Arsip Kategori: 006. BAB SIFAT SHALAT

HADITS KE 218 : BACAAN SETELAH TAKBIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 218 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ سَكَتَ هُنَيَّةً قَبْلِ أَنْ يَقْرَأَ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ : “أَقُولُ : اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ اَلْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اَللَّهُمَّ نقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى اَلثَّوْبُ اَلْأَبْيَضُ مِنْ اَلدَّنَسِ اَللَّهُمَّ اِغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila telah bertakbir untuk sholat beliau diam sejenak sebelum membaca (al-fatihah). Lalu aku tanyakan hal itu kepadanya. Beliau menjawab: “Aku membaca doa: Ya Allah jauhkanlah diriku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana telah Engkau jauhkan antara Timur dengan Barat. Ya Allah bersihkanlah diriku dari kesalahan-kesalahan sebagaimana telah Engkau bersihkan baju putih dari kotoran. Ya Allah cucilah diriku dari kesalahan-kesalahanku dengan air es dan embun.” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) terpelihara dari melakukan perbuatan dosa. Meskipun begitu, baginda senantiasa berdo’a dengan do’a-do’a yang pada hakikatnya untuk mengajarkan ummatnya sekaligus mengakui akan ketidakmampuan manusia apabila dibandingkan dengan kebesaran Allah. Nabi (s.a.w) selalu berdo’a memohon agar dosa-dosanya dihapuskan dan dipelihara dari perbuatan dosa yang akan terjadi di masa mendatang, serta memohon agar dijauhkan dari dosa-dosa sebagaimana jauhnya jarak antara timur dengan barat yang tidak akan pernah bertemu selamanya. Baginda sering berdo’a memohon agar dirinya disucikan dari dosa-dosa dengan ungkapan mubalaghah. Kemudian baginda membuat satu perumpamaan untuk itu dengan air yang belum pernah disentuh oleh tangan-tangan manusia dan sama sekali belum pernah digunakan, agar itu lebih menguatkan lagi makna yang dikehendakinya, yaitu bersihnya pakaian yang telah dibasuh dengannya. Kemudian sesudah menyebut perumpamaan air, Nabi (s.a.w) menyebutkan ais dan embun sebagai perumpamaan. Hal ini mengandung makna yang mencakupi rahmat dan ampunan sesudah memohon ampunan untuk memadamkan panasnya api neraka yang tak terkira panasnya.

Al-Tsalj (salji) ialah butiran-butiran air membeku yang turun dari langit, lalu jatuh ke bumi dan lama-kelamaan lebur menjadi air. Sedangkan al-Bard (embun)
adalah yang turut dari langit dan sesampainya di bumi lebur menjadi air.

FIQH HADITS :

1. Para sahabat senantiasa mengambil berat keadaan Rasulullah (s.a.w); gerak-gerinya, ketika berdiam diri dan setiap apa yang dilakukannya. Dengan demikian, Allah memelihara agama ini melalui usaha gigih mereka dan oleh karenanya, kita mesti mengikuti mereka.

2. Disyariatkan membaca do’a iftitah setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Surah al-Fatihah. Do’a iftitah itu mempunyai banyak bentuk lafaznya dan apa yang disebutkan dalam hadis ini merupakan salah satu darinya.

3. Boleh berdo’a ketika di dalam sholat dengan do’a-do’a yang bukan dari al-Qur’an, tetapi dengan syarat hendaklah mengikuti apa yang diriwayatkan oleh hadis dan dilakukan pada tempatnya masing-masing, seperti do’a rukuk, sujud, mengangkat kepala dari keduanya dan lain-lain sebagainya.

