Semua tulisan dari Musthofa AB

Alumni BATA-BATA Thn : 1995 - 2004

S023. HUKUM ISBAL

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bagaimana hukumnya memakai sarung (celana) sampai mata kaki atau melebihi mata kaki?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya memakai sarung(celana)sampai mata kaki atau melebihi mata kaki,itu ditafshil:

(a)Jika memakai sarung(celana)sampai mata kaki atau melebihi mata kaki itu karena sombong dan ujub,maka hukumnya haram.

(b)Jika memakai sarung(celana)sampai mata kaki atau melebihi mata kaki itu tidak karena sombong dan ujub,maka termasuk makruh.

INILAH HUKUM ISBAL

Salah satu maksiat badan adalah memanjangkan pakaian (sarung ataupun yang lainnya) yakni menurunkannya hingga ke bawah mata kaki dengan tujuan berbangga dan menyombongkan diri (al Fakhr).Hukum dari perbuatan ini adalah dosa besar kalau memang tujuannya adalah untuk menyombongkan diri, jika tidak dengan tujuan tersebut maka hukumnya adalah makruh. Jadi cara yang dianjurkan oleh syara’ adalah memendekkan sarung atau semacamnya sampai di bagian tengah betis.

Keterangan tersebut bisa dilihat dalam kitab Al-Adzkar An-Nawawi. Yang dimaksud Sombong adalah orang-orang kaya yang suka menyeretkan pakaiannya,, karena pada waktu itu orang kaya dan miskin di bedakan, juga bisa kesombongan itu agar dianggap orang besar atau orang alim. Sebab para pembesar yahudi dulu ketika memakai jubah kelombrohan, bahkan sampai menyentuh tanah, dan ini sebagai ciri bahwa yang memakai jubah kelombroh itulah para pembesar yahudi dengan kesombongannya (takabbur).

Hukum yang telah dijelaskan ini adalah hasil dari pemaduan (Taufiq) dan penyatuan (Jam’) dari beberapa hadits tentang masalah ini. Pemaduan ini diambil dari hadits riwayat al Bukhari dan Muslim bahwa ketika Nabi rmengatakan :

من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة ” رواه البخاري ومسلم

Maknanya : “Barang siapa menarik bajunya (ke bawah mata kaki) karena sombong, Allah tidak akan merahmatinya kelak di hari kiamat”(H.R. al Bukhari dan Muslim)

Abu Bakar yang mendengar ini lalu bertanya kepada Nabi : “Wahai Rasulullah, sarungku selalu turun kecuali kalau aku mengangkatnya dari waktu ke waktu ?” lalu Rasulullah SAW bersabda :

“إنك لست ممن يفعله خيلاء ” رواه البخاري ومسلم

Maknanya : “Sesungguhnya engkau bukan orang yang melakukan itu karena sombong” (H.R. al Bukhari dan Muslim)

Jadi oleh karena Abu Bakar melakukan hal itu bukan karena sombong maka Nabi tidak mengingkarinya dan tidak menganggap perbuatannya sebagai perbuatan munkar yang diharamkan.

(دليل الفالحين لطروق رياض الصالحين,جز ٣,صحيفۃ ٢٧٤-٢٧٦)

(باب صفۃ طول القميص والكم والاءزار)هو ما يستر اسافل البدن ويقابله الرداء(وطرف العمامۃ)اي بيان قدر الطول المشروع فيما ذكر(وتحريم اسبال)اي ارخاء(شيء من ذلك)اي المذكور من القميص وما بعده (علی سبيل الخيلاء)بضم المعجمۃ وفتح التحتيۃ:اي الكبر او الاءعجاب(وكراهته)تنزيها( من غير خيلاء)والمراد ان الاءرخاء زيادۃ علی المشروع في الطول اما مكروه واما حرام.
-٣-(وعن ابي هريرۃ رضي ﷲ عنه ان رسول ﷲصلی ﷲ عليه وسلم قال:لا ينظر ﷲ )اي نظر رضا(يوم القيامۃ)خص بالذكر لاءنه محل الرحمۃ المستمرۃ بخلاف رحمۃ الدنيا فاءنها قد تنقطع بما يتجدد من الحوادث,قاله في الفتح,او لاءنه يوم الجزاء والا ففاعل ذلك لا يرضی ﷲ بفعله دنيا واخری ولا ينظر الله اليه لذلك اصلا(الی من جر ازاره بطرا)بفتح الموحدۃ والمهملۃ هو بوزن الاءشر ومعناه:وهو كفر النعمۃ وعدم شكرها ,والمراد لازم ذلك اي عجبا وخيلاء فيكون ما قبله كالمفسر له (متفق عليه)
Wallahu a’lam.

WACANA SOAL ISBAL :

Wacana soal Isbal baru ada dan intensif dibahas di Indonesia setelah mulai berdatangannya kalangan lulusan universitas negeri Arab Saudi di Indonesia. Mereka yang asalnya bermadzhab Syafi’i lalu berubah bermadzhab Hanbali secara fikih dan secara akidah (ideologi) mereka membawa doktrin garis keras dan radikal dari Muhammad bin Abdul Wahab yang suka membid’ahkan, mensyirikkan dan mengkafirkan semua orang di luar dirinya. Mereka menyebut dirinya Salafi. Orang luar kelompok ini menyebut mereka Salafi Wahabi (Sawah) atau Wahabi saja. Lihat: Ciri Khas Gerakan Wahabi.

Salah satu “oleh-oleh” mereka adalah isbal. Dalam kamus Lisanul Arab disebutkan “Isbal adalah memanjangkan, melabuhkan dan menjulurkan pakaian hingga menutupi mata kaki dan menyentuh tanah, baik karena sombong ataupun tidak.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa haramnya isbal apabila ada niat sombong.

Dalam tinjaun madzhab Syafi’i, haramnya isbal apabila dengan tujuan menyombongkan diri. Begitu juga pendapat dari madzhab Hanbali. Adapun kalau tidak untuk menyombongkan diri, maka hukumnya boleh.

Pendapat ulama madzhab Syafi’i yang membolehkan isbal (kecuali karena sombong) antara lain: Imam Nawawi, Zakariya Al-Anshari, Ar-Romli, Ibnu Hajar Al-Haitami, dll.

Pendapat dari madzhab Hanbali yang membolehkan isbal antara lain: Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, Ibnu Taimiyah dalam Syarhul Umdah, Ibnu Muflih dalam Al-Adab as-Syar’iyah, Mardawi dalam Al-Inshaf.

Ada juga ulama yang menganggap isbal itu haram secara mutlak, baik niat sombong atau tidak. Mereka antara lain Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ibnu Arabi, As-Syaukani, dll.

Semua pendapat yang berbeda tersebut disertai dengan argumen yang sama-sama kuat. Intinya, silahkan anda memilih sesuai dengan rasa nyaman anda. Dan tidak perlu memaki atau mengkritisi orang yang tidak sesuai dengan kita.

Yg jelas para ulama berbeda pndapat sebenrnya hanya mentarjih bukan menentang. Oleh karenya dlm fiqih madzhab ada sebutan mujtahid tarjih yg tugasnya member penilaian kuat dan lemahnya terhadap qoulnya imam Madzhab atau antara pendapatnya imam madzhab dgn ashab atau antara madzhab yg satu dgn madzhab yg lain, yg mnnyandang gelar mujtahid tarjih sprti Imam Nawawi dan Rofi’I dlm madzhab Syafi’i. Bahkan ada ulama yg mengaskan bahwa bebrapa pendapat tersebut sebagai aqwal dr imam Syafi’I sndiri atau ashab yg kmudian ditarjih. Saya tak panjang lebar lg bicara soal ini…

TAMBAHAN PENJELASAN TENTANG ISBAL :

وفي هذه الأحاديث أن إسبال الإزار للخيلاء كبيرة وأما الإسبال لغير الخيلاء فظاهر الأحاديث تحريمه أيضا لكن استدل بالتقييد في هذه الأحاديث بالخيلاء على أن الإطلاق في الزجر الوارد في ذم الإسبال محمول على المقيد هنا فلا يحرم الجر والاسبال إذا سلم من الخيلاء قال بن عبد البر مفهومه أن الجر لغير الخيلاء لا يلحقه الوعيد إلا أن جر القميص وغيره من الثياب مذموم على كل حال وقال النووي الإسبال تحت الكعبين للخيلاء فإن كان لغيرها فهو مكروه وهكذا نص الشافعي على الفرق بين الجر للخيلاء ولغير الخيلاء قال والمستحب أن يكون الإزار إلى نصف الساق والجائز بلا كراهة ما تحته إلى الكعبين وما نزل عن الكعبين ممنوع منع تحريم إن كان للخيلاء وإلا فمنع تنزيه لأن الأحاديث الواردة في الزجر عن الإسبال مطلقة فيجب تقييدها بالإسبال للخيلاء انتهى

Saya akan bahas secara singkat saja terkait qoul-qoul tersebut.

Jika diteleti dan jeli serta memahami ilmu lughah, maka akan mengetahui dan memahami bahwa sebenarnya Ibnu Hajar tidak mendukung keharaman isbal secara muthlaq juga tidak mngatakan makruh bagi yang berisbal dengan tanpa khuyala. Simak…!

Ibnu Hajar berkata :

وَفِي هَذِهِ الْأَحَادِيث أَنَّ إِسْبَال الْإِزَار لِلْخُيَلَاءِ كَبِيرَة وَأَمَّا الْإِسْبَال لِغَيْرِ الْخُيَلَاء فَظَاهِر الْأَحَادِيث تَحْرِيمه أَيْضًا

“Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa isbal (menyeret) sarung karena sombong termasuk dosa besar. Adapun isbal yang bukan karena sombong, maka dhohir-nya banyak hadits juga mengharamkannya.” (Fathul bari: jilid 13, hal: 266, cetakan Daaru Thaibah)

Menurut pendapat yg mengharamkan isbal scra muthlaq, maka kutipan Ibnu Hajar ini dijadikan hujjah bahwa beliau menguatkan pndpat yg mngharamkannya scra muthlaq.

Tentu saja jika kutipan Ibnu Hajar hanya sampai di situ, maka pembaca akan berkesimpulan yg sama.

Namun bila dicek kembali perkataan Ibnu Hajar seutuhnya, ternyata kalimat itu belum selesai. Adapun perkataan Ibnu Hajar selengkapnya sebagai berikut:

وَفِي هَذِهِ الْأَحَادِيث أَنَّ إِسْبَال الْإِزَار لِلْخُيَلَاءِ كَبِيرَة وَأَمَّا الْإِسْبَال لِغَيْرِ الْخُيَلَاء فَظَاهِر الْأَحَادِيث تَحْرِيمه أَيْضًا. لَكِنْ اُسْتُدِلَّ بِالتَّقْيِيدِ فِي هَذِهِ الْأَحَادِيث بِالْخُيَلَاءِ عَلَى أَنَّ الْإِطْلَاق فِي الزَّجْر الْوَارِد فِي ذَمّ الْإِسْبَال مَحْمُول عَلَى الْمُقَيَّد هُنَا, فَلَا يَحْرُم الْجَرّ وَالْإِسْبَال إِذَا سَلِمَ مِنْ الْخُيَلَاء

“Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa isbal (menyeret) sarung karena sombong termasuk dosa besar. Adapun isbal yang bukan karena sombong, maka zhahir-nya hadis-hadis itu juga mengharamkannya. NAMUN taqyid sombong pada hadis-hadis ini dipakai untuk dalil, bahwa hadis-hadis lain tentang larangan isbal yang mutlak (tanpa menyebutkan kata sombong) harus dipahami dengan taqyid sombong ini, sehingga isbal dan menyeret pakaian tidak diharamkan bila selamat dari rasa sombong”.

Catatan :

1. Petikan secara utuh di atas jelas menunjukkan bahwa beliau tidak menguatkan pendapat yang mengatakan: “isbal dengan sombong itu dosa besar, sedang isbal yang tanpa sombong tetap diharamkan oleh banyak hadis ”

2. Petikan secara utuh di atas jelas menunjukkan bahwa beliau menguatkan pendapat yang mengatakan: “isbal dengan sombong itu dosa besar, sedang isbal tanpa sombong tidak diharamkan ”.

Jika pendapat yg mengharamkan isbal berdalih dengan ucapan Ibnu Abdil Bar :

إِلَّا أَنَّ جَرّ الْقَمِيص وَغَيْره مِنْ الثِّيَاب مَذْمُوم عَلَى كُلّ حَال

Maka ini sungguh bukan dalil pengharamannya secara muthlaq.

Kemudian jika ditinjau dari sisi ilmu lughah, maka akan kita ketahui bahwa Ibnu Hajar TIDAK mendukung pengharaman Isbal secra muthlaq dan juga boleh (tidak makruh) jika tanpa khuyala.

Perhatikan :

Pertama : Dilihat dari lafadz USTUDILLA adalah bentuk kata kerja majhul yaitu kata kerja pasif untuk waktu lampau. Pada dasarnya, shigah majhul (bentuk kata kerja pasif) digunakan karena beberapa maksud sbgaimana disebutkan dalam kitab-kitab Nahwu :

1. Lil iejaz (meringkas)

2. Lil ‘ilmi bih (telah diketahui pelakunya)

3. Lil jahli bih (tidak diketahui pelakunya)

4. Lil khauf ‘alaih (merasa khawatir)

5. Lil khauf minhu (merasa takut)

6. Lit tahqier (merendahkan)

7. Lit ta’zhiem (mengagungkan)

8. Lil ibahmi (menyamarkan pada pendengar)

Kedua : Kata ISTIDLAL dalam konteks ini harus dijelaskan secara istilahi bukan lughowi karena demikianlah yg digunakan oleh ahli ushul fiqih dan fiqih. Maka dengan demikian memiliki makna dua :

1. menegakkan dalil secara mutlak, baik dalil itu berupa nash, ijma’ maupun yang lainnya.

