Arsip Kategori: 006. BAB SIFAT SHALAT

HADITS KE 256 : DO’A MOHON PERLINDUNGAN DALAM TASYAHHUD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 256 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاَللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ : اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ اَلدَّجَّالِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : ( إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنْ اَلتَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ )

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu bertasyahhud maka hendaklah ia memohon perlindungan pada Allah dari empat hal dengan mengucapkan: (Artinya = Ya Allah sesungguhnya aku memohon perlindungan pada-Mu dari siksa neraka jahannam siksa kubur cobaan hidup dan mati dan dari fitnah dajjal).” Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat Muslim disebutkan: “Jika seseorang antara kamu telah selesai dari tasyahhud akhir.”

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) senantiasa berbelas kasih dan amat memperhatikan umatnya supaya mereka tidak melakukan perbuatan maksiat dan setiap perkara yang bisa menjerumuskan mereka ke dalam lembah dosa. Untuk itu, baginda memberikan mereka cara membahagiakan mereka di dunia dan akhirat melalui do’a yang baginda ajarkan. Do’a itu merupakan jami’ al-kalim yang di dalamnya mengandung perlindungan daripada siksa neraka Jahannam dan dari segala
fitnah yang melanda manusia sepanjang masa hidup dan ketika menjelang mati.

Hidup manusia senantiasa terdedah kepada bahaya dan kejahatan apabila tidak mendapat perlindungan dari Allah Yang Maha Pernurah lagi Maha
Penyayang. Pada akhir do’a tersebut disebutkan permohonan perlindungan kepada Allah
dari fitnah yang paling besar, paling merbahaya, dan paling luas mudharat (bahaya)nya. Umat ini pada akhir zaman kelak akan mendapat cobaan fitnah tersebut, yaitu kemunculan al-masih al-Dajjal yang menyeru manusia kepada kebatilan dan perbuatan dosa. Kebenaran pun menjadi pudar bagi mereka dan segala urusan umat manusia menjadi kacau balau. Pada zaman itu mereka hampir tidak dapat membedakan lagi antara mana yang bermanfaat dan mana yang mudharat, mana yang baik dan mana yang buruk. Semoga Allah melindungi kita dari fitnah ini dan menunjukkan kita ke arah jalan yang lurus.

FIQH HADITS :

1. Azab kubur itu memang ada.

2. Al-Dajjal itu ada dan fitnahnya pasti terjadi ketika dia telah muncul di akhir zaman nanti.

3. Disyariatkan memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah, kejahatan, dan memohon agar semua tersebut ditolak-Nya.

4. Disunatkan berdo’a sesudah selesai membaca tasyahhud sebelum melakukan salam.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 255 : BACAAN SHOLAWAT DALAM TAHIYAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 255 :

وَعَنْ أَبِي مَسْعُودٍ اَلْأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه قَالَ : ( قَالَ بَشِيرُ بْنُ سَعْدٍ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! أَمَرَنَا اَللَّهُ أَنْ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ ? فَسَكَتَ ثُمَّ قَالَ : ” قُولُوا : اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي اَلْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ . وَالسَّلَامُ كَمَا عَلَّمْتُكُمْ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَزَادَ اِبْنُ خُزَيْمَةَ فِيهِ : (فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ إِذَا نَحْنُ صَلَّيْنَا عَلَيْكَ فِي صَلَاتِنَا)

Dari Abu Mas’ud bahwa Basyir Ibnu Sa’ad bertanya: Wahai Rasulullah, Allah memerintahkan kepada kami untuk bersholawat padamu bagaimanakah cara kami bersholawat padamu? beliau diam kemudian bersabda: “Ucapkanlah: (artinya = Ya Allah limpahkanlah rahmat atas Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat atas Ibrahim. Berkatilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim. Di seluruh alam ini Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung) kemudian salam sebagaimana yang telah kamu ketahui.” Diriwayatkan oleh Muslim. Dalam hadits tersebut Ibnu Khuzaimah menambahkan: “Bagaimanakah cara kami bersholawat padamu jika kami bersholawat padamu pada waktu sholat.”