4. Boleh mengungkapkan sesuatu yang bersifat abstrak dengan mengumpamakannya dengan sesuatu yang bersifat nyata supaya lebih mudah difahami.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 217 : DO’A IFTITAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 217 :

وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى اَلصَّلَاةِ قَالَ : “وَجَّهْتُ وَجْهِي لِلَّذِي فَطَّرَ اَلسَّمَوَاتِ ” . . . إِلَى قَوْلِهِ : “مِنْ اَلْمُسْلِمِينَ اَللَّهُمَّ أَنْتَ اَلْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ . . . ) إِلَى آخِرِهِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ : أَنَّ ذَلِكَ فِي صَلَاةِ اَللَّيْلِ

Dari Ali bin Abu Thalib Radliyallaahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam: Bahwa bila beliau menjalankan sholat beliau membaca: “Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang telah menciptakan langit dan bumi –hingga kalimat– dan aku termasuk orang-orang muslim Ya Allah Engkaulah raja tidak ada Tuhan selain Engkau Engkaulah Tuhanku dan aku hamba-Mu– sampai akhir. Hadits riwayat Muslim. Dalam suatu riwayat Muslim yang lain: Bahwa bacaan tersebut dalam shalat malam.

MAKNA HADITS :

Do’a iftitah dibaca oleh Nabi (s.a.w) pada rakaat pertama. Di dalamnya mengandung pujian kepada Allah sekaligus pengakuan seorang hamba akan kelalaiannya dan perbuatan zalim yang dilakukan ke atas dirinya sendiri. Ia juga memuatkan permohonan ampun, memohon petunjuk, kemuliaan akhlak dan perlindungan dari berakhlak jahat.

Do’a iftitah ini disebutkan dalam berbagai bentuk lafaz dan orang yang sholat diperbolehkan memilih salah satu darinya malah bisa juga membaca kesemua kalimat do’a iftitah yang sudah tersedia.

Do’a iftitah dibaca di antara takbiratul ihram dengan isti’adzah dengan suara tidak kuat. Barangkali bacaan dengan suara kuat yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w) bertujuan untuk mengajarkannya kepada para sahabatnya.

Membaca do’a iftitah itu hukumnya sunat dan hanya dilakukan dalam rakaat pertama menurut pendapat jumhur ulama. Lain halnya dengan Imam Malik, dimana beliau mempunyai pendapat yang berbeda dalam masalah ini.

FIQH HADITS :

1. Boleh berdo’a waktu di dalam sholat dengan do’a-do’a yang tidak berasal dari Al-Qur’an.

2. Disyariatkan berdo’a di antara takbiratul ihram dan bacaan al-Fatihah pada rakaat pertama. Do’a ini dikenal dengan do’a iftitah. Lain halnya dengan pendapat yang masyhur di sisi Imam Malik.

3. Menjelaskan bagaimana cara beretika kepada Allah (s.w.t). Ketika mendekatkan diri kepada-Nya, tidak boleh berbuat jahat dan tidak boleh juga menisbatkan kejahatan kepada-Nya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 216 : RUKUN DAN SUNNAH-SUNNAH DALAM SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 216 :

وَعَنْ أَبِي حُمَيْدٍ اَلسَّاعِدِيِّ رضي الله عنه قَالَ : ( رَأَيْتُ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرِهِ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اِسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلَا قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ اَلْقِبْلَةَ وَإِذَا جَلَسَ فِي اَلرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ اَلْيُسْرَى وَنَصَبَ اَلْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي اَلرَّكْعَةِ اَلْأَخِيرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ اَلْيُسْرَى وَنَصَبَ اَلْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ ) أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيُّ

Abu Hamid Assa’idy Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam takbir beliau mengangkat kedua tangannya lurus dengan kedua bahunya bila ruku’ beliau menekankan kedua tangannya pada kedua lututnya kemudian meratakan punggungnya bila mengangkat kepalanya beliau berdiri tegak hingga tulang-tulang punggungnya kembali ke tempatnya bila sujud beliau meletakkan kedua tangannya dengan tidak mencengkeram dan mengepalkan jari-jarinya dan menghadapkan ujung jari-jari kakinya ke arah kiblat bila duduk pada rakaat kedua beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan meluruskan (menegakkan) kaki kanan bila duduk pada rakaat terakhir beliau majukan kakinya yang kiri dan meluruskan kaki yang kanan dan beliau duduk di atas pinggulnya. Dikeluarkan oleh Bukhari.

MAKNA HADITS :

Seorang sahabat agung, Abu Humaid al-Sa’idi, menggambarkan tentang tatacara sholat Nabi (s.a.w) melalui ucapannya dan menggambarkannya dengan melalui perbuatan serta diakui oleh para sahabat yang mendengarnya. Oleh sebab itu, hadis ini merupakan hadis paling agung.

