Arsip Kategori: 001. BAB WAKTU SHALAT

HADITS KE 142 : KEKHUSUSAN SHALAT SUNNAH UNTUK RASULULLAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB WAKTU SHALAT

HADITS KE 142 :

وَعَنْ أَمْ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم اَلْعَصْرَ ثُمَّ دَخَلَ بَيْتِي فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ: “شُغِلْتُ عَنْ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اَلظُّهْرِ فَصَلَّيْتُهُمَا اَلْآنَ” قُلْتُ: أَفَنَقْضِيهِمَا إِذَا فَاتَتْنَا? قَالَ: “لَا” ) أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ

وَلِأَبِي دَاوُدَ عَنْ عَائِشَةَ بِمَعْنَاهُ

Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam shalat Ashar lalu masuk rumahku kemudian beliau shalat dua rakaat. Maka aku menanyakannya dan beliau menjawab: “Aku sibuk sehingga tidak sempat melakukan dua rakaat setelah Dhuhur maka aku melakukan sekarang.” Aku bertanya: Apakah kami harus melakukan qodlo’ jika tidak melakukannya? Beliau bersabda: “Tidak.” Dikeluarkan oleh Ahmad.

Seperti hadits itu juga terdapat dalam riwayat Abu Dawud dari ‘Aisyah r.a.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) mempunyai keistimewaan hukum tersendiri yang diberikan oleh Allah kepadanya untuk memuliakannya ke atas umat sekaligus memberitahu keutamaannya yang amat besar. Diantara keistimewaan itu adalah kewajipan mengerjakan solatul lail dan jika baginda mengerjakan suatu amalan sunat pada suatu waktu, baginda wajib menyempurnakannya dan tidak boleh meninggalkannya pada masa-masa selanjutnya.

FIQH HADITS :

1. Dilarang mengqadha’ sholat sunat sesudah Asar. Ia diperbolehkan sebagai keistimewaan khusus Rasulullah (s.a.w).

2. Makruh melakukan puasa wishal. Namun, Rasulullah (s.a.w) diperbolehkan melakukannya sebagai suatu kekhususan baginya.

3. Jika seseorang melihat orang yang lebih tua atau lebih muda darinya melakukan satu pelanggaran, maka hendaklah dia bertanya kepadanya.

4. Orang yang ditanya, betapapun tinggi kedudukannya, mesti menjawab persoalan orang yang bertanya untuk menenangkan hatinya sekaligus menghilangkan
segala bentuk keraguan yang ada dalam hatinya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 141 : KEMAKRUHAN MENGERJAKAN SHOLAT SUNNAH SESUDAH FAJAR TERBIT, SELAIN SHOLAT SUNNAH FAJAR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB WAKTU SHALAT

HADITS KE 141 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( لَا صَلَاةَ بَعْدَ اَلْفَجْرِ إِلَّا سَجْدَتَيْنِ ) أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيُّ. وَفِي رِوَايَةِ عَبْدِ اَلرَّزَّاقِ: ( لَا صَلَاةَ بَعْدَ طُلُوعِ اَلْفَجْرِ إِلَّا رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ )

وَمِثْلُهُ لِلدَّارَقُطْنِيّ عَنْ اِبْنِ عَمْرِوِ بْنِ اَلْعَاصِ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasululah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada shalat setelah fajar kecuali dua rakaat (Shubuh).” Dikeluarkan oleh Imam Lima kecuali Nasa’i.

Dalam suatu riwayat Abdur Razaq: “Tidak ada shalat setelah terbitnya fajar kecuali dua rakaat fajar.”

Dan hadits serupa menurut Daruquthni dari Amr Ibnul ‘Ash r.a.

MAKNA HADITS :

Dimakruhkan mengerjakan sholat sunat sesudah fajar terbit, selain sunat fajar, supaya hal itu tidak mengakibatkan permulaan waktu terlepas dan orang awam
tidak meyakini akan kewajiban mengerjakan sholat lain pada saat itu. Sekumpulan ulama malah mengharamkan sholat sunat sesudah fajar terbit kecuali sunat fajar kerana berpegang dengan makna zahir (لا) “nafi” yang bermaksud larangan. Namun ketika berada di tanah suci Mekah, Imam al-Syafi’i membolehkan sholat sunat di dalamnya secara mutlak tanpa adanya larangan.