MAKNA HADITS :

Wajib membaca sholawat ke atas Nabi (s.a.w) ketika dalam tasyahhud akhir, menurut pendapat Imam al-Syafi’i, sebagai membalas sebagian jasa perjuangan baginda kepada kita. Oleh itu, sahabat bertanya kepada Nabi (s.a.w) tentang cara
membaca sholawat tersebut, kemudian Rasulullah (s.a.w) mengajarkan kepadanya
cara yang disyariatkan. Sholawat ini juga mengandung permohonan sholawat untuk keluarga baginda, yaitu ahli baitnya yang suci, sebagaimana terkandung pula di
dalamnya keutamaan Nabi Ibrahim, bapak sekalian para nabi.

FIQH HADITS :

1. Barang siapa yang diperintahkan melakukan sesuatu, sedangkan dia masih belum faham cara untuk melakukannya, maka hendaklah dia bertanya kepada ahli al-dzikir.

2. Disyariatkan membaca sholawat ke atas Nabi (s.a.w) dengan shighat (kalimat) yang tersebut di atas.

3. Menerangkan kemuliaan para sahabat dan sejauh mana perhatian mereka yang sangat dalam meneliti hukum-hukum agama.

4. Menerangkan kemuliaan Nabi Ibrahim yang senantiasa bertambah dengan membaca sholawat ini.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 254 : DISYARI’ATKAN MEMBACA HAMDALAH DAN SHALAWAT DALAM BERDO’A

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 254 :

وَعَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ رضي الله عنه قَالَ : ( سَمِعَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم رِجْلاً يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ لَمْ يَحْمَدِ اَللَّهَ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : ” عَجِلَ هَذَا ” ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ : ” إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ. رَبِّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ يَدْعُو بِمَا شَاءَ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالثَّلَاثَةُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

Fadlolah Ibnu Ubaidah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah mendengar seseorang berdo’a dalam sholatnya dengan tidak memuji Allah dan tidak membaca sholawat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam maka bersabdalah beliau: “Orang ini tergesa-gesa.” Kemudian beliau memanggilnya seraya bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu sholat maka hendaknya ia memulai dengan memuji Tuhannya dan menyanjung-Nya kemudian membaca sholawat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam lalu berdoa dengan do’a yang dikehendakinya.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Imam Tiga. Hadits shahih menurut Tirmidzi Ibnu Hibban dan Hakim.

MAKNA HADITS :

Do’a mempunyai etika tersendiri yang mesti ditaati apabila ingin doanya dimakbulkan, antara lain adalah memulainya dengan membaca hamdalah dan memanjatkan sanjungan kepada-Nya serta bersholawat ke atas Nabi (s.a.w), karena baginda merupakan wasilah al-‘uzhma (perantara yang paling agung) dalam memperoleh hidayah dan bimbingan. Sesudah itu barulah seseorang berdoa memohon apa yang dikehendakinya.

Rasulullah (s.a.w) pernah mendengar seorang lelaki yang tidak tahu bagaimana cara berdoa yang betul, kerana tidak mengindahkan etika tersebut dalam do’anya. Melihat itu, Nabi (s.a.w) menyebutnya sebagai orang yang terburu-buru dalam berdo’a dan tidak ada jaminan yang dia tidak akan melakukan kesalahan. Baginda bersabda: “Lelaki ini terlampau tergesa-gesa.” Kemudian baginda memanggil lelaki itu dan mengajarkan kepadanya etika yang mesti ditaati ketika berdo’a.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan membaca hamdalah dan salawat ke atas Nabi (s.a.w) ketika bertasyahhud.

2. Do’a dibaca sesudah tasyahhud dan sebelum salam. Dalam kaitan ini dianjurkan hanya sebatas menurut apa yang disebutkan di dalam hadis.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 253 : KALIMAT TASYAHHUD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 253 :

ولمسلم عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ “التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ…….. الى أخره.

Menurut riwayat Muslim dari Ibn Abbas (r.a), beliau berkata: “Rasulullah (s.a.w) dahulu mengajarkan kami tasyahhud, yaitu: التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ
(Semua penghormatan, keberkatan, sholat lima waktu dan kebaikan hanyalah milik Allah….) hingga akhir hadis.