2. menegakkan dalil yang bukan berupa nash, ijma’, dan qiyas.

Ketiga : kata Istidlal isytiyaqnya dari asal dalla yadullu dan mngikuti wazan istaf’ala.

Dalam konteks ini berarti istidlal memiliki makna ittidzkhaz yaitu menjadikan. Artinya, segala sesuatu (selain Quran, sunah, ijma’, dan qiyas) yang dijadikan dalil. Adapun Quran, sunah, ijma’, dan qiyas ditegakkan sebagai dalil bukan sebagai produk/karya para mujtahid yang lahir dari ijtihad mereka. Adapun yang diakui sebagaiistidlaal adalah istishab dan lain-lain. Maka sesuatu yang dikatakan oleh setiap imam berdasarkan ketetapan ijtihadnya, seakan-akan ia menjadikannya sebagai dalil

Keempat : Menurut ilmu Balaghah dan Ma’ani, istidlal tsb masuk kategori :

1. Qiyas iqtirani dan qiyas istitsnai. Keduanya jenis qiyas mantiq. Contoh Qiyas iqtirani: arak itu memabukkan-Setiap yang memabukan haram. Natijahnya: Arak haram. Contoh qiyas istitsnai: Jika arak itu mubah maka dia tidak memabukkan. Namun karena dia memabukkan, natijahnya: maka dia tidak mubah.

2. Istiqra, yaitu menelusuri point-point parsial pada makna untuk menetapkan hukum yang lebih universal, secara qathi’y atau dzanniy. Dan bersifat tidak ditetapkan dengan dalil tertentu tapi dengan dalil-dalil yang berkaitan satu sama lain namun berbeda maksud. Selanjutnya dengan satu tujuan itu dapat menghasilkan satu cakupan hukum.

.

3. Istishhab, yaitu penetapan hukum suatu perkara di masa kini ataupun mendatang berdasarkan apa yang telah ditetapkan atau berlaku sebelumnya, karena tidak adanya suatu hal yang mengharuskan terjadinya perubahan (hukum tersebut).

Maka dengan penjelesan ini, jelas Ibnu Hajar tidak sedang mendukung pengharaman isbal secara muthlaq dan juga tidak memakruhkannya bagi yg berisbal tanpa khuyala. Hal ini banyak didukung oleh pendapat para ulama kibar (besar), berikut :

1. ويحرم وهو كبيره إسبال شيء من ثيابه ولو عمامة خيلاء في غير حرب فإن أسبل ثوبه لحاجة كستر ساق قبيح من غير خيلاء أبيح ما لم يرد التدليس على النساء ومثله قصيرة اتخذت رجلين من خشب فلم تعرف ويكره أن يكون ثوب الرجل إلى فوق نصف ساقه وتحت كعبه بلا حاجة لا يكره ما بين ذلك

2. Imam Mawardi dalam kitab Al-Inshof juz 1 hal : 473 mngatakan :

ويكره زيادته إلى تحت كعبيه بلا حاجة على الصحيح من الروايتين وعنه ما تحتهما في النار وذكر الناظم من لم يخف خيلاء لم يكره والأولى: تركه هذا

“ Dan makruh melebihi sampai bawah mata kaki tanpa ada hajat mnurut pndapat yg shohih..si nadzim mnyebutkan jika tidak takut sombong maka TIDAK MAKRUH…”

3. Bahkan Ibnu Taimiyyah dalam hal ini bertaqlid dgn pendapat al-Qodhi yang membolehkannya jika tanpa khuyala :

وقال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله في: ((شرح العمدة)) (ص361-362) : (فأما إن كان على غير وجه الخيلاء بل كان على علة أو حاجة أو لم يقصد الخيلاء والتزين بطول الثوب ولا غير ذلك فعنه أنه لا بأس به وهو اختيار القاضي وغيره

“ Ibnu Tamiyyah berkata dalam kitab Syrh Umdah “ Adapun jika tidk dngn khuyala akan tetapi karena ada alasan atau hajat atau tdk bermaksud sombong dan berhias dgn pakaian panjang dan lainya, maka tidaklah mengapa dan ini ikhtiyarnya al-Qodhi dan selainnya “.

4. Imam syafi’I sendiri memiliki pndapat lain yg dinukil oleh imam Nawawi dlm kitab majmu’nya berikut :

لا يجوز السدل في الصلاة ولا في غيرها للخيلاء ، فأما السدل لغير الخيلاء في الصلاة فهو خفيف ؛ لقوله صلى الله عليه وسلم لأبي بكر رضى الله عنه وقال له : إن إزاري يسقط من أحد شقي . فقال لهلست منهم

“ Tidak boleh sadl atau isbal di dalm sholat maupun diluar sholat jika karena sombong. Adapun sadl bukan karena sombong di dalam sholat maka itu adalah khofif / ringan karena hadits Nabi Saw kepada Abu Bakar yang berkata “ Wahai Rasul, sesungguhnya pakaianku menyeret ke bumi “ Maka Nabi mnjawab “ Kamu bukan karena sombong “.

5. Hadits dari Ibnu Umar yg diriwayatkan dalam shohih MUSLIM berikut :

من جر إزاره لا يريد بذلك إلا المخيلة فإن الله لا ينظر إليه يوم القيامة

“ Barangsiapa yang menyeret sarungnya, tidak berbuat itu selain sifat sombong, maka Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat “. (HR. Muslim).

Nash ini jelas bahwa isbal tidaklah haram kecuali karena melakukannya dgn sifat sombong.

Demikian penjelasan ini secara singkat… semoga bermanfaat..

Wallahu a’lamu bisshowab..

S022. IMAM TIDAK FASIH DALAM BACAAN FATIHAH

PERTANYAAN :

Assalamu alaikum ustadz..

Bagaimna hukumnya seorang menjadi imam di masjid/musholla dalam bacaannya tidak fasih yg dengung dibaca tidak dengung, yg panjang dibaca pendek dan seterusnya.
pertanyaan saya apakah boleh orang tersebut jadi imam, mohon arahannya ustadz.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Diperinci, SAH jika bacaan imam hanya mengulang-ulang huruf atau makhraj-nya huruf serupa dengan huruf lain(kurang fasih). Namun apabila kesalahannya fatal sampai merubah huruf, atau makna maka bermakmum kepadanya tidak sah. Catatan: Praktek di atas jika sang imam telah belajar ilmu Tajwîd (tidak ceroboh).

Referensi:

الفتاوى الفقهية الكبرى الجزء 1 صحـ : 143 مكتبة الإسلامية

( وَسُئِلَ ) نَفَعَ اللَّهُ بِهِ عَمَّنْ تَعَلَّمَ الْفَاتِحَةَ وَفِي حَرْفٍ مِنْهَا خَلَلٌ لِثِقَلٍ فِي اللِّسَانِ هَلْ تُجْزِيْهِ صَلاَتُهُ أَوْ لاَ وَهَلْ يَجِبُ التَّعَلُّمُ فِي جَمِيعِ عُمْرِهِ أَوْ لاَ وَهَلْ تَصِحُّ الْجُمُعَةُ إذَا لَمْ يَكْمُلِ الْعَدَدُ إلاَ بِهِ مَثَلاً أَوْ لاَ ( فَأَجَابَ ) بِقَوْلِهِ إنْ كَانَ ذَلِكَ الْخَلَلُ نَحْوَ فَأْفَأَةٍ بِأَنْ صَارَ يُكَرِّرُ الْحَرْفَ صَحَّتْ صَلاَتُهُ وَالْقُدْوَةُ بِهِ لَكِنَّهَا مَكْرُوهَةٌ وَتَكْمُلُ الْجُمُعَةُ بِهِ وَلاَ يَلْزَمُهُ التَّعَلُّمُ وَإِنْ كَانَ لُثْغَةً فَإِنْ كَانَتْ يَسِيرَةً بِحَيْثُ يَخْرُجُ الْحَرْفُ صَافِيًا وَإِنَّمَا فِيهِ شَوْبُ اشْتِبَاهٍ بِغَيْرِهِ فَهَذَا أَيْضًا تَصِحُّ صَلاَتُهُ وَإِمَامَتُهُ وَتَكْمُلُ الْجُمُعَةُ بِهِ وَلاَ يَلْزَمُهُ التَّعَلُّمُ وَإِنْ كَانَ لُثْغَةً حَقِيقِيَّةً بِأَنْ كَانَ يُبْدِلُ الْحَرْفَ بِغَيْرِهِ فَتَصِحُّ صَلاَتُهُ لاَ الْقُدْوَةُ بِهِ إلاَ لِمَنْ هُوَ مِثْلُهُ بِأَنِ اتَّفَقَا فِي الْحَرْفِ الْمُبْدَلِ وَإِنْ اخْتَلَفَا فِي الْبَدَلِ فَلَوْ كَانَ كُلٌّ مِنْهُمَا يُبْدِلُ الرَّاءَ لَكِنَّ أَحَدَهُمَا يُبْدِلُهَا لاَمًا وَاْلآخَرُ عَيْنًا صَحَّ اقْتِدَاءُ أَحَدِهِمَا بِاْلآخَرِ وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمَا يُبْدِلُ الرَّاءَ وَاْلآخَرُ يُبْدِلُ السِّينَ لَمْ يَصِحَّ اقْتِدَاءُ أَحَدِهِمَا بِاْلآخَرِ هَذَا فِي غَيْرِ الْجُمُعَةِ – إلى أن قال – عِبَارَةُ الشَّرْحِ الْمَذْكُوْرِ وَمَنْ كَانَ بِلِسَانِهِ خَلَلٌ فِي الْفَاتِحَةِ مَثَلاً فَمَتَى رَجَى زَوَالَهُ عَادَةً لِتَعَلُّمٍ لَزِمَهُ وَإِنْ طَالَ الزَّمَنُ وَمَتَى لَمْ يَرْجُهُ كَذَلِكَ لَمْ يَلْزَمْهُ اهـ

Jika makmumnya lebih fasih dari pada imamnya maka tidak sah makmum pada imam yang tidak fasih. Ta`bir dalam bughyah :

(مسألة: ش): لا يصح اقتداء من يقرأ الفاتحة، وإن أخلّ ببعض حروفها، كأن يبدل السين تاء بمن لا يعرف الفاتحة أصلاً، بل يأتي ببدلها من قرآن أو ذكر ويجوز عكسه اهـ.

[فائدة]: لا يصح اقتداء قارىء بأمي، وهو من يخلّ بحرف من الفاتحة فخرج التشهد، فيصح اقتداء القارىء فيه بالأمي، وإن لم يحسنه من أصله، كما في النهاية والشوبري اهـ بجيرمي، ومثل التشهد التكبير والسلام إذ لا إعجاز في ذلك، لكن محله إن أتى ببدله من ذكر أو دعاء، فإن أخلّ بحرف من أحد الثلاثة فحكمه حكم الأمي اهـ باسودان

– Fathul Mu’in :

وقد تجب المفارقة، كأن عرض مبطل لصلاة إمامه وقد علمه فيلزمه نيتها فورا وإلا بطلت، وإن لم يتابعه اتفاقا، كما في المجموع

(ولا) قدوة (قارئ بأمي) وهو من يخل بالفاتحة أو بعضها، ولو بحرف منها، بأن يعجز عنه بالكلية، أو عن إخراجه عن مخرجه، أو عن أصل تشديدة، وإن لم يمكنه التعلم ولا علم بحاله

ويصح الاقتداء بمن يجوز كونه أميا إلا إذا لم يجهر في جهرية فيلزمه مفارقته، فإن استمر جاهلا حتى سلم لزمته الاعادة، ما لم يتبين أنه قارئ

Detail jawaban : WAJIB MUFARAQAH, seperti misalnya TERJADI SESUATU yang MEMBATALKAN SHOLAT IMAM, maka wajib ber-mufaraqah SEKETIKA, jika tidak maka BATAL Sholatnya, meski (sudah) tidak mengikuti Imam tersebut, hal ini disepakati oleh para ‘ulama seperti yang ada di kitab Majmu’.

Dan TIDAK SAH seorang Qori’ bermakmum pada seorang yang Ummi, yaitu orang yang merusak bacaan fatihahnya, atau SEBAGIAN dari fatihah itu, meski hanya satu huruf, baik karena tidak bisa membaca secara keseluruhannya atau tidak sesuai makhrojnya, atau tasydidnya, sekalipun hal itu dikarenakan ia sudah tidak mgk untuk belajar, dan makmum tidak mengerti akan keadaannya.

SAH bermakmum kepada Imam yang disangka Ummi, kecuali jika ketika sholat jahriyah Imam tersebut tidak mengeraskan Bacaannya, untuk itu wajib MUFAROQOH, jika ia meneruskan sholatnya bersama Imam tersebut dalam keadaan tidak tahu sampai Salam, maka ia wajib mengulang solatnya, jika sampai salam tidak jelas apakah dia QOri’

Bila makmum mengetahuinya setelah rampung shalat maka wajib mengulang shalatnya kalau mengetahuinya di tengah-tengah shalat maka ia wajib memutus shalatnya dan memulai lagi

( ولو اقتدى بمن ظنه أهلا ) للإمامة ( فبان خلافه ) كأن ظنه قارئا أو غير مأموم أو رجلا أو عاقلا فبان أميا أو مأموما أو امرأة أو مجنونا أعاد الصلاة وجوبا لتقصيره بترك البحث في ذلك

( قوله أعاد ) أي المقتدي وهو جواب لو ومحل الإعادة إن بان بعد الفراغ من الصلاة فإن بان في أثنائها وجب استئنافها

Bila ia (seorang laki-laki) bermakmum pada imam yang menurut prasangkanya ahli/mahir untuk menjadi imam tetapi kenyataannya berbeda seperti ia menyangka imamnya Qaari’ (ahli baca alQuran) atau bukan berstatus makmum atau laki-laki, atau berakal tapi kenyataannya imamnya UMMI (tidak fashih baca alquran) atau berstatus makmum pada orang lain atau perempuan atau gila maka ia wajib mengulang shalatnya karena sembrononya dalam rangka tidak mau meneliti imamnya terlebih dahulu sebelum shalat.