FIQH HADITS :

Haram mengerjakan sholat sunat sesudah fajar terbit sebelum mengerjakan sholat Subuh, kecuali sholat sunat fajar.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 140 : PEMBAGIAN WAKTU UTAMA DALAM PELAKSANAKAN SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB WAKTU SHALAT

HADITS KE 140 :

وَعَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( أَوَّلُ اَلْوَقْتِ رِضْوَانُ اَللَّهُ وَأَوْسَطُهُ رَحْمَةُ اَللَّهِ; وَآخِرُهُ عَفْوُ اَللَّهِ ) أَخْرَجَهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ جِدًّا

وَلِلتِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ نَحْوُهُ دُونَ اَلْأَوْسَطِ وَهُوَ ضَعِيفٌ أَيْضًا

Dari Abu Mahdzurah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Permulaan waktu adalah ridlo Allah pertengahannya adalah rahmat Allah dan akhir waktunya ampunan Allah.” Dikeluarkan oleh Daruquthni dengan sanad yang lemah.

Menurut Riwayat Tirmidzi dari hadits Ibnu Umar ada hadits serupa tanpa menyebutkan waktu pertengahan. Ia juga hadits lemah.

MAKNA HADITS :

Ketetapan Rasulullah (s.a.w) tentang waktu tertentu untuk ibadah menunjukkan betapa baginda amat mengambil berat soal ibadah malah baginda mementingkannya di atas segala-galanya. Oleh itu, seorang mukallaf yang bersegera mengerjakan ibadah pada permulaan waktunya berhak untuk mendapat redha Allah dan redha Allah merupakan anugerah yang paling tinggi, sebagaimana yang ditegaskan di dalam firman-Nya:

.…ورضوان من الله اكبر. ذلك هو الفوز العظيم (التوبة ٧٢)

“… Dan keredhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (Surah al-Taubah: 72)

Jika seseorang mengerjakannya pada pertengahan waktu, maka dia berhak untuk mendapat rahmat Allah dan orang yang mengerjakannya pada akhir waktu hingga menjelang lewat waktunya berhak mendapat ampunan Allah dan ampunan ini pasti berkaitan dengan dosa.

FIQH HADITS :

Membuktikan adanya al-mufadhalah (perbedaan keutamaan) dalam bagian-bahagian waktu sholat. Permulaan waktu merupakan yang paling utama karena seseorang yang mengerjakannya berhak memperoleh ridha Allah, dan waktu pertengahan pula ialah mengandungi rahmat Allah, sedangkan waktu paling akhir
pula mengandungi ampunan Allah; ampunan ini tidak lain disebabkan adanya dosa.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 139 : KEUTAMAAN SHALAT DI AWAL WAKTU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB WAKTU SHALAT

HADITS KE 139 :

وَعَنْ اِبْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَفْضَلُ اَلْأَعْمَالِ اَلصَّلَاةُ فِي أَوَّلِ وَقْتِهَا ) رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ. وَصَحَّحَاهُ. وَأَصْلُهُ فِي “اَلصَّحِيحَيْنِ

Dari Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perbuatan yang paling mulia ialah shalat pada awal waktunya.” Hadits riwayat dan shahih menurut Tirmidzi dan Hakim. Asalnya Bukhari-Muslim.

MAKNA HADITS :

Ibn Mas’ud (r.a) pernah bertanya kepada Rasulullah (s.a.w) mengenai amal perbuatan yang paling disukai oleh Allah dengan tujuan beliau ingin segera mengerjakannya dengan harapan kelak memperoleh bagian kurnia Allah dan keridhaan-Nya. Maka Rasulullah (s.a.w) bersabda kepadanya: “Amal perbuatan yang paling disukai oleh Allah ialah mengerjakan sholat tepat pada waktunya.”

Ibn Mas’ud ingin mengetahui amalan selanjutnya yang juga termasuk amal yang diutamakan, kerana beliau ingin mengerjakannya. Beliau bertanya,
“Kemudian apa lagi?” Rasulullah (s.a.w) menjawab: “Berbakti kepada kedua ibu bapak dan berbuat baik kepada keduanya.”