MAKNA HADITS :

Tasyahhud yang diajarkan oleh Nabi (s.a.w) kepada para sahabatnya menunjukkan betapa besar perhatian baginda terhadap tasyahhud ini. Banyak riwayat yang menceritakan Nabi (s.a.w) mengajarkan para sahabatnya bacaan tasyahhud dalam bentuk lafaz yang beragam, hingga hadis mengenai tasyahhud ini telah diriwayatkan dengan lafaz yang berbeda-beda antara satu sama lain oleh dua puluh empat orang sahabat. Walaupun, membaca salah satu lafaz tasyahhud ini sudah dianggap mencukupi, meskipun apa yang terdapat di dalam hadis Ibn Abbas ini paling kuat.

FIQH HADITS :

Disyariatkan membaca tasyahhud dengan kalimat yang telah disebutkan di dalam hadis ini. Ini menjadi pilihan Imam al-Syafii memandang di dalamnya ada tambahan lafaz “المباركات ,“ karena kalimat ini sesuai dengan apa yang disebut di dalam firman-Nya:

تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً ۚ

“…salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik…” (Surah al-Nuur: 61)

Al-Baihaqi turut mengutamakan hadis ini dan berkata: “Rasulullah (s.a.w) pernah mengajarkannya kepada Ibn Abbas dan rekan-rekan yang sebaya dengannya dari kalangan sahabat yang masih berusia muda. Dengan demikian, hadis ini adalah hadis terakhir dalam masalah tasyahhud dan lebih baru dibandingkan dengan tasyahhud yang disebutkan dalam hadis Ibn Mas’ud dan lainnya. Tetapi Imam Malik memilih tasyahhud Umar r.a yang lafaznya ialah seperti berikut:

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالزاكيات لله، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semua penghormatan adalah milik Allah, semua sesuatu yang suci adalah milik Allah, semua sholat dan sesuatu yang baik adalah milik Allah. Semoga kesejateraan berlimpah kepadamu, wahai Nabi, begitu pula rahmat Allah dan keberkatannya…” hingga akhir tasyahhud.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 252 : BACAAN KETIKA TASYAHHUD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 252 :

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ : ( اِلْتَفَتَ إِلَيْنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : ” إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ : اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا اَلنَّبِيُّ وَرَحْمَةَ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اَللَّهِ اَلصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ مِنْ اَلدُّعَاءِ أَعْجَبُهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ )

وللنسائي : كنا نقول قبل أن يفرض علينا التشهد. وَلِأَحْمَدَ : ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَلَّمَهُ اَلتَّشَهُّد وَأَمَرَهُ أَنْ يُعَلِّمَهُ اَلنَّاسَ )

Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berpaling pada kami kemudian bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu sholat hendaknya ia membaca: (Artinya = Segala penghormatan sholawat dan kebaikan itu hanya bagi Allah semata. Semoga selamat sejahtera dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Semoga selamat sejahtera dilimpahkan kepada kami dan kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Esa tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusan-Nya) kemudian hendaknya ia memilih doa yang ia sukai lalu berdoa dengan doa itu.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.

Menurut riwayat Nasa’i: Kami telah membaca doa itu sebelum tasyahud itu diwajibkan atas kami. Menurut riwayat Ahmad: bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah mengajarinya tasyahhud dan beliau memerintahkan agar mengajarkannya kepada manusia.

MAKNA HADITS :

Kalimat tasyahhud memiliki banyak bentuk lafaz yang kesemuanya disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh dua puluh empat orang sahabat.

Jumhur ulama memilih salah satu diantaranya sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis Ibn Mas’ud (r.a). Dengan membaca salah satu lafaz tasyahhud, maka itu sudah dianggap mencukupi. Nabi (s.a.w) amat mementingkan tasyahhud dan mengajarkannya kepada para sahabatnya di samping mereka berkewajiban mengajarkannya kepada orang lain.

FIQH HADITS :

1. Seseorang dilarang mengucapkan “السلام على الله”

2. Disyariatkan membaca tasyahhud menurut kalimat yang pernah diajarkan oleh Rasulullah (s.a.w). Ini menurut pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad.

3. Disunatkan memulai do’a terlebih dahulu untuk diri sendiri, lalu berdo’a untuk orang lain secara umum.

4. Disyariatkan membaca do’a sesudah tasyahhud dan sebelum salam, yaitu mana yang berkaitan dengan kebaikan dunia dan akhirat, namun do’a itu tidak boleh memuatkan dosa. Inilah pendapat jumhur ulama. Imam Abu Hanifah berkata: “Tidak boleh membaca do’a kecuali lafaz do’a yang terdapat di dalam al-Qur’an atau Sunnah atau lafadz do’a yang serupa dengan lafaz al-Qur’an,
namun tidak boleh membaca lafadz do’a yang mempunyai kesamaan dengan percakapan manusia.”