(keterangan maka ia wajib mengulang) bila kejelasan kenyataan imamnya setelah ia rampung shalat tapi bila kejelasannya ditengah-tengah shalat maka ia wajib memutuskan shalatnya dan memulainya dari awal lagi. [ I’aanah at-Thoolibiin II/52 ].

Tidak sah jika qoori'(orang yg pandai membaca fatehah) itu bermakmum kepada imam yang ummi (orang yang merusak kepada satu huruf dari fatihah)

(بجيرمي علی الخطيب,جز ٢,صحيفۃ ٣٣٤)
(ولا) يصح ان ياءتم (قاريء)وهو من يحسن الفاتحۃ(باءمي)امكنه التعلم ام لا,والاءمي من يخل بحرف كتخفيف مشدد من الفاتحۃ باءن لا يحسنه كاءرت-بمثناۃ-وهو من يدغم باءبدال في غير محل الاءدغام بخلافه بلا ابدال كتشديد اللام او الكاف من مالك,والثغ-بمثلثۃ-وهو من يبدل حرفا باءن ياءتي بغيره بدله كاءن ياءتي بالمثلثۃ بدل السين فيقول:المثتقيم, فاءن امكن الءمي التعلم ولم يتعلم لم تصح صلاته والا صحت كاقتداءه بمثله فيما يخل به,وكره الاءقتداء بنحو تاءتاء كفاءفاء(اي من يكرر الحرف)ولاحن(المراد باللحن ما يشمل الاءبدال انتهی م ر)بما لا يغير المعنی كضم هاء ﷲ ,فاءن غير معنی في الفاتحۃ كاءنعمت بضم او كسر ولم يحسن اللاحن الفاتحۃ فكاءمي فلا يصح اقتداء القاریء به

 

Wallaahu A’lamu Bis Showaab..

M018. UANG HALAL DAN HARAM DALAM SATU REKENING

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Wr. Wb
Numpang tanya ni ustadz..

Ada dua orang yg mempuyai uang dalam satu rekening. Yg A uang haram, hasil judi yg B uang halal, hasil bekerja. Semua uang yg kepunyaan A dan B di kirimkan kedalam satu rekening yg sama. Bagaiman hukumnya utadz apakah uang yg kepuyaan B tetap halal atau ikut haram karna bercampur dengan uangnya si A?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Uang yang halal tetap dihukumi halal dengan cara mengambil seukuran yang halal, lihat kitab Asbah Wan nadhoir hal 75 :

الأشباه والنظائر : ص : ٧٥

وفي فتاوى ابن الصلاح : لو اختلط درهم حلال بدراهم حرام . ولم يتميز فطريقه : أن يعزل قدر الحرام بنية القسمة . ويتصرف في الباقي ، والذي عزله إن علم صاحبه سلمه إليه ، وإلا تصدق به عنه ، وذكر مثله النووي وقال : اتفق أصحابنا ، ونصوص الشافعي على مثله فيما إذا غصب زيتا أو حنطة . وخلط بمثله ، قالوا : يدفع إليه من المختلط قدر حقه . ويحل الباقي للغاصب .

Dalam kitab fatwanya Ibnu Sholah : jika bercampur antara dirham halal dengan dirham haram serta tidak bisa dibedakan maka jalannya adalah dengan dipisah perkiraan ukuran yang haram dengan niat membagi dan selebihnya boleh digunakan, sedangkan yang dipisah jika diketahui pemiliknya maka diserahkan padanya jika tdk diketahui maka disedekahkan atas namanya, hal yang serupa juga disebutkan oleh Imam Nawawi.

Beliau berkata : sahabat-sahabat kami telah seppakat dan juga nash-nashnya Imam Syafi’i bahwa jika seseorang menggososb minyak zaitun atau gandum dan mencampurnya dengan yang semisalnya , mereka (ashab) berkata : diserahkan padanya (yang dighosob) dari percampuran tersebut seukuran haknya orang yang dighosob dan selebihnya halal bagi orang yang menggosob.

Wallohu a’lam bis showab..

S021. I’ADAH SHALAT JUM’AT DENGAN SHALAT DZUHUR

20180212_190815

 

PERTANYAAN :
Assalamualaikum ustadz..

1. Kenapa kebayaan orang yang di tempat saya tinggal harus sholat duhur lagi, pakek mazhab yang mana?

2. Dan apa saja penyebab diperbolehkannya i’adah shalat jum’ad diganti dengan shalat dzuhur?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

1. Kalau memang sudah jelas shalat jum’atnya sah maka tdk perlu apalagi sdh jelas ulama’ memperbolehkan taqliq pada imam syafi’i Qaulqadim

قال السيوطى وقد الفت رسالة تتعلق بجواز العمل بالقول القديم للإمام الشافعى فى صحة الجمعة بأربعة وبغير ذلك فانظرها إن شئت إنتهى.

(والحاصل) لهذه المسألة خمسة أحوال
الحالة الأولى: أن يقعا معا، فيبطلان، فيجب أن يجتمعوا أو يعيدوها جمعة عند اتساع الوقت.
الحالة الثانية: أن يقعا مرتبا، فالسابقة هي الصحيحة، واللاحقة باطلة، فيجب على أهلها صلاة الظهر.
الحالة الثالثة: أن يشك في السبق والمعية، فيجب عليهم أن يجتمعوا أو يعيدوها جمعة عند اتساع الوقت، لأن الأصل عدم وقوع جمعة مجزئة في حق كل منهم.
الحالة الرابعة: أن يعلم السبق ولم تعلم عين السابقة، فيجب عليهم الظهر، لأنه لا سبيل إلى إعادة الجمعة مع تيقن وقوع جمعة صحيحة في نفس الأمر.
لكن لما كانت الطائفة التي صحت جمعتها غير معلومة وجب عليهم الظهر.
الحالة الخامسة: أن يعلم السبق، وتعلم عين السابقة، لكن نسيت، وهي كالحالة الرابعة.

ﺑﻞ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻣﻦ ﺃﻗﻮﺍﻝ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺘﻌﺪﺩ ﻓﻴﻬﺎ ﺇﺫﺍ ﺩﻋﺖ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ﺇﻟﻰ ﺫﻟﻚ ﻓﻘﻂ ﻛﺄﻥ ﻳﻀﻴﻖ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺑﺄﻫﻞ ﺍﻟﺒﻠﺪﺓ ﻓﻴﺒﻨﻰ ﻣﺴﺠﺪ ﺁﺧﺮ ﻓﺘﻘﺎﻡ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﺃﻭ ﻳﻜﻮﻥ ﻫﻨﺎﻙ ﺣﺮﺝ ﻓﻲ ﻭﺻﻮﻝ ﺍﻟﻤﺼﻠﻴﻦ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﻘﺎﻡ ﻓﻴﻪ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻓﺘﻘﺎﻡ ﺟﻤﻌﺔ ﺃﺧﺮﻯ ﺃﻭ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﻭﺍﺳﻌﺎً ﻣﺘﺮﺍﻣﻲ ﺍﻷﻃﺮﺍﻑ ﻭﺳﻜﺎﻧﻪ ﻛﺜﻴﺮﻭﻥ ﻓﺘﺘﻌﺪﺩ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻟﺬﻟﻚ ﻭﻫﺬﺍ ﻣﺬﻫﺐ ﺟﻤﻬﻮﺭ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻭﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﻭﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ .
ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ : ‏[ ﻭﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻫﻮ ﺍﻟﺠﻮﺍﺯ ﻓﻲ ﻣﻮﺿﻌﻴﻦ ﺃﻭ ﺃﻛﺜﺮ ﺑﺤﺴﺐ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ ﻭﻋﺴﺮ ﺍﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﺑﻪ ‏] ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ 4/586 .

 

2. I’adah (mengulangi) dengan melaksanakan sholat dzuhur bagi orang yang berada di desa yang terdapat ta’addudul jum’at yang di perbolehkan syara’ karena ada hajat/sebab sedang ia tidak tahu masjid mana/tempat di dirikanya sholat jum’at yang mana yang lebih dahulu takbirnya maka hukum i’adah dengan melaksanakan sholat dzuhur hukumnya di Sunnahkan.

namun jika tidak ada hajat maka Wajib i’adah dengan melaksanakan sholat dzuhur.

I’adah dengan melaksanakan sholat dzuhur bagi orang yang berada di desa yand di perbolehkan ta’addudul jum’at dan ia tidak mengetahui masjid mana yang takbirnya lebih dahulu maka hukumnya tidak wajib baginya i’adah/mengulangi dengan melaksanakan sholat dzuhur namun di sunahkan mengulangi dengan sholat dzuhur.kesunahan i’adah sholat dzuhur tersebut di sunahkan karena keluar dari khilaf (perbedaan pendapat) mengenai di larangnya ta’addudul jum’at dalam satu tempat/Desa.

sedang jika ta’addudul jum’atnya yang berada dalam satu desa tersebut tanpa adanya hajat yang di perbolehkan syara’ maka wajib baginya untuk sholat dzuhur,sedang bagi orang yang tidak tahu apakah ta’addudul jum’atnya karena alasan yand di perbolehkan syara’ atau tidak maka wajib baginya i’adah dengan melaksanakan sholat dzuhur.

(سئل)عمن يصلي الجمعة فى مصر هذه مع ما فيها من تعدد الجمع وعدم العلم بالسابقة واللاحقة هل يجب عليه أن يصلي الظهر بعده ليتحقق براءة ذمته أم الجمع الواقعة فيها كلها صحيحة ولا يجب عليه ذالك؟(فأجاب)بأن الجمع الواقعة فى مصر صحيحة سواء أوقعت معا أم مرتبا الى أن ينتهي عسر الإجتماع بأمكنة تلك الجمع فلا يجب على أحد من مصليها صلاة الظهر يومها لكنها تستحب خروجا من خلاف من منع تعدد الجمعة بالبلد وإن عسر الإجتماع فى مكان فيه ثم الجمع الواقعة بعد انتفاء الحاجة الى التعدد غير صحيحة فيجب على مصليها ظهر يومها ومن لم يعلم هل جمعته من الصحيحات أو من غيرها وجب عليه ظهر يومها

فتاوى الرملي ج 1 ص 276

 

Syarat-Syarat di perbolehkanya Ta’addudul jum’at.

والحاصل من كلام الأئمة أن أسباب جواز تعددها ثلاثة:ضيق محل الصلاة بحيث لا يسع المجتمعين لها غالبا,والقتال بين الفئتين بشرطه,وبعد أطراف البلد بأن كان بمحل لايسمع منه النداء,أو بمحل لو خرج منه بعد الفجر لم يدركها,إذ لا يلزمه السعي اليها إلا بعد الفجر انتهى

بغية المسترشدين ص ٧٩

adapun sebab-sebab di perbolehkanya ta’addudul jum’at,antara lain:

-sempitnya tempat jum’atan sekiranya tidak muat untuk jama’ah jum’at

-ada dua kelompok yang saling bermusuhan (tawuran:misal)

,yang beraqibat tidak bisa di dirikan jum’atan hanya pada satu tempat

-jauhnya tempat jum’atan sekiranya suara adzan tidak terdengar atau mendatangi tempat jum’atan setelah fajar ia tidak akan mendapati jum’atanya.karena ia boleh melakukan perjalanan hanya setelah fajar.

Jika melakukan sholat dhuhur setelah diselenggarakan

sholat Jum’at itu karena ta’addud (jumlah sholat Jum’at yang diselenggarakan di satu kampung lebih dari satu), maka hukumnya ditafsil:

Apabila bilangan jama’ah sholat Jum’at kurang dari 40 orang yang memenuhi syarat, maka wajib sholat dhuhur.

Apabila memenuhi syarat-syarat ta’addud, maka hukumnya sunnat melakukan sholat dhuhur, untuk menghindarkan diri dari perbedaan pendapat.