Sholat yang digambarkan dalam hadis ini adalah sholat Nabi (s.a.w) dalam bentuk yang sederhana, tidak terlalu panjang hingga bisa mengakibatkan bosan dan tidak pula terlalu singkat hingga mengakibatkan kecacatan pada rukun.

FIQH HADITS :

1. Mengangkat kedua tangan ketika melakukan takbiratul ihram.

2. Wajib rukuk dan tuma’ninah di dalam rukuk. Caranya dengan meletakkan kedua telapak tangan pada kedua lutut serta meluruskan tulang belakang tanpa lengkungan, melainkan lurus sejajar dengan leher.

3. Wajib sujud dan tuma’ninah di dalam sujud. Caranya dengan menjauhkan kedua siku dari kedua sisi lambung.

4. Disunatkan duduk di antara dua sajud dengan menghamparkan telapak kaki kiri.

5. Duduk dalam tasyahhud akhir dengan cara duduk tawarruk.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 215 : TATACARA SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 215 :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( إِذَا قُمْتُ إِلَى اَلصَّلَاةِ فَأَسْبِغِ اَلْوُضُوءَ ثُمَّ اِسْتَقْبِلِ اَلْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ ثُمَّ اِقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ اَلْقُرْآنِ ثُمَّ اِرْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ اِرْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اُسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ اِرْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اُسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ اِرْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اُسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ اِفْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا ) أَخْرَجَهُ اَلسَّبْعَةُ وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ وَلِابْنِ مَاجَهْ بِإِسْنَادِ مُسْلِمٍ ( حَتَّى تَطْمَئِنَّ قَائِمًا )

وَمِثْلُهُ فِي حَدِيثِ رِفَاعَةَ عِنْدَ أَحْمَدَ وَابْنِ حِبَّانَ ( حَتَّى تَتْمَئِنَّ قَائِمًا )

وَفِي لَفْظٍ لِأَحْمَدَ : ( فَأَقِمْ صُلْبَكَ حَتَّى تَرْجِعَ اَلْعِظَامُ )

وَلِلنَّسَائِيِّ وَأَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ : ( إِنَّهَا لَنْ تَتِمُّ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبِغَ اَلْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اَللَّهُ ثُمَّ يُكَبِّرَ اَللَّهَ وَيَحْمَدَهُ وَيُثْنِيَ عَلَيْهِ ). وَفِيهَا ( فَإِنْ كَانَ مَعَكَ قُرْآنٌ فَاقْرَأْ وَإِلَّا فَاحْمَدِ اَللَّهَ وَكَبِّرْهُ وهلِّلْهُ )

وَلِأَبِي دَاوُدَ : ( ثُمَّ اِقْرَأْ بِأُمِّ اَلْقُرْآنِ وَبِمَا شَاءَ اَللَّهُ )

وَلِابْنِ حِبَّانَ : ( ثُمَّ بِمَا شِئْتَ )

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jika engkau hendak mengerjakan shalat maka sempurnakanlah wudlu’ lalu bacalah (ayat) al-Quran yang mudah bagimu lalu ruku’lah hingga engkau tenang (tu’maninah dalam ruku’ kemudian bangunlah hingga engkau tegak berdiri lalu sujudlah hingga engkau tenang dalam sujud kemudian bangunlah hingga engkau tenang dalam duduk lalu sujudlah hingga engkau tenang dalam sujud. Lakukanlah hal itu dalam dalam sholatmu seluruhnya.” Dikeluarkan oleh Imam Tujuh lafadznya menurut riwayat Bukhari. Menurut Ibnu Majah dengan sanad dari Muslim: “Hingga engkau tenang berdiri.”

Hal serupa terdapat dalam hadits Rifa’ah Ibnu Rafi’ menurut riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban: “Sehingga engkau tenang berdiri (mu).”

Dan menurut lafazh riwayat Ahmad : “Maka tegakkanlah tulang punggungmu hingga tulang-tulang itu kembali (seperti semula).”