5. Wajib membaca tasyahhud pada tempatnya di dalam sholat. Tasyahhud merupakan rukun sholat dalam rakaat terakhir dan sunat dalam rakaat kedua.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 251 : POSISI KEDUA TANGAN KETIKA TAHIYAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 251 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا قَعَدَ لِلتَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ اَلْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ اَلْيُسْرَى وَالْيُمْنَى عَلَى اَلْيُمْنَى وَعَقَدَ ثَلَاثَةً وَخَمْسِينَ وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ اَلسَّبَّابَةِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ : ( وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ كُلَّهَا وَأَشَارَ بِاَلَّتِي تَلِي اَلْإِبْهَامَ )

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila duduk untuk tasyahhud meletakkan tangannya yang kiri di atas lututnya yang kiri dan tangannya yang kanan di atas lututnya yang kanan beliau membuat genggaman lima puluh tiga dan beliau menunjuk dengan jari telunjuknya. Riwayat Muslim. Dalam suatu riwayat Muslim yang lain: Beliau menggenggam seluruh jari-jarinya dan menunjuk dengan jari yang ada di sebelah ibu jari.

MAKNA HADITS :

Duduk dengan cara apapun yang dilakukan oleh seseorang yang sedang sholat untuk bertasyahhud sudah dianggap mencukupi, tetapi cara yang lebih sempurna adalah sebagaimana yang diterangkan oleh hadis ini, yaitu jika hendak duduk untuk tasyahhud, baginda meletakkan tangan kiri di atas lutut kiri dan tangan kanan di atas lutut kanan seraya menggenggam bilangan tiga dan lima puluh. Bilangan tiga dengan menggenggam jari manis, kelingking, dan jari tengah,
sedangkan bilangan lima puluh diisyaratkan dengan jemari tangan kiri yang tidak digenggam. Ini merupakan cara menghitung yang berlaku di kalangan masyarakat
Arab.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua lutut ketika duduk untuk tasyahhud.

2. Disunatkan menggenggam jari tangan kanan dan berisyarat dengan jari telunjuk.

Ulama berselisih pendapat mengenai cara memberi isyarat dengan jari telunjuk ini :

– Imam Malik mengatakan bahwa orang yang sholat hendaklah berisyarat dengan jari telunjuk dan menggerak-gerikannya ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri. Hikmah gerakan ini ialah untuk mengingatkan orang yang sedang sholat kepada keadaan sholat yang sedang dikerjakannya, karena urat-urat jari telunjuk berhubungan secara terus dengan hati. Jika jari telunjuk bergerak, maka hati pun turut tergugah hingga orang tersebut ingat bahwa dia sedang sholat. Di dalam satu riwayat yang disebut oleh Imam Ahmad daripada Ibn Umar (r.a) bahwa gerakan ini amat menyiksa syaitan.

– Mazhab al-Syafi’i mengatakan bahwa seseorang hendaklah berisyarat dengan jari telunjuk ketika mengucapkan kalima “الا الله” tetapi dia tidak boleh menggerak-gerikannya dan hendaklah dia tetap mengangkatnya hingga bangkit dari tasyahhud pertama atau hingga mengucapkan salam dalam tasyahhud akhir. Hendaklah dia berniat mengisyaratkan kepada tauhid ketika mengangkat jari
telunjuknya itu.

– Mazhab Hanafi mengatakan, hendaklah seseorang menegakkan jari telunjuknya ketika mengucapkan kalimat “لا اله” dan
menurunkannya ketika mengucapkan lafaz “الا الله” dengan tujuan ketika mengangkatnya menunjukkan kepada pengertian nafi (penafian) dan ketika
menurunkannya menunjukkan kepada pengertian itsbat (penetapan).

– Mazhab Hanbali mengatakan bahwa seseorang hendaklah mengisyaratkan dengan jari telunjuknya ketika membaca lafaz al-Jalalah untuk mengingatkan kepada tauhid dan tidak menggerak-gerikannya.