بغية المسترشدين ص 80 ( مسئلة ي ) مَتَى كَمُلَتْ شُرُوْطُ الْجُمُعَةِ بِأَنْ كَانَ كُلٌّ مِنَ الْأَرْبَعِيْنَ ذَكَرًا حُرًّا مُكَلَّفًا مُسْتَوْطِنًا بِمَحَلِّهَا لاَ يَنْقُصُ فِيْهَا شَيْئًا مِنْ أَرْكَانِ الصَّلاَةِ وَشُرُوْطِهَا وَلاَ يَعْتَقِدُهُ سُنَّةً وَلاَ يَلْزَمُهُ الْقَضَاءُ وَلاَ يَبْدِلُ حَرْفًا بِأَخَرَ وَلاَ يَسْقُطُهُ وَلاَ يَزِيْدُ فِيْهَا مَا يُغَيِّرُ الْمَعْنَي وَلَا يُلْحِنُ بِمَا يُغَيِّرُهُ وَإِنْ لَمْ يَقْصُرْ فِيْ التَّعَلُّمِ, كَمَا قَالَ ابْنُ حَجَرَ خِلاَفًا لم ر لَمْ تَجُزْ إِعَادَتُهَا ظُهْرًا بِخِلاَفِ مَا إِذَا وَقَعَ فِيْ صِحَّتِهَا خِلاَفٌ وَلَوْ فِيْ غَيْرِ الْمَذْهَبِ فَتُسَنُّ إِنْ صَحَّتِ الظُّهْرُ عِنْدَ ذَالِكَ الْمُخَالِفِ كَكُلِّ صَلاَةٍ وَقَعَ فِيْهَا خِلاَفٌ غَيْرُ شَادٍ.وَيَلْزَمُ الْعَالِمُ إِذَاَ اسْتُفْتِيَ فِيْ إِقَامَةِ الْجُمْعَةِ مَعَ نَقْصِ الْعَدَدِ أََنْ يَقُوْلَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ لاَ يَجُوْزُ ثُمَّ إِنْ لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ مَفْسَدَةٌ وَلاَ تَسَاهُلٌ جَازَ لَهُ أَنْ يُرْشِدَ مَنْ أَرَادَ الْعَمَلَ بِالْقَوْلِ الْقَدِيْمِ إِلَيْهِ وَيَجُوْزُ لِلْإِمَامِ إِلْزَامُ تَارِكِ الْجُمْعَةِ كَفَّارَةً إِنْ رَأَهُ مَصْلَحَةً وَيُصَرِّفُهَا لِلْفُقَرَاءِ اه وَعِبَارَةُ ك وَإِذَا فَقَدَتْ شُرُوْطُ الْجُمْعَةِ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ لَمْ يَجِبْ فِعْلُهَا بَلْ يَحْرُمُ حِنَئِذٍ لِأَنَّهُ تَلْبَسُ بِعِبَادَةٍ فَاسِدَةٍ فَلَوْ كَانَ فِيْهِمْ أُمِّيٌّ تَمَّ الْعَدَدُ بِهِ لَمْ تَصِحَّ وَإِنْ لَمْ يَقْصُرْ فِيْ التَّعَلُّمِ كَماَ فِيْ التُّحْفَةِ خِلاَفاً لِشَرْحِ الْإِرْشَادِ وم ر بِخِلاَفِ مَا لَوْ كَانُوْا كُلُّهُمْ أُمِّيِّيْنَ وَالْإِمَامُ قَارِئٌ فَتَصِحَُّ وَإِذَا قَلَّدَ الشَّافِعِيَّ مَنْ يَقُوْلُ بِصِحَّتِهَا مِنَ الْأَئِمَّةِ مَعَ فَقْدِ بَعْدِ شُرُوْطِهَا تَقْلِيْدًا صَحِيْحًا مُسْتَجْمِعًا لِشُرُوْطِهِ جَازَ فِعْلُهَا بَلْ وَجَبَ حِنَئِذٍ ثُمَّ يُسْتَحَبُّ إِعَادَتُهَا ظُهْرًا وَلَوْ مُنْفَرِدًا خُرُوْجًا مِنْ خِلاَفِ مَنْ مَنَعَهَا إِذِالْحَقُّ أَنَّ الْمُصِيْبَ فِيْ الْفُرُوْعِ وَاحِدٌ وَالْحَقُّ لاَ يَتَعَدَّدُ فَيَحْتَمِلُ أَنَّ الَّذِيْ قَلَّدَهُ فِيْ الْجُمُعَةِ غَيْرُ مُصِيْبٍ وَهَذَا كَمَا لَوْ تَعَدَّدَتِ الْجُمُعَةُ لِلْحَاجَةِ فَإِنَّهُ لِكُلِّ مَنْ لَمْ يَعْلَمْ سَبْقَ جُمُعَتِهِ أَنْ يُعِيْدَهَا ظُهْرًا, وَكَذَا إِنْ تَعَدَّدَتْ لِغَيْرِ حَاجَةٍ وَشَكَّ فِيْ الْمَعِيَّةِ فَتَجِبُ إِعَادَتُهَا جُمُعَةً إِذِ الْأَصْلُ عَدَمُ وُقُوْعِ جُمُعَةٍ مُجْزِئَةٍ وَتُسَنُّ إِعَادَتُهَا ظُهْرًا أَيْضًا إِحْتِيَاطًا _ إِلَي أَنْ قَالَ – قَدْ صَرَحَ أَئِمَّتُنَا بِنَدْبِ إِعَادَةِ كُلِّ صَلاَةٍ وَقَعَ خِلاَفٌ فِيْ صِحَّتِهَا وَلَوْ مُنْفَرِدًا, وَمَنْ قَالَ إِنَّ الْجُمُعَةَ لاَ تُعَادُ ظُهْرًا مُطْلَقًا لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى لَمْ يُوْجِبْ سِتَّةَ فُرُوْضٍ فِيْ الْيَوْمِ وَالليْلَةِ فَقَدْ أَخْطَأَ.أه.

( Masalah Ya’ ) “Tatkala syarat-syarat sholat jum’at sudah sempurna, dengan adanya empat puluh orang laki-laki merdeka, yag mukallaf, berdomisili ditempatnya, dan masing-masing tidak mengurangi sedikitpun dari rukun-rukun sholat dan syarat-syaratnya dan tidak meyakininya sebagai sholat sunah dan tidak mengharuskan meng qodho’ sholat tersebut dan imam tidak mengganti sesuatu huruf dengan yang lain dan tidak menggugurkannya dan tidak menambah didalam sholat sesuatu yang merubah ma’na dan tidak melagukan huruf dengan sesuatu yang merubah ma’na meskipun orang mukallaf tersebut tidak teledor dalam belajar. Sebagaimana pendapat Ibnu Hajar berbeda dengan pendapat imam Romli. Maka tidak boleh mengulangi sholat jum’at tersebut dengan sholat dhuhur berbeda dengan apa yang apabila terjadi dalam keabsahan jum’at sesuatu perbedaan ( pendapat ) meskipun dalam madzhab lain, maka disunnahkan I’adah jika sholat dzuhur telah sah menurut orang yang bebeda pendapat tersebut seperti setiap sholat yang terjadi padanya perbedaan pendapat yang tidak menyimpang. Orang alim apabila dimintai fatwa mengenai pendirian sholat jum’at beserta kekurangan bilangan jama’ah sholat jum’at harus mengucapkan : “madzhab Syafi’i tidak membolehkan”, kemudian apabila tidak terjadi padanya suatu kerusakan kerusakan dan bermalas-malasan pada (si alim), maka boleh baginya untuk memberi petunjuk kepada orang yang ingin mengerjakan dengan qaul qadim kepadanya dan bagi kepala pemerintahan boleh mengharuskan orang yang meninggalkan sholat jum’at membayar kifarat jika imam melihatnya sebagai kemaslahatan ( kebaikan ) dan mentasarufkan hasil kifarat tersebut kepada orang-orang fakir. Menurut ibarat syeh Sulaiman al-Kurdi:”apabila syarat-syarat sholat jum’at itu tidak didapati menurut madzhab Syafi’i maka tidak wajib mengerjakan sholat jum’at bahkan haram karena hal itu menjumbokan dengan ibadah yang rusak. Apabila dalam jama’ah sholat jum’at terdapat orang yang buta huruf al-Qur’an yang menjadi hitungan kesempurnaan jama’ah jum’at, maka sholat jum’at tersebut tidak sah meskipun orang yang buta huruf tersebut tidak teledor dalam belajar agama, sebagaimana keterangan dalam kitab Tuhfah yang berbeda dengan keterangan dalam syarah al-Irsyad dan imam ar-Romli, berbeda dengan apa yang apabila jama’ah keseluruhannya adalah orang-orang yang buta huruf al-Qur’an sedang imamnya dapat membaca al-Qur’an maka sholat jum’ahnya sah jika orang yang yang taklid kepada imam as-Syafi’i dari para imam berpendapat dengan kebsahannya sholat jum’at beserta ketiadan sebagian dari syarat-syarat orang jum’at dengan taklid yang benar yang mengumpulkan syarat-sarat taklid, maka boleh melakukan sholat jum’at bahkan wajib. Kemudian disunnahkan mengulangi sholat jum’at tersebut dengan sholat duhur meskipun sendirian karena keluar dari berbeda pendapat dengan orang yang melarang sholat jum’at tersebut. Karena yang benar bahwa apa yang sesuai dalam furu’ itu adalah satu dan yang benar sholat jum’at itu tidak boleh berbilang. Maka dimungkinkan bahwa orang yang bertaklid kepada imam Syafi’i mengenai sholat jum’at itu adalah tidak sesuai. Ini adalah sebagaimana apabila sholat jum’at itu berbilang karena hajat, maka sesungguhnya bagi setiap orang yang tidak mengetahui sholat jum’atnya telah didahului sholat jum’at yang lain hendaklah mengulangi sholat jum’at tersebut dengan sholat duhur dan demikian pula apabila sholat jum’at tersebut berbilang tanpa hajat dan dia ragu-ragu mengenai sholat jum’at yang menyertainya maka wajib mengulangi sholat jum’at itu dengan sholat jum’at lagi karena hukum asal adalah meniadakan terjadinya sholat jum’at yang mencukupi syarat dan disunatkan mengulangi sholat jum’at dengan sholat duhur juga karena berhati-hati…sampai ucapan pengarang: Para imam kita telah menjelaskan dengan kesunnatan mengulangi setiap sholat yang dalam keabsahannya terjadi perbedaan pendapat meskipun sholatnya itu sholat sendirian dan orang yang berpendapat bahwa sesungguhnya sholat jum’at itu tidak boleh diulangi dengan sholat dhuhur secara mutlak karena sesungguhnya Allah ta’ala tidak mewajibkan enam kewajiban dalam sehari semalam maka orang tersebut benar-benar telah berbuat salah.

Apabila tidak memenuhi syarat-syarat ta’adud, maka di tafsil:

Jika takbirotul ihromnya bersamaan atau diragukan, apakah bersamaan atau ada yang mendahului, maka wajib mengulangi jum’atan lagi secara bersama-sama selama waktu sholat masih mencukupi. Jika tidak, maka jama’ah kedua masjid tersebut harus melakukan sholat dhuhur.

Jika takbirotul ihromnya berurutan, maka jum’atan yang takbirotul ihromnya paling dahulu, hukumnya sah, dan sunnah i’adah ( mengulangi ) sholat dzuhur. Sedang yang lain batal, dan wajib melakukan sholat dzuhur.

Jika takbirotul ihromnya ada yang mendahului tapi tidak jelas mana yang lebih dahulu, atau sudah jelas tetapi lupa, maka semuanya wajib melakukan sholat dzuhur.

Dasar Pengambilan:

I’anatut tholibin juz II hal. 72-74

فَلَوْ سَبَقَهَا بِهِ جُمُعَةٌ صَحَّتْ الْجُمُعَةُ السَّابِقَةُ لاِجْتِمَاعِ شَرَائِطِهَا وَالَّاحِقَةُ بَاطِلَةٌ, فَيَجِبُ أَنْ تُصَلَّى ظُهْرًا أَوْ قَارَنَهَا جُمُعَةٌ أُخْرَى يَقِيْنًا أَوْ شَكًّا بَطَلَتْ الْجُمُعَتَانِ لِأَنَّ إِبْطَالَ إِحْدَاهُمَا لَيْسَ بِاُوْلَى مِنَ الْأُخْرَى فَوَجَبَ إِبْطَالُهُمَا.

وَلِأَنَّ الْأََصْلَ فِىْ صُوْرَةِ الشَّكِّ عَدَمُ جُمُعَةٍ مُجْزِئَةٍ، وَتَجِبُ حِيْنَئِذٍ إِسْتِئْنَافُهَا جُمُعَةً إِنْ وَسِعَ الْوَقْتُ وَ إِلاَّ وَجَبَ أَنْ يُصَلُّوْا ظُهْرًا, فَإِنْ سَبَقَتْ إِحْدَاهُمَا وَالْتَبَسَتْ بِالْأُخْرى, كَأَنَْ سَمِعَ مَرِيْضَانِ أَوْ مُسَافِرَانِ خَارِجَ الْمَسْجِدِ تَكْبِيْرَتَيْنِ مَثَلاً فَأََخْبَرَا بِذَالِكَ وَلَمْ يَعْرِفَا الْمُسْتَقْدِمَةَ مِمَّنْ وَقَعَتْ صَلَّوْا كُلُّهُمْ ظُهْرًا. ( وَالْحَاصِلُ ) لِهَذِهِ الْمَسْئَلَةِ خَمْسَةُ أَحْوَالٍ: اَلْحَالَةُ الْأُوْلَى : أَنْ يَقَعَا مَعَا, فَيَبْطُلاَنِ فَيَجِبُ أَنْ يَجْتَمِعُوْا وَ يُعِيْدُوْهَا عِنْدَ اتِّسَاعِ الْوَقْتِ اَلْحَالَةُ الثَّانِيَةُ : أَنْ يَقَعاَ مُرَتِّبًا فَالسَّابِقَةُ هِيَ الصَّحِيْحَةُ, وَالَّاحِقَةُ بَاطِلَةٌ فَيَجِبُ عَلَى أَهْلِهَا صَلاَةُ الظُّهْرِ اَلْحَالَةُ الثَّالِثَةُ : أَنْ يُشَكَّ فِىْ السَّبْقِ وَالْمَعِيَّةِ فَيَجِبُ عَلَيْهِمْ أَنْ يَجْتَمِعُوْا وَ يُعِيْدُوْهَا جُمُعَةً عِنْدَ اتِّسَاعِ الْوَقْتِ لِأَنَّ الْأَصْلَ عَدَمُ وُقُوْعِ جُمُعَةٍ مُجْزِئَةٍ فِىْ حَقِّ كُلٍّ مِنْهُمْ. اَلْحَالَةُ الرَّابِعَةُ : أَنْ يُعْلَمَ السَّبْقُ وَلَمْ تُعْلَمْ عَيْنُ السَّابِقَةِ فَيَجِبُ عَلَيْهِمْ الظُّهْرُ لِأَنَّهُ لاَ سَبِيْلَ إِلَى إِعَادَةِ الْجُمُعَةِ مَعَ تَيَقُّنِ وُقُوْعِ جُمُعَةٍ صَحِيْحَةٍ فِىْ نَفْسِ الْأَمْرِ لَكِنْ لَمَّا كَانَتِ الطَّائِفَةُ الَّتِيْ صَحَّتْ جُمُعَتُهَا غَيْرَ مَعْلُوْمَةٍ وَجَبَ عَلَيْهِمْ الظُّهْرُ. اَلْحَالَةُ الْخَامِسَةُ: أَنْ يُعْلَمَ السَّبْقُ وَ تُعْلَمَ عَيْنُ السَّابِقَةِ وَلَكِنْ نُسِيَتْ وَهِيَ كَالْحَالَةِ الرَّابِعَةِ.

