Arsip Kategori: 008. BAB SHALAT SUNNAH

HADITS KE 293-294 : ANJURAN MERINGANKAN SHALAT SUNNAH QABLIYAH SUBUH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 293 :

وَعَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : ( كَانَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُخَفِّفُ اَلرَّكْعَتَيْنِ اَللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ ، حَتَّى إِنِّي أَقُولُ : أَقَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ؟ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam meringkaskan dua rakaat sebelum sholat Shubuh sampai aku bertanya: Apakah beliau membaca Ummul Kitab (al-Fatihah)? Muttafaq Alaihi.

HADITS KE 294 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ-رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ- : ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَرَأَ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ : ( قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ) و : ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam dua rakaat fajar membaca (Qul yaa ayyuhal kaafiruun) dan (Qul Huwallaahu Ahad). Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Jumhur ulama berpendapat, meringankan pelaksanaan dua rakaat sunat fajar karena berlandaskan kepada makna dzahir hadis Aisyah (r.a). Hikmahnya untuk mengejar keutamaan melaksanakan sholat Subuh pada permulaan waktu dan tidak menghalangi usaha imam untuk segera mengerjakan sholat Subuh agar datang memasuki masjid. Selain itu, ada hadis lain yang menegaskan bahwa seorang mukmin diringankan hisabnya kelak sesuai dengan dua rakaat fajar yang dilakukannya secara ringan. Jadi, mengerjakannya dengan ringan mengandung harapan baik supaya hisab amalnya kelak turut diringankan sekaligus mengikuti amal perbuatan Rasulullah (s.a.w).

Adapun surah yang dibaca oleh Nabi (s.a.w) ketika mengerjakan dua rakaat sholat sunat fajar ialah pada rakaat pertama Surah al-Kafirun untuk mengisyaratkan maqam tajrid dan pada rakaat kedua Surah al-Ikhlas untuk mengisyaratkan maqam tauhid. Tetapi telah dinukil dari Imam Abu Hanifah bahwa disunatkan mengerjakan kedua rakaat ini dengan panjang, yakni dalam waktu yang cukup lama.

FIQH HADITS :

Dianjurkan meringankan sholat sunat qabliyyah Subuh, begitu pula dengan bacaannya disesuaikan dengan apa yang telah disebut dalam hadis ini karena mengikuti Sunnah Nabi (s.a.w).

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 292 : SHALAT SUNNAH SEBELUM MAGHRIB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 292 :

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ الْمُزَنِيِّ رضي الله عنه عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ , صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ ” ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ : ” لِمَنْ شَاءَ ” كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

وَفِي رِوَايَةِ اِبْنِ حِبَّانَ : ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ )

وَلِمُسْلِمٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ : ( كُنَّا نُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ , فَكَانَ صلى الله عليه وسلم يَرَانَا , فَلَمْ يَأْمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَانَا )

Dari Abdullah Mughoffal al-Muzanny Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholatlah sebelum Maghrib, sholatlah sebelum Maghrib.” Kemudian beliau bersabda pada yang ketiga: “Bagi siapa yang mau,” Karena beliau takut orang-orang akan menjadikannya sunnat. Diriwayatkan oleh Bukhari.

Dalam suatu riwayat Ibnu Hibban bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat sebelum Maghrib dua rakaat.

Menurut riwayat Muslim bahwa Ibnu Abbas berkata: Kami pernah sholat dua rakaat setelah matahari terbenam dan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melihat kami, beliau tidak memerintahkan dan tidak pula melarang kami.

MAKNA HADITS :

Sholat dua rakaat sesudah matahari tenggelam dan sebelum mengerjakan sholat Maghrib mimang disunatkan berdasarkan sabda Nabi (s.a.w), perbuatannya dan pengakuannya. Bagi sahabat yang tidak pernah menerima berita ini tentu dia tidak akan memperkatakannya, tetapi pada hakikatnya sholat ini tidak termasuk sholat sunat mu’akkad, sebab sabda Nabi (s.a.w) dalam hadis tersebut menegaskan:
“Bagi orang yang menghendakinya.”

Nabi (s.a.w) bersabda demikian kerena menekuni kedua rakaat ini memakan waktu cukup lama yang boleh mengakibatkan terlewatnya awal waktu Maghrib, padahal pahala yang dapat diperoleh di awal waktu lebih besar dimana seseorang akan memperoleh keridhaan Allah (s.w.t).

PEMBAHASAN :

Dari hadis-hadis yang telah disebut sebelum ini dapat disimpulkan bahwa jumlah keseluruhan sholat sunat sebelum dan sesudah sholat fardu ada dua puluh rakaat yang perinciannya sebagai berikut:

1. Empat rakaat sebelum sholat dzuhur dan empat rakaat lagi sesudahnya.

2. Empat rakaat sebelum sholat Asar.

3. Dua rakaat sebelum Maghrib dan dua rakaat lagi sesudahnya.

4. Dua rakaat sesudah sholat Isyak.

5. Dua rakaat sebelum sholat Subuh.

Berikut ini kami ketengahkan pendapat ulama mengenai sholat sunat rawatib ini.

Imam Ahmad berkata: “Sesungguhnya bilangan rakaat sunat rawatib itu secara keseluruhannya ada sepuluh rakaat, yaitu dua rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat lagi sesudahnya, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah Isyak, dan dua rakaat sebelum Subuh.” Beliau berpendapat demikian karena berlandaskan kepada hadis Ibn Umar yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim pada hadis no. 287.

Imam al-Syafi’i berkata: “Sesungguhnya bilangan rakaat sunat rawatib itu secara keseluruhan ada enam belas rakat, yaitu empat rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, empat rakaat sebelum Asar, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah Isyak, dan dua rakaat sebelum Subuh.” Beliau
berpendapat demikian karena berlandaskan kepada hadis Ummu Habibah no. 290 yang diriwayatkan oleh Muslim dan al-Tirmizi dan hadis Ibn Umar no. 291 yang
diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan al-Tirmizi.

Imam Abu Hanifah berkata: “Sunat rawatib kesemuanya terdiri dari dua belas rakaat, yaitu empat rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah Isyak, dan dua rakaat sebelum Subuh.” Beliau berpendapat demikian karena berdasarkan kepada hadis Ummu Habibah dalam hadis no. 290.

Imam Malik berkata: “Sunat rawatib terdiri dari empat belas rakaat, yaitu Raghibah al-Fajr (dua rakaat sebelum Subuh), empat rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, empat rakaat sebelum Asar, dan dua rakaat sesudah Maghrib. Beliau berpendapat demikian karena berlandaskan kepada amal perbuatan Madinah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 291 : KEUTAMAAN EMPAT RAKAAT SEBELUM ASHAR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 291 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( رَحِمَ اللَّهُ اِمْرَأً صَلَّى أَرْبَعًا قَبْلَ الْعَصْرِ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَأَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ , وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَصَحَّحَهُ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “(Semoga) Allah memberi rahmat orang yang sholat empat rakaat sebelum Ashar.” Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi. Hadits hasan menurut Tirmidzi dan shahih menurut Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Nikmat yang paling besar adalah apabila seseorang memperoleh limpahan rahmat Allah dan dido’akan oleh Nabi (s.a.w) yang do’anya tidak ditolak, hingga dengan demikian orang itu senantiasa dinaungi oleh rahmat Allah yang tidak pernah terlepas darinya walau sedikitpun. Ini diperoleh oleh orang yang senantiasa tekun mengerjakan solat empat rakaat sebelum Asar, kerana Nabi (s.a.w) pernah mendo’akan melalui sabdanya: “Semoga Allah merahmati seseorang.”

FIQH HADITS :

Anjuran untuk mengerjakan sholat sunat empat rakaat sebelum solat Asar dan tekun mengamalkannya supaya seseorang memperoleh rahmat dan ampunan Allah (s.w.t).

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 290 : FADHILAH SHALAT RAWATIB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 290 :

وَعَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : سَمِعْت النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : ( مَنْ صَلَّى اِثْنَتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ . وَفِي رِوَايَةٍ ” تَطَوُّعًا”

وَلِلتِّرْمِذِيِّ نَحْوُهُ , وَزَادَ : ( أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ , وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ )

وَلِلْخَمْسَةِ عَنْهَا : ( مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى اَلنَّارِ )

Ummu Habibah Ummul Mu’minin Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa melakukan sholat dua belas rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan sebuah rumah baginya di surga.” Hadits riwayat Muslim. Dan dalam suatu riwayat: “Sholat sunat.”

Menurut riwayat Tirmidzi ada hadits yang serupa dengan tambahan: “Empat rakaat sebelum Dhuhur, dua rakaat setelahnya dan dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah Isya’, dan dua rakaat sebelum Shubuh.”

Menurut riwayat Imam Lima darinya (Ummu Habibah r.a): “Barangsiapa memelihara empat rakaat sebelum Dhuhur dan empat rakaat setelahnya niscaya Allah mengharamkan api neraka darinya.”

MAKNA HADITS :

Mengerjakan sholat sunat dengan istiqamah merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan cara itu, dia memperoleh kedudukan yang tinggi di sisi Allah karena seluruh anggota tubuhnya tidak bergerak
melainkan hanya untuk beribadah kepada Allah. Dia pun akhirnya sampai kepada kedudukan wali dan kekasih Allah. Inilah yang diisyaratkan dalam hadis qudsi:

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ.

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan mengerjakan amalan-amalan sunat hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Akulah yang menjadi pendengarannya yang selalu dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang selalu dia gunakan untuk melihat, tangannya yang selalu dia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang selalu dia gunakan untuk berjalan. Jika dia benar-benar meminta kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar memberinya dan jika dia benar-benar memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar melindunginya.”

Dengan arti kata lain, seseorang itu senantiasa berada dalam suatu keadaan yang dikehendaki oleh Allah. Apapun yang diperintahkan-Nya pasti dia kerjakan, dan apapun yang dilarang-Nya pasti dia tinggalkan. Ini merupakan satu karunia yang besar karena dalam satu hadis dikisahkan tentang keutamaan sholat rawatib ini:
“Barang siapa yang mengerjakannya secara berterusan tanpa meninggalkannya, maka akan dibangunkan baginya sebuah gedung di dalam surga, dan Allah
mengharamkan tubuhnya ke atas neraka. Inilah karunia paling besar yang bakal diperoleh oleh orang yang tekun mengerjakan sholat sunat rawatib.

FIQH HADITS :

Ummahat al-Mu’minin dan sahabat yang lain memiliki semangat yang tinggi untuk senantiasa mengikuti semua amal perbuatan Nabi (s.a.w) disamping mereka turut mengutamakan sunat rawatib, karena mereka yakin bahwa barang siapa yang mengerjakannya secara terus menerus sholat sunat ini, maka ia dapat menyelamatkannya dari melakukan perbuatan yang menyebabkan dirinya memasuki neraka.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 289: PENTINGNYA DUA RAKAAT SHALAT FAJAR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 289 :

وَعَنْهَا قَالَتْ : ( لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ تَعَاهُدًا مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَلِمُسْلِمٍ : ( رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا )

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah memperhatikan sholat-sholat sunat melebihi perhatiannya terhadap dua rakaat fajar. Muttafaq Alaihi.

Menurut riwayat Muslim: Dua rakaat fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.

MAKNA HADITS :

Raghibah al-Fajr adalah sholat sunat dua rakaat ringkas yang dikerjakan sesudah azan sholat Subuh. Hikmah mengerjakannya secara ringkas (tidak terlalu lama) ialah memberikan waktu yang secukupnya bagi imam ketika mengerjakan sholat Subuh disamping berharap semoga hisab amal diringankan bagi mereka kelak di hari kiamat. Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa seorang mukmin diringankan hisabnya karena dua rakaat sunat Subuh yang pernah dikerjakannya.

Rasulullah (s.a.w) tidak pernah meninggalkan keduanya, baik ketika bermukim maupun ketika bermusafir, malah baginda senantiasa mengerjakannya. Ini menunjukkan yang ia adalah sunat muakkad dan bukannya wajib karrna berlandaskan kepada hadis orang Arab badwi: “Apakah ada perkara lain yang diwajibkan selain sholat lima waktu?” Nabi (s.a.w) menjawab: “Tidak ada.” Disamping itu, Nabi (s.a.w) hanya menyebut pahala orang yang mengerjakannya tanpa menyebutkan siksaan bagi orang yang meninggalkannya.

Pahala melakukan dua rakaat raghibah al-Fajr lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya. Ini berlandaskan pandangan yang dunia dan seluruh kesenangan yang ada di dalamnya pasti lenyap, sedangkan pahala di akhirat di sisi Allah kekal dan abadi. Setiap apa yang ada di sisi Allah pasti lebih baik dan lebih kekal.

FIQH HADITS :

Sholat sunat dua rakaat fajar merupakan sunat mu’akkad. Bagi orang yang mengerjakannya pasti memperoleh pahala yang banyak di samping ketinggian darjat. Disebutkan bahwa antara Sunnah Nabi (s.a.w) adalah membaca Surah al-Kafirun dan Surah al-Ikhlas ketika mengerjakan sholat itu atau membaca dua ayat: “قولوا امنا بالله”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 288 : PENTINGNYA SHALAT SUNNAH SEBELUM DZHUR DAN SUBUH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 288 :

وَعَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- : أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ( كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak meninggalkan (sholat sunat) empat rakaat sebelum Dhuhur dan dua rakaat sebelum Shubuh. Riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Memandang sunat qabliyyah Dzuhur termasuk sholat sunat rawatib, maka ada kalanya Rasulullah (s.a.w) mengerjakan dua rakaat dan ada kalanya pula empat rakaat untuk menetapkan ia adalah sunat. Ini karena jika sholat tersebut fardu, niscaya ia tidak boleh ditambah apalagi dikurangkan.

Dari sini dapatlah dihimpun antara hadis-hadis yang berbeda ketika menyebut bilangan rakaatnya. Hadits yang menceritakan Rasulullah (s.a.w) selalu mengerjakan sunat raghibah fajar dan sunat Dzuhur merupakan dalil yang menunjukkan keduanya adalah sholat sunat mu’akkad.

FIQH HADITS :

Nabi (s.a.w) sangat mementingkan sholat sunat qabliyah Dzuhur dan qabliyah Subuh.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 287 : SHALAT SUNNAH RAWATIB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 287 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : ( حَفِظْتُ مِن النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عَشْرَ رَكَعَاتٍ : رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ , وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ لَهُمَا : ( وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْجُمْعَةِ فِي بَيْتِهِ ).

وَلِمُسْلِمٍ : ( كَانَ إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ لَا يُصَلِّي إِلَّا رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ )

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku menghapal dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam 10 rakaat yaitu: dua rakaat sebelum Dhuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah maghrib di rumahnya, dua rakaat setelah Isya’ di rumahnya, dan dua rakaat sebelum Shubuh. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat Bukhari-Muslim yang lain: Dan dua rakaat setelah Jum’at di rumahnya.

Dalam suatu riwayat Muslim: Apabila fajar telah terbit beliau tidak sholat kecuali dua rakaat yang pendek.

MAKNA HADITS :

Oleh kerana hati manusia cenderung menjauhi Allah dalam kebanyakan waktunya lantaran sibuk dengan urusan dunia, maka ketika mengerjakan sholat dia tidak dapat khusyuk dengan sepenuh hati, padahal sholat merupakan munajat kepada Allah. Di sinilah letak sholat sunat qabliyyah disyariatkan, supaya orang yang sholat sudah bersedia untuk hadir dengan sepenuh hati di hadapan Allah dan bermunajat dengan-Nya. Disyariatkan pula solat sunat ba’diyyah untuk menutup kekurangan yang dilakukan ketika mengerjakan sholat fardu. Diantara rahmat Allah adalah kelalaian yang dilakukan semasa mengerjakan sholat fardu dapat ditutupi dengan mengerjakan sholat sunat untuk menyempurnakan lagi kekurangan selama mengerjakan sholat fardu. Ini semata-mata merupakan rahmat Allah (s.w.t). Imam Ahmad meriwayatkan hadis berikut dari hadis Tamim al-Dari bahwa Rasulullah (s.a.w) pernah bersabda:

أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة صلاته فإن كان أتمها كتبت له تامة ، وإن لم يكن أتمها قال الله تعالى لملائكته : انظروا هل تجدون لعبدي من تطوع ; فيكمل بها فريضته ، ثم الزكاة كذلك ، ثم تؤخذ الأعمال على حسب ذلك

Permulaan pemeriksaan yang dilakukan atas seorang manusia pada hari kiamat kelak sholat yang telah dilakukannya. Jika dia telah melakukannya dengan sempurna, maka dipastikan baginya pahala yang sempurna dan jika dia
mengerjakannya dengan tidak sempurna, maka Allah berfirman kepada para malaikat-Nya: “Periksalah oleh kamu, apakah kamu mendapati amalan sunat pada catatan hamba-Ku yang dapat dijadikan sebagai pelengkap bagi amal fardunya?” Kemudian masalah zakat pun demikian pula. Setelah itu semua amal perbuatan diperlakukan dengan cara demikian.”

FIQH HADITS :

1. Disunatkan mengerjakan sebagian sholat sunat di dalam rumah.

2. Disunatkan meringkaskan pelaksanaan sholat sunat qabliyyah Subuh dan solat sunat Subuh hanya dilakukan sebanyak dua rakaat saja.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

HADITS KE 286 : ANJURAN MEMPERBANYAK SUJUD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 286 :

عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ كَعْبٍ الْأَسْلَمِيِّ -رِضَى اَللَّهُ عَنْهُ- قَالَ : ( قَالَ لِي اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم سَلْ . فَقُلْتُ : أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي اَلْجَنَّةِ . فَقَالَ : أَوَغَيْرَ ذَلِكَ ؟ ، قُلْتُ : هُوَ ذَاكَ ، قَالَ : ” فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ اَلسُّجُودِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Rabiah Ibnu Malik al-Islamy Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda padaku: “Mintalah (padaku).” Aku menjawab: Aku memohon dapat menyertai baginda di surga. Beliau bertanya: “Apakah ada yang lain?” Aku menjawab: Hanya itu saja. Beliau bersabda: “Tolonglah aku untuk mendoakan dirimu dengan banyak sujud.” Diriwayatkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Orang mukmin yang sempurna pastinya memiliki cita-cita yang tinggi, tidak memiliki keinginan selain tujuan-tujuan mulia dan tidak ada yang dimintanya selain kedudukan paling tinggi di akhirat. Dia tidak terpedaya oleh gemerlap dunia dan perhiasannya. Oleh itu, dia tidak meminta kecuali sesuatu yang kekal abadi dan enggan meminta sesuatu yang fana. Demikian pula dengan seorang sahabat agung dari kalangan ahli shuffah. Dia senantiasa bersama Rasulullah (s.a.w) dan merasa bahagia dengan berkhidmat kepadanya. Dalam suatu kesempatan yang penuh dengan keberkahan, Rasulullah (s.a.w) menyuruhnya untuk meminta apa yang dikehendakinya. Dia pun memohon agar menjadi teman baginda di dalam surga al-Firdaus. Ini adalah suatu permintaan besar dan cita-cita yang tinggi. Ini tidak aneh, sebab Rasulullah (s.a.w) sendiri yang menawarkan kepadanya untuk meminta apa yang dicita-citakannya. Dia mengajukan suatu permintaan paling besar dan sudah menjadi haknya untuk berbuat demikian. Nabi (s.a.w) memberinya petunjuk agar dia tekun melakukan amalan paling afdhal. Ini menunjukkan kesempurnaan iman seorang sahabat sekaligus menunjukkan keutamaan surga, keutamaan berteman dengan orang sholeh, dan keutamaan ibadah sholat ke atas amal ibadah yang lainnya.

FIQH HADITS :

1. Anjuran bagi seorang pemimpin supaya memperhatikan urusan orang yang dipimpinnya dan menanyakan kepada mereka apa yang menjadi keperluannya.

2. Anjuran melawan hawa nafsu dan mengalahkannya dengan memperbanyak melakukan amal ibadah, karena kedudukan yang tinggi di akhirat hanya diperoleh dengan cara melawan hawa nafsu yang hina itu.

3. Boleh meminta derajat yang tinggi, karena diantara manusia ada orang yang dihimpun bersama para nabi kelak di surga.

4. Keutamaan sholat yang semakin bertambah. Banyak mengerjakan sholat akan menghantarkan seseorang memperoleh derajat yang tinggi dan menjadi teman Nabi (s.a.w) didalam rumah kemuliaan (surga) kelak.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..