Mereka turut berbeda pendapat
mengenai waktu menggenggam jemari. Jumhur ulama mengatakan, hendaklah seseorang menggenggam jemarinya ketika duduk untuk tasyahhud. Mazhab
Hanafi mengikut pendapat yang terpilih di kalangan mereka mengatakan bahwa seseorang hendaklah membuka kedua telapak tangan di atas kedua pahanya, kemudian menggenggam jari tangan yang sebelah kanan ketika
mengisyaratkan dengan jari telunjuk, yakni ketika mengucapkan kalimah syahadat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 250 : CARA SUJUD DALAM SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 250 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ اَلْبَعِيرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ ) أَخْرَجَهُ اَلثَّلَاثَةُ. وَهُوَ أَقْوَى مِنْ حَدِيثِ وَائِلٍ

( رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ ) أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ. فَإِنْ لِلْأَوَّلِ شَاهِدًا مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ رضي الله عنه صَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَذَكَرَهُ اَلْبُخَارِيُّ مُعَلَّقًا مَوْقُوفًا

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kamu sujud maka janganlah ia duduk seperti duduknya onta (tetapi) hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya. (Dikeluarkan oleh TIGA) , Dan dia lebih kuat (sanadnya) dari hadits Wa`il bin Hujr

Aku melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila sujud meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Dikeluarkan oleh Imam Empat. Hadits pertama mempunyai seorang saksi dari hadits Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu yang dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah. Bukhari menyebutnya dalam keadaan mu’allaq mauquf.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menyuruh kita berbeda dengan semua jenis hewan ketika hendak melakukan sujud dan rukuk. Baginda menerangkan kepada kita tentang gambaran sujud yang disyariatkan dan melarang kita melakukan sujud sebagaimana unta sedang mendekam.

FIQH HADITS :

1. Dilarang menyerupai hewan dalam melakukan gerakan sholat.

2. Disyariatkan mendahulukan kedua lutut ke atas kedua tangan ketika hendak bersujud, yakni meletakkan kedua lutut lebih dahulu dibanding kedua tangan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 249 : BACAAN QUNUT DALAM SHALAT SUBUH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 248 :

وَعَنْ اَلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- ; قَالَ : ( عَلَّمَنِي رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي قُنُوتِ اَلْوِتْرِ : ” اَللَّهُمَّ اِهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ إِنَّهُ لَا يَزِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ زَادَ النَّسَائِيُّ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ فِي آخِرِهِ : ( وَصَلَّى اَللَّهُ عَلَى اَلنَّبِيِّ )

وَلِلْبَيْهَقِيِّ عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- : ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا دُعَاءً نَدْعُو بِهِ فِي اَلْقُنُوتِ مِنْ صَلَاةِ اَلصُّبْحِ ) وَفِي سَنَدِهِ ضَعْفٌ

Hasan Ibnu Ali Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah mengajariku kata-kata untuk dibaca dalam qunut witir yaitu (artinya = Ya Allah berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau berti petunjuk berilah aku kesehatan sebagaimana orang-orang telah Engkau beri kesehatan pimpinlah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau pimpin berilah aku berkah atas segala hal yang Engkau berikan selamatkanlah aku dari kejahatan yang telah Engkau tetapkan karena hanya Engkaulah yang menghukum dan tidak ada hukuman atas-Mu sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau tolong Maha Berkah Engkau Tuhan kami dan Maha Tinggi). Riwayat Imam Lima. Thabrani dan Baihaqi menambahkan: (artinya = Tidak akan mulia orang yang telah Engkau murkai). Hadits riwayat Nasa’i dari jalan lain menambahkan pada akhirnya: (artinya = Semoga sholawat Allah Ta’ala selalu terlimpah atas Nabi).

Menurut riwayat Baihaqi bahwa Ibnu Abbas berkata: Adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengajari kami doa untuk dibaca dalam qunut pada sholat Shubuh. Dalam sanadnya ada kelemahan.

MAKNA HADITS :

Seperti diketahui bahwa do’a yang paling afdhal adalah do’a yang mencakupi permohonan kebaikan dunia dan akhirat. Tidak ada do’a yang lebih afdhal daripada do’a Rasullullah (s.a.w). Dalam kaitan ini, Rasulullah (s.a.w) mengajarkan do’a qunut kepada al-Hasan bin Ali. Do’a tersebut merupakan salah satu do’a qunut, di samping banyak lagi lafaz do’a qunut yang lain sebagaimana ditetapkan menerusi jalur lain yang sebagian ulama telah meriwayatkannya.