Menurut riwayat Nasa’i dan Abu Dawud dari hadits Rifa’ah Ibnu Rafi’i: “Sungguh tidak sempurnah sholat seseorang di antara kamu kecuali dia menyempurnakan wudlu’ sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kemudian ia takbir dan memuji Allah.” Dalam hadits itu disebutkan: “Jika engkau hafal Qur’an bacalah jika tidak bacalah tahmid (Alhamdulillah) takbir (Allahu Akbar) dan tahlil (la illaaha illallah).”

Menurut riwayat Abu Dawud: “Kemudian bacalah Al-fatihah dan apa yang dikehendaki Allah.”

Menurut riwayat Ibnu hibban: “Kemudian (bacalah) sekehendakmu.”

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) masuk ke dalam masjid. Setelah itu, masuklah Khallad ibnu Rafi’ yang terus mengerjakan sholat, kemudian dia datang menghadap kepada Rasulullah (s.a.w) dan mengucapkan salam kepadanya. Baginda pun menjawab salamnya, lalu bersabda kepadanya: “Kembalilah dan ulangi sholatmu itu, karena sesungguhnya sholatmu masih belum cukup.” Lalu Khallad kembali mengulangi sholatnya seperti semula. Setelah itu, dia datang kepada Nabi (s.a.w) dan mengucapkan salam kepadanya. Nabi (s.a.w) bersabda lagi kepadanya: “Wa ‘Alaika al-Salaam. Kembalilah dan ulangi sholatmu, sesungguhnya sholatmu masih belum cukup.” Rasulullah (s.a.w) menyuruhnya mengulangi sholat sebanyak tiga kali. Akhirnya lelaki tersebut berkata: “Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak dapat melakukan selain hanya ini. Maka ajarkan kepadaku bagaimana cara mengerjakan sholat yang betul.” Mendengar itu, Rasulullah (s.a.w) bersabda kepadanya: “Jika kamu hendak mengerjakan sholat, … hingga akhir hadis.”

FIQH HADITS :

1. Hadis ini merupakan hadis paling mulia yang dikenali dengan judul hadis المسيء صلاته “Orang yang tidak sempurna Solatnya). Di dalamnya menjelaskan tentang tatacara pelaksanaan sholat.

2. Orang yang hendak mengerjakan sholat, sedangkan dia dalam keadaan hadas diwajibkan berwuduk dan dianjurkan menyempurnakan wuduk.

3. Wajib berniat karena berlandaskan kepada sabda Rasulullah (s.a.w): “Jika kamu hendak mengerjakan sholat.” Dalam hadis yang lain disebutkan:

انما الاعمال بالنيات

“Sesungguhnya sahnya amal perbuatan itu hanyalah dengan niat.”

4. Wajib menghadap ke arah kiblat sebelum melakukan takbiratul ihram.

5. Pembukaan sholat adalah takbiratul ihram dan ia merupakan salah satu rukun sholat. Jumhur ulama berpendapat, takbiratul ihram dilakukan dengan lafaz yang telah ditentukan, yaitu Allahu Akbar. Lain halnya dengan mazhab Hanafi dimana mereka berpendapat bahwa sholat itu sah dengan mengucapkan lafaz yang mengandung makna mengagungkan Allah (s.w.t).

6. Wajib membaca Surah al-Fatihah dalam setiap rakaat sholat. Ulama berbeda pendapat mengenai ketentuan Surah al-Fatihah dalam sholat. Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam al-Syafi’i berkata: “Wajib membaca Surah al-Fatihah dalam setiap sholat. Surah al-Fatihah merupakan salah satu rukun sholat. Sholat tidak sah tanpa Surah al-Fatihah.” Imam Abu Hanifah berkata: “Surah al-Fatihah tidak termasuk salah satu rukun sholat. Rukun sudah mencukupi dengan adanya bacaan secara mutlak. Dengan demikian, membaca Surah al-Fatihah itu wajib dan berdosa bagi orang yang meninggalkannya. Tetapi sholat tetap dianggap sah tanpa membaca Surah al-Fatihah.” Selain itu, ulama berselisih pendapat baik al-Fatihah merupakan satu rukun dalam setiap rakaat solat ataupun tidak. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad berkata: “Surah al-Fatihah merupakan rukun dalam setiap rakaat sholat bagi imam, orang yang sholat sendirian, dan juga makmum.” Pendapat inilah yang sahih. Menurut mazhab Maliki, surah al-Fatihah adalah rukun bagi imam dan orang yang sholat sendirian, sedangkan makmum hanya membacanya dalam sholat-sholat sirriyyah (Zohor dan Asar). Apa yang lebih afdhal bagi makmum adalah meninggalkannya dalam sholat jahriyyah (Maghrib, Isyak dan Subuh). Mereka berlandaskan kepada sabda Nabi (s.a.w): “Kemudian lakukan semua itu dalam seluruh sholatmu.” Imam Abu Hanifah berpendapat, imam dan orang yang sholat sendirian wajib membuat bacaan dalam dua rakaat pertama tetapi tidak semestinya membaca Surah al-Fatihah. Makmum tidak perlu membacanya, baik dalam sholat sirriyyah mahupun sholat jahriyyah. Sedangkan pada dua rakaat yang terakhir tidak diwajibkan untuk melakukan bacaan. Dengan arti kata lain, boleh membaca dan boleh pula tidak membacanya. Jika tidak, maka dibolehkan membaca tasbih.”