Seandainya telah mendahului suatu sholat jum’at, maka sholat jum’at yang terlebih dahulu sah, karena terkumpul syarat-syaratnya dan sholat jum’at yang mengikutinya adalah batal maka wajib dilakukan sholat dzuhur, atau sholat jum’at yang lain berbarengan dengan sholat jum’at yang pertama secara yakin atau ragu-ragu maka kedua sholat jum’at tadi batal karena sesungguhnya membatalkan salah satu dari keduanya bukanlah lebih utama dari membatalkan yang lain sehingga wajib membatalkan keduanya . Karena yang asal dalam bentuk keraguan adalah ketiadaan sholat jum’at yang mencukupi. Dan ketika itu wajib memulai lagi sholat jum’at jika waktunya luas, jika tidak maka mereka wajib sholat dzuhur. jika salah satunya mendahului dan jumbo dengan sholat jum’at yang lain seperti apabila dua orang yang sakit atau dua orang musafir yang berada diluar masjid mendengar dua takbirotul ihrom misalnya dan keduanya memberitahukan hal tersebut sedang keduanya tidak mengetahui sholat jum’at yang lebih dahulu maka mereka semuanya sholat dhuhur. Wal hasil untuk masalah ini terdapat lima keadaan: apabila sholat jum’at terjadi bersama-sama maka keduanya batal sehingga wajib mereka mengulangi sholat jum’at pada saat waktunya mencukupi. Apabila kedua sholat itu terjadi berurutan maka sholat yang mendahului adalah sholat yang sah dan yang mengikuti adalah batal sehingga wajib bagi jama’ah yang melakukan sholat kedua melakukan sholat dhuhur. Apabila diragukan mengenai yang mendahului dan yang mengikuti maka wajib atas mereka untuk berkumpul dan mengulanginya dengan sholat jum’at pada saat waktunya cukup karena hukum yang asal adalah tidak terjadinya sesuatu sholat jum’at yang mencukupi bagi hak setiap orang dari mereka. Apabila diketahui sholat yang mendahului dan tidak diketahui wujud yang mendahului maka wajib atas mereka melakukan sholat duhur karena sesungguhnya sama sekali tidak ada jalan untuk mengulangi sholat jum’at beserta keyakinan terjadinya sholat jum’at yang sah dalam urusan tersebut akan tetapi tatkala kelompok yang sah sholat jum’atnya tidak diketahui maka wajib atas mereka melakukan sholat dhuhur Apabila diketahui yang mendahului dan diketahui wujud yang mendahului akan tetapi lupa maka hal ini seperti keadaan yang keempat.

Wallaahu a’lamu Bishshawaab…

S020. SHALAT JUM’AT KURANG DARI 40 ORANG

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Kalau boleh sy mau tanya & kalau ada sy mau minta ibarotnya diperbolehkannya sholat jum’at yg jamaahnya kurang dari 40 orang. Terimakasih..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Manurut madhab Syafi’i tidak sah salat jum’at dengan hitungan kurang dari 40 orang. Dan sebagian Ash-habus Syafi’iyyah memilih pada boleh nya salat jum’at dengan hitungan kurang dari 40 dengan taqlid pada pendapat yang membolehkannya. Masalah hitungn jema’ah dalam jum’at itu ulama’ berbeda2 pendapat hingga nyampe 25 pendapat.. Namun pendapat yang paling mu’tamat adalah 40. Menurut abu yusuf dan muhammad yang di ceritakan oleh awza’I dan abi nashir adalah 4 orang sah. Menurut ibnu hazim 2 orang cukup seperti jema’ah biasa.

– Bughyah bab shalat jum’at :

(مسألة: ج): المذهب عدم صحة الجمعة بمن لم يكمل فيهم العدد، واختار بعض الأصحاب جوازها بأقل من أربعين تقليداً للقائل به،

– Risalah Jum’ah Halaman 5 :

ثم قال الشيخ سالم الحضري في كتابه المذكورة نمرة 21 ان للشافعي رحمهالله تعالى فب العدد الذي تنعقد به الجمعة اربعة اقوال قول معتمد وهو الجديد وهو كونهم اربعين بالشروط المذكورة , وثلاثة اقوال في المذهب القديم ضعيفة احدها اربعة احدهم الامام والثاني ثلاثة احدهم الامام والثالث اثنى عشر احدهم الامام , فعلى العاقل الطالب ما عند الله تعالى من ثوابه ورضاه ان لايترك الجمعة ما نأتي فعلها على واحد من هذه الاقوال الاربعة ولكن اذا لم تعلم الجمعة انها متوفرة فيها الشروط على القول الاول وهو القول الجديد فيسن اعادة الظهر بعدها احتياطا فرارا من خلاف من منعها بدون اربعين اهـ . رسالة الجمعة

Berkata as-syaikh salim al-hudlori dalam kitabnya hal.21 : dalam madzhab syafi’i mengenai jumlah yang menjadi ketentuan jum’at ada empat qoul, yang mu’tamad adalah qoul jadid mengharuskan jumlah jum’at 40 orang. Tiga qoul lain adalah qoul qodim dan hukumnya dlo’if yaitu :

– 4 orang salah satunya imam

– 3 orang salah satunya imam

– 12 orang salah satunya imam

Bagi orang ‘Aqil yang mencari ridlo Alloh hendaknya tidak meninggalkan jum’at dengan cara menjalankan salah satu dari empat qoul yang telah disebutkan. Tetapi jika tidak tahu/ yaqin apakah jum’at nya memenuhi syarat qoul pertama maka di sunnahkan mengulang sholat dhuhur, untuk berhati2 dan menghindar dari dari ulama’ yang melarang jum’at kurang dari 40. Keterangan serupa ada di kitab Fatawi Kubro.

Dalam Qoul Qodimnya Imam Syafi’i disebutkan boleh shalat jum’at dengan 4 orang saja, dan Qoul Qodim tersebut boleh diikuti/ diamalkan karena Qoul tersebut telah dikuatkan oleh AL ASHHABUS SYAFI’I yaitu Imam Al-Muzaniy, Imam Ibnu Al-Mundzir, dan Imam As Suyuthiy. Fihris Ianah 2/58-59 dan Bughyah Al-Mustarsyidin halaman 81 :

قوله أى غير الإمام الشافعي أى باعتبار مذهبه الجديد فلا ينافي أن له قولين قديمين في العدد أيضا أحدهما أقلهم أربعة حكاه عنه صاحب التلخيص وحكاه في شرح المهذب واختاره من أصحابه المزني كما نقله الأذرعي في القوت وكفى به سلفا في ترجيحه فإنه من كبار أصحاب الشافعي ورواة كتبه الجديدة وقد رجحه أيضا أبو بكر بن المنذر في الأشراف كما نقله النووي في شرح المهذب ثاني القولين اثنا عشر وهل يجوز تقليد أحد هذين القولين الجواب نعم فإنه قول للإمام نصره بعض أصحابه ورجحه وقولهم القديم لا يعمل به محله مالم يعضده الأصحاب ويرجحوه وإلا صار راجحا من هذه الحيثية وإن كان مرجوحا من حيث نسبته للإمام وقال السيوطي كثيرا ما يقول أصحابنا بتقليد أبي حنيفة في هذه المسئلة وهو إختياري إذ هو قول للشافعي قام الدليل على رجحانه إه وحينئذ تقليد أحد هذه القولين أولى من تقليد أبي حنيفة فتنبه وقد ألفت رسالة تتعلق بجواز العمل بالقول القديم للإمام الشافعي رضي الله عنه في صحة الجمعة بأربعة وبغير ذلك فانظرها إن شئت. إعانة الطالبين ٢/٥٨-٥٩

Dalam kasus di atas menurut imam Al Bulqiniy harus shalat zhuhur, akan tetapi kalau shalat jum’at karena taqlid pada imam yang memperboleh kurang dari 40 orang jga boleh dan lebih baik lagi bla shalat jum’at kemudian disertai dengan shalat zhuhur. Bahkan menurut sebagian Ulama, takutlah meninggalkan shalat jum’at walawpun kurang dari 40 orang karena shalat jum’at bagian dari rahmat Allah dan pelebur dosa dalam seminggu. Wallohu a’lam.

Keputusan Mu’tamar Pengurus Besar NU, di Semarang, pada tanggal 19-September-1929 :

Diper bolehkan sholat jum’at yang jamaahnya kurang dari 40 orang. Alasannya ialah karena bertaqlid kepada imam Abu Hanifah. Dengan ketentuan harus menunaikan rukun dan syarat menurut ketentuan imam Abu Hanifah. Tetapi yang lebih utama supaya bertaqlid kepada imam Muzanni dari golongan madhab Syafii.

(اعانۃ الطالبين,جز ٢,صحيفۃ ٥٨-٥٩)
(قوله ولا تنعقد الجمعۃ باءقل من اربعين)محترز قوله باءربعين(خلافا لاءبي حنيفۃ)اي في عدم اشتراط الاءربعين(فتنعقد)الجمعۃ(عنده)اي ابي حنيفۃ(باءربعۃ)اي مع الاءمام(ولو )كانت الاءربعۃ(عبيدا او مسافرين)فاءنها تنعقد عنده بهم فلا يشترط عنده الحريۃ ولا الاءستيطان.(وسءل البلقيني عن اهل قريۃ لا يبلغ عددهم اربعين هل يصلون الجمعۃ او الظهر,فاءجاب رحمه الله “يصلون الظهر علی مذهب الشافعي وقد اجاز جمع من العلماء)اي غير الاءمام الشافعي وقد علمت اختلافهم في تعيين العدد الذي تنعقد به(ان يصلوا الجمعۃ وهو قوي)اي القول بالجواز قوي(فاءذا قلدوا اي جميعهم من قال هذه المقالۃ فاءنهم يصلون الجمعۃ)اي فلو لم يقلدوا لا تنعقد الجمعۃ(فاءن احتاطوا)اي هوءلاء المقلدون(فصلوا الجمعۃ ثم الظهر كان حسنا).

Ulama’ berbeda pendapat tentang hitungan jama’ah salat jum’ah sampai 15 pendapat. Berikut ini rincian hitungan jamaah salat jum’ah disebutkan dlm kitab fiqhussunnah.

فروى إبن أبي شيبة بن غفلة أنه صلى مع أبى بكر وعمر حين زالت الشمس وإسناده قوي .لحديث طارق بن شهاب أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (الجمعة حق واجب على كل مسلم في جماعة) .
واختلفوا في العدد الذي تنعقد به الجمعة إلى خمسة عشر مذهبا ذكرها الحافظ في الفتح.
والرأي الراجح أنها تصح باثنين فأكثر لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم: (الاثنان فما فوقهما جماعة) ، قال الشوكاني: وقد انعقدت سائر الصلوات بهما بالاجماع، والجمعة صلاة فلا تختص بحكم يخالف غيرها إلا بدليل، ولا دليل على اعتبار عدد فيها زائد على المعتبر في غيرها.
وقد قال عبد الحق: إنه لا يثبت في عدد الجمعة حديث، وكذلك قال السيوطي: لم يثبت في شئ من الاحاديث تعيين عدد مخصوص.
اه وممن ذهب إلى هذا الطبري وداود والنخعي وابن حزم.
مكان الجمعة: الجمعة يصح أداؤها في المصر والقرية والمسجد وأبنية البلد والفضاء التابع لها، كما يصح أداؤها في أكثر من موضع.
فقد كتب عمر رضي الله عنه إلى أهل البحرين: (أن جمعوا حيثما كنتم) .
رواه ابن أبي شيبة، وقال أحمد: إسناده جيد.
وهذا يشمل المدن والقرى.
وقال ابن عباس: (إن أول جمعة جمعت في الاسلام بعد جمعة جمعت في مسجد رسول الله صلى الله عليه وسلم بالمدينة لجمعة جمعت ب (جوائى) : قرية من قرى البحرين) .
رواه البخاري وأبو داود.
وعن الليث بن سعد أن أهل مصر وسواحلها كانوا يجمعون على عهد عمر وعثمان بأمرهما وفيها رجال من الصحابة.
وعن ابن عمر أنه كان يرى أهل المياه بين مكة والمدينة يجمعون فلا يعتب عليهم.
رواه عبد الرزاق بسند صحيح.
مناقشة الشروط التي اشترطها الفقهاء تقدم الكلام على أن شروط وجوب الجمعة: الذكورة والحرية والصحة والاقامة وعدم العذر الموجب للتخلف عنها، كما تقدم أن الجماعة شرط لصحتها. هـ
ذا هو القدر الذي جاءت به السنة والذي كلفنا الله به.
وأما ما وراء ذلك من الشروط التي اشترطها بعض الفقهاء فليس له أصل يرجع إليه ولا مستند يعول عليه.

