعة صحة البيع بها في كل ما يعد الناس بيعا لان المدار فيه على رضا المتعاقدين ولم يثبت اشتراط لفظ فيراجع فيه الى العرف (البجور ي ج ١ ص ٣٤١ )[17/1

Kalau pinjam korek itu akad apa? Monggo dibahas..

Menurut qaul yang muktamad, hukum meminjam dan termasuk akad pinjaman seperti ini di perbolehkan Karena yang diakad pinjam adalah koreknya sedangkang minyak dan batrenya masuk pada bahahnya. sama seperti meminjam pen untuk menulis walaupun sang pemberi pinjaman tidak mengatakan “saya perbolehkan kamu mengambil minyaknya” Karena ini bukan berarti meminjam hakikat minyaknya. Dan juga lafadz ‘ariyahnya yang mewakili ibahah.

فلو قال لشخص خذ هذه الشاة … الخ الفرق بين هذه الصورة وما قبلها على كلام الشارح ان هذه صرح فيها بالاباحة فكانه اعار اللبن والثمر بخلاف ما قبلها والمعتمد في ذالك الصحة فيهما لان لفظ العارية قائم مقام لفظ الاباحة وان لم يصرح بالاباحة.(البجور ي ج ٢ ص ٩ )

وهذا الاخراح ضعيف والمعتمد ان العارية صحيحة والمستفاد منها منافعه وهي تو صلك لحقك من اللبن ونحوه،واما اللبن ماءخوذ بالاباحة لا العارية ،…… ولهذا قال ق ل لا يخفى ان العارية في ذالك هو الشاة وان اللبن ماءخوذ بالاباحة وذالك صحيح فقوله لم يصح ليس في محله الا ان كان مراده اعار ة نفس اللبن او الثمرة لانه باطل ……..الخ او نحو ذالك كاعارة دواة للكتابة منها( بجيرمي على الخطيب ج ٣ ص ٤٩١-٤٩٢)

Wallahu a’lamu bisshowab..