7. Zikir sudah mencukupi bagi orang yang tidak hafal Surah al-Fatihah. Zikir tersebut mengandungi makna tahmid, takbir, dan tahlil.

8. Disyariatkan membaca selain Surah Al-Fatihah. Ini berlandaskan kepada sabda Rasulullah (s.a.w): “Kemudian bacalah Ummu al-Kitab dan surah lain yang dikehendaki oleh Allah atau yang engkau sukai.”

9. Wajib rukuk dan sujud.

10. Wajib tuma’ninah dalam setiap rukuk, sujud, i’tidal dan duduk di antara dua sujud.

11. Dalam hadis ini tidak disebutkan salam, padahal salam merupakan salah satu rukun sholat, karena lawan bicara telah mengetahuinya melalui dalil lain yang antara lain ialah hadis:

تحريمها التكبير وتحليلها السلام

“Tahrimnya dengan adalah takbir dan tahlilnya adalah dengan salam.”

Dengan arti kata lain, sholat itu dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 199 : MENGUAP TERMASUK PERBUATAN SYAITAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ANJURAN KHUSYUK DALAM SOLAT

HADITS KE 199 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( اَلتَّثَاؤُبُ مِنْ اَلشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ مَا اسْتَطَاعَ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَزَادَ : ( فِي الصَّلَاةِ )

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Menguap itu termasuk perbuatan setan maka bila seseorang di antara kamu menguap hendaklah ia menahan sekuatnya. Diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi dengan tambahan: Dalam sholat.

MAKNA HADITS :

Menguap selalu disebabkan oleh perut yang telah dipenuhi makanan atau karena malas yang telah menguasai tubuh. Semua itu merupakan perbuatan yang disukai syaitan hingga seakan-akan menguap itu berasal dari syaitan. Nabi (s.a.w) menyuruh seseorang supaya menahan mulutnya dengan kemampuan yang ada padanya supaya tidak menguap untuk menjaga khusyuk dalam sholat dan menghindari diri dari ditertawakan syaitan yang mimang menyukai
seseorang itu menguap dan menjaga diri dari syaitan masuk ke dalam mulutnya.

FIQH HADITS :

1. Menjauhi semua perbuatan yang disukai oleh syaitan.

2. Menguap ketika di dalam sholat bertolak belakang dengan khusyuk yang mimang dituntut di dalam sholat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 198 : MAKRUH MENAHAN KENCING DAN KENTUT KETIKA SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ANJURAN KHUSYUK DALAM SOLAT

HADITS KE 198 :

وَلَهُ : عَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : ( لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ )

Menurut riwayat dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Tidak diperbolehkan sholat di depan hidangan makanan dan tidak diperbolehkan pula sholat orang yang menahan dua kotoran (muka dan belakang.

MAKNA HADITS :

Wahai orang yang sholat, jangan anda menyibukkan hati anda dengan hal-hal lain ketika anda berdiri dalam sholat anda menghadap Allah. Hendaklah anda bermunajat kepada-Nya dalam keadaan sempurna dan sepenuh hati. Jangan hati anda terganggu oleh sesuatu yang ada di hadapan anda seperti makan malam yang telah dihidangkan, karena mengerjakan sholat di hadapan makanan yang telah dihidangkan adalah makruh. Janganlah anda menahan keinginan untuk membuang air besar, air kecil atau kentut agar sholat anda tidak terganggu karenanya, hingga menyebabkan anda tidak lagi khusyuk dalam sholat.