ونكتفي هنا بنقل ما قاله الروضة الندية قال: (هي كسائر الصلوات لا تخالفها لكونه لم يأت ما يدل على أنها تخالفها.
وفي هذا الكلام إشارة إلى رد ما قيل من أنه يشترط في وجوبها الامام الاعظم والمصر الجامع والعدد المخصوص، فإن هذه الشروط لم يدل عليها دليل يفيد استحبابها فضلا عن وجوبها فضلا عن كونها شروطا، بل إذا صلى رجلان الجمعة في مكان لم يكن فيه غيرهما جماعة فقد فعلا ما يجب عليهما، فإن خطب أحدهما فقد عملا بالسنة وإن تركا الخطبة فهي سنة فقط.
ولولا حديث طارق بن شهاب المقيد للوجوب على كل مسلم بكونه في جماعة ومن عدم إقامتها في زمنه صلى الله عليه وسلم في غير جماعة لكان فعلها فرادى مجزئا كغيرها من الصلوات.
وأما ما يروى (من أربعة إلى الولاة) فهذا قد صرح أئمة الشأن بأنه ليس من كلام النبوة ولا من كلام من كان في عصرها من الصحابة حتى يحتاج إلى بيان معناه أو تأويله) وإنما هو من كلام الحسن البصري.
ومن تأمل فيما وقع في هذه العبادة الفاضلة – التي افترضها الله عليهم في الاسبوع وجعلها شعارا من شعائر الاسلام، وهي صلاة الجمعة – من الاقوال الساقطة والمذاهب الزائفة والاجتهادات الداحضة (1) قضى من ذلك العجب فقائل يقول الخطبة كركعتين وإن من فاتته لم تصح جمعته وكأنه لم يبلغه ما ورد عن رسول الله صلى الله عليه وسلم من طرق متعددة يقوي بعضها بعضا، ويشد بعضها عضد بعض: أن من فاتته ركعة من ركعتي الجمعة فليضف إليها أخرى وقد تمت صلاته، ولا بلغه غير هذا الحديث من الادلة.
وقائل يقول: لا تنعقد الجمعة إلا بثلاثة مع الامام، وقائل يقول بأربعة، وقائل يقول بسبعة، وقائل يقول بتسعة، وقائل يقول باثني عشر، وقائل يقول بعشرين، وقائل يقول بثلاثين، وقائل يقول لا تنعقد إلا بأربعين، وقائل يقول بخمسين، وقائل يقول لا تنعقد إلا بسبعين وقائل يقول فيما بين ذلك، وقائل يقول بجمع كثير من غير تقييد وقائل يقول إن الجمعة لا تصح إلا في مصر جامع.
وحده بعضهم بأن يكون الساكنون فيه كذا وكذا من الالاف.
وآخر قال أن يكون فيه جامع وحمام، وآخر قال أن يكون فيه كذا وكذا وآخر قال إنها لا تجب إلا مع الامام الاعظم فإن لم يوجد

(1) الداحضة: الباطلة.

Coba bisa dilihat luarnya kitab i’anah paling bawah :

إعانة الطالبين
أي باعتبار مذهبه الجديد فلا ينافى أن له قولين قديمين فى العدد أيضا أحدهما أقلهم أربعة حكاه صاحب التلخيص وحكاه فى شرح المهذب واختاره من أصحابه المزني كما نقله الأذرعى فى القوة وكفى به سلفا فى ترجيحه فإنه من أكبائر الشافعى ورواة كتبه الجديدة وقد رجحه أيضا أبوبكر المنذر فى الإشراف كما نقله النواوى فى شرح المهذب ثانى القولين إثنا عشر وهل يجوز تقليد أحد هذين القولين ،الجواب نعم فإنه قول للامام نصره بعض أصحابه ورجحه….الخ
مرجع الكتاب إعانة الطالبين ص٥٨-٥٩

Wallahu a’lamu bisshowab..

T008. DAGING DIGILING LANSUNG TANPA DICUCI. SEPERTI PROSES PEMBUATAN PENTOL

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Mau tanya bagaimana hukum pentol bakso yang ada di daerah kita. Karena kita tau càra membuatnya digiling dan bercampur dgn darah bahkan kebanyakan oleh penjualnya tidak dicuci dulu dan langsung digiling. Halal atau haram? Mohon penjelásannya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Boleh dan halal memakannya karena darah yg melekat di daging dan tulang di ma’fu selama tidak bercampur dg air…

كاشفة السجا على سفينة النجا..ص..٤٣
أَنَّهُ يُعْفٰى عَنِ الدَّمِ الَّذِى عَلَى اللَّحْمِ إِذَا لَمْ يَخْتَلِطْ بِمَاءٍ وَإِلاَّ فَلاَ يُعْفٰى عَنْهُ..

وإلا فلا يعفى..اى وإذا كان اللحم يختلط بماء فلا يعفى

Kalau kenyataannya sdh bercampur dgn air menurut pemahaman diatas maka najisnya tdk dima’fu.

Darah tersebut dihukumi najis yang di ma’fu (diampuni) kalau tidak bercampur dengan perkara lain seperti air sedang menurut Imam an-Nawaawi serta as-Subky dihukumi SUCI

وأما الدم الباقي على اللحم وعظامه وعروقه من المذكاة فنجس معفو عنه وذلك إذا لم يختلط بشيء كما لو ذبحت شاة وقطع لحمها فبقي عليه أثر من الدم وإن تلون المرق بلونه بخلاف ما لو اختلط بغيره كالماء كما يفعل في البقر الذي تذبح في المحل المعد لذبحها من صب الماء عليها لإزالة الدم عنها فإن الباقي من الدم على اللحم بعد صب الماء عليه لا يعفى عنه وإن قل لاختلاطه بأجنبي ولو شك في الاختلاط وعدمه لم يضر لأن الأصل الطهارة

Sedang darah yang terdapat pada daging, tulang, urat dari hewan yang disembelih maka hukumnya najis yang dima’fu bila tidak tercampuri sesuatu, seperti bila seekor kambing disembelih, dagingnya dipotong-potong dan ternyata masih tersisa bekas darahnya meskipun air kuah masih berwarna merah karenanya.Brbeda saat ia tercampuri oleh perkara lainnya seperti air seperti seekor sapi yang disembelih ditempat yang telah dipersiapkan yang disirami air agar menghilangkan darahnya, maka bila masih tersisa darah pada daging setelah penyiraman air tersebut darahnya tidak dima’fu (harus dicuci sihkan sebelum memasaknya) meskipun hanya sedikit karena telah bercampur dengan hal lain.Bila diragukan tercampur dengan hal lain dan tidaknya maka tidak bahaya karena kaidah asalnya adalah suci. [ Nihaayah az-Zain I/40 ].

( قوله حتى ما بقي على نحو عظم ) أي حتى الدم الباقي على نحو عظم فإنه نجس وقيل إنه طاهر وهو قضية كلام النووي في المجموع وجرى عليه السبكي

(Hingga darah yang tersisa pada semacam tulang) artinya darah yang tersisa pada semacam tulang hewan yang disembelih dihukumi najis, namun dikatakan menurut pendapat ulama “sesungguhnya ia suci” dan inilah keputusan pernyataan an-Nawawy dalam kitab al-Majmu’ dan yang dijalani oleh as-Subky. [ I’aanah at-Thoolibiin I/83 ].

Pertanyaannya, apa alasannya darah tadi kok di-ma’fu ?? dan istinbatnya apa ? Jawabnya baca ibaroh berikut :

ويدل له من السنة قول عائشة رضي الله عنها كنا نطبخ البرمة على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم تعلوها الصفرة من الدم فيأكل ولا ينكره والمعتمد الأول لأنه دم مسفوح ولا ينافيه ما تقدم من السنة لأنه محمول على العفو عنه ومعلوم أن العفو لا ينافي النجاسة

[ I’aanah at-Thoolibiin I/83 ].

Wallahu a’lamu bisshowab..

N017. MEMPELAI WANITA DAN PRIA BERSANDING DI TEMPAT PERNIKAHAN SEBELUM DI AKAD

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Deskripsi masalah :
Dalam pelaksanaan akad nikah sudah banyak tejadi dimasyarakat meniru sebagaimana yg terjadi dalam tayangan sanitron di TV, yaitu calon istri, (mempelai putri) di ikut sertakan tampil dalam proses akad nikah (ijab&qabul) bergandengan dengan mempelai putra agar diketahui dan dilihat oleh orang banyak (para undangan) padahal mantin putri masih belum sah sebagai istri.

Pertanyaannya :
Bagaima hukumnya calon istri bergandengan dengan calon suami dalam pelaksanaan akad nikah? Mohon tanggapan dan jawabanya.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Calon isteri bergandengan dengan calon suami dalam pelaksanaan akad nikah, hukumnya adalah haram.

(ادب الاءسلام,صحيفۃ ٦۰)
ويستحب اظهاره واعلانه واشهاره بين الناس ليشهده الخاص والعام, لقوله صلی الله عليه وسلم” اعلنوا النكاح واجعلوا(لعله واجعلوه كما في روايۃ محمد بن يحيی عن عاءشۃ)في المساجد واضربوا عليه بالدفوف” ,وفي روايته”فافصل بين الحلال والحرام والاءعلان,”وينبغي ان نحذر من الاءسراف والتفاخر في المظاهر الذي يسبب كثيرا من الفتن والمضار الدينيۃ والدنيويۃ,وينبغي ان نجتنب العادۃ الفاسدۃالتي تجري بين الناس اليوم كدخول الزوج بين النساء ودخول اخوانه واهله معه واختلاط هوءلاء باءهل الزوجۃ واقاربهاواخذهم الصور الفتوغرافيۃ دون حياء من ﷲ ودن غيرۃ علی الحرمات-الی ان قال-وهو لعمري قبيح وبالحرمين اقبح,انتهی,

(رواءع البيان,جز ٢,صحيفۃ ١٦٧)
ينبغي علی الرجال ان يمنعوا النساء من كل ما يوءدي الی الفتنۃ والاءغراء كخروجهن بملابس ضيقۃ اوذات الوان جذابۃ, او رفع اصواتهن وتعطرهن اذا خرجن للاءسواق, وتبخترهن في المشيۃ وتكسرهن في الكلام.
(رواءع البيان,جز ٢,صحيفۃ ١٦٧)
وذهب ابن كثير رحمه الله الی ان المراءۃ منهيۃ عن كل شيء يلفت النظر اليها او يحرك شهوۃ الرجال نحوها,ومن ذلك انها تنهی عن التعطر والتطيب عند خروجها من بيتها فيشم الرجال طيبها,انتهی,

Mempelai putri ikut hadir di majlis aqad hukumnya haram bila timbul fitnah, bila tidak timbul fitnah maka tidak haram. Dan yang dimaksud dengan fitnah di atas adalah zina dan pendahuluannya seperti memandang, kholwah, bersentuhan, dan condongnya hati yang mengarah pada hal-hal yang dilarang, dan lain sebagainya.

البجيرمي على المنهج الجزء الثالث صحـ 324

وَلَيْسَ الصَّوْتُ مِنْهَا فَلَا يَحْرُمُ سَمَاعُهُ مَا لَمْ يَخَفْ مِنْهُ فِتْنَةً وَكَذَا لَوْ الْتَذَّ بِهِ عَلَى مَا بَحَثَهُ الزَّرْكَشِيُّ وَمِثْلُهَا فِي ذَلِكَ الْأَمْرَدُ ا هـ وَقَالَ ع ش قَوْلُهُ وَكَذَا لَوْ الْتَذَّ بِهِ أَيْ فَيَجُوزُ لِأَنَّ اللَّذَّةَ لَيْسَتْ بِاخْتِيَارٍ مِنْهُ اهـ وَفِي شَرْحِ الرَّوْضِ خِلَافُهُ وَعِبَارَتُهُ أَمَّا النَّظَرُ وَالْإِصْغَاءُ لِصَوْتِهَا عِنْدَ خَوْفِ الْفِتْنَةِ أَيْ الدَّاعِي إلَى جِمَاعٍ أَوْ خَلْوَةٍ أَوْ نَحْوِهِمَا فَحَرَامٌ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَوْرَةً بِالْإِجْمَاعِ ثُمَّ قَالَ قَالَ الزَّرْكَشِيُّ وَيَلْتَحِقُ بِالْإِصْغَاءِ لِصَوْتِهَا عِنْدَ خَوْفِ الْفِتْنَةِ التَّلَذُّذُ بِهِ وَإِنْ لَمْ يَخَفْهَا اهـ وَاعْتَمَدَهُ شَيْخُنَا الْعَزِيزِيُّ وَشَيْخُنَا ح ف وَالظَّاهِرُ أَنَّ كَلَامَ ع ش سَهْوٌ مِنْهُ أَنَّهُ فَهِمَ أَنَّ التَّشْبِيهَ فِي كَلَامِ م ر رَاجِعٌ لِلنَّفْيِ مَعَ أَنَّهُ رَاجِعٌ لِلْمَنْفِيِّ لِأَنَّ الزَّرْكَشِيَّ مُصَرِّحٌ بِالْحُرْمَةِ عِنْدَ التَّلَذُّذِ كَمَا يُؤْخَذُ مِنْ سِيَاقِ كَلَامِهِ فَكَيْفَ يَقُولُ ع ش أَيْ فَيَجُوزُ

حاشية الجمل الجزء الرابع صحـ 124

وَضَابِطُ الْخَلْوَةِ اجْتِمَاعٌ لَا تُؤْمَنُ مَعَهُ الرِّيبَةُ عَادَةً بِخِلَافِ مَا لَوْ قُطِعَ بِانْتِفَائِهَا عَادَةً فَلَا يُعَدُّ خَلْوَةً ا هـ . ع ش عَلَى م ر مِنْ كِتَابِ الْعِدَدِ

إعانة الطالبين الجزء الأول صحـ 313

وَمِنْهُ الْوُقُوْفُ لَيْلَةَ عَرَفَةَ أَوِ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَالْاِجْتِمَاعُ لَيَالِيَ الْخُتُوْمِ آخِرَ رَمَضَانَ وَنَصْبُ الْمَنَابِرِ وَالْخُطَبُ عَلَيْهَا فَيُكْرَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ اخْتِلَاطُ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ بِأَنْ تَتَضَامَّ أَجْسَامُهُمْفَإِنَّهُ حَرَامٌ وَفِسْقٌ