Ibn Mas’ud (r.a) mengemukakan soalan ketiga, lalu Rasulullah (s.a.w) menjawabnya: “Berjihad di jalan Allah.” Keinginan Ibn Mas’ud untuk menambahkan amal kebaikan telah mendorongnya untuk mengemukakan persoalan berikutnya, tetapi beliau kawaatir Rasulullah (s.a.w) bosan dan jemu dengan peetanyaan yang bakal diajukannya, lalu beliau berdiam diri dan tidak mengajukan persoalan lain setelah itu. Seandainya Ibn Mas’ud terus bertanya, nescaya Rasulullah (s.a.w) pasti menjawabnya, kerana baginda adalah seorang yang bersifat santun, ihsan, memiliki hikmah dan diberi kemampuan menjawab berbagai persoalan.

FIQH HADITS :

1. Amal kebajikan mempunyai keutamaan masing-masing ke atas amal kebajikan lain di sisi Allah.

2. Anjuran untuk memelihara solat lima waktu dengan mengerjakannya pada awal waktunya.

3. Menghormati kedua ibu bapak sekaligus menjelaskan keutamaan berbakti kepada kedua ibu bapak.

4. Keutamaan berjihad di jalan Allah.

5. Perhatian para sahabat untuk senantiasa taat dan memperoleh ridha Allah (s.w.t). Mereka berlomba-lomba untuk meraih ganjaran pahala Allah. Oleh karena itu, mereka menanyakan amal perbuatan yang paling utama.

6. Disyariatkan bertanya kepada orang alim tentang berbagai macam masalah dalam waktu yang bersamaan karena ingin memperoleh faidah, dandibolehkan mengulang-ulang persoalan.

7. Berbelas kasihan kepada orang alim dengan tidak mengemukakan persoalan yang banyak dan berjela-jela kepadanya kerana dikawatiri dia bosan untuk menjawabnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 138 : PERBEDAAN FAJAR SHODIQ DAN FAJAR KADZIB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB WAKTU SHALAT

HADITS KE 138 :

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلْفَجْرُ فَجْرَانِ: فَجْرٌ يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ وَتَحِلُّ فِيهِ اَلصَّلَاةُ وَفَجْرٌ تَحْرُمُ فِيهِ اَلصَّلَاةُ – أَيْ: صَلَاةُ اَلصُّبْحِ – وَيَحِلَّ فِيهِ اَلطَّعَامُ ) رَوَاهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَاهُ

وَلِلْحَاكِمِ فِي حَدِيثِ جَابِرٍ رضي الله عنه نَحْوُهُ وَزَادَ فِي اَلَّذِي يُحَرِّمُ اَلطَّعَامَ: ( إِنَّهُ يَذْهَبُ مُسْتَطِيلاً فِي اَلْأُفُقِ ) وَفِي اَلْآخَرِ: (إِنَّهُ كَذَنَبِ اَلسِّرْحَان )

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Fajar itu ada dua macam yaitu fajar yang diharamkan memakan makanan dan diperbolehkan melakukan shalat dan fajar yang diharamkan melakukan shalat yakni shalat Shubuh dan diperbolehkan makan makanan.” Riwayat Ibnu Khuzaimah dan Hakim hadits shahih menurut keduanya.

Menurut riwayat Hakim dari hadits Jabir ada hadits serupa dengan tambahan tentang fajar yang mengharamkan memakan makanan: “Fajar yang memanjang di ufuk.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Dia seperti ekor serigala.”

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) telah membuat istilah khusus dengan menggunakan beberapa lafaz untuk menunjukkan pengertian-pengertian yang berkaitan dengan hukum syariat secara khusus sesuai dengan istilah yang digunakannya itu sehingga dengannya dapat diambil beberapa kesimpulan hukum di samping mengingatkan umat Islam supaya mengambil berat terhadapnya. Antaranya adalah lafaz al-fajr. Makna fajar menurut bahasa ialah munculnya cahaya yang memanjang seperti ekor serigala di tengah langit. Fajar seperti ini tidak mengharamkan makan bagi orang yang hendak berpuasa dan waktu sholat Subuh masih belum tiba, dan dikenali dengan istilah fajar kadzib. Inilah istilah yang pertama. Istilah yang kedua ialah fajar shadiq, yaitu fajar yang sinarnya menyebar yang apabila ia muncul, maka haram makan bagi orang yang hendak berpuasa dan halal mengerjakan sholat, yakni waktu sholat Subuh sudah tiba.