FIQH HADITS :

1. Makruh sholat di hadapan makanan yang telah dihidangkan, karena itu dapat mengganggu dan menghilangkan kesempurnaan khusyuk.

2. Makruh sholat sambil menahan keinginan untuk membuang air kecil, air besar atau kentut, karena itu menyebabkan khusyuk tidak sempurna.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 197 : MAKRUH MENDONGAKKAN PANDANGAN KE LANGIT KETIKA SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ANJURAN KHUSYUK DALAM SOLAT

HADITS KE 197 :

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَيَنْتَهِيَنَّ قَوْمٌ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى اَلسَّمَاءِ فِي اَلصَّلَاةِ أَوْ لَا تَرْجِعَ إِلَيْهِمْ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

Dari Jabir Ibnu Samurah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Hendaklah benar-benar berhenti orang-orang yang memandang langit waktu sholat atau pandangan itu tidak kembali kepada mereka. Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) melarang mengangkat atau melayangkan pandangan ke langit ketika sedang mengerjakan sholat, karena perbuatan itu memalingkan dirinya dari menghadap kiblat di samping sikap sedemikian menampilkan reaksi yang tidak bagus bagi orang yang melihatnya. Ini membuatnya keluar dari keadaan sholat sekalipun tidak membatalkan sholat.

Larangan dalam hadis ini menurut jumhur ulama menunjukkan hukum makruh. Memandang ke arah langit diperbolehkan oleh kebanyakan ulama, tetapi itu mesti dilakukan di luar sholat, karena langit merupakan kiblat doa sebagaimana Ka’bah adalah kiblat sholat. Tidak makruh mengangkat pandangan mata ke langit sebagaimana tidak makruh pula mengangkat kedua tangan ke arahnya ketika berdo’a. Allah (s.w.t) berfirman:

وفي السماء رزقكم وما توعدون

“Di dalam di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.”

(Surah al-Dzariyat: 22)

FIQH HADITS :

1. Dilarang mendongakkan pandangan mata ke langit ketika sedang sholat.

2. Dianjurkan khusyuk ketika sedang dalam sholat.

3. Dianjurkan segera merubah setiap perbuatan mungkar apabila melihat ada orang melakukannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 196 : MENGHINDAR DARI SEGALA HAL YANG MENGANGGU KHUSYUK KETIKA SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ANJURAN KHUSYUK DALAM SOLAT

HADITS KE 196 :

وَعَنْهُ قَالَ : ( كَانَ قِرَامٌ لِعَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- سَتَرَتْ بِهِ جَانِبَ بَيْتِهَا فَقَالَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَمِيطِي عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا فَإِنَّهُ لَا تَزَالُ تَصَاوِيرُهُ تَعْرِضُ لِي فِي صَلَاتِي ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

وَاتَّفَقَا عَلَى حَدِيثِهَا فِي قِصَّةِ أَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ وَفِيهِ : ( فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي عَنْ صَلَاتِي )

Anas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Adalah tirai milik ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu menutupi samping rumahnya. Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepadanya: Singkirkanlah tiraimu ini dari kita karena sungguh gambar-gambarnya selalu mengangguku dalam sholatku. Riwayat Bukhari.

Bukhari-Muslim juga menyepakati hadits dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu tentang kisah kain anbijaniyyah (yang dihadiahkan kepada Nabi dari) Abu Jahm. Dalam hadits itu disebutkan: Ia melalaikan dalam sholatku.

MAKNA HADITS :

Amal perbuatan merupakan jasad, sedangkan rohnya adalah ikhlas dan khusyuk. Oleh karena itu, tidak ada kehidupan bagi jasad tanpa roh. Sebagaimana sudah diketahui bahwa gambar memiliki kesan negatif terhadap hati yang bersih dan jiwa yang suci, terlebih lagi hati yang mimang tidak bersih. Oleh itu, Islam tidak menyukai setiap perkara yang bisa mengganggu ketenangan orang sholat dan menyibukkan hatinya hingga tidak dapat hadir sepenuh hati dalam sholatnya. Ini meliputi makruh sholat di atas hamparan sejadah yang di dalamnya terdapat gambar dan makruh mewarnai masjid dengan warna-warni yang terlampau terang.

Apa yang paling disukai oleh Nabi (s.a.w) adalah keadaan yang sama sekali tidak mengganggu ketenangannya ketika mengerjakan sholat supaya tidak lalai ketika menghadap Allah. Sungguhpun begitu, baginda pernah mengembalikan kain khamishah pemberian Abu Jahm sebagai satu ketetapan hukum umatnya, kemudian baginda meminta Abu Jahm memberikan baju anbijaniyah miliknya supaya dia tidak berkecil hati.

FIQH HADITS :

1. Dianjurkan menyingkirkan segala sesuatu yang bisa mengganggu seseorang dalam sholatnya, baik ia ada di dalam rumah ataupun di tempat sholat.

2. Boleh memakai baju yang ada sulamannya dan boleh memakainya ketika hendak mengerjakan sholat.

3. Dianjurkan khusyuk dalam sholat dan mengerjakannya dengan sepenuh hati serta menjauhi segala sesuatu yang mengganggunya.

4. Bersegera berpaling dari perhiasan duniawi dan fitnahnya.

5. Boleh menerima hadiah dari teman-teman.

6. Jika barang pemberian dikembalikan kepada orang yang memberinya tanpa wujud permintaan sebelumnya darinya, maka dia boleh menerimanya
lagi tanpa dimakruhkan.

7. Rasulullah (s.a.w) meminta baju anbijaniyah milik Abu Jahm supaya dia tidak berkecil hati kerana baju khamishah miliknya telah dikembalikan oleh baginda.
Hal ini sekali gus menjelaskan kepadanya bahwa pengembalian baju khamishah miliknya itu kerana ada sebab-sebab tertentu.

8. Kesibukan hati dalam sholat karena memikirkan perkara lain di luar sholat tidak mempengaruhi sahnya sholat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 195 : HUKUM BERLUDAH KETIKA SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ANJURAN KHUSYUK DALAM SOLAT

HADITS KE 195 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِي اَلصَّلَاةِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلَا يَبْزُقَنَّ بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَا عَنْ يَمِينِهِ وَلَكِنْ عَنْ شِمَالِهِ تَحْتَ قَدَمِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي رِوَايَةٍ : ( أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ )

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu sembahyang sebenarnya ia sedang bermunajat kepada Tuhannya. Maka janganlah sekali-kali ia meludah ke hadapannya dan ke samping kanannya tetapi ke samping kirinya di bawah telapak kakinya. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat disebutkan: Atau di bawah telapak kakinya.

MAKNA HADITS :

Sholat adalah sarana roh bermikraj menuju tingkatan yang tertinggi, yaitu maqam al-munajah (kedudukan bermunajat kepada Allah (s.w.t). Kiblat merupakan salah satu syi’ar Allah dan mengagungkan syi’ar Allah merupakan bukti yang hati bertakwa. Oleh sebab itu, Nabi (s.a.w) melarang membuang ingus dan meludah ke arah kiblat ketika berada di dalam masjid atau di tempat lain ketika sedang dalam sholat karena menghormati arah kiblat. Dilarang pula meludah dan membuang ingus ke arah sebelah kanan karena menghormati sebelah kanan dan menghormati malaikat yang berada di sebelah kanan. Tetapi syariat memberikan rukhsah dimana diperbolehkan seseorang berbuat demikian ke sebelah kiri atau di bawah telapak kaki. Nabi (s.a.w) pernah berdiri membersihkan dahak yang berada di arah kiblat, lalu baginda mengeriknya dengan tangan kanannya, lalu memberi wewangian pada tempat itu kerana menghormatinya sekaligus menganjurkan kebersihan dan
sebagai peringatan supaya umat Islam tidak menghina arah kiblat.

FIQH HADITS :

1. Air ludah hukumnya suci, yakni tidak najis.

2. Dilarang meludah ke arah kiblat.

3. Dilarang meludah ke arah sebelah kanan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..