المجموع شرح المهذب الجزء الرابع صحـ 350

قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى (وَلَا تَجِبُ الْجُمُعَةُ عَلَى صَبِيٍّ وَلَا مَجْنُونٍ لِأَنَّهُ لَا تَجِبُ عَلَيْهِمَا سَائِرُ الصَّلَوَاتِ فَالْجُمُعَةُ أَوْلَى وَلَا تَجِبُ عَلَى الْمَرْأَةِ لِمَا رَوَى جَابِرٌ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ { مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَعَلَيْهِ الْجُمُعَةُ إلَّا عَلَى امْرَأَةٍ أَوْ مُسَافِرٍ أَوْ عَبْدٍ أَوْ مَرِيضٍ } وَلِأَنَّهَا تَخْتَلِطُ بِالرَّجُلِ وَذَلِكَ لَا يَجُوزُ )

( الشَّرْحُ ) –إِلَى أَنْ قَالَ- وَقَوْلُهُ وَلِأَنَّهَا تَخْتَلِطُ بِالرِّجَالِ وَذَلِكَ لَا يَجُوزُ لَيْسَ كَمَا قَالَ فَإِنَّهَا لَا يَلْزَمُ مِنْ حُضُورِهَا الْجُمُعَةَ الِاخْتِلَاطُ , بَلْ تَكُونُ وَرَاءَهُمْ . وَقَدْ نَقَلَ ابْنُ الْمُنْذِرِ وَغَيْرُهُ الْإِجْمَاعَ عَلَى أَنَّهَا لَوْ حَضَرَتْ وَصَلَّتْ الْجُمُعَةَ جَازَ , وَقَدْ ثَبَتَتْ الْأَحَادِيثُ الصَّحِيحَةُ الْمُسْتَفِيضَةُ أَنَّ النِّسَاءَ كُنَّ يُصَلِّينَ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي مَسْجِدِهِ خَلْفَ الرِّجَالِ وَلِأَنَّ اخْتِلَاطَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ إذَا لَمْ يَكُنْ خَلْوَةً لَيْسَ بِحَرَامٍ

إعانة الطالبين الجزء الثالث صحـ305

قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ وَلَيْسَ الْمَعْنَى بِخَوْفِ الْفِتْنَةِ غَلَبَةَ الظَّنِّ بِوُقُوْعِهَا بَلْ يَكْفِي أَنْ لَا يَكُوْنَ ذٰلِكَ نَادِرًا

إحياء علوم الدين الجزء الثاني صحـ 160

وَتَحْصِيْلُ مَظِنَّةِ الْمَعْصِيَةِ مَعْصِيَةٌ وَنَعْنِي بِالْمَظِنَّةِ مَا يَتَعَرَّضُ الْإِنْسَانُ لِوُقُوْعِ الْمَعْصِيَةِ غَالِباً بِحَيْثُ لَا يَقْدِرُ عَلَى الْاِنْكِفَافُ عَنْهَا

ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻱ ﺍﻟﻔﻘﻬﻴﺔ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻷﻭﻝ ﺻﺤـ 203 :

ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻟﻔﺘﻨﺔ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﻭﻣﻘﺪﻣﺎﺗﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﻭﺍﻟﺨﻠﻮﺓ ﻭﺍﻟﻠﻤﺲ ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ .

ﺗﻮﺷﻴﺢ ﻋﻠﻰ ﺍﺑﻦ ﻗﺎﺳﻢ ﺻﺤـ 197 :

ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻫﻲ ﻣﻴﻞ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻭﺩﻋﺎﺅﻫﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺠﻤﺎﻉ ﺃﻭ ﻣﻘﺪﻣﺎﺗﻪ ﻭﺍﻟﺸﻬﻮﺓ ﻫﻮ ﺃﻥ ﻳﻠﺘﺬ ﺑﺎﻟﻨﻈﺮ . ﺳﻨﻦ ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ – ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻨﻜﺎﺡ – ﺑﺎﺏ ﻣﺎ ﻳﺆﻣﺮ ﺑﻪ ﻣﻦ ﻏﺾ ﺍﻟﺒﺼﺮ :

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻘﺎﺭﻱ : ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻆ ﻣﻘﺪﻣﺎﺕ ﺍﻟﺰﻧﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻤﻨﻲ ﻭﺍﻟﺘﺨﻄﻲ ﻭﺍﻟﺘﻜﻠﻢ ﻷﺟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻨﻈﺮ ﻭﺍﻟﻠﻤﺲ ﻭﺍﻟﺘﺨﻠﻲ

Sepasang calon pengantin bersanding saat ijab kabul nikah, bolehkah?

Kerangka Analisis Masalah : Dalam formulasi fiqh munakahah, dapat dijumpai aturan pihak yang wajib hadir saat prosesi ijab-qabul akad nikah berlangsung. Yaitu pihak wali calon istri, pihak calon suami dan saksi. Namun seperti fenomena akad nikah yang lazim kita saksikan, prosesi ijab-qabul juga diwarnai dengan kehadiran banyak orang yang umumnya laki-laki untuk berpartisipasi menyaksikan berlangsungnya akad yang sakral ini. Di samping itu, tidak jarang mempelai wanita juga turut dihadirkan di majlis akad nikah di tengah-tengah hadirin dan duduk berdampingan dengan mempelai pria, bahkan ada juga yang ditutupi dengan satu kerudung berdua (ikhtilath).

Pertanyaan 1: Bagaimana hukum mempelai wanita turut hadir di majlis akad nikah seperti dalam deskripsi?

Jawaban : Haram, kecuali tidak menimbulkan fitnah
Referensi

§Bujairamiy alal Manhaj vol. III hal. 324

§Hasyiyyah Al Jamal juz 4 hal. 124

§I’anatuththolibin juz 1 hal. 313

§I’anatuththolibin juz 3 hal. 305

§Ihya’ Ulumiddin juz 2 hal. 160

§Al Majmu’ juz 4 hal. 434

Pertanyaan 2 : Jika tidak diperbolehkan, apakah kemungkaran di majlis seperti itu dapat menghilangkan sifat adil wali dan saksi nikah yang hadir?

Jawaban : Tidak sampai menggugurkan kecuali disertai hal-hal yang dapat menyebabkan dosa besar, seperti meremehkan adanya ikhtilath (persinggungan laki-laki dan perempuan) dan an-nadzrul muharrom (melihat hal-hal yang diharamkan) pada prosesi akad nikah atau perbuatan itu dilakukan oleh orang yang menjadi panutan.

Referensi :

§Ihya’ Ulumiddin juz IV hal. 32

§I’anah at-Thâlibîn juz IV hal. 323

§Al Hawi al Kabir juz 7 hal. 87

§Asnal Mathalib juz 4 hal. 343

§Az Zawajir juz 1 hal. 337

Wallahu a’lamu bisshowab..

N016. MEWAKILKAN AKAD IJAB QABUL NIKAH DAN SHIGHATNYA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum mewakilkan akad nikah? Dan bagaimana lafadz aqdunnikah kalo calon suaminya di wakilkan pada orang lain dan bagaimana jawabannya (dgn bahasa arab)?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

يازيد أنكحت وزوجت بنتي فاطمة عليا موكلك بمهر أدوات الصلاة حالا…
قبلت نكاحها وتزويجها لعليّ موكلي بمهر المذكور.

Hukumnya calon mempelai laki-laki (yaitu Ali) itu boleh mewakilkan qobul/penerimaan akad nikah (mewakilkan) kepada wakilnya (yang bernama Zaid)

(الفقه علی المذاهب الاءربعۃ,جز ٣,صحيفۃ ١٢٦)
ومنها: النكلح فاءن الوكيل لا بد ان يقول:قبلت الزواج موكلي,او زوجت فلانۃ موكلتي,فاءذا قال:قبلت الزواج ولم يصفه,او قال:قبلت الزواج لنفسي فاءنه ينعقد له لا لموكله.

Hukumnya mewakilkan akad nikah ( qobul) adalah berhukum boleh dan sah jika memenuhi persyaratan, sebgaimana syarat wakalah harus terpenuhi, jika tidak terpenuhi maka akad ini tidak sah, meskipun syarat dan rukun nikah telah terpenuhi, adapun syarat dan rukun wakalah adalah sebagai berikut :

1. Syarat-syarat muwakkil (yang mewakilkan)

a. Pemilik sah yang dapat bertindak terhadap sesuatu yang diwakilkan.

b. Orang mukallaf atau anak mumayyiz dalam batas-batas tertentu, yakni

dalam hal-hal yang bermanfaat baginya seperti mewakilkan untuk menerima hibah, menerima sedekah dan sebagainya.

2. Syarat-syarat wakil (yang mewakili)

a. Cakap hukum,

b. Dapat mengerjakan tugas yang diwakilkan kepadanya,

c. Wakil adalah orang yang diberi amanat.

3. Hal-hal yang diwakilkan

a. Diketahui dengan jelas oleh orang yang mewakili,

b. Tidak bertentangan dengan syari’ah Islam,

c. Dapat diwakilkan menurut syari’ah Islam.Manfaat barang atau jasa harus bisa dinilai dan dapat dilaksanakan dalam kontrak.

akad nikah ini sepertihalnya akad jual beli, akad sewa menyewa,akad perceraian ataupun yang lainnya, setiap akad yang boleh dilakukan oleh orangnya sendiri, berarti boleh pula mewakilkan akad ini, sebagaimana diperbolehkannya wali nikah mewakilkan ijab kepada wakilnya, sebagaimana hadits yang di riwayatkan oleh imam bukhori dan muslim:”

Adapun proses penerimaan qobul adalah tidak sama dengan cara penerimaan qobul seperti ketika seorang mempelai pria hadir dalam majilis tersebut, seperti contoh: habib adalah seorang mempelai pria yang tidak bisa hadir dalam majlis untuk mengucapakan qobul nikah, kemudian habib mewakilkan qobul nikah kepada temannya bernama afif, shighot yang diucapakan habib kepada wakilnya ( afif) adalah “ ” ( aku mewakilkan ini kepadamu), kemudian ketika wali mengucapakan ijab nikah kepada wakil ( afif ) wali mengucapakn “ ” ( aku menikahkan anakku untuk fulan bin fulan) kemudian wakil ( afif ) tersebut menjawab ( qobul nikah) dengan mengatkan “ ……………………………………………………… …… ” ( aku menerima nikahnya untuk si fulan), jika wakil ( afif) qobul dengan hanya mengucapkan aku menerima nikanhya saja atau tanpa mengucapakan lafadz “ ” maka nikah tersebut bukan untuk si muwakkal ( habib) akan tetapi untuk dirinya sendiri ( afif).

SIGHAT TAUKIL :

Apabila ‘akad nikah itu dilaksanakan oleh wali (tidak diwakilkan), maka shigotnya sebagai berikut:

ولي : أنكحتك وزوجتك (ليلى) موليتي بمهر ألف روبيه حالا

الزوج : قبلت نكاحها وتزويجها لنفسي بالمهر المذكور حالا

Terjemahnya:
Wali :
“Saya nikahkan dan saya kawinkan kamu dengan (Laila), perempuan yang menjadi kuasaku, dengan mahar seribu rupiah dibayar kontan.

Suami :
“Saya terima pernikahan dan perkawinan ini untuk saya, dengan mahar yang telah disebutkan secara kontan.

Apabila ‘akad nikah itu diwakilkan atau diserahkan pada orang lain, maka harus ada shighot taukil (ungkapan pasrah wakil) dari sang wali seperti dibawah ini :

وكلتك في تزويج (ليلى) بنتي عن (زيد) بمهر ألف روبية حالا

Terjemahnya:
“Aku wakilkan kepadamu untuk menikahkan (Laila), anak perempuanku dengan Zaid sebagai calon suami, dengan mahar seribu rupiah kontan.”

Kemudian wakil wali menerimanya dg mengucapkan:

قبلت توكيلك في تزويجها عن (زيد) بالمهر المذكور حالا

Terjemahnya :
“Saya terima perwakilanmu untuk menikahkan anak perempuanmu dengan (Zaid)sebagai calon suami, dengan mahar yang telah disebutkan.”
Setelah itu sang wakil dapat menikahkan calon pengantin seperti dalam dialog berikut ini:

وكيل ولي : أنكحتك وزوجتك (ليلى) بنت أحمد موكلي بمهر ألف روبية حالا.الزوج : قبلت نكاحها وتزويجها لنفسي بالمهر المذكور حالا.

Terjemahnya :
Wakil wali :
“Saya nikahkan dan saya kawinkan kamu dengan (Laila), anak perempuan Ahmad sebagai orang yang mewakilkan kepadaku, dengan mahar seribu rupiah kontan.”

Suami :
“Saya terima pernikahan dan perkawinan ini untuk saya, dengan mahar yang telah disebutkan.”

Apabila mempelai pria ( Zaid ) mewakilkan dalam qobulnya, maka bentuk ijabnya seperti berikut :

أنكحتك وزوجتك عن(زيد) ليلى بنت أحمد بمهر ألف روبية حالا.

Terjemahnya :
“Saya nikahkan dan saya kawinkan kamu sebagai orang yang mewakili (Zaid) dengan (Laila) anak perempuan (Ahmad), dengan mahar seribu rupiah kontan.”

Sedangkan untuk ijab yang tidak diwakilkan adalah :

أنكحتك وزوجتك عن زيد ليلى موليتي بمهر ألف روبية حالا

Terjemahnya :
“Saya nikahkan dan saya kawinkan kamu sebagai orang yang mewakili Zaid dengan Laila anak perempuan yang menjadi kuasaku, dengan mahar seribu rupiah kontan.”