FIQH HADITS :

Fajar menurut bahasa ialah suatu lafaz yang memiliki dua pengertian waktu. Tanda fajar pertama adalah munculnya seberkas cahaya yang bentuknya seperti ekor serigala dan melintang tinggi di atas langit persis seperti tiang. Ketika itu makan (sahur) masih (bagi seseorang yang hendak berpuasa) dibolehkan dan waktu sholat Subuh masih belum tiba.

Tanda fajar kedua ialah munculnya sinar yang memanjang di ufuk. Itu
merupakan tanda haram makan bagi orang yang hendak berpuasa dan waktu Subuh sudah pun tiba.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 137 : WAKTU SHALAT MAGHRIB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB WAKTU SHALAT

HADITS KE 137 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( اَلشَّفَقُ اَلْحُمْرَةُ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَغَيْرُهُ وَقْفَهُ على ابن عمر

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Syafaq ialah awan merah.” Riwayat Daruquthni. Shahih menurut Ibnu Khuzaimah selain menyatakannya mauquf pada Ibnu Umar.

MAKNA HADITS :

Malaikat Jibril turun, lalu mengajarkan kepada Nabi (s.a.w) waktu-waktu sholat melalui praktik secara langsung bagi memastikan pengaruhnya lebih berkesan.
Nabi (s.a.w) mengerjakan sholat bersamanya pada hari pertama sebaik waktu tiba, sedangkan pada hari kedua pada akhir waktu, lalu Jibril (a.s) mengatakan kepadanya bahwa di antara kedua-duanya itu adalah waktu sholat yang di dalamnya ia mesti dikerjakan.
Malaikat Jibril mengerjakan sholat Maghrib selama dua hari itu pada waktu yang sama. Oleh itu, Imam al-Syafi’i dalam qaul jadid-nya mengatakan bahwa waktu sholat Maghrib itu tidak lama, sedangkan ulama yang lain pula mengatakan
bahwa waktu sholat Maghrib panjang hingga tenggelamnya mega merah. Pendapat yang kedua inilah yang lebih kuat untuk memberikan kemudahan kepada hamba-hamba Allah di samping ia selaras dengan makna dzahir hadits ini.

FIQH HADITS :

Permulaan waktu sholat Maghrib adalah tenggelamnya matahari, sedangkan akhir waktunya berpanjangan hingga tenggelamnya mega/awan merah di ufuk barat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 136 : BOLEHNYA TOWAF DAN SHOLAT DI MASJIDIL HAROM KAPAN SAJA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB WAKTU SHALAT

HADITS KE 136 :

وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا اَلْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ]أَ] وْنَهَارٍ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ

Dari Jubair Ibnu Muth’im bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai Bani Abdu Manaf janganlah engkau melarang seseorang melakukan thawaf di Baitullah ini dan melakukan shalat pada waktu kapan saja baik malam maupun siang.” Riwayat Imam Lima dan shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Tanah suci Makkah adalah tempat turunnya rahmat dan merupakan tempat paling suci untuk beribadah kepada Allah (s.w.t). Didalamnya Allah telah menjadikan Baitul Haram (Ka’bah) sebagai tempat manusia berhimpun dan tempat yang aman.

Allah telah mensyari’atkan ibadah tawaf di dalamnya dan menjadikannya sebagai kiblat sholat serta pusat kegiatan amal ibadah. Maka di tempat itu tidak pernah kosong sedetikpun, baik pada waktu malam ataupun pada waktu siang hari, melainkan di dalamnya terdapat hamba-hamba Allah yang sedang memohon perlindungan kepada Allah dan bertawaf di sekelilingnya serta mengerjakan sholat di sisinya. Oleh sebab itu, Islam membolehkan tawaf dan sholat di dalamnya pada kapan saja. Kemudian Rasulullah (s.a.w) menyuruh Bani Abd Manaf dan Bani al-Mutthallib memandangkan mereka yang bertanggung jawab memelihara Ka’bah. Baginda menyeru mereka untuk tidak melarang siapapun yang hendak melakukan tawaf di Baitullah atau mengerjakan sholat di sisinya.