FIQH HADITS :

Disyariatkan membaca do’a qunut ketika mengerjakan solat Subuh. Inilah yang dijadikan pegangan oleh Imam al-Syafii dan ia dilakukan setelah melakukan rukuk pada rakaat kedua. Imam Malik turut menganggap sunat membaca qunut dalam sholat Subuh, tetapi dilakukan sebelum melakukan rukuk pada rakaat kedua.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 248 : QUNUT DALAM SHALAT SUBUH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 248 :

وَعَنْ سَعْدِ بْنِ طَارِقِ الْأَشْجَعِيِّ رضي الله عنه قَالَ : ( قُلْتُ لِأَبِي : يَا أَبَتِ ! إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلَيَّ أَفَكَانُوا يَقْنُتُونَ فِي اَلْفَجْرِ ? قَالَ : أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا أَبَا دَاوُدَ

Sa’id Ibnu Thariq Al-Asyja’y Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku berkata pada ayahku: Wahai ayahku engkau benar-benar pernah sholat di belakang (bermakmum) Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Abu bakar Umar Utsman dan Ali. Apakah mereka berqunut dalam sholat Shubuh? Ayahku menjawab: Wahai anakku itu adalah sesuatu yang baru. Diriwayatkan oleh Imam Lima kecuali Abu Dawud.

MAKNA HADITS :

Apa yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w) memiliki tujuan yang berlainan antara satu dengan yang lain. Ada kalanya baginda berdo’a untuk melaknat suatu kaum setiap kali mengerjakan sholat lima waktu dan ini dilakukan ketika kaum muslimin sedang ditimpa musibah besar. Qunut seperti ini disebut qunut khusus yang lazim disebut qunut nazilah. Ada kalanya pula baginda membaca do’a qunut secara mutlak tanpa mengira adanya sebab-sebab tertentu.

Dalam kaitan ini, ada ulama yang berpendapat bahwa qunut mutlak ini dilakukan ketika mengerjakan sholat witir secara khusus. Mereka berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian di antara mereka berpendapat bahwa qunut
dilakukan sebelum rukuk dalam sholat witir. Inilah pendapat Imam Abu Hanifah. Ada pula yang berpendapat bahwa do’a qunut ini dibaca sesudah rukuk dalam sholat witir. Inilah pendapat Imam Ahmad. Imam al-Syafi’i berpendapat bahwa do’a qunut ini dibaca dalam sholat witir yang dilakukan pada separuh terakhir bulan Ramadhan. Ada yang berpendapat bahwa do’a qunut yang senantiasa diamalkan oleh Rasulullah (s.a.w) ialah ketika mengerjakan sholat Subuh.
Tetapi mereka berselisih pendapat dalam masalah membaca do’a qunut dalam sholat Subuh.

Antara mereka ada yang berpendapat bahwa qunut Subuh dilakukan sebelum rukuk pada rakaat kedua. Inilah pendapat Imam Malik. Ada pula yang berpendapat bahwa ia dilakukan sesudah mengangkat kepala dari rukuk rakaat kedua. Inilah pendapat Imam al-Syafi’i. Dari sini dapat diambil satu kesimpulan bahwa setiap ulama memiliki hujah untuk menguatkan pendapatnya menerusi dalil naqli bahwa Nabi (s.a.w) pernah
melakukan kesemuanya itu.

Pembahasan masalah ini memang luas. Hadis Anas sebelum ini yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad menjadi hujah bagi ulama
yang mengatakan qunut dibaca ketika mengerjakan sholat Subuh. Mereka menyanggah perkataan al-Asyja’i yang mengatakan: “Hai anakku, itu adalah perbuatan bid’ah.” Di samping itu, ia merupakan ijtihad seorang sahabat, kerana hadis ini tidak bersumber secara terus kepada Nabi (s.a.w). Sungguhpun demikian, hadis al-Asyja’i dijadikan dalil oleh ulama yang mengatakan bahwa qunut tidak dibaca ketika mengerjakan sholat Subuh.

FIQH HADITS :

Dilarang membaca do’a qunut ketika mengerjakan sholat Subuh. Hal ini dijadikan hujah oleh Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..