Kemudian qobulnya :

قبلت نكاحها وتزويجها له / لزيد بالمهر المذكور حالا

Terjemahnya:
“Saya terima pernikahan dan perkawinan ini untuk (Zaid), dengan mahar yang telah disebutkan.”

SHIGHAT TAUKIL FERSI LAIN :

:صيغة نكاح اونتؤ ولي
انكحتُك وزوّجتُك بنتي ليلى بمهر مائة الف روبية

:صيغة توكيل ولي
يا…. وكّلتك فى تزويج/إنكاح بنتي ليلى خاطِبَها زيدا بمهر……

:صيغة نكاح اونتؤ وكيل الولي

انكحتُك وزوّجتُك مخطوبتَك ليلى بنت…. موكِّلي بمهر…

:صيغة قبول اونتؤ زوج
قبلتُ نكاحها وتزويجها لنفسي بالمهر المذكور ورضِيْتُ به

:صيغة توكيل قبول نكاح
يا…. وكّلتُك فى قبول نكاحي لمخطوبتي ليلي بنت….

:صيغة مانكاح وكيل القبول
انكحتُ وزوّجت زيدا موكِّلَك ليلى بنت….. بمهر….

 :صيغة قبول وكيل نكاح

قبلت نكاحها وتزويجها لزيد بمهر….

Bisa juga seperti contoh dibawah ini :

(زيد) انكحتك وزوّجتك ليلى بنت…. ١موكِّلي/ ٢بتوكيل وليِّها عليّ/إيّاي،
/٣الذي وكَّلَني ابوها/وليُّها،
/٤وكالةً علَيّ ،

١بمهر مائةِ الف/ ٢على أن تعطِيَها مائةَ الف روبية /٣ على ماتراضَيْتُما من المهر/

Setelah ijab qobul selesai dilakukan, dua orang saksi dapat menanyakan sah atau tidak pada ‘akad tersebut.

Wallahu a’lamu bisshowab..

H003. NYEMBELIH HEWAN DIULANG-ULANG

tumblr_inline_nud4adVcUn1tcs1oi_500

 

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bagaimana hukumnya menyembelih hewan diulang-ulang setelah putus kedua uratnya? seperti vidio ini :

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Ulama membagi 3 bagian mengenai kehidupan hewan dalam hal ini :

1. hayatun mustaqirrun.

2. hayatun mustamirrun.

3. harkatun madzbuh.

Jika BENAR-BENAR hewan tersebut telah sukses dalam penyembelihannya yaitu terpotongnya haulqum dan mari’, maka sisa hidupnya setelah ini digolongkan ‘aisyul madzbuh…. telah sy katakan diatas supaya cepat mati disembelih lagi, dipukul, langsung masukkan ke kwali atau cara yg lainnya.

Kalau kejadian seperti ini tidak dianggap ANEH, maka jawaban saya juga jangan dianggap ANEH.

Memenggal kepalanya, mungkin ini adalah salah satu solusi agar cepat mati, asalkan sudah disembelih secara sempurna dg sembelihan yg mu’tabarah..

ibarot (AL-MAJMU’) :

فرع: في مذاهبهم إذا قطع رأس الذبيحة. مذهبنا أنها إذا ذكيت الذكاة المعتبرة وقطع رأسها في تمام الذبح حلت،

Apakah pernyataan ini bermakna Hewan yang masih hayat mustaqirroh, padahal sdh disembelih sesuai syara’, tidak boleh / halal bila di biarkan mati sendiri.?

Ta’rif Hayat mustaqirrah tidak identik kalau disematkan kepada hewan yg telah disembelih lebih-lebih setelah terpotong hulqum dan mari’nya. Andaikan hayat mustaqirrah tersebut boleh disematkan pada hewan yang sudah disembelih… tentunya tidak ada larangan disembelih dua kali atau lebih dengan cara mengangkat pisau atau cara bergantian, karena status hewan pada saat itu adalah harkatul madzbuh / ‘aisyul madzbuh.

وإلا لـم يحلّ ــــ كما لو قُطِعَ بعد رفعِ السّكين ولو لِعُذرٍ، ما بقـيَ بعد انتهائها إلـى حَركَةِ مذبوحٍ. قال شيخنا فـي شرح الـمنهاجِ: وفـي كلام بعضهم أنه لو رفع يَدَهُ لِنـحو اضطرابِهِ فأعادَها فَوراً وأتـمّ الذبح، حلّ، وقول بعضهم: لو رفع يده ثم أعادها لـم يحلّ، مفرّع علـى عدم الـحياة الـمستقرّة، عند إعادَتِها، أو مـحمولٌ علـى ما إذا لـم يُعِدْها علـى الفَوْر.

(FATHUL MU’IN)

Sebenarnya.. asalkan sudah terpotong hulqum dan mari maka hewan tsb HALAL. itu intinya. Kenapa ? karena hulqum itu jalan nafas dan mari’ itu jalan makanan… tanpa keduanya maka nyawa hewan takkan bertahan lebih lama. Hanya disunnahkan terpotong juga dua urat leher aliran darahnya (wijdain).

Selebihnya dari itu… asalkan anggota wajib dan sunnah sudah terpotong maka hukumnya MAKRUH tapi tidak sampai haram. Semisal setelah itu tapi sebelum mati… masih dipotong kepalanya atau masih mengorek sumsumnya dsb. Dimakruhkan karena tidak berprikehewanan, ibarot :

والمستحب أن يقطع الحلقوم والمرىء والودجين، لأنه أوحي وأروح للذبيحة فإن اقتصر على قطع الحلقوم والمرىء أجزأه، لأن الحلقوم مجرى النفس، والمرىء مجرى الطعام، والروح لا تبقى مع قطعهما، والمستحب أن ينحر الإبل ويذبح البقر والشاة، فإن خالف ونحر البقر والشاة وذبح الإبل أجزأه، لأن الجميع موت من غير تعذيب، ويكره أن يبين الرأس وأن يبالغ في الذبح إلى أن يبلغ النخاع، وهو عرق يمتد من الدماغ، ويستبطن الفقار إلى عجب الذنب لما روى عن عمر رضي الله عنه أنه «نهى عن النخع» ولأن فيه زيادة تعذيب فإن فعل ذلك لم يحرم لأن ذلك يوجد بعد حصول الذكاة

fokus (AL-MAJMU’) :

فإن فعل ذلك لم يحرم لأن ذلك يوجد بعد حصول الذكاة

كره ذلك أهل العلم منهم عطاء وعمرو بن دينار ومالك والشافعي ولا نعلم لهم مخالفاً، وقد قال عمر رضي الله عنه: لا تعجلوا الأنفس حتى تزهق فإن قطع عضو قبل زهوق النفس وبعد الذبح فالظاهر إباحته فإن أحمد سئل عن رجل ذبح دجاجة فأبان رأسها قال يأكلها: قيل والذي بان منها أيضاً؟ قال: نعم. قال البخاري قال ابن عمر وابن عباس: إذا قطع الرأس فلا بأس به. وبه قال عطاء والحسن والنخعي والشعبي والزهري والشافعي وإسحاق وأبو ثور وأصحاب الرأي وذلك لأن قطع ذلك العضو بعد حصول الذكاة فأشبه ما لو قطعه بعد الموت.

(AL-MUGHNI IBNU QUDAMAH)

fokus :

وذلك لأن قطع ذلك العضو بعد حصول الذكاة فأشبه ما لو قطعه بعد الموت.

Kalau salah satu syarat tidak terpenuhi misalkan urat jalannya ruh bagaimana ust..!! dan juga yg dimaksud dgn hayaatul mustaqirrah, mustamirrah dan hayaatul madzbuh itu bagaimana ust? Mohon penjelasan…terimskasih..

Ya haram kalau uda ga penuhi syarat.. kecuali mau ambil pendapat yang membolehkan Hayatun mustaqirroh

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﺣﺎﻣﺪ ﻭﺍﺑﻦ ﺍﻟﺼﺒﺎﻍ ﻭﺍﻟﻌﻤﺮﺍﻧﻲ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﺮﺓ ﻣﺎ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﺒﻘﻰ ﻣﻌﻪ ﺍﻟﺤﻴﻮﺍﻥ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻭﺍﻟﻴﻮﻣﻴﻦ ﻓﺈﻥ ﺫﻛﻴﺖ ﺣﻠﺖ

ﺍﻟﻔﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﻟﻤﺴﺘﻤﺮﺓ ﻭﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﺮﺓ ﻭﺣﻴﺎﺓ ﻋﻴﺶ ﺍﻟﻤﺬﺑﻮﺡ

ﺍﻟﻤﺆﻟﻒ : ﺩ. ﺧﺎﻟﺪ ﺑﻦ ﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﻫﺬﺍﻝ ﺍﻟﺠﺒﻠﻲ

ﺍﻟﻔﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﻟﻤﺴﺘﻤﺮﺓ ﻭﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﺮﺓ ﻭﺣﻴﺎﺓ ﻋﻴﺶ ﺍﻟﻤﺬﺑﻮﺡ ﻟﻺﻣﺎﻡ ﺷﻬﺎﺏ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﻌﻤﺎﺩ ﺍﻷﻗﻔﻬﺴﻲ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ )ﺕ(808/ ﺗﺤﻘﻴﻖ ﺩ. ﺧﺎﻟﺪ ﺑﻦ ﺯﻳﺪ ﺑﻦ ﻫﺬﺍﻝ ﺍﻟﺠﺒﻠﻲ

ﻣﻠﺨﺺ ﺍﻟﺒﺤﺚ: ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺮﺳﺎﻟﺔ ﻣﻦ ﺗﺼﻨﻴﻒ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺍﻟﻌﻤﺎﺩ ﺍﻷﻗﻔﻬﺴﻲ )ﺕ / 808 ﻫــ،( ﺃﺣﺪ ﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﻓﻲ ﻋﺼﺮﻩ.

ﻭﻣﻮﺿﻮﻋﻬﺎ: ﻫﻮ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﻟﻤﺴﺘﻤﺮﺓ ﻭﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﺮﺓ ﻭﺣﻴﺎﺓ ﻋﻴﺶ ﺍﻟﻤﺬﺑﻮﺡ.

ﻓﺎﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﻟﻤﺴﺘﻤﺮﺓ: ﻫﻲ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﻦ ﺑﺪﺍﻳﺔ ﺧﻠﻘﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻧﻘﻀﺎﺀ ﺃﺟﻠﻪ.

ﻭﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﺮﺓ: ﻫﻲ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﺍﻟﺮﻭﺡ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺴﺪ، ﻭﺗﻜﻮﻥ ﻣﻌﻬﺎ ﺍﻟﺤﺮﻛﺔ ﺍﻻﺧﺘﻴﺎﺭﻳﺔ ﻭﺍﻟﻮﻋﻲ، ﻣﻊ ﺍﻹﺻﺎﺑﺔ ﺍﻟﻔﺎﺩﺣﺔ.

ﻭﺣﻴﺎﺓ ﻋﻴﺶ ﺍﻟﻤﺬﺑﻮﺡ: ﻭﻫﻲ ﺍﻟﺘﻲ ﻻ ﻳﺒﻘﻰ ﻣﻌﻬﺎ ﺇﺑﺼﺎﺭ ﻭﻻ ﻧﻄﻖ ﻭﻻ ﺣﺮﻛﺔ ﺍﺧﺘﻴﺎﺭﻳﺔ ﻭﻻ ﻭﻋﻲ.

ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﻔﻘﻬﻴﺔ ﺍﻟﻜﻮﻳﺘﻴﺔ :

ﻭﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺠﻨﺎﻳﺔ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺇﻣّﺎ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻣﺴﺘﻤﺮّﺓً، ﺃﻭ ﻣﺴﺘﻘﺮّﺓً، ﺃﻭ ﺣﻴﺎﺓ ﻋﻴﺶ ﺍﻟﻤﺬﺑﻮﺡ.

ﻭﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﻟﻤﺴﺘﻤﺮّﺓ: ﻫﻲ ﺍﻟّﺘﻲ ﺗﺒﻘﻰ ﺇﻟﻰ ﺍﻧﻘﻀﺎﺀ ﺍﻷﺟﻞ ﺑﻤﻮﺕ ﺃﻭ ﻗﺘﻞ.

ﻭﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﺮّﺓ: ﺗﻜﻮﻥ ﺑﻮﺟﻮﺩ ﺍﻟﺮّﻭﺡ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺴﺪ ﻭﻣﻌﻬﺎ ﺍﻟﺤﺮﻛﺔ ﺍﻻﺧﺘﻴﺎﺭﻳّﺔ ﻭﺍﻹﺩﺭﺍﻙ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﺤﺮﻛﺔ ﺍﻻﺿﻄﺮﺍﺭﻳّﺔ. ﻛﻢ ﻟﻮ ﻃﻌﻦ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﻭﻗﻄﻊ ﺑﻤﻮﺗﻪ ﺑﻌﺪ ﺳﺎﻋﺔ ﺃﻭ ﻳﻮﻡ ﺃﻭ ﺃﻳّﺎﻡ ﻭﺣﺮﻛﺘﻪ ﺍﻻﺧﺘﻴﺎﺭﻳّﺔ ﻣﻮﺟﻮﺩﺓ.

ﻭﺣﻴﺎﺓ ﻋﻴﺶ ﺍﻟﻤﺬﺑﻮﺡ: ﻫﻲ ﺍﻟّﺘﻲ ﻻ ﻳﺒﻘﻰ ﻣﻌﻬﺎ ﺇﺑﺼﺎﺭ ﻭﻻ ﻧﻄﻖ ﻭﻻ ﺣﺮﻛﺔ ﺍﺧﺘﻴﺎﺭ.

Wallahu a’lamu bisshowab..