FIQH HADITS :

Tidak dimakruhkan mengerjakan tawaf dan sholat di Baitullah pada waktu apa saja, baik malam ataupun siang hari. Ini tidak hanya khusus untuk mengerjakan dua rakaat tawaf, melainkan mencakupi seluruh sholat sunat menurut pendapat Imam al-Syafi’i. Namun Jumhur ulama membantah pendapatnya ini dengan mengemukakan hadits-hadits yang melarang mengerjakan sholat sunat pada waktu yang terlarang sebagaimana yang telah dijelaskan sebelum ini, karena mereka lebih mengutamakan hadits-hadits yang melarangnya. Sedangkan mazhab
Hanbali pula membolehkan sholat dua rakaat tawaf secara mutlak, kerana berlandaskan kepada makna zahir hadits ini, tetapi mereka melarang mengerjakan sholat sunat pada waktu-waktu yang terlarang selain sholat sunat tersebut.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 135 : LARANGAN SHALAT DAN MENGUBURKAN JANAZAH PADA WAKTU-WAKTU TERTENTU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB WAKTU SHALAT*_

HADITS KE 135 :

وَلَهُ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ: ( ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّي فِيهِنَّ وَأَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا: حِينَ تَطْلُعُ اَلشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ اَلظَّهِيرَةِ حَتَّى تَزُولَ اَلشَّمْسُ وَحِينَ تَتَضَيَّفُ اَلشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ)

وَالْحُكْمُ اَلثَّانِي عِنْدَ “اَلشَّافِعِيِّ” مِنْ: حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ. وَزَادَ: ( إِلَّا يَوْمَ اَلْجُمْعَةِ )

وَكَذَا لِأَبِي دَاوُدَ: عَنْ أَبِي قَتَادَةَ نَحْوُهُ

Dalam riwayat Muslim dari Uqbah Ibnu Amir: Tiga waktu dimana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang kami melakukan shalat dan menguburkan mayit yaitu: ketika matahari terbit hingga meninggi ketika tengah hari hingga matahari condong ke barat dan ketika matahari hampir terbenam.

Dan hukum kedua menurut Imam Syafi’i dari hadits Abu Hurairah dengan sanad yang lemah ada tambahan: Kecuali hari Jum’at.

Begitu juga menurut riwayat Abu Dawud dari Abu Qotadah terdapat hadits yang serupa.

MAKNA HADITS :

Syariat Islam melarang kita menyerupai orang kafir dalam ibadah mereka dan memelihara waktu-waktu mereka ketika beribadah. Oleh itu, Islam melarang kita mengerjakan sholat sunat ketika matahari sedang terbit dan juga ketika matahari
menjelang tenggelam. Ini kerana matahari terbit dan tenggelam diantara kedua-dua tanduk syaitan. Dengan arti kata lain, pada saat itu orang kafir menyembah matahari dan syaitanpun ada di situ.

Syariat Islam melarang kita melakukan sholat dan bertadharru’ serta berdo’a ketika Allah murka. Untuk itu, syariat Islam melarang melakukan sholat sunat ketika matahari berada di tengah-tengah langit. Syariat Islam menjelaskan kepada kita tentang penyebabnya bahwa itu merupakan waktu neraka Jahanam dinyalakan. Oleh kerana waktu zawal hari Jum’at merupakan hari perayaan Islam, maka neraka Jahanam tidak dinyalakan pada hari itu. Oleh yang demikian, syariat Islam membolehkan kita untuk mengerjakan sholat sunat pada waktu itu. Disamakan dengan hukum mengerjakan sholat sunat adalah mengebumikan jenazah pada waktu-waktu tersebut. Untuk itu, dianjurkan mengebumikan jenazah pada saat turunnya rahmat Allah dan dianjurkan pula mendoakan jenazahpun pada waktu-waktu yang mengandung rahmat dan keredhaan-Nya. Oleh kerana sholat fardu merupakan ibadah yang mempunyai waktu tertentu dan perhatian syari’at sangat besar terhadapnya, maka ia menganjurkan supaya sholat fardu dikerjakan dalam waktu kapan saja.

FIQH HADITS :

1. Dilarang melakukan sholat sunat ketika matahari sedang terbit dan juga ketika matahari berada di tengah langit, serta ketika matahari sedang tenggelam.

2. Dilarang mengkebumikan jenazah ketika matahari sedang terbit, ketika matahari sedang berada di tengah-tengah langit, dan ketika matahari sedang tenggelam. Larangan ini sekaligus mengandung anjuran untuk memelihara waktu yang diberkati untuk mengerjakan sholat dan menguburkan jenazah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 134 : PENJELASAN QODHO’ DAN ADA’ DALAM SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB WAKTU SHALAT*_

HADITS KE 134 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( مَنْ أَدْرَكَ مِنْ اَلصُّبْحِ رَكْعَةً قَبْلِ أَنْ تَطْلُعَ اَلشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ اَلصُّبْحَ وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ اَلْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرُبَ اَلشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ اَلْعَصْرَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَلِمُسْلِمٍ عَنْ عَائِشَةَ نَحْوَهُ وَقَالَ: “سَجْدَةً” بَدَلَ “رَكْعَةً”. ثُمَّ قَالَ: وَالسَّجْدَةُ إِنَّمَا هِيَ اَلرَّكْعَةُ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang telah mengerjakan satu rakaat shalat Shubuh sebelum matahari terbit maka ia telah mendapatkan shalat Shubuh dan barangsiapa yang telah mengerjakan satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam maka ia telah mendapatkan shalat Ashar.” Muttafaq Alaihi.

Menurut riwayat Muslim dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu ada hadits serupa beliau bersabda: “Sekali sujud sebagai pengganti daripada satu rakaat.” Kemudian beliau bersabda: “Sekali sujud itu adalah satu rakaat.”

MAKNA HADITS :

Anugerah Allah kepada hamba-hamba-Nya amatlah besar dan pemberian-Nya mencakupi seluruh makhluk ciptaan-Nya. Allah (s.w.t) memberikan satu anugerah
kepada orang yang mengerjakan sholat bahwa barang siapa yang sempat mendapat satu rakaat sholat yang masih dalam waktunya, kemudian dia melanjutkan sholat itu di luar waktunya, maka sholat tersebut masih dikatagorikan sebagai ada’an (dilaksanakan di dalam waktunya) dan sisa rakaat lain yang dia kerjakan di luar waktunya tetap dimasukkan ke dalam satu rakaat yang dia sempat mendapatnya di dalam waktunya. Ini merupakan anugerah-Nya. Allah menjadikan bagian yang seseorang itu jumpai di dalam waktunya sebagai bagian yang hakiki kerana bagian tersebut memuatkan satu rakaat yang dilengkapi dengan rukuk dan sujud, sedangkan sisa rakaat yang lain dianggap sebagai pengulangan. Namun jika seseorang hanya sempat menjumpai sebagian satu rakaat, seperti satu kali sujud atau mengangkat kepala dari rukuk, maka bagian ini tidak memperoleh keutamaan tersebut.

FIQH HADITS :

1. Barang siapa yang menjumpai satu rakaat yang sempurna berikut sujudnya dari sholat Subuh sebelum matahari terbit, dan satu rakaat solat Asar sebelum matahari tenggelam, berarti orang itu masih sempat mengerjakan sholatnya secara ada’an (melaksanakan pada waktunya), dan dia mesti meneruskan baki
rakaat solatnya itu, sekalipun matahari telah terbit ataupun telah tenggelam.

2. Barang siapa yang tidak sempat menjumpai satu rakaat secara sempurna dalam waktu sholat seperti dia hanya menjumpai sebahagiannya saja, maka sholatnya itu dianggap sebagai qadha’an karena dia tidak sempat mengerjakannya di dalam waktunya.

3. Pengertian “menjumpai satu rakaat” ini dapat dilakukan setelah memperkirakan adanya masa yang memadai untuk bersuci atau mandi bagi wanita yang berhaid dan bernifas. Menurut satu pendapat yang lain, hadits ini bermaksud bahwa barang siapa yang halangan seperti ayan, haid atau nifas,
lalu dia sadar atau suci sebelum waktu sholat berakhir, misalnya masih ada waktu yang cukup untuk mengerjakan satu rakaat setelah memperkirakan adanya waktu yang memadai untuk bersuci secara sempurna, maka sholat tersebut tetap wujud di dalam tanggungan orang yang sudah tidak mempunyai halangan tersebut, baik sholatnya itu dia kerjakan masih dalam kategori ada’an ataupun qadha’an. Jika tidak ada waktu yang memadai untuk
mengerjakan satu rakaat secara sempurna sesudah memperkirakan waktu untuk bersuci, maka kewajipan sholat digugurkan ke atas orang yang mempunyai halangan-halangan tersebut.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..