Arsip Kategori: 008. BAB SHALAT SUNNAH

HADITS KE 310 : TIDAK ADA DUA SHALAT WITIR DALAM SATU MALAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 310 :

وَعَنْ طَلْقٍ بْنِ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ( لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَالثَّلَاثَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ

Tholq Ibnu Ali berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada dua witir dalam satu malam.” Riwayat Ahmad dan Imam tiga. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Shalat witir tidak boleh dilakukan secara berulang dalam satu malam; mengulanginya berarti membatalkan pengertian witir itu sendiri yang bermaksud ganjil, karena keadaannya berubah menjadi syafa’ (genap).

Barang siapa telah mengerjakan shalat witir lalu dia hendak mengerjakan shalat sunat lagi, maka dia boleh mengerjakannya lagi, tetapi jangan mengerjakan shalat witir. Jika tetap ingin melakukannya, maka sebaiknya menggabungkan satu rakaat lain kepada witir yang pertama, lalu mengerjakan shalat berapapun dia mau dan dia boleh melakukan shalat witir di penghujung shalatnya. Ini boleh dilakukan selagi tidak dikawatiri waktu Subuh segera tiba dan waktunya cukup panjang untuk mengerjakannya.

FIQH HADITS :

Tidak boleh membatalkan shalat witir sesudah mengerjakannya. Inilah pendapat kebanyakan ulama salaf dan ulama khalaf.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 309 : SHALAT WITIR SEBAGAI PENUTUP MALAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 309 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( اِجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jadikanlah sholat witir sebagai akhir sholatmu malam hari.” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Manusia itu ada dua jenis dalam kaitannya dengan shalat witir. Sebagian ada yang yakin dirinya mampu bangun di penghujung malam. Dia pun mengakhirkan shalat witir karena itu lebih afdhal, yaitu waktu dimana rahmat Allah turun dan do’a dikabulkan. Sebagian yang lain ada yang tidak yakin dirinya mampu bangun di penghujung malam. Dia pun mendahulukan shalat witir karena itu lebih afdhal di samping itu sebagai langkah berhati-hati. Apa yang disebut dalam hadis ini ditujukan kepada golongan pertama. Mereka yakin mampu bangun di penghujung malam. Nabi (s.a.w) pernah mengerjakan shalat witir pada setiap waktu malam hari, tetapi biasanya baginda mengerjakannya di penghujung waktu malam.

FIQH HADITS :

Disunatkan mengakhiri shalat sunat malam dengan shalat witir. Shalat witir adalah shalat sunat terakhir pada waktu malam hari.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 308 : SHALAT WITIR ADALAH SUNNAH MU’AKKAD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 308 :

وَعَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ( أَوْتِرُوا يَا أَهْلَ الْقُرْآنَ, فَإِنَّ الله وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ ) رَوَاهُ الْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

Dari Ali bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholat witirlah wahai ahli Qur’an, karena Allah sesungguhnya witir (ganjil) dan dia mencintai yang ganjil (witir).” Diriwayatkan oleh Imam Lima dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Orang mukmin adalah ahli al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi (s.a.w) lalu mereka beriman kepadanya dan mengamalkan hukum-hakam yang ada di dalamnya. Tetapi yang berhak menyandang gelar ini ialah mereka yang hafal al-Qur’an. Nabi (s.a.w) menganjurkan mereka supaya mengerjakan solat witir. Dalam hadis ini disebutkan lafaz al-Qur’an secara khusus dengan tujuan mereka sering membacanya ketika mengerjakan sholat witir itu.

FIQH HADITS :

Sholat witir adalah sunah mu’akkad, bukan fardu dan bukan pula wajib. Inilah menurut jumhur ulama, kecuali Imam Abu Hanifah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 306 : WAKTU AFDHAL SHALAT WITIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 306 :

وَعَنْهَا قَالَتْ: ( مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِمَا.

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Pada setiap malam Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam selalu sholat witir yang berakhir hingga waktu sahur. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Waktu sholat witir dimulai sesudah mengerjakan sholat Isyak hingga fajar terbit. Kesemua waktu ini menunjukkan waktu ikhtiyari (pilihan) bagi Nabi (s.a.w).

Orang mukallaf boleh memilih waktu yang mana dia hendak mengerjakannya, baik pada permulaan malam hari, pertengahan ataupun akhir malam hari. Ulama bersepakat bahwa sholat witir tidak sah kecuali sesudah mengerjakan sholat Isyak. Barang siapa yang tidak yakin pada dirinya untuk dapat bangun pada waktu tengah malam atau di akhirnya, maka dia boleh mengerjakan sholat witir pada permulaan malam. Barang siapa yang mampu bangun pada waktu tengah malam atau di akhirnya, maka dia boleh mengakhirkannya, malah ini lebih diutamakan.

Mengerjakan sholat witir di penghujung malam lebih afdhal, karena itulah yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w) di samping ia merupakan waktu dimana do’a dimakbulkan, sebab rahmat Allah diturunkan pada waktu sepertiga terakhir pada waktu malam itu.

FIQH HADITS :

1. Boleh mengerjakan sholat witir pada saat-saat waktu malam hari asalkan setelah mengerjakan sholat Isyak.

2. Apa yang paling afdhal dalam sholat witir adalah dilakukan di akhir malam, yakni di penghujung waktu bagi orang yang meyakini mampu bangun pada waktu itu.

3. Sholat pada waktu sahur amat digalakkan karena ia merupakan waktu yang paling afdhal.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 301 : HUKUM SHALAT WITIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 301 :

وَعَنْ جَابِرٍ ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَامَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ, ثُمَّ اِنْتَظَرُوهُ مِنْ الْقَابِلَةِ فَلَمَّا يَخْرُجْ , وَقَالَ : ” إِنِّي خَشِيتُ أَنْ يُكْتَبَ عَلَيْكُمْ الْوِتْرُ ) رَوَاهُ اِبْنُ حِبَّانَ

Dari Jabir Ibnu Abdullah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat malam pada bulan Ramadhan. Kemudian orang-orang menunggu beliau pada hari berikutnya namun beliau tidak muncul. Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya aku khawatir sholat witir ini diwajibkan atas kamu.” Riwayat Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) adalah seorang penyuluh yang amat menyayangi umatnya. Baginda meninggalkan beberapa perkara sunat karena kawatir jika dilakukan secara terus menerus dianggap menjadi fardu ke atas umatnya dan ini tentu menyukarkan mereka.

Wahyu turun kepada Rasulullah (s.a.w) setiap pagi dan petang. Baginda kadangkala meninggalkan suatu amalan; padahal jika itu dikerjakan tentu ia lebih
baik. Baginda berbuat demikian karena kasihan kepada umatnya. Nabi (s.a.w) tidak mau keluar menemui para sahabat untuk melakukan sholat tarawih bersama mereka pada malam kedua dan malam ketiga, sekalipun baginda tahu mereka telah berhimpun menunggu kedatangannya. Ini baginda lakukan karena kawatir jika sholat ini akan diwajibkan ke atas mereka, sebagaimana yang kita ketahui berdasarkan alasan yang baginda kemukakan dan baginda menjelaskan kepada mereka bahwa sholat witir itu tidak wajib.

FIQH HADITS :

1. Boleh mengerjakan sholat sunat di dalam masjid secara berjamaah, tetapi apa yang lebih afdhal ialah mengerjakannya secara sendirian di dalam rumah, kecuali apabila dilakukan secara berjamaah maka boleh untuk menyemarakkan lagi syi’ar Islam seperti sholat kedua gerhana, sholat tarawih dan lain-lain.

2. Boleh bermakmum kepada orang yang tidak berniat menjadi imam. Ini pendapat jumhur ulama.

3. Jika kemaslahatan berbenturan dan dikawatiri muncul kemudharatan, maka apa yang mesti dilakukan adalah menutup segala kemungkinan yang bakal mengakibatkan kepada kerusakan itu. Nabi (s.a.w) melihat bahwa mengerjakan sholat sunat di dalam masjid secara berjamaah mimang ada maslahatnya karena ia sekaligus menjelaskan yang perbuatan itu dibolehkan. Akan tetapi, ketika baginda merasa kawatir kalau itu bakal dianggap fardu ke atas mereka, maka baginda meninggalkan perbuatan itu karena kawatir akan
menimbulkan mudharat yang lebih besar, yaitu apabila mereka tidak mampu mengerjakannya ketika perbuatan difardukan. Apapun, perasaan kawatir seperti ini tidak lagi wujud setelah baginda wafat. Oleh karenanya, ia boleh dikerjakan di dalam masjid secara berjamaah.

4. Jika pemimpin suatu kaum mengerjakan sesuatu yang sukar difahami oleh pengikutnya karena adanya uzur yang datang secara tiba-tiba, maka hendaklah dia menjelaskan puncaknya kepada mereka untuk menghibur hati mereka sekaligus menghilangkan prasangka buruk akibat godaan syaitan yang dikawatiri telah merasuk ke dalam jiwa mereka.

5. Rasulullah (s.a.w) amat menyayangi umatnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 299-300 : JUMLAH RAKAAT SHALAT WITIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 299 :

وَعَنْ أَبِي أَيُّوبَ اَلْأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( اَلْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ , مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ , وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ , وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ ) رَوَاهُ اَلْأَرْبَعَةُ إِلَّا اَلتِّرْمِذِيَّ , وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ , وَرَجَّحَ النَّسَائِيُّ وَقْفَهُ

Dari Ayyub al-Anshory bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Witir itu hak bagi setiap muslim. Barangsiapa senang sholat witir lima rakaat hendaknya ia kerjakan, barangsiapa senang sholat witir tiga rakaat hendaknya ia kerjakan, barangsiapa senang sholat witir satu rakaat hendaknya ia kerjakan.” Riwayat Imam Empat kecuali Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan mauquf menurut Nasa’i.

HADITS KE 300 :

وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عنه قَالَ : ( لَيْسَ اَلْوِتْرُ بِحَتْمٍ كَهَيْئَةِ اَلْمَكْتُوبَةِ , وَلَكِنْ سُنَّةٌ سَنَّهَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ

Ali Ibnu Abu Thalib Radliyallaahu ‘anhu berkata: Witir itu tidaklah wajib sebagaimana sholat fardlu, tapi ia hanyalah sunat yang dilakukan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Hadits diriwayatkan oleh Tirmidzi, Nasa’i dan Hakim. Hasan menurut Tirmidzi dan shahih menurut Hakim.

MAKNA HADITS :

Sholat witir adalah sholat sunat muakkad menurut pendapat jumhur ulama dan bukannya sholat wajib berdasarkan keterangan yang disebut dalam hadis ini karena dalam masalah ini tidak ada lagi ruang bagi akal manusia. Selain itu, ia turut dikuatkan oleh hadis orang Arab badwi ketika bertanya: “Apakah masih ada perkara lain yang diwajibkan ke atas diriku?” Nabi (s.a.w) menjawab: “Tidak ada, kecuali jika kamu hendak mengerjakan sholat sunat).”

Lain halnya dengan Imam Abu Hanifah dimana beliau mengatakan bahwa sholat witir itu hukumnya wajib. Ini tidak lain karena menurutnya sesuatu yang wajib dapat ditetapkan hanya dengan adanya dalil yang bersifat zhanni. Beliau mendukung pendapatnya dengan hadis Abu Ayyub (r.a) yang di dalamnya disebutkan bahwa sholat witir wajib ke atas setiap muslim.

Jumhur ulama menyanggah pendapatnya dengan menegaskan bahwa maksud lafaz al-haq tidak menunjukkan makna wajib. Wajib itu adakalanya bermaksud
pengukuhan sebagaimana dalam hadis mengenai perintah mandi pada hari Jumaat:

غسل الجمعة واجب على كل محتلم

“Mandi pada hari Jum’at disunatkan secara muakkad bagi setiap orang yang telah baligh.”

Selain itu, maksud takhyir (pilihan) yang terdapat dalam hadis menerusi sabdanya “من احب” (barang siapa yang ingin) menunjukkan witir bukan sesuatu yang diwajibkan, karena tidak ada pilihan bagi sesuatu yang wajib.

Sholat witir boleh pula dilakukan di atas kendaraan, sebagaimana dibolehkan pula melebihkan
dan mengurangkan jumlah bilangan rakaatnya. Ini merupakan satu bukti yang sholat witir adalah sunat.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan mengerjakan sholat witir. Jumhur ulama mengatakan bahwa sholat witir itu sunat muakkad, karena adanya pilihan dalam bilangan rakaatnya yang menunjukkan bahwa ia tidak wajib. Lain halnya dengan Imam Abu Hanifah dimana beliau berpendapat bahwa sholat witir itu wajib.

2. Menjelaskan bilangan rakaat sholat witir. Ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini. Untuk itu, Imam Malik mengatakan bahwa witir hanya dilakukan satu rakaat. Imam Abu Hanifah mengatakan witir hanya dilakukan tiga rakaat, sedangkan Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad mengatakan bahwa witir boleh dilakukan satu rakaat, tiga rakaat, hingga sampai sebelas rakaat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 298 : SHALAT SUNNAH YANG PALING AFDHAL

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 298 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholat yang paling utama setelah sholat fadlu ialah sholat malam.” Dikeluarkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Malam hari diselimuti oleh keheningan dan ketenangan. Ketika itu orang sedang lelap tidur dan pada waktu itu pula merupakan saat yang paling menunjang untuk berkomunikasi secara langsung dengan Allah. Orang pilihan pastinya bangun dari tidur dengan penuh ikhlas untuk menunaikan ibadah dan bermunajat kepada Allah. Ketika itu, rahmat-Nya turun pada waktu sepertiga terakhir malam hari. Oleh itu, sholat sunat malam dikatakan lebih afdhal pahalanya
setelah sholat lima waktu yang fardu.

FIQH HADITS :

Sholat sunat pada waktu malam hari adalah sholat sunat yang paling afdhal, tetapi tidak ada sholat sunat manapun yang lebih afdhal daripada sholat fardu.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 297 : ANJURAN SHALAT MALAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 297 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى , فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحِ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً , تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَلِلْخَمْسَةِ – وَصَحَّحَهُ اِبْنِ حِبَّانَ – : ( صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى” ) وَقَالَ النَّسَائِيُّ : “هَذَا خَطَأٌ”

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholat malam itu dua-dua, maka bila seorang di antara kamu takut telah datang waktu Shubuh hendaknya ia sholat satu rakaat untuk mengganjilkan sholat yang telah ia lakukan.” Muttafaq Alaihi.

Dalam Riwayat Imam Lima yang dinilai shahih oleh Ibnu Hibban adalah lafadz: “Sholat malam dan siang itu dua dua.” Nasa’i menyatakan bahwa ini salah.

MAKNA HADITS :

Sholat tahajjud pada waktu malam hari mempunyai keutamaan yang luar biasa. Ini telah disebut dalam firman Allah (s.w.t):

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا (6)

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Surah al Muzzammil: 6).

Sholat tahajud dilakukan dua rakaat-dua rakaat, dengan perkataan lain bahwa seseorang hendaklah mengucapkan salam pada setiap dua rakaat. Ini untuk memberikan peluang baginya untuk beristirahat sesudah salam dan untuk menunaikan keperluannya apabila ada urusan penting lain yang datang secara tiba-tiba.

Waktu sholat ini panjang hingga terbit fajar. Jika seseorang merasa kawatir waktu sholat Subuh hampir tiba, maka sebaiknya dia mengerjakan sholat satu rakaat untuk mewitirkan semua rakaat genap yang telah dikerjakannya sepanjang malam. Ini merupakan satu kemudahan dalam mengerjakan ibadah. Apapun, sholat tahajud itu boleh juga dilakukan empat rakaat-empat rakaat.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan mengerjakan sholat sunat pada waktu malam hari.

2. Apa yang lebih afdhal ketika mengerjakan sholat sunat pada waktu malam hari adalah mengucapkan salam untuk setiap dua rakaat.

3. Menentukan dua rakaat sebelum witir.

4. Waktu witir berakhir dengan terbitnya fajar.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 295-296 : ANJURAN BERBARING KE KANAN SETELAH SHALAT SUNNAH FAJAR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 295 :

وَعَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : ( كَانَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا صَلَّى رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ اِضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ اَلْأَيْمَنِ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila selesai sholat dua rakaat fajar berbaring atas sisinya yang kanan. Riwayat Bukhari.

HADITS KE 296 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ , فَلْيَضْطَجِعْ عَلَى جَنْبِهِ الْأَيْمَنِ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَأَبُو دَاوُدَ , وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang di antara kamu selesai sholat dua rakaat sebelum sholat Shubuh, hendaknya ia berbaring atas sisinya yang kanan.” Hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi.

MAKNA HADITS :

Berbaring sesudah mengerjakan sholat sunat qabliyyah Subuh adalah disyariatkan melalui sabda Nabi (s.a.w) dan dikuatkan lagi dengan perbuatannya. Maksudnya
adalah berbaring dalam waktu sebentar pada lambung yang sebelah kanan seraya menghadap ke arah kiblat. Tujuannya supaya seseorang itu senantiasa ingat tempat pembaringannya di dalam kubur kelak. Dengan demikian, dia berusaha dan berupaya melakukan amal sholeh sebagai bekalannya. Sedangkan Mazhab Zahiri mengemukakan pendapat yang berlainan dengan mengatakan bahwa berbaring pada lambung sebelah kanan adalah wajib berlandaskan kepada makna dzahir perintah yang terdapat di dalam hadis ini. Akan tetapi, apa yang dikatakannya itu dapat disanggah dengan kenyataan bahwa Nabi (s.a.w) adakalanya tidak berbaring pada lambung sebelah kanan setelah mengerjakan sholat sunat fajar. Bukti inilah yang memalingkan hukum wajib pada perkataan perintah yang
terdapat dalam hadis ini. Imam Malik menganggap makruh berbuat demikian apabila diniatkan sebagai sunat, tetapi beliau membolehkan apabila diniatkan sebagai istirahat. Apa yang dikatakannya ini berpegang kepada apa yang biasa dilakukan oleh masyarakat Madinah dan perbuatan yang dilakukan oleh Ibn Umar (r.a) yang menurut satu riwayat beliau sering melempari orang yang berbaring pada lambung setelah mengerjakan sholat sunat fajar dengan batu kerikil.

FIQH HADITS :

Orang yang sholat pada waktu malam hari disyariatkan berbaring pada lambung yang sebelah kanan untuk mengistirahatkan tubuh dari keletihan setelah lama berdiri ketika mengerjakan qiyamul lail supaya ketika mengerjakan sholat Subuh, tubuh menjadi segar kembali dan penuh